"Pak sangu 4 ribu..", kata Lilo ketika aku pamitan sama dia. Senyumnya yang khas menandakan bahwa ada apa-apa dibalik permintaannya itu. Aku sudah hapal model senyuman LiLo.
"Kok 4 ribu?", aku coba mengorek keterangan darinya.
".........",
Lilo menjawab dengan senyuman. Biasanya dia hanya perlu dua ribu, untuk uang jajan di sekolah seribu dan sisanya dimasukkan kotak infaq.
"Hari Jumat, infaqnya yang banyak ya Lo", dari belakang istriku mengingatkan LiLo.
"Lima ribu pak...!", kata Lilo berubah pikiran.
Kuserahkan uang lembaran 2 ribuan sebanyak 5 buah pada LiLo.
"Nih, infaqnya empat ribu ya...", kataku sambil menyerahkan lembaran uang itu ke Lilo.
Lilo sibuk menghitung uang itu.
"Kenapa nak?", tanyaku heran.
"Hmmm infaqnya 6 ribu aja pak", jawab LiLo membuatku makin heran.
"Tadi kamu kan minta lima ribu, nah sekarang aku sudah kasih uang sepuluh ribu, potong infaq empat ribu, jadi mas Lilo dapet enam ribu, lebih besar dari permintaanmu. Iya kan?", kataku dengan heran
"Hmmm... aku butuhnya tiga ribu aja kok, jadi kalau empat ribu untuk infaq duitku jadi kebanyakan. Jadi enam ribu aja untuk infaq. Aku dapat empat ribu...", Lilo menjelaskan hitungannya
"Subhanallah...", ucapku dalam hati. Begitu rupanya jalan pikiran LiLo.
"Terima kasih Tuhan yang telah menganugerahi aku istri dan anak-anak yang baik dan mengerti akan perlunya bersyukur pada Tuhan..."
Kusalami Lilo dengan pegangan yang erat banget. Lilo kayaknya tidak merasakan keeratan pegangan tanganku. Sikapnya biasa-biasa saja.
"Aku hari ini hanya perlu tiga ribu pak...", kata Lilo sambil berlari masuk rumah.
Kulangkahkan kaki hari ini dengan semangat yang lebih semangat dibanding hari-hari lain. Semoga hari ini lebih baik dari hari kemarin. Amin.
Semoga kita semua dimudahkan urusannya. AMin.
Tampilkan postingan dengan label berbaik sangka. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label berbaik sangka. Tampilkan semua postingan
Jumat, Oktober 30, 2009
Jumat, April 03, 2009
CIKARANG-JAKARTA-SURABAYA
Seperti film "mendadak dangdut", akupun "mendadak terbang ke Surabaya". Semuanya serba mendadak dan akupun pagi-pagi di kantor sudah mendadak sibuk.
Kawan-kawan staf di depanku pada "gojeg", ketawa-ketawa memasalahkan sesuatu hal, tetapi aku tidak konsens mendengarnya, yang kudengar hanya suara ketawa mereka. Aku sendiri larut dalam acara pemahaman traveller form Jembatan Suramadu.
Asyik bener mereka bekerja sambil bergurau. Tangan mengetik, tetapi mulut tak mau berhenti ngomong. Saling bersahutan dalam keceriaan.
Lama-lama aku terganggu juga, dan aku mulai mendengar apa yang mereka bahas.
"Iya tuh, ada yang hidup lagi. Padahal jelas sudah meninggal" [..wah ini cerita misteri ya? tapi kok pada ketawa-ketawa mbahasnya]
"Di tempatku ada bayi yang langsung punya KTP" [loh bayi ajaib nih, udah bisa dapet SIM donk..]
"Ada yang sakti tuh, mempunyai dua nyawa" [kembali cerita misteri nih]
Aku mengernyitkan kening mencoba memahami topik yang mereka bicarakan, sampai aku akhirnya ikut tertawa setelah tahu bahwa yang mereka bahas adalah DPT.
Dasar kurang kerjaan mereka itu. Sambil kerja masih saja sempat mbahas pemilu yang super rumit dan dengan sosialisasi yang super sederhana.
Siangnya, aku rapat sampai sore dan seusai rapat langsung meluncur ke Cengkareng. Jalanan ke bandara macet, seperti Jumat-jumat yang lain juga.
Alhamdulillah, masih bisa bernafas sebelum boarding. Masuk ke LOUNGE dan nanya sama Mbak-mbak yang njaga.
"Kartu apa yang bisa dipakai disini mbak?"
Mbaknyapun menunjukkan beberapa kartu yang tidak kupunyai atau kupunyai tapi harus potong bonus.
Masak aku nanya kartu kredit dijawab kartu debit. Wah, nggaklah yauw...
Aku sering ke LOUNGE ini, jadi aku pasti punya kartu yang cocok, Terpaksa mbuka dompet untuk ngambil kartu dan milih kartu yang cocok.
Sepintas tadi kulihat ada logo BCA, jadi pasti bisa pakai BCA.
Eh, baru sibuk bongkar-bongkar kartu, tiba-tiba orang yang ada di sampingku nanya ke mbaknya,"Kartuku ini bisa untuk berapa orang?"
Mbaknyapun menjawab,"Bisa dua pak"
Langsung orang di sampingku itu bilang,"Ya sudah dipakai bersama mas ini saja. Boleh kan?"
Wah, surprise banget nih. Aku sama sekali tidak kenal orang itu dan dia juga gak kenal aku [emang aku seleb?].
Dia mempersilahkan aku duduk sedangkan dia melanjutkan proses penggesekan kartunya.
Akupun pergi ke toilet dan ternyata dia juga ikut ke toilet. Wah, cocok banget nih orang ini sama aku. Hobinya sama-sama ke toilet.
Kami ngobrol sebentar di toilet dan akhirnya berpisah tanpa saling berkenalan. Makasih deh buat dia, semoga amalnya dibalas oleh Tuhan.
AMin.
Di pesawat, aku bersebelahan dengan pasutri dari Madura. Hmm ini pasutri yang ramah juga, belum semenit sudah ngobrol ngalor ngidul nggak keruan juntrungannya.
Ujung-ujungnya mbahas pemilu juga. Baru jadi topik sih, jadi apa saja bisa dilarikan ke masalah pemilu.
"Di Indonesia ini memang banyak hari liburnya ya", begitu pembicaraan kami.
"Iya tuh, minggu depan pada liburan lagi. Long wik en dan persetan dengan pemilu"
"Ha..ha..ha.. capek-capek nggak ada manfaatnya. Enakan liburan, manfaatnya jelas"
"He..he..he.. banyak ya orang yang berpikiran begitu"
Kamipun tertawa bersama dan akhirnya pembicaraan berhenti sendiri ketika pesawat mulai tinggal landas. Kuraih koran dan kubaca lembar demi lembar, sementara pasutri di sebelahku mulai pasang jurus mata terpejam hati mengantuk [halah ... jurus apa ini]
Di koran yang kubaca, aku kembali terhenyak. Ternyata berita yang kudengar selama ini benar adanya. Perhitungan kursi, nanti akan memakai sistem UNDIAN.
Benar-benar hil yang nustahal, tapi telah diputuskan oleh yang berwenang.
Kita bisa buat apa sih?
Akupun jadi paham kalau akhirnya angka golput tahun ini akan meningkat tajam. Prediksinya di kota besar sekitar 40 persen dan di desa-desa sekitar 20-30 %, tetapi surat suara tidak syah di desa bisa mencapai 10 - 20 %.
Nah angka itu darimana kudapat?
Jawabnya gampang,"..... dari UNDIAN !:-)"
Kawan-kawan staf di depanku pada "gojeg", ketawa-ketawa memasalahkan sesuatu hal, tetapi aku tidak konsens mendengarnya, yang kudengar hanya suara ketawa mereka. Aku sendiri larut dalam acara pemahaman traveller form Jembatan Suramadu.
Asyik bener mereka bekerja sambil bergurau. Tangan mengetik, tetapi mulut tak mau berhenti ngomong. Saling bersahutan dalam keceriaan.
Lama-lama aku terganggu juga, dan aku mulai mendengar apa yang mereka bahas.
"Iya tuh, ada yang hidup lagi. Padahal jelas sudah meninggal" [..wah ini cerita misteri ya? tapi kok pada ketawa-ketawa mbahasnya]
"Di tempatku ada bayi yang langsung punya KTP" [loh bayi ajaib nih, udah bisa dapet SIM donk..]
"Ada yang sakti tuh, mempunyai dua nyawa" [kembali cerita misteri nih]
Aku mengernyitkan kening mencoba memahami topik yang mereka bicarakan, sampai aku akhirnya ikut tertawa setelah tahu bahwa yang mereka bahas adalah DPT.
Dasar kurang kerjaan mereka itu. Sambil kerja masih saja sempat mbahas pemilu yang super rumit dan dengan sosialisasi yang super sederhana.
Siangnya, aku rapat sampai sore dan seusai rapat langsung meluncur ke Cengkareng. Jalanan ke bandara macet, seperti Jumat-jumat yang lain juga.
Alhamdulillah, masih bisa bernafas sebelum boarding. Masuk ke LOUNGE dan nanya sama Mbak-mbak yang njaga.
"Kartu apa yang bisa dipakai disini mbak?"
Mbaknyapun menunjukkan beberapa kartu yang tidak kupunyai atau kupunyai tapi harus potong bonus.
Masak aku nanya kartu kredit dijawab kartu debit. Wah, nggaklah yauw...
Aku sering ke LOUNGE ini, jadi aku pasti punya kartu yang cocok, Terpaksa mbuka dompet untuk ngambil kartu dan milih kartu yang cocok.
Sepintas tadi kulihat ada logo BCA, jadi pasti bisa pakai BCA.
Eh, baru sibuk bongkar-bongkar kartu, tiba-tiba orang yang ada di sampingku nanya ke mbaknya,"Kartuku ini bisa untuk berapa orang?"
Mbaknyapun menjawab,"Bisa dua pak"
Langsung orang di sampingku itu bilang,"Ya sudah dipakai bersama mas ini saja. Boleh kan?"
Wah, surprise banget nih. Aku sama sekali tidak kenal orang itu dan dia juga gak kenal aku [emang aku seleb?].
Dia mempersilahkan aku duduk sedangkan dia melanjutkan proses penggesekan kartunya.
Akupun pergi ke toilet dan ternyata dia juga ikut ke toilet. Wah, cocok banget nih orang ini sama aku. Hobinya sama-sama ke toilet.
Kami ngobrol sebentar di toilet dan akhirnya berpisah tanpa saling berkenalan. Makasih deh buat dia, semoga amalnya dibalas oleh Tuhan.
AMin.
Di pesawat, aku bersebelahan dengan pasutri dari Madura. Hmm ini pasutri yang ramah juga, belum semenit sudah ngobrol ngalor ngidul nggak keruan juntrungannya.
Ujung-ujungnya mbahas pemilu juga. Baru jadi topik sih, jadi apa saja bisa dilarikan ke masalah pemilu.
"Di Indonesia ini memang banyak hari liburnya ya", begitu pembicaraan kami.
"Iya tuh, minggu depan pada liburan lagi. Long wik en dan persetan dengan pemilu"
"Ha..ha..ha.. capek-capek nggak ada manfaatnya. Enakan liburan, manfaatnya jelas"
"He..he..he.. banyak ya orang yang berpikiran begitu"
Kamipun tertawa bersama dan akhirnya pembicaraan berhenti sendiri ketika pesawat mulai tinggal landas. Kuraih koran dan kubaca lembar demi lembar, sementara pasutri di sebelahku mulai pasang jurus mata terpejam hati mengantuk [halah ... jurus apa ini]
Di koran yang kubaca, aku kembali terhenyak. Ternyata berita yang kudengar selama ini benar adanya. Perhitungan kursi, nanti akan memakai sistem UNDIAN.
Benar-benar hil yang nustahal, tapi telah diputuskan oleh yang berwenang.
Kita bisa buat apa sih?
Akupun jadi paham kalau akhirnya angka golput tahun ini akan meningkat tajam. Prediksinya di kota besar sekitar 40 persen dan di desa-desa sekitar 20-30 %, tetapi surat suara tidak syah di desa bisa mencapai 10 - 20 %.
Nah angka itu darimana kudapat?
Jawabnya gampang,"..... dari UNDIAN !:-)"
Kamis, Februari 26, 2009
Perasan SN itu namanya GAUL
Ambil blender, masukkan sepotong buah Friendster, tambah Fisbuk secukupnya, masukkan dua sendok twitter dan beberapa tetes PLURK. Bila ingin rasa lebih jos, masukkan juga my space, flixter dan jangan lupa blogger.
Hidupkan blender dan hasilnya adalah Jus GAUL !
Begitulah kira-kira kalau ucapan menrisrtek [pak KK] diterjemahkan oleh seorang koki Bangomania [wak radit nih kamsudnya].
Menurut KK, semua social networking pada ujung-ujungnya adalah gaul dan itu dibuktikan beliau secara gamblang dalam acara Kopdar Kompasiana. Laiknya remaja ABG yang baru kenal sesuatu yang menarik, maka pak KK rela mengambil jatah waktunya yang begitu padat dengan menghadiri acara kopdar para blogger.
"Aku disini sampai sore", begitu suara pak KK di telepon [entah ngomong sama siapa dan entah membahas apa, gak ada hubungannya 'kali].
Dengan santai pak KK "nggelongsor" di depanku dalam sesi acara foto bersama. Bandingkan dengan pejabat lain yang mungkin milih dipersilahkan duduk di tengah diapit oleh bos-bos yang lain.
Baju yang dipakai pak KK ini juga gak menyolok, bagi dia yang penting rapi dan gaul. Kalau ada temanku dari negeri jiran yang datang di acara ini, mungkin dia akan kesulitan mencari pak menteri di kerumunan ini.
Saat diperkenalkan oleh pak B3 [Dirut BUMN] pada pak KK, aku gak mengira kalau beliau langsung aktif ber"imilria" denganku.
Aku yang belum dikenal baik olehnya sudah dianggap kawan lama saja, sehingga pak Amril sampai heran, seolah-olah pak KK ini adalah kawan sealmamater denganku.
"PAk KK gaul banget ya pak", begitu komentar mereka yang melihat penampilan pak KK dalam acara kopdar itu.
Saat dia datang dan duduk di depanku dan akhirnya melihat aku tepat di belakangnya, tangannya langsung terulur dan memberikan jabat erat yang menjadi ciri khasnya. Itulah jabat erat KK yang tidak mungkin dilakukannya jika bertemu dengan SBY atau GusDur [jangan-jangan tetap gitu juga ya cara berjabat tangan pak KK\]. Aku terus terang jadi "Ge eR", wow begini rasanya jadi teman seorang menteri.
Pada jam-jam selanjutnya baru kusadari kalau pk KK ini tidak hanya akrab denganku, tetapi akrab dengan semua orang. He..he..he.. pak KK memang milik semua orang.
Jadi inget juga dengan pak Basuki [orang bapenas yang jadi dirjen postel] yang jadi berubah total ketika bertemu dengan komunitas wong yogya.
"Rasanya plong banget lepas dari birokrasi dan protokoler", begitu katanya.
Hidup jadi lebih bermakna ketika keluar sebentar dari rutinitas, tapi kalau keluarnya kelamaan atau bahkan tidak kembali mungkin para birokrat itu mikir juga ya. Seenak-enaknya jadi blogger, kayaknya masih lebih enak jadi menteri atau dirjen yang juga ngeBLOG.
Begitulah dunia ini. Disaat orang punya pendapat bahwa jadi presiden RI, disaat ini isinya hanya susah dan sangat susah, karena banyaknya persoalan bangsa ini, tetapi tetap saja banyak orang yang berebut menjadi capres.
Bahkan DM ikut turun gunung untuk meramaikan pesta rakyat tahun 2009 ini.
Seandainya para capres pada gaul,mungkin pemilu 2009 cukup diadakan di FB saja dan nggak perlu repot repot nyetak kartu suara. Cukup bikin polling dan selesai.
Sayangnya belum semua capres gaul dan belum semua infrastruktur kita sanggup melayani pemilihan online di seluruh wilayah nusantara. Amerika saja masih harus antri untuk nyoblos kok kita mau ngalahin AMerika.
He..he...he... tapi siapa tahu ya?
Bahasa Indonesia sudah jadi bahasa dunia ke tiga di wordpress, bukan tidak mungkin nanti presiden kita lebih top dibanding presiden Amerika. Apalagi piala dunia juga sudah akan diadakan di Indonesia [nah lo...!:"-)]
Hidupkan blender dan hasilnya adalah Jus GAUL !
Begitulah kira-kira kalau ucapan menrisrtek [pak KK] diterjemahkan oleh seorang koki Bangomania [wak radit nih kamsudnya].
Menurut KK, semua social networking pada ujung-ujungnya adalah gaul dan itu dibuktikan beliau secara gamblang dalam acara Kopdar Kompasiana. Laiknya remaja ABG yang baru kenal sesuatu yang menarik, maka pak KK rela mengambil jatah waktunya yang begitu padat dengan menghadiri acara kopdar para blogger.
"Aku disini sampai sore", begitu suara pak KK di telepon [entah ngomong sama siapa dan entah membahas apa, gak ada hubungannya 'kali].
Dengan santai pak KK "nggelongsor" di depanku dalam sesi acara foto bersama. Bandingkan dengan pejabat lain yang mungkin milih dipersilahkan duduk di tengah diapit oleh bos-bos yang lain.
Baju yang dipakai pak KK ini juga gak menyolok, bagi dia yang penting rapi dan gaul. Kalau ada temanku dari negeri jiran yang datang di acara ini, mungkin dia akan kesulitan mencari pak menteri di kerumunan ini.
Saat diperkenalkan oleh pak B3 [Dirut BUMN] pada pak KK, aku gak mengira kalau beliau langsung aktif ber"imilria" denganku.
Aku yang belum dikenal baik olehnya sudah dianggap kawan lama saja, sehingga pak Amril sampai heran, seolah-olah pak KK ini adalah kawan sealmamater denganku.
"PAk KK gaul banget ya pak", begitu komentar mereka yang melihat penampilan pak KK dalam acara kopdar itu.
Saat dia datang dan duduk di depanku dan akhirnya melihat aku tepat di belakangnya, tangannya langsung terulur dan memberikan jabat erat yang menjadi ciri khasnya. Itulah jabat erat KK yang tidak mungkin dilakukannya jika bertemu dengan SBY atau GusDur [jangan-jangan tetap gitu juga ya cara berjabat tangan pak KK\]. Aku terus terang jadi "Ge eR", wow begini rasanya jadi teman seorang menteri.
Pada jam-jam selanjutnya baru kusadari kalau pk KK ini tidak hanya akrab denganku, tetapi akrab dengan semua orang. He..he..he.. pak KK memang milik semua orang.
Jadi inget juga dengan pak Basuki [orang bapenas yang jadi dirjen postel] yang jadi berubah total ketika bertemu dengan komunitas wong yogya.
"Rasanya plong banget lepas dari birokrasi dan protokoler", begitu katanya.
Hidup jadi lebih bermakna ketika keluar sebentar dari rutinitas, tapi kalau keluarnya kelamaan atau bahkan tidak kembali mungkin para birokrat itu mikir juga ya. Seenak-enaknya jadi blogger, kayaknya masih lebih enak jadi menteri atau dirjen yang juga ngeBLOG.
Begitulah dunia ini. Disaat orang punya pendapat bahwa jadi presiden RI, disaat ini isinya hanya susah dan sangat susah, karena banyaknya persoalan bangsa ini, tetapi tetap saja banyak orang yang berebut menjadi capres.
Bahkan DM ikut turun gunung untuk meramaikan pesta rakyat tahun 2009 ini.
Seandainya para capres pada gaul,mungkin pemilu 2009 cukup diadakan di FB saja dan nggak perlu repot repot nyetak kartu suara. Cukup bikin polling dan selesai.
Sayangnya belum semua capres gaul dan belum semua infrastruktur kita sanggup melayani pemilihan online di seluruh wilayah nusantara. Amerika saja masih harus antri untuk nyoblos kok kita mau ngalahin AMerika.
He..he...he... tapi siapa tahu ya?
Bahasa Indonesia sudah jadi bahasa dunia ke tiga di wordpress, bukan tidak mungkin nanti presiden kita lebih top dibanding presiden Amerika. Apalagi piala dunia juga sudah akan diadakan di Indonesia [nah lo...!:"-)]
Senin, Februari 23, 2009
Firasat vs Persangkaan
Sebelum sholat subuh, biasanya aku buka pintu halaman belakang rumah sambil minum air putih di dapur. Namun kali ini aku juga membuka pintu samping, dekat car port.
Bener firasatku, pas duduk di tahiyat akhir kudengar suara mobil memecah keheningan subuh dan berhenti di depan rumah. Saat doa sesudah sholat, kudengar pintu pagar terbuka.
Sambil tetap berdoa, aku dan anak-anak pada berpandangan, maksud pandangan itu adalah "Ibu sudah pulang tuh dari Yogya".
Pas di ujung doa, terdengar salam dari istriku, dan dalam hitungan detik pintu kamar tempat kami sholat berjamaah sudah terbuka.
"Pak ada uang XX ribu untuk ngasih sopir?"
Begitulah firasatku hari ini kuturuti dan hasilnya semua sesuai firasat. Rasanya semua mengalir begitu saja, tapi aku yakin ada yang mengerakkan semua ini.
Minggu lalu aku menulis di PLURK,"aku berada di depan kemacetan". Maksudku biarpun radio El Shinta menyiarkan kemacetan dimana-mana termasuk di jalur yang kulalui, tetapi tetap saja mobilku melaju dengan kencang tanpa hambatan dan sampai di kantor mendahului teman-teman kantor yang lain.
Begitu selesai menulis, aku langsung mendapat firasat,"wah aku telah menulis sebuah kesombongan nih,sebuah tulisan yang tidak menunjukkan empati terhadap mereka yang sedang kesusahan karena ditimpa kemacetan"
Muncul sebuah firasat buruk, bahwa aku pasti tidak lama lagi akan ditimpa kemacetan. Kembali firasat itu menujukkan buktinya, ketika sedang melaju kencang di jalan tol Jakarta Cikampek, tiba-tiba semua mobil di depanku berhenti, tak bergerak.
Perjalanan yang sangat lancar dari Cawang tiba-tiba langsung berganti suasana.
Akhirnya akupun sampai pada sumber kemacetan. Sebuah truk tiduran di jalur yang kulalui. Dia tiba-tiba muncul tepat di depanku.
Itulah saat ketika mobil yang ada di depanku membelok ke kanan dengan tiba-tiba.
Secara reflek kuraih cameraku dan kuarahkan ke mobil itu, karena aku tidak bisa lagi bergerak. Mau maju nabrak truk tidur, mau ke kiri juga susah motong jalan yang begitu padat.
Alhamdulillah, saat itu yang kupikirkan adalah kebaikan hati sopir yang ada di jalur samping kananku.
Eh bener, mobil bus di samping kananku kulihat menungguku memotong jalannya. Kuucapkan terima kasih pada yang menggerakkan sopir bus itu, semoga amal sopir bus itu diterima dan dibalas dengan balasan yang baik.
AMin.
Aku sekarang jadi bingung sendiri. Sebenarnya yang menimpaku ini karena firasat atau karena aku punya suatu persangkaan dan semua persangkaanku itu terjadi seperti yang kupersangkakan.
Aku harus merenung lagi mencari pencerahan untuk ini.
Kuingat juga, berkali-kali aku mendengar berita di radio tentang kecelakaan di jalan tol, dan beberapa kali juga kulihat sendiri mobil yang mengalami kecelakaan di jalan tol, tetapi aku selalu tidak bisa mengambil gambarnya.
Hari ini aku bisa mengambil gambar mobil yang sedang kecelakaan dan tidak mengganggu pemakai jalan yang lain [karena mobil itu tepat berada di depanku dan mobilku dalam kondisi tidak bisa bergerak].

Jadi ini firasat atau jawaban dari keinginan yang kuat dari dalam hati?
Bagaimana menurut anda?
Bener firasatku, pas duduk di tahiyat akhir kudengar suara mobil memecah keheningan subuh dan berhenti di depan rumah. Saat doa sesudah sholat, kudengar pintu pagar terbuka.
Sambil tetap berdoa, aku dan anak-anak pada berpandangan, maksud pandangan itu adalah "Ibu sudah pulang tuh dari Yogya".
Pas di ujung doa, terdengar salam dari istriku, dan dalam hitungan detik pintu kamar tempat kami sholat berjamaah sudah terbuka.
"Pak ada uang XX ribu untuk ngasih sopir?"
Begitulah firasatku hari ini kuturuti dan hasilnya semua sesuai firasat. Rasanya semua mengalir begitu saja, tapi aku yakin ada yang mengerakkan semua ini.
Minggu lalu aku menulis di PLURK,"aku berada di depan kemacetan". Maksudku biarpun radio El Shinta menyiarkan kemacetan dimana-mana termasuk di jalur yang kulalui, tetapi tetap saja mobilku melaju dengan kencang tanpa hambatan dan sampai di kantor mendahului teman-teman kantor yang lain.
Begitu selesai menulis, aku langsung mendapat firasat,"wah aku telah menulis sebuah kesombongan nih,sebuah tulisan yang tidak menunjukkan empati terhadap mereka yang sedang kesusahan karena ditimpa kemacetan"
Muncul sebuah firasat buruk, bahwa aku pasti tidak lama lagi akan ditimpa kemacetan. Kembali firasat itu menujukkan buktinya, ketika sedang melaju kencang di jalan tol Jakarta Cikampek, tiba-tiba semua mobil di depanku berhenti, tak bergerak.
Perjalanan yang sangat lancar dari Cawang tiba-tiba langsung berganti suasana.
Akhirnya akupun sampai pada sumber kemacetan. Sebuah truk tiduran di jalur yang kulalui. Dia tiba-tiba muncul tepat di depanku.
Itulah saat ketika mobil yang ada di depanku membelok ke kanan dengan tiba-tiba.
Secara reflek kuraih cameraku dan kuarahkan ke mobil itu, karena aku tidak bisa lagi bergerak. Mau maju nabrak truk tidur, mau ke kiri juga susah motong jalan yang begitu padat.
Alhamdulillah, saat itu yang kupikirkan adalah kebaikan hati sopir yang ada di jalur samping kananku.
Eh bener, mobil bus di samping kananku kulihat menungguku memotong jalannya. Kuucapkan terima kasih pada yang menggerakkan sopir bus itu, semoga amal sopir bus itu diterima dan dibalas dengan balasan yang baik.
AMin.
Aku sekarang jadi bingung sendiri. Sebenarnya yang menimpaku ini karena firasat atau karena aku punya suatu persangkaan dan semua persangkaanku itu terjadi seperti yang kupersangkakan.
Aku harus merenung lagi mencari pencerahan untuk ini.
Kuingat juga, berkali-kali aku mendengar berita di radio tentang kecelakaan di jalan tol, dan beberapa kali juga kulihat sendiri mobil yang mengalami kecelakaan di jalan tol, tetapi aku selalu tidak bisa mengambil gambarnya.
Hari ini aku bisa mengambil gambar mobil yang sedang kecelakaan dan tidak mengganggu pemakai jalan yang lain [karena mobil itu tepat berada di depanku dan mobilku dalam kondisi tidak bisa bergerak].
Jadi ini firasat atau jawaban dari keinginan yang kuat dari dalam hati?
Bagaimana menurut anda?
Sabtu, Februari 07, 2009
Makaw Jababeka
Aku baru "ngeh" dengan istilah MaKaw, ternyata artinya adalah Majalah Kawasan. jadi Makaw Jababeka adalah Majalah Kawasan yang terbit di Jababeka.
Makaw Jababeka ini didistribusikan ke seluruh pabrik di Kawasan Industri Jababeka I dan II, Cluster Tropikana Garden, Cluster Veranda, Cluster Montana, Kos Pavilion, Taman Puspa, Pertokoan Metro Boulevard, Pertokoan The Capitol, Pertokoan Roxi, Resto Plaza, Pertokoan Pecenongan, Pertokoan Golden Arcade, Pertokoan Permata Gardenia, Rumah Sakit, Klinik dan Pertokoan Cikarang.
Ini sebuah majalah gratis yang dikemas dalam edisi lux. Isinya mulai dari tinjauan tentang FIlm, artikel Motivasi, aneka gadget, humor dan lain-lain, layaknya sebuah majalah pop.
Kelebihan dan kekurangan majalah ini adalah karena gratisnya. Menjadi kelebihan karena kita tidak perlu membeli sudah dapat menikmati bacaan ini.
Menjadi kelemahan, karena redaksi tidak tahu selera pasar Makaw yang sebenarnya dimana, karena apapun yang diterbitkan tidak ada yang melakukan "komplain". Semua diterima oleh pembaca tanpa ada rasa keberatan.
32 halaman Makaw, termasuk cover, terasa begitu cepat habis dibaca. Disamping isinya yang padat, lembar iklan juga menyita banyak halaman.
Hal ini mungkin bisa disiasati dengan mengganti jenis kertas, sehingga biaya produksi bisa diturunkan dan jumlah lembar bisa ditambah.
Kalau ternyata kekurangan berita, maka banyak milis di cikarang ini yang bisa dimanfaatkan sebagai sumber berita yang hangat, segar dan aroma Cikarangnya sangat terasa.
Mas Arif Lutfian Nursandi [blake.ortega@gmail.com] bisa ndaftar milis tersebut dan mengambil materi dari sana. Akan lebih menarik lagi, kalau Makaw ini punya edisi online.
Semoga Makaw Jababeka semakin sukses. Makin bermutu dan makin sering terbit.
Amin.
Makaw Jababeka ini didistribusikan ke seluruh pabrik di Kawasan Industri Jababeka I dan II, Cluster Tropikana Garden, Cluster Veranda, Cluster Montana, Kos Pavilion, Taman Puspa, Pertokoan Metro Boulevard, Pertokoan The Capitol, Pertokoan Roxi, Resto Plaza, Pertokoan Pecenongan, Pertokoan Golden Arcade, Pertokoan Permata Gardenia, Rumah Sakit, Klinik dan Pertokoan Cikarang.
Ini sebuah majalah gratis yang dikemas dalam edisi lux. Isinya mulai dari tinjauan tentang FIlm, artikel Motivasi, aneka gadget, humor dan lain-lain, layaknya sebuah majalah pop.
Kelebihan dan kekurangan majalah ini adalah karena gratisnya. Menjadi kelebihan karena kita tidak perlu membeli sudah dapat menikmati bacaan ini.
Menjadi kelemahan, karena redaksi tidak tahu selera pasar Makaw yang sebenarnya dimana, karena apapun yang diterbitkan tidak ada yang melakukan "komplain". Semua diterima oleh pembaca tanpa ada rasa keberatan.
32 halaman Makaw, termasuk cover, terasa begitu cepat habis dibaca. Disamping isinya yang padat, lembar iklan juga menyita banyak halaman.
Hal ini mungkin bisa disiasati dengan mengganti jenis kertas, sehingga biaya produksi bisa diturunkan dan jumlah lembar bisa ditambah.
Kalau ternyata kekurangan berita, maka banyak milis di cikarang ini yang bisa dimanfaatkan sebagai sumber berita yang hangat, segar dan aroma Cikarangnya sangat terasa.
Mas Arif Lutfian Nursandi [blake.ortega@gmail.com] bisa ndaftar milis tersebut dan mengambil materi dari sana. Akan lebih menarik lagi, kalau Makaw ini punya edisi online.
Semoga Makaw Jababeka semakin sukses. Makin bermutu dan makin sering terbit.
Amin.
Minggu, Februari 01, 2009
Atribut Partai Yang Bikin Mata Sumpek
"Poster-poster Caleg ini kita bersihkan saja dari lingkungan kita pak Dhe. Pandanganku sumpek melihat wajah-wajah caleg yang selalu tersenyum di saat perlu saja, seperti saat ini", seperti biasa Khalid pasti langsung pada pokok permasalahan.
"Iya pak Dhe. Baliho partai XXX yang gedhe itu bahkan kemarin jatuh sendiri, gara-gara masangnya nggak bener. Untung nggak ada yang celaka gara jatuhnya baliho itu", timpal Udin.
"Kenapa ya para petinggi partai tidak melihat kondisi ini. Mereka kan orang-orang pinter. Seharusnya mereka tahu, pemasangan atribut partai yang tidak bener dan asal tempel itu jelas merusak keindahan, merusak lingkungan bahkan merusak budaya kita"
Seperti biasa, pak Dhe selalu menanggapi semua berondongan dari para pemuda mushola dengan senyum khasnya.
"Khalid masih inget waktu natalan kemarin?", kata pak Dhe pada Khalid.
"Lho apa hubungannya pak Dhe. Ya pasti inget donk. Itu kan pesta semalam suntuk di rumah Bang Marpaung"
"Nah, waktu itu Khalid ikut membantu mengatur lalu lintas di depan rumah Khalid. Ikut mengatur parkir, tetapi tetap saja banyaknya mobil membuat Khalid susah memarkir mobilnya sendiri. Belum lagi suara musik yang tidak berhenti sampai larut malam"
"Iya benar pak Dhe"
"Nah, waktu itu meskipun terganggu, tapi Khalid tetap tidak melakukan protes dan melaporkan kebisingan itu ke pak RT"
Khalid mulai menangkap arah pembicaraan pak Dhe.
"Nah, kamu Udin. Waktu lebaran kemarin apa yang dilakukan oleh Pak Kiai Sudrun dan keluargamu?", pak Dhe berpindah tanya ke Udin.
"Yah, kita adakan acara makan bersama dari pagi sampai malem. Maklum saudara pak Kiai dan juga kenalan pak Kiai sangat banyak. Mereka datang dari segala penjuru kota maupun desa. Keluargaku yang juga banyak malah ikut diundang di rumah pak Kiai, yah karena pak Kiai memang sangat dekat dengan anak-anakku", jawab Udin.
"Terus apa komentar Bang Silitonga? Apa dia terganggu dengan keramaian tetangga dekatnya itu?", kata pak Dhe
"He..he...he... pak Silitonga malah nyumbang nyanyi pak Dhe. Dia baru gelagapan ketika disapa oleh pak Kiai Ageng, soalnya pak Silitonga fasih nyanyi lagu arab tapi gak bisa bahasa arab sedikitpun", kata Udin tertawa kecil.
"Jadi begitulah suasana di republik kita ini. Anggap saja ini lomba masak nasi goreng, jadi ya kita beri kesempatan yang mau ikut lomba untuk menyiapkan diri dengan caranya masing-masing"
"Memang diperlukan tenggang rasa dari semua pihak. Para petinggi partai perlu mengarahkan mesin partainya agar tidak masang atribut partai sesuka sendiri dan diperlukan tenggang rasa dari kita, non partai, bila melihat pemasangan atribut partai yang tidak sesuai dengan aturan. Ini pesta rakyat dan kita sebaiknya ikut berpartisipasi dengan baik dan benar"
"Mereka itu hanya baik di saat seperti ini pak Dhe. Kalau pemilu sudah usai, maka mana mau mereka melihat lagi pada kita. Mereka memberi janji bukan bukti pak Dhe", Khalid tetap sengit bila membahas partai.
"Pesta, dimana-mana memang perlu tenggang rasa dari semua pihak. Namanya saja pesta, jadi hanya sekali-sekali, tidak tiap hari"
Pak Dhe diam sejenak menanti reaksi pendengarnya.
"Saat ini para calon wakil rakyat sedang memeras otak agar menemukan cara terbaik untuk memajukan republik ini. Mari kita bantu mereka dengan memberi ruang yang cukup. Biarkan mereka menebarkan pesonanya, menebarkan programnya, agar bisa dinilai oleh kita-kita ini. Yang baik kita pilih yang tidak baik ya tidak usah kita pilih"
"Aku golput kok pak Dhe. Tidak haram kan?" Udin bertanya sambi melihat ke Khalid.
"Aku tahu, kamu dan Khalid pelopor golput di pabrik ini. Itu hakmu dan tidak ada yang bisa merubah hakmu itu kecuali kamu sendiri, tapi jangan paksa orang untuk golput. Mereka juga punya hak untuk memberikan suara atau tidak memberikan suara", kata pak Dhe sambil tetap tersenyum.
"Yang penting jangan sampai partai itu membuat kita terkotak-kotak. Jangan sampai persaudaraan kita, pertemanan kita, kekerabatan kita tergangu oleh pesta yang hanya sesaat ini. Kita bisa toleransi dengan umat lain tentu bisa juga toleransi dengan sesama penduduk Indonesia"
"Pak Dhe sendiri milih partai mana ya?", penasaran Khalid bertanya ketika melihat pak Dhe beranjak dari duduknya menuju ke ruang wudhu.
"Jangan-jangan pak Dhe milih partai cerdas yang suka kampanye mengatas namakan Islam itu ya?", Udin ikut beringsut mendekati pak Dhe.
Pak Dhe menepuk-nepuk pundak Khalid ketika dia berkata, "Aku perlu sholat tahajud dulu di malam menjelang hari "H", agar dipilihkan partai yang paling cocok untuk Indonesia. Semua partai baik, sehingga aku perlu meyakinkan diriku dengan bertanya pada yang Maha Tahu."
Khalid manggut-manggut dan mulai berpikir untuk mengikuti saran pak Dhe.
"Golput itu pilihanku, tapi aku juga bebas berubah pikiran", pikir Khalid sambil tersenyum cerah.
"Iya pak Dhe. Baliho partai XXX yang gedhe itu bahkan kemarin jatuh sendiri, gara-gara masangnya nggak bener. Untung nggak ada yang celaka gara jatuhnya baliho itu", timpal Udin.
"Kenapa ya para petinggi partai tidak melihat kondisi ini. Mereka kan orang-orang pinter. Seharusnya mereka tahu, pemasangan atribut partai yang tidak bener dan asal tempel itu jelas merusak keindahan, merusak lingkungan bahkan merusak budaya kita"
Seperti biasa, pak Dhe selalu menanggapi semua berondongan dari para pemuda mushola dengan senyum khasnya.
"Khalid masih inget waktu natalan kemarin?", kata pak Dhe pada Khalid.
"Lho apa hubungannya pak Dhe. Ya pasti inget donk. Itu kan pesta semalam suntuk di rumah Bang Marpaung"
"Nah, waktu itu Khalid ikut membantu mengatur lalu lintas di depan rumah Khalid. Ikut mengatur parkir, tetapi tetap saja banyaknya mobil membuat Khalid susah memarkir mobilnya sendiri. Belum lagi suara musik yang tidak berhenti sampai larut malam"
"Iya benar pak Dhe"
"Nah, waktu itu meskipun terganggu, tapi Khalid tetap tidak melakukan protes dan melaporkan kebisingan itu ke pak RT"
Khalid mulai menangkap arah pembicaraan pak Dhe.
"Nah, kamu Udin. Waktu lebaran kemarin apa yang dilakukan oleh Pak Kiai Sudrun dan keluargamu?", pak Dhe berpindah tanya ke Udin.
"Yah, kita adakan acara makan bersama dari pagi sampai malem. Maklum saudara pak Kiai dan juga kenalan pak Kiai sangat banyak. Mereka datang dari segala penjuru kota maupun desa. Keluargaku yang juga banyak malah ikut diundang di rumah pak Kiai, yah karena pak Kiai memang sangat dekat dengan anak-anakku", jawab Udin.
"Terus apa komentar Bang Silitonga? Apa dia terganggu dengan keramaian tetangga dekatnya itu?", kata pak Dhe
"He..he...he... pak Silitonga malah nyumbang nyanyi pak Dhe. Dia baru gelagapan ketika disapa oleh pak Kiai Ageng, soalnya pak Silitonga fasih nyanyi lagu arab tapi gak bisa bahasa arab sedikitpun", kata Udin tertawa kecil.
"Jadi begitulah suasana di republik kita ini. Anggap saja ini lomba masak nasi goreng, jadi ya kita beri kesempatan yang mau ikut lomba untuk menyiapkan diri dengan caranya masing-masing"
"Memang diperlukan tenggang rasa dari semua pihak. Para petinggi partai perlu mengarahkan mesin partainya agar tidak masang atribut partai sesuka sendiri dan diperlukan tenggang rasa dari kita, non partai, bila melihat pemasangan atribut partai yang tidak sesuai dengan aturan. Ini pesta rakyat dan kita sebaiknya ikut berpartisipasi dengan baik dan benar"
"Mereka itu hanya baik di saat seperti ini pak Dhe. Kalau pemilu sudah usai, maka mana mau mereka melihat lagi pada kita. Mereka memberi janji bukan bukti pak Dhe", Khalid tetap sengit bila membahas partai.
"Pesta, dimana-mana memang perlu tenggang rasa dari semua pihak. Namanya saja pesta, jadi hanya sekali-sekali, tidak tiap hari"
Pak Dhe diam sejenak menanti reaksi pendengarnya.
"Saat ini para calon wakil rakyat sedang memeras otak agar menemukan cara terbaik untuk memajukan republik ini. Mari kita bantu mereka dengan memberi ruang yang cukup. Biarkan mereka menebarkan pesonanya, menebarkan programnya, agar bisa dinilai oleh kita-kita ini. Yang baik kita pilih yang tidak baik ya tidak usah kita pilih"
"Aku golput kok pak Dhe. Tidak haram kan?" Udin bertanya sambi melihat ke Khalid.
"Aku tahu, kamu dan Khalid pelopor golput di pabrik ini. Itu hakmu dan tidak ada yang bisa merubah hakmu itu kecuali kamu sendiri, tapi jangan paksa orang untuk golput. Mereka juga punya hak untuk memberikan suara atau tidak memberikan suara", kata pak Dhe sambil tetap tersenyum.
"Yang penting jangan sampai partai itu membuat kita terkotak-kotak. Jangan sampai persaudaraan kita, pertemanan kita, kekerabatan kita tergangu oleh pesta yang hanya sesaat ini. Kita bisa toleransi dengan umat lain tentu bisa juga toleransi dengan sesama penduduk Indonesia"
"Pak Dhe sendiri milih partai mana ya?", penasaran Khalid bertanya ketika melihat pak Dhe beranjak dari duduknya menuju ke ruang wudhu.
"Jangan-jangan pak Dhe milih partai cerdas yang suka kampanye mengatas namakan Islam itu ya?", Udin ikut beringsut mendekati pak Dhe.
Pak Dhe menepuk-nepuk pundak Khalid ketika dia berkata, "Aku perlu sholat tahajud dulu di malam menjelang hari "H", agar dipilihkan partai yang paling cocok untuk Indonesia. Semua partai baik, sehingga aku perlu meyakinkan diriku dengan bertanya pada yang Maha Tahu."
Khalid manggut-manggut dan mulai berpikir untuk mengikuti saran pak Dhe.
"Golput itu pilihanku, tapi aku juga bebas berubah pikiran", pikir Khalid sambil tersenyum cerah.
Indahnya DuniaKu dan keluargaKu
Minggu pagi, 1 Pebruari 2009, akhirnya bisa jalan-jalan pagi lagi. Sayang hanya satu anak yang ikut, yang lainnya sudah punya alasan sendiri-sendiri untuk tidak ikut.
Acaranya ya jalan-jalan di seputar rumah saja. Siapa tahu ada anakku yang lain yang nyusul.

Lilopun berbuat yang aneh-aneh, sambil menunggu kemunculan kakak-kakaknya. Dia nyoba terbang biar bisa nyusul Gatotkaca di angkasa. He…he…he.. mimpi kali ni yee…!:-)

Ketika sampai di jembatan penyeberangkan LiLo kaget.
“Lho…! Jembatannya ilang pak…!”
Yah…. Rupanya jembatan bambu di selokan itu hanyut keterjang banjir. Yang tinggal hanya bekas-bekasnya saja.

Yowis jalan lagi aja, muter dikit. Eh ... malah nemu Pemadat Tiga Roda. Action sebentar deh di depannya. Seneng deh lihat LiLo ketawa [kayak bapaknya]

Capek muter-muter di sekitar rumah. Kuajak LiLo beli majalah saja. Pulang dulu, ambil tandem terus dikayuh menuju penjual majalah.

Kesukaan liLo pas sama dengan aku ketika kecil. Komik Donald Bebek. Kalau aku sih milih Kompas Minggu. Ada cerita Koes Plus disana dan juga Red Clift II.

Selesai mbayar, LiLopun cepet-cepet ngajak pulang. Biasa kepingin segera mbaca komik itu di rumah.

Di jalan sempat lihat ada sebuah keluarga yang asyik makan bubur dll. Hmm asyik tuh. Cuek aja mereka nongkrong di pinggir jalan dan menyantap sarapannya.

Eh… ketemu juga dengan rombongan ibu-ibu Jantung Sehat.

Jadi inget dulu pernah jadi Sekretaris Umum Jantung Sehat Perumnas Condong Catur [tahun berapa ya? 80an deh].
Ketuanya pak Dokter yang terkenal dan kaya raya, sekretarisnya Tukang Insinyur yang lebih terkenal [he...he..he... narsis dikit ya] dan kaya hati [astaghfirullah, ini lebih dari narsis deh…]
Pasangan itu memang sangat cocok, soalnya pak Dokter punya ilmunya [dia bisa njelasin kenapa harus ikut Jantung Sehat dengan detail dan tak terbantahkan], sedangkan aku punya masa [maklum saat itu, jadi ketua pemuda masjid, pelatih silat dan ketua pemuda kampung juga].
Uniknya, pak Dokter itu hobi ngrokoknya luar biasa. Kayak sepur deh. Aku sampai heran, kok bisa ya ada dokter yang begitu faham dengan kesehatan tapi hobinya ngrokok.
Alhamdulillah, pagi ini berlangsung dnegan damai dan aku bisa santai menulis blog ini. Sebentar lagi, pasti aku diajak main kartu sama anak-anak cewekku. Mereka baru seneng-senengnya main kartu tuh.
Di ruang lain, kulihat istriku sibuk nyiapin acara masak bersama. Yang dulu diadakan gratis, sekarang diadakan dengan iuran, untuk membeli bahan yang akan dimasak.
He...he...he... ”dosennya” sih gak dibayar, tapi kalau material yang akan dimasak kan harus dibeli. Kasihan kalau peserta kursus pada makan dan tidak mbayar. Mereka kan bisa tersinggung [dikira nggak mampu mbayar ya???].
Semoga sukses acara berbagi ilmu masak ini.
Kalau ada yang punya menu atau resep khas, silahkan kirim ya ke eko.eshape@gmail.com Siapa tahu bisa kita praktekkan juga disini.
Acaranya ya jalan-jalan di seputar rumah saja. Siapa tahu ada anakku yang lain yang nyusul.
Lilopun berbuat yang aneh-aneh, sambil menunggu kemunculan kakak-kakaknya. Dia nyoba terbang biar bisa nyusul Gatotkaca di angkasa. He…he…he.. mimpi kali ni yee…!:-)

Ketika sampai di jembatan penyeberangkan LiLo kaget.
“Lho…! Jembatannya ilang pak…!”
Yah…. Rupanya jembatan bambu di selokan itu hanyut keterjang banjir. Yang tinggal hanya bekas-bekasnya saja.

Yowis jalan lagi aja, muter dikit. Eh ... malah nemu Pemadat Tiga Roda. Action sebentar deh di depannya. Seneng deh lihat LiLo ketawa [kayak bapaknya]

Capek muter-muter di sekitar rumah. Kuajak LiLo beli majalah saja. Pulang dulu, ambil tandem terus dikayuh menuju penjual majalah.

Kesukaan liLo pas sama dengan aku ketika kecil. Komik Donald Bebek. Kalau aku sih milih Kompas Minggu. Ada cerita Koes Plus disana dan juga Red Clift II.
Selesai mbayar, LiLopun cepet-cepet ngajak pulang. Biasa kepingin segera mbaca komik itu di rumah.

Di jalan sempat lihat ada sebuah keluarga yang asyik makan bubur dll. Hmm asyik tuh. Cuek aja mereka nongkrong di pinggir jalan dan menyantap sarapannya.

Eh… ketemu juga dengan rombongan ibu-ibu Jantung Sehat.

Jadi inget dulu pernah jadi Sekretaris Umum Jantung Sehat Perumnas Condong Catur [tahun berapa ya? 80an deh].
Ketuanya pak Dokter yang terkenal dan kaya raya, sekretarisnya Tukang Insinyur yang lebih terkenal [he...he..he... narsis dikit ya] dan kaya hati [astaghfirullah, ini lebih dari narsis deh…]
Pasangan itu memang sangat cocok, soalnya pak Dokter punya ilmunya [dia bisa njelasin kenapa harus ikut Jantung Sehat dengan detail dan tak terbantahkan], sedangkan aku punya masa [maklum saat itu, jadi ketua pemuda masjid, pelatih silat dan ketua pemuda kampung juga].
Uniknya, pak Dokter itu hobi ngrokoknya luar biasa. Kayak sepur deh. Aku sampai heran, kok bisa ya ada dokter yang begitu faham dengan kesehatan tapi hobinya ngrokok.
Alhamdulillah, pagi ini berlangsung dnegan damai dan aku bisa santai menulis blog ini. Sebentar lagi, pasti aku diajak main kartu sama anak-anak cewekku. Mereka baru seneng-senengnya main kartu tuh.
Di ruang lain, kulihat istriku sibuk nyiapin acara masak bersama. Yang dulu diadakan gratis, sekarang diadakan dengan iuran, untuk membeli bahan yang akan dimasak.
He...he...he... ”dosennya” sih gak dibayar, tapi kalau material yang akan dimasak kan harus dibeli. Kasihan kalau peserta kursus pada makan dan tidak mbayar. Mereka kan bisa tersinggung [dikira nggak mampu mbayar ya???].
Semoga sukses acara berbagi ilmu masak ini.
Kalau ada yang punya menu atau resep khas, silahkan kirim ya ke eko.eshape@gmail.com Siapa tahu bisa kita praktekkan juga disini.
Jumat, Januari 09, 2009
AKU BELAJAR [untuk cerdas]
Tuhan, aku tengah belajar tentang kekecewaan,
--- yang membuatku menata harapan
Aku belajar tentang duka dan kepedihan,
--- yang membuatku hancurkan kesombongan
Ku pun belajar tentang pengkhianatan,
--- yang membuatku memilah kepercayaan
Belajar tentang kemaksiatan,
--- yang membuat nuraniku bisa merasakan hati terkikis dan perih
Belajar pula tentang kebodohan,
--- yang mampu membuatku jatuh tersungkur dan bangkit
Aku belajar tentang kenakalan,
--- yang membuatku tertempa terpaan pukulan
Belajar kepada kekesalan,
--- yang membuat ketahanan hatiku terkuatkan
Belajar tentang cara belajar, waktuku tak makin kusia-siakan
Tuhan, pelajaranku tentang hal buruk
ternyata juga mendatangkan rasa syukur
bahwa Kau masih mengasihiku…,
dan menungguku untuk datang
dan menghiba pada-Mu
mengharap kasih-Mu
mengharap pertolongan-Mu
permaafan-Mu
Lalu Kau basuh nistaku dengan air lembayung
kubawa badan bersimbah rana dan kuyup,
menuju kehidupan
Kuajak mimpi bertabur kesucian
atas semua nista
Karena ku masih berharap
bahwa hidup sekedar sandiwara
yang kupelajari alurnya,
kuikuti mataharinya,
kunikmati kehancurannya
untuk berserah menuju akhir cerita,
yang masih tersimpan di alam sana
menungguku dengan segenap cinta dan senyum
laksana menyambut anak kesayangan
Pulang…
Wa***g, 9 Januari 2009, 01.12
[sebuah puisi yang mampir di alamat eko.eshape@gmail.com dan diijinkan untuk dimuat di blog ini]
--- yang membuatku menata harapan
Aku belajar tentang duka dan kepedihan,
--- yang membuatku hancurkan kesombongan
Ku pun belajar tentang pengkhianatan,
--- yang membuatku memilah kepercayaan
Belajar tentang kemaksiatan,
--- yang membuat nuraniku bisa merasakan hati terkikis dan perih
Belajar pula tentang kebodohan,
--- yang mampu membuatku jatuh tersungkur dan bangkit
Aku belajar tentang kenakalan,
--- yang membuatku tertempa terpaan pukulan
Belajar kepada kekesalan,
--- yang membuat ketahanan hatiku terkuatkan
Belajar tentang cara belajar, waktuku tak makin kusia-siakan
Tuhan, pelajaranku tentang hal buruk
ternyata juga mendatangkan rasa syukur
bahwa Kau masih mengasihiku…,
dan menungguku untuk datang
dan menghiba pada-Mu
mengharap kasih-Mu
mengharap pertolongan-Mu
permaafan-Mu
Lalu Kau basuh nistaku dengan air lembayung
kubawa badan bersimbah rana dan kuyup,
menuju kehidupan
Kuajak mimpi bertabur kesucian
atas semua nista
Karena ku masih berharap
bahwa hidup sekedar sandiwara
yang kupelajari alurnya,
kuikuti mataharinya,
kunikmati kehancurannya
untuk berserah menuju akhir cerita,
yang masih tersimpan di alam sana
menungguku dengan segenap cinta dan senyum
laksana menyambut anak kesayangan
Pulang…
Wa***g, 9 Januari 2009, 01.12
[sebuah puisi yang mampir di alamat eko.eshape@gmail.com dan diijinkan untuk dimuat di blog ini]
Kamis, Desember 04, 2008
Berbaik Sangka [dengan senyum]

Karena mengejar waktu, aku nyari jalan pintas ke TOL. Ternyata ada 3 buah Dump Truck yang sedang nge"DUMP" muatannya, sehingga jalan di pinggir Kali Malang ini macet total.
Emosi langsung naik ke ubun2. Ihhh, bodohnya mereka melakukan penurunan material. Kontraktornya siapa sih?
Untung aku langsung senyum [tadinya nyengir aja]. Yah, mereka kan kontraktor "ketengan", bukan kontraktor yang njalankan Sistem Manajemen [ISO, OHSAS], jadi wajar kalau amburadul.
Mau marah juga gak ada untungnya. Jalan akan tetap macet, sebelum mereka selesai menuang muatannya.
Sedikit demi sedikit muncul keikhlasanku. Akhirnya akupun mengambil foto suasana itu dengan senyum yang sudah mengembang.
"Pasti ada hikmah dari kejadian ini. Di TOL nanti pasti LANCAR"
Sampai di Tol ternyata malah mau srempetan dengan mobil yang melaju kencang dari LIPPO Cikarang [aku dari Jababeka Golf]. Begitu aku dapat tempat di depan mobil itu, eh truk-truk gedhe numpuk di depanku.
Lho sudah siang kok masih ada truk ya? Biasanya mereka lalu lalang di bawah jam 6.00. Apakah Tuhan kembali menguji kesabaranku?
Ternyata benar, begitu 3 menit "usel-uselan" dengan rombongan truk itu, tiba-tiba di depan rombongan truk itu jalan kosong melompong.
Gak terasa speedometer menunjukkan angka >140 km/jam.
Ups.... langsung gas kulorot. Gak baik melaju terlalu kencang, meskipun jalan kosong. DI atas 80 km/jam, mobil sudah susah dikontrol kalau harus tiba-tiba berhenti.
Wah bisa cepat sampai nih, pikirku.
Ternyata di Halim kembali [sangat] tersendat. Lampu lalin nyala hijau tetapi pak Polisi tetap nyetop jalurku dan membiarkan jalur lain untuk jalan.
Rupanya Tuhan belum selesai mencoba kesabaranku.
Alhamdulillah, semoga aku lulus ujian hari ini.
Mari kita tersenyum untuk menerima semua yang ada di hadapan kita.
AMin
Rabu, November 26, 2008
Setelah Euforia Pesta Blogger 2008
Pesta sudah usai dan euforia yang meledak-ledak sudah hilang. Tinggalah kini kenangan yang manis,meskipun saat dijalani sebenarnya gak enak rasanya.
Jadilah kumpulan kritik [membangun] yang perlu dipikirkan solusinya.
Dimulai dari pagi hari yang sejuk, maka terlihat bahwa panitia sudah siap menerima peserta, dan peserta juga sudah siap masuk dengan berjejalan di depan pintu masuk, tapi panitia tetap bersikeras untuk membuka pintu pada jam yang telah ditentukan.
Why?
Padahal dengan menghargai yang telah datang pagi akan membuat suasana menjadi lebih cair. Mungkin perlu dipikirkan untuk pelaksanaan yang akan datang. Sebenarnya panitia sudah cukup cerdas dengan membuka penukaran tiket di beberapa hari sebelum acara.
Selanjutnya, acara yang molor, membuat nilai pesta ini benar-benar menjadi hanya sekedar pesta. Tak ada yang menghargai waktu. Semangat para blogger untuk datang pagi-pagi hancur lebur di molornya acara ini.
Solusinya, untuk acara yang akan datang, wajib dibuka tepat waktu. Panitia sebaiknya membuat beberapa rencana [A, B, C dst], sehingga dipastikan acara akan tepat waktu [jadi pingin ndaftar jadi panitia untuk ngurusin agar acara bisa tepat waktu]
Mas Enda sudah tampil sebagai moderator yang cukup bagus [terutama di sesi diskusi dengan blogger dari LN]. Di sesi I, terlihat mas Enda masih demam panggung atau masih kepikiran hal lain, sehingga diskusi kurang mengalir. Hal ini masih diperparah dengan gaung nyamuk di deretan kursi belakang [maksudnya penonton lebih senang bicara sendiri daripada ndengerin mas Enda].
Makan siang dilaksanakan dengan cerdas, sehingga menunya mantab dan pembagiannya tidak berdesak-desakan.
Sesi yang paling porak poranda adalah sesi sehabis makan siang. Satu ruangan besar [auditorium] dibagi menjadi beberapa tempat, masing-masing tempat membahas topik khusus. Sayangnya tidak ada sekat di antara para presenter ini.
Mas NL sampai mengusir beberapa deret peserta diskusi di barisan terdepan agar dia bisa leluasa bergerak [orang ini memang gak bisa diem]. Di sini audience dan presenter sangat terganggu oleh audience dan presenter yang berada tepat di sampingya.
Bagaimana tidak, mereka bisa saling melihat dan saling mendengar [terutama saat terdengar suara tertawa yang keras]. Tanpa sekat dan tanpa mik, tentu menyusahkan presenter. Mau teriak takut ngganggu presenter di sebelahnya, mau pelan, nanti tidak terdengar oleh audience.
Solusi cerdas ada di ruang-ruang kecil yang tersebar. Jadi audience dan presenter bisa dengan leluasa masuk dalam topik bahasan.
Sudah saatnya acara semacam ini tidak menggantungkan pada kedatangan para menteri. Kita adalah blogger yang bebas merdeka.
Terima kasih untuk atensi para menteri, tapi tidak harus menunggu mereka untuk memulai langkah kita. Terima kasih para sponsor, di pesta blogger 2009 masih diharapkan partisipasinya, terutama usulan dari beberapa teman untuk menayangkan acara ini secara live di TiVi.
Last but not least, angkat topi dan semua jempol buat panitia yang sukses melaksanakan acara ini. Kekurangan pasti ada dan bukan untuk menyurutkan semangat melaksanakan pesta tahun depan.
BRAVO PB08 dan PB09
Jadilah kumpulan kritik [membangun] yang perlu dipikirkan solusinya.
Dimulai dari pagi hari yang sejuk, maka terlihat bahwa panitia sudah siap menerima peserta, dan peserta juga sudah siap masuk dengan berjejalan di depan pintu masuk, tapi panitia tetap bersikeras untuk membuka pintu pada jam yang telah ditentukan.
Why?
Padahal dengan menghargai yang telah datang pagi akan membuat suasana menjadi lebih cair. Mungkin perlu dipikirkan untuk pelaksanaan yang akan datang. Sebenarnya panitia sudah cukup cerdas dengan membuka penukaran tiket di beberapa hari sebelum acara.
Selanjutnya, acara yang molor, membuat nilai pesta ini benar-benar menjadi hanya sekedar pesta. Tak ada yang menghargai waktu. Semangat para blogger untuk datang pagi-pagi hancur lebur di molornya acara ini.
Solusinya, untuk acara yang akan datang, wajib dibuka tepat waktu. Panitia sebaiknya membuat beberapa rencana [A, B, C dst], sehingga dipastikan acara akan tepat waktu [jadi pingin ndaftar jadi panitia untuk ngurusin agar acara bisa tepat waktu]
Mas Enda sudah tampil sebagai moderator yang cukup bagus [terutama di sesi diskusi dengan blogger dari LN]. Di sesi I, terlihat mas Enda masih demam panggung atau masih kepikiran hal lain, sehingga diskusi kurang mengalir. Hal ini masih diperparah dengan gaung nyamuk di deretan kursi belakang [maksudnya penonton lebih senang bicara sendiri daripada ndengerin mas Enda].
Makan siang dilaksanakan dengan cerdas, sehingga menunya mantab dan pembagiannya tidak berdesak-desakan.
Sesi yang paling porak poranda adalah sesi sehabis makan siang. Satu ruangan besar [auditorium] dibagi menjadi beberapa tempat, masing-masing tempat membahas topik khusus. Sayangnya tidak ada sekat di antara para presenter ini.
Mas NL sampai mengusir beberapa deret peserta diskusi di barisan terdepan agar dia bisa leluasa bergerak [orang ini memang gak bisa diem]. Di sini audience dan presenter sangat terganggu oleh audience dan presenter yang berada tepat di sampingya.
Bagaimana tidak, mereka bisa saling melihat dan saling mendengar [terutama saat terdengar suara tertawa yang keras]. Tanpa sekat dan tanpa mik, tentu menyusahkan presenter. Mau teriak takut ngganggu presenter di sebelahnya, mau pelan, nanti tidak terdengar oleh audience.
Solusi cerdas ada di ruang-ruang kecil yang tersebar. Jadi audience dan presenter bisa dengan leluasa masuk dalam topik bahasan.
Sudah saatnya acara semacam ini tidak menggantungkan pada kedatangan para menteri. Kita adalah blogger yang bebas merdeka.
Terima kasih untuk atensi para menteri, tapi tidak harus menunggu mereka untuk memulai langkah kita. Terima kasih para sponsor, di pesta blogger 2009 masih diharapkan partisipasinya, terutama usulan dari beberapa teman untuk menayangkan acara ini secara live di TiVi.
Last but not least, angkat topi dan semua jempol buat panitia yang sukses melaksanakan acara ini. Kekurangan pasti ada dan bukan untuk menyurutkan semangat melaksanakan pesta tahun depan.
BRAVO PB08 dan PB09
Insya Allah, Tuhan menyertai kita.
Amin.
Rabu, November 05, 2008
Baik Sangka
Paijo mempersiapkan diri dengan beberapa ayat Quran dan hadits nabi, sebelum pergi ke rumah Parman, yang baru saja kena musibah, sehingga harta bendanya tidak hanya habis, tapi minus.
Ayat Quran yang disiapkan antara lain adalah :
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya…” (Al-Baqarah: 286)
Iapun mempersiapkan kisah-kisah bijak tentang perlunya berkhuznudzon pada Allah, karena Allah swt paling tahu apa yang terbaik buat kita.
Sesampainya di rumah Parman, ia langsung beruluk salam dan kemudian terlibat perbincangan yang hangat dengan Parman.
Iapun jadi lupa untuk berdakwah, menyampaikan kata-kata hiburan berdasar ayat-ayat Quran yang sudah dihapalnya. Sampai akhirnya ia menyadari, bahwa tujuannya adalah menghibur Parman dan bukan bersenda gurau seperti ini.
Iapun akhirnya tergelitik untuk bertanya,
"Mas, katanya baru saja ditipu orang ya?"
"Halah, berita udah menyebar ya?", jawab Parman sambil bergelak ketawa.
"Gimana sih ceritanya, kok sampai sebegitunya?", kata Paijo.
Parmanpun bercerita panjang lebar tentang musibah yang dialaminya. Yang membuat Paijo makin heran adalah model berceritanya Parman, yang tidak terlihat sedikitpun unsur menyalahkan penipu ataupun mengeluhkan tentang hidupnya setelah ditipu habis-habisan.
Penasaran, Paijopun bertanya,
"Kok kelihatannya mas Parman gak sedih menerima musibah ini?"
Parman tergelak ketawa, dan kemudian mulailah Parman bercerita tentang hidupnya setelah habis-habisan hartanya dikuras oleh penipu.
Dulu, ketika masih punya uang banyak, maka setiap akan menghitung zakat, Parman selalu dipusingkan dengan angka-angka yang terasa njlimet. Setelah membayar zakatpun, dengan rumus 1,5 kali besaran zakat wajib, rasanya masih saja ada yang kurang dizakati.
Sudah sedekahpun, rasanya masih ada juga hak orang miskin di hartanya. Hal ini membuat pikiran Parman sering tidak tenteram.
"Sekarang ini mas, saya gak perlu pusing mikirin besaran zakat. Lha saya ndak punya uang kok, malah mungkin saya ini wajib diberi zakat", demikian penutup dari Parman.
"Lha kok ndak marah sama yang menipu sampeyan?", kata Paijo masi belum puas.
"Penipuku itu belum kenal Tuhan mas, jadi semoga sekarang dia bisa kenal Tuhan. Semoga dia diingatkan, bahwa harta dunia itu tidak kekal, tidak barokah kalau mendapatkannya dengan cara yang gak bener"
"Ooo..."
"Masih untung mas, aku ditipu pada saat sekarang ini. Coba aku ditipu pas aku jadi orang yang lebih kaya. Bukan tidak mungkin yang terkena imbas dari tipuan itu termasuk orang-orang yang bekerja padaku. Kan kasihan mereka. Kalau sekarang ini, alhamdulillah, hanya aku yang terkena, jadi gak apa-apalah. Ini kan ujian dari Allah, agar aku naik kelas"
"....."
"Aku percaya kok mas, kalau sesudah kesulitan itu pasti ada kemudahan..."
Ayat Quran yang disiapkan antara lain adalah :
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya…” (Al-Baqarah: 286)
Iapun mempersiapkan kisah-kisah bijak tentang perlunya berkhuznudzon pada Allah, karena Allah swt paling tahu apa yang terbaik buat kita.
Sesampainya di rumah Parman, ia langsung beruluk salam dan kemudian terlibat perbincangan yang hangat dengan Parman.
Iapun jadi lupa untuk berdakwah, menyampaikan kata-kata hiburan berdasar ayat-ayat Quran yang sudah dihapalnya. Sampai akhirnya ia menyadari, bahwa tujuannya adalah menghibur Parman dan bukan bersenda gurau seperti ini.
Iapun akhirnya tergelitik untuk bertanya,
"Mas, katanya baru saja ditipu orang ya?"
"Halah, berita udah menyebar ya?", jawab Parman sambil bergelak ketawa.
"Gimana sih ceritanya, kok sampai sebegitunya?", kata Paijo.
Parmanpun bercerita panjang lebar tentang musibah yang dialaminya. Yang membuat Paijo makin heran adalah model berceritanya Parman, yang tidak terlihat sedikitpun unsur menyalahkan penipu ataupun mengeluhkan tentang hidupnya setelah ditipu habis-habisan.
Penasaran, Paijopun bertanya,
"Kok kelihatannya mas Parman gak sedih menerima musibah ini?"
Parman tergelak ketawa, dan kemudian mulailah Parman bercerita tentang hidupnya setelah habis-habisan hartanya dikuras oleh penipu.
Dulu, ketika masih punya uang banyak, maka setiap akan menghitung zakat, Parman selalu dipusingkan dengan angka-angka yang terasa njlimet. Setelah membayar zakatpun, dengan rumus 1,5 kali besaran zakat wajib, rasanya masih saja ada yang kurang dizakati.
Sudah sedekahpun, rasanya masih ada juga hak orang miskin di hartanya. Hal ini membuat pikiran Parman sering tidak tenteram.
"Sekarang ini mas, saya gak perlu pusing mikirin besaran zakat. Lha saya ndak punya uang kok, malah mungkin saya ini wajib diberi zakat", demikian penutup dari Parman.
"Lha kok ndak marah sama yang menipu sampeyan?", kata Paijo masi belum puas.
"Penipuku itu belum kenal Tuhan mas, jadi semoga sekarang dia bisa kenal Tuhan. Semoga dia diingatkan, bahwa harta dunia itu tidak kekal, tidak barokah kalau mendapatkannya dengan cara yang gak bener"
"Ooo..."
"Masih untung mas, aku ditipu pada saat sekarang ini. Coba aku ditipu pas aku jadi orang yang lebih kaya. Bukan tidak mungkin yang terkena imbas dari tipuan itu termasuk orang-orang yang bekerja padaku. Kan kasihan mereka. Kalau sekarang ini, alhamdulillah, hanya aku yang terkena, jadi gak apa-apalah. Ini kan ujian dari Allah, agar aku naik kelas"
"....."
"Aku percaya kok mas, kalau sesudah kesulitan itu pasti ada kemudahan..."
Rabu, Oktober 15, 2008
BOSAAAAN !!!
Aku masih ingat ketika bawa mobil baru "kinyis-kinyis", 1.500 CC Nisan GL, njemput anak istri di Mall, pulang dari kantor. Wah, mereka mencoba memilih mobil di parkiran. Yang mana ya yang akan membawa mereka pulang ke rumah?
Akhirnya, mereka sampai pada mobil yang kubawa. Apa komentar mereka?
"Nggak mungkin yang ini. Bagus banget nih...", kata mereka kompak.
Langsung saja kupencet "remote" mobil.
"Kik kuk...!", lampu sign mobil menyala dan kubuka pintu untuk mereka. Wah, betapa indahnya malam itu [bagi kita].
Lebaran tahun lalu, kitapun memakai mobil itu untuk mudik. Mobil yang sangat irit. Gak sampai 200 rebu udah bisa nyampai di Yogyakarta.
Tahun ini, apa kata mereka tentang pulang mudik.
"Kalau bisa, mudiknya nggak pakai mobil itu lagi pak. Kecil dan sumpek, bikin pusing"
Baru setahun dan ternyata mereka sudah bosan.
Kamipun pulang mudik dengan naik mobil 2.000 CC. Akibatnya, mereka senang dan penjual bensinpun senang [lha mobilnya boros banget, setengah juta rupiah untuk sampai di Yogya]
Di sisi lain, ketika LiLo masih Balita, kubelikan dia mainan PS2 [meskipun kurang di"support" oleh ibundanya], ternyata sampai sekarang dia sudah klas 3 SD, masih belum juga bosan.
Di kantor, ada juga kawanku yang bosan bekerja. Dia males bekerja berpindah-pindah [kayak tentara saja, katanya]. Dia lebih sayang sama keluarganya dan akhirnya dia keluar dari kantor.
Minggu lalu, kulihat dia enjoy dengan pekerjaannya yang baru, yang bisa membuatnya menetap di kota tercinta, berkumpul dengan anak istri selalu.
Kawan lain, bosen juga bekerja sebagai karyawan. Apa-apa harus nurut pimpinan [yang belum tentu benar, menurut dia]. Akhirnya dia juga keluar, dan minggu lalu ketika kukunjungi, dia tidak ada di tempat. Baru keluar kota untuk urusan bisnis.
Kata kawanku yang lain, dia sudah jadi boss dan sudah kaya raya. Jadi sibuk melanglang, dari kota ke kota, bahkan mau ke manca negara untuk ngurusin bisnisnya itu.
Ada lagi kawan lain, dia bosan bekerja karena tidak tahu lagi apa yang mau dikerjakan. Akhirnya dia masuk kerja jam 8 dan pulang kerja jam 5, prestasinya NOL. Jadilah dia anggota pasukan 805.
Hidup ini ternyata penuh dengan berbagai model kebosanan. Ada yang bosan sesuatu dan ternyata ketika dia mencoba bertindak untuk mengatasi kebosanan itu hasilnya luar biasa [dari kaca mata awam].
Sementara itu, ada yang bosan dan menikmati kebosanan itu, dan akhirnya dia menderita depresi, karena tidak pernah mendapatkan kepuasan hidup, bekerja tanpa prestasi dan tanpa penghargaan [bagaimana mau dihargai, dia kan tidak pernah berprestasi].
Apakah orang yang bosan bekerja harus berpindah pekerjaan, seperti contoh kesuksesan kawan-kawanku itu?
Jawabannya sangat relatif. Kalau mau jawaban logis, ya tidak gampang untuk mencari pekerjaan di tempat lain, apalagi bisa lebih sukses dibanding pekerjaannya sekarang.
Belum lagi kalau umurnya sudah mempet [usia pensiun], maka mencari pekerjaan lain bukan solusi.
Ada beberapa tips yang saya dapet dari surfing internet, bila kita tetap ingin bekerja di tempat yang menurut kita membosankan.
1. Enjoy aja dengan pekerjaan yang ada, jangan jadikan pekerjaan kita sebagai beban.
2. Bekerja itu ibadah, jadi lakukan yang terbaik untuk pekerjaan kita. Do the best !
3. Kalau ada spesifikasi yang harus diikuti, maka berilah bonus sedikit di atas spesifikasi itu. Misalnya pekerjaan mengetik harus selesai dalam waktu 2 jam dan akan diambil pada jam 14.00, maka usahakan selesai kurang dari 2 jam dan jangan tunggu diambil, serahkan pada "user"nya dalam map yang rapi.
4. Ikuti terus petunjuk yang ada di blog ini [halah....... jangan diikuti perintah ini, dasar penulis narsis, selalu mencari celah untuk menunjukkan kenarsisannya....]
Last but not least, bayangkan kalau Tuhan yang bosan sama kita. Apa yang akan terjadi?
Apa harus bertanya pada rumputnya Ebiet?
Sebaiknya jangan pernah bosan beribadah, karena setiap langkah kita mendekati Tuhan akan dibalas Tuhan dengan langkah yang lebih cepat. Selalulah berbaik sangka padaNya, karena kita tidak ingin Tuhan bosan sama kita.
Sebaliknya bila kita menjauh dari Tuhan, maka boleh dikata kita sudah menentang Tuhan. Kalau berani dengan Tuhan berarti sudah "BOSAN HIDUP". Bumi dan langit ini milik Allah swt, terus mau tinggal dimana kalau kita tidak mau berTuhan pada Allah swt.
Bener mau "BOSAN HIDUP"?
Nggak ah, lebih baik bekerja secara ikhlas, agar nanti saat dipanggil Tuhan, bekal kita sudah memadai.
Insya Allah. Amin.
Akhirnya, mereka sampai pada mobil yang kubawa. Apa komentar mereka?
"Nggak mungkin yang ini. Bagus banget nih...", kata mereka kompak.
Langsung saja kupencet "remote" mobil.
"Kik kuk...!", lampu sign mobil menyala dan kubuka pintu untuk mereka. Wah, betapa indahnya malam itu [bagi kita].
Lebaran tahun lalu, kitapun memakai mobil itu untuk mudik. Mobil yang sangat irit. Gak sampai 200 rebu udah bisa nyampai di Yogyakarta.
Tahun ini, apa kata mereka tentang pulang mudik.
"Kalau bisa, mudiknya nggak pakai mobil itu lagi pak. Kecil dan sumpek, bikin pusing"
Baru setahun dan ternyata mereka sudah bosan.
Kamipun pulang mudik dengan naik mobil 2.000 CC. Akibatnya, mereka senang dan penjual bensinpun senang [lha mobilnya boros banget, setengah juta rupiah untuk sampai di Yogya]
Di sisi lain, ketika LiLo masih Balita, kubelikan dia mainan PS2 [meskipun kurang di"support" oleh ibundanya], ternyata sampai sekarang dia sudah klas 3 SD, masih belum juga bosan.
Di kantor, ada juga kawanku yang bosan bekerja. Dia males bekerja berpindah-pindah [kayak tentara saja, katanya]. Dia lebih sayang sama keluarganya dan akhirnya dia keluar dari kantor.
Minggu lalu, kulihat dia enjoy dengan pekerjaannya yang baru, yang bisa membuatnya menetap di kota tercinta, berkumpul dengan anak istri selalu.
Kawan lain, bosen juga bekerja sebagai karyawan. Apa-apa harus nurut pimpinan [yang belum tentu benar, menurut dia]. Akhirnya dia juga keluar, dan minggu lalu ketika kukunjungi, dia tidak ada di tempat. Baru keluar kota untuk urusan bisnis.
Kata kawanku yang lain, dia sudah jadi boss dan sudah kaya raya. Jadi sibuk melanglang, dari kota ke kota, bahkan mau ke manca negara untuk ngurusin bisnisnya itu.
Ada lagi kawan lain, dia bosan bekerja karena tidak tahu lagi apa yang mau dikerjakan. Akhirnya dia masuk kerja jam 8 dan pulang kerja jam 5, prestasinya NOL. Jadilah dia anggota pasukan 805.
Hidup ini ternyata penuh dengan berbagai model kebosanan. Ada yang bosan sesuatu dan ternyata ketika dia mencoba bertindak untuk mengatasi kebosanan itu hasilnya luar biasa [dari kaca mata awam].
Sementara itu, ada yang bosan dan menikmati kebosanan itu, dan akhirnya dia menderita depresi, karena tidak pernah mendapatkan kepuasan hidup, bekerja tanpa prestasi dan tanpa penghargaan [bagaimana mau dihargai, dia kan tidak pernah berprestasi].
Apakah orang yang bosan bekerja harus berpindah pekerjaan, seperti contoh kesuksesan kawan-kawanku itu?
Jawabannya sangat relatif. Kalau mau jawaban logis, ya tidak gampang untuk mencari pekerjaan di tempat lain, apalagi bisa lebih sukses dibanding pekerjaannya sekarang.
Belum lagi kalau umurnya sudah mempet [usia pensiun], maka mencari pekerjaan lain bukan solusi.
Ada beberapa tips yang saya dapet dari surfing internet, bila kita tetap ingin bekerja di tempat yang menurut kita membosankan.
1. Enjoy aja dengan pekerjaan yang ada, jangan jadikan pekerjaan kita sebagai beban.
2. Bekerja itu ibadah, jadi lakukan yang terbaik untuk pekerjaan kita. Do the best !
3. Kalau ada spesifikasi yang harus diikuti, maka berilah bonus sedikit di atas spesifikasi itu. Misalnya pekerjaan mengetik harus selesai dalam waktu 2 jam dan akan diambil pada jam 14.00, maka usahakan selesai kurang dari 2 jam dan jangan tunggu diambil, serahkan pada "user"nya dalam map yang rapi.
4. Ikuti terus petunjuk yang ada di blog ini [halah....... jangan diikuti perintah ini, dasar penulis narsis, selalu mencari celah untuk menunjukkan kenarsisannya....]
Last but not least, bayangkan kalau Tuhan yang bosan sama kita. Apa yang akan terjadi?
Apa harus bertanya pada rumputnya Ebiet?
Sebaiknya jangan pernah bosan beribadah, karena setiap langkah kita mendekati Tuhan akan dibalas Tuhan dengan langkah yang lebih cepat. Selalulah berbaik sangka padaNya, karena kita tidak ingin Tuhan bosan sama kita.
Sebaliknya bila kita menjauh dari Tuhan, maka boleh dikata kita sudah menentang Tuhan. Kalau berani dengan Tuhan berarti sudah "BOSAN HIDUP". Bumi dan langit ini milik Allah swt, terus mau tinggal dimana kalau kita tidak mau berTuhan pada Allah swt.
Bener mau "BOSAN HIDUP"?
Nggak ah, lebih baik bekerja secara ikhlas, agar nanti saat dipanggil Tuhan, bekal kita sudah memadai.
Insya Allah. Amin.
Senin, September 15, 2008
KuLTuM [di kantor]

Setiap bakda Dhuhur, di masjid kantor selalu diadakan acara kultum. Acara ini terasa pas, karena bisa menambah keimanan atau minimal mengingatkan kita akan perlunya memberi siraman rohani. Apalagi pas bulan puasa, jadi rasanya pas bener deh...!:-)
Pemberi kultum juga beraneka ragam posisi jabatan, mulai dari pejabat tinggi, sampai staf rendahan, bahkan OB-pun ikut memberi kontribusi kultum.
Ada juga penceramah dari luar yang ingin berbagi ilmu dengan jamaah masjid Waskita. Bila waktu ceramah dianggap masih kurang dan "audience" masih belum puas, maka lokasi kultumpun pindah ke depan masjid [namanya sudah bukan kultum tuh, mungkin kulibas =kuliah lima belas menit=].
Seperti di mesjid-mesjid lain, maka fenomena istirahat siang juga ada di masjid Waskita.
Karena tidak tiap hari ke masjid, maka aku tidak tahu apakah ada direktur atau kepala biro yang suka datang di masjid ini. Kebetulan pas aku hadir, pas meeka pada tidak kelihatan.

Minggu, September 14, 2008
TaKjiL dan KeTinggALaN SePeDa
Biasanya LiLo kalau takjilan di Masjid selalu bareng aku, tapi hari ini dia berangkat sorean [jam 16.15], jadi dia naik sepeda sendirian.
Saat takjil, kulihat dia udah ngumpul sama temen-temennya. Pasti setelah capek main di masjid, sekitar 1 jam setengahan.
Lama nggak takjilan di masjid, ternyata pesertanya sudah banyak berkurang, sehingga 10 macam makanan kecil dan minuman boleh dimabil dobel-dobel.
Pulangnya, LiLo lupa kalau mbawa sepeda. Ketahuannya ketika mau subuhan. Lho kok nggak ada sepeda di rumah?
Langsung LiLo meluncur ke masjid, dan ternyata sepedanya sudah nggak ada. Ya namanya nginep semalem, mungkin ada yang menyelamatkannya.
Maka pagi tadi terjadilah percakapan seperti ini,
"Waktu tahu sepedanya nggak ada, apa perasaan LiLO?"
"Tegang"
"Kenapa ?"
"Takut dimarahi bapak"
"Bapak marah enggak?"
"Engak"
"Jadi gimana cara nyari sepeda itu?"
"..................." [diem]
"Coba LiLo ke masjid lagi dan nanya sama ikhwan yang ada di masjid. Mungkin ada diantara mereka yang tahu dimana sepeda LiLo"
".................." [diem]
Hari ini LiLo mencoba ke masjid tapi belum ketemu dengan pengurus masjid. Semoga sepedanya segera kembali.
Amin.
Langganan:
Postingan (Atom)