Tampilkan postingan dengan label yeni. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label yeni. Tampilkan semua postingan

Kamis, Mei 14, 2009

Yeni Istriku Anis Kecintaanku

Pagi ini tanpa sarapan aku langsung berangkat ke kantor. Tadi malem kelupaan nggak nyiapin makan dan pagi tadi kesiangan bangun,lengkaplah sudah acara tanpa sarapan pagi ini.

Istriku menyodorkan topi dan kutolak dengan isyarat. Mungkin istriku inget kemarin aku minta topi ketika mau ngantor, jadi dia nyiapin topi lagi untukku.

Ke kantor tanpa sarapan sudah membuat otakku agak beku, hari ini banyak kerjaan kantor jadi aku lupa kalau sekali-kali ujian kesabaran itu muncul di saat kita akan sulit menerimanya.

Sampai di Halim baru ketahuan kalau aku memang perlu topi. Hujan gerimis memang hanya turun satu-satu, tetapi sudah cukup membuat kepalaku kebasahan. Ah andai topi tadi kubawa ya?

Istriku memang sering melakukan sesuatu yang aku tidak pahami, sering tidak masuk akal, tidak logis dan seperti nggak ngelihat sikon.

Kenyataan kemudian selalu menunjukkan apa yang dilakukan istriku itu seperti "cenayang", yang tahu persis kejadian apa yang nanti akan terjadi.

Waktu di SUrabaya, istriku pernah menjemputku dengan mobil pribadi di Airport Juanda. Aku tentu saja kaget ketika gantian nyopir dan ternyata istriku tadi masuk ke parkiran aiport tanpa mengambil tiket parkir.

"Wah... pasti runyam deh saat keluar pintu parkir", begitu pikirku sambil menyalahkan diri sendiri kenapa aku nggak ngasih tahu ke istriku kalau mobil pribadiku ini tidak pakai stiker bebas parkir. Kalau mobil kantor sih aman-aman saja masuk airport, karena sudah ada stiker bebas parkirnya.

Yang terjadi kemudian ya keluar airport tanpa masalah, nggak ada acara mbayar tiket masuk.

Banyak hal yang telah ditunjukkan istriku, yang kadang sulit dipahami tetapi ternyata kemudian menunjukkan bahwa istriku seperti orang yang "waskita", mengetahui sebuah kejadian sebelum kejadian itu terjadi.

Di luar hal itu, istriku juga selalu menunjukkan kasih sayangnya pada anak-anaknya. Saat LiLo, si kecil tertidur dengan posisi yang memprihatinkan, aku cuek saja dan langsung tidur di kasur, sementara istriku menggendong LiLo, menempatkannya di kasurnya, menyelimutinya dan memastikan kondisi kamar tidurnya aman dari hal-hal yang mengganggu.

Itulah epos [energi positif] dari istriku yang kemudian menyebar bagai virus di rumahku.

Kemarin ketika aku kecapekan dan tertidur di sofa, LiLo dengan penuh kasih sayang mengambilkan aku bantal. Kemudian beberapa saat berlalu, LiLo datang lagi dan menyelimutiku. AKu yang mau bangun jadi mengurungkan niatku, kunikmati dulu kasih sayang LiLo padaku.

Ah indahnya kehangatan keluarga ini, pasti semua karena aura epos dari ibunya yang tak kunjung padam.

Saat aku pulang ke rumah dan membunyikan klakson mobil, maka anak-anak biasanya langsung berhamburan keluar membukakan pintu. Kadang Litha duluan kadang LiLo duluan.

Lilo pasti hanya membuka pintu pagar untuk berlari ke mobil dan langsung mencari tasku dengan pertanyaan yang sama, "bawa kue pak?"

Kakak-kakaknya yang akan membuka pintu pagar sampai penuh dan biasanya akupun membuka kaca samping kanan untuk melakukan "high five" dengan LuLuk dan Litha.

Semua ajaran ibunyalah yang kupastikan telah membuat anak-anak ini begitu sayang padaku, seperti juga aku sayang pada mereka.

Jadi kalau dulu aku hanya cinta dengan istriku saja, maka saatnya aku harus membelah cinta itu untuk anak dan istriku. Anis, aku cinta padamu, more than you"ll ever know...

 
....
..
.

Jumat, Oktober 17, 2008

Ditinggal ISTRI

Kalau kita perhatikan, pasutri yang kehilangan pasangannya, maka ada berbagai type. 2 type yang paling mencolok adalah sebagai berikut :

1. Bila suami kehilangan istri, maka beberapa saat kemudian [biasanya] sudah ada penggantinya [kadang dapet istri yang masih "kinyis-kinyis" lagi]
2. Bila istri kehilangan suami, maka [jarang] yang kawin lagi, meskipun ada juga yang kawin lagi.

Mengapa ya kok bisa begitu?

Apa itu menunjukkan bahwa seorang suami itu sangat butuh istri atau emmang seorang istri itu [sebenarnya] tidak butuh banget seorang suami?

Yang jelas, di rumahku, kalau aku pergi seminggu, kayaknya di rumah tidak terjadi apa-apa. Semuanya tetep runing well.

Sangat berbeda dengan kalau istriku yang pergi. Wah, sehari saja dia nggak ada, rumah sudah kayak tak bertuan.

Ketidak rapihan muncul dimana-mana. Aturan-aturan baku pada dilanggar [misalnya dulunya tidak boleh makan junk food -mie instan- sekarang jadi pesta pora junk food, dll]

Saat ini sudah hampir seminggu istri tidak di rumah, dan bisa dibayangkan sendiri kondisi rumah dan tanggaku. Wuihhh mantab sekali [he..he..he...]

Malam tadi ketika aku terjaga dari tidur, kulihat senyum istriku yang mengembang [sehabis dia memukul nyamuk di mukaku]. Ternyata istriku sudah datang dari Beijing. Wah, besok pagi pasti anak-anak pada ramai rebutan oleh-oleh. Pasti istriku juga sudah punya sertifikat pendakian tembok Cina.

Alhamdulillah, ternyata peran ibu dalam rumah[ku] itu sangat tak tergantikan.

Maafin bapak kalau banyak salah ya bu.
Insya ALlah ibu nanti masuk syurga dengan segala amalan ibu.
Amin.