Tampilkan postingan dengan label senyum. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label senyum. Tampilkan semua postingan

Jumat, Agustus 05, 2011

SMS (setiap Minggu Sepedaan) ke Kraton

"Met pagi Prof..", sapa seorang pengunjung soto kadipiro pada salah satu peserta SMS (Setiap Minggu Sepedaan) ketika mereka mampir makan pagi di Soto kadipiro.

Kebetulan beberapa peserta SMS kali ini memang banyak yang bergelar profesor, jadi aku tidak tahujuga yang disapa profesor yang mana. Akhirnya ya aku hanya menduga-nduga saja. Aku tenggelam dalam lezatnya soto kadipiro, setelahmengayuh sepeda dari Mie Sehati ke Kampus dan balik lagi ke Soto Kadipiro yang hany abeberapa ratus meter dari mie sehati.


Pagi ini, seperti biasa aku ditemani mas Lilo yang memang sangat setia mendampingi kemanapun bapaknya bersepeda. Tak peduli bapaknya sudah kecapekan, Lilo tetap saja semangat mengajak bapaknya untuk rajin olah raga.

"Bapak kalau berhenti jangan megangi sepeda terus", kata Lilo ketika melihatku tetap di atas sepeda saat kita berhenti mengayuh sepeda.




"Lihat pak, lari-lari, naik turun tangga atau apalah, biar tambah sehat dan perutnya tidak gendut!", Lilo terus saja menasehatiku sementara aku tetap hanya bisa tersenyum melihat tingkah polah lucu Lilo.

Alasanku tetap di sepeda, pertama sepedaku memang tidak ada standardnya, sehingga tidak bisa dilepas, harus selalu dipegangi atau disenderkan ke tembok. Yang kedua, aku memang capek.

"Bapak itu harus banyak bergerak, biar sehat", kembali Lilo menasehatiku. Tidak juga bosan Lilo memberi nasehat padaku. Kadang aku mendengarkan nasehatnya, kadang bosan juga dengan nasehatnya.



Saat aku bosan, akupun jadi berpikir. "Jangan-jangan anak-anakkupun kalau mendengar nasehat dariku bosan juga ya?"

Beberapa kali bersepada dengan keluarga, anak-anakku yang cewek sering tidak mau lagi menemaniku bersepeda. Alasan mereka macam-macam. Mulai dari acara sekolah, sampai alasan teman-teman sepedaanku yang sudah banyak dan tua-tua.

Akupun tidak mau memaksa mereka. Biarlah mereka ikut sepedaan denganku kalau mereka berminat, jangan sampai aku memaksakan keinginanku untuk bersepeda tapi membuat mereka jadi menderita. Untunglah mas Lilo tetap setia menemaniku bahkan tidak segan-segan memberi nasehat olah raga padaku.

Melewati Kraton, para pesepeda sudah tinggal sedikit. Beberapa lamgsung pulang setelah kekenyangan soto di kadipiro. Lilopun kembali berlarian dan melompat-lompat di lapangan yang luas ini.



Hidup ini memang indah kalau kita menikmatinya. kadang kita lupa mensyukuri nikmat Tuhan, sehingga hidup jadi terasa menjemukan dan penuh dengan ketidak pastian. Saat bersepeda, bersenda gurau sepanjang jalan adalah saat yang membuat hidup ini menjadi sangat indah. Senyum merebak dimana-mana dan duniapun ikut tersenyum bersama kita.



Terima akasih Tuhan atas semua nikmat yang telah kau limpahkan pada diriku, keluargaku dan pada teman-temanku.

Minggu, November 22, 2009

Teman-teman eSHaPe

Senangnya hati ini ketika akhirnya berhasil mengumpulkan teman-teman meskipun hanya terbatas dalam dunia maya.

Aku selalu berdoa, semoga pertemanan ini dapat menjadi dasar semangat untuk saling berbagi di antara kita. Minimal berbagi senyum ataupun berbagi cerita, karena dua hal itu bagiku sangat mudah dilakukan dan sangat dahsyat efeknya.

Tempatku berbagi senyum ada di sini http://tinyurl.com/y8p8fh2, sedangkan tempat sahabat-sahabatku ngumpul ada di sini http://tinyurl.com/ykb35l7

Ini testimoni dari beberapa kawan yang masuk dalam jangkauan persahabatanku.

+++

H Maman S Al-bantanie
Senyum itu indah..tp jgn senyum sembarangan n sendirian itu berbahaya...nanti di bilang K o g i l ........
Ingat " Senyum kpd Saudaramu itu Shodaqoh " klau tdk mampu shodaqoh dgn harta maka tebarkanlah senyum' (*~*)

Frelly Febe Beatrix Lasut ^__^
..KeEP sMILin9 evRYb0dÝ..
^__^

Dewi Riwanti
S'nyum mbwt ht m'jd lapang n damai. . .+ mbwt org laen s'naang. . .& t'syum laaaa to l'paskn smw p'dih hati. . .

Anggun Dwi Anggar Jati
Tersenyumlah sblum snyum i2 d laRang^_^

Jiewa Vieri
Pak Eko dan teman2 Eshape,
Mohon dukung untuk blog kuliner saya (http://www.INIJIE.com) di Pesta Blogger Award 2009 yah..
Ayuk ikutan vote di :
http://www.bubu.com/pb2009/f_vote/vote/15/1/2/1
Wish me luck, maju terus blogging & kuliner Nusantara :)

Emem Cikarang

Titipan
Oleh: WS Rendra

Sering kali aku berkata, ketika seorang memuji milikku,
bahwa sesungguhnya ini hanya titipan,
bahwa mobilku hanya titipan-Nya,
bahwa rumahku hanya titipan-Nya,
bahwa hartaku hanya titipan-Nya,
bahwa putraku hanya titipan-Nya,
tetapi, mengapa aku tak pernah bertanya,
mengapa Dia menitipkan padaku ?

Untuk apa Dia menitipkan ini padaku ?
Dan kalau bukan milikku, apa yang harus kulakukan untuk milik-Nya ini ?
Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku ?
Mengapa hatiku justru terasa berat, ketika titipan itu diminta kembali oleh-Nya ?

lanjutannya ada di sini http://tinyurl.com/ljlvr6
[maaf karena quota Dindingnya sudah habis]

Salam FUNtastic

+++

Hari ini ada acara Duel Joomla vs Blogger di Samikuring, kerjasama antara NetCom dan Cimart. Inilah salah satu sarana untuk menambah pertemanan kita. Mari kita sukseskan acara pertemanan dimanapun berada dan apapun ujudnya, asal tidak bertentangan dengan hukum Agama maupun hukum negara.

Bravo teman-temanku yang suka tersenyum [yang nggak suka senyum gimana nih? tersenyum aja ya...]




Genggam erat dan bimbing yang lebih lemah [tanganku dan tangan LiLo]

Jumat, Mei 22, 2009

Kebersamaan Mengalahkan semua kekurangan

Ketika salah seorang simpatisan kegiatan CiMart akan menikahkan anaknya, maka sambil lalu istriku membahas tentang salah satu kegiatan CiMart yang suka nongkrong di Kursus Musik Jimmie Manopo, yaitu band CiMarT.

Bagai gayung bersambut, maka band CiMart dimohon untuk menjadi pengisi acara dalam upacara akad nikah itu.

Grup band yang baru terbentuk ini benar-benar kebanjiran order. Lagu-lagu masih belum apal, latihan juga masih belum bisa rutin, tetapi order dari mana-mana sudah berdatangan.

Inilah yang disebut kekuatan sebuah networking. Gaul Abiz, begitu kata kuncinya.

Semua hal bisa terjadi tanpa pernah terpikirkan, hanya karena networking yang kuat dan sehat di antara kita.

Pernahkan terpikir untuk mengisi acara band di carefour, ataupun menjelang NoBar Barca vs MU memperebutkan real final piala Kampiun 2009?

Ataukah pernah terbayang main band di acara keluarga, dimana yang hadir adalah artis-artis atau minimal penyanyi "beneran"?

Semua itu tak pernah terlintas dalam pikiran anggota band CiMart, tapi itulah yang terjadi sekarang ini.

Pagi-pagi, saat hari H, band Cimart masih dipusingkan dengan kondisi peralatan band yang masih belum optimal.



Lokasi yang sempit, peralatan yang kurang masih menjadi kendala di pagi itu. Namun menjelang siang kendala-kendala itu mulai teratasi satu demi satu.

Aku patut bersyukur mempunyai kabel gulung panjang yang mampu menjadi kabel power utama. Ini memang kabel gulung yang menjadi favorit dimanapun aku tinggal. Kabel yang lemas, panjang, mudah ditarik kemana-mana dan mudah digulung lagi.

Saat menjelang pelaksanaan akad nikah, kulihat wajah-wajah tegang di antara para anggota band CiMart. Meskipun mereka terlihat seolah-olah santai [banget], ngobrol ngalor ngidul dengan letupan-letupan canda di sana sini, tetapi wajah relax masih belum terlihat di penampakan mereka.

Setelah melalui proses yang cukup khidmat, maka akad nikahpun selesai dilaksanakan dan itulah saatnya Band CiMart manggung. Aku harus lari dulu ke toilet untuk ganti kostum dan muncul lagi dengan wajah yang kubuat serelax mungkin.

Aku memang cukup pusing melihat situasi dan kondisi yang kurang mendukung. Sempitnya ruangan panggung dan penonton yang menyebar ke semua tempat tentu menjadi PR tersendiri bagi pengisi acara.

He..he..he.. selama bertahun-tahun berkarir sebagai MC, belum pernah njumpain suasana yang seperti ini. Mic yang kupakai, juga tidak seperti yang sering kupakai saat aku jadi MC. Tahun 80an harga mic sudah 1 jutaan, sementara Mic jaman sekarang 1 juta sudah dapet beberapa mic [wireless lagi]. Kemampuan vocalku yang standard memang memerlukan kualitas Mic yang bagus agar suarakau bisa terdongkrak sedikit.

Akhirnya pakai jurus dasar saja, yaitu "diantara sekian banyak hadirin yang tidak memperhatikan kita, pasti ada satu dua orang yang memperhatikan kita"

Kumulai acara itu dengan perkenalan dari masing-masing anggota Band. Ini teori yang tidak disarankan tapi harus dilakukan, karena ada salah satu Gitar yang masih belum bsia dimainkan, sehingga untuk mengisi kekosongan harus ada yang berbicara.

Sebaiknya memang perkenalan singkat saja dan langsung mainkan lagu unggulan dan kemudian cari waktu untuk memperkenalakan anggota band, tapi melihat sikon yang ada, maka perkenalan secara detil terpaksa dilakukan. Yang pertama kukenalkan adalah mas Riky, fotografer CiMart [he..he..he.. biar penonton kecele deh, kata pak Rawi, ini ilmu "keluar dari pakem"]

Hasilnya lumayan bermanfaat. Kulihat wajah-wajah kawan-kawan sudah mulai cerah dan aroma stress sudah mulai "hilang-hilang datang" [kadang kelihatan dan kadang tidak kelihatan].

Begitu semua alat sudah berfungsi dengan baik, maka musikpun digeber dengan lagu "Angin Laut" milik legenda musik pop Indonesia, Koes Plus.

Begitu lagu dimainkan, maka wajah stres para pemain makin berkurang berganti dengan wajah yang serius tapi mulai santai.

Sempat salah hafalan di lagu pertama [tetep masih demam panggung rupanya], akhirnya semua mengalir lancar.



Ketika aku membawakan lagu D'lloyd "Sepanjang Lorong Yang Gelap", maka penonton sudah mulai panas. Kulihat seorang cewek sudah begitu panasnya sehingga dia menunjuk-nunjuk aku dengan jempol teracung dari tangannya. Badannya yang padatpun mulai berjoget mengikuti irama lagu ini.

Kucoba mengisi lagu ini dengan tari poco-poco, tapi panggung yang sempit kurang memadai untuk tari poco-poco ini.

Meski begitu, sang cewek tetap saja ikut menari di kejauhan sana, di kerumunan kawan-kawannya yang terlihat menikmati tarian sang cewek itu.




Saking nikmatnya, sang cewekpun minta lagu "Cotton Fields" agar suasana makin panas. Woow...!

Lagu itu membuat penonton makin panas. Merekapun mulai berjoget mengikuti irama lagu itu.

Aku jadi inget keinginanku tadi malam untuk mengajak penonton berjoget poco-poco saat lagu band CiMart dinyanyikan. Tenryata Tuhan menjawabnya dengan cara lain, tetapi dengan hasil yang lebih menakjubkan.

Begitulah Tuhan mengatur hidup ini. Semua yang kita minta pasti dikabulkanNya. Syaratnya satu saja, mintanya harus dari HATI bukan dari mulut dan harus ada aroma IKHLAS disitu.

Acara terus berlangsung, permintaan lagupun semakin banyak, padahal sejak awal didirikan, Band ini sudah sepakat tidak akan menerima request lagu. Namun bagaimana bisa menolak, kita sudah ada di panggung dan penonton sudah histeris dengan penampilan musikus band ini.

Alhamdulillah, semua lagu yang diminta bisa dipenuhi, kecuali lagu "Just The Way You are", yang kebetulan tidak jadi diminta.

Suasana semakin asyik ketika beberapa kawan temanten lelaki ikut main musik, bahkan sang temanten juga ikut gatal untuk duduk di depan "double" keyboardnya.

Lagu-lagu Amerika latinpun muncul di panggung, karena memang sang penganten berasal dari daerah sana.

Jadi geli deh melihatnya, soalnya sejak band ini dipesan oleh sang empunya "gawe", maka sudah diwanti-wanti untuk tidak usah menyanyikan lagu barat, karena takut ketahuan tidak fasihnya. Maklum hadirin memang sebagian adalah warga negara asing.

Lagu-lagu selanjutnya yang mengalir justru adalah lagu-lagu barat semua. Bahkan ketika ada permintaan lagu dang dut, para pemain band malah angkat tangan.

Jadilah kembali ke penyanyi oldies lagi, Koes Plus, dengan lagu kegemaran pak Faisal, pemain keyboard band CiMart yaitu "JEMU".

Ketika sore makin menjelang, maka acara harus diakhiri, sehingga band ini langsung masuk ke lagu terakhir. Medley dari LiLin Kecil, Kidung dan To Love Somebody.




Seneng juga aku hari ini. Biar suara pas-pasan, ternyata bisa menghibur para hadirin [pasti gara-gara para musikus di belakangku yang luar biasa talentanya]. Akupun bisa berduet dengan istriku di panggung membawakan lagu kesayangan istriku "BIRU" [milik Vina P].




Terakhir aku duet dengan istriku rasanya sudah lamaaaa sekali. Kalau gak salah membawakan lagu PELANGInya Jamrud, saat acara Waskita di Malang [tahun berapa ya?]

Waktu acara ultah pak KK Menristek di Puspitek, aku juga diminta pak KK untuk tampil ke depan, berkali-kali malahan, tapi gak pedhe abis [dan ada 4G disitu, jadi lebih mantap nyobain WiMax dari pada bikin malu pak Menteri dengan suaraku yang semi fals ini].

Untung ada pak APRIL [ATG] yang bisa kutunjuk hidungnya untuk mewakili Kompasiana maju ke panggung. Bagi mas ATG juga untung deh, bisa menunjukkan kebolehannya menyanyi di depan pak Menteri yang gaul abiz itu.

Sayang hari ini pak ATG tidak muncul di band Cimart, padahal kita sudah abis-abisan berlatih lagunya mas ATG. Untung ada cewek kece yang request lagunya mas ATG, jadi para musikus band Cimart bisa menunjukkan hasil latihan mereka.

Sungguh ini adalah hari yang luar biasa bagi Band CiMart. Kebersamaan yang kita rintis berhari-hari menunjukkan kekuatannya di hari ini.

Kita saling berbagi kerja, berbagi beban dan berbagi kebahagiaan di akhirnya.

Terima kasih Ya Tuhan atas nikmat dan karuniamu di hari ini.
Alhamdulillah.


pengantin yang berbahagia


band cimart yang lebih berbahagia


'''''
'''
'

Kamis, Mei 14, 2009

Sepedaan dari Montana

Tadinya acara sepedaan yang digagas pak Akur akan mengambil START di Kursus Musik JM [Jimmy Manopo], tapi karena aku juga pingin ngajak teman-teman kumpul-kumpul di rumah, maka akhirnya lokasi START dipindah ke rumahku.

Route sepedaan yang tadinya hanya on road, akhirnya juga dirubah menjadi [semi] off road, karena ada acara masuk kampung.

Acara sepedaan ini akan dipandu langsung oleh Om Gazzele, panggilan akrab pak Sulis [sang Maha Dewa Gitar band CiMarT].

Anakku rencananya mau ikut juga, tinggal bagaimana mbagi sepedanya. LiLo dijamin pakai sepedanya sendiri, sedangkan LitHa mungkin naik sepeda motor saja, karena sepedanya perlu beberapa perbaikan kalau mau dipakai. Udah gitu sepeda itu sering dipakai BiBi untuk beli sayur atau pergi kemana-mana, jadi dipastikan tidak dipakai saja.

Aku ada dua pilihan, pakai Anvil atau Tandem. Kalau Anvil dipinjam pak Saparjan, maka aku pasti pakai Tandem, mungkin sama LuLuk atau sama ibunya.

Kalau pak Saparjan mau naik motor [langsung menunggu di lokasi Finsih], maka mungkin aku pakai Anvil dan tandem dipakai ibunya.

Oke, apapun yang terjadi semuanya "fine-fine" saja. Aku siap dengan segala plan.

Beberapa hari lalu, malem-malem aku telepon pak Ato, sang pemilik Kupat Tahu Bandung. Kubilang padanya bahwa ada acara sepedaan dan mengambil lokasi FINISH di Warung Kupat Tahu Bandung.

Pak Ato langsung tanggap dan memberikan diskon bagi anggota Cimart yang mau mampir makan di warungnya. Luar biasa memang pak Ato ini.

Kayaknya memang semua anggota TDA Bekasi punya hobi ngasih diskon ya. Pak Rawi, pak Wisnu, semuanya suka berlomba-lomba ngasih diskon.

Jadi pingin segera hari Minggu nih, biar bisa membahagiakan anak-anakku dnegan bersepedaan bersama kawan-kawan CiMart.

Start dari Jl Puspita VII Blok T.26
Menuju Golf Jababeka
Masuk kampung
Keluar Tropikana
FINISH di Kupat Tahu Bandung

Semoga acara ini bermanfaat bagi semua
Amin.

Sabtu, April 11, 2009

Reuni Sipil 78

Tahun 2001 mas Himawan sudag ngajak reunian di Tokonya, tapi keburu aku pindah ke Surabaya, maka acara itu akhirnya gagal. Meski begitu, mas Sigit dan pak Noor Utomo tidak bosen-bosennya untuk ngajak angkatan 78 untuk kumpul-kumpul, berapapun yang hadir.

Seringkali mas Noor cerita tentang mas Gunawan yang sudah jadi boss besar dan pingin ketemuan sama rekan-rekan seangkatan. Tidak kalah semangatnya adalah mas Subandono [bukan ayahnya Alisa Subandono ya..]

Pada akhirnya pertemuan itupun terjadilah di Warung Prima, Taman Galaxy Bekasi dan mas Subandono membagi-bagikan buku karangannya, lengkap dengan tanda tangannya.

Pulang dari reunian aku masih harus ikut reunian lagi di Bekasi. Ini reunian spesial, karena waktunya tidak ditentukan. Semuanya tergantung pada waktuku dan waktu istriku.

Ini benar-benar hari reuni, dan mungkin tahun reuni bagiku.

Saat membuka acara ini, maka yang kuucapkan adalah ajakan kesepakatan tentang pengurus angkatan 78 ini. Kutunjuk mas Sigit sebagai Sekjend dan mas Himawan sebagai Bendahara.

"Tidak usah pakai ketua, yang penting sekretarisnya joss, pasti angkatan 78 akan terurus dengan baik", begitu kataku.



Dalam perjalanan acara selanjutnya, kelihatannya para peserta sudah mendudukkan aku sebagai ketua angkatan 1978. Akupun tidak mau memperlambat acara dengan diskusi tentang kepengurusan ini, jadi semua kuterima dan kuputuskan bahwa angkatan 78 perlu dana untuk memudahkan komunikasi.

Eh, pada mbayar iuran lebih dari yang seharusnya dibayar. Yo wis terima saja deh. Toh yang ngurus mas Himawan [ha..ha...ha...].

Sampai di rumah langsung sudah ada laporan mas Himawan tentang penggunaan dana. Tengkyu mas Himawan atas kerja cepatnya.

Tahun ini bener-bener akan jadi tahun reuni buatku. Setelah ngurusi reuni angkatan 78 ini, maka pada tanggal 18 Juli 2009 aku kembali mengundang semua alumni Sipil UGM untuk berkumpul lagi dalam acara forum bisnis dan gathering. Setelah itu, kayaknya delayota Jakarta juga ingin mengadakan reunian, karena tidak sempat kumpul2 Reuni Akbar di Yogya kemarin.

Aku siapkan diri dulu deh untuk ngurus semua ini. Jangan sampai reuni sukses tapi kerjaan kantor terbengkalai.

Semoga sukses semua yang kukerjakan, baik untuk teman-teman, untuk perusahaan maupun untuk diriku sendiri [tentunya] . Amin

 
 

Rabu, Maret 18, 2009

Capek Kok Bahagia, emang bisa?

"Pak Oke, tahu enggak komentar anak-anak yang sampeyan gojlok sampai termehek-mehek kemarin?", kata pak Yoga ketika kami jalan berendeng.

"Apa kata mereka?"

"Ada yang bilang, instrukturnya jangan yang tua-tua, diperbanyak yang model mbak Tria, muda dan cantik"

"He..he..he.. terus?"

"Ada yang cuma nggambar jempol, ada juga yang bilang kok cuma 3 hari, kenapa tidak 3 minggu?"

"4 hari bisa gempor mereka tuh", kataku sambil senyum

"Pokoknya lucu-kucu deh. Ntar sampeyan baca sendiri ya.."

Kamipun berpisah dengan menyisakan kelegaan buatku. Rasanya capek di badan jadi hilang ketika melihat manfaat dari hasil usaha yang kita kerjakan dengan sepenuh hati.

Malam pertama aku sudah mulai merasa salut dengan kelompok baru ini. Saat mata terkantuk-kantuk, mereka masih mau mendengar "ceramahku", padahal aku tawarkan untuk pindah jadwal.

Aku melihat materi malam itu sudah cukup berat dan mereka sudah terduduk sampai berjam-jam di ruangan yang dekat dengan bantal dan guling.

Akhirnya kubangunkan mereka dari duduk panjang dan kuajak sedikit stretching. Kasihan kaki mereka sudah pada kesemutan.

Ternyata mereka siap untuk mendengar "ceramahku", bahkan akhirnya ketika aku bercerita tentang lingkungan hidup, mereka sepakat untuk tidak merokok selama pelaksanaan out bound ini.



Hari kedua, mereka ditantang untuk menunjukkan siapa diri mereka. tantangan individu kita siapkan dan rupanya berhasil mereka lewati dengan baik.



Sore sampai larut malam, kita beri tantangan kelompok, dan kita lihat kekompakan yang luar biasa di masing-masing kelompok. Merekapun bersaing untuk menunjukkan jati diri kelompok masing-masing.

Semangat dari 3 kelompok yang sangat membanggakan.



Hari terakhir, sehabis sholat jamaah subuh, aku ingatkan mereka untuk kembali ke bumi. Ini saatnya untuk menunjukkan jati diri kita sebagai insan Waskita.

Mulai hari ini tidak ada lagi kelompok-kelompok dalam Waskita, karena semua ini adalah bagian dari keluarga besar Waskita.

Selesai memberi kultum, acara api unggun sudah menunggu.

Api unggun tapi dilaksanakan pagi hari, aku harus buat kondisi yang mirip malam hari, padahal ketika acara dimulai sudah kulihat cahaya fajar yang menyembul dari ufuk timur.

Kuminta mereka duduk santai dan kuajak untuk bermeditasi ringan.

"Pejamkan mata dan rasakan rumput lembut yang menyatu dengan badan kita. Tarik nafas dalam, hitung 2 hitungan, lepaskan nafas pelan-pelan melalui mulut dan rasakan tubuh kita makin dalam tertanam dalam bumi"

Kubuat mereka senyaman mungkin dan ketika kulihat suasana itu sudah masuk, kuberi tanda agar mbak Popy menyanyikan lagu "Ketika Tangan dan Kaki Mulai Bicara".

Perpaduan denting gitar Novian dan suara merdu mendayu Popy membuat peserta makin hanyut di alam lain.

Kuminta mereka untuk mengingat masa-masa indah mereka, masa-masa yang mebuat mereka bisa tersenyum ikhlas dan kulihat senyum di beberapa wajah yang mengelilingi api unggun itu.

Saat matahari mulai menerangi api unggun, saatnya mereka kuminta untuk membuka mata dan tersenyum pada saudara barunya yang ada di sampingnya.

Kuminta mereka juga menuliskan sifat yang mereka benci yang ada dalam diri mereka dalam potongan kertas kecil dan kuminta mereka meremas-remas kertas itu.

"Remas kertas itu. Singkirkan sifat itu dari diri kalian. Buang kertas itu dalam api"

Pagi yang indah itu menjadi saksi kebersamaan mereka dalam tim Waskita dan bukan dalam grup-grup kecil lagi.

Perjuangan terakhir mereka adalah menunjukkan kekompakan mereka sebagai sebuah grup besar yang terdiri dari tiga kelompok kecil.

Kulihat kekompakan yang luar biasa dari mereka. Tidak ada lagi rasa kedaerahan ataupun perbedaaan perguruan tinggi, Semuanya larut dalam satu kelompok besar untuk menyelesaikan satu tugas besar.

Kulihat juga senyum dari Direktur SDM ketika melihat kelompok besar ini berhasil menyelesaikan tugasnya dengan baik.

Semua kelelahan ini akhirnya membuat kebahagiaan tersendiri bagi panitia penyelenggara. Suatu kerja keras dari Biro SDM yang patut diacungi jempol.

Minggu, Februari 15, 2009

Partai-partai akhirnya bersatu di hari Valentine

Di hari Valentine, 14 Pebruari 2009, kusaksikan kekompakan semua partai di rumah Beruang Cokelat. Wah, mantap banget nih kalau partai pada bersatu padu.

Negara Indonesia akan makin murah sembakonya, BBM turun terus, dan bisa bersenang-senang joged poco-poco sambil main yoyo.

Negeri inipun akan surplus pangan, suka membantu saudaranya yang sedang kesusahan ditimpa perang, meskipun saudaranya itu jauh di belahan barat sana.

Begitulah kalau para partai bersatu.

Sayang memang persatuan partai itu baru muncul di toko beruang cokelat saja.



Andai semua partai memang bergaul dengan baik, saling mengingatkan dalam kebenaran dengan sabar dan dengan cara yang baik, maka persatuan partai ini tentu akan membuat kita semakin kuat. Partai tidak membuat kita menjadi terkotak-kotak. Semua partai sudah menjadi cerdas dengan sendirinya. Pemasangan atribut partai juga dipasang dengan semangat gotong royong dan bukan saling menutupi.

Tidak ada biaya kampanye yang keluar percuma, karena semua dibuat untuk mencerdaskan pemirsanya dan bukan untuk membuat pemirsanya semakin bingung dengan banyaknya partai ini.

Golputpun semakin lama semakin sedikit, karena mereka akhirnya tertarik dengan bukti tindakan tulus dari para partai dan mereka sudah tidak lagi mencemooh janji-janji para partai yang sering terbang ke awang-awang.

Setelah pemilu selesai, maka para partai yang kalah pemilupun berbondong-bondong memberikan ucapan selamat pada partai yang menang dan tidak lagi membawa kasus kekalahan partai ke lembaga peradilan.

Mereka akhirnya bersatu padu dalam suatu paket pemerintahan yang indah dilihat, ”guyub” dan menghasilkan pembuktian janji-janji kampanye mereka.

Tidak peduli siapapun yang menang, maka ternyata harga sembako ”tiba-tiba” bisa menjadi murah. BBM juga terus turun berkali-kali, karena terus ditemukan sumur minyak yang tak kunjung habis.

Para petani yang kesulitan pupuk, ataupun nelayan yang kesulitan BBM sudah tinggal tersenyum saja, karena semua menjadi gampang, terjangkau dan tak pernah hilang dari pasaran.

Ini mungkin memang hanya mimpiku, tapi kalau ini menjadi mimpi semua orang, maka ini menjadi suatu hal yang tidak mustahil lagi.

Misi ini posibel deh...!:-)

Tinggal kita mau atau tidak merealisasikannya. Tinggal kita mau jadi bagian dari masalah atau bagian dari solusi.

Gitu aja, Gampang kan [kalau hanya ditulis] !

Salam senyum 2-2-7 !:-)

Kamis, Februari 12, 2009

Menteri Indonesia Go BloG, Bravo !!!

Pada pesta Blogger 2008, saat menunggu pintu masuk dibuka, aku ngobrol dengan seorang blogger dari negeri JIRAN.

“Luar biasa Indonesia. Saat para blogger kami ditangkap pemerintah, disini malah para blogger mengadakan pesta dengan sokongan dari 3 menteri”, ucapnya berapi-api.

Aku menanggapinya dengan senyum, karena di sisi lain ada kawan sesama blogger Indonesia yang merasa nggak nyaman dengan “support” dari beberapa menteri ini.

“Kapan blogger Indonesia mau dewasa. Untuk acara seperti ini, yang mestinya bebas dari para birokrat, malah penuh nuansa birokrasi?”, ujar kawan blogger Indonesia ini bersungut-sungut.

Aku juga menanggapinya dengan senyum. Ya begitulah, kata pak Amril, apapun kejadiannya, resep menghadapinya sebaiknya dengan senyum saja.

Rumus senyumnya?
Betul !

Rumusnya : 2-2-7, tarik bibir 2 cm ke kanan, 2 cm ke kiri dan pertahankan selama 7 detik.

Kurasa, komentar dua blogger yang bertentangan itu ada juga sisi benarnya. Bagaimana tidak bangga punya 3 menteri yang tertarik untuk menyokong kegiatan para blogger, dan bagaimana tidak bosen melihat acara yang nggak mulai-mulai gara-gara acara terlalu protokoler?

Hari ini, akhirnya aku melihat bahwa komentar dari blogger negeri Jiran itu benar adanya.

Sebuah imil dari seorang kawan [bukan blogger tapi seorang pejabat tinggi BUMN yang super lucu] mampir ke kotak suratku, lengkap dengan alamat blog seorang menteri.

Langsung saja aku menuju ke TKP [blognya pak Menteri].

Ternyata kawan-kawan sudah lebih dahulu ada disana. Ada pak Aris, ada pak ATG dll, sudah lebih dahulu memberi komentar.

Sungguh nyaman membaca blog pak Menteri ini. Bahasa tulisnya seenak bahasa pidatonya. Lancar dan belum mau berhenti sebelum selesai di paragraf akhir.

Aku jadi inget ketika diudang beliau dalam suatu acara di Gedung BPPT. Itulah kali pertama aku mendengar ceramah seorang menteri, karena biasanya saat seorang menteri bicara di panggung, kami biasanya juga berbicara di kelompok kami [nggak sopan ya..?].

Penguasaan materi ceramah dan model orasi yang nyaman, membuat aku merasa terganggu kalau ada yang mengajakku bicara.

Kayaknya pak Menteri ini terkena guna-guna dari mas Enda, sehingga ikut Go Blog, seperti yang selalu dikampanyekan oleh mas Enda.

Seandainya semua pejabat tinggi punya blog, wah enak bener tuh. Suara rakyat akan langsung masuk ke blog sang pejabat. Kalau komunikasi sudah transparan dan didasari semangat berbaik sangka, maka kemakmuran Indonesia tinggal menunggu waktu saja [tidak akan perlu waktu yang lama].

Tekad beberapa teman-teman di ESQ tentang Indonesia Emas 2020 mungkin akan tercapai sebelum tahun itu. Bahasa Indonesia juga sudah menjadi bahasa nomor 1 dunia dan bukan hanya menjadi bahasa nomor 3 dunia.

Memang mungkin ini hanya mimpiku saja, tapi kalau anda setuju, maka bukan tidak mungkin ini akan menjadi tekad seluruh bangsa Indonesia.

Indonesia, mari kita Maju Dengan Karya Bermutu !

Kamis, Desember 04, 2008

Berbaik Sangka [dengan senyum]



Karena mengejar waktu, aku nyari jalan pintas ke TOL. Ternyata ada 3 buah Dump Truck yang sedang nge"DUMP" muatannya, sehingga jalan di pinggir Kali Malang ini macet total.

Emosi langsung naik ke ubun2. Ihhh, bodohnya mereka melakukan penurunan material. Kontraktornya siapa sih?

Untung aku langsung senyum [tadinya nyengir aja]. Yah, mereka kan kontraktor "ketengan", bukan kontraktor yang njalankan Sistem Manajemen [ISO, OHSAS], jadi wajar kalau amburadul.

Mau marah juga gak ada untungnya. Jalan akan tetap macet, sebelum mereka selesai menuang muatannya.

Sedikit demi sedikit muncul keikhlasanku. Akhirnya akupun mengambil foto suasana itu dengan senyum yang sudah mengembang.

"Pasti ada hikmah dari kejadian ini. Di TOL nanti pasti LANCAR"

Sampai di Tol ternyata malah mau srempetan dengan mobil yang melaju kencang dari LIPPO Cikarang [aku dari Jababeka Golf]. Begitu aku dapat tempat di depan mobil itu, eh truk-truk gedhe numpuk di depanku.

Lho sudah siang kok masih ada truk ya? Biasanya mereka lalu lalang di bawah jam 6.00. Apakah Tuhan kembali menguji kesabaranku?

Ternyata benar, begitu 3 menit "usel-uselan" dengan rombongan truk itu, tiba-tiba di depan rombongan truk itu jalan kosong melompong.

Gak terasa speedometer menunjukkan angka >140 km/jam.
Ups.... langsung gas kulorot. Gak baik melaju terlalu kencang, meskipun jalan kosong. DI atas 80 km/jam, mobil sudah susah dikontrol kalau harus tiba-tiba berhenti.

Wah bisa cepat sampai nih, pikirku.

Ternyata di Halim kembali [sangat] tersendat. Lampu lalin nyala hijau tetapi pak Polisi tetap nyetop jalurku dan membiarkan jalur lain untuk jalan.

Rupanya Tuhan belum selesai mencoba kesabaranku.

Alhamdulillah, semoga aku lulus ujian hari ini.

Mari kita tersenyum untuk menerima semua yang ada di hadapan kita.

AMin

Jumat, November 28, 2008

Diskusi sehabis Subuh

Setelah lama gak berdiskusi dengan anak-anak, tadi pagi sehabis subuh akhirnya bisa juga kita berdiskusi.
Topiknya adalah apa yang sebaiknya dilakukan oleh orang tua menjelang sholat subuh .

Ini topik yang menarik [bagiku], karena akhir-akhir ini memang suasana menjelang sholat subuh selalu agak kacau balau. Kalau mau cari kambing hitamnya, maka pasti telkomspeedy yang akan dituduh sebagai penyebabnya.

Benarkah demikian?

Kalau coba ditelusuri, maka sebelum ada paket gratis telkomspeedy mulai jam 20.00 s.d jam 08.00, maka kehidupan keluargaku berjalan dengan normal, dalam arti sholat jamaah subuh dapat dilaksanakan dengan tidak banyak effort. Kalaulah ada yang tidak normal , masih dalam taraf wajar deh.

Sejak adanya paket gratis itu, maka kehidupan berinternet anak-anak jadi berubah total. Mereka dengan setia menanti datangnya jam 20.00, baik dengan tiduran atau tidur.

Begitu jam 20.00 lewat sedikit, maka mulailah akses internet dibuka dan merekapun bisa keasyikan berinternet sampai berjam-jam,"mumpung gratis pak", begitu alasannya.

Mau dilarang, gak mempan lagi, karena ortunya juga memanfaatkan jam gratis itu dengan penuh euforia.
Sebelum ada paket gratis itu, maka setiap anak-anak akan melakukan sambungan ke internet selalu dipagari dengan tingginya biaya internet.

Bayangkan dari tagihan normal yang seharusnya cuma 200 ribu [paket kuota 1 GB], bisa berlipat-lipat mbayarnya, bahkan bisa melebihi tagihan paket unlimited.

He..he..he... berarti bukan paket gratisnya yang salah, tapi pengarahanku pada anak-anak tentang mahalnya akses internet yang membuat anak-anak jadi seperti kuda liar yang dilepas dari kandang.

Sebaiknya pembatasan akses inetrnet tidak melulu didasarkan atas besarnya biaya internet, tetapi diutamakan pada perlunya menjaga kombinasi antara bermain internet [di depan komputer] dan bersosialisasi dengan lingkungan [dengan meninggalkan meja komputer].

Anak pertamaku sudah "cacat" matanya karena terlalu rajin membaca + nongkrong di depan komputer. Model kursi dan meja komputer yang dipunyai juga membuat anak-anakku tidak memperhatikan masalah ergonomis.

Anak kedua dan ketiga juga mulai "cacat" matanya. ALhamdulillah, anak ketiga masih bisa ditolerir tanpa harus memakai kaca mata, asal rajin makan buah atau vitamin untuk kesehatan mata.

Kembali ke acara diskusi setelah sholat subuh, maka [ternyata] banyak masukan dari anak-anak yang membuat aku harus meninggalkan juga kebiasaanku [yang enak-enak].

Hari ini disepakati beberapa aturan baru [tapi lama] dan yang sebaiknya kutulis di internet agar ada masukan juga dari teman-teman pembaca.


  1. Jam tidur anak-anak adalah jam 22.00 [artinya maksimal internet adalah 2 jam]
  2. Jam tahajud, anak-anak diperbolehkan main internet lagi, dengan himbauan menyempatkan sholat sunah 2 rakaat.
  3. Yang harus sudah wudhu pertama kali adalah anak kedua atau bapak dan setelah wudhu tidak ada kegiatan menunggu wudhu dengan duduk-duduk di depan komputer [ini kebiasaanku yang sulit dilakukan, tapi harus kulakukan, lah sudah "commit" je!]
  4. Cara membangunkan anak harus lembut dan tidak boleh dengan cara mengguncang-ngguncang badan anak-anak ["seperti yang bapak lakukan pagi ini", kata anakku], seolah-olah anaknya "pasti" susah bangun.
  5. Ibu paling akhir wudhu, dan kalau sedang "libur" [gak sholat] dilarang tiduran di dekat tempat sholat, tapi cari kegiatan lain yang tidak terlihat oleh orang yang sedang sholat.
  6. PR [pekerjaan rumah bukan page rank] anak-anak sebaiknya dikerjakan malam hari [kalau sehabis subuh hasilnya sering ribut terus]
  7. Bapak dilarang [keras] mengancam menghukum anaknya yang lambat bangun.


Alhamdulillah, ternyata banyak usulan anak-anak yang tadinya jarang kulakukan.

Makasih nak , kalian telah mengingatkan ortumu dengan cara yang baik. Semoga menjadi amalan bagi kalian semua.
Insya Allah. Amin.

Kamis, November 27, 2008

Foto Funia

Terinspirasi oleh blognya pak Abubakar, aku masuk ke http://www.photofunia.com/
Dan jadilah gambar-gambar di bawah ini.
Lumayan buat koleksi.

Waktu masuk koran
 
 Ketika digambar ama Pil Kaso
 Saat dipegang cewek
Modal awalnya ya foto ini

Sabtu, November 15, 2008

Blogger Tunanetra [pertama]

Hari ini aku mendapat pencerahan besar gara-gara asyik mengunjungi blog Eko Ramaditya Adikara http://www.ramaditya.com/

Bagaimana bisa seorang tuna netra, yang masuk SD Luar biasa, kemudian bisa masuk SMP Negeri sampai akhirnya lulus dari UNIVERSITAS DARMA PERSADA – JAKARTA bisa menjadi blogger padahal dia tuna netra.

Yang tidak tuna netra saja susah mencapai prestasi seperti itu apalagi dia [hanya] seorang tuna netra biasa.

Pasti semua teman-temannya dan apalagi para dosennya bangga mempunyai kenalan seorang ERA [Eko Ramaditya Adikara ].

Menarik bahwa dia juga saat SLTA lebih memilih jurusan yang mempunyai porsi agama lebih banyak dibanding sekolah biasa. Dia ingin lebih dekat dengan Tuhannya dan dia berhasil dekat dengan Tuhannya.

Tulisan di blognya banyak berbicara tentang kisah dia, tapi itu sudah lebih dari cukup untuk membuat mata menjadi panas dan tanpa terasa air matapun mengalir membasahi pipi.

Kita perlu malu dengan seorang tuna netra yang ternyata mempunyai kemauan dan kemampuan di atas rata-rata, sementara kita yang "lengkap" ini malah kadang terlihat "memble" tanpa prestasi dan kadang malah menjadi masalah dan bukan solusi.

Patut diacungi juga sikap keluarganya yang punya semangat yang pantang menyerah. Suatu semangat yang kadang masih sulit dicari di jaman kemerdekaan ini.

Silahkan baca sendiri saja di blognya atau beli bukunya yang hari ini laris manis di Indonesia Book Fair 2008 JCC.

Kamis, November 13, 2008

Kehilangan HaTe

Pagi ini kawanku mendekatiku dan sambil tersenyum dia menyapaku.

"HaTenya sudah pak? Tinggal bapak yang belum mengembalikan", katanya.

Halah, rupanya dia nagih hate yang dipinjamkan padaku ketika acara family gathering. Perasaan sudah tak kembalikan kok dia belum nerima ya?

Seingatku, tak taruh di mejanya dia, tapi karena dia tidak ada jadi aku titipkan sama mas X. Sayangnya mas "X" ini gak bisa dimintai klarifikasi.

Ya sudah, alamat aku akan kehilangan duit untuk mengganti HaTe itu. Semoga saja mau diganti dengan cara men"cicil".

Sambil mikir mr X aku mencoba mencari hikmah dari kejadian ini. Apa ya yang bisa kupetik dari kejadian ini?

Malemnya, sampai di rumah, baru ketahuan hikmah dari kejadian ini. Anakku bercerita kalau dia baru saja kehilangan duit yang mustinya buat bayar sekolah. Anakku yang satunya juga lapor kehilangan duit.

Wah, kalau gak ada kejadian kehilangan HaTe, mungkin emosiku sudah meluap. Duit kok dibuang-buang, nyarinya aja susah kok mbuangnya begitu gampang.

Pelajaran hari ini :
1. Jangan mau dipinjemin HaTe lagi. Mbawanya susah ngembalikannya lebih susah lagi.
2. Tahun depan aku berumur 50 tahun, dan harus siap-siap untuk jadi lebih pikun dengan banyak minum obat anti pikun [olah raga teratur dan suka mgisi TTS]
3. Kepercayaan anak untuk bercerita terus terang harus dihargai dan disyukuri [bukan untuk dimarahi]
4. Selalu tersenyum dengan ikhlas menghadapi semua cobaan dari Tuhan.
5. Tuhan tahu pasti apa yang terbaik buat kita.

"Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang yang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya… "(QS 2: 286)


Saat masih memakai HaTe di acara Family Gathering [sok-sokan sich]

Keceriaan Pak Dhe [2]

Pak Dhe menarik nafas panjang membaca surat yang dipegangnya. Sebuah surat undangan untuk berdiskusi dengan manajemen pabrik dengan topik efisiensi pabrik.

Mulai minggu lalu, pak Dhe sudah resmi tidak masuk kerja di pabrik. Yang diingat pak Dhe, di hari terakhir kerja, saat dipanggil oleh kepala pabrik, hanya kalimat yang diterjemahkan sebagai "mulai besok bapak tidak usah masuk kerja lagi", selain itu tidak ada lagi kalimat yang masuk dalam telinganya.

Cobaan yang begitu hebat di minggu-minggu ini membuat konsentrasi pak Dhe sangat rapuh. Rasanya imannya seperti biduk di laut lepas yang terkena hantaman badai besar. Terhempas kesana kemari, timbul tenggelam dimainkan ombak.

Kemarin Kang Udin memang memberi tahu tentang undangan itu, tetapi pak Dhe merasa sudah bukan pekerja pabrik lagi, jadi kenapa harus hadir. Memang disebutkan di surat itu, bahwa pak Dhe diundang dalam kapasitasnya sebagai anggota Serikat Pekerja seksi dakwah, tapi apa masih perlu dia datang ke acara diskusi itu?

Siangnya pak Dhe memutuskan untuk datang ke pabrik. Minimal dia harus memberi klarifikasi tentang statusnya sekarang dan relevansinya dengan undangan itu.

Seminggu tidak masuk pabrik dan wajah-wajah akrab yang biasa dilihatnya kembali muncul di hadapannya. Senyum renyah mereka menyambut kedatangan pak Dhe. Rasanya pak Dhe ingin mengalirkan air mata, tapi panas di matanya masih dapat ditahannya agar tidak menjadi air mata. Di toilet pabrik baru air mata itu mengucur deras, sehingga pak Dhe harus berpura-pura wudhu untuk menghapus sisa-sisa air matanya.

Di siaran TiPi disamping kantin pabrik, pak Dhe berhenti sejenak. Berita yang ada adalah maraknya pengangguran di Amerika, sehingga ada seorang laki-laki berumur sekitar 45 tahun harus keluar dari pekerjaan dan sudah berpuluh-puluh kali dia melamar pekerjaan di tempat lain dengan hasil "nihil".

Istri sang pegawai itu, yang tadinya hanya menjadi ibu Rumah Tangga yang baik, akhirnya ikut mencari kerja, tapi hasilnya sama saja. Fenomena itu tidak hanya terjadi pada sebuah keluarga di Amerika, tetapi terjadi di beberapa keluarga di Amerika, bahkan kondisi yang lebih parah terjadi di beberapa keluarga lainnya.

Ketika asyik noton siaran itu, pundak pak Dhe ditepuk penonton yang baru masuk.

"Assalamu'alaikum pak Dhe", sapanya ramah

"Wa'alaikum salam, Pak Rochmat", terkembang senyum pak Dhe menerima pelukan Ketua Serikat Pekerja Pabrik, pak Rochmat.

Keduanyapun akhirnya asyik berbincang tentang segala hal, sehingga akhirnya sampai ke acara diskusi yang akan dilaksanakan sehabis sholat Dhuhur nanti.

"Kenapa sih aku masih diundang diskusi pak?"

"Lha kan pak Dhe yang mengusulkan diskusi ini bulan lalu dan manajemen akhirnya menyetujui setelah kujelaskan dengan data yang ada"

"Iya memang, tapi aku kan bukan pekerja pabrik lagi"

"Halah.... ide siapa itu?", kaget pak Rochmat menjawab.

"Pak Abu, kepala Pabrik"

"Astaghfirullah. Sebegitu kejamnya dia sama pak Dhe ya? Alhamdulillah, pak Dhe masih mau datang kesini, jadi bisa kujelaskan duduk perkaranya"

Pak Dhe tidak bisa berkata-kata lagi ketika dia tahu bahwa sebenarnya dia hanya diminta untuk cuti selama sebulan, karena sudah bertahun-tahun pak Dhe tidak pernah mengambil cuti. Pak Dhe terlalu bertanggung jawab dengan pekerjaannya, sehingga cutipun tidak pernah diambilnya.

Yang selalu diambilnya hanyalah libur di tanggal merah saja, itupun kadang masih disempatkan pak Dhe untuk melihat-lihat pabrik.

Temuan pak Dhe tentang tidak efisiennya proses pekerjaan di pabrik rupanya telah membuat berang Kepala Pabrik, sehingga keputusan manajemen berdasar usulan Serikat Pekerja diplintirnya menjadi pemutusan hubungan kerja.

"Pak Abu sudah dipindah ke pabrik kita yang lain dan pak Dhe masih pekerja di pabrik ini. Gitu ceritanya"

Subhanallah, begitulah Allah mengatur roda kehidupan ini. Pak Abu yang telah terpesona oleh kehidupan dunia rupanya telah menjadi gelap mata dan mau melakukan apa saja untuk mencari kesenangan di dunia. Pak Abu telah lupa akan semua petunjuk yang ada di Al Quran.

Allah SWT berfirman :
“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-bangga tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu”. (QS, al-Hadiid 57:20).

Ali menutup bukunya, mengusap air matanya dan memandang PS baru yang dibelikan ayahnya karena kemarin dia ngambeg tidak mau berbuat apa saja sebelum dibelikan PS baru.

"Aku rupanya telah menyusahkan ayah ibuku. Maafkan aku ayah ibu", Ali menuju ruang keluarga dan menciumi ayah ibunya yang keheranan melihat tingkah aneh anaknya.

Minggu, Oktober 26, 2008

Memimpin Dengan Hati

Sebelum meninggalkan pulau Bangka, kembali ke Jakarta lagi, aku banyak cerita tentang beberapa mantan Bosku yang suka memimpin dengan hati.

Semua bos memang punya kewajiban untuk memimpin anak buahnya, dengan segala cara yang dia kuasai dan dia sukai. Mau tidak mau dia harus memimpin. Bahkan dalam ajaran agama[ku], semua orang adalah bos.

“Setiap dari kamu adalah pemimpin dan setiap kamu akan dimintai pertanggung jawabannya atas apa yang dipimpinnya”( Bukhori ;893).

"Sebaik-baiknya pemimpin adalah yang mencintai Rakyatnya dan dicintai Rakyatnya, dan seburuk buruknya pemimpin adalah yang membenci rakyatnya dan dibenci serta dilaknat oleh rakyatnya.” Hr Muslim

Kadang saking semangatnya memimpin, para bos suka lupa bahwa mereka kelak akan dimintai pertanggung jawabannya. Mereka memimpin dengan kekuasaan jabatan yang dia pegang.

Ciri bos seperti ini biasanya "tidak tahan terhadap kritik" dan "cenderung memaksakan kehendaknya", ujung-ujungnya jadi marah kalau kehendaknya ditentang oleh anak buahnya atau lingkungannya.

Ada bos yang suka menggunakan kata,"sebaiknya" dibanding kata "seharusnya". Ada juga yang lebih suka berkata,"nanti biar gak salah lagi, bagaimana cara ngerjakannya?" daripada bilang,"cara ngerjakannya salah tuh, begini nih yang benar..."

Secara otomatis [manusiawi], selalu muncul perlawanan dari diri seseorang bila di awal kalimat sudah muncul "judgemnet" tentang kesalahan yang kita perbuat.

Meskipun faktanya, kita memang salah, tapi hati kita bisa menjadi luluh [bin trenyuh] ketika bos sama sekali tidak menyinggung kesalahan kita, justru bos aktif mencari solusi terhadap kesalahan yang kita perbuat.

"Wah, ternyata yang kita perbuat kemarin membuat aliran dana tersendat. Nih data yang dikirim oleh proyek A. Gimana solusinya ya agar dana di semua proyek tidak tersendat."

Nah, pernyataan itu akan menyejukkan hati kita [soalnya kemarin kita membuat keputusan yang salah tanpa persetujuan bos, tetapi bos mengatasnamakan kesalahan itu pada kelompok, bukan pada stafnya, si pembuat keputusan salah].

Bandingkan dengan kata-kata ini,
"Kamu ini sudah dibilangin, kok masih membuat kesalahan aja sih. Seharusnya kan bla..bla..bla..."

Wah, kuping kita langsung pasang mode :"BUDEG". Terserah bos mau bilang apa, yang penting aku gak dengar.

Yang bikin lebih sakit lagi, ucapan yang dilontarkan bos itu terjadi di depan anak buah kita.

Huaduh sakitnya hati ini. Kalau saja boleh, pasti sudah kujitak tuh kepala bos yang suka meruntuhkan kehormatanku di depan orang lain.

Alhamdulillah, selama hidupku ini aku lebih banyak dipertemukan dengan bos yang suka memimpin dengan hati. Ada sih yang tadinya memimpin dengan "POWER", tapi ketika "POWER"-nya makin redup diapun akhirnya mulai meninggalkan kepemimpinan dengan "POWER" itu. Sedikit demi sedikit dia mulai memimpin dengan hati, mulai mau memeluk anak buahnya [tidak hanya menyodorkan tangan, tapi aktif merangkul dalam pelukannya].

Senangnya mereka yang sudah ikut pelatihan ESQ.

Mereka sudah mengenal dengan baik bagaimana menjadikan suara hati [GOD SPOT] sebagai pemimpin semua organ tubuhnya, sehingga semua yang dikerjakan adalah cerminan dari suara hati yang paling jernih dan paling jujur. Itulah 99 suara hati terbaik di dunia, karena itu adalah Asmaul Husna [99 nama Allah]

Kalau Gede Parma menulis tentang "Memimpin Dengan Hati", maka ESQ mengajari kita bagaimana caranya menghancurkan belenggu yang membuat hitam suara hati kita, sehingga suara hati kita menjadi bersih dan dapat menyinari lingkungan kita.

"Sebaik-baik manusia di antaramu adalah yang paling banyak mamfaatnya bagi orang lain." (HR. Bukhari dan Muslim)
"Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.”(HR. Tirmidzi)
"Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya (istrinya) dan aku (Nabi SAW) adalah sebaik-baik kalian bagi keluargaku" (H.R. Tirmidzi dan Ibnu Majah)
“Perumpamaan seorang mukmin adalah seperti sebatang pohon kurma. Apapun yang kamu ambil darinya akan memberikan manfaat kepadamu.” (HR. Ath-Thabrani)

Selamat Memimpin [keluargamu]

Jumat, Oktober 24, 2008

Tahu2 Selesai...

Setelah melewati malam yang penuh dengan acara mati lampu, ternyata paginya masih diberi kesempatan untuk mati lampu lagi.

Kerjaan masih numpuk dan lampju gak bisa diajak kompromi. Yowis, ikhlas saja. Tarik bibir ke kanan dan ke kiri masing2 2 cm dan tahan selama 7 detik, maka kumulailah hari yang penuh cobaan ini.

Pas pusing mikir ROA, ROE, ROI eh ... banyak kawan yang membantu memecahkan masalah ini. Aslinya sih sudah tahu, tapi gak PeDhe aja, jadi perlu teman untuk memperkuat keyakinan yang ada.

Abis itu, ketika pusing mikir SAP [Setan Aja Puzink], eh ada kawan yang pada ngirim tulisan tentang SAP.

Mas Nukman, rupanya hari itu punya 3 tugas dan satu demi satu diselesaikannya. Ternyata akupun mengikuti jejak mas Nukman, tahu-tahu ketiga-tiganya sudah selesai dikerjakan.

Hasilnya?

Ya masih draft, tapi sudah lumayan untuk dijadikan bahan diskusi. Sekarang ini, sudah bener-bener "clear".

Hari Jumat, Jam 0.31 PAS.

“Dan ingatlah tatkala Rabbmu mengumandangkan : “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku) maka sesungguhnya adzab-Ku sangat pedih” [Ibrahim : 7]

Alhamdulillah, segala puji hanya bagi Allah swt.
Semoga aku dimasukkan sebagai hambaNya yang pandai beresyukur.
Amin.

Jumat, September 19, 2008

HiDuP "PaS-PaS"aN


Apakah sebenarnya yang dicari dalam hidup ini?

Pingin kaya raya dan mati masuk surga atau pingin menikmati hidup tanpa harus kaya namun tetep mati masuk surga?

Atau mungkin ada pilihan lain lagi?

Hidup ini memang sebuah pilihan, dan setiap saat, setiap detik, kita selalu dihadapkan pada suatu pilihan. Layaknya sebuah flowchart kehidupan yang sangat besar [mendekati tak terhingga], maka setiap pilihan kita selalu menanggung konsekwensi.

Jadi yang perlu disiapkan adalah bagaimana kita menghadapi setiap konsekwensi dari pilihan kita.

Pingin kaya? Berarti harus berusaha keras nyari kekayaan.

Pingin mati masuk surga? Berarti harus menyiapkan bekal yang banyak agar pas mati bekalnya sudah memadai.

Paling enak ternyata hidup dengan cara pas-pasan. Pas pingin kaya, tiba-tiba dapet rejeki.

Pas mati, ternyata amalannya sudah memadai [untuk masuk surga].

Kadang yang terjadi adalah :
1. Pas dapet duit, ditagih hutang
2. Pas mau makan enak, ada yang datang minta makan
3. Pas nyenyak-nyenyaknya tidur, dibangunin sahur
4. Pas mau ngeblog, pas listrik padam

Nah, kalau begini, apa yang musti dilakuin?

Hanya ada satu cara, tersenyum sambil bilang,"Enjoy AjaH!"

Indahnya hidup "pas-pas"an

Pandanglah hijaunya daun dan nikmati indahnya hidup ini. Paksakan sebuah senyum, dan insya Allah, lama-lama jadi nggak kepaksa.

Amin.

Sabtu, September 13, 2008

SePeDaAn [di bulan PuaSa]




Hari libur [Sabtu-Minggu], acara yang paling menyenangkan adalah bermain bersama keluarga. Sekalian olah raga, maka diputuskan bentuk acara adalah bersepeda, memanfaatkan sepeda yang minggu lalu telah diberesin.

Kali ini kita menuju jembatan baru yang belum banyak dilalui orang. Sampai di lokasi ternyata banyak remaja ABG ngumpul disitu. Ada juga yang sudah berpasang-pasangan, duduk-duduk di pinggir jalan. Nggak kutanya apa mereka suami istri atau sedang pacaran, baik sangka sajalah, rumah mereka sedang bermasalah, jadi mereka berdiskusi di pinggir jalan umum yang sepi dan sejuk.

Begitu turun dari sepeda, sekelompok anak kecil mendatangi. Kayaknya mereka baru sekali ini melihat sepeda tandem, jadi mereka langsung membentuk kelompok, melingkari sepedaku.

Ketika LiLo terjatuh, secara spontan, "ketua geng" mereka langsung menolong LiLo.

Habis itu, terjadilah dialog kecil dengan mereka.

"Seberapa harganya", kata mereka

"Macem-macem", kataku,"ada yang dua juta ada yang satu setengah ada juga yang sejuta"

Pandangan mereka yang begitu antusias membuatku bertanya pada mereka,"Mau nyoba?"

Wah, pandangan mata mereka langsung berbinar-binar,"Boleh?", kata mereka seolah nggak percaya dengan ucapanku.

Begitulah, mereka bergantian naik sepeda tandemku. Setelah cukup lelah, baru mereka menyerahkan sepedanya. Mungkin mereka melihat aku juga sudah mulai pingin pulang.





Jumat, September 12, 2008

BukBeR SPW






Seperti tahun lalu, pak Slamet, bendahara Serikat Pekerja Waskita [SPW], mengajak untuk mengadakan acara rutin BukBer SPW. Aku, sebagai SekJend SPW, selalu saja menerimanya dengan senang hati. Tempat yang dipilih oleh Mr. Munir [kapro MOI] dan Mbak Rini [Bagian Kesra] adalah restoran Kuring di Kelapa Gading.

Itu adalah lokasi paling dekat dengan Mall of Indonesia [MOI], lokasi kerjaan Mr. Munir , selaku penyandang dana acara BukBer, sekaligus lokasi yang paling tidak kukenal [karena jarang blusukan disitu].

Bener saja, berangkat jam 16.30 dari kantor Cawang, nyampe di lokasi restoran Kuring di Kelapa Gading udah hampir bedug.

Awalnya salah turun ketika mau milih outlet keluar tol. Mas Yusuf [driver kita] yang biasa ke Mall  Kelapa Gading tidak faham bahwa kita bukan mau ke mall Kelap Gading tapi ke restoran Kuring yang ada di Kelapa Gading.

Setelah "kebablasen" [masuk ke Priok], maka kitapun hati-hati memilih jalan menuju lokasi bukber. Kita milih jalan di pinggir kiri, karena dari Priok ke Kelapa Gading kita mau belok kiri menuju Kelapa Gading.

Ternyata kalau mau ke kiri [kelapa Gading], kita harus milih jalur paling kanan, sehingga karena kita ambil jalur paling kiri, maka kitapun balik lagi ke arah Cawang.

Ya sudah, kita bertigapun dengan "full senyum" terus mencari jalan lain ke arah kelapa Gading. Pokoknya harus selalu tersenyum agar ibadah puasa dan acara bukber ini tetep dapat kita nikmati dengan baik.

Akhirnya, dengan panduan Mr Munir via hape, kitapun sampai di restoran Kuring di samping La Piazza. Ternyata cobaan belum berhenti, mobil yang kita pakai atapnya ketinggian, jadi nggak bisa parkir di gedung, harus nyari parkir diluar [yang jauuuuh banget letaknya].

Alhamdulillah, akhirnya bukber dapat berlangsung sesuai rencana. Makanannya enak, jumlahnya pas, dan tempat sholatnya cukup memadai.

Begitulah kalau cobaan dihadapi dengan senyum, maka tidak ada yang mampu membuat kami sedih biarpun tersesat berkali-kali.

Kamis, September 11, 2008

TeRtAwA

Di India katanya ada klub tertawa. Mereka berkumpul di suatu lapangan dan selama beberapa menit mereka memaksakan diri untuk tertawa bersama, hasilnya dari keterpaksaan tertawa di awal, ternyata beberapa saat kemduian mereka pada tertawa lepas.

Kalau kita inget masa kanak-kanak kita, maka saat-saat itu selalu penuh dengan senyum dan tawa. Dunia rasanya sangat bersahabat. Musuh kita saat kecil, paling sang pemilik pohon mangga yang mangganya sering kita curi, soalnya kalau diminta baik-baik sering nggak mau ngasih sih [lho kok malah curhat..!:-)]

He..he..he... ternyata tertawa, katanya, bisa menimbulkan efek yang luar biasa.

Coba simak situs 
http://www.mail-archive.com/mayapadaprana@yahoogroups.com/msg00668.html


Tertarik dengan tulisan itu, akupun mencoba mempraktekkannya di mobil. Waktu itu ngantuk berat dan sendirian saja di mobil. Nyetel lagu keras-keras sudah nggak mempan, nyetel radio juga gak ngaruh, ya udah kucoba saja untuk ngakak sendirian.

Mobil yang disampingku mungkin melihat aku yang sedang ngakak sendirian, tapi bodo amat. Kuteruskan saja ke"gokil"-an ini.

Bener juga, beberapa saat kemudian rasa kantuk ilang dan badan tiba-tiba segar. Wah, ajaib nih. Karena sugesti atau memang benar ini akibat manfaat tertawa?

Ya sudah kuteruskan saja kegilaan ini selama sekitar 5 menit. Badan fresh lagi dan sampai di tujuan dengan selamat.