Tampilkan postingan dengan label macet. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label macet. Tampilkan semua postingan

Rabu, Juli 07, 2010

I Love Monday

Hari Senin selalu memunculkan tantangan yang berbeda dan aku sangat menyukainya. Perlu perhitungan yang cermat agar tidak kepagian dan tidak kesiangan saat masuk di jalan tol Cikampek Jakarta.

Bila kepagian, maka puluhan konvoi kendaraan besar akan membuat laju kendaraan kita jadi terhambat. Truk dan Bus memadati jalur tol saat dini hari. Mereka ada di semua lajur, baik kiri, tengah maupun kanan yang seharusnya hanya untuk lajur mendahului.

Biasanya aku ditemani radio Gema Annisa (RGA) saat meluncur dari rumah dan ganti channel ke Radio Dakta begitu sudah sampai di jalan tol Cikampek Jakarta  Km 30. Saat macet mulai melanda, maka teman di jalan bertambah dengan aplikasi PLURK yang tertanam di ponsel. Artinya kalau aku sudah mulai nulis di PLURK, maka laju kendaraan sudah melambat atau berhenti beberapa saat.

Menjelang pintu tol Pondok Gedhe, sebelum membayar tiket tol, maka channel kuganti ke Radio GEN FM. Lalu  lintas yang kacau balau sering jadi terlupakan kalau sudah mendengar ocehan Kemal Gendut yang selalu segar.Kadang aku juga ndengerin Farhan di Deltanesia. Musiknya sering cocok dengan tema yang disampaikan Farhan.

Bila jalanan benar-benar macet, maka aku akan sempat mendengarkan dua kali acara salah sambung, yaitu di jam 6.30 dan 7.30.

Senin, 5 Juli 2010, lalu lintas tiba-tiba berubah karakternya. Baru masuk jalan tol sudah terjadi perlambatan beberapa kali. Kulihat ada beberapa kendaraan besar yang terduduk di pinggir jalan dan menyebabkan menurunnya laju kendaraan.


Namun belum sampai Bekasi Timur, laju kendaraan benar-benar sudah tidak seperti karakternya lagi. Kalau sudah begini, maka secara reflek tanganku langsung memencet channel El Shinta.

"Saya berangkat dari rumah jam 2 siang dan seharusnya dalam waktu dua jam saya sudah sampai tol Jagorawi, tapi sampai saat ini saya masih terjebak di Puncak. Sudah 15 jam saya disini menikmati kemacetan ini mbak", begitu suara salah satu pendengar radio yang dihubungi oleh El Shinta.

"Saya sudah mematikan mesin sejak semalem. Kalau nanti sudah bergerak, biasanya hanya 1 atau 2 meter berhenti lagi dan mesin kembali saya matikan",

Beberapa diskusi antara pendengar radio El Shinta dengan Penyiar Radio dan pejabat dari Kepolisian berlangsung dalam suasana yang teduh dan adem. Tidak ada lontaran caci maki di antara mereka. Polisinya ngayomi dan pendengar El Shinta juga sangat memaklumi bahwa semua ini bukan kesalahan polisi.



"Banyak sekali simpul-simpul yang harus diurai di beberapa titik dan saya tidak berani menjanjikan jam berapa kemacetan ini akan mencair", begitu kata pak Polisi.

"Penyebab terbesar kejadian ini adalah ketidak sabaran para pengemudi kita. Di beberapa simpul kemacetan terlihat bahwa para pengguna jalan itu memakai jalan yang bukan haknya. Mereka yang seharusnya sabar menunggu antrian, sering menyerobot jalur kanan milik pengguna jalan dari arah berlawanan, sehingga begitu macet menjadi sangat susah diurai"

"Disini memang diperlukan kedisiplinan kita dalam menjadi pemakai jalan yang bukan milik pribadi tapi milik bersama. Ada etika berkendara yang harus kita patuhi bersama."

Hari Senin, 5 Juli 2010 ini memang ajang untuk latihan sabar yang sangat menantang. Semoga saat mudik dua bulan lagi, kondisi lalu lintas tidak separah hari ini. Baca tips mudik agar kita semua dapat menjadi pengguna jalan yang baik.

I Love Monday very much.
+++

Salut buat para pengatur lalu lintas Jalan Tol.

Sabtu, September 26, 2009

Jakarta, aku datang [lagi]

Setahun lalu, aku melakukan proses kepulangan ke jakarta dengan model yang sama dengan tahun ini. Aku ikut acara HBH [halal bi halal] Waskita dan kemudian langsung nyuri start balik lagi ke Jakarta, begitu acara Waskita selesai.

Kawan-kawan langsung memberi komentar ketika tahu aku mau pulang malam itu juga.

"Dab, jalan macet lho...!"

"Tunggu setelah jalan sepi kenapa?"

"Macetnya sudah dua jam di Nagreg. Ada 4 km antrian yang jalannya benar-benar macet!"

Kucoba baca berita di ponsel, memang terlihat foto kemacetan via CCTV yang terpasang di lokasi kejadian. Sempat miris juga, tetapi akhirnya tekad dibulatkan. Aku harus pulang malam ini juga. Doa ibu sudah kupegang dan semua dalam kondisi siap berangkat, jadi tidak ada alasan untuk menunda keberangkatan.

Penundaan ini hanya akan melemahkan niat dan akan memberi preseden buruk untuk "ACTION"-ku yang akan datang. Aku perlu meyakinkan diriku, bahwa setiap action yang kubuat harus kulaksanakan dan harus yakin bahwa hasilnya adalah sesuatu hal yang paling baik buatku.

Insya Allah, Bismillah...

Kamipun meluncur menembus semua tapal batas daerah. Tak sadar tahu-tahu sudah masuk waktu subuh. Wah... ini pasti gara-gara PLURK dan Fisbuk. Rasanya anak istri tertidur sudah tidak jadi masalah lagi. Ada kawan yang lebih setia menemani. Hahaha...aku rupanya terkena demam social network [baru nyadar ya?]




Mampir di pom bensin, masuk toilet dan kaget ketika membersihkan diri dari BAK. Wuisss......airnya ternyata panas [sebenarnya airnya hangat saja, tapi karena AC di mobil dingin banget, maka air hangat terasa seperti angin panas].

Untung gak sampai lompat di toilet deh.

Perjalananpun berlanjut dengan kondisi yang sudah lebih tenang, karena sudah sholat subuh dan sudah makan kue donat. PLURK kembali menemani sepanjang jalan. Gak terasa karmaku di PLURK udah hampir mencapai 100. Gak kerasa deh punya Karma sebesar itu.

Menjelang sampai Cikarang, sarapan dulu di KM 43 dan seperti biasa, aku suka melihat buku-buku yang ada di situ. Aku seirng beli buku-buku yang murah dan sangat berisi di lokasi rest area dan di beberapa resto. Itu yang membuat aku menerbitkan buku semacam itu agar dapat dinikmati oleh orang-orang yang sehobi denganku.




Hari ini aku makin yakin bahwa semua yang kita inginkan itu pasti terwujud. Kuncinya hanya action saja. Selama tidak ada action ya jadi sulit untuk mewujudkan keinginan itu.

Salam FUNtastic.

+++

artikel [tidak] terkait





Jumat, September 11, 2009

Sekali-kali buka puasa sehabis Tarwikh

Biasanya aku sampai di rumah sebelum maghrib, jarang pas maghrib pas sampai rumah. Tetapi itu adalah kejadian umum, hari ini telah terjadi peristiwa entah dimana yang menyebabkan hampir semua ruas jalan di Jakarta macet total.

Hampir sejam kudengarkan radio ElShinta, dan isinya laporan macet di ebrbagai ruas jalan. Bukan macet biasa tapi macet total dan sampai berjam-jam terjadinya.

Aroma macet ini memang sudah terasa begitu aku masuk jalan DI Panjaitan. Jalan yang setiap sore selalu lengang, karena terimal bayangan di Cawang sudah dihapuskan, hari ini terlihat sangat padat. Ini pasti terjadi kecelakaan atau peristiwa tertentu di depan sana yang mengakibatkan jalan menjadi semacet ini.

Dugaanku ada ebnarnya sedikit, karena tepat di depan simpang Cawang kulihat sebuah truk besar yang macet. Namun di depan truk macet itu kondisi jalan juga sama macetnya, artinya ada truk macet maupun tidak kondisi jalan akan sama.

Di jalan DI Panjaitan, dari arah Priok, aku belok kiri menuju tol Cawang Cikampek. Kondisinya sama juga, macet. Sebentar jalan sebentar berhenti.

Akhirnya terjadilah peristiwa yang belum pernah terjadi bagiku, yaitu mendengar suara adzan padahal belum buka.

 
parkir di KM 19 


Aku harus berjuang dulu untuk bisa parkir di Rest Area KM 19. Mampir di warung minum dan beli teh dalam kemasan. Harganya dua kali lipat dibanding harga di CiMart.

Habis meneguk satu minuman kemasan, aku langsung menuju mushola dan menyelesaikan sholat jamah Maghrib di situ dan kemudian meluncur lagi menuju ke rumah.

Alhamdulillah, sampai di rumah lampu PLN mati. Kuperiksa box panel PLN yang ada di pinggir jalan. Aku jadi ingat beberap abulan lalu, sekeringnya putus dan diganti kawat.

 
sekering masih pakai kabel saja 


Kubuka box panel PLN dan kulihat kondisinya masih seperti dulu. Sekering jenis ini memang sulit dicari barangnya dan PLN kayaknya males untuk membeli lagi. Jadi gimana donk nasib kita, kalau sekering tidak ada dan hanya diganti kawat.

Akhirnya aku masuk rumah dan mandi dengan lampu darurat. Habis tiu aku keluar lagi nyari lauk, karena kulihat tidak ada makanan buka puasa di meja. Kulihat istriku sedang kecapekan di kamar tidur, jadi aku cari makan sendiri saja di luar.

Begitu sampai di rumah ada telpon masuk. Rupanya LiLo minta dijemput di sekolah. Terbengkalailah makan malamku, karena aku tidak mau LiLo kesepian sendiri di sekolah.

LiLo langsung "nyengklak" di motor, begitu melihat aku masuk ke pekarangan parkiran sekolahnya. Dalam waktu beberapa menit aku dan Lilo sampai di rumah. Ternyata ada tamu di rumah, padahal PLN masih mati. Terpaksalah tamunya diajak bercanda dalam gelap.

 
candle light dinner 


Sementara itu, aku sembunyi di ruang makan dan makan malam dengan diterangi cahaya lilin yang romantis. Sayang istriku sedang nemani tamu, sehingga aku hanya bisa makan sendirian saja.

 
lilo main lilin 


Habis makan akupun menuju ke CiMart. Ada pak Anas yang butuh kendaraan untuk angkut beras. Sayang pak Anas sudah menyelesaikannya dengan pak Rifky, sehingga aku tidak kebagian pahala mengantar barang itu.

Jadi hari ini beberapa acara telah berjalan tidak sesuai dengan "default" acara.

Pelajaran hari ini :
1. Manusia merencanakan, Tuhan yang menentukan [kayak ramalannya Womg Kam Fu aja nih]
2. Ujian kesabaran itu tidak akan pernah putus, karena kita adalah hambaNya yang akan dinaikkan derajatnya [insya Allah]. Amin
3. Makan di bawah cahaya lilin memang nikmat.

Jumat, Agustus 21, 2009

Kemacetan di Tol Pondok Gede

Sejak 18 Agustus 2009 sampai Kamis 20 Agustus 2009, pemakai jalan tol Cikampek Jakarta terpaksa harus banyak bersabar. Bagaimana tidak, begitu selesai antri untuk membayar tol di Pondok Gedhe, mereka harus langsung siap-siap memposisikan diri untuk parkir di kerumunan mobil yang menyemut.

sehabis mbayar tol


siap-siap parkir


akhirnya parkir juga


Kemacetan seperti ini pernah muncul sekitar satu atau dua tahun lalu. Selalu terjadi hampir setiap hari, sehingga kalau berangkat dari Cikarang jam 7.00 pagi, maka tidak dijamin jam 8.00 sudah sampai Cawang.

Berangkatlah sebelum jam 6.00 pagi dan perjalanan Cikarang Cawang akan tertempuh sekitar satu jam.

Tanpa terasa kondisi semacam ini hilang sedikit demi sedikit. Apa mungkin karena pengaruh kebijakan sekolah yang mewajibkan masuk lebih pagi, tentu perlu penyelidikan yang lebih seksama. Analisa di tulisan ini lebih pada analisa yang sangat subyektif dan tanpa melakukan riset yang sesuai SOP.

Meski ini analisa subyektif, tapi kebijakan memindahkan pintu tol Pondok Gede ke km 30-an [Cikarang], terkait dengan melancarkan lalu lintas di jalan tol Jakarta Cikampek, masih agak sulit dipahami.

Kalau dilihat penyebab kemacetan setelah pintu tol pondok Gede, maka justru kemacetan di pintu tol dalam kota Halimlah penyebabnya.

Selama masalah kemacetan di pintu tol dalam kota Halim belum terpecahkan, maka kemacetan di Pondok Gede, kelihatannya, belum akan terpecahkan.

Pemindahan pintu tol ke CIkarang, akan lebih banyak memindahkan simpul kemacetan saja, bahkan penumpukan lalu lintas di pintu tol dalam kota Halin akan menjadi semakin parah.

Bila tadinya ada "stopper" di Pondok Gede, maka sekarang semua kendaraan akan langsung menuju ke pintu tol Halim, sehingga kemacetan akan makin sulit dihindari.

Kalau diperhatikan, dari lima lajur jalan tol yang ada antara pintu tol Pondok Gede ke Halim, maka boleh dikata semuanya dipakai oleh para pengguna jalan yang mengarah ke pintu tol Halim dan bukan yang mengarah keluar jalan tol.

Praktis kendaraan yang mengarah keluar tol menuju lampu merah Halim hanya kebagian satu lajur, yaitu lajur ke lima atau bahu jalan. Lajur inipun kadang tidak dipakai kalau terlihat ada mobil patroli polisi yang nongkrong di lajur bahu jalan itu.

Satu lajur di antara 5 lajur [4 lajur aman dan 1 lajur bahaya] tentu membuat pengguna jalan menuju lampu lalin Halim kewalahan.

Jadi sebenarnya pintu tol di Pondok Gede punya fungsi juga sebagai peredam kepadatan pintu tol Halim. Tanpa adanya pintu tol Pondok Gede, maka kemacetan di pintu tol dalam kota Halim akan semakin parah.

Benarkah analisa subyektif ini? Tentu para pakarlah yang bisa menjawabnya.

+++

bila malas nyetir di kemacetan seperti ini, maka jawabannya adalah naik angkot aja [bisa sambil tidur dan tahu-tahu sampai terminal], silahkan coba naik angkot 59 [dari Cikarang ke Cawang]

Senin, Februari 23, 2009

Firasat vs Persangkaan

Sebelum sholat subuh, biasanya aku buka pintu halaman belakang rumah sambil minum air putih di dapur. Namun kali ini aku juga membuka pintu samping, dekat car port.

Bener firasatku, pas duduk di tahiyat akhir kudengar suara mobil memecah keheningan subuh dan berhenti di depan rumah. Saat doa sesudah sholat, kudengar pintu pagar terbuka.

Sambil tetap berdoa, aku dan anak-anak pada berpandangan, maksud pandangan itu adalah "Ibu sudah pulang tuh dari Yogya".

Pas di ujung doa, terdengar salam dari istriku, dan dalam hitungan detik pintu kamar tempat kami sholat berjamaah sudah terbuka.

"Pak ada uang XX ribu untuk ngasih sopir?"

Begitulah firasatku hari ini kuturuti dan hasilnya semua sesuai firasat. Rasanya semua mengalir begitu saja, tapi aku yakin ada yang mengerakkan semua ini.

Minggu lalu aku menulis di PLURK
,"aku berada di depan kemacetan". Maksudku biarpun radio El Shinta menyiarkan kemacetan dimana-mana termasuk di jalur yang kulalui, tetapi tetap saja mobilku melaju dengan kencang tanpa hambatan dan sampai di kantor mendahului teman-teman kantor yang lain.

Begitu selesai menulis, aku langsung mendapat firasat,"wah aku telah menulis sebuah kesombongan nih,sebuah tulisan yang tidak menunjukkan empati terhadap mereka yang sedang kesusahan karena ditimpa kemacetan"

Muncul sebuah firasat buruk, bahwa aku pasti tidak lama lagi akan ditimpa kemacetan. Kembali firasat itu menujukkan buktinya, ketika sedang melaju kencang di jalan tol Jakarta Cikampek, tiba-tiba semua mobil di depanku berhenti, tak bergerak.

Perjalanan yang sangat lancar dari Cawang tiba-tiba langsung berganti suasana.

Akhirnya akupun sampai pada sumber kemacetan. Sebuah truk tiduran di jalur yang kulalui. Dia tiba-tiba muncul tepat di depanku.

Itulah saat ketika mobil yang ada di depanku membelok ke kanan dengan tiba-tiba.

Secara reflek kuraih cameraku dan kuarahkan ke mobil itu, karena aku tidak bisa lagi bergerak. Mau maju nabrak truk tidur, mau ke kiri juga susah motong jalan yang begitu padat.



Alhamdulillah, saat itu yang kupikirkan adalah kebaikan hati sopir yang ada di jalur samping kananku.

Eh bener, mobil bus di samping kananku kulihat menungguku memotong jalannya. Kuucapkan terima kasih pada yang menggerakkan sopir bus itu, semoga amal sopir bus itu diterima dan dibalas dengan balasan yang baik.

AMin.

Aku sekarang jadi bingung sendiri. Sebenarnya yang menimpaku ini karena firasat atau karena aku punya suatu persangkaan dan semua persangkaanku itu terjadi seperti yang kupersangkakan.

Aku harus merenung lagi mencari pencerahan untuk ini.

Kuingat juga, berkali-kali aku mendengar berita di radio tentang kecelakaan di jalan tol, dan beberapa kali juga kulihat sendiri mobil yang mengalami kecelakaan di jalan tol, tetapi aku selalu tidak bisa mengambil gambarnya.

Hari ini aku bisa mengambil gambar mobil yang sedang kecelakaan dan tidak mengganggu pemakai jalan yang lain [karena mobil itu tepat berada di depanku dan mobilku dalam kondisi tidak bisa bergerak].



Jadi ini firasat atau jawaban dari keinginan yang kuat dari dalam hati?

Bagaimana menurut anda?

Selasa, September 02, 2008

CiKaRanG SquAre


Apa komentar penduduk Cikarang ketika tahu bahwa akan ada Cikarang Square di exit tol Km 31 Cikarang Barat?

"walah...
 
di bekasi barat sudah ada BEKAS (Bekasi Square)
sekarang di Cikarang mo ada lagi, CIKAS (Cikarang Square)
 
sayang, kita hanya bisa jadi penonton... :)
 
btw,
apa seh bedanya antara:
Square, Mall, Hypermall, Supermall, Superblock, Athrium, dlsb?"

Yang jelas di Cikarang sudah ada JB Mall (Jababeka), kemudian Lippo Mall dan terakhir Carefour.

Kalau melihat perkembangannya, saat ini bisa dibilang tidak laris-laris amat. Sedang-sedang saja. Mungkin orang lebih nikmat kalau ke MM atau ke Jakarta sekalian kalau pingin pergi jalan-jalan ke mall.

Untuk urusan belanja kecil-kecilan, sudah puluhan Alfamart bertebaran di CIkarang, sehingga untuk urusan yang gedhean, mungkin sekalian jalan-jalan, pergi saja mereka ke Jakarta atau Bekasi.

Jadi dari kacamata (ku), maka lokasi baru ini kuran menjanjikan keuntungan, dan bila ternyata ramalanku meleset, maka yang terjadi adalah penambahan keparahan kemacetan di lokasi tersebut.

Semoga yang terbaik yang terjadi di Bekasi.
Salam

Gambar-gambar ini diambil dari milis CikarangBaru (sumbernya ada di http://cikarangsquare.com/)