Jumat, Oktober 22, 2010
Subuhan di Masjid Hijau Daun
Ada beberapa masjid di sekitar jalan Taman Hijau Daun. Paling megah tentu masjid dari PT Hutama Karya, sebuah BUMN Konstruksi yang menyisihkan keuntungannya untuk membangun sebuah masjid yang indah, cantik dan nyaman.
Ada juga masjid Waskita yang selalu laris manis kalau hari Jumat. Letaknya yang di "basement" membuat masjid ini kurang terlihat bagi pejalan kaki yang lewat di depan kantor Waskita.
Lebih dekat ke rumah ada masjid kecil yang terletak di persimpangan antara jalan Hijau Daun 3 dan 6. Kemudian di pasar ada sebuah masjid besar yang luasannya lebih besar dari yang ada di Hutama Karya.
Pagi ini aku memilih yang paling dekat yaitu di masjid Hijau Daun. Beberapa tetangga kulihat di masjid itu. Setelah selesai sholat untuk menghormati masjid, aku iseng menghitung jumlah orang yang hadir dan jumlah orang yang berasal dari Jogyakarta.
Ternyata yang hadir di masjid itu lebih dari 30% adalah orang Jogyakarta. Lebih istimewa lagi mereka adalah alumni UGM semua dan dari jurusan Teknik Sipil semua.
Ketika imam mulai bertakbir, kulihat ada seorang jamaah baru yang masuk dan paslah porsi orang Jogya yang lulusan sipil UGM genap 30%.
Saat imam takbir tadi ada 9 orang jamaah sholat subuhnya dan 3 di antaranya adalah kawan kantorku.
Yuk kita sukseskan Gerakan Subuh Masal yuk..!
Selasa, September 07, 2010
Jadi Imam Mesjid
Hari ini, kulihat jamaah Isya dan Tarwikh cukup banyak. Aku sedikit tersenyum, alhamdulillah, berarti kemarin malam ada yang berhalangan sehingga masjid jadi sepi. Hari ini terbukti masih banyak yang hadir sebagai jamaah setia masjid Hutama Karya ini.
Setiap malam aku memang sering sholat jamaah di masjid ini dibanding sholat jamaah di masjid Waskita. Soalnya di masjid Waskita lebih seru kalau siang hari. Jamaahnya padat dan sebagian besar tetap berada di Masjid begitu usai sholat, bukan untuk tidur tapi untuk mendengarkan cerita ustadz tentang segala hal yang perlu dikaji dari Al Quran dan Hadits.
Malam ini begitu iqomah dikumandangkan, aku langsung berdiri seperti biasa, tetapi ternyata beberapa jamaah mendorongku untuk maju terus.
"Astaghfirullah", kataku dalam hati. Ternyata dari begitu banyak jamaah ini, wajah imam ataupun pendamping imam yang kukenal biasanya duduk di barisan paling depan ternyata tidak ada terlihat satupun.
"Ayo pak, sekali-kali jadi imam di sini", kata beberapa orang sambil mendorong pelan tubuhku.
Tanpa terasa aku sudah sampai di deretan terdepan di sajadah imam masjid. Ya sudah, bismillah, kumulai tugasku sebagai imam yang pertama kali di masjid ini.
Pikiranku tiba-tiba kembali ke dua puluh tiga puluh tahun lalu, saat aku masih aktif di masjid Perumnas Condong catur. Dunia ini seperti berputar kembali lagi ke peristiwa yang kualami dulu.
"Astaghfirullah", kembali aku berucap. Kenapa saat jadi imam pikiranku bisa multitasking kemana-mana ya, bukankah ini tanggung jawab yang besar bagiku. Apa jadinya kalau aku salah dalam memimpin jamaah di masjid ini?
Kucoba singkirkan beberapa gangguan pikiran multitasking ini. Meski sulit, akhirnya aku berhasil menyelesaikan tugas sebagai imam sholat Isya, Tarwikh dan Witir.
"Alhamdulillah"
Entah kenapa aku selalu merasa sangat puas setiap kali sholat Tarwikh dengan model 4-4-3 bukan 2-2-2-2-2-1. Bukan karena aku merasa metode ini yang paling benar atau yang lain tidak benar, tapi kenangan betapa nyamannya sholat tarwikh waktu kecil selalu muncul setiap aku sholat dengan model 4-4-3.
Aku tawarkan dulu model sholat ini pada para jamaah sebelum aku mulai mengangkat takbir. Beberapa jamaah mengangguk dan salah satu jamaah malah bilang, "kayak MU pak".
Aku yang kurang dengar dengan kalimat itu minta komentar itu agar diulangi lagi dan aku terpaksa jadi ikut tersenyum.
"Ada-ada saja bapak ini, mau sholat kok malah cerita MU"
Fenomena makin sedikit jamaah sholat di suatu masjid adalah fenomena yang hampir terjadi di setiap masjid. Di hari terakhir Ramadhan, kadang hanya ada tiga orang jamaah masjid dan ketiga-tiganya adalah panitia Zakat Fitrah.
Kita memang sering lupa akan esensi Ramdhan, seperti juga kita sering lupa esensi acara Buka Bersama. Acara yang seharusnya bernuansa religi itu lebih sering jadi acara mengumbar nafsu saja. Lebaran tidak ditangisi karena berpisah dengan Ramadhan tapi justru dirayakan karena baru terima THR.
Acara Buka bersama juga sering tidak dilanjutkan dengan sholat berjamaah tarwikh, bahkan lokasi buka bersama kadang-kadang mencari tempat sholatnya saja susah.
Aku ajak diriku sendiri untuk selalu ingat Allah dimanapun berada. Semoga Allah menunjukkan yang benar adalah yang benar dan aku diberi kemudahan untuk melaksanakan kebenaran itu.
Amin.
Salam Sehati
Kamis, Januari 08, 2009
Himbauan dari Masjid MI Cikarang

Himbauan Untuk Membantu Palestina
Assalamu’alaykum wr wb
Segala Puji bagi Alloh swt yang digenggaman-Nya seluruh kerajaan dan kekuatan, Dia lah yang telah menjadikan kematian dan kehidupan sebagai ujian siapa diantara kita yang paling baik amalnya. Sholawat dan salam semoga tercurahkan kepada teladan kita Rasulullah saw, beserta keluarga, sahabatnya dan setiap orang yang ikhlas dan konsisten mengikuti ajarannya
Islam mengajarkan kepada kita untuk membangun rasa persaudaraan, kepedulian dan solidaritas sesama muslim di manapun mereka berada. Tidak ada batas wilayah, geografis, latar belakang suku dan bangsa yang dapat menghalangi seorang muslim untuk membantu saudaranya yang kesulitan. Islam mengibaratkan rasa persaudaraan ini dengan ibarat kesatuan anggota tubuh “kal jasadul waahid”, dimana jika ada salah satu anggota tubuh yang sakit, anggota tubuh yang lain akan merasakan sakit dan segera membantu untuk mengobatinya
Saat ini, saudara saudara kita di Gaza Palestina sedang mengalami penderitaan yang sangat berat. Tanah kelahirannya, rumah tinggalnya, masjid masjidnya dan seluruh fasilitas hidupnya di rampas dan di hancurkan oleh Zinois Israel. Lebih dari itu secara brutal Militer Zionis Israel telah membunuh anak anak dan wanita serta menghancurkan harapan harapan mereka. Hingga saat ini tidak kurang dari 500 jiwa telah terbunuh dan ribuan lain mengalami luka luka akibat kebiadaban Zionis Israel
Pada kesempatan ini kami Yayasan Islam Mekar Indah (YIMI) menghimbau kepada seluruh jamaah untuk membantu saudara saudara kita tersebut dalam bentuk sebagai berikut
1. Melantunkan doa secara fardiyah untuk kemenangan umat islam di Palestina dan kehancuran Zionis Israel
2. Membaca doa qunut nazilah pada setiap sholat kita
3. Memberikan bantuan dana kepada lembaga lembaga terpercaya yang ada, seperti MER-C, KNRP, KISPA dan yang lainnya
Sekecil apapun bantuan yang kita berikan akan memberikan manfaat dan harapan yang besar bagi saudara saudara kita umat Islam di Palestina. Semoga Alloh memberikan kemenangan bagi mujahidin Palestina dan menghancurkan Zionis Israel laknatulloh ‘alaihim sehancur hancurnya.
“In tansurulloha yansurkum wa yutsabbit aqdaamakum”. Barang siapa yang menolong agama Alloh, pasti Alloh akan menolong dan meneguhkan kedudukannya.
Wasalamu’alaykum wr wb
H. Imam Hambali, S.Si
Ketua Yayasan Islam Mekar Indah
NB. Himbauan ini boleh di sebarkan luaskan ke jamaah/masjid yang lain
Rabu, September 17, 2008
17 Ramadhan 1429 H
Senin, September 15, 2008
KuLTuM [di kantor]

Setiap bakda Dhuhur, di masjid kantor selalu diadakan acara kultum. Acara ini terasa pas, karena bisa menambah keimanan atau minimal mengingatkan kita akan perlunya memberi siraman rohani. Apalagi pas bulan puasa, jadi rasanya pas bener deh...!:-)
Pemberi kultum juga beraneka ragam posisi jabatan, mulai dari pejabat tinggi, sampai staf rendahan, bahkan OB-pun ikut memberi kontribusi kultum.
Ada juga penceramah dari luar yang ingin berbagi ilmu dengan jamaah masjid Waskita. Bila waktu ceramah dianggap masih kurang dan "audience" masih belum puas, maka lokasi kultumpun pindah ke depan masjid [namanya sudah bukan kultum tuh, mungkin kulibas =kuliah lima belas menit=].
Seperti di mesjid-mesjid lain, maka fenomena istirahat siang juga ada di masjid Waskita.
Karena tidak tiap hari ke masjid, maka aku tidak tahu apakah ada direktur atau kepala biro yang suka datang di masjid ini. Kebetulan pas aku hadir, pas meeka pada tidak kelihatan.

Kamis, September 11, 2008
SaFaRi RaMaDhAn
Saat masih bujang, di bulan puasa, rasanya setiap hari pinginnya keliling ke rumah-rumah teman yang sudah berkeluarga. Sambil bersilaturahmi, kita biasanya dapet buka puasa [gratis dan uenak-uenak].
Senin, September 01, 2008
TaKjiL
Pulang dari kantor, aku langsung mandi dan segera meluncur ke masjid. Tadi pagi memang sudah janjian untuk berbuka puasa di masjid MI.
Haslita Nisa dan LiLo ikut sedangkan ibunya bersama anak mbarep tunggu rumah.
Di jalan LiLo ngajak temannya untuk berbuka di masjid, tapi temen-temennya pada merasa aneh diajak maghriban di masjid."Nanti saja setelah maghrib ke masjidnya", kata mereka.
Akhirnya sampailah di masjid pada jam 17.45 wib. Suasana sepi dan hanya terlihat satu orang dewasa, pengurus masjid, dan dua orang anak kecil.
Begitu adzan berkumandang, suasana langsung berubah 180 derajad. Masjid jadi rame, penuh canda tawa dan maknan takjil terus mengalir dari pintu utama masjid. begitu terlihat meja hidangan kosong, maka dari dalam masjid keluar satu tas plastik (berisi makanan) lagi.
Aku jadi inget 20 tahun lalu di Banda Aceh. Saat sebelum adzan berkumandang, aku berjalan dari hotel Medan menuju masjid Baiturrahman, Banda Aceh. Kebiasaan makan takjil di Jawa membuat aku yakin pasti ada makanan di masjid nanti.
"Masjid sebesar itu, semegah itu, pasti ada makanan kecil untuk membatalkan puasa", pikirku dalam hati.
Ternyata model berbuka puasa di masjid Raya Aceh ini sangat berbeda. Tidak ada makanan kecil untuk sekedar membatalkan puasa.
Di Masjid MI Cikarang ini, suasana puluhan tahun lalu kembali terulang. Bagi anakku, ini adalah pertama kalinya dia berbuka di masjid, mereka sungguh sangat menikmatinya.
"Besok kesini lagi ya pak!", kata mereka.
"Oke, kita ajak Izzi dan Alif ya", kataku.
Puasa hari pertama berlalu dengan penuh canda ceria. Semoga puasa besok lebih baik lagi amlan yang bisa kita perbuat. Amin.
Rabu, Agustus 27, 2008
Samarinda (02)
Akhirnya sampai juga di lokasi.
Sudah ada 3 tamu dengan wajah angker di dalam rumah penjual keripik singkong itu. Dari penampakan wajahnya, kayaknya mereka tetua kampung. Sudah sepuh-sepuh dan nampak agak tegang, seperti menunggu suatu permasalahan yang harus dibahas dengan pemilik rumah.
Wah, sebentar lagi aku akan mendengarkan diskusi antara tetua kampung dengan pemilik rumah dalam bahasa Samarinda nih.
Tak lama berselang, bener ... keluarlah pemilik rumah, yang ternyata sudah sepuh juga. Suasana yang tadinya tegang langsung mencair. Wajah-wajah sepuh itu begitu pada ketawa hilang sudah keangkerannya.
Yang bikin lebih cair lagi adalah bahasa yang mereka gunakan. "Boso jowo dab...!"
Jadi merasa di Medan saja nih. Biarpun jauh dari pulau Jawa ternyata mereka aslinya juga dari Jawa. Pemilik rumah aslinya Madiun, dekat dengan asal ibuku Pacitan.
Dialog yang mereka ciptakan terasa menyayat hatiku. Rupanya mereka sedang mencari donatur untuk buka puasa di mesjid.
Ya Tuhan, dimana sih para remaja kita. Tidak di Surabaya, Jakarta ataupun Samarinda, semua kegiatan akhirat itu gak lagi disentuh oleh remaja kita. Hanya para orang sepuh yang sudah bau tanah yang rajin meramaikan masjid.
Pergaulanku yang sempit membuat aku berpikiran begitu. Semoga di belahan kegiatan yang lain, masih banyak remaja yang rajin meramaikan masjid.
Insya Allah. Amin.


