Tampilkan postingan dengan label pemilu 2009. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pemilu 2009. Tampilkan semua postingan

Kamis, April 09, 2009

Akhirnya selesai juga Pemilu ini.



Pagi hari, pas ulangtahun mas Amril, aku sepedaan sama LiLo. Hari ini adalah hari pencontrengan nasional alias Pemilu 2009, jadi aku pasti tidak punya waktu untuk anak-anak, maka akupun meyempatkan diri untuk bermain bersama anak-anakku.



Tadi malam aku juga sudah mulai bekerja untuk pembuatan bilik suara. Lumayan juga sampai agak malam, sehingga begitu pulang kulihat anak-anakku sudah pada tidur. Paginya pak RT sudah beraksi menjelaskan tata cara nyontreng di depan TPS.






Seperti prediksi yang sering kusampaikan, maka pengunjung TPS ini hanya separonya saja, sehingga mengurangi jam operasional KPPS. Kalau saja peserta pemilu ini membludak, maka bisa dibayangkan secapek apa KPPS nantinya. Bisa-bisa sampai subuhpun belum juga "kelar". Untunglah pemilu kali ini tidak begitu ramai karena banyak golput [haaaa?? untung???]





Istriku sendiri datang tidak mau pagi-pagi. Dia rela antri daripada berangkat pagi-pagi. Begitulah akhirnya yang terjadi. Ketika dia datang bersama kawan-kawannya, maka surat undangan istriku di"pending" oleh kawanku, maksudnya biar istriku ikut menemani suaminya yang sedang bertugas di medan laga [halah..... cuma dadi anggota KPPS wae, kok wis sok "jago"].




Dasar kawan-kawanku di TPS ini memang suka ber"guyon ria", sehingga suasana di TPS-pun menjadi hidup. Kita bekerja jadi tak kenal capek lagi. Hanya guyon ngalor ngidul saja yang kita lakukan [maksudnya untuk mengusir kantuk dan jenuh]



Begitulah, suasana di TPS ini jadi kayak arisan pindah tempat saja. Mereka pada datang bersama keluarga lengkapnya. Itung-itung piknik sambil memberikan pelajaran bersosialisasi pada anak-anak mereka [sedari dini].

Jam 12.00 tepat, pintu TPS ditutup [padahal gak ada pintunya ya..], kami sholat Dzuhur dan melanjutkan dengan acdara penghitungan suara.

Aku jadi inget pemilu 2004 di Surabaya. Waktu itu, biarpun tidak jadi panitia KPPS, kita tetap kompak membangun [bilik] TPS dan siangnya kita pada ikut menyaksikan acara penghitngan suara yang bisanya gegap gempita, penuh seloroh yang segar.

Siang ini, dari sekian puluh partai, yang terdafar resmi menjadi saksi hanya dua orang, sehingga suasana sepi "nyenyet", gak ada greget dari parpol untuk memeriahkan acara ini dengan mengirim kader partainya.


Menjelang maghrib, selesailah sudah acara penghitungan suara. Yang kemudian menjadi acara puncak adalah pengisian lembar berita acara yang rumit dan begitu banyak lembarnya.





Syukur pada Tuhan, berkat campur tanganNya, maka acara ini bisa berlangsung dengan khidmat. Kami selesaikan semua kegiatan di malam ini bersama 2 orang yang bernama sama yaitu pak Nur, pak Syukur dan aku sendiri.



SAMPAI JUMPA DI PILRES yang akan datang...!:-)

Jumat, April 03, 2009

CIKARANG-JAKARTA-SURABAYA

Seperti film "mendadak dangdut", akupun "mendadak terbang ke Surabaya". Semuanya serba mendadak dan akupun pagi-pagi di kantor sudah mendadak sibuk.

Kawan-kawan staf di depanku pada "gojeg", ketawa-ketawa memasalahkan sesuatu hal, tetapi aku tidak konsens mendengarnya, yang kudengar hanya suara ketawa mereka. Aku sendiri larut dalam acara pemahaman traveller form Jembatan Suramadu.

Asyik bener mereka bekerja sambil bergurau. Tangan mengetik, tetapi mulut tak mau berhenti ngomong. Saling bersahutan dalam keceriaan.

Lama-lama aku terganggu juga, dan aku mulai mendengar apa yang mereka bahas.

"Iya tuh, ada yang hidup lagi. Padahal jelas sudah meninggal" [..wah ini cerita misteri ya? tapi kok pada ketawa-ketawa mbahasnya]

"Di tempatku ada bayi yang langsung punya KTP" [loh bayi ajaib nih, udah bisa dapet SIM donk..]

"Ada yang sakti tuh, mempunyai dua nyawa" [kembali cerita misteri nih]

Aku mengernyitkan kening mencoba memahami topik yang mereka bicarakan, sampai aku akhirnya ikut tertawa setelah tahu bahwa yang mereka bahas adalah DPT.

Dasar kurang kerjaan mereka itu. Sambil kerja masih saja sempat mbahas pemilu yang super rumit dan dengan sosialisasi yang super sederhana.

Siangnya, aku rapat sampai sore dan seusai rapat langsung meluncur ke Cengkareng. Jalanan ke bandara macet, seperti Jumat-jumat yang lain juga.

Alhamdulillah, masih bisa bernafas sebelum boarding. Masuk ke LOUNGE dan nanya sama Mbak-mbak yang njaga.

"Kartu apa yang bisa dipakai disini mbak?"

Mbaknyapun menunjukkan beberapa kartu yang tidak kupunyai atau kupunyai tapi harus potong bonus.

Masak aku nanya kartu kredit dijawab kartu debit. Wah, nggaklah yauw...

Aku sering ke LOUNGE ini, jadi aku pasti punya kartu yang cocok, Terpaksa mbuka dompet untuk ngambil kartu dan milih kartu yang cocok.

Sepintas tadi kulihat ada logo BCA, jadi pasti bisa pakai BCA.

Eh, baru sibuk bongkar-bongkar kartu, tiba-tiba orang yang ada di sampingku nanya ke mbaknya,"Kartuku ini bisa untuk berapa orang?"

Mbaknyapun menjawab,"Bisa dua pak"

Langsung orang di sampingku itu bilang,"Ya sudah dipakai bersama mas ini saja. Boleh kan?"

Wah, surprise banget nih. Aku sama sekali tidak kenal orang itu dan dia juga gak kenal aku [emang aku seleb?].

Dia mempersilahkan aku duduk sedangkan dia melanjutkan proses penggesekan kartunya.

Akupun pergi ke toilet dan ternyata dia juga ikut ke toilet. Wah, cocok banget nih orang ini sama aku. Hobinya sama-sama ke toilet.

Kami ngobrol sebentar di toilet dan akhirnya berpisah tanpa saling berkenalan. Makasih deh buat dia, semoga amalnya dibalas oleh Tuhan.
AMin.

Di pesawat, aku bersebelahan dengan pasutri dari Madura. Hmm ini pasutri yang ramah juga, belum semenit sudah ngobrol ngalor ngidul nggak keruan juntrungannya.

Ujung-ujungnya mbahas pemilu juga. Baru jadi topik sih, jadi apa saja bisa dilarikan ke masalah pemilu.

"Di Indonesia ini memang banyak hari liburnya ya", begitu pembicaraan kami.

"Iya tuh, minggu depan pada liburan lagi. Long wik en dan persetan dengan pemilu"

"Ha..ha..ha.. capek-capek nggak ada manfaatnya. Enakan liburan, manfaatnya jelas"

"He..he..he.. banyak ya orang yang berpikiran begitu"

Kamipun tertawa bersama dan akhirnya pembicaraan berhenti sendiri ketika pesawat mulai tinggal landas. Kuraih koran dan kubaca lembar demi lembar, sementara pasutri di sebelahku mulai pasang jurus mata terpejam hati mengantuk [halah ... jurus apa ini]

Di koran yang kubaca, aku kembali terhenyak. Ternyata berita yang kudengar selama ini benar adanya. Perhitungan kursi, nanti akan memakai sistem UNDIAN.

Benar-benar hil yang nustahal, tapi telah diputuskan oleh yang berwenang.

Kita bisa buat apa sih?

Akupun jadi paham kalau akhirnya angka golput tahun ini akan meningkat tajam. Prediksinya di kota besar sekitar 40 persen dan di desa-desa sekitar 20-30 %, tetapi surat suara tidak syah di desa bisa mencapai 10 - 20 %.

Nah angka itu darimana kudapat?

Jawabnya gampang,"..... dari UNDIAN !:-)"

Minggu, Maret 29, 2009

Kebersamaan Warga Montana menjelang Pemilu


Pagi hari, berdua dengan LiLo aku keliling kompleks pakai sepeda tandem. Dua bel sepeda saling bersahut-sahutan dengan maksud mengajak teman-teman kompleks untuk keluar dan kerja bakti.

Ada dua acara yang harus kuhadiri di pagi hari ini, yang pertama acara kerja bakti dan sosialisasi pemilu 2009 di kompleks dan satunya bersih-bersih markas usaha bersama CiMart, yang merupakan bagian dari Komunitas Insan Mandiri atau Koperasi Mutiara Insan Mandiri.

Tadinya suasana tetap sepi, padahal acara seharusnya dimulai setengah jam lalu, akan tetapi begitu kerjaan mulai dikerjakan, maka berturut-turut para penghuni kompleks mulai bermunculan.

Pak RT mulai memberi contoh mbersihkan got


Dimulai dari bersih-bersih got, akhirnya sampai pada kerjaan bongkar "man hole". Banyak sekali sampah yang seharusnya tidak masuk saluran ini, tetapi begitulah yang terjadi. Aneka ragam sampah masuk ke saluran air dan akibatnya sudah jelas, bila hujan
tiba air tetap saja menggenang.


anak kecilpun ikut

sampah yang mestinya tidak masuk ke got


Penggerak kerja bakti yang tak kenal lelah

Suasana yang tadinya sepi, makin lama makin meriah. Para penghuni kompleks yang tadinya adem ayem di rumah masing-masing mulai mengeluarkan ilmunya masing-masing, bahkan seorang warga asing yang ikut acara kerja bakti itu tidak segan-segan untuk memegang barang yang mungkin sehari-hari tidak akan pernah dia pegang.

Tumpukan sampah yang menggunung tidak menyurutkan para pekerja amatiran ini. Salah seorang wargapun dinobatkan sebagai pahlawan kompleks karena begitu totalnya dia membersihkan got, sampai kepalanyapun ikut masuk ke dalam lobang yang gelap dan jelas beraroma "sangat wangi".


Pahlawan RT melihat proses akhir pembersihan "man hole"

Teknologi canggihpun dilakukan, yaitu dengan memasukkan handycam ke dalam lorong saluran, sehingga dapat diketahui barang apa saja yang membuat saluran di bawah jalan itu mampet.


hati-hati ke"cemplung" ya pak...!

Di kelompok lain, rupanya ada kegiatan tersendiri, yaitu menanam pohon buah [mangga] di beberapa titik jalan. Inilah semangat Go Green di kompleksku.


he..he..he.. dapet pohon gratis

Alhamdulillah, di depan rumahku juga ditanami satu buah pohon baru. Lumayan, tinggal siap-siap untuk merawatnya saja secara rutin.

Di kelompok lain lagi, ibu-ibu rupanya ikut komunitas NU alias komunitas penyedia Nasi Uduk untuk mereka yang giat bekerja bakti. Gurauan khas ibu-ibu jelas membuat suasana makin meriah. Tahu sendirilah kalau ibu-ibu sedang ngumpul.

penyedia nasi uduk montana

Begitu asyiknya bekerja bakti, sehingga seperti tidak mendengar ketika pak RT bilang bahwa sebaiknya sisa pekerjaan yang ada [menerobos lorong di bawah jalan] diserahkan saja pada ahlinya. Paling dengan biaya 200 ribu, got di bawah jalan itu akan bersih, karena sudah kita rintis dengan memindahkan segunung sampah dari dalam got itu ke pinggir jalan.

Saat itulah tiba-tiba pak RT mendapat berita dari relawan yang sedang ada di lokasi bencana alam Situ Gintung. Langsung saja berita itu disampaikan ke warga dan para wargapun langsung menyambutnya dengan menyumbang semampu masing-masing. Aku sendiri tidak bisa ikut acara itu, karena aku nantinya pasti hanya akan menjadi turis saja disana.

Kubaca di koran pagi ini, bahwa ”turis lokal” itu justru akan mempersulit proses evakuasi dari tim SAR ataupun tim yang lebih berpengalaman dalam proses itu. Aku juga lebih percaya pada relawan dari partai-partai yang ikut pemilu ini, karena kutahu bahwa mereka sudah cukup berpengalaman dalam menangani bantuan untuk korban bencana alam.

Ketika siang sudah makin menjelang, maka acara makan pagi yang kesianganpun dimulai. Nasi uduk lengkap dengan telor, ayam goreng, tempe goreng dan kawan-kawannya akhirnya mampir juga ke perut kita. Acara makan ini seperti biasa diiringi oleh musik khas RT kami, lagu dangdut RH Oma Irama dan lagu-lagu dari Tom Jones. Perpaduan yang khas banget.

Usai makan nasi uduk, mulailah pak RT melakukan sosialisasi pencontrengan kartu suara. Ger-geran kembali mewarnai acara sosialisasi ini. Pertanyaan silih berganti ditanyakan dan jawaban selalu membuat penonton makin paham dengan yang disampaikan oleh pak RT.

Masalah para penonton nanti akan memilih golput atau tidak, tetap akan menjadi rahasia penonton saja, meskipun pak RT menghimbau agar warga jangan golput.

asyik mendengarkan sosialisasi pemilu

ketua KPPS melakukan sosialisasi pemilu


orang asingpun ikut memperhatikan sosialisasi pemilu

”Kita tunjukkan rasa nasionalisme kita pada Nusa dan Bangsa”, kataku nyeletuk. Membuat para penonton tambah ger-geran. Apalagi ketika mereka mulai mengomentari salah saorang warga asing yang tidak punya hak memberi suara di pemilu ini.

””Bapak nyoblos yang lain saja ya pak”, kataku yang makin membuat penonton tertawa lepas.

Akhirnya acarapun diakhiri dengan suka cita di hati masing-masing. Kamipun pulang ke rumah masing-masing, karena sebentar lagi akan datang para petugas "FOGGING" untuk mengasapi rumah masing-masing warga.

Salut buat pak RT dan jajaran pengurusnya, tidak lupa buat teman-teman warga kompleks Montana yang begitu hangat mengisi acara pagi ini. Bersama memang terasa ringan.

Akupun siap-siap untuk menuju markas CiMarT. Ada acara bersih-bersih di sana.


narsis berjamaah

Minggu, Maret 22, 2009

Blog POLITIK



Satu lagi muncul situs politik yang diisi oleh kumpulan blogger. Isinya tentu politik dari kaca mata para blogger.

Silahkan simak cerita tentang caleg yang sehari-harinya menjadi penjual sate disini :
http://politikana.com/baca/2009/03/21/mau-nyontreng-mbak-sriati-penjual-sate-atau-yang-lain.html

dan masih banyak lagi cerita yang khas.

Situs ini juga menjadi khas karena, setiap tulisan selalu dikomentari dengan nilai +1 atau -1. Dinilai + bila lucu, menarik, keren, bagus dll.

Dinilai minus bila isinya promosi diri, gak penting atau malah cari masalah.

Diperlihatkan juga para penulis yang mempunyai penilaian baik, sehingga para penulis termotivasi untuk menulis yang baik atau dipermalukan oleh para pembacanya.

Kalau ada waktu silahkan menyempatkan main ke situs politikana

Rabu, Februari 25, 2009

Capres Alternatif : Jendral Dedi Naga Bonar

Menarik banget nih ucapan mas Dedi di detik com. Aku setuju banget dia mencalonkan diri sebagai Capres alternatif. Soal menang kalah itu urusan nanti.

Tujuannya mas Dedi jelas, memberikan alternatif warna lain dalam sosok capres Indonesia.

Aku tidak tahu apakah mas Dedi ini punya FB atau tidak, kalau dia punya FB, jangan-jangan malah kasus Obama terjadi pada mas Dedi [sambil nulis blog sambil search FB mas Dedi]. He..he..he.. ternyata mas Deddy Mizwar punya FB. Pasti seru deh cerita ini.

Kitapun jadi punya alternatif calon pemimpin yang lain dari pada yang lain. Aku hormati keputusan dan keberanian mas Dedi. Salut buat Jendral Naga ini.

Aku memang mendukung siapapun yang mau menjadi capres untuk negara yang sedang memerlukan pimpinan yang bisa memimpin dengan HATI.

Semakin banyak capres memang semakin pusing milihnya, tapi lebih baik pusing di awal daripada pusing di akhir.

Semoga sukses mas Dedi.

Aku dukung pencapresan mas Dedi, tapi masalah milih Mas Dedi saya tunggu program dari Mas Dedi dulu.

Salam Sukses.

 
source : detiknews

Minggu, Februari 01, 2009

Atribut Partai Yang Bikin Mata Sumpek

"Poster-poster Caleg ini kita bersihkan saja dari lingkungan kita pak Dhe. Pandanganku sumpek melihat wajah-wajah caleg yang selalu tersenyum di saat perlu saja, seperti saat ini", seperti biasa Khalid pasti langsung pada pokok permasalahan.

"Iya pak Dhe. Baliho partai XXX yang gedhe itu bahkan kemarin jatuh sendiri, gara-gara masangnya nggak bener. Untung nggak ada yang celaka gara jatuhnya baliho itu", timpal Udin.

"Kenapa ya para petinggi partai tidak melihat kondisi ini. Mereka kan orang-orang pinter. Seharusnya mereka tahu, pemasangan atribut partai yang tidak bener dan asal tempel itu jelas merusak keindahan, merusak lingkungan bahkan merusak budaya kita"

Seperti biasa, pak Dhe selalu menanggapi semua berondongan dari para pemuda mushola dengan senyum khasnya.

"Khalid masih inget waktu natalan kemarin?", kata pak Dhe pada Khalid.

"Lho apa hubungannya pak Dhe. Ya pasti inget donk. Itu kan pesta semalam suntuk di rumah Bang Marpaung"

"Nah, waktu itu Khalid ikut membantu mengatur lalu lintas di depan rumah Khalid. Ikut mengatur parkir, tetapi tetap saja banyaknya mobil membuat Khalid susah memarkir mobilnya sendiri. Belum lagi suara musik yang tidak berhenti sampai larut malam"

"Iya benar pak Dhe"

"Nah, waktu itu meskipun terganggu, tapi Khalid tetap tidak melakukan protes dan melaporkan kebisingan itu ke pak RT"

Khalid mulai menangkap arah pembicaraan pak Dhe.

"Nah, kamu Udin. Waktu lebaran kemarin apa yang dilakukan oleh Pak Kiai Sudrun dan keluargamu?", pak Dhe berpindah tanya ke Udin.

"Yah, kita adakan acara makan bersama dari pagi sampai malem. Maklum saudara pak Kiai dan juga kenalan pak Kiai sangat banyak. Mereka datang dari segala penjuru kota maupun desa. Keluargaku yang juga banyak malah ikut diundang di rumah pak Kiai, yah karena pak Kiai memang sangat dekat dengan anak-anakku", jawab Udin.

"Terus apa komentar Bang Silitonga? Apa dia terganggu dengan keramaian tetangga dekatnya itu?", kata pak Dhe

"He..he...he... pak Silitonga malah nyumbang nyanyi pak Dhe. Dia baru gelagapan ketika disapa oleh pak Kiai Ageng, soalnya pak Silitonga fasih nyanyi lagu arab tapi gak bisa bahasa arab sedikitpun", kata Udin tertawa kecil.

"Jadi begitulah suasana di republik kita ini. Anggap saja ini lomba masak nasi goreng, jadi ya kita beri kesempatan yang mau ikut lomba untuk menyiapkan diri dengan caranya masing-masing"

"Memang diperlukan tenggang rasa dari semua pihak. Para petinggi partai perlu mengarahkan mesin partainya agar tidak masang atribut partai sesuka sendiri dan diperlukan tenggang rasa dari kita, non partai, bila melihat pemasangan atribut partai yang tidak sesuai dengan aturan. Ini pesta rakyat dan kita sebaiknya ikut berpartisipasi dengan baik dan benar"

"Mereka itu hanya baik di saat seperti ini pak Dhe. Kalau pemilu sudah usai, maka mana mau mereka melihat lagi pada kita. Mereka memberi janji bukan bukti pak Dhe", Khalid tetap sengit bila membahas partai.

"Pesta, dimana-mana memang perlu tenggang rasa dari semua pihak. Namanya saja pesta, jadi hanya sekali-sekali, tidak tiap hari"

Pak Dhe diam sejenak menanti reaksi pendengarnya.

"Saat ini para calon wakil rakyat sedang memeras otak agar menemukan cara terbaik untuk memajukan republik ini. Mari kita bantu mereka dengan memberi ruang yang cukup. Biarkan mereka menebarkan pesonanya, menebarkan programnya, agar bisa dinilai oleh kita-kita ini. Yang baik kita pilih yang tidak baik ya tidak usah kita pilih"

"Aku golput kok pak Dhe. Tidak haram kan?" Udin bertanya sambi melihat ke Khalid.

"Aku tahu, kamu dan Khalid pelopor golput di pabrik ini. Itu hakmu dan tidak ada yang bisa merubah hakmu itu kecuali kamu sendiri, tapi jangan paksa orang untuk golput. Mereka juga punya hak untuk memberikan suara atau tidak memberikan suara", kata pak Dhe sambil tetap tersenyum.

"Yang penting jangan sampai partai itu membuat kita terkotak-kotak. Jangan sampai persaudaraan kita, pertemanan kita, kekerabatan kita tergangu oleh pesta yang hanya sesaat ini. Kita bisa toleransi dengan umat lain tentu bisa juga toleransi dengan sesama penduduk Indonesia"

"Pak Dhe sendiri milih partai mana ya?", penasaran Khalid bertanya ketika melihat pak Dhe beranjak dari duduknya menuju ke ruang wudhu.

"Jangan-jangan pak Dhe milih partai cerdas yang suka kampanye mengatas namakan Islam itu ya?", Udin ikut beringsut mendekati pak Dhe.

Pak Dhe menepuk-nepuk pundak Khalid ketika dia berkata, "Aku perlu sholat tahajud dulu di malam menjelang hari "H", agar dipilihkan partai yang paling cocok untuk Indonesia. Semua partai baik, sehingga aku perlu meyakinkan diriku dengan bertanya pada yang Maha Tahu."

Khalid manggut-manggut dan mulai berpikir untuk mengikuti saran pak Dhe.

"Golput itu pilihanku, tapi aku juga bebas berubah pikiran", pikir Khalid sambil tersenyum cerah.

Kamis, Desember 25, 2008

25 Desember 2008 dan Pemilu 2009

Setiap tanggal 25 Desember, aku selalu inget dengan mas Budi. Dia adalah Panglima Lapangan saat aku masih aktif kampanye tahu 80an.

Kita satu partai dan satu korcam, sehingga selalu barengan jika kampanye. Dia memiliki keahlian mengerahkan masa dan memunculkan rasa aman bagi peserta kampanye, sementara aku bertugas memastikan kampanye terlaksana dengan baik dan benar.

Artinya aku harus memastikan semua sumber daya yang dibutuhkan, telah siap mendukung acara kampanye itu.

Sebelum masa kampanye bareng mas Budi, aku juga sudah ikut kampanye di periode sebelumnya [tahun 70an]. Saat kawan-kawanku berbaju merah aku berbaju hijau. Yang paling mengesankan, ketika aku ikut rombongan pawai dan motorku mogok, dan yang menolongku adalah para peserta pawai yang berbaju merah. Rasanya guyub banget suasana kampanye waktu itu.

Kalau gak salah waktu itu jari tangan yang satu mengacungkan satu jari dan tangan yang satunya 3 jari. Hal itu melambangkan kekompakan peserta pemilu nomor urut satu dan nomor urut tiga.

Untuk pemilu 2009, aku nggak bisa mbayangin kalau yang kompak adalah partai nomor 15 dan 17, gimana caranya mennjukkan dengan jari tangan. Mungkin jaman sudah berubah, sehingga kampanye model pawai sudah "nggak jamannya" lagi sekarang.

Tahun 80an itu satu kejadian yang membuat aku akhirnya berpikir panjang untuk mendukung parpol adalah ketika kita mengadakan pawai akbar di COndong Catur.

Sebelumnya, beberapa baliho kita sudah dibelah oleh orang tak dikenal, sehingga suasana panas sudah menghinggapi peserta pawai. Kalaulah, di saat itu, diketahui siapa pembelah baliho kita, pasti saat itu juga akan dirajang-rajang habis.

Begitulah kalau masa sudah berkumpul, akal sehatpun sudah mulai ditinggalkan.

Kampanye hari itu [pawai] baru berlangsung beberapa saat, tiba-tiba terdengar suara letusan senapan dari balik pohon tebu, saat kita melewati pinggir perumahan Condong Catur yang bersebelahan dengan ladang tebu.

Beberapa anggota keamanan pawai langsung berlari mencari arah tembakan, tetapi tidak sedikit yang berlari menjauh. Aku yang tidak berada di tempat kejadian, hanya mendengar berita saja.

Tahu-tahu aku harus menuju ke beberapa rumah sakit, karena beberapa teman telah berjatuhan dari motor mereka ketika beberapa peluru menerjang mereka.

Aku cek di RS Bethesda, ada beberapa teman yang sudah nungguin, demikian juga yang ada di Sardjito. Terakhir aku sampai di PKU Jl KHA Dahlan, ada dua orang yang masuk ke ruang gawat darurat.

Hari itu memang semua RS sedang kebanjiran pasien, rata-rata karena jatuh dari sepeda motor.

Ketika aku masuk ke ruang gawat darurat, maka yang kulihat hanya mas Budi seorang. Wajahnya yang sudah pucat semakin pucat karena dia mendengar bahwa akan ada operasi untuknya.

Panglima lapangan yang gagah berani ini, rupanya tidak takut akan sabetan kelewang tetapi takut pada meja operasi. Tidak ada cara lain, akupun mencoba menghiburnya, menenteramkan hatinya, bahwa operasi akan dilakukan oleh tenaga yang berpengalaman dan peluru yang bersarang di dadanya bukan peluru tajam.

Jadi take it easy aja. Padahal aku sendiri paling takut melihat darah, tapi sebagai penanggung jawab kegiatan pawai, aku harus berpura-pura tenang [sambil mikir kapan operasi dimulai dan aku bisa segera keluar dari ruangan ini].

Ternyata begitu operasi akan dimulai dan pasien dipindahkan ke kamar operasi, tiba-tiba tangan mas Budi langsung mencengkeramku. Tak ada tanda cengkeraman itu akan dilepas biarpun kita sudah masuk di ruang operasi.

Yang lebih kacau lagi, ternyata dokter memperbolehkan permintaan pasien untuk didampingi oleh temannya selama operasi berlangsung.

Halah.... ini aturan mana lagi.

Di ruang operasi, dokter adalah panglima tertinggi, dan akupun akhirnya menemani acara operasi itu dengan duduk diam disamping pasien dan tanganku dicengekram erat oleh mas Budi.

Alhamdulillah, operasi selesai juga dengan cepat [meskipun terasa lamaaaa sekali].

Begitu keluar dari ruang operasi, maka teman-teman sudah menunggu arahanku. Disinyalir, penembak rombongan pawai kita adalah dari partai pesaing pemilu. Namun hal ini susah dibuktikan, karena yang ada hanya tanda-tanda dan bukan bukti akurat.

Penembaknya diduga kuat adalah preman yang badannya penuh tato, tapi sekali lagi ini hanya sampai pada dugaan semata.

Meski demikian, saat itu, kita sangat yakin bahwa dialah pelakunya, hanya saja kita tidak punya buktinya.

Akupun akhirnya menuju ke kantor partai yang berada di antara sungai winongo dan stasiun Tugu.

Disitulah, kulihat para petinggi partai kita sedang berhaha hehe dengan partai yang kita anggap sebagai penembak kawan kita.

Kulihat bosku [ketua pelaksana pawai akbar] sudah ada di situ juga, demikian juga beberapa pengurus inti penyelenggara pawai. Mereka tampak dalam suasana putus asa.

Mereka rupanya putus asa, karena telah menyampaikan berita meninggalnya teman yang ikut pawai, tetapi tidak ditanggapi dengan serius.

Akupun jadi terpekur sendiri. Aku mencoba mencari hikmah dari kegiatan hari ini, dan ternyata aku sama sekali tidak dapat menemukannya. Aku terlalu larut dalam suasana hati teman-temanku, sehingga akal sehat sudah tidak ada tempat lagi.

Hari itupun berlalu dalam suasana yang penuh rasa penasaran.

Peristiwa itu akhirnya tekah menyadarkan aku, bahwa kita ini hanya pion yang benar-benar-benar berfungsi sebagai pion. Apa sih arti pion dibanding gajah atau kuda?

Kutelusuri kejadian-kejadian sebelum aku masuk dalam partai yang sudah kutinggalkan ini.

Pemilu periode lalu telah tidak memuaskan aku, sehingga aku telah bejanji untuk tidak aktif lagi di partai.

Begitulah, ketika teman-teman pada aktif kampanye, aku lebih sering nongkrong di masjid atau jalan-jalan ke kota, melihat-lihat pertunjukan seni.

Sampai akhirnya kulihat teman-teman di masjid pada membuat poster, selebaran untuk partai tertentu. Tentu hasilnya kurang layak dipandang, sehingga akupun tergerak untuk membantu mereka, kebetulan di masjid aku punya kegiatan sebagai tukang buat poster, spanduk dll, sehingga peralatanku lengkap dan dalam kondisi laik pakai.

Berawal dari hal itulah, maka mulai timbul rasa pertemanan yang kuat di antara kita, sehingga akupun mulai masuk kembali dalam lingkaran partai itu. Sebagai kelompok minoritas [karena kami tinggal di komplek yang 90% adalah PNS], maka kelompok inipun berjalan secara sembunyi-sembunyi.

Sayangnya, model tulisanku sudah sangat familiar di lingkunganku, sehingga akhirnya aku direkrut untuk jadi pengurus inti di korcam itu.

Semuanya mengalir begitu saja, tahu-tahu aku sudah aktif lagi di kepartaian.

Kejadian dua puluh tahun lalu itu ternyata masih membekas sampai saat ini, dan akupun tidak pernah lagi kampanye, kecuali saat dapet surat tugas dari kantorku untuk ikut kampanye [lumayan ikut kampanye, dapet kaos dan duit, nggak kayak dulu harus beli kaos sendiri dan gak ada yang mbayar].

Tahun 2009 sudah dekat dan aku masih belum menentukan pilihan partai. Kurasa SBY bakal jadi presiden lagi, wakilnya bisa tetep dari Golkar atau malah dari PKS.

Gak tahulah nanti jadinya, para ahlipun pendapatnya berbeda-beda. Bayanganku saja, bahwa PKS akan laris manis dipinang oleh partai lain, karena partai ini masih dianggap lebih bersih dan santun dibanding partai lain.

Semoga yang golput nggak banyak-banyak, karena meskipun GOLPUT itu hak mereka, tetapi kalau sampai yang golput sangat dominan, maka biaya yang dikeluarkan untuk pemilu ini jadi mubadzir.

Majulah Indonesiaku, mari kita terus tersenyum dengan ikhlas dalam doa-doa kita.
Semoga yangterbaik yang terjadi di negara kita ini.

Insya Allah.
Amin.

Jumat, November 21, 2008

Presiden 2009 : SBY [lagi???]

Mendekati tahun 2009, gaung capres masih malu-malu terdengar. Sultan HB X, tidak pernah mengakui keinginannya untuk jadi Capres. Dia hanya bersedia untuk dicalonkan sebagai Capres. Demikianlah bahasa politiknya [kira-kira begitu ya...].

Orang Yogyapun terbelah, antara mendukung Sultan sebagai Capres atau mempertahankan Sultan sebagai pengayom di Yogya.

Capres yang sudah yakin akan kekuatannya memang sudah mencanangkan diri, maju sebagai Capres. Megawati, misalnya, sudah pasti mengajukan dirinya sebagai Capres dengan PDI P sebagai kendaraannya.

Golkar belum tegas mau mencalonkan siapa sebagai Capresnya. Golkar masih "wait and see", sementara partai Demokrat dipastikan akan mengajukan SBY sebagai capresnya. Kelihatannya ada keraguan dari Golkar untuk mendukung kadernya [Sultan HB X] sebagai capres, sementara itu dukungan dari partai non Golkar justru terus mengalir ke Sultan.

Disini ada fenomena "Blarak" Obama yang menjadi presiden dengan karir awal sebagai gubernur. Mungkinkah Indonesia akan meniru Amerika?

Persyaratan Capres tahun 2009, membuat tidak ada partai yang bisa mencalonkan Capresnya tanpa harus melakukan koalisi.

Para pengamatpun mulai berhitung. PDI P mungkin akan merangkul partai yang punya basis Islam, sehingga mungkin akan kembali mendekati para pengikut NU [mulai dari PKB, sampai P3].

Sementara itu, Golkar bila sudah tidak mau gabung dengan Demokrat, mungkin akan melirik partai Islam lain, selain pengikut NU. Bisa jadi mereka akan merangkul Yusril sebagai cawapresnya, tentu bersama dengan partai pendukungnya.

Saat ini kepercayaan rakyat terhadap partai terlihat makin anjlok. Secara kasar ini ditandai dengan tingginya swing voter [berdasar hasil survey Lembaga Survei Indonesia].

Hal ini akan sangat menguntungkan presiden saat ini [SBY]. Bukan tidak mungkin "Swing voter" atau perilaku pemilih yang tidak terikat oleh sebuah partai politik akan memberikan suaranya pada SBY, presiden yang sudah membuktikan dapat bertahan dengan baik, meskipun selalu didera bermacam kasus, mulai dari blue energy sampai super toy.

Siapa pasangan SBY yang paling pas?

Saat ini, dengan kreatifitas yang begitu tinggi dari PKS, maka bukan tidak mungkin pada pemilu 2009 nanti PKS akan melejit perolehan suaranya, sehingga akan nyaman bersanding dengan SBY.

Koalisi Demokrat dan PKS dipastikan akan mendulang banyak perolehan suara. Citra sebagai partai bersih, sampai saat ini masih belum luntur dari PKS, sehingga tentu akan makin memperkuat pasangan Demokrat PKS.

Benarkah demikian?

Hanya Tuhan yang tahu. Tulisan ini hanya coretan dari orang yang tidak faham politik kok. Sok-sokan saja nulis tentang Capres [sambil berdoa, semoga Presiden 2009 adalah putra terbaik Indonesia yang mampu membuat Indonesia Bangkit ! Amin]

Salam