Tampilkan postingan dengan label kehangatan keluarga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kehangatan keluarga. Tampilkan semua postingan

Minggu, Juli 26, 2009

Mandiin Ayuko

Sore ini badan capek banget. Maklum tadi malem nungguin istri nggak dateng-dateng. Lewat tengah malam baru dia muncul, padahal dari Surabaya terbangnya jam 20.00, tapi sampai di Cikarang rupanya sudah lewat "midnight". Acara ngobrol menjelang tidur jadi nggak ada deh, istriku langsung "tewas", demikian juga aku, langsung lupa segala-galanya [untung chordnya masih ingat]


Sambil guyon, aku bertanya pada istriku, yang juga mengaku capek berat, soalnya acara ngobrol menjelang tidur diganti acara ngobrol sehabis subuh. Habis itu langsung meluncur ke acara hari Belanja CiMart dan kemudian dilanjut ke acara "launching" Logo JM yang baru di resto Samikuring.

"Kapan mau mandiin Ayuko?", begitu kataku.

"Ya udah mandikan saja", jawabnya

"Loh aku itu nanya, kok malah disuruh mandiin?"

"Kalau bapak mau mandiin, kubuatkan air hangatnya", kata istriku sambil tersenyum.

Yowis kalah set, akupun tesenyum sambil mengangguk.

Segera kuajak LiLo untuk latihan PBB [pasukan baris berbaris?], dan kutugaskan dia untuk memimpin acara pemandian Ayuko.

LiLo terlihat setengah hati mengikuti perintahku, karena dia sedang main Game Sims-3 yang baru, tapi dia tahu benar, bahwa aku gak suka main game, jadi kalau nggak mau baris-berbaris pasti masalah main game akan dipermasalahkan.

Hehehe...salah juga aku ya, memaksakan kehendak pada anak kecil ini.



Alhamdulillah, akhirnya yang terjadi adalah suasana yang akrab dan ceria. Kami saling bantu membersihkan bulu Ayuko yang sudah terlihat "jorok".

Aku bagian mbawa air panas, dan LiLo bagian pekerjaan yang ringan-ringan. Tugas ibunya adalah mengawasi proses pemandian Ayuko ini sambil ceprat cepret pakai Canonku.

Sungguh nikmat rasanya mempunyai keluarga yang mau saling berbagi, saling bantu dalam segala urusan. Meski LiLo kadang-kadang suka bandel, tapi kalau ditelusuri, dia bandel karena ada contoh dari lingkungannya dan bukan dari dia murni.

Patut kita catat bahwa lingkungan yang paling gampang dicontoh oleh seorang anak adalah ortunya sendiri. Ortu adalah sosok yang sangat pas untuk dicontoh, sehingga kita harus selalu berhati-hati bersikap di depan anak-anak. Kalau sikap kita salah, maka sikap itu sudah tercetak di rekaman orak si anak, dan agak sulit untuk emnghilangkannya.

So, hati-hatilah para ortu dalam bersikap di depan anak-anak.

...
.

Kamis, Mei 14, 2009

Sepedaan dari Montana

Tadinya acara sepedaan yang digagas pak Akur akan mengambil START di Kursus Musik JM [Jimmy Manopo], tapi karena aku juga pingin ngajak teman-teman kumpul-kumpul di rumah, maka akhirnya lokasi START dipindah ke rumahku.

Route sepedaan yang tadinya hanya on road, akhirnya juga dirubah menjadi [semi] off road, karena ada acara masuk kampung.

Acara sepedaan ini akan dipandu langsung oleh Om Gazzele, panggilan akrab pak Sulis [sang Maha Dewa Gitar band CiMarT].

Anakku rencananya mau ikut juga, tinggal bagaimana mbagi sepedanya. LiLo dijamin pakai sepedanya sendiri, sedangkan LitHa mungkin naik sepeda motor saja, karena sepedanya perlu beberapa perbaikan kalau mau dipakai. Udah gitu sepeda itu sering dipakai BiBi untuk beli sayur atau pergi kemana-mana, jadi dipastikan tidak dipakai saja.

Aku ada dua pilihan, pakai Anvil atau Tandem. Kalau Anvil dipinjam pak Saparjan, maka aku pasti pakai Tandem, mungkin sama LuLuk atau sama ibunya.

Kalau pak Saparjan mau naik motor [langsung menunggu di lokasi Finsih], maka mungkin aku pakai Anvil dan tandem dipakai ibunya.

Oke, apapun yang terjadi semuanya "fine-fine" saja. Aku siap dengan segala plan.

Beberapa hari lalu, malem-malem aku telepon pak Ato, sang pemilik Kupat Tahu Bandung. Kubilang padanya bahwa ada acara sepedaan dan mengambil lokasi FINISH di Warung Kupat Tahu Bandung.

Pak Ato langsung tanggap dan memberikan diskon bagi anggota Cimart yang mau mampir makan di warungnya. Luar biasa memang pak Ato ini.

Kayaknya memang semua anggota TDA Bekasi punya hobi ngasih diskon ya. Pak Rawi, pak Wisnu, semuanya suka berlomba-lomba ngasih diskon.

Jadi pingin segera hari Minggu nih, biar bisa membahagiakan anak-anakku dnegan bersepedaan bersama kawan-kawan CiMart.

Start dari Jl Puspita VII Blok T.26
Menuju Golf Jababeka
Masuk kampung
Keluar Tropikana
FINISH di Kupat Tahu Bandung

Semoga acara ini bermanfaat bagi semua
Amin.

Yeni Istriku Anis Kecintaanku

Pagi ini tanpa sarapan aku langsung berangkat ke kantor. Tadi malem kelupaan nggak nyiapin makan dan pagi tadi kesiangan bangun,lengkaplah sudah acara tanpa sarapan pagi ini.

Istriku menyodorkan topi dan kutolak dengan isyarat. Mungkin istriku inget kemarin aku minta topi ketika mau ngantor, jadi dia nyiapin topi lagi untukku.

Ke kantor tanpa sarapan sudah membuat otakku agak beku, hari ini banyak kerjaan kantor jadi aku lupa kalau sekali-kali ujian kesabaran itu muncul di saat kita akan sulit menerimanya.

Sampai di Halim baru ketahuan kalau aku memang perlu topi. Hujan gerimis memang hanya turun satu-satu, tetapi sudah cukup membuat kepalaku kebasahan. Ah andai topi tadi kubawa ya?

Istriku memang sering melakukan sesuatu yang aku tidak pahami, sering tidak masuk akal, tidak logis dan seperti nggak ngelihat sikon.

Kenyataan kemudian selalu menunjukkan apa yang dilakukan istriku itu seperti "cenayang", yang tahu persis kejadian apa yang nanti akan terjadi.

Waktu di SUrabaya, istriku pernah menjemputku dengan mobil pribadi di Airport Juanda. Aku tentu saja kaget ketika gantian nyopir dan ternyata istriku tadi masuk ke parkiran aiport tanpa mengambil tiket parkir.

"Wah... pasti runyam deh saat keluar pintu parkir", begitu pikirku sambil menyalahkan diri sendiri kenapa aku nggak ngasih tahu ke istriku kalau mobil pribadiku ini tidak pakai stiker bebas parkir. Kalau mobil kantor sih aman-aman saja masuk airport, karena sudah ada stiker bebas parkirnya.

Yang terjadi kemudian ya keluar airport tanpa masalah, nggak ada acara mbayar tiket masuk.

Banyak hal yang telah ditunjukkan istriku, yang kadang sulit dipahami tetapi ternyata kemudian menunjukkan bahwa istriku seperti orang yang "waskita", mengetahui sebuah kejadian sebelum kejadian itu terjadi.

Di luar hal itu, istriku juga selalu menunjukkan kasih sayangnya pada anak-anaknya. Saat LiLo, si kecil tertidur dengan posisi yang memprihatinkan, aku cuek saja dan langsung tidur di kasur, sementara istriku menggendong LiLo, menempatkannya di kasurnya, menyelimutinya dan memastikan kondisi kamar tidurnya aman dari hal-hal yang mengganggu.

Itulah epos [energi positif] dari istriku yang kemudian menyebar bagai virus di rumahku.

Kemarin ketika aku kecapekan dan tertidur di sofa, LiLo dengan penuh kasih sayang mengambilkan aku bantal. Kemudian beberapa saat berlalu, LiLo datang lagi dan menyelimutiku. AKu yang mau bangun jadi mengurungkan niatku, kunikmati dulu kasih sayang LiLo padaku.

Ah indahnya kehangatan keluarga ini, pasti semua karena aura epos dari ibunya yang tak kunjung padam.

Saat aku pulang ke rumah dan membunyikan klakson mobil, maka anak-anak biasanya langsung berhamburan keluar membukakan pintu. Kadang Litha duluan kadang LiLo duluan.

Lilo pasti hanya membuka pintu pagar untuk berlari ke mobil dan langsung mencari tasku dengan pertanyaan yang sama, "bawa kue pak?"

Kakak-kakaknya yang akan membuka pintu pagar sampai penuh dan biasanya akupun membuka kaca samping kanan untuk melakukan "high five" dengan LuLuk dan Litha.

Semua ajaran ibunyalah yang kupastikan telah membuat anak-anak ini begitu sayang padaku, seperti juga aku sayang pada mereka.

Jadi kalau dulu aku hanya cinta dengan istriku saja, maka saatnya aku harus membelah cinta itu untuk anak dan istriku. Anis, aku cinta padamu, more than you"ll ever know...

 
....
..
.

Minggu, Mei 10, 2009

Selingkuh ternyata [enggak] enak tuh...

Hati yang berdebar-debar saat memandang lawan jenis adalah saat awal dimulainya serial kisah selingkuh seseorang. Start point ini bisa berlanjut dengan cerita yang lebih mengharu biru atau bisa juga berhenti begitu saja.

Bagi seorang laki-laki, kesempatan untuk meneruskan kisah ini biasanya lebih besar dibanding kalau menimpa seorang wanita.

Bagi wanita, yang menarik adalah sikap dan kharisma seorang lelaki, sedangkan bagi laki-laki yang menarik baginya adalah wajah dan kesempatan yang ada.

Tak dipungkiri lagi yang namanya Harta, Tahta dan Wanita adalah sisi lemah lelaki yang mudah dipakai sebagai sasaran tembak lawan [politik]nya.

Ada seorang lelaki yang begitu tegar menghadapi godaan wanita, tetapi begitu ada godaan harta ataupun kedudukan, maka mulailah hatinya bergetar kendor.

Ada cerita tentang sesorang yang begitu alim dan begitu tahan menghadapi godaan wanita maupun kedudukan, suatu ketika dia perlu duit sebesar 1 Milyard.

Saat itu dia harus melaporkan suatu kejadian yang sepele, tetapi jika dilaporkan maka rentetan yang terjadi akan panjang, karena yang dia laporkan mempunyai hubungan dengan orang gedhe yang tidak ingin muncul laporan itu.

Datanglah sang mediator menawarkan uang sebesar 100 juta agar jangan melaporkan kasus hamil di luar nikah yang sedang dia tangani. Sebuah harga yang pantas hanya untuk tidak melaporkan kisah itu, karena memang hanya kisah yang biasa-biasa saja.

Dengan tegas ditolaknya tawaran itu, sehingga tawaran dinaikkan menjadi 200, 400 dan aklhirnya 600 juta.

Si Alim tetap dengan pendapatnya. Senyum halusnya tidak bisa lepas dari bibirnya ketika dia menolak semua permintaan itu.

Sampai akhirnya tawaran sampai ke angka 900 juta dan si Alim tiba-tiba beridiri tegak dengan mata yang membara dan mengusir tamunya. Ditutupnya semua pintu rumahnya dan pergilah dia ke kamarnya. Menangis dia tersedu-sedu karena tawaran itu sudah dekat dengan kebutuhannya.

Disini si Alim lolos dari lubang neraka, tapi seberapa banyak orang seperti si Alim ini. Jangan-jangan hanya ada dalam dongeng saja.

Di kisah lain, ada seorang laki-laki yang sudah dekat ke masalah zina. Selingkuh kecil sudah dijalani, tinggal memastikan selingkuh besar dan masuklah dia dalam lingkaran perselingkuhan yang tak akan mudah lepas lagi.

Saat itulah bayangan anak-anaknya [yang kebetulan cewek] muncul di hadapannya. Tidakkah selingkuhannya sepantaran dengan anaknya?

Tegakah dia jika anaknya diselingkuhi oleh temannya?

Benarkah yang dia lakukan ini sesuai dengan ajaran agamanya?

Kesadaran ini akan membuatnya lepas dari masalah selingkuh, namun jika dua hal tersebut tidak tertayang dalam pikirannya, maka perselingkuhan itu akan langsung terjadi tanpa perlu menunggu waktu lagi.

Yang sering menjadi lucu, kadang-kadang istri selingkuhan ini malah lebih jelek dibanding istri resminya. Kitapun jadi bingung melihat sesorang yang sudah punya rumput hijau malah memilih rumput alang-alang.

"... hanya alang-alang pagar rumah kita
tanpa anyelir tanpa melati
hanya bunga bakung tumbuh di halaman
namun semua itu milik kita
sendiri ..."

Indah bener lantunan lagu Rumah Kita itu. Bayangkan lagu itu adalah perwujudan dari kondisi kita saat ini, istri kita saat ini dan harta kita saat ini.

Semoga kita jauh dari godaan harta, tahta dan wanita.
Amin

Kamis, April 30, 2009

Full Day Meeting and Futsal

Seharian ini aku mabuk rapat, mulai rapat dengan Serikat Pekerja, dengan Kepala Lapangan Proyek Jembatan Suramadu, sampai dengan Panitia Reuni Akbar Teknik Sipil 2009.

Meski rapatnya berlangsung santai dan efektif, tetapi ternyata energiku habis terkuras juga. Tahu-tahu hari sudah malam dan kawan-kawan sudah menunggu untuk latih tanding Futsal.

Inilah olah raga yang sedang tren di saat ini. Dari faktor kesehatan sendiri, olah raga ini kurang dianjurkan, karena 3-4 jam sebelum tidur sebaiknya kita tidak ber olah raga berat.

Sayangnya pertandingan bola, diadakan juga pada malam hari, sehingga anjuran itu seperti suara di padang pasir saja, tanpa gaung dan hilang begitu saja.

Tadinya tempat latih tanding ini mau dipindahkan dari tempat yang sudah direncanakan, karena ada salah satu direktur kita ada yang ingin nonton, tetapi karena tempat lain sudah penuh, akhirnya tempat latihan tidak jadi dipindah dan kitapun meluncur ke tempat latih tanding itu.

Tanpa menunggu waktu, langsung pemanasan [maksudnya foto narsis dulu] kemudian milih anggota tim saat itu juga dan permainanpun dimulai.





Seperti biasa kita tampil dengan kostum kebesaran kita [sugesti biar menang lagi, kayak waktu melawan telkomsel beberapa waktu lalu]

Ternyata kiper lawan luar biasa hebatnya. Meskipun kendali permainan ada di tangan tim kita, tetapi akhirnya malah kecolongan gol duluan karena terlalu asyik menyerang. Kecolongan ini terus berlanjut, sehingga skor yang terpampang menunjukkan kita kemasukan 6 gol dan hanya memasukkan 3 gol.

Tuan rumahpun timbul eforianya, sehingga menurunkan tim lapis keduanya, demikian juga tim kita, turun juga anggota tim yang belum main.

Hasilnya 2-2.

Permainan terus berlanjut dan akhirnya merekapun kecapekan dan skor akhir menjadi 9-4, kita berhasil melesakkan 9 gol dan mereka berhasil membalas 4 gol.

Kedua timpun merasa sama-sama menang dan dirayakan di rumah makan terdekat.








Jam 22.00 aku meluncur pulang ke rumah dengan kondisi yang sudah hancur lebur. Untungnya pakai kalung biofir, sehingga masih bisa sampai ke tempat perisitirahatan di km 19, tol jakarta cikampek.

Setelah tidur sejenak di dalam mobil, akupun pulang dan sampai di rumah dalam kondisi yang segar. Kusiapkan diri untuk menghadapi keroyokan anak-anakku.

Ternyata mereka sudah pada tidur, sehingga akupun langsung menyiapkan diri untuk tidur.

Hmm.... pasti besok pagi acara dialog dengan anak-anak akan sangat meriah ...................

Minggu, April 26, 2009

Lukisan Alam Pagi

Pagi-pagi sepedaan sama anakku nomor dua, Haslita Nisa atau yang suka dipanggil LitHa, arah tujuan pertama adalah beli kue pukis kesayangan.

Banyak orang jualan pukis di Cikarang, tapi paling enak tetap yang ada di pasar Roxy depan ALfa Mart. Selama ini adonannya selalu mampu membuat kami ketagihan, kecuali saat dia berhalangan berjualan dan digantikan adiknya, rasanya sedikit berubah [atau sugesti aja ya?]

Sambil merasakan segarnya udara Jababeka, kami ngobrol ngalor ngidul dan akhirnya berhenti di dekat lapangan golf, karena melihat matahari pagi yang indah dan kabut di atas sawah yang membuat suasana serasa di kintamani.

Inilah lukisan alam pagi yang indah, "sungguh agung Pelukisnya", demikian kata Koes Plus.

Karena gak bawa tustel, maka kukeluarkan hape untuk mengabadikan lukisan alam pagi itu.

Lithapun tak mau ketinggalan, langsung mengeluarkan hapenya. Kamipun saling berlomba mengambil lukisan alam pagi yang begitu indah.

Begitu indahnya suasana pagi itu, sehingga hasil foto yang indah ini masih belumisa menggambarkan keindahan yang asli di pagi itu.

Belum lagi kabut dan hawa segar yang menerpa wajah kita, semu aitu pasti tidak tergambarkan di foto yang kita ambil ini.

".....
Kicau burung bernyanyi
menyambut pagi nan cerah

senyum merebak
dan hatipun bernyanyi

indahnya alam pagi ini
membawa damai di hati

terima kasih Tuhan
......"

 
matahari di antara dua tower


 
lomba foto 

 
jadi deh foto matahari LiTha 

 
tidah seindah warna aslinya [memang]
...

Minggu, April 19, 2009

Kolaborasi Lukisan Keluarga




Ketika asyik nonton TiVi, Lilo mendekatiku dan bercerita tentang berbagai hal, mulai dari penemuan sepatu, garam sampai penemuan Elevator.

Ceritanya begitu hangat dan asyik, tapi aku sendiri membagi perhatianku pada TiVi yang sedang asyik menayangkan film kesukaanku.

Melihat antusias LiLo dan melihat ketidak antusiasanku melayani obrolan LiLo, ibunya rupanya tidak tahan.

"Pak tiVinya matiin dulu, ajak LiLo mempraktekkan lembar kreatifitas di buku itu", kata istriku.

Aku jadi tersadar, rupanya hari ini tidak sama dengan hari-hari biasa.

Ada LiLo yang tiba-tiba banyak cerita tentang segala hal [caper 'kali ya] dan ada Litha, kakak LiLo, yang asyik mendengarkan cerita LiLo, meski sambil main komputer.

Si Mbarep, LuLu, yang sama dengan hari biasa, tidak terlihat batang hidungnya karena masuk sekolah.

Kumatikan TiVi dan kuajak LiLo untuk berkolaborasi membuat apa yang diperintahkan dalam buku penemuan garam.

LiLo tampak ragu-ragu, tapi LiTha langsung menyahut,"Ayuk pak, aku ikut...!"

Begitulah, kami bertiga mempersiapkan segala "uba rampe", apa saja yang diperlukan untuk mengikuti petunjuk di lembar kreatif itu.

Saat semua peralatan sudah siap, tiba-tiba terdengar suara salam di depan. Waqh, LuLuk sudah pulang, pasti seru nih.

Biasanya memang untuk kegiatan yang melibatkan seluruh anggota keluarga, LuLuk selalu pandai mengatur adik-adiknya.

Kegalakan Bapaknya dan kebijakan Ibunya menurun padanya, sehingga aku selalu percaya padanya bila meninggalkan urusan untuk dilaksanakan oleh adik-adiknya.

Percobaan yang dilakukan adalah melukis di sebuah kertas dengan mempergunakan cat air, kemudian saat masih basah ditebarin garam "secukupnya'. Ketika lukisan itu kering, maka akan muncul sebuah kertas dengan lukisan yang "mengejutkan"

Sayangnya tidak ada kuas, sehingga aku langsung mengoleskan cat dari "tube"nya, sedangkan LiLo mengoleskan cat denga mempergunakan "pipet/sedotan".

Namanya juga kolaborasi, maka sedotan [kuas] LiLo ikut berpartisipasi di segala area lukisan. Biarpun LiLo sudah dikasih tahu, tetap saja ekor sedotan LiLo membuat cat yang sudah dioleskan dengan rata menjadi campur baur tidak karu-karuan.




Ributlah suasana di kamar. Semua orang punya pendapat sendiri-sendiri, sehingga suasana benar-benar riuh rendah.

"Bapak kebanyakan garam", kata anakku

"LiLo kebanyakan memberi air, kertasnya jadi basah banget, cat airnya meleleh tuh..."

"Sudah, jangan ditambahi cat lagi, segera ratakan garamnya dan kertasnya dijemur di luar, cepat...ayu cepat..."




Seru banget deh acara pagi itu. Sampai-sampai ibunya ikut terkekeh-kekeh. Suasana baru berubah ketika ibunya melihat lantai yang kotor dan "tube" cat air yang bertebaran dimana-mana.

Suasana makin mencekam ketika ada salah satu "tube" yang tintanya "nyeprot" ke lantai. Waduh,.... aku segera ambil kertas dan menulis namaku di kertas dengan tinta yang nempel di lantai itu.

Eh...anak-anak malah ngikuti perbuatanku, jadinya kita semua melukis lagi. Bedanya sekarang melukis di kertas masing-masing.







Gakpapa deh, yang penting tidak ada ibu yang marah-marah. "Everything is under control!"

Pelajaran hari ini :

1. Kebersamaan adalah awal dari kebahagiaan
2. Saling memberi bukan saling meminta adalah bagian dari kebersamaan yang indah.



Kamis, April 16, 2009

Diskusi Malam

Sehabis jamaah Isya, kami berempat [aku dan anak-anakku] menunggu istriku sambil "golek-golek" [tiduran] di lantai. Kami ngobrol ngalor ngidul nggak karua-karuan, kebanyakan bercerita tentang mimpi-mimpi liar kami.

"Pak, kalau kawanku ingin sekolah ke yogya, gimana pak?", kata anakku
"Hmm... ya ajak aja dia kost di rumah kita"
"Boleh pak?"
"Bilang sama ibumu, supaya dia diperbolehkan kost di rumah. Gak usah bayar", begitu kataku [sok] serius
"Asyiiiik...."
"Nah, nanti kita bisa bilang ke kawanmu untuk bantu-bantu bersih-bersih rumah, nyuci piring, dll...", kataku
"Ha...ha...ha...", anakku mulai kepingkel-pingkel
"Bilang sama kawanmu untuk mbayar kost dan duitnya kamu bagi berdua sama kawanmu"
"Ha...ha....ha...."
"Bilang juga sama kawanmu untuk beli motor, biar bisa kamu antar kemana-mana"
"............."
"Nanti kamu bilang dia, bahwa kau akan mengemudikan motor itu, dan kawanmu boleh beli bensinnya tiap hari"
"ha...ha...ha...."
"Kalau hari minggu atau hari libur, kamu bilang sama kawanmu untuk di rumah saja, nggak usah kemana-mana. Soal motor, kamu bisa bilang dia untuk jangan kuatir, karena motor akan kamu pakai untuk keliling-keliling kota yogya"
"Huuu......"
"Soal bensin di hari minggu, kamu ijinkan kawanmu untuk mengisinya, kamu yakinkan dia bahwa bensinnya akan kamu manfaatkan untuk keliling kota"
"Ha...ha...ha..."

Tahu-tahu sudah malam dan istri belum juga datang. Ya udah, akhirnya yang mbarep kembali ngerjakan PR, nomor dua main internet dan nomor 3 tergeletak pasrah dalam tidur.

Akupun menunggu istri sendirian, dalam kondisi lapar [padahal pas cerita tadi gak ada rasa lapar je]. Begitulah kekuatan anak-anak. Mereka bisa membuat perut lapar jadi tidak terasa lapar dan membuat capek kerja jadi tak terasa.

Alhamdulillah, aku telah dikaruniai keluarga yang menyenangkan.
Semoga Allah swt membimbing kami selalu.
Amin

Senin, Januari 05, 2009

Yuk Kerja Lagi



Akhirnya hari kerjapun datang lagi setelah capek liburan. Bertemu kembali dengan teman kantor dan mulai menjalani rutinitas kerja seperti biasanya.

Semoga tahun 2009 ini dapat kujalani dengan lebih baik dibanding tahun-tahun lalu. Amin.

Selama liburan ini, praktis aku lebih banyak kumpul dengan keluarga di rumah. Acara keluar rumah hanya nonton Teater Dinasti dan makan di D'Cost. Selebihnya kuisi dengan olah raga ringan, sepedaan bersama keluarga dan makan bareng di warung lesehan atau beli pukis dan makan di pinggir lapangan [disapu dengan angin sepoi yang "suejuk"].







Tiap hari aku sepedaan, hari terakhir libur kututup dengan membeli kelinci kecil. Dua ekor binatang kecil yang lucu banget, sehingga ketika sampai di rumah dan melihat kelucuannya, kita kembali lagi ke penjualnya dan beli 3 [tiga] ekor lagi.

Mereka dinamai oleh masing-masing pemiliknya, yaitu :

1. momo [father], berwarna putih dengan belang hitam
2. panda [pisu], putih dengan mata mirip panda
3. shiro [lilo], putih dengan maksud mirip piaraannya Sin Chan
4. kumu [lytha], coklat dan sangat lincah
5. kuro [luluk], artinya hitam seperti warna bulunya

Sayang di sore harinya Kuro sakit sehingga terpaksa dibawa oleh sang pawang. Semoga lekas sembuh Kuro. Amin.

Liburan yang sangat indah, karena habis untuk keperluan keluarga doank.


KURO [si hitam]


KUMU [Litha Poenya]



Anggora PANDA


Angora MOMO


ShIRO [punya LiLo]

Jumat, November 28, 2008

Diskusi sehabis Subuh

Setelah lama gak berdiskusi dengan anak-anak, tadi pagi sehabis subuh akhirnya bisa juga kita berdiskusi.
Topiknya adalah apa yang sebaiknya dilakukan oleh orang tua menjelang sholat subuh .

Ini topik yang menarik [bagiku], karena akhir-akhir ini memang suasana menjelang sholat subuh selalu agak kacau balau. Kalau mau cari kambing hitamnya, maka pasti telkomspeedy yang akan dituduh sebagai penyebabnya.

Benarkah demikian?

Kalau coba ditelusuri, maka sebelum ada paket gratis telkomspeedy mulai jam 20.00 s.d jam 08.00, maka kehidupan keluargaku berjalan dengan normal, dalam arti sholat jamaah subuh dapat dilaksanakan dengan tidak banyak effort. Kalaulah ada yang tidak normal , masih dalam taraf wajar deh.

Sejak adanya paket gratis itu, maka kehidupan berinternet anak-anak jadi berubah total. Mereka dengan setia menanti datangnya jam 20.00, baik dengan tiduran atau tidur.

Begitu jam 20.00 lewat sedikit, maka mulailah akses internet dibuka dan merekapun bisa keasyikan berinternet sampai berjam-jam,"mumpung gratis pak", begitu alasannya.

Mau dilarang, gak mempan lagi, karena ortunya juga memanfaatkan jam gratis itu dengan penuh euforia.
Sebelum ada paket gratis itu, maka setiap anak-anak akan melakukan sambungan ke internet selalu dipagari dengan tingginya biaya internet.

Bayangkan dari tagihan normal yang seharusnya cuma 200 ribu [paket kuota 1 GB], bisa berlipat-lipat mbayarnya, bahkan bisa melebihi tagihan paket unlimited.

He..he..he... berarti bukan paket gratisnya yang salah, tapi pengarahanku pada anak-anak tentang mahalnya akses internet yang membuat anak-anak jadi seperti kuda liar yang dilepas dari kandang.

Sebaiknya pembatasan akses inetrnet tidak melulu didasarkan atas besarnya biaya internet, tetapi diutamakan pada perlunya menjaga kombinasi antara bermain internet [di depan komputer] dan bersosialisasi dengan lingkungan [dengan meninggalkan meja komputer].

Anak pertamaku sudah "cacat" matanya karena terlalu rajin membaca + nongkrong di depan komputer. Model kursi dan meja komputer yang dipunyai juga membuat anak-anakku tidak memperhatikan masalah ergonomis.

Anak kedua dan ketiga juga mulai "cacat" matanya. ALhamdulillah, anak ketiga masih bisa ditolerir tanpa harus memakai kaca mata, asal rajin makan buah atau vitamin untuk kesehatan mata.

Kembali ke acara diskusi setelah sholat subuh, maka [ternyata] banyak masukan dari anak-anak yang membuat aku harus meninggalkan juga kebiasaanku [yang enak-enak].

Hari ini disepakati beberapa aturan baru [tapi lama] dan yang sebaiknya kutulis di internet agar ada masukan juga dari teman-teman pembaca.


  1. Jam tidur anak-anak adalah jam 22.00 [artinya maksimal internet adalah 2 jam]
  2. Jam tahajud, anak-anak diperbolehkan main internet lagi, dengan himbauan menyempatkan sholat sunah 2 rakaat.
  3. Yang harus sudah wudhu pertama kali adalah anak kedua atau bapak dan setelah wudhu tidak ada kegiatan menunggu wudhu dengan duduk-duduk di depan komputer [ini kebiasaanku yang sulit dilakukan, tapi harus kulakukan, lah sudah "commit" je!]
  4. Cara membangunkan anak harus lembut dan tidak boleh dengan cara mengguncang-ngguncang badan anak-anak ["seperti yang bapak lakukan pagi ini", kata anakku], seolah-olah anaknya "pasti" susah bangun.
  5. Ibu paling akhir wudhu, dan kalau sedang "libur" [gak sholat] dilarang tiduran di dekat tempat sholat, tapi cari kegiatan lain yang tidak terlihat oleh orang yang sedang sholat.
  6. PR [pekerjaan rumah bukan page rank] anak-anak sebaiknya dikerjakan malam hari [kalau sehabis subuh hasilnya sering ribut terus]
  7. Bapak dilarang [keras] mengancam menghukum anaknya yang lambat bangun.


Alhamdulillah, ternyata banyak usulan anak-anak yang tadinya jarang kulakukan.

Makasih nak , kalian telah mengingatkan ortumu dengan cara yang baik. Semoga menjadi amalan bagi kalian semua.
Insya Allah. Amin.

Minggu, November 16, 2008

Piknik di JCC

Pagi ini seiisi rumah pada meluncur ke JCC. Kita menikmati suasana IBF [Indonesia Book fair] 2008, yang ternyata lebih meriah dibanding hari kemarin. Mungkin karena hari terakhir, maka suasana IBF 2008 jadi kayak pasar kaget. Liputan media masa juga kayaknya dipusatkan pada hari ini. Para kuli tinta dengan "senjata"-nya masing-masing pada bersliweran di seluruh lokasi pameran.

Seperti biasa, LiLo selalu hilang begitu sudah masuk ke lokasi pameran. Sementara kakak-kakaknya pada ngglendot sama bapaknya, keliling ke masing-masing stand.

Sampai di stand demo anti virus, penjaganya begitu bersemangat menjajakan buku tentang dokter virus.

"Silahkan serahkan flash disk yang bervirus, dan dokter virus kita akan melenyapkan semua virus yang ada di flash disk itu dengan cepat"

Aku senyum mendengarnya, dan kemudian nyeletuk,"Iya ilang sak flash-disknya"

Penjaga stand yang di sebelahku tersenyum kecut mendengar celetukanku. Mungkin dia pingin marah, tapi gak bisa karena statusku adalah calon pembeli atau tamu, yang berarti raja bagi dia.

Saat ada yang menyerahkan flash disk model unik, sang dokter bingung. Mau dimasukkan ke card reader kok gak cocok, jadi dikembalikannya ke yang punya. Tentu saja yang punya langsung protes, terus langsung dicolokkan ke port usb dan pak dokter viruspun tersenyum [kecut].

Saat siang kusempatkan untuk nulis di komputer. Ibunya LiLo yang duduk di depanku protes karena LiLonya entah berada dimana.

"Pak LiLo dicari donk. Nanti kalau sudah ketemu jangan dilepas ya...", pintanya.

"LiLo? Jangan dilepas?!", kataku

"Imposible!", kata kakaknya.

Hhahahhahaa... =D


Sehabis makan siang, kita asyik nonton game dance. Luar biasa anak-anak muda itu dalam berdansa mengikuti musik dan menjejakkan kakinya sesuai petunjuk yang ada di monitor. Biasanya yang sering dilihat adalah yang mempunyai 5 [lima] injakan, satu di tengah dan empat lainnya di sekitarnya. Untuk yang dilihat siang ini modelnya dobel, sehingga ada sepuluh injakan yang harus diinjak sesuai petunjuk komputer.

Penonton yang begitu berjubel membuat tontonan jadi kurang jelas dilihat. Akhirnya kucoba untuk duduk saja, dengan harapan semangat kekeluargaan para penonton muncul dan tidak ada yang dengan "pe-dhe"nya berdiri di depanku.

Alhamdulillah, sesuai ilmu Quantum Ikhlas, maka para penonton di depanku pada minggir, sementara itu para penonton lain pada duduk di sebelahku. Jadilah aku sebagai penonton VIP dengan ruang kosong di depanku, sehingga orang yang tidak mau nonton tapi mau lewat tidak terhalangi oleh berjubelnya penonton.

Sore mejelang maghrib, perutpun mulai keroncongan. Anak tertuaku begitu ngiler melihat uap yang mengepul di atas "rombongan" bakpau, maka sore itupun kita asyik nongkrong di depan mobil pintar makan bak pau.

Sementara itu, LiLo datang pergi dengan gaya khasnya. Setiap ingin beli sesuatu, kalau ditolak bapaknya, maka ibunya yang dijadikan "second change", demikian juga sebaliknya bila ditolak ibunya. Sungguh dia sangat menikmati hari ini bersama mainan barunya. Arena pameran yang luas ini sudah lengkap dijelajahinya dan setiap melihat komputer yang nganggur langsung saja dia duduk dan "sok" berlagak tanpa dosa untuk njalanin komputer itu.

Jadi inget ketika LiLo tak "lepas" di time zone. Ternyata tanpa koinpun dia bisa ikut main. Caranya sok akrab dengan yang sedang main di Time Zone dan ada saja kesempatan dia untuk ikut main tanpa pakai koin.

Saat nulis di bagian ini, LiLo sedang asyik ngobrol sama penjaga stand unicef yang berada di depanku. Penjaganya ya pasti sok akrab juga dengan LiLo, jadilah mereka kayak sudah lama berkenalan. Obrolan itu baru terhenti ketika LiLo kuajak jamaah maghrib.

Malam terus berjalan dan ruangan pameran makin lama makin dingin, tapi khusus ruang pameran dalam, tempat istriku buka stand, tetep saja panas. Bisa jadi karena pengunjung di ruangan lain makin berkurang atau AC di runag pameran dalam kurang berfungsi dengan baik, atau jangan-jangan kedua-dua yang terjadi. AC -nya kurang baik dan pengunjung di ruang pameran dalam ini tetep saja rame.


Malam ini sebenarnya pengulangan kejadian tahun lalu. Bedanya, malam ini kita lengkap sekeluarga "piknik" di pameran dari pagi sampai malam dan barang bawaannya juga lebih banyak dibanding tahun lalu.

Blog inipun dibuat tidak hanya olehku sendiri dalam satu waktu tertentu, tetapi ditulis sedikit demi sedikit dari pagi sampai malam dan ada kontribusi anak keduaku dalam tulisan ini.

Di arena pameran inipun kami bisa foto bareng [he..he..he.. termasuk kesempatan langka nih] .

Minggu, November 09, 2008

SABAR SUBUR

Menjelang subuh aku ngePLURK dulu sebelum masuk ke kamar mandi.

"Abis Subuhan ngapain ya?"
"Jalan-jalan atau ngeBLOG ya?"

Salah satu tanggapan dari kawan plurker adalah : "sebaiknya ngeBLOG saja".

Saran yang menarik memang, tapi yang kupilih akhirnya bukan langkah itu. Aku keluarkan sepeda tandem dan sepedaan sama Lita [anak nomor duaku].

Melihat aku mau sepedaan sama Lita, adiknya [LiLo] rupanya tertarik untuk ikut. Jadilah kami bertiga sepedaan keliling komplek, sambi nyari pulsa XL [kelamaan nggak dipakai ternyata expired, padahal pulsanya masih banyak tuh]

Sejak beberapa minggu ini memang aku jarang di rumah. Mulai dari jalan-jalan ke Pantai Parai di Pulau Bangka, bercanda sampai malam di Proyek GOR Boker, ngobrol ngalor ngidul dengan para "executor" di Proyek Kali Progo [YoGyA] sampai bersantai ria bersama teman-teman Serikat Pekerja di Cisarua.

Semua "kesenangan" itu harus ditebus dengan jarangnya ketemuan dengan anak istri, sedangkan bagi anakku, mereka jadi jarang ketemuan sama bapaknya. Begitulah jika kita menjadi pekerja yang selalu mencoba menganggap pekerjaannya sebagi ladang amal yang perlu dikerjakan dalam kondisi yang penuh keceriaan.

Kadang saat menjelang tidur, terpikir olehku akan anak istri yang jarang kutemui. Kupikirkan dalam-dalam, apa sebaiknya yang kukerjakan bila nanti bertemu anak istriku. Ketika saat pertemuan dengan anak istri tiba, kadang apa yang ada dalam angan-angan lain dengan yang terjadi kemudian.

Pas sampai di rumah, kadang yang terlihat adalah piring kotor yang berserakan atau kendaraan yang ditaruh di tempat yang tidak semestinya, atau apa saja yang mengganggu pandangan mata.

Disinilah kesabaran dan ketenangan sangat dibutuhkan. Kadang emosi [karena kecapekan di jalan menuju rumah] langsung meledak melihat kondisi yang tidak sesuai dalam bayangan otak. Buyarlah sudah semua rencana pertemuan yang sudah disusun rapi. Senyum yang tadinya siap dikembangkan langsung meredup dan berganti dengan tarikan wajah kaku dan keruh.

Tidak ada saat sabar untuk bertanya, kenapa piring kotor begitu banyak atau kenapa lantai begitu kotor. Yang ada hanya rasa jengkel dan bobolnya tembok emosi.

Jika ada rasa berbaik sangka, tentunya hal seperti di atas tidak mungkin terjadi. Namun kata baik sangka memang hanya mudah diucapkan, tetapi sangat sulit dilaksanakan, padahal jika benar-benar mau berbaik sangka, maka semuanya akan mengalir begitu lancar.

Seperti mobil yang berhenti dan didorong, maka dibutuhkan kekuatan dorongan yang sangat besar di awal proses pendorongan mobil. Baru setelah mobil mulai bergerak, maka dorongan yang kecilpun akan sanggup membuat mobil tetap bergerak.


"Dan jadikan sabar dab shalat sebagai penolongmu ( Al-Baqarah:153 ) "

Kamis, Oktober 30, 2008

Makan Buah

Pagi-pagi LiLo [anak ragilku] narik-narik tanganku, yang sedang mau ngetik di kompie.

"Pak, jangan ngetik terus donk. Nanti matanya sakit lho keseringan ngetik", begitu kata LiLo.

Memang semalem aku nggak ketemu sama LiLo, soalnya aku nggak ngantor, tapi ke proyek GOR Boker [bimbingan fungsional sistem manajemen K3LM] dan pulangnya agak malam.

"Begini cara makannya pak. Pakai satu garpu dan kemudian satu-satu. Bapak makan satu, kemudian aku makan satu"

"Gitu ya?"

Lilo mengangguk sambil tersenyum, dan kamipun makan buah bersama. Jadi inget tadi malem, anakku Lita juga ngajak makan pisang goreng, tapi belum bisa kupenuhi, sehingga dia tidur duluan sebelum makan pisang bersama.

Kasihan anak-anakku yang jarang ketemuan sama bapaknya yang sok sibuk [gak menentu ini]. Semoga tangan Allah senantiasa menjaga mereka, menjaga agar taliku dengan tali keluargaku tetap terikat rapi dan makin lama makin erat.

Amin.

“Siapa yang ingin diluaskan rezekinya dan dipanjangkan usianya, maka hubungkanlah tali silaturahminya,” (HR. Bukhari).

IMG_2506

Kates yang uenak tenan.

IMG_2504

Nulis dulu sebelum dihabiskan bapaknya [yang penggemar berat pisang goreng]thumbs_up

Senin, Oktober 27, 2008

Back 2 Work

Setelah menjalani liburan yang mengasyikkan sama anak-anak [dan istri], maka saatnya kembali bekerja. Dengan pikiran yang sangat positif, kulangkahkan kaki ke markasku. Itulah tempat mangkalnya pesawat Airbus A59 flight pagi jurusan Cikarang-Cawang.

ALhamdulillah, perjalanan sangat lancar. Tumben banget nih Jakarta di hari Senin kok suepi banget. Jam 06.15 udah nyampai di kantor. OBnyapun sedang di kamar mandi, belum siap untuk bersih-bersih ruangan.

Kemarin ngapain aja ya sama anak dan istri. Kayaknya kok seru banget deh hari Minggu kemarin itu.

Pagi, nonton film oleh-oleh dari istri waktu ke Beijing minggu lalu. Wah, kami semua nonton di kamar berlima, kayak di studio 21, seru dan mengasyikkan.

Kok bisa ya orang cina itu berakrobat dengan begitu lentur.

Siangnya, jalan-jalan ama LiLo, beli majalah dan kitapun asyik menjadi kutu buku.

Sore, ini yang paling seru. Main kartu sekeluarga, dan yang kalah harus rela mukanya dioret-oret.

Pertama main 41, Luluk yang kena oret2 mukanya. Kemudian ganti main cangkulan, soalnya ribut sih main 41 dengan 5 orang pemain.

Akhirnya, semua kena oret mukanya, kecuali LiLo, sang champion. Wah seneng banget dia menjadi sang pemenang dan wajahnya polos.

Permainan terhenti ketika adzan maghrib.

He..he..he... coba nggak pakai adzan maghrib, pasti sampai subuh tuh mainnya.
Saking asyiknya main, kartunya sampai sobek tuh

Jumat, Oktober 17, 2008

MAAF [nak]

Alam bawah sadar sering membuat ortu jadi salah bertindak ketika menghadapi anak yang bermasalah.

Berkaca pada ilmu mendidik anak, maka jangan sampai keluar kata "JANGAN" ketika melihat anak melakukan sesuatu [yang tidak disukai ortunya]. Begitu juga, jangan sampai tangan kita begitu ringannya, sehingga untuk suatu kesalahan kecil saja tangan kita sudah melayang menempeleng anak [tercinta] kita.

Sesal kemudian sudah tidak berguna. Kalimat sudah terucap dan tangan sudah menempeleng. Permintaan maafpun sering jadi hambar, karena anak kita sudah memasang "pelindung" untuk tidak mendengar lagi suara kita.

Satu hal sepele lagi yang membuat anak memasang "pelindung" telinga adalah bila kita menasehati anak kita dan mendahuluinya dengan suatu kalimat klise,

"dulu ... bapak ini ..."
"dulu ... ibu nggak gitu ..."

Wah, dijamin anak langsung tutup telinga [mode "budeg":ON].

Aku masih inget ketika saking marahnya melihat anakku yang tidak suka makan, aku langsung bereaksi berdasar alam bawah sadarku. Pasti itu menjadi trauma bagi anakku.

[semoga anakku memaafkan aku dengan perbuatanku itu, insya Allah, amin]

Kalau gak salah Mario Teguh bilang begini [tentang kegagalan/kesalahan] :

"Kesalahan kita butuhkan untuk hasil yang lebih baik, karena timbulnya kesalahan adalah tanda diperlukannya cara-cara yang lebih baik. Membuat kesalahan dan bahkan gagal dalam melakukan sesuatu yang berguna, adalah lebih baik daripada tidak pernah salah karena tidak melakukan apapun".

Mas Mario memang sedang naik daun. Banyak kalimatnya yang di"copy paste" di blog maupun di ceramah-ceramah. Semoga nasihat yang diberikannya bermanfaat bagi pendengarnya. [amin]

Aku juga sedang berusaha untuk melawan alam bawah sadarku. Dunia anak sekarang sangat berbeda dengan dunia anak saat aku dulu masih anak-anak.

Semoga Tuhan memberi kemampuan padaku untuk bertindak dengan benar. Menunjukkan aku yang benar adalah benar.

Amin.

Ditinggal ISTRI

Kalau kita perhatikan, pasutri yang kehilangan pasangannya, maka ada berbagai type. 2 type yang paling mencolok adalah sebagai berikut :

1. Bila suami kehilangan istri, maka beberapa saat kemudian [biasanya] sudah ada penggantinya [kadang dapet istri yang masih "kinyis-kinyis" lagi]
2. Bila istri kehilangan suami, maka [jarang] yang kawin lagi, meskipun ada juga yang kawin lagi.

Mengapa ya kok bisa begitu?

Apa itu menunjukkan bahwa seorang suami itu sangat butuh istri atau emmang seorang istri itu [sebenarnya] tidak butuh banget seorang suami?

Yang jelas, di rumahku, kalau aku pergi seminggu, kayaknya di rumah tidak terjadi apa-apa. Semuanya tetep runing well.

Sangat berbeda dengan kalau istriku yang pergi. Wah, sehari saja dia nggak ada, rumah sudah kayak tak bertuan.

Ketidak rapihan muncul dimana-mana. Aturan-aturan baku pada dilanggar [misalnya dulunya tidak boleh makan junk food -mie instan- sekarang jadi pesta pora junk food, dll]

Saat ini sudah hampir seminggu istri tidak di rumah, dan bisa dibayangkan sendiri kondisi rumah dan tanggaku. Wuihhh mantab sekali [he..he..he...]

Malam tadi ketika aku terjaga dari tidur, kulihat senyum istriku yang mengembang [sehabis dia memukul nyamuk di mukaku]. Ternyata istriku sudah datang dari Beijing. Wah, besok pagi pasti anak-anak pada ramai rebutan oleh-oleh. Pasti istriku juga sudah punya sertifikat pendakian tembok Cina.

Alhamdulillah, ternyata peran ibu dalam rumah[ku] itu sangat tak tergantikan.

Maafin bapak kalau banyak salah ya bu.
Insya ALlah ibu nanti masuk syurga dengan segala amalan ibu.
Amin.

Selasa, Oktober 07, 2008

Kegiatan di Bulan Syawal



Lebaran selalu identik dengan "Kembali pada Kesucian", "Lahir kembali" ataupun "Kembali Suci".

Aku menyikapinya dengan membuat suasana yang lebih baru, yang minimal ada bedanya dibanding tahun-tahun lalu.

Makan siang bersama kami lakukan di luar rumah dan kita coba untuk mbayar sendiri-sendiri [patungan].

Dipilihlah HHB, restoran siap saji yang memang sangat diminati oleh anak-anak. Aku tidak pernah menyetujui untuk makan di resto itu, karena memang harganya cukup mahal dan gizinya tidak sebanding dengan harganya [sori ini hanya pendapat yang sangat subyektif].

Keinginan yang begitu besar dari anak-anak untuk makan di resto itu tidak pernah kesampaian dan baru pada bulan Syawal ini kesampaian. Jadi mereka sangat bersemangat, meskipun harus patungan mbayarnya.

Akhir cerita, tidak patungan seratus persen. Aku bayar separo dari harga yang seharusnya mereka bayar.

Tidak lupa, akupun berpose bersama istri untuk meningkatkan semangat narsisme di bulan Syawal ini.

He..he..he... kulihat istriku juga berubah makin cantik, jadi kufoto saja dan kupajang di blog ini.

Semoga semakin cantik wajahnya, semakin cantik juga hatinya.
Amin.

Senin, Oktober 06, 2008

Kehangatan [lebaran] Sidoarum



Seperti tahun-tahun lalu, maka meskipun tidak ada undangan, kami tetep berencana untuk datang ke rumah mas Yus di Sidoarum.

Tahun lalu, aku kebagian buah kalau nggak salah, tahun ini gak kebagian apa-apa, tapi ternyata suguhan yang keluar malah lebih dahsyat dibanding tahun lalu.

Seperti acara lebaran di Minomartani, maka beberapa keluarga yang datang tahun lalu tida kelihatan pada tahun ini, tapi keluarga baru dari 40an [patang puluhan] banyak yang datang.

Seneng deh bisa ketemuan sama mereka. Biasa, nostalgia. Dulu aku suka jalan kaki dari kemetiran kidul ke 40an, semata-mata hanya untuk mandi di kali.

He..he..he... rasanya sudah kayak Tarzan aja deh [Johny Wismuller ya?]

Yang datang hari itu bergelombang, maklum pada punya jadwal sendiri-sendiri.

Rama tugasnya ngantri tiket laskar pelangi. Mbah Uti dijagain Totok dan Iin. Anak-anak main dulu ke Taman Pintar [dijagain bulik NoeNoenG]

Setelah Rama selesai antri, maka dia ganti njagain mbah Uti dan Totok bisa ngajak Iin untuk ke Sidoarum.

Meriah banget makanannya. Spesial memang coklat yang tiada duanya [maklum penjual brownies coklat]. Dasar perut yang maunya makan enak terus, maka sambil ngobrol sambil tangannya bekerja "keras".

Tahun depan semoga lebih guyub lagi. Tidak ada kaya dan miskin, semua berbaur jadi satu.

insya Allah, kita semua dimasukkan sebagai hambaNYA, yang pandai bersyukur.
Amin.








Kehangatan [lebaran] Condong Catur


Gak lengkap rasanya lebaran kalau tidak ngadep emak tersayang. Jadilah habis sholat di Lapangan Perumnas Condong Catur langsung menghadap emak.

Di serambi rumah, berpelukan dulu dengan istri dan anak-anak tersayang. Saling memaafkan.

Kubilang sama istriku,"Bapak yang lebih banyak salah nih .... maafin bapak ya...!"

Jawab istriku,"Iya, yang lebih tua yang lebih banyak salahnya..."

Anakku nomor dua, Haslita Nisa, tersenyum mendengar ucapan ibu. Akupun ikut tersenyum dan mendekap erat-erat istriku [satu-satunya]. Coba ada istri yang lain apa enggak bingung tuh  untuk berlaku adil [???].

Setelah itu baru masuk kamar dan bersimpuh di depanibu alias emak tersayang. Meskipun sudah gedhe, aku tetep minta ibu untu rajin berdoa untuk aku dan tetap berdoa untuk ibu sendiri agar umurnya bermanfaat.

Insya ALlah, doa ibu lebih makbul dari doa-doa yang lain.
Amin.

Setelah cukup puas, kamipun pergi ke rumah ibu mertua untuk melakukan hal yang sama. Habis itu, aku terima SMS dari Condong catur,"MAs Yus sudah di Condong, cepet pulang", kata SMS itu.

Akupun meluncur ke ConCat dan bergabung dengan keluarga mas Yus yang cukup lengkap. Ada Totok juga disana, dan tentu saja Rama [dua blogger dari keluargaku].

Sesiang itu kami saling bercengkerama dan bergurau, sampai kemudian harus berpisah.

Namun saudara terus berdatangan. Menyusul kemudian adalah mas Yono bersama istrinya [anaknya sudah duluan datang sih].

Alhamdulillah, hari ini dilewati dengan penuh syukur padaNya.




Jumat, Oktober 03, 2008

[finnaly] NontOn Laskar Pelangi



Keinginan Rama untuk nonton kembali film Laskar Pelangi kesampaian juga. Syaratnya cuma satu, "harus mau antri lagi, untuk semua saudaranya yang ingin juga untuk nonton film Laskar Pelangi".

Aku dapet tiket no C.13. Ini adalah nomor favorit, artinya tempat dudukku berada di deretan belakang dan posisi di tengah [kalau versi iklan operator ponsel, nanti pasti akan dapet teman duduk yang tidak disangka-sangka]. Bener juga, yang tadinya di samping kananku adalah anakku, rupanya ganti dengan adik istriku. So.... nomor tiket sudha nggak laku lagi di keluargaku, karena sepanjang baris C [deret tengah] ini memang dikuasai oleh keluargaku.

Di depanku baris D dan E adalah tempat keluarga Kauman [ngantrinya bareng sih], sehingga habi snonton, sambil menunggu sepinya pintu exit, maka kamipun ngobrol [baris C, D dan E]. Ini rupanya salah satu nilai plus Laskar Pelangi, mendekatkan diri antar keluarga dalam suasana yang belum pernah kita bisa ulangi tahun depan atau sepuluh tahun lagi [kecuali kalau film semacam laskar pelangi ini terus dibuat dan memunculkan antusiasme masyarakat yang gila-gilaan].

Filmnya sendiri memang didukung oleh bintang-bintang papan atas, disamping tokoh anak-anak yang juga bermain sangat luar biasa. Sebut saja Ikranegara, Slamet Rahardjo, Cut Mini, Tora, Alex Komang, "Oneng" Pytaloka, Jajang, dll. Mereka adalah aktor-aktris yang sangat menjiwai peran mereka.

Pengambilan angle camera dan setting yang memukau membuat film ini layak untuk diberi jempol. Tentu saja, kekuatan film ini memang pada alur cerita yang sangat sederhana, menyentuh dan tidak atau bekum ada duanya.

Sound tracknya?

Jangan tanya kehebatan Nidji dalam membawakannya. Ada semangat yang menyala-nyala dalam lagu yang dibawakan oleh Nidji itu. Mungkin dipilihnya Nidji karena energiknya Giring dalam melakukan performance panggungnya, sehingga dirasa pas kalau lagu itu dibawakan oleh Nidji.

Kalaupun ada kekurangannya, kelihatannya ada pada pengaruh model penuturan Andre Hirata yang suka dengan bahasa berbunga-bunga, detil dan itu semua membuat film ini jadi terasa lamban.

Akan lebih baik lagi kalau setelah cerita berakhir dimunculkan tokoh asli dalam film LP itu. Bagaimanakah sosok Ibu Muslimah sebenarnya, bagaimanakah kondisi SD itu sekarang. Itu akan membuat penonton tetap terpaku sampai film benar-bhenar abizzz.

Pulangnya, aku buat kuis ke anak-anakku.

"Urutkan 3 film ini berdasar kehebatannya :
Laskar Pelangi, Nagabonar dan Nagabonar [jadi] 2"

Rupanya anak-anakku sepakat pada urut-urutan ini :
1. Nagabonar [jadi] 2
2. Nagabonar
3. Laskar Pelangi

Sepakatkah anda?

Nanti kita buat pollingnya saja.

Jam 22.30 kami mampir lagi ke gudeg Ibukota. Biasa.... nyari ceker lagi. 10 ribu dapet 1 piring gudeg ceker yang lezat....!