Sabtu, 25 Juli 2009, aku menghadiri acara pertemuan ortu murid di sekolah LiLo. Biasanya aku menghadiri acara seperti ini bersama dengan istriku, tetapi hari ini istriku sedang di Yogya, ngurusin anak mbarep dan anak nomor dua, jadi kuputuskan mengajak Lilo saja.
Sampai di sekolah LiLo, baru beberapa orang yang datang, tapi begitu aku tanda tangan di buku kehadiran ortu, kulihat rombongan ortu mulai bemrunculan dan ruangan kelaspun terlihat penuh.
Tiap kelas ada sekitar 30 orang, jadi kalau datang separo saja sduah ada 45 orang yang hadir. Itu kalau dianggap yang datang hanya ibunya atau bapaknya saja, padahal banyak juga yang datang lengkap, baik ibunya maupun ayahnya.
Total jendral ada sekitar 60 orang yang hadir dan 10% di antaranya adalah laki-laki.
Dengan sabar ibu guru dan pak guru memberi penjelasan tentang proses belajar mengajar di sekolah ini untuk tahun ini. Ada beberapa perubahan yangdilakukan oelh pihak sekolah. Misalnya, yang tadinya satu guru untuk satu kelas, maka mulai kelas IV ini, satu guru akan bertanggung jawab untuk satu mata pelajaran, jadi mirip jamanku SMP dulu.
Yang paling kontroversial buatku, tetapi tidak bagi orang tua lainnya, adalah masalah PR [pekerjaan rumah].
Biasanya kalau Lilo tidak mengerjakan PR, entah karena sakit, malas, lupa atau kesibukan lain, maka aku biasanya akan membiarkan LiLo pergi ke sekolah tanpa PRnya. Kalau LiLo dihukum, ya itu adalah suatu konsekuensi dari suatu perbuatan, jadi ya diterima saja.
Untuk tahun ini, maka nilai PR ini disetarakan dengan nilai UAS maupun ulangan harian, sehingga kalau tidak mengerjakan PR, maka ada kemungkinan nilainya akan turun. Biarpun pinter di sekolah, kalau PR tidak dikerjakan, maka nilainya bisa jatuh.
Taruhlah nilainya 9 [sembilan] semua, tapi kalau nilai PRnya 0, maka nilai akhir di raport bisa menjadi [9+9+9+0]/4 = 6,75an alias dibawah 7 [tujuh].
Kalau model begini, kayaknya PR itu nantinya akan dikerjakan oleh ortu siswa deh. Hampir tidak mungkin melihat ortu, terutama ibu-ibu, yang rela melihat nilai anaknya jatuh gara-gara nggak ngerjakan PR.
Pengetahuanku cukup minim untuk masalah PR ini, jadi aku lebih banyak bediskusi dengan teman ortu di sampingku. Nampaknya dia tidak terganggu dengan aturan ini, dmeikian juga ketika kukirim imil ke kawan ortu yang tdiak bisa hadir, ternyata tanggapannya kurang lebih sama.
Jadi hanya aku saja ya yang khawatir dengan peraturan masalah PR ini ya?
Yah kayaknya aku harus meningkatkan porsi baik sangkaku, sambil mencari pencerahan tentang masalah PR ini.
Seikapa tahu ada pembaca blog ini yang mau berbagi pencerahan tentang masalah PR untuk anak SD [ketika itu muncul juga SMS dari Yogya yang mengabarkan bahwa anakku yang di SMA juga setiap hari tidur malem gara-gara mengerjakan PR yang menumpuk].
Benarkah dunia pendidikan di Indonesia harus penuh dengan PR, lalu kapan ya aku bisa bercengkerama dengan anak-anak tanpa disibukkan urusan pekerjaan ataupun urusan sekolah?
Salam Semangat.
...
.
Tampilkan postingan dengan label baik sangka. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label baik sangka. Tampilkan semua postingan
Minggu, Juli 26, 2009
Senin, Juni 08, 2009
Niat Naik Haji
Pada pertemuan Mastermind Cikarang yang ke tiga, ada satu kesepakatan yang muncul secara reflek di antara para pserta, yaitu niatan untuk menunaikan ibadah haji bersama-sama.
Niat ini dikompori oleh pak Mualib, selaku kepala suku mastermind cikarang 1, dan mendapat respon positip dari semua anggota.
Pak Agus Cahyo, ditunjuk sebagai ketua rombongan para anggota MMC1 ini. Bank yang disepakati adalah Bank Syariah Mandiri, sedangkan paket yang akan dipilih disesuaikan dengan kondisi jamaah MMC1 ini.
Energi positif yang melingkupi seluruh anggota MMC1 ini benar-benar membuat semua jadi bergairah untuk menunaikan ibadah haji di tahun 2012.
"Kan hanya sekitar 35 juta, jadi kalau untuk dua orang, maka uang seratus saja sudah sisa", kelakar mereka
Jangan ditanya berapa uang yang ada di tabungan mereka dan berapa yang dapat dimasukkan lagi dalam tabungan untuk kurun sampai tahun depan.
Pasti tidak akan cukup uang mereka untuk naik haji, kecuali beberapa orang yang terlihat mampu, misalnya pak Mualib, yang sudah pernah berhaji dan punya aset di beberapa tempat.
Peserta lainnya boleh dikata harus berupaya lebih keras agar dapat menyisihkan uangnya untuk menunaikan ibadah haji.
Dengan niat, usaha dan doa yang keras, insya Allah semua itu akan terwujud. Kubayangkan Pak Dhe manggut-manggut di sudut ruangan. Pasti dia setuju dengan apa yang kita niatkan.
Insya Allah barokah. Amin.
Niat ini dikompori oleh pak Mualib, selaku kepala suku mastermind cikarang 1, dan mendapat respon positip dari semua anggota.
Pak Agus Cahyo, ditunjuk sebagai ketua rombongan para anggota MMC1 ini. Bank yang disepakati adalah Bank Syariah Mandiri, sedangkan paket yang akan dipilih disesuaikan dengan kondisi jamaah MMC1 ini.
Energi positif yang melingkupi seluruh anggota MMC1 ini benar-benar membuat semua jadi bergairah untuk menunaikan ibadah haji di tahun 2012.
"Kan hanya sekitar 35 juta, jadi kalau untuk dua orang, maka uang seratus saja sudah sisa", kelakar mereka
Jangan ditanya berapa uang yang ada di tabungan mereka dan berapa yang dapat dimasukkan lagi dalam tabungan untuk kurun sampai tahun depan.
Pasti tidak akan cukup uang mereka untuk naik haji, kecuali beberapa orang yang terlihat mampu, misalnya pak Mualib, yang sudah pernah berhaji dan punya aset di beberapa tempat.
Peserta lainnya boleh dikata harus berupaya lebih keras agar dapat menyisihkan uangnya untuk menunaikan ibadah haji.
Dengan niat, usaha dan doa yang keras, insya Allah semua itu akan terwujud. Kubayangkan Pak Dhe manggut-manggut di sudut ruangan. Pasti dia setuju dengan apa yang kita niatkan.
Insya Allah barokah. Amin.
Jumat, Januari 09, 2009
AKU BELAJAR [untuk cerdas]
Tuhan, aku tengah belajar tentang kekecewaan,
--- yang membuatku menata harapan
Aku belajar tentang duka dan kepedihan,
--- yang membuatku hancurkan kesombongan
Ku pun belajar tentang pengkhianatan,
--- yang membuatku memilah kepercayaan
Belajar tentang kemaksiatan,
--- yang membuat nuraniku bisa merasakan hati terkikis dan perih
Belajar pula tentang kebodohan,
--- yang mampu membuatku jatuh tersungkur dan bangkit
Aku belajar tentang kenakalan,
--- yang membuatku tertempa terpaan pukulan
Belajar kepada kekesalan,
--- yang membuat ketahanan hatiku terkuatkan
Belajar tentang cara belajar, waktuku tak makin kusia-siakan
Tuhan, pelajaranku tentang hal buruk
ternyata juga mendatangkan rasa syukur
bahwa Kau masih mengasihiku…,
dan menungguku untuk datang
dan menghiba pada-Mu
mengharap kasih-Mu
mengharap pertolongan-Mu
permaafan-Mu
Lalu Kau basuh nistaku dengan air lembayung
kubawa badan bersimbah rana dan kuyup,
menuju kehidupan
Kuajak mimpi bertabur kesucian
atas semua nista
Karena ku masih berharap
bahwa hidup sekedar sandiwara
yang kupelajari alurnya,
kuikuti mataharinya,
kunikmati kehancurannya
untuk berserah menuju akhir cerita,
yang masih tersimpan di alam sana
menungguku dengan segenap cinta dan senyum
laksana menyambut anak kesayangan
Pulang…
Wa***g, 9 Januari 2009, 01.12
[sebuah puisi yang mampir di alamat eko.eshape@gmail.com dan diijinkan untuk dimuat di blog ini]
--- yang membuatku menata harapan
Aku belajar tentang duka dan kepedihan,
--- yang membuatku hancurkan kesombongan
Ku pun belajar tentang pengkhianatan,
--- yang membuatku memilah kepercayaan
Belajar tentang kemaksiatan,
--- yang membuat nuraniku bisa merasakan hati terkikis dan perih
Belajar pula tentang kebodohan,
--- yang mampu membuatku jatuh tersungkur dan bangkit
Aku belajar tentang kenakalan,
--- yang membuatku tertempa terpaan pukulan
Belajar kepada kekesalan,
--- yang membuat ketahanan hatiku terkuatkan
Belajar tentang cara belajar, waktuku tak makin kusia-siakan
Tuhan, pelajaranku tentang hal buruk
ternyata juga mendatangkan rasa syukur
bahwa Kau masih mengasihiku…,
dan menungguku untuk datang
dan menghiba pada-Mu
mengharap kasih-Mu
mengharap pertolongan-Mu
permaafan-Mu
Lalu Kau basuh nistaku dengan air lembayung
kubawa badan bersimbah rana dan kuyup,
menuju kehidupan
Kuajak mimpi bertabur kesucian
atas semua nista
Karena ku masih berharap
bahwa hidup sekedar sandiwara
yang kupelajari alurnya,
kuikuti mataharinya,
kunikmati kehancurannya
untuk berserah menuju akhir cerita,
yang masih tersimpan di alam sana
menungguku dengan segenap cinta dan senyum
laksana menyambut anak kesayangan
Pulang…
Wa***g, 9 Januari 2009, 01.12
[sebuah puisi yang mampir di alamat eko.eshape@gmail.com dan diijinkan untuk dimuat di blog ini]
Kamis, Desember 04, 2008
Berbaik Sangka [dengan senyum]

Karena mengejar waktu, aku nyari jalan pintas ke TOL. Ternyata ada 3 buah Dump Truck yang sedang nge"DUMP" muatannya, sehingga jalan di pinggir Kali Malang ini macet total.
Emosi langsung naik ke ubun2. Ihhh, bodohnya mereka melakukan penurunan material. Kontraktornya siapa sih?
Untung aku langsung senyum [tadinya nyengir aja]. Yah, mereka kan kontraktor "ketengan", bukan kontraktor yang njalankan Sistem Manajemen [ISO, OHSAS], jadi wajar kalau amburadul.
Mau marah juga gak ada untungnya. Jalan akan tetap macet, sebelum mereka selesai menuang muatannya.
Sedikit demi sedikit muncul keikhlasanku. Akhirnya akupun mengambil foto suasana itu dengan senyum yang sudah mengembang.
"Pasti ada hikmah dari kejadian ini. Di TOL nanti pasti LANCAR"
Sampai di Tol ternyata malah mau srempetan dengan mobil yang melaju kencang dari LIPPO Cikarang [aku dari Jababeka Golf]. Begitu aku dapat tempat di depan mobil itu, eh truk-truk gedhe numpuk di depanku.
Lho sudah siang kok masih ada truk ya? Biasanya mereka lalu lalang di bawah jam 6.00. Apakah Tuhan kembali menguji kesabaranku?
Ternyata benar, begitu 3 menit "usel-uselan" dengan rombongan truk itu, tiba-tiba di depan rombongan truk itu jalan kosong melompong.
Gak terasa speedometer menunjukkan angka >140 km/jam.
Ups.... langsung gas kulorot. Gak baik melaju terlalu kencang, meskipun jalan kosong. DI atas 80 km/jam, mobil sudah susah dikontrol kalau harus tiba-tiba berhenti.
Wah bisa cepat sampai nih, pikirku.
Ternyata di Halim kembali [sangat] tersendat. Lampu lalin nyala hijau tetapi pak Polisi tetap nyetop jalurku dan membiarkan jalur lain untuk jalan.
Rupanya Tuhan belum selesai mencoba kesabaranku.
Alhamdulillah, semoga aku lulus ujian hari ini.
Mari kita tersenyum untuk menerima semua yang ada di hadapan kita.
AMin
Jumat, November 28, 2008
Diskusi sehabis Subuh
Setelah lama gak berdiskusi dengan anak-anak, tadi pagi sehabis subuh akhirnya bisa juga kita berdiskusi.
Topiknya adalah apa yang sebaiknya dilakukan oleh orang tua menjelang sholat subuh .
Ini topik yang menarik [bagiku], karena akhir-akhir ini memang suasana menjelang sholat subuh selalu agak kacau balau. Kalau mau cari kambing hitamnya, maka pasti telkomspeedy yang akan dituduh sebagai penyebabnya.
Benarkah demikian?
Kalau coba ditelusuri, maka sebelum ada paket gratis telkomspeedy mulai jam 20.00 s.d jam 08.00, maka kehidupan keluargaku berjalan dengan normal, dalam arti sholat jamaah subuh dapat dilaksanakan dengan tidak banyak effort. Kalaulah ada yang tidak normal , masih dalam taraf wajar deh.
Sejak adanya paket gratis itu, maka kehidupan berinternet anak-anak jadi berubah total. Mereka dengan setia menanti datangnya jam 20.00, baik dengan tiduran atau tidur.
Begitu jam 20.00 lewat sedikit, maka mulailah akses internet dibuka dan merekapun bisa keasyikan berinternet sampai berjam-jam,"mumpung gratis pak", begitu alasannya.
Mau dilarang, gak mempan lagi, karena ortunya juga memanfaatkan jam gratis itu dengan penuh euforia.
Sebelum ada paket gratis itu, maka setiap anak-anak akan melakukan sambungan ke internet selalu dipagari dengan tingginya biaya internet.
Bayangkan dari tagihan normal yang seharusnya cuma 200 ribu [paket kuota 1 GB], bisa berlipat-lipat mbayarnya, bahkan bisa melebihi tagihan paket unlimited.
He..he..he... berarti bukan paket gratisnya yang salah, tapi pengarahanku pada anak-anak tentang mahalnya akses internet yang membuat anak-anak jadi seperti kuda liar yang dilepas dari kandang.
Sebaiknya pembatasan akses inetrnet tidak melulu didasarkan atas besarnya biaya internet, tetapi diutamakan pada perlunya menjaga kombinasi antara bermain internet [di depan komputer] dan bersosialisasi dengan lingkungan [dengan meninggalkan meja komputer].
Anak pertamaku sudah "cacat" matanya karena terlalu rajin membaca + nongkrong di depan komputer. Model kursi dan meja komputer yang dipunyai juga membuat anak-anakku tidak memperhatikan masalah ergonomis.
Anak kedua dan ketiga juga mulai "cacat" matanya. ALhamdulillah, anak ketiga masih bisa ditolerir tanpa harus memakai kaca mata, asal rajin makan buah atau vitamin untuk kesehatan mata.
Kembali ke acara diskusi setelah sholat subuh, maka [ternyata] banyak masukan dari anak-anak yang membuat aku harus meninggalkan juga kebiasaanku [yang enak-enak].
Hari ini disepakati beberapa aturan baru [tapi lama] dan yang sebaiknya kutulis di internet agar ada masukan juga dari teman-teman pembaca.
Alhamdulillah, ternyata banyak usulan anak-anak yang tadinya jarang kulakukan.
Makasih nak , kalian telah mengingatkan ortumu dengan cara yang baik. Semoga menjadi amalan bagi kalian semua.
Insya Allah. Amin.
Topiknya adalah apa yang sebaiknya dilakukan oleh orang tua menjelang sholat subuh .
Ini topik yang menarik [bagiku], karena akhir-akhir ini memang suasana menjelang sholat subuh selalu agak kacau balau. Kalau mau cari kambing hitamnya, maka pasti telkomspeedy yang akan dituduh sebagai penyebabnya.
Benarkah demikian?
Kalau coba ditelusuri, maka sebelum ada paket gratis telkomspeedy mulai jam 20.00 s.d jam 08.00, maka kehidupan keluargaku berjalan dengan normal, dalam arti sholat jamaah subuh dapat dilaksanakan dengan tidak banyak effort. Kalaulah ada yang tidak normal , masih dalam taraf wajar deh.
Sejak adanya paket gratis itu, maka kehidupan berinternet anak-anak jadi berubah total. Mereka dengan setia menanti datangnya jam 20.00, baik dengan tiduran atau tidur.
Begitu jam 20.00 lewat sedikit, maka mulailah akses internet dibuka dan merekapun bisa keasyikan berinternet sampai berjam-jam,"mumpung gratis pak", begitu alasannya.
Mau dilarang, gak mempan lagi, karena ortunya juga memanfaatkan jam gratis itu dengan penuh euforia.
Sebelum ada paket gratis itu, maka setiap anak-anak akan melakukan sambungan ke internet selalu dipagari dengan tingginya biaya internet.
Bayangkan dari tagihan normal yang seharusnya cuma 200 ribu [paket kuota 1 GB], bisa berlipat-lipat mbayarnya, bahkan bisa melebihi tagihan paket unlimited.
He..he..he... berarti bukan paket gratisnya yang salah, tapi pengarahanku pada anak-anak tentang mahalnya akses internet yang membuat anak-anak jadi seperti kuda liar yang dilepas dari kandang.
Sebaiknya pembatasan akses inetrnet tidak melulu didasarkan atas besarnya biaya internet, tetapi diutamakan pada perlunya menjaga kombinasi antara bermain internet [di depan komputer] dan bersosialisasi dengan lingkungan [dengan meninggalkan meja komputer].
Anak pertamaku sudah "cacat" matanya karena terlalu rajin membaca + nongkrong di depan komputer. Model kursi dan meja komputer yang dipunyai juga membuat anak-anakku tidak memperhatikan masalah ergonomis.
Anak kedua dan ketiga juga mulai "cacat" matanya. ALhamdulillah, anak ketiga masih bisa ditolerir tanpa harus memakai kaca mata, asal rajin makan buah atau vitamin untuk kesehatan mata.
Kembali ke acara diskusi setelah sholat subuh, maka [ternyata] banyak masukan dari anak-anak yang membuat aku harus meninggalkan juga kebiasaanku [yang enak-enak].
Hari ini disepakati beberapa aturan baru [tapi lama] dan yang sebaiknya kutulis di internet agar ada masukan juga dari teman-teman pembaca.
- Jam tidur anak-anak adalah jam 22.00 [artinya maksimal internet adalah 2 jam]
- Jam tahajud, anak-anak diperbolehkan main internet lagi, dengan himbauan menyempatkan sholat sunah 2 rakaat.
- Yang harus sudah wudhu pertama kali adalah anak kedua atau bapak dan setelah wudhu tidak ada kegiatan menunggu wudhu dengan duduk-duduk di depan komputer [ini kebiasaanku yang sulit dilakukan, tapi harus kulakukan, lah sudah "commit" je!]
- Cara membangunkan anak harus lembut dan tidak boleh dengan cara mengguncang-ngguncang badan anak-anak ["seperti yang bapak lakukan pagi ini", kata anakku], seolah-olah anaknya "pasti" susah bangun.
- Ibu paling akhir wudhu, dan kalau sedang "libur" [gak sholat] dilarang tiduran di dekat tempat sholat, tapi cari kegiatan lain yang tidak terlihat oleh orang yang sedang sholat.
- PR [pekerjaan rumah bukan page rank] anak-anak sebaiknya dikerjakan malam hari [kalau sehabis subuh hasilnya sering ribut terus]
- Bapak dilarang [keras] mengancam menghukum anaknya yang lambat bangun.
Alhamdulillah, ternyata banyak usulan anak-anak yang tadinya jarang kulakukan.
Makasih nak , kalian telah mengingatkan ortumu dengan cara yang baik. Semoga menjadi amalan bagi kalian semua.
Insya Allah. Amin.
Jumat, November 14, 2008
Komitmen [jaga dengan baik]
Tahun 2007 lalu sebagai ketua seksi acara Family Gathering aku menuai banyak pujian, padahal ada satu acara di podium utama yang GATOT [gagal total]. Meskipun sudah makai MC profesional, pemusik andal dan sound system yang canggih, acara di podium utama tetap GATOT.
Tahun ini acara family gathering berjalan dengan mulus dan pujianpun kembali mengalir ke padaku. Tapi tahukah mereka apa yang sebenarnya terjadi di belakang acara itu?
Sebagai Sek Jend Serikat Pekerja, aku punya misi untuk meniadakan atau meminimalkan biaya family gathering tahun ini. Alasannya sederhana saja, banyak rakyat kecil yang saat ini lebih memerlukan bantuan keuangan "tunai" daripada bantuan dalam bentuk lain.
Kenaikan biaya hidup rakyat "Jakarta" yang terus melambung, krisis moneter yang masih mengancam, harag BBM yang gila-gilaan, kebutuhan anak sekolah yang tidak bisa ditunda, semuanya membuat Serikat Pekerja mempunyai gagasan untuk meniadakan acara faily gathering ini atau minimal membuat acara family gathering yang murah meriah dan alokasi dana untuk family gathering bisa dialihkan untuk membantu "rakyat kecil".
Ketika usulan dari SP [Serikat Pekerja] ini ditolak oleh manajemen, maka apakah SP lalu meradang dan aku kemudian keluar dari kepanitiaan?
Ternyata tidak. SP menerima keputusan itu dan aku tetap aktif menjadi bagian dari pelaksanaan acara family gathering.
Bahkan di acara itu aku malah mengambil alih peraqn MC profesional [he..he..he.. kebetulan aku dulu juga pernah jadi MC profesional sebelum kerja di perusahaan ini].
Jadi ketika Mc Cain yang kalah pilpres kemudian berpidato mendukung Obama, maka aku tidak cukup berpidato saja tetapi menunjukkan bukti bahwa aku "commit" dengan keputusan perusahaan walau dalam hati kecilku aku tidak menyetujui acara ini.
Alhamdulillah acaranya tetap lancar. Melalui panggung itupun aku dapat tetap menyuarakan kepentingan umat dan kepentingan perusahaan. Kuajak kawan-kawan untuk bekerja lebih giat agar perusahaan makin maju dan perusahaan dapat menyisihkan keuntungannya untuk dijadikan sebagai bonus bagi karyawan.
Insya Allah kawan-kawanku makin semangat bekerja dan perusahaanpun makin maju. Disini [perusahaan] adalah sawah kita besama dan kita buat panen tahun ini lebih banyak dari tahun lalu. Insya Allah hasil panennya juga barokah.
Amin.
"Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan ummat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang mungkar; mereka itulah orang-orang yang beruntung." (Ali 'Imran: 104)
Tahun ini acara family gathering berjalan dengan mulus dan pujianpun kembali mengalir ke padaku. Tapi tahukah mereka apa yang sebenarnya terjadi di belakang acara itu?
Sebagai Sek Jend Serikat Pekerja, aku punya misi untuk meniadakan atau meminimalkan biaya family gathering tahun ini. Alasannya sederhana saja, banyak rakyat kecil yang saat ini lebih memerlukan bantuan keuangan "tunai" daripada bantuan dalam bentuk lain.
Kenaikan biaya hidup rakyat "Jakarta" yang terus melambung, krisis moneter yang masih mengancam, harag BBM yang gila-gilaan, kebutuhan anak sekolah yang tidak bisa ditunda, semuanya membuat Serikat Pekerja mempunyai gagasan untuk meniadakan acara faily gathering ini atau minimal membuat acara family gathering yang murah meriah dan alokasi dana untuk family gathering bisa dialihkan untuk membantu "rakyat kecil".
Ketika usulan dari SP [Serikat Pekerja] ini ditolak oleh manajemen, maka apakah SP lalu meradang dan aku kemudian keluar dari kepanitiaan?
Ternyata tidak. SP menerima keputusan itu dan aku tetap aktif menjadi bagian dari pelaksanaan acara family gathering.
Bahkan di acara itu aku malah mengambil alih peraqn MC profesional [he..he..he.. kebetulan aku dulu juga pernah jadi MC profesional sebelum kerja di perusahaan ini].
Jadi ketika Mc Cain yang kalah pilpres kemudian berpidato mendukung Obama, maka aku tidak cukup berpidato saja tetapi menunjukkan bukti bahwa aku "commit" dengan keputusan perusahaan walau dalam hati kecilku aku tidak menyetujui acara ini.
Alhamdulillah acaranya tetap lancar. Melalui panggung itupun aku dapat tetap menyuarakan kepentingan umat dan kepentingan perusahaan. Kuajak kawan-kawan untuk bekerja lebih giat agar perusahaan makin maju dan perusahaan dapat menyisihkan keuntungannya untuk dijadikan sebagai bonus bagi karyawan.
Insya Allah kawan-kawanku makin semangat bekerja dan perusahaanpun makin maju. Disini [perusahaan] adalah sawah kita besama dan kita buat panen tahun ini lebih banyak dari tahun lalu. Insya Allah hasil panennya juga barokah.
Amin.
"Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan ummat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang mungkar; mereka itulah orang-orang yang beruntung." (Ali 'Imran: 104)
Kamis, November 13, 2008
Kehilangan HaTe
Pagi ini kawanku mendekatiku dan sambil tersenyum dia menyapaku.
"HaTenya sudah pak? Tinggal bapak yang belum mengembalikan", katanya.
Halah, rupanya dia nagih hate yang dipinjamkan padaku ketika acara family gathering. Perasaan sudah tak kembalikan kok dia belum nerima ya?
Seingatku, tak taruh di mejanya dia, tapi karena dia tidak ada jadi aku titipkan sama mas X. Sayangnya mas "X" ini gak bisa dimintai klarifikasi.
Ya sudah, alamat aku akan kehilangan duit untuk mengganti HaTe itu. Semoga saja mau diganti dengan cara men"cicil".
Sambil mikir mr X aku mencoba mencari hikmah dari kejadian ini. Apa ya yang bisa kupetik dari kejadian ini?
Malemnya, sampai di rumah, baru ketahuan hikmah dari kejadian ini. Anakku bercerita kalau dia baru saja kehilangan duit yang mustinya buat bayar sekolah. Anakku yang satunya juga lapor kehilangan duit.
Wah, kalau gak ada kejadian kehilangan HaTe, mungkin emosiku sudah meluap. Duit kok dibuang-buang, nyarinya aja susah kok mbuangnya begitu gampang.
Pelajaran hari ini :
1. Jangan mau dipinjemin HaTe lagi. Mbawanya susah ngembalikannya lebih susah lagi.
2. Tahun depan aku berumur 50 tahun, dan harus siap-siap untuk jadi lebih pikun dengan banyak minum obat anti pikun [olah raga teratur dan suka mgisi TTS]
3. Kepercayaan anak untuk bercerita terus terang harus dihargai dan disyukuri [bukan untuk dimarahi]
4. Selalu tersenyum dengan ikhlas menghadapi semua cobaan dari Tuhan.
5. Tuhan tahu pasti apa yang terbaik buat kita.
"Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang yang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya… "(QS 2: 286)
Saat masih memakai HaTe di acara Family Gathering [sok-sokan sich]
"HaTenya sudah pak? Tinggal bapak yang belum mengembalikan", katanya.
Halah, rupanya dia nagih hate yang dipinjamkan padaku ketika acara family gathering. Perasaan sudah tak kembalikan kok dia belum nerima ya?
Seingatku, tak taruh di mejanya dia, tapi karena dia tidak ada jadi aku titipkan sama mas X. Sayangnya mas "X" ini gak bisa dimintai klarifikasi.
Ya sudah, alamat aku akan kehilangan duit untuk mengganti HaTe itu. Semoga saja mau diganti dengan cara men"cicil".
Sambil mikir mr X aku mencoba mencari hikmah dari kejadian ini. Apa ya yang bisa kupetik dari kejadian ini?
Malemnya, sampai di rumah, baru ketahuan hikmah dari kejadian ini. Anakku bercerita kalau dia baru saja kehilangan duit yang mustinya buat bayar sekolah. Anakku yang satunya juga lapor kehilangan duit.
Wah, kalau gak ada kejadian kehilangan HaTe, mungkin emosiku sudah meluap. Duit kok dibuang-buang, nyarinya aja susah kok mbuangnya begitu gampang.
Pelajaran hari ini :
1. Jangan mau dipinjemin HaTe lagi. Mbawanya susah ngembalikannya lebih susah lagi.
2. Tahun depan aku berumur 50 tahun, dan harus siap-siap untuk jadi lebih pikun dengan banyak minum obat anti pikun [olah raga teratur dan suka mgisi TTS]
3. Kepercayaan anak untuk bercerita terus terang harus dihargai dan disyukuri [bukan untuk dimarahi]
4. Selalu tersenyum dengan ikhlas menghadapi semua cobaan dari Tuhan.
5. Tuhan tahu pasti apa yang terbaik buat kita.
"Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang yang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya… "(QS 2: 286)
Saat masih memakai HaTe di acara Family Gathering [sok-sokan sich]
Keceriaan Pak Dhe [2]
Pak Dhe menarik nafas panjang membaca surat yang dipegangnya. Sebuah surat undangan untuk berdiskusi dengan manajemen pabrik dengan topik efisiensi pabrik.
Mulai minggu lalu, pak Dhe sudah resmi tidak masuk kerja di pabrik. Yang diingat pak Dhe, di hari terakhir kerja, saat dipanggil oleh kepala pabrik, hanya kalimat yang diterjemahkan sebagai "mulai besok bapak tidak usah masuk kerja lagi", selain itu tidak ada lagi kalimat yang masuk dalam telinganya.
Cobaan yang begitu hebat di minggu-minggu ini membuat konsentrasi pak Dhe sangat rapuh. Rasanya imannya seperti biduk di laut lepas yang terkena hantaman badai besar. Terhempas kesana kemari, timbul tenggelam dimainkan ombak.
Kemarin Kang Udin memang memberi tahu tentang undangan itu, tetapi pak Dhe merasa sudah bukan pekerja pabrik lagi, jadi kenapa harus hadir. Memang disebutkan di surat itu, bahwa pak Dhe diundang dalam kapasitasnya sebagai anggota Serikat Pekerja seksi dakwah, tapi apa masih perlu dia datang ke acara diskusi itu?
Siangnya pak Dhe memutuskan untuk datang ke pabrik. Minimal dia harus memberi klarifikasi tentang statusnya sekarang dan relevansinya dengan undangan itu.
Seminggu tidak masuk pabrik dan wajah-wajah akrab yang biasa dilihatnya kembali muncul di hadapannya. Senyum renyah mereka menyambut kedatangan pak Dhe. Rasanya pak Dhe ingin mengalirkan air mata, tapi panas di matanya masih dapat ditahannya agar tidak menjadi air mata. Di toilet pabrik baru air mata itu mengucur deras, sehingga pak Dhe harus berpura-pura wudhu untuk menghapus sisa-sisa air matanya.
Di siaran TiPi disamping kantin pabrik, pak Dhe berhenti sejenak. Berita yang ada adalah maraknya pengangguran di Amerika, sehingga ada seorang laki-laki berumur sekitar 45 tahun harus keluar dari pekerjaan dan sudah berpuluh-puluh kali dia melamar pekerjaan di tempat lain dengan hasil "nihil".
Istri sang pegawai itu, yang tadinya hanya menjadi ibu Rumah Tangga yang baik, akhirnya ikut mencari kerja, tapi hasilnya sama saja. Fenomena itu tidak hanya terjadi pada sebuah keluarga di Amerika, tetapi terjadi di beberapa keluarga di Amerika, bahkan kondisi yang lebih parah terjadi di beberapa keluarga lainnya.
Ketika asyik noton siaran itu, pundak pak Dhe ditepuk penonton yang baru masuk.
"Assalamu'alaikum pak Dhe", sapanya ramah
"Wa'alaikum salam, Pak Rochmat", terkembang senyum pak Dhe menerima pelukan Ketua Serikat Pekerja Pabrik, pak Rochmat.
Keduanyapun akhirnya asyik berbincang tentang segala hal, sehingga akhirnya sampai ke acara diskusi yang akan dilaksanakan sehabis sholat Dhuhur nanti.
"Kenapa sih aku masih diundang diskusi pak?"
"Lha kan pak Dhe yang mengusulkan diskusi ini bulan lalu dan manajemen akhirnya menyetujui setelah kujelaskan dengan data yang ada"
"Iya memang, tapi aku kan bukan pekerja pabrik lagi"
"Halah.... ide siapa itu?", kaget pak Rochmat menjawab.
"Pak Abu, kepala Pabrik"
"Astaghfirullah. Sebegitu kejamnya dia sama pak Dhe ya? Alhamdulillah, pak Dhe masih mau datang kesini, jadi bisa kujelaskan duduk perkaranya"
Pak Dhe tidak bisa berkata-kata lagi ketika dia tahu bahwa sebenarnya dia hanya diminta untuk cuti selama sebulan, karena sudah bertahun-tahun pak Dhe tidak pernah mengambil cuti. Pak Dhe terlalu bertanggung jawab dengan pekerjaannya, sehingga cutipun tidak pernah diambilnya.
Yang selalu diambilnya hanyalah libur di tanggal merah saja, itupun kadang masih disempatkan pak Dhe untuk melihat-lihat pabrik.
Temuan pak Dhe tentang tidak efisiennya proses pekerjaan di pabrik rupanya telah membuat berang Kepala Pabrik, sehingga keputusan manajemen berdasar usulan Serikat Pekerja diplintirnya menjadi pemutusan hubungan kerja.
"Pak Abu sudah dipindah ke pabrik kita yang lain dan pak Dhe masih pekerja di pabrik ini. Gitu ceritanya"
Subhanallah, begitulah Allah mengatur roda kehidupan ini. Pak Abu yang telah terpesona oleh kehidupan dunia rupanya telah menjadi gelap mata dan mau melakukan apa saja untuk mencari kesenangan di dunia. Pak Abu telah lupa akan semua petunjuk yang ada di Al Quran.
Allah SWT berfirman :
“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-bangga tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu”. (QS, al-Hadiid 57:20).
Ali menutup bukunya, mengusap air matanya dan memandang PS baru yang dibelikan ayahnya karena kemarin dia ngambeg tidak mau berbuat apa saja sebelum dibelikan PS baru.
"Aku rupanya telah menyusahkan ayah ibuku. Maafkan aku ayah ibu", Ali menuju ruang keluarga dan menciumi ayah ibunya yang keheranan melihat tingkah aneh anaknya.
Mulai minggu lalu, pak Dhe sudah resmi tidak masuk kerja di pabrik. Yang diingat pak Dhe, di hari terakhir kerja, saat dipanggil oleh kepala pabrik, hanya kalimat yang diterjemahkan sebagai "mulai besok bapak tidak usah masuk kerja lagi", selain itu tidak ada lagi kalimat yang masuk dalam telinganya.
Cobaan yang begitu hebat di minggu-minggu ini membuat konsentrasi pak Dhe sangat rapuh. Rasanya imannya seperti biduk di laut lepas yang terkena hantaman badai besar. Terhempas kesana kemari, timbul tenggelam dimainkan ombak.
Kemarin Kang Udin memang memberi tahu tentang undangan itu, tetapi pak Dhe merasa sudah bukan pekerja pabrik lagi, jadi kenapa harus hadir. Memang disebutkan di surat itu, bahwa pak Dhe diundang dalam kapasitasnya sebagai anggota Serikat Pekerja seksi dakwah, tapi apa masih perlu dia datang ke acara diskusi itu?
Siangnya pak Dhe memutuskan untuk datang ke pabrik. Minimal dia harus memberi klarifikasi tentang statusnya sekarang dan relevansinya dengan undangan itu.
Seminggu tidak masuk pabrik dan wajah-wajah akrab yang biasa dilihatnya kembali muncul di hadapannya. Senyum renyah mereka menyambut kedatangan pak Dhe. Rasanya pak Dhe ingin mengalirkan air mata, tapi panas di matanya masih dapat ditahannya agar tidak menjadi air mata. Di toilet pabrik baru air mata itu mengucur deras, sehingga pak Dhe harus berpura-pura wudhu untuk menghapus sisa-sisa air matanya.
Di siaran TiPi disamping kantin pabrik, pak Dhe berhenti sejenak. Berita yang ada adalah maraknya pengangguran di Amerika, sehingga ada seorang laki-laki berumur sekitar 45 tahun harus keluar dari pekerjaan dan sudah berpuluh-puluh kali dia melamar pekerjaan di tempat lain dengan hasil "nihil".
Istri sang pegawai itu, yang tadinya hanya menjadi ibu Rumah Tangga yang baik, akhirnya ikut mencari kerja, tapi hasilnya sama saja. Fenomena itu tidak hanya terjadi pada sebuah keluarga di Amerika, tetapi terjadi di beberapa keluarga di Amerika, bahkan kondisi yang lebih parah terjadi di beberapa keluarga lainnya.
Ketika asyik noton siaran itu, pundak pak Dhe ditepuk penonton yang baru masuk.
"Assalamu'alaikum pak Dhe", sapanya ramah
"Wa'alaikum salam, Pak Rochmat", terkembang senyum pak Dhe menerima pelukan Ketua Serikat Pekerja Pabrik, pak Rochmat.
Keduanyapun akhirnya asyik berbincang tentang segala hal, sehingga akhirnya sampai ke acara diskusi yang akan dilaksanakan sehabis sholat Dhuhur nanti.
"Kenapa sih aku masih diundang diskusi pak?"
"Lha kan pak Dhe yang mengusulkan diskusi ini bulan lalu dan manajemen akhirnya menyetujui setelah kujelaskan dengan data yang ada"
"Iya memang, tapi aku kan bukan pekerja pabrik lagi"
"Halah.... ide siapa itu?", kaget pak Rochmat menjawab.
"Pak Abu, kepala Pabrik"
"Astaghfirullah. Sebegitu kejamnya dia sama pak Dhe ya? Alhamdulillah, pak Dhe masih mau datang kesini, jadi bisa kujelaskan duduk perkaranya"
Pak Dhe tidak bisa berkata-kata lagi ketika dia tahu bahwa sebenarnya dia hanya diminta untuk cuti selama sebulan, karena sudah bertahun-tahun pak Dhe tidak pernah mengambil cuti. Pak Dhe terlalu bertanggung jawab dengan pekerjaannya, sehingga cutipun tidak pernah diambilnya.
Yang selalu diambilnya hanyalah libur di tanggal merah saja, itupun kadang masih disempatkan pak Dhe untuk melihat-lihat pabrik.
Temuan pak Dhe tentang tidak efisiennya proses pekerjaan di pabrik rupanya telah membuat berang Kepala Pabrik, sehingga keputusan manajemen berdasar usulan Serikat Pekerja diplintirnya menjadi pemutusan hubungan kerja.
"Pak Abu sudah dipindah ke pabrik kita yang lain dan pak Dhe masih pekerja di pabrik ini. Gitu ceritanya"
Subhanallah, begitulah Allah mengatur roda kehidupan ini. Pak Abu yang telah terpesona oleh kehidupan dunia rupanya telah menjadi gelap mata dan mau melakukan apa saja untuk mencari kesenangan di dunia. Pak Abu telah lupa akan semua petunjuk yang ada di Al Quran.
Allah SWT berfirman :
“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-bangga tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu”. (QS, al-Hadiid 57:20).
Ali menutup bukunya, mengusap air matanya dan memandang PS baru yang dibelikan ayahnya karena kemarin dia ngambeg tidak mau berbuat apa saja sebelum dibelikan PS baru.
"Aku rupanya telah menyusahkan ayah ibuku. Maafkan aku ayah ibu", Ali menuju ruang keluarga dan menciumi ayah ibunya yang keheranan melihat tingkah aneh anaknya.
Rabu, November 05, 2008
Baik Sangka
Paijo mempersiapkan diri dengan beberapa ayat Quran dan hadits nabi, sebelum pergi ke rumah Parman, yang baru saja kena musibah, sehingga harta bendanya tidak hanya habis, tapi minus.
Ayat Quran yang disiapkan antara lain adalah :
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya…” (Al-Baqarah: 286)
Iapun mempersiapkan kisah-kisah bijak tentang perlunya berkhuznudzon pada Allah, karena Allah swt paling tahu apa yang terbaik buat kita.
Sesampainya di rumah Parman, ia langsung beruluk salam dan kemudian terlibat perbincangan yang hangat dengan Parman.
Iapun jadi lupa untuk berdakwah, menyampaikan kata-kata hiburan berdasar ayat-ayat Quran yang sudah dihapalnya. Sampai akhirnya ia menyadari, bahwa tujuannya adalah menghibur Parman dan bukan bersenda gurau seperti ini.
Iapun akhirnya tergelitik untuk bertanya,
"Mas, katanya baru saja ditipu orang ya?"
"Halah, berita udah menyebar ya?", jawab Parman sambil bergelak ketawa.
"Gimana sih ceritanya, kok sampai sebegitunya?", kata Paijo.
Parmanpun bercerita panjang lebar tentang musibah yang dialaminya. Yang membuat Paijo makin heran adalah model berceritanya Parman, yang tidak terlihat sedikitpun unsur menyalahkan penipu ataupun mengeluhkan tentang hidupnya setelah ditipu habis-habisan.
Penasaran, Paijopun bertanya,
"Kok kelihatannya mas Parman gak sedih menerima musibah ini?"
Parman tergelak ketawa, dan kemudian mulailah Parman bercerita tentang hidupnya setelah habis-habisan hartanya dikuras oleh penipu.
Dulu, ketika masih punya uang banyak, maka setiap akan menghitung zakat, Parman selalu dipusingkan dengan angka-angka yang terasa njlimet. Setelah membayar zakatpun, dengan rumus 1,5 kali besaran zakat wajib, rasanya masih saja ada yang kurang dizakati.
Sudah sedekahpun, rasanya masih ada juga hak orang miskin di hartanya. Hal ini membuat pikiran Parman sering tidak tenteram.
"Sekarang ini mas, saya gak perlu pusing mikirin besaran zakat. Lha saya ndak punya uang kok, malah mungkin saya ini wajib diberi zakat", demikian penutup dari Parman.
"Lha kok ndak marah sama yang menipu sampeyan?", kata Paijo masi belum puas.
"Penipuku itu belum kenal Tuhan mas, jadi semoga sekarang dia bisa kenal Tuhan. Semoga dia diingatkan, bahwa harta dunia itu tidak kekal, tidak barokah kalau mendapatkannya dengan cara yang gak bener"
"Ooo..."
"Masih untung mas, aku ditipu pada saat sekarang ini. Coba aku ditipu pas aku jadi orang yang lebih kaya. Bukan tidak mungkin yang terkena imbas dari tipuan itu termasuk orang-orang yang bekerja padaku. Kan kasihan mereka. Kalau sekarang ini, alhamdulillah, hanya aku yang terkena, jadi gak apa-apalah. Ini kan ujian dari Allah, agar aku naik kelas"
"....."
"Aku percaya kok mas, kalau sesudah kesulitan itu pasti ada kemudahan..."
Ayat Quran yang disiapkan antara lain adalah :
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya…” (Al-Baqarah: 286)
Iapun mempersiapkan kisah-kisah bijak tentang perlunya berkhuznudzon pada Allah, karena Allah swt paling tahu apa yang terbaik buat kita.
Sesampainya di rumah Parman, ia langsung beruluk salam dan kemudian terlibat perbincangan yang hangat dengan Parman.
Iapun jadi lupa untuk berdakwah, menyampaikan kata-kata hiburan berdasar ayat-ayat Quran yang sudah dihapalnya. Sampai akhirnya ia menyadari, bahwa tujuannya adalah menghibur Parman dan bukan bersenda gurau seperti ini.
Iapun akhirnya tergelitik untuk bertanya,
"Mas, katanya baru saja ditipu orang ya?"
"Halah, berita udah menyebar ya?", jawab Parman sambil bergelak ketawa.
"Gimana sih ceritanya, kok sampai sebegitunya?", kata Paijo.
Parmanpun bercerita panjang lebar tentang musibah yang dialaminya. Yang membuat Paijo makin heran adalah model berceritanya Parman, yang tidak terlihat sedikitpun unsur menyalahkan penipu ataupun mengeluhkan tentang hidupnya setelah ditipu habis-habisan.
Penasaran, Paijopun bertanya,
"Kok kelihatannya mas Parman gak sedih menerima musibah ini?"
Parman tergelak ketawa, dan kemudian mulailah Parman bercerita tentang hidupnya setelah habis-habisan hartanya dikuras oleh penipu.
Dulu, ketika masih punya uang banyak, maka setiap akan menghitung zakat, Parman selalu dipusingkan dengan angka-angka yang terasa njlimet. Setelah membayar zakatpun, dengan rumus 1,5 kali besaran zakat wajib, rasanya masih saja ada yang kurang dizakati.
Sudah sedekahpun, rasanya masih ada juga hak orang miskin di hartanya. Hal ini membuat pikiran Parman sering tidak tenteram.
"Sekarang ini mas, saya gak perlu pusing mikirin besaran zakat. Lha saya ndak punya uang kok, malah mungkin saya ini wajib diberi zakat", demikian penutup dari Parman.
"Lha kok ndak marah sama yang menipu sampeyan?", kata Paijo masi belum puas.
"Penipuku itu belum kenal Tuhan mas, jadi semoga sekarang dia bisa kenal Tuhan. Semoga dia diingatkan, bahwa harta dunia itu tidak kekal, tidak barokah kalau mendapatkannya dengan cara yang gak bener"
"Ooo..."
"Masih untung mas, aku ditipu pada saat sekarang ini. Coba aku ditipu pas aku jadi orang yang lebih kaya. Bukan tidak mungkin yang terkena imbas dari tipuan itu termasuk orang-orang yang bekerja padaku. Kan kasihan mereka. Kalau sekarang ini, alhamdulillah, hanya aku yang terkena, jadi gak apa-apalah. Ini kan ujian dari Allah, agar aku naik kelas"
"....."
"Aku percaya kok mas, kalau sesudah kesulitan itu pasti ada kemudahan..."
Jumat, Oktober 17, 2008
Ditinggal ISTRI
Kalau kita perhatikan, pasutri yang kehilangan pasangannya, maka ada berbagai type. 2 type yang paling mencolok adalah sebagai berikut :
1. Bila suami kehilangan istri, maka beberapa saat kemudian [biasanya] sudah ada penggantinya [kadang dapet istri yang masih "kinyis-kinyis" lagi]
2. Bila istri kehilangan suami, maka [jarang] yang kawin lagi, meskipun ada juga yang kawin lagi.
Mengapa ya kok bisa begitu?
Apa itu menunjukkan bahwa seorang suami itu sangat butuh istri atau emmang seorang istri itu [sebenarnya] tidak butuh banget seorang suami?
Yang jelas, di rumahku, kalau aku pergi seminggu, kayaknya di rumah tidak terjadi apa-apa. Semuanya tetep runing well.
Sangat berbeda dengan kalau istriku yang pergi. Wah, sehari saja dia nggak ada, rumah sudah kayak tak bertuan.
Ketidak rapihan muncul dimana-mana. Aturan-aturan baku pada dilanggar [misalnya dulunya tidak boleh makan junk food -mie instan- sekarang jadi pesta pora junk food, dll]
Saat ini sudah hampir seminggu istri tidak di rumah, dan bisa dibayangkan sendiri kondisi rumah dan tanggaku. Wuihhh mantab sekali [he..he..he...]
Malam tadi ketika aku terjaga dari tidur, kulihat senyum istriku yang mengembang [sehabis dia memukul nyamuk di mukaku]. Ternyata istriku sudah datang dari Beijing. Wah, besok pagi pasti anak-anak pada ramai rebutan oleh-oleh. Pasti istriku juga sudah punya sertifikat pendakian tembok Cina.
Alhamdulillah, ternyata peran ibu dalam rumah[ku] itu sangat tak tergantikan.
Maafin bapak kalau banyak salah ya bu.
Insya ALlah ibu nanti masuk syurga dengan segala amalan ibu.
Amin.
1. Bila suami kehilangan istri, maka beberapa saat kemudian [biasanya] sudah ada penggantinya [kadang dapet istri yang masih "kinyis-kinyis" lagi]
2. Bila istri kehilangan suami, maka [jarang] yang kawin lagi, meskipun ada juga yang kawin lagi.
Mengapa ya kok bisa begitu?
Apa itu menunjukkan bahwa seorang suami itu sangat butuh istri atau emmang seorang istri itu [sebenarnya] tidak butuh banget seorang suami?
Yang jelas, di rumahku, kalau aku pergi seminggu, kayaknya di rumah tidak terjadi apa-apa. Semuanya tetep runing well.
Sangat berbeda dengan kalau istriku yang pergi. Wah, sehari saja dia nggak ada, rumah sudah kayak tak bertuan.
Ketidak rapihan muncul dimana-mana. Aturan-aturan baku pada dilanggar [misalnya dulunya tidak boleh makan junk food -mie instan- sekarang jadi pesta pora junk food, dll]
Saat ini sudah hampir seminggu istri tidak di rumah, dan bisa dibayangkan sendiri kondisi rumah dan tanggaku. Wuihhh mantab sekali [he..he..he...]
Malam tadi ketika aku terjaga dari tidur, kulihat senyum istriku yang mengembang [sehabis dia memukul nyamuk di mukaku]. Ternyata istriku sudah datang dari Beijing. Wah, besok pagi pasti anak-anak pada ramai rebutan oleh-oleh. Pasti istriku juga sudah punya sertifikat pendakian tembok Cina.
Alhamdulillah, ternyata peran ibu dalam rumah[ku] itu sangat tak tergantikan.
Maafin bapak kalau banyak salah ya bu.
Insya ALlah ibu nanti masuk syurga dengan segala amalan ibu.
Amin.
Kamis, Oktober 16, 2008
dan mintalah MAAF pada anakmu
Air Cucuran Atap Jatuhnya Ke Pelimbahan Juga, begitu kata peribahasa. Artinya anak-anak itu sifatnya gak jauh-jauh beda dengan sifat kedua orang tuanya.
Jadi kalau kita melihat anak kita melakukan suatu kesalahan [menurut kita], maka coba teliti sifat yang mana dari ortunya yang menurun pada si anak.
Anak kita ngambek? Habis itu kita marahi habis-habisan. Nah, benarkah anak kita yang salah?
Jangan-jangan dia ngambek karena melihat ortunya juga sering "sok" ngambek, caper, dll. Jadi jangan tergesa-gesa nyalahin anak ketika melhat anaknya ngambeg. Cari dulu sebabnya baru cari solusinya.
Gampang kan?
He..he..he.. ternyata enggak tuh. Alam bawah sadar kita yang telah begitu kuat merasuki semua tindakan kita membuat kita sering scara otomatis melakukan hal-hal yang sama yang pernah dilakukan orang tua kita terhadap kita saat kita sedang ngambeg.
Lho..lho..lho... kasihan deh anak kita.
Pagi ini, ketika LiLo sarapan dan dapet lauk sate ayam [madura] yang menurutku enak sekali, demikian juga menurut kakak-kakaknya, ternyata komentarnya lain,
"Pak, kapan-kapan kalau beli sate pilih yang sate padang ya....."
Halah, apalagi ini. Orang tuanya tidak ada satupun yang demen sate padang, kenapa anaknya ada yang demen [banget].
Peribahasa itu jadi nggak cocok donk.
Kalau gitu lihat hadits aja yuk.
Dari Abi Hurairah ra. bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, kecuali orang tuanya yang menjadikannya Yahudi, Nasrani atau Majusi."
(HR Bukhari 1296)
So..... mari kita berbaik sangka pada anak-anak kita yang tersayang, kita jadikan anak-anak kita generasi yang lebih baik dari kita sekarang. Minta maaflah pada anak-anak kita, bila kita berbuat salah dan semoga mereka dapat menjadi hamba Allah yang pandai bersyukur dan pandai memaafkan.
Insya Allah.
Amin.
Jadi kalau kita melihat anak kita melakukan suatu kesalahan [menurut kita], maka coba teliti sifat yang mana dari ortunya yang menurun pada si anak.
Anak kita ngambek? Habis itu kita marahi habis-habisan. Nah, benarkah anak kita yang salah?
Jangan-jangan dia ngambek karena melihat ortunya juga sering "sok" ngambek, caper, dll. Jadi jangan tergesa-gesa nyalahin anak ketika melhat anaknya ngambeg. Cari dulu sebabnya baru cari solusinya.
Gampang kan?
He..he..he.. ternyata enggak tuh. Alam bawah sadar kita yang telah begitu kuat merasuki semua tindakan kita membuat kita sering scara otomatis melakukan hal-hal yang sama yang pernah dilakukan orang tua kita terhadap kita saat kita sedang ngambeg.
Lho..lho..lho... kasihan deh anak kita.
Pagi ini, ketika LiLo sarapan dan dapet lauk sate ayam [madura] yang menurutku enak sekali, demikian juga menurut kakak-kakaknya, ternyata komentarnya lain,
"Pak, kapan-kapan kalau beli sate pilih yang sate padang ya....."
Halah, apalagi ini. Orang tuanya tidak ada satupun yang demen sate padang, kenapa anaknya ada yang demen [banget].
Peribahasa itu jadi nggak cocok donk.
Kalau gitu lihat hadits aja yuk.
Dari Abi Hurairah ra. bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, kecuali orang tuanya yang menjadikannya Yahudi, Nasrani atau Majusi."
(HR Bukhari 1296)
So..... mari kita berbaik sangka pada anak-anak kita yang tersayang, kita jadikan anak-anak kita generasi yang lebih baik dari kita sekarang. Minta maaflah pada anak-anak kita, bila kita berbuat salah dan semoga mereka dapat menjadi hamba Allah yang pandai bersyukur dan pandai memaafkan.
Insya Allah.
Amin.
Rabu, Oktober 15, 2008
BOSAAAAN !!!
Aku masih ingat ketika bawa mobil baru "kinyis-kinyis", 1.500 CC Nisan GL, njemput anak istri di Mall, pulang dari kantor. Wah, mereka mencoba memilih mobil di parkiran. Yang mana ya yang akan membawa mereka pulang ke rumah?
Akhirnya, mereka sampai pada mobil yang kubawa. Apa komentar mereka?
"Nggak mungkin yang ini. Bagus banget nih...", kata mereka kompak.
Langsung saja kupencet "remote" mobil.
"Kik kuk...!", lampu sign mobil menyala dan kubuka pintu untuk mereka. Wah, betapa indahnya malam itu [bagi kita].
Lebaran tahun lalu, kitapun memakai mobil itu untuk mudik. Mobil yang sangat irit. Gak sampai 200 rebu udah bisa nyampai di Yogyakarta.
Tahun ini, apa kata mereka tentang pulang mudik.
"Kalau bisa, mudiknya nggak pakai mobil itu lagi pak. Kecil dan sumpek, bikin pusing"
Baru setahun dan ternyata mereka sudah bosan.
Kamipun pulang mudik dengan naik mobil 2.000 CC. Akibatnya, mereka senang dan penjual bensinpun senang [lha mobilnya boros banget, setengah juta rupiah untuk sampai di Yogya]
Di sisi lain, ketika LiLo masih Balita, kubelikan dia mainan PS2 [meskipun kurang di"support" oleh ibundanya], ternyata sampai sekarang dia sudah klas 3 SD, masih belum juga bosan.
Di kantor, ada juga kawanku yang bosan bekerja. Dia males bekerja berpindah-pindah [kayak tentara saja, katanya]. Dia lebih sayang sama keluarganya dan akhirnya dia keluar dari kantor.
Minggu lalu, kulihat dia enjoy dengan pekerjaannya yang baru, yang bisa membuatnya menetap di kota tercinta, berkumpul dengan anak istri selalu.
Kawan lain, bosen juga bekerja sebagai karyawan. Apa-apa harus nurut pimpinan [yang belum tentu benar, menurut dia]. Akhirnya dia juga keluar, dan minggu lalu ketika kukunjungi, dia tidak ada di tempat. Baru keluar kota untuk urusan bisnis.
Kata kawanku yang lain, dia sudah jadi boss dan sudah kaya raya. Jadi sibuk melanglang, dari kota ke kota, bahkan mau ke manca negara untuk ngurusin bisnisnya itu.
Ada lagi kawan lain, dia bosan bekerja karena tidak tahu lagi apa yang mau dikerjakan. Akhirnya dia masuk kerja jam 8 dan pulang kerja jam 5, prestasinya NOL. Jadilah dia anggota pasukan 805.
Hidup ini ternyata penuh dengan berbagai model kebosanan. Ada yang bosan sesuatu dan ternyata ketika dia mencoba bertindak untuk mengatasi kebosanan itu hasilnya luar biasa [dari kaca mata awam].
Sementara itu, ada yang bosan dan menikmati kebosanan itu, dan akhirnya dia menderita depresi, karena tidak pernah mendapatkan kepuasan hidup, bekerja tanpa prestasi dan tanpa penghargaan [bagaimana mau dihargai, dia kan tidak pernah berprestasi].
Apakah orang yang bosan bekerja harus berpindah pekerjaan, seperti contoh kesuksesan kawan-kawanku itu?
Jawabannya sangat relatif. Kalau mau jawaban logis, ya tidak gampang untuk mencari pekerjaan di tempat lain, apalagi bisa lebih sukses dibanding pekerjaannya sekarang.
Belum lagi kalau umurnya sudah mempet [usia pensiun], maka mencari pekerjaan lain bukan solusi.
Ada beberapa tips yang saya dapet dari surfing internet, bila kita tetap ingin bekerja di tempat yang menurut kita membosankan.
1. Enjoy aja dengan pekerjaan yang ada, jangan jadikan pekerjaan kita sebagai beban.
2. Bekerja itu ibadah, jadi lakukan yang terbaik untuk pekerjaan kita. Do the best !
3. Kalau ada spesifikasi yang harus diikuti, maka berilah bonus sedikit di atas spesifikasi itu. Misalnya pekerjaan mengetik harus selesai dalam waktu 2 jam dan akan diambil pada jam 14.00, maka usahakan selesai kurang dari 2 jam dan jangan tunggu diambil, serahkan pada "user"nya dalam map yang rapi.
4. Ikuti terus petunjuk yang ada di blog ini [halah....... jangan diikuti perintah ini, dasar penulis narsis, selalu mencari celah untuk menunjukkan kenarsisannya....]
Last but not least, bayangkan kalau Tuhan yang bosan sama kita. Apa yang akan terjadi?
Apa harus bertanya pada rumputnya Ebiet?
Sebaiknya jangan pernah bosan beribadah, karena setiap langkah kita mendekati Tuhan akan dibalas Tuhan dengan langkah yang lebih cepat. Selalulah berbaik sangka padaNya, karena kita tidak ingin Tuhan bosan sama kita.
Sebaliknya bila kita menjauh dari Tuhan, maka boleh dikata kita sudah menentang Tuhan. Kalau berani dengan Tuhan berarti sudah "BOSAN HIDUP". Bumi dan langit ini milik Allah swt, terus mau tinggal dimana kalau kita tidak mau berTuhan pada Allah swt.
Bener mau "BOSAN HIDUP"?
Nggak ah, lebih baik bekerja secara ikhlas, agar nanti saat dipanggil Tuhan, bekal kita sudah memadai.
Insya Allah. Amin.
Akhirnya, mereka sampai pada mobil yang kubawa. Apa komentar mereka?
"Nggak mungkin yang ini. Bagus banget nih...", kata mereka kompak.
Langsung saja kupencet "remote" mobil.
"Kik kuk...!", lampu sign mobil menyala dan kubuka pintu untuk mereka. Wah, betapa indahnya malam itu [bagi kita].
Lebaran tahun lalu, kitapun memakai mobil itu untuk mudik. Mobil yang sangat irit. Gak sampai 200 rebu udah bisa nyampai di Yogyakarta.
Tahun ini, apa kata mereka tentang pulang mudik.
"Kalau bisa, mudiknya nggak pakai mobil itu lagi pak. Kecil dan sumpek, bikin pusing"
Baru setahun dan ternyata mereka sudah bosan.
Kamipun pulang mudik dengan naik mobil 2.000 CC. Akibatnya, mereka senang dan penjual bensinpun senang [lha mobilnya boros banget, setengah juta rupiah untuk sampai di Yogya]
Di sisi lain, ketika LiLo masih Balita, kubelikan dia mainan PS2 [meskipun kurang di"support" oleh ibundanya], ternyata sampai sekarang dia sudah klas 3 SD, masih belum juga bosan.
Di kantor, ada juga kawanku yang bosan bekerja. Dia males bekerja berpindah-pindah [kayak tentara saja, katanya]. Dia lebih sayang sama keluarganya dan akhirnya dia keluar dari kantor.
Minggu lalu, kulihat dia enjoy dengan pekerjaannya yang baru, yang bisa membuatnya menetap di kota tercinta, berkumpul dengan anak istri selalu.
Kawan lain, bosen juga bekerja sebagai karyawan. Apa-apa harus nurut pimpinan [yang belum tentu benar, menurut dia]. Akhirnya dia juga keluar, dan minggu lalu ketika kukunjungi, dia tidak ada di tempat. Baru keluar kota untuk urusan bisnis.
Kata kawanku yang lain, dia sudah jadi boss dan sudah kaya raya. Jadi sibuk melanglang, dari kota ke kota, bahkan mau ke manca negara untuk ngurusin bisnisnya itu.
Ada lagi kawan lain, dia bosan bekerja karena tidak tahu lagi apa yang mau dikerjakan. Akhirnya dia masuk kerja jam 8 dan pulang kerja jam 5, prestasinya NOL. Jadilah dia anggota pasukan 805.
Hidup ini ternyata penuh dengan berbagai model kebosanan. Ada yang bosan sesuatu dan ternyata ketika dia mencoba bertindak untuk mengatasi kebosanan itu hasilnya luar biasa [dari kaca mata awam].
Sementara itu, ada yang bosan dan menikmati kebosanan itu, dan akhirnya dia menderita depresi, karena tidak pernah mendapatkan kepuasan hidup, bekerja tanpa prestasi dan tanpa penghargaan [bagaimana mau dihargai, dia kan tidak pernah berprestasi].
Apakah orang yang bosan bekerja harus berpindah pekerjaan, seperti contoh kesuksesan kawan-kawanku itu?
Jawabannya sangat relatif. Kalau mau jawaban logis, ya tidak gampang untuk mencari pekerjaan di tempat lain, apalagi bisa lebih sukses dibanding pekerjaannya sekarang.
Belum lagi kalau umurnya sudah mempet [usia pensiun], maka mencari pekerjaan lain bukan solusi.
Ada beberapa tips yang saya dapet dari surfing internet, bila kita tetap ingin bekerja di tempat yang menurut kita membosankan.
1. Enjoy aja dengan pekerjaan yang ada, jangan jadikan pekerjaan kita sebagai beban.
2. Bekerja itu ibadah, jadi lakukan yang terbaik untuk pekerjaan kita. Do the best !
3. Kalau ada spesifikasi yang harus diikuti, maka berilah bonus sedikit di atas spesifikasi itu. Misalnya pekerjaan mengetik harus selesai dalam waktu 2 jam dan akan diambil pada jam 14.00, maka usahakan selesai kurang dari 2 jam dan jangan tunggu diambil, serahkan pada "user"nya dalam map yang rapi.
4. Ikuti terus petunjuk yang ada di blog ini [halah....... jangan diikuti perintah ini, dasar penulis narsis, selalu mencari celah untuk menunjukkan kenarsisannya....]
Last but not least, bayangkan kalau Tuhan yang bosan sama kita. Apa yang akan terjadi?
Apa harus bertanya pada rumputnya Ebiet?
Sebaiknya jangan pernah bosan beribadah, karena setiap langkah kita mendekati Tuhan akan dibalas Tuhan dengan langkah yang lebih cepat. Selalulah berbaik sangka padaNya, karena kita tidak ingin Tuhan bosan sama kita.
Sebaliknya bila kita menjauh dari Tuhan, maka boleh dikata kita sudah menentang Tuhan. Kalau berani dengan Tuhan berarti sudah "BOSAN HIDUP". Bumi dan langit ini milik Allah swt, terus mau tinggal dimana kalau kita tidak mau berTuhan pada Allah swt.
Bener mau "BOSAN HIDUP"?
Nggak ah, lebih baik bekerja secara ikhlas, agar nanti saat dipanggil Tuhan, bekal kita sudah memadai.
Insya Allah. Amin.
Selasa, Oktober 14, 2008
Kuncinya : IKHLAS
Selasa sore ada undangan main FUTSAL. In adalah undangan pertama pasca lebaran, setelah libur FUTSAL selama bulan puasa. Sayangnya sepatuku dipinjamkan istriku dan sekarang sepatu itu ada di Yogya [wah jauh banget ngambilnya]. Ya sudah kita lupakan saja. Kucoba untuk mengikhlaskan kejadian ini.
Pulang kantor, ternyata pikiran masih dibebani dengan masalah sepatu FUTSAL. Ada keinginan untuk beli sepatu baru atau tidak ikut FUTSAL saja [sayang dong], sampai akhirnya aku sampai di rumah dan kulihat ada paket dari Yogya.
"Jangan-jangan ini sepatuku ya? Ah... pasti ini sepatuku", begitu keyakinanku. Akupun meminta anak-anakku untuk membuka paket itu. Isinya ternyata tas istriku yang ketinggalan di Yogya ketika mudik kemarin, dan .... he..he..he...., benar!. Ada sepasang sepatu FUTSAL[ku] di dalamnya.
Enak banget ya, begitu punya keinginan langsung dikabulkan.
Minggu lalu ketika istriku mau pergi ke Beijing dan meminjam cameraku, aku dengan ikhlas memberikannya, karena memang hanya itu camera kita dan istriku lebih perlu untuk memakainya, meskipun aku juga merasa perlu untuk mengabadikan pesta pernikahan anaknya tante Reni di MEdan.
Ternyata pulang dari Medan aku juga "nemu" camera Canon IXUS 860 IS yang sudah lama kudiam-idamkan. Harganya memang lebih murah dari Nikon yang dipakai istriku dan bodinya juga lebih tebal, tapi bukankah ini suatu kenikmatan yang begitu indah?
Saat ingin punya camera lagi, tahu-tahu camera yang diinginkan sudah ada di tangan. Bukankah itu sama saja dengan terkabulnya sebuah doa yang sudah lama ada dalam alam bawah sadarku. Alhamdulillah.
Benar kata pak ustadz, saat kita mengharapkan terbukanya pintu rejeki kita, maka sebenarnya pintu-pintu rejeki lain telah terbuka lebar. Hanya saja kita sering tidak menyadarinya, dan tetap nunggu di suatu pintu rejeki yang masih tutup dan tidak buka-buka [kadang sambil ngedumel, kok nggak buka-buka sih pintunya....]
Kita lupa bahwa yang baik bagi kita, belum tentu baik [menurut] Allah swt, sedangkan yang buruk bagi kita, bisa jadi baik [menurut] Allah swt. Doa kita tidak dikabulkan bukan karena Allah tidak cinta kita, kadang-kadang karena cinta ALlah, maka doa kita tidak dikabulkanNya.
Allah swt hanya mengabulkan doa yang baik untuk hambaNya yang baik.
Pelajaran hari ini :
Salam
Pulang kantor, ternyata pikiran masih dibebani dengan masalah sepatu FUTSAL. Ada keinginan untuk beli sepatu baru atau tidak ikut FUTSAL saja [sayang dong], sampai akhirnya aku sampai di rumah dan kulihat ada paket dari Yogya.
"Jangan-jangan ini sepatuku ya? Ah... pasti ini sepatuku", begitu keyakinanku. Akupun meminta anak-anakku untuk membuka paket itu. Isinya ternyata tas istriku yang ketinggalan di Yogya ketika mudik kemarin, dan .... he..he..he...., benar!. Ada sepasang sepatu FUTSAL[ku] di dalamnya.
Enak banget ya, begitu punya keinginan langsung dikabulkan.
Minggu lalu ketika istriku mau pergi ke Beijing dan meminjam cameraku, aku dengan ikhlas memberikannya, karena memang hanya itu camera kita dan istriku lebih perlu untuk memakainya, meskipun aku juga merasa perlu untuk mengabadikan pesta pernikahan anaknya tante Reni di MEdan.
Ternyata pulang dari Medan aku juga "nemu" camera Canon IXUS 860 IS yang sudah lama kudiam-idamkan. Harganya memang lebih murah dari Nikon yang dipakai istriku dan bodinya juga lebih tebal, tapi bukankah ini suatu kenikmatan yang begitu indah?
Saat ingin punya camera lagi, tahu-tahu camera yang diinginkan sudah ada di tangan. Bukankah itu sama saja dengan terkabulnya sebuah doa yang sudah lama ada dalam alam bawah sadarku. Alhamdulillah.
Benar kata pak ustadz, saat kita mengharapkan terbukanya pintu rejeki kita, maka sebenarnya pintu-pintu rejeki lain telah terbuka lebar. Hanya saja kita sering tidak menyadarinya, dan tetap nunggu di suatu pintu rejeki yang masih tutup dan tidak buka-buka [kadang sambil ngedumel, kok nggak buka-buka sih pintunya....]
Kita lupa bahwa yang baik bagi kita, belum tentu baik [menurut] Allah swt, sedangkan yang buruk bagi kita, bisa jadi baik [menurut] Allah swt. Doa kita tidak dikabulkan bukan karena Allah tidak cinta kita, kadang-kadang karena cinta ALlah, maka doa kita tidak dikabulkanNya.
Allah swt hanya mengabulkan doa yang baik untuk hambaNya yang baik.
Pelajaran hari ini :
- Syukuri semua nikmat Allah swt, karena itulah yang terbaik untuk kita.
- Kenikmatan adalah cobaan dari Allah dalam bentuk yang lain selain kesengsaraan, dan kalau kita tidak pandai mensyukurinya, maka gagallah kita menghadapi cobaan itu [bisa-bisa muncul ujub kita sebagai orang yang disayang Allah, orang yang selalu dikabulkan doanya, dst...]
- Berbaik sangkalah pada Allah swt, semoga persangkaan yang baik itu membuat hidup kita menjadi lebih baik [insya Allah. amin]
- Banyak orang sukses ketika dicoba dengan kesengasaraan dan kesulitan, tapi berapa banyak orang yang berhasil melewati ujian yang berujud kenikmatan?. Semoga kita termasuk di dalamnya. Amin.
Salam
Sabtu, Oktober 11, 2008
Kehangatan [perjalanan] Jakarta-Medan

Kejadian setengah tahun lalu kok terjadi lagi ya. Mirip banget deh.
Saat itu, aku pergi ke Padang dan tidak bisa segera pulang, karena masih dibutuhkan teman-teman di Padang, sehingga anak-anak jadi tanpa ortu, karena istriku juga harus "terbang" ke MALAKA.
Saat ini, aku diharapkan tinggal di MEdan dan Aceh sampai hari Selasa minggu depan, tapi aku akan balik hari Minggu saja, karena istriku akan terbang ke BEIJING. Begitulah, anak-anak kembali tanpa ortu di rumah.
Perjalanan ke Medan penuh dengan cobaan kesabaran hati [tertampung di http://www.plurk.com/eshape/]. Dimulai dari sistem manual dari Sriwijaya, sehingga aku tidak bisa mendaftar [check in] meskipun sudah antri paling depan.
Setelah di"ping-pong" petugas Sriwijaya, maka akhirnya aku duduk sendirian di depan tiket, sampai loketnya buka. begitu loket buka, ternyata harus antri di loket lain [HALAH..... bener-bener latihan sabar].
Bosen gonta ganti posisi duduk/berdiri, maka nyoba nge"PLURK" pakai Nokia N73 [ribet banget saking kecilnya layar dan mouse].
Begitu tiket udah oke, langsung masuk John Executive LOUNGE. Halah...... Mandiri Card gak berlaku disini [yang berlaku Mandiri Syariah]. Untung masih ada card yang lain.
Berkali-kali aku nanayain pesawat yang ke Medan, dan mbaknya sampai bosen, karena nggak punya jawaban yang pasti. Akhirnya kuhabiskan waktu dengan ngePLURK dan kenalan sama sesama penumpang [baik yang mau ke solo, palembang, surabaya, dll].
Ketika semua teman-teman baruku mulai "BOARDING", maka akhirnya akupun nekat keluar dari LOUNGE.
ALhamdulilah, firasatku ini benar. Sampai di ruang tunggu, suasana sudah sepiiiiiii banget. Ternyata penumpang tujuan Medan sudah pada naik pesawat. Wuihhhh, hampir saja terulang nasib di lounge BNI. Teladh masuk pesawat dan musti nungguin di depan pintu pesawat yang sudah ditutup [siap untuk take off].
Sampai di pesawat, ternyata para penumpang masih di luar. Mereka antri panjang sekali di pintu depan pesawat. Kulihat di pintu pesawat sisi belakang, nggak ada yang antri, yowis akupun naik dari belakang.
Seperti biasa, aku selalu milih duduk di dekat pintu darurat bagian gang. Dapetlah nomor 11C [nomor favorit].
Seperti biasa, pramugari pasti akan mendekati deretan pintu darurat untuk menjelaskan prosedur membuka pintu darurat.
Entah karena iseng atau nggak "dunk", maka penumpang paling kiri langsung menarik pintu darurat sehingga terbukalah pintu darurat.
Alhamdulillah, mbak pramugari yang cantik dan putiiiih banget kulitnya, meskipun terlihat jengkel, tapi tetap tersenyum manis dan mohon pintu yang satunya jangan dibuka, karena sudah delay, jangan sampai nanti malah tambah delay lagi, hanya untuk urusan nutup pintu darurat.
Sampai di hotel sudah jam 23.30. Langsung pesan kamar yang bisa internetan, dan dapetlah kamar nomor 622. Ternyata resepsionisnya nggak "dunk" atau katrok, di kamar 622 ini gak ada fasilitas internetannya.
Kok Tiara tidak seindah dulu ya?
Emang Hotel baik di Medan sekarang apa sih?
Dulu Tiara ini paling top deh, tahun 2001 saat aku meninggalkan Medan, hotel Tiara masih yang terbaik tuh. Gak tahu sekarang kok katrok banget.
Ya udah, pasang hape aja ke laptop. Rencananya mau internetan pakai hape aja, namun persoalan ternyata masih belum selesai. Nggak ada aplikasi PC Suite di laptopku [yang barusan masuk RS karena harddisknya ancur].
Dasar nasib baik, ternyata aku bawa USB SanDisk yang berisi PCSuite. Hasilnya, blog inipun jadilah.
Pelajaran hari ini :
- Cobaan terhadap kesabaran selalu ada dimana saja. Jadikanlah sholat dan sabar sebagai penolongmu [inget itu pak eshape!!!]
- Selalulah tersenyum pada setiap orang yang kau jumpai, niscaya mereka bisa menjadi obat kejenuhan perasaan. Jangan lupa rumus senyum 2-2-7 [tarik bibir 2 cm ke kanan, 2 cm ke kiri dan pertahanakan selama 7 detik]
- Bila mampu menahan sabar dan mampu bersyukur pada semua yang kita terima, maka pertolongan Tuhan akan datang dari tempat yang tidak kita duga.
Alhamdulillah.
Selesai.
Jumat, September 19, 2008
HiDuP "PaS-PaS"aN
Apakah sebenarnya yang dicari dalam hidup ini?
Pingin kaya raya dan mati masuk surga atau pingin menikmati hidup tanpa harus kaya namun tetep mati masuk surga?
Atau mungkin ada pilihan lain lagi?
Hidup ini memang sebuah pilihan, dan setiap saat, setiap detik, kita selalu dihadapkan pada suatu pilihan. Layaknya sebuah flowchart kehidupan yang sangat besar [mendekati tak terhingga], maka setiap pilihan kita selalu menanggung konsekwensi.
Jadi yang perlu disiapkan adalah bagaimana kita menghadapi setiap konsekwensi dari pilihan kita.
Pingin kaya? Berarti harus berusaha keras nyari kekayaan.
Pingin mati masuk surga? Berarti harus menyiapkan bekal yang banyak agar pas mati bekalnya sudah memadai.
Paling enak ternyata hidup dengan cara pas-pasan. Pas pingin kaya, tiba-tiba dapet rejeki.
Pas mati, ternyata amalannya sudah memadai [untuk masuk surga].
Kadang yang terjadi adalah :
1. Pas dapet duit, ditagih hutang
2. Pas mau makan enak, ada yang datang minta makan
3. Pas nyenyak-nyenyaknya tidur, dibangunin sahur
4. Pas mau ngeblog, pas listrik padam
Nah, kalau begini, apa yang musti dilakuin?
Hanya ada satu cara, tersenyum sambil bilang,"Enjoy AjaH!"
Indahnya hidup "pas-pas"an
Pandanglah hijaunya daun dan nikmati indahnya hidup ini. Paksakan sebuah senyum, dan insya Allah, lama-lama jadi nggak kepaksa.
Amin.
Senin, September 15, 2008
KuLTuM [di kantor]

Setiap bakda Dhuhur, di masjid kantor selalu diadakan acara kultum. Acara ini terasa pas, karena bisa menambah keimanan atau minimal mengingatkan kita akan perlunya memberi siraman rohani. Apalagi pas bulan puasa, jadi rasanya pas bener deh...!:-)
Pemberi kultum juga beraneka ragam posisi jabatan, mulai dari pejabat tinggi, sampai staf rendahan, bahkan OB-pun ikut memberi kontribusi kultum.
Ada juga penceramah dari luar yang ingin berbagi ilmu dengan jamaah masjid Waskita. Bila waktu ceramah dianggap masih kurang dan "audience" masih belum puas, maka lokasi kultumpun pindah ke depan masjid [namanya sudah bukan kultum tuh, mungkin kulibas =kuliah lima belas menit=].
Seperti di mesjid-mesjid lain, maka fenomena istirahat siang juga ada di masjid Waskita.
Karena tidak tiap hari ke masjid, maka aku tidak tahu apakah ada direktur atau kepala biro yang suka datang di masjid ini. Kebetulan pas aku hadir, pas meeka pada tidak kelihatan.

Minggu, September 14, 2008
TaKjiL dan KeTinggALaN SePeDa
Biasanya LiLo kalau takjilan di Masjid selalu bareng aku, tapi hari ini dia berangkat sorean [jam 16.15], jadi dia naik sepeda sendirian.
Saat takjil, kulihat dia udah ngumpul sama temen-temennya. Pasti setelah capek main di masjid, sekitar 1 jam setengahan.
Lama nggak takjilan di masjid, ternyata pesertanya sudah banyak berkurang, sehingga 10 macam makanan kecil dan minuman boleh dimabil dobel-dobel.
Pulangnya, LiLo lupa kalau mbawa sepeda. Ketahuannya ketika mau subuhan. Lho kok nggak ada sepeda di rumah?
Langsung LiLo meluncur ke masjid, dan ternyata sepedanya sudah nggak ada. Ya namanya nginep semalem, mungkin ada yang menyelamatkannya.
Maka pagi tadi terjadilah percakapan seperti ini,
"Waktu tahu sepedanya nggak ada, apa perasaan LiLO?"
"Tegang"
"Kenapa ?"
"Takut dimarahi bapak"
"Bapak marah enggak?"
"Engak"
"Jadi gimana cara nyari sepeda itu?"
"..................." [diem]
"Coba LiLo ke masjid lagi dan nanya sama ikhwan yang ada di masjid. Mungkin ada diantara mereka yang tahu dimana sepeda LiLo"
".................." [diem]
Hari ini LiLo mencoba ke masjid tapi belum ketemu dengan pengurus masjid. Semoga sepedanya segera kembali.
Amin.
14 SeP 08
Malem tadi, aku YM dengan beberapa teman yang ngucapin selamat berulang tahun. Memang hari ini adalah hariku untuk mawas diri, untuk melihat sejauh mana aku telah melakukan tugasku mengabdi pada Allah swt.
Kurasakan imanku memang sering naik turun, kadang terasa begitu indah, kadang terasa menjadi beban yang sangat berat. Beberapa cobaan sering membuatku tegar, tetapi beebrapa kenikmatan justru sering membuatku lengah.
Pagi-pagi sudah dilapori hilangnya sepeda Polygon LiLo. Meskipun itu bukan sepeda yang mahal amat, tetapi untuk beli lagi sepeda merk polygon di Cikarang tidak segampang seperti beli sepeda di Surabaya, yang semuanya dekat jaraknya. Udah gitu perlu uang yang tidak sedikit untuk membeli sepeda seperti itu lagi [lha tadi katanya tidak mahal].
Jadi, aku hanya bisa berharap semoga Allah mengembalikan sepeda LiLo itu. Semoga LiLo masih diberi kesempatan untuk naik sepeda itu lagi. Amin.
Dengan tetap tersenyum aku bilang LiLo untuk mencoba mencari lagi sepedanya, kali-kali ada yang nemuin dan menyimpannya. Siapa tahu di bulan puasa ini orang-orang pada tergerak hatinya untuk ebrbuat baik.
Insya Allah. Amin.
Tepat jam 00.00 [saat Adebayor membuat gol ke 2 di EPL] aku mendapat ucapan selamat dari keluargaku. Makanya aku nggak boleh keluar kamar semalem, rupanya mereka pada nyiapin acara buatku.
Aku dapet beberapa hadiah yang pas banget dengan kebutuhanku. Semoga Allah membimbing keluargaku agar selalu berpegang pada tali Allah.
Insya Allah. Amin.
Sabtu, September 13, 2008
SePeDaAn [di bulan PuaSa]
Hari libur [Sabtu-Minggu], acara yang paling menyenangkan adalah bermain bersama keluarga. Sekalian olah raga, maka diputuskan bentuk acara adalah bersepeda, memanfaatkan sepeda yang minggu lalu telah diberesin.
Kali ini kita menuju jembatan baru yang belum banyak dilalui orang. Sampai di lokasi ternyata banyak remaja ABG ngumpul disitu. Ada juga yang sudah berpasang-pasangan, duduk-duduk di pinggir jalan. Nggak kutanya apa mereka suami istri atau sedang pacaran, baik sangka sajalah, rumah mereka sedang bermasalah, jadi mereka berdiskusi di pinggir jalan umum yang sepi dan sejuk.
Begitu turun dari sepeda, sekelompok anak kecil mendatangi. Kayaknya mereka baru sekali ini melihat sepeda tandem, jadi mereka langsung membentuk kelompok, melingkari sepedaku.
Ketika LiLo terjatuh, secara spontan, "ketua geng" mereka langsung menolong LiLo.
Habis itu, terjadilah dialog kecil dengan mereka.
"Seberapa harganya", kata mereka
"Macem-macem", kataku,"ada yang dua juta ada yang satu setengah ada juga yang sejuta"
Pandangan mereka yang begitu antusias membuatku bertanya pada mereka,"Mau nyoba?"
Wah, pandangan mata mereka langsung berbinar-binar,"Boleh?", kata mereka seolah nggak percaya dengan ucapanku.
Begitulah, mereka bergantian naik sepeda tandemku. Setelah cukup lelah, baru mereka menyerahkan sepedanya. Mungkin mereka melihat aku juga sudah mulai pingin pulang.
Kamis, September 11, 2008
Mudik [lagi]
Pulang dari buka bersama dan safari tarawikh di Kelapa Gading, aku naik taksi. Soalnya pingin cepet sampai di rumah, pingin denger cerita LiLo tentang takjilan di Masjid MI hari ini. Apalagi waktu lewat tempat mangkalnya armada Boeing A59 sepintas terlihat sepi.
Ya sudah, kupilih taksi tarif bawah dan sepanjang jalan asyik ngobrol sama drivernya. Ngalor ngidul nggak keruan, soalnya perlu untuk menghilangkan jenuh akan panjangnya perjalanan.
Mulai dari panen yang nggak maksimal, karena drivernya orang Indramayu, sampai ongkos mudik lebaran yang selalu naik dengan gila-gilaan.
Kebetulan perusahaanku yang ngerjakan bendung di Indramayu, tapi kutahankan diri untuk tidak cerita tentang yang satu ini, takutnya jadi "ujub" bin "takabur".
Macetnya lalu lintas menjelang hari H lebaran juga kita bahas. Memang, sebaiknya kalau gak perlu banget ngapain sih mudik?
Kalau niatnya cocok dengan semangat ramadhan sih masih bagus, tapi sering niatnya lain, jadi latihan selama sebulan di bulan ramadhan habis begitu saja di hari menjelang lebaran.
Subuhan sudah nggak ke masjid lagi, ibadah-ibadah lainnya juga sudah mulai berguguran. Waktu sudah habis untuk bersilaturahmi, sampai lupa tahu-tahu sudah masuk waktu sholat selanjutnya, padahal sholat sebelumnya belum dijalankan.
Soal naiknya ongkos transport juga sering dipermasalahkan, padahal belum tentu penyedia jasa layanan untung besar dengan naiknya ongkos itu. Untung mestinya iya, tapi untung yang besar banget kayaknya masih belum tentu.
Pada saat "narik" dari Jakarta ke kampung, maka penumpang penuh sesak dengan ongkos yang di atas harga rata-rata, tapi waktu dia balik lagi ke Jakarta, bukan tidak mungkin dengan kondisi penumpang yang kosong melompong.
Jadi marilah menarik seulas senyum dan selalu berbaik sangka pada siapa saja. Minimal berbaik sangka pada Allah swt, karena Dia memang selalu memberi yang terbaik untuk kita.
Langganan:
Postingan (Atom)