Tampilkan postingan dengan label ayuko. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ayuko. Tampilkan semua postingan

Minggu, Juli 11, 2010

Ayuko, haruskah kutinggalkan dirimu?

Sampai saat ini aku belum membuat keputusan untuk Ayuko. Apakah dia tetap ikut pindah ke Yogya menyusul "ibu" asuhnya atau kuserahkan saja pada teman-teman yang ada di Cikarang dan sekitarnya.


Ayuko yang cantik dan manja ini saat ini menjadi pemikiran bagi diriku untuk memeliharanya dengan baik. Aku belum tentu bisa dengan rutin memberinya makan setiap hari, pagi dan sore, mengingat kesibukanku yang cukup padat dan menyita waktu serta energi.



Pingin dikasih ke orang lain, tapi pada siapa ya? Kasihan kalau nanti jatuh di tangan orang yang suka mainin binatang tapi gak suka mengurusi tetek bengeknya.

Kasihan Ayuko saat ini sering sendirian di rumah. Tak ada lagi belai kasih di bulunya yang dulu indah dan kini terlihat jadi kusam karena jarang mandi.

Ayuko Sayangku
Mandiin Ayuko
Ngasih makan Ayuko
Keluarga lengkapku

Adakah yang mau mengasihi Ayuko seperti pemiliknya yang dulu?
Atau kubawa saja ke pemiliknyha yang dulu dan sekarang ada di Yogya?

Salam Sehati
+++
Kalau ini bukan Ayuko, tapi kawannya Ayuko

Minggu, November 01, 2009

Ayuko sayangku...

Pagi-pagi mompa sepeda. Siap-siap menembus kegelapan, menikmati semilir angin subuh kota Cikarang bagian Jababeka.

Sudah beberapa bulan aku tidak lagi sepedaan sama keluarga. Apa lagi gara-garanya kalau bukan kepergian dua anakku ke Yogya, sehingga kegiatan olah raga Minggu pagi jadi terlantar.

Lilo tampak keberatan untuk ikut acara ini, dia lebih suka main internet.

"Bapak sudah diperbudak oleh olah raga pagi!", protyes Lilo

"Kamu juga sudah diperbudak internet", balasku sambil tersenyum, tapi diartikan sebagai senyuman ejekan buat liLo, sehingga dia tambah sewot.

"Waduh kaco nih. Acara olah raga pagi sudah diawali dengan suasana yang tidak enak", demikian pikirku.

Ibunya anak-anak juga mengawali acara pagi ini dengan berebut naik sepeda. Maunya istriku, dia yang naik sepeda tandem, sementara LiLo maunya juga naik sepeda tandem, sedangkan dua-duanya maunya kalau naik tandem harus berduaan sama aku.

Alhamdulillah, akhirnya istriku mengalah dan Lilopun naik sepeda tandem bersamaku. Di sepanjang perjalanan, istriku naik sepedanya lambaaaat banget, wah aku gak tahu juga nih, aku terlalu kuat mengayuh sepeda atau istriku yang terlalu nggak semangat untuk ngayuh sepeda.

Perjalanan pagi itupun akhirnya selesai begitu saja. Tak banyak moment-moment indah di pagi yang cerah itu. Ketika melewati tanah kosong, kulihat di sisi kananku matahari yang bulat kemerahan. Seharusnya itu jadi moment yang bagus untuk diambil gambarnya, tetapi suasana persepedaan yang kurang mendukung membuatku melewatkan pemandangan pagi yang indah itu.

Akupun mulai mencari-cari moment lain yang bisa membuat pagi ini menjadi lebih indah dibanding pagi yang lain.

Masak nasi goreng dan memakannya rame-rame juga masih terasa kurang mendukung keindahan pagi ini. Akhirnya aku beli koran dan majalah berduaan sama LiLo.

Lumayan deh, di sepanjang jalan bisa bergaya kayak Rosi. Lilo erat-erat mendekapku sepanjang aksiku sebagai Valentino Rossi.

Sampai di rumah, istriku mengajak mandiin Ayuko. Waduh males banget deh. Ini tugas yang sangat berat deh. Penuh dengan usaha yang keras untuk menghilangkan kemalasan memandikan Ayuko.

Kalau kutolak permintaan ini, maka tentu suasana pagi ini akan makin murung, tentu suatu suasana yang tidak kuharapkan.

"Oke!", jawabku penuh semangat [buatan].

Seandainya saja ada Lita di sini tentu akan menyenangkan memandikan Ayuko, tapi Lita ada di Yogya dan tidak mungkin datang di hari ini.

Akhirnya aku membaca-baca koran Tempo dan akupun lupa tugas untuk memandikan Ayuko. Asyik banget membaca berita tentang Gus Dur dan KPK.

Selesai membaca maunya nonton film atau nulis di blog, tahu-tahu istirku mengingatkan aku akan Ayuko.

"Pak, coba lihat airnya sudah mendidih belum ya..."

Aku jadi tersadar bahwa aku sudah melupakan tugas untuk memandikan Ayuko. Segera saja aku ke dapur dan mengambil air di panci yang sudah mendidih. Kubawa ke halaman belakang dan istriku menyiapkan segala peralatan untuk memandikan Ayuko.

Sambil nunggu akupun menyisir Ayuko.

Kasihan Ayuko yang sudah tua ini, bulunya makin mudah lepas dan kadang saling nempel sehingga susah diurai lagi. Beberapa bulu yang ada di lehernya juga sudah mulai rontok.

Makanpun sudah mulai milih yang lembek-lembek.

Mungkin begini jugalah nasib kita nanti. Saat kecil selalu minta pertolongan untuk dapat menikmati hidup dan saat tua, maka kitapun akan kembali menjadi anak kecil.

Alhamdulillah, acara memandikan Ayuko menjadi acara yang bermakna di hari ini. Kami saling berbagi tangan untuk memandikan Ayuko.

Untung ada Ayuko yang menjadikan pagi ini menjadi bermakna.

+++


sabar ya Ayuko...



semoga Litha senang melihat gambar ini

...
..
.

Sabtu, Agustus 08, 2009

Ngasih Makan Ayuko

Di dunia ini yang pasti adalah perubahan dan begitu juga dengan kondisi Ayuko yang ternyata sudah tua. Giginya sudah tinggal sedikit [jangan2 malah sudah habis].

Yang jelas, Ayuko sudah tidak sanggup makan makanan keras lagi. Semua makanan keras yang diberikan di tempat makanannya, selalu utuh tak kurang suatu apa [kayak sehat tak kurang suatu apa], maksudnya masih utuh sampai kapanpun.

Akhirnya harus diberi makanan yang lembek-lembek dan makanan yang lembek-lembek untuk kucing ternyata masih belum murah atau sudah mahal.

Jadi terpaksa dilakukan sedikit modifikasi. Makanan keras Ayuko digerus dulu dan kemudian dicampur dengan makanan lembeknya, jadilah makanan setengah keras dan berlapis makanan lembek.

Alhamdulillah, Ayuko masih mau menghabiskan makanan itu. Tinggal menyediakan waktu khusus untuk menggerus makanannya.

ini makanan lembek Ayuko


makanan keras Ayuko digerus dulu


ditungguin sama yang sudah kelaparan


dicampur dengan makanan lembek

dan dimakan dengan lahap

Alhamdulillah, satu masalah lagi terpecahkan.
...
.

Minggu, Juli 26, 2009

Mandiin Ayuko

Sore ini badan capek banget. Maklum tadi malem nungguin istri nggak dateng-dateng. Lewat tengah malam baru dia muncul, padahal dari Surabaya terbangnya jam 20.00, tapi sampai di Cikarang rupanya sudah lewat "midnight". Acara ngobrol menjelang tidur jadi nggak ada deh, istriku langsung "tewas", demikian juga aku, langsung lupa segala-galanya [untung chordnya masih ingat]


Sambil guyon, aku bertanya pada istriku, yang juga mengaku capek berat, soalnya acara ngobrol menjelang tidur diganti acara ngobrol sehabis subuh. Habis itu langsung meluncur ke acara hari Belanja CiMart dan kemudian dilanjut ke acara "launching" Logo JM yang baru di resto Samikuring.

"Kapan mau mandiin Ayuko?", begitu kataku.

"Ya udah mandikan saja", jawabnya

"Loh aku itu nanya, kok malah disuruh mandiin?"

"Kalau bapak mau mandiin, kubuatkan air hangatnya", kata istriku sambil tersenyum.

Yowis kalah set, akupun tesenyum sambil mengangguk.

Segera kuajak LiLo untuk latihan PBB [pasukan baris berbaris?], dan kutugaskan dia untuk memimpin acara pemandian Ayuko.

LiLo terlihat setengah hati mengikuti perintahku, karena dia sedang main Game Sims-3 yang baru, tapi dia tahu benar, bahwa aku gak suka main game, jadi kalau nggak mau baris-berbaris pasti masalah main game akan dipermasalahkan.

Hehehe...salah juga aku ya, memaksakan kehendak pada anak kecil ini.



Alhamdulillah, akhirnya yang terjadi adalah suasana yang akrab dan ceria. Kami saling bantu membersihkan bulu Ayuko yang sudah terlihat "jorok".

Aku bagian mbawa air panas, dan LiLo bagian pekerjaan yang ringan-ringan. Tugas ibunya adalah mengawasi proses pemandian Ayuko ini sambil ceprat cepret pakai Canonku.

Sungguh nikmat rasanya mempunyai keluarga yang mau saling berbagi, saling bantu dalam segala urusan. Meski LiLo kadang-kadang suka bandel, tapi kalau ditelusuri, dia bandel karena ada contoh dari lingkungannya dan bukan dari dia murni.

Patut kita catat bahwa lingkungan yang paling gampang dicontoh oleh seorang anak adalah ortunya sendiri. Ortu adalah sosok yang sangat pas untuk dicontoh, sehingga kita harus selalu berhati-hati bersikap di depan anak-anak. Kalau sikap kita salah, maka sikap itu sudah tercetak di rekaman orak si anak, dan agak sulit untuk emnghilangkannya.

So, hati-hatilah para ortu dalam bersikap di depan anak-anak.

...
.