Tampilkan postingan dengan label capres. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label capres. Tampilkan semua postingan

Rabu, Juli 08, 2009

Yuk Kita Kawal Pilpres 2009 dengan baik

Pulang dari kantor, aku langsung mandi, kemudian bercengkerama dengan anak dan istri sebentar dan tahu-tahu jam sudah menunjukkan waktu untuk mengikuti acara rapat KPPS di Masjid.
Pak RW sudah bicara panjang lebar ketika aku datang [waduh telat nih, jadi malu ati deh]. Akupun cari tempat duduk yang kosong, kebetulan ada di antara pak Arry dan pak Nur, dua orang yang terlihat paling ganteng di rapat itu [aku ketularan ganteng atau tenggelam di antara kegantengan mereka ya?]

Satu demi satu agenda rapat dibahas pak RW dan akhirnya sampailah pada hitung-hitungan biaya pelaksanaan pilpres besok pagi.

"Seperti biasa, untuk konsumsi kita nombok, jadi jatah kompensasi dari pemerintah kita potong ya, kecuali untuk linmas, tidak kita potong untuk konsumsi, hanya dipotong pajak saja ...."
"Hahaha...", kamipun tertawa maklum.
"Untuk biaya tenda juga nombok ya..."
"Hehehe...", kembali kami tertawa bersama
"Oke, kalau sudah jelas semua mari kita ke TKP masing-masing untuk melakukan cek terakhir sebelum pulang ke rumah masing-masing", pak RW mengakhiri penjelasannya




Pak Arry terlihat menghitung uang yang diterimanya. Pecahan uang yang besar-besar kutukar menjadi pecahan yang lebih kecil dan kamipun kemudian pergi ke lokasi TPS 23,
"Eh..jangan lupa baju seragam kita besok pakai kaos putih berkerah dan pakai celana jins. Biasa juga, pakai baju sendiri-sendiri. Boleh pakai sendal dan boleh juga pakai sepatu"
Suasana bener-bener seperti pileg beberapa bulan lalu. Kami bercanda ria merapikan TPS 23, tempat besok kami bertugas.
"Pak Nur sudah bawa jarik kan?", kataku
Pak Nur sambil tersenyum segera menuju ke tempat dia menyimpan kain batik yang akan dipakai untuk menutup bilik pencoblosan.
"Wah paku pinesnya gak ada, harus nyari paku dulu untuk masang kain batik ini", kata pak RT
Dasar pak Arry idenya ada saja, maka sambil menunggu datangnya paku pines, dicobanya untuk tetap memasang kain batik itu. Pak RT senyum-senyum saja melihat pak Arry.
"Wah, pak Arry pakai kaos Cimart sambil promosi ya?", kata pak RT bergurau
"Aku ngambil foto kaos pak Arry lho bukan motret orangnya", kataku menimpali guyonan itu.
"Solusi belanja hemat, CiMart ! mantap bener nih slogannya"
Kamipun kembali tertawa bersama.




"Ada warga kita yang sakit stroke nih, gimana besok caranya dia nyontreng ya?", pak KetuaKPPS mulai membuka pembicaraan tentang kasus-kasus yang diperkirakan besok akan terjadi.
Semua kasus kita pecahkan dengan kepala dingin dan penuh canda tawa, sampai akhirnya sudah tidak ada lagi pekerjaan tersisa dan kasus-kasus yang diperkirakan tyerjadi sudah mempunyai pemecahan masing-masing.
Semoga besok acara pilpres ini berakhir dengan sukses dan khidmat, seperti suasana pemilihan RW dan pemilihan caleg beberapa waktu lalu. Soalnya aku punya acara mengantar anak istri ke stasiun KA. Mereka akan ke Yogya untuk menyelesaikan pendaftaran ke SMAN I [walah malah curhat, dasar mau promosi diri nih, alias narsis kebablasen]
Insya Allah, Amin.
Malam ini hanya satu orang saksi yang melaporkan dirinya. Waduh, pada kemana saksi dari capres yang lain ya? Apakah terjadi lagi seperti pemilihan caleg kemarin, jumlah saksi tidak sesuai dengan jumlah yang dicontreng?


Gak tahulah, yang penting, ada atau tidak ada saksi pelaksanaan pilpres tetap akan berjalan dengan baik. Amin.
SIAP GRAK !

TPS 23 selesai disiapkan
Mari kita dukung siapapun presiden kita
...
.
...
.

Senin, Juni 08, 2009

Polling Capres dan Radio Delta

Pagi ini, Senin tanggal 8 Juni 2009 yang indah dan menyegarkan, Farhan kembali berceloteh tentang polling presiden yang diadakan oleh beberapa lembaga.



Yang dibahas mulai dari detik dot com, kompas maupun republika online. Yang terakhir adalah survei dari LSI. Hasilnya cukup mencenggangkan, karena berbeda-beda. Ada yang selesai satu putaran dan ada yang perlu putaran kedua. Ada yang memenangkan capres nomor X dan ada yang memenangkan capres nomor bukan X.

Mana yang benar?

Hanya Allah yang tahu [he..he..he..]

BTW kalau pingin berpartisipasi dalam acara 'just having fun" ini, maka silhakan klik polling di blog ini [di ujung kiri atas blog].

Kelihatannya banyak pembaca blogku yang belum tertarik untuk menngisi polling capres. Berbeda dengan saat polling pileg yang sudah kita lakukan bersama. Hasil pollimng PileG di blog ini, mirip dengan hitungan resmi pemerintah. Artinya pembaca blog ini mirip dengan komposisi rakyat Indonesia.

Selamat ngeklik polling presiden di blog ini. Masih ada 27 hari tersisa per hari ini, 8 Juni 2009, jadi masih bisa bersabar dulu, menunggu waktu yang tepat.

Terima kasih telah ikut berpartisipasi untuk kesenangan kita bersama, memeriahkan acara pilpres.

Salam

Senin, Maret 02, 2009

Indonesia Tersenyum menyambut DM

"Dul, lu jadi milih Bang Deddy?"

"Jelas donk, siapa lagi yang bisa dipilih bang?"

"Kenapa sih milih bang Deddy?"

"Yah.. abang ini. Selama ini kita sudah sering milih aktor politik yang hanya bisa bikin janji tapi giliran ngasih bukti, he..he..he.. dia malah ngomong yang lain. Cape' deh..."

"Emang kalau bang Deddy bisa ngasih bukti?"

"Lho, aktor poltik aja udah nggak bisa ngasih janji apalagi aktor beneran, ya lebih banyak janjinya donK. Ha...ha..ha..ha..."

Berderailah tawa para pemuda yang nongkrong di kantin itu. Pembicaraan tentang politik memang hampir selalu mewarnai suasana makan siang di kantin. Apapun topik obrolannya, akhirnya masuk juga ke ranah politik.

Karena yang terlibat dalam obrolan adalah orang yang buta politik, maka analisanyapun dijamin awur-awuran. Analisa yang ngalor ngidul itu justru menjadi bumbu penyedap topik pembicaraan. Apalagi ketika Udin yang kocak ikut bergabung.

Namun obrolan yang makin penuh canda tentang pencalonan Deddy Mizwar tiba-tiba berhenti ketika sosok laki-laki berkaca mata minus masuk ke kantin.

"Hey.. kok tiba-tiba berhenti ngobrolnya. Dari luar tadi kudengar rame banget ketawanya?", kata lelaki itu.

"Ngga apa-apa Bang, ini kawan-kawan tadi baru ngobrolin pak Dhe", jawab Ade sekenanya.

"Gak biasanya kalau ngobrol tentang pak Dhe kalian bisa ketawa begitu lepas. Biasanya kalau ngobrol tentang pak Dhe pasti masalah mushola atau masalah serikat pekerja, nggak pernah sampai pakai ketawa kayak tadi", penasaran sang lelaki itu kembali mengejar dengan pertanyaan yang membuat suasana jadi hening dan peserta obrolan siang di kantin itu jadi serba salah.

"Gini mas Khalid, yang kita obrolkan memang bukan pak Dhe kita tetapi pak Dhe..di Mizwar", akhirnya Udin yang angkat bicara, karena melihat teman-temannya pada celingukan

"Memang kenapa dengan Deddy Mizwar? Bukankah boleh dia mencalonkan diri?", Khalid kembali bertanya.

Obrolan jadi terasa berat, karena materi obrolan adalah ranah politik yang diobrolkan oleh orang yang ngefans dengan seseorang capres dan peserta obrolan lainnya adalah mereka yang semi-semi golput.

"Apa kalian tidak paham dengan kondisi Indonesia saat ini yang carut marut. Apa kalian tidak paham dengan kelakuan para politikus yang wajahnya terpampang dimana-mana dan janjinya juga sudah kemana-mana"

"Para politikus itu tiap pemilu selalu menebar janji tanpa ada bukti dan mereka selalu memperbarui janji mereka, setiap pesta rakyat ini datang lagi"

"Lalu apa sih yang diharapkan dari mereka?"

Berapi-api Khalid menyampaikan pandangan politiknya. Sementara para pendengarnya sudah kehilangan selera untuk berhahahihi dengan topik politik.

Khalid baru berhenti bicara ketika pak Dhe memasuki kantin untuk makan siang. Biasanya, kalau sudah begini para pengobrol itu sudah mulai "cabut" dari kantin dan ngeloyor kemana-mana. Mereka rata-rata sungkan kalau ketawa terlalu lepas di depan pak Dhe.

Pak Dhe sendiri tidak seperti biasanya, dia tidak langsung pesan makan tapi malah mendekati kerumuman para pengobrol.

"Assalamu'alaikum", sapa pak Dhe lengkap dengan senyum khasnya.

"Wa'alaikum salam", serempak para pengobrol menjawab.

"Nanti malem, pulang kerja sampai menjelang maghrib akan ada ngobrol-ngobrol tentang pencalonan Mas Dedi sebagai pimpinan kita. Ada yang tertarik ikut?"

Terperangahlah mereka dengan undangan pak Dhe. Begitu hebatnya pengaruh Deddy Mizwar, sehingga seorang pak Dhe yang tidak jelas partainya ternyata akhirnya mengajak diskusi tentang Deddy Mizwar.

Pak Dhe biasanya hanya mau berdiskusi tentang kemaslahatan umat atau tentang memakmurkan mushola perusahaan dan selalu jauh dari hiruk pikuk politik, kecuali saat membahas toleransi terhadap gambar para caleg yang mengotori wajah jalanan.

“Memang siapa yang menggagas pertemuan itu pak Dhe”, Khalid langsung antusias.

“Pak Anton tuh. Aku sih seneng banget ada orang baru yang ikut jadi calon pemimpin kita. Hukumnya wajib didukung”, kata Pak Dhe.

Para pendengar jadi makin bingung dengan sikap pak Dhe. Rasanya ada yang aneh dengan sikap pak Dhe kali ini.

“Jadi pak Dhe mendukung juga ya?”, Khalid langsung bertambah antusias.

“Pasti Khalid. Aku pasti mendukung Dedi. Ha..ha.. dia berani bener tuh mencalonkan diri”, kali ini pak Dhe menebar ketawanya, sehingga para pendengar makin merasa ada yang aneh, tapi tidak bagi Khalid. Rasanya dukungan pak Dhe terhadap Dedi sangat berarti bagi dia.

“Bener pak Dhe mau milih dia?”, lanjut Khalid terus antusias.

“Wah, kalau memilih belum tentu. Aku masih perlu melihat programnya dan harus kubandingkan dengan program calon yang lain. Serikat Pekerja kita kan harus dipimpin oleh orang yang punya program jelas. Biarpun muda kalau Dedi punya program jelas, ya tentu kupilih tapi kalau programnya tidak jelas atau asal bikin sensasi, ya aku milih calon lain yang lebih baik programnya.”, pa Dhe menjelaskan dengan lebih hati-hati, karena dia merasa dikejar oleh Khalid.

“Pak Dhe, sebenarnya yang kita bahas ini Dedi yang mana sih?”, tak sabar, akhirnya Udin ikut bertanya.

“Ya Dedi karyawan bagian audit itu. Memang Dedi yang mana lagi yang dibahas. Rasanya hanya satu Dedi di perusahaan ini.”, pak Dhe balik bertanya.

“Tak kirain pak Dhe mbahas Deddy Mizwar”, kata Udin lega. Ketawapun kembali berderai di kelompok ini. Seperti biasa pak Dhe cukup tersenyum saja memandangi mereka yang sedang tertawa geli.

“Aku makan dulu ya, silahkan diteruskan obrolannya. Sampai ketemu nanti sore. Assalamu’alaikum”, ucap pak Dhe sebelum meninggalkan pembicaraan.

“Wa’alaikum salam”, jawab para pengobrol dengan perasaan masing-masing.

Pak Dhepun ngeloyor ke meja makanan meninggalkan kelompok salah sambung di belakangnya.

Khalidpun dengan mantap tetap yakin bahwa Indonesia perlu tersenyum menyambut kebebasan berpolitik yang ada saat ini.

Udin dan kawan-kawan juga sepakat untuk memberikan dukungan terhadap pencalonan DM, tetapi belum memutuskan untuk memilih DM. Mereka terisnpirasi dengan dukungan pak Dhe terhadap Dedi calon Ketua Serikat Pekerja perusahaan.

Pilih yang anda sukai dan jangan tergoda janji yang selalu manis di mulut.

Rabu, Februari 25, 2009

Capres Alternatif : Jendral Dedi Naga Bonar

Menarik banget nih ucapan mas Dedi di detik com. Aku setuju banget dia mencalonkan diri sebagai Capres alternatif. Soal menang kalah itu urusan nanti.

Tujuannya mas Dedi jelas, memberikan alternatif warna lain dalam sosok capres Indonesia.

Aku tidak tahu apakah mas Dedi ini punya FB atau tidak, kalau dia punya FB, jangan-jangan malah kasus Obama terjadi pada mas Dedi [sambil nulis blog sambil search FB mas Dedi]. He..he..he.. ternyata mas Deddy Mizwar punya FB. Pasti seru deh cerita ini.

Kitapun jadi punya alternatif calon pemimpin yang lain dari pada yang lain. Aku hormati keputusan dan keberanian mas Dedi. Salut buat Jendral Naga ini.

Aku memang mendukung siapapun yang mau menjadi capres untuk negara yang sedang memerlukan pimpinan yang bisa memimpin dengan HATI.

Semakin banyak capres memang semakin pusing milihnya, tapi lebih baik pusing di awal daripada pusing di akhir.

Semoga sukses mas Dedi.

Aku dukung pencapresan mas Dedi, tapi masalah milih Mas Dedi saya tunggu program dari Mas Dedi dulu.

Salam Sukses.

 
source : detiknews