"Tak mungkin Lilo hilang. Dia sudah tiga kali ikut acara IBF. Mulai tahun 2007, 2008 dan sekarang 2009", begitu pikirku.
"Tapi kok sudah 3 jam gak muncul-muncul ke stand ya? Biasanya setiap beberapa menit atau maksimal satu jam, dia sudah muncul lagi di stand kita dan kemudian pergi lagi".
Aku mulai gelisah tapi masih kutahan-tahan juga untuk berbaik sangka sajalah. Begitulah sore itu berlalu dengan pertanyaan yang menggantung, "Dimanakah LiLo, tidakkah dia lapar belum makan siang?"
Menjelang maghrib barulah semuanya menjadi jelas. Rupanya telah diumumkan melalui pengeras suara pameran bahwa ada anak hilang, namanya LiLo, pakai baju batik dan celana jeans.
Sayangnya standku dekat dengan panggung utama, sehingga suara dari para pemimpi [mas Andrea dkk] ataupun suara Tere lebih terdengar dibanding suara dari panitia.
Untung ada mas-mas yang berbaju kuning mampir ke standku dan ngobrol dengan para penjaga stand tentang anak hilang yang jualan kalung biofir. Untungnya juga aku selalu sampaikan pada para penjaga stand bahwa aku sedang mencari Lilo dan kalau dia datang mohon untuk ditahan, karena belum makan siang, sehingga semua penjaga stand tahu kalau Lilo belum muncul sejak Dhuhur tadi.
Teman-teman penjaga stand langsung mengabarkan padaku tentang posisi Lilo saat ini.
"Iya nih, aku sudah ketemu dengan bapaknya anak itu. Antar saja ke stand no 90A, dekat panggung utama", begitu kata-kata yang kutangkap dari mas-mas berbaju kuning itu.
Dalam hati aku heran juga, "Kalau sudah sejak Dhuhur tadi hilang dan tahu kalau anakku bapaknya jualan kalung biofir kok nggak dikabarkan saja ke pemilik stand ya?"
Dengan sedikit emosi aku langsung bilang ke bapak berbaju kuning itu, "Di mana anak saya pak, langsung saya jemput"
"Gak usah pak, biar diantar kemari saja", kata mas-mas berbaju kuning itu.
"Kenapa ya gak boleh njemput", pikirku dalam hati. "Kalau memang mau diantar kok nggak dari tadi ya?"
Akhirnya aku jadi makin tidak sabar. Ternyata benar LiLo tidak hilang tapi diamankan satpam di ruang panitia.
"Anak bapak sudah diantar satpam pak. Sekarang menuju ke pos sekretariat pameran buku", kata mas-mas yang berbaju kuning.
Tanpa menunggu waktu, aku langsung meluncur ke pameran indocomtech. Aku tak peduli lagi dengan satpam yang menjaga pintu antara pameran buku dan pameran komputer. Aku langsung nyelonong dan mereka rupanya membiarkan aku lewat [kalau anak-anak baru gak boleh lewat 'kali].
Maksudku memotong jalan satpam yang nganter Lilo sebelum sampai ruang pameran, tapi rupanya satpam sudah lebih dulu bergerak, sehingga aku terlambat.
Kutemukan LiLo sudah berdiri kaku di ruang panitia pameran buku. Langsung kulihat lengan tangannya dan kulihat cap dari panitia memang sudah luntur, sehingga Lilo dianggap mau masuk ke pameran tanpa bayar.
Kuajak Lilo keluar dan kucap lagi lengannya. Sampai di luar aku ketemu dengan mbak-mbak yang langsung menghampiri Lilo.
"Sudah ketemu anaknya ya pak? Anaknya tadi menangis di depan pintu masuk, terus saya ajak masuk", begitu kata mbak-mbak itu.
Aku langsung menumpahkan emosi pada mbak-mbak itu.
"Bagaimana mungkin Lilo tidak boleh masuk gara-gara gak punya cap di lengannya. Cap itu kan langsung hilang ketika anakku wudhu"
"Ooo...iya ya...", kata mbak Itu seperti baru sadar.
Mbak itupun kemudian langsung ngeloyor pergi meninggalkanku.
Nyesal juga aku ngomong begitu sama mbak-mbak yang telah berbaik hati memasukkan lilo ke ruang panitia pameran.
Semoga mbak-mbak itu dan mas-mas yang baju kuning dapat memahami perasaan seorang ayah yang "kesel" karena anaknya tidak makan siang gara-gara cap pameran di lengan tangannya luntur.
Sehabis maghrib baru emosiku mulai mereda. Banyak hal yang kusesali hari ini dan banyak hal yang kusyukuri hari ini.
Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang membuat skenario hari ini menjadi seperti ini. Kuhirup teh hangat bersama lilo di halaman parkir JCC dan kunikmati malam yang indah ini berduaan sama Lilo.
Semoga hari ini lebih baik dari hari kemarin.
Amin.
...
..
.
Selepas maghrib baru aku tahu kalau LiLo diberi makan kue dan diberi minuman di ruang panitia. Diperbolehkan juga nonton film yang dia suka. Makasih deh buat yang telah berbaik hati pada anakku.
Semoga Tuhan membalasnya.
Amin.
Tampilkan postingan dengan label pameran buku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pameran buku. Tampilkan semua postingan
Minggu, November 08, 2009
Jumat, November 06, 2009
Anggota TDA ikut pameran di Indonesia Book Fair 2009
Ini hari ke dua ke acara IBF [Indonesia Book Fair] 2009. Rupanya terjadi penyumbatan lalu lintas di depan stand istriku. Aku jadi terhalang untuk masuk stand dan akhirnya menikmati kemacetan lalin di depan stand no 90A ini sampai akhirnya istriku melihatku dan memintaku untuk masuk saja ke dalam ruangan stand.
Penjaga stand yang ramah dan adanya pembagian buku gratis bagi mereka yang mengisi daftar hadir membuat stand istriku ini jadi meriah.
Buku gratis yang dibagikan berisi ilmu tentang bagaimana kita berbisnis dengan media audio atau radio. Dijelaskan secara singkat bedanya AM, FM, SW maupun radio satelit. Juga dijelaskan bedanya program TV dengan format Radio. Program TV sangat bervariasi tergantung jam tayangnya, sementara format sebuah radio biasanya membidik segmentasi yang lebih sempit.
Keikutsertaan istriku di komunitas TDA dengan menjadi anggota kelompok mastermind Cikarang 2 [KMMC2] cukup mewarnai kiprah berdirinya stand no 90A ini. Tahun-tahun lalu, istriku lebih mandiri dalam mengelola stand ini, sehingga ketika mendapat untung maka istriku sendiri yang merasakan keuntungannya itu. Di sisi lain, ketika mendapat kerugian, maka semua kerugian itupun ditanggung istriku sendiri.
Komunitas TDA telah mengajarkan anggotanya untuk saling berbagi, saling mendukung untuk menciptakan sinergi di antara anggotanya.
Pada pameran kali ini istriku bekerja sama dengan banyak orang, sehingga biaya stand bisa dipikul sama-sama dan menjadi terasa ringan di kantong. Demikian juga suasana jadi meriah karena yang dipamerkan tidak hanya kalung biofir saja tetapi bermacam ragam dagangan, mulai buku, kalung, madu sampai kursus menulis skenario film.
Bukuku "Pak Dhe ngeBloG" meskipun ditaruh di tempat yang tidak begitu strategis, tapi rupanya menarik para pengunjung stand untuk membelinya. Buku ini sebenarnya kuarahkan untuk pembaca remaja sampai dengan pria matang, tapi yang demen buku ini kayaknya mereka yang sudah di atas 30 tahun.
Mungkin di penerbitan lainnya nanti, aku akan membuat kuisioner yang terlampir bersama bukuku, sehingga aku tahu segmen pasar yang mana yang menyukai bukuku secara lebih pasti.
Buku ini juga terbit gara-gara aku ikut kelompok mastermind Cikarang 1 [KMMC1]. Setiap pertemuan yang diadakan oleh KMMC1, maka selalu saja kita diwajibkan untuk bercerita tentang mimpi-mimpi kita dan tugas teman-teman kelompok KMMC1 adalah membuat agar mimpi anggota KMMC1 terwujud.
Di KMMC1 tidak afdol kalau hanya satu orang yang sukses, tetapi dikatakan sukses kalau anggotanya sudah sukses semua.
Sebelum mengunjungi stand ini tadi, aku sempat beli Windows 7 seharga 1,47 juta /keping/1 lisensi dan aku juga beli satu CD Office 2007 home edition seharga 800 ribu untuk 3 lisensi.
Tidak seperti hari pertama yang terlihat masih berantakan, maka di hari kedua pameran ini suasana dan kondisi stand sudah enak dirasakan.
Banyak sekali acara-acara di panggung utama masing-masing pameran yang menarik untuk diikuti. Puncaknya tentu acara di hari Sabtu dan Minggu. Dijamin semua panggung akan dikerubuti oleh para pengunjung pameran. Baik pameran komputer [indocomtech] maupun pameran buku [Indonesia Book Fair] semuanya memunculkan acara yang sangat menarik.
Tentu hal ini diimbangi juga dengan kenaikan harga karcis untuk hari Sabtu dan Minggu. Bila di hari biasa harga karcisnya 5 ribu/orang, maka di hari Sabtu dan Minggu karcisnya 10 ribu/orang. Kalau aku sih gratis, karena mempunyai kartu tanda pengenal sebagai penjaga stand.
Ketika akan meninggalkan stand kulihat rombongan dari stasiun TV7 [atau Trans TV ya?] datang dan disambut oleh penjaga stand yan gtetap ramah, padahal mungkin belum mandi [hehehe....memang kalau mandi harus lapor?]
Akupun tidak jadi meninggalkan arena stand dan menguping apa yang mereka perbincangkan. Sayangnya pengunjung makin padet dan aku tidak bisa lagi mendengar suara mereka satu demi satu. Semua suara sudah saling bersahutan dan saling menimpa, sehingga aku malah gak bisa memilah lagi topik dari masing-masing kelompok yang ngobrol di depanku.
Semoga pameran ini bermanfaat buat siapa saja yang terlibat, baik teman-teman yang telah berbagi tempat maupun teman-teman yang telah membeli apa yang kita pamerkan.
Teirma kasih buat komunitas TDA Bekasi yang telah ikut mewarnai proses pengisian stand ini.
+++
Artikel terkait
Indonesia Book Fair 2009
Hari pertama IBF 2009
Piknik ke JCC tahun 2008
Penjaga stand yang ramah dan adanya pembagian buku gratis bagi mereka yang mengisi daftar hadir membuat stand istriku ini jadi meriah.
Buku gratis yang dibagikan berisi ilmu tentang bagaimana kita berbisnis dengan media audio atau radio. Dijelaskan secara singkat bedanya AM, FM, SW maupun radio satelit. Juga dijelaskan bedanya program TV dengan format Radio. Program TV sangat bervariasi tergantung jam tayangnya, sementara format sebuah radio biasanya membidik segmentasi yang lebih sempit.
Keikutsertaan istriku di komunitas TDA dengan menjadi anggota kelompok mastermind Cikarang 2 [KMMC2] cukup mewarnai kiprah berdirinya stand no 90A ini. Tahun-tahun lalu, istriku lebih mandiri dalam mengelola stand ini, sehingga ketika mendapat untung maka istriku sendiri yang merasakan keuntungannya itu. Di sisi lain, ketika mendapat kerugian, maka semua kerugian itupun ditanggung istriku sendiri.
Komunitas TDA telah mengajarkan anggotanya untuk saling berbagi, saling mendukung untuk menciptakan sinergi di antara anggotanya.
Pada pameran kali ini istriku bekerja sama dengan banyak orang, sehingga biaya stand bisa dipikul sama-sama dan menjadi terasa ringan di kantong. Demikian juga suasana jadi meriah karena yang dipamerkan tidak hanya kalung biofir saja tetapi bermacam ragam dagangan, mulai buku, kalung, madu sampai kursus menulis skenario film.
Mungkin di penerbitan lainnya nanti, aku akan membuat kuisioner yang terlampir bersama bukuku, sehingga aku tahu segmen pasar yang mana yang menyukai bukuku secara lebih pasti.
Buku ini juga terbit gara-gara aku ikut kelompok mastermind Cikarang 1 [KMMC1]. Setiap pertemuan yang diadakan oleh KMMC1, maka selalu saja kita diwajibkan untuk bercerita tentang mimpi-mimpi kita dan tugas teman-teman kelompok KMMC1 adalah membuat agar mimpi anggota KMMC1 terwujud.
Di KMMC1 tidak afdol kalau hanya satu orang yang sukses, tetapi dikatakan sukses kalau anggotanya sudah sukses semua.
Sebelum mengunjungi stand ini tadi, aku sempat beli Windows 7 seharga 1,47 juta /keping/1 lisensi dan aku juga beli satu CD Office 2007 home edition seharga 800 ribu untuk 3 lisensi.
Tidak seperti hari pertama yang terlihat masih berantakan, maka di hari kedua pameran ini suasana dan kondisi stand sudah enak dirasakan.
Banyak sekali acara-acara di panggung utama masing-masing pameran yang menarik untuk diikuti. Puncaknya tentu acara di hari Sabtu dan Minggu. Dijamin semua panggung akan dikerubuti oleh para pengunjung pameran. Baik pameran komputer [indocomtech] maupun pameran buku [Indonesia Book Fair] semuanya memunculkan acara yang sangat menarik.
Tentu hal ini diimbangi juga dengan kenaikan harga karcis untuk hari Sabtu dan Minggu. Bila di hari biasa harga karcisnya 5 ribu/orang, maka di hari Sabtu dan Minggu karcisnya 10 ribu/orang. Kalau aku sih gratis, karena mempunyai kartu tanda pengenal sebagai penjaga stand.
Ketika akan meninggalkan stand kulihat rombongan dari stasiun TV7 [atau Trans TV ya?] datang dan disambut oleh penjaga stand yan gtetap ramah, padahal mungkin belum mandi [hehehe....memang kalau mandi harus lapor?]
Akupun tidak jadi meninggalkan arena stand dan menguping apa yang mereka perbincangkan. Sayangnya pengunjung makin padet dan aku tidak bisa lagi mendengar suara mereka satu demi satu. Semua suara sudah saling bersahutan dan saling menimpa, sehingga aku malah gak bisa memilah lagi topik dari masing-masing kelompok yang ngobrol di depanku.
Semoga pameran ini bermanfaat buat siapa saja yang terlibat, baik teman-teman yang telah berbagi tempat maupun teman-teman yang telah membeli apa yang kita pamerkan.
Teirma kasih buat komunitas TDA Bekasi yang telah ikut mewarnai proses pengisian stand ini.
+++
Artikel terkait
Indonesia Book Fair 2009
Hari pertama IBF 2009
Piknik ke JCC tahun 2008
Rabu, November 04, 2009
Hari Pertama IBF ke 29 Th 2009
"Macet nih Semanggi, terus saja, nanti kita keluar sebelum Gedung MPR", kata temanku ketika melihat kemacetan menjelang Jembatan Semanggi.
Alhamdulillah, hari pertama ini tempat parkir masih menyisakan beberapa ruang kosong di dekat gedung JCC, jadi gak perlu jalan jauh dari tempat parkir ke lokasi pameran.
Penonton yang belum begitu banyak, membuat AC di tempat pameran buku bertajuk IBF 2009 ini masih terasa dingin. Sangat berbeda kondisinya dengan lokasi Indocomtech yang tembus dari pameran buku ini.
AC sudah nggak begitu terasa, kecuali di lorong=lorong yang menghubungan hall yang satu dengan hall yang lainnya.
Ketika kawan-kawan menuju pameran komputer Indocomtech, aku menuju ruang pameran buku di sisi kanan bangunan JCC.
Kulihat stand yang ada kurang lebih sama dengan tahun lalu. Hal ini terjadi karena memang data base panitia tersimpan rapi dan dipakai sebagai acuan untuk pelaksanaan acara setahun kemudian.
Katalog pameran buku yang dijual seharga 10 ribu membuat penonton tidak banyak yang membawa katalog, sehngga banyak yang tidak tahu acara apa saja yang akan berlangsung di panggung utama.
Meski begitu secara umum penonton yang datang kali ini mungkin adalah penonton yang datang tahun lalu, sehingga mereka sudah siap duduk-duduk di depan panggung, meskipun acaranya mngkin tidak mereka pahami dengan baik.
"Acara di panggung pasti menarik, jadi apapun acaranya, kita duduk saja di kursi yang jumlahnya terbatas ini", begitu mungkin jalan pikiran mereka.
Waktu yang begitu pendek [padahal setengah hari tuh] membuat aku tidak banyak mempunyai waktu untuk melihat secara detil stand yang ada di pameran ini.
Apalagi aku harus menemani istriku, yah sekedar memberi semangat agar semangatnya terus menyala-nyala. Kuperhatikan buku pak Dhe ngeBlog laku juga. Nggak tahu juga buku itu laku karena pengarangnya atau karena ada nilai sodakoh di buku itu.
Kelihatannya hari Sabtu dan Minggu baru aku bisa puas melihat semua stand yang ada. Apalagi di stand komputer, jubelan penonton dan antusias para SPG menawarkan dagangannya membuat aku kurang nyaman menikmatinya [aslinya karena gak bawa duit, jadi hanya memendam keinginan dalam hati akan barang-barang yang begitu menawan].
Melihat deretan camera SLR yang harganya dibawah 7 juta [termasuk kelengkapan lensa 18-55 mm] membuat rasanya ingin segera ganti camera [padahal baru saja ganti, hehehe...]
Begitulah manusia itu. Dikasih satu jurang emas, masih juga nyari jurang kedua. Dikasih lagi satu jurang emas, masih juga nyari jurang ketiga. Keinginan itu baru berhenti ketika mereka mendapat jurang seukuran 1 x 2 m alias liang lahat.
Kata Iwan Fals, "Keinginan adalah sumber penderitaan.."
Benarkah?
Jawaban jujur anda silahkan disampaikan.
Minggu, November 16, 2008
Piknik di JCC
Pagi ini seiisi rumah pada meluncur ke JCC. Kita menikmati suasana IBF [Indonesia Book fair] 2008, yang ternyata lebih meriah dibanding hari kemarin. Mungkin karena hari terakhir, maka suasana IBF 2008 jadi kayak pasar kaget. Liputan media masa juga kayaknya dipusatkan pada hari ini. Para kuli tinta dengan "senjata"-nya masing-masing pada bersliweran di seluruh lokasi pameran.
Seperti biasa, LiLo selalu hilang begitu sudah masuk ke lokasi pameran. Sementara kakak-kakaknya pada ngglendot sama bapaknya, keliling ke masing-masing stand.
Sampai di stand demo anti virus, penjaganya begitu bersemangat menjajakan buku tentang dokter virus.
"Silahkan serahkan flash disk yang bervirus, dan dokter virus kita akan melenyapkan semua virus yang ada di flash disk itu dengan cepat"
Aku senyum mendengarnya, dan kemudian nyeletuk,"Iya ilang sak flash-disknya"
Penjaga stand yang di sebelahku tersenyum kecut mendengar celetukanku. Mungkin dia pingin marah, tapi gak bisa karena statusku adalah calon pembeli atau tamu, yang berarti raja bagi dia.
Saat ada yang menyerahkan flash disk model unik, sang dokter bingung. Mau dimasukkan ke card reader kok gak cocok, jadi dikembalikannya ke yang punya. Tentu saja yang punya langsung protes, terus langsung dicolokkan ke port usb dan pak dokter viruspun tersenyum [kecut].
Saat siang kusempatkan untuk nulis di komputer. Ibunya LiLo yang duduk di depanku protes karena LiLonya entah berada dimana.
"Pak LiLo dicari donk. Nanti kalau sudah ketemu jangan dilepas ya...", pintanya.
"LiLo? Jangan dilepas?!", kataku
"Imposible!", kata kakaknya.
Hhahahhahaa... =D
Sehabis makan siang, kita asyik nonton game dance. Luar biasa anak-anak muda itu dalam berdansa mengikuti musik dan menjejakkan kakinya sesuai petunjuk yang ada di monitor. Biasanya yang sering dilihat adalah yang mempunyai 5 [lima] injakan, satu di tengah dan empat lainnya di sekitarnya. Untuk yang dilihat siang ini modelnya dobel, sehingga ada sepuluh injakan yang harus diinjak sesuai petunjuk komputer.
Penonton yang begitu berjubel membuat tontonan jadi kurang jelas dilihat. Akhirnya kucoba untuk duduk saja, dengan harapan semangat kekeluargaan para penonton muncul dan tidak ada yang dengan "pe-dhe"nya berdiri di depanku.
Alhamdulillah, sesuai ilmu Quantum Ikhlas, maka para penonton di depanku pada minggir, sementara itu para penonton lain pada duduk di sebelahku. Jadilah aku sebagai penonton VIP dengan ruang kosong di depanku, sehingga orang yang tidak mau nonton tapi mau lewat tidak terhalangi oleh berjubelnya penonton.
Sore mejelang maghrib, perutpun mulai keroncongan. Anak tertuaku begitu ngiler melihat uap yang mengepul di atas "rombongan" bakpau, maka sore itupun kita asyik nongkrong di depan mobil pintar makan bak pau.
Sementara itu, LiLo datang pergi dengan gaya khasnya. Setiap ingin beli sesuatu, kalau ditolak bapaknya, maka ibunya yang dijadikan "second change", demikian juga sebaliknya bila ditolak ibunya. Sungguh dia sangat menikmati hari ini bersama mainan barunya. Arena pameran yang luas ini sudah lengkap dijelajahinya dan setiap melihat komputer yang nganggur langsung saja dia duduk dan "sok" berlagak tanpa dosa untuk njalanin komputer itu.
Jadi inget ketika LiLo tak "lepas" di time zone. Ternyata tanpa koinpun dia bisa ikut main. Caranya sok akrab dengan yang sedang main di Time Zone dan ada saja kesempatan dia untuk ikut main tanpa pakai koin.
Saat nulis di bagian ini, LiLo sedang asyik ngobrol sama penjaga stand unicef yang berada di depanku. Penjaganya ya pasti sok akrab juga dengan LiLo, jadilah mereka kayak sudah lama berkenalan. Obrolan itu baru terhenti ketika LiLo kuajak jamaah maghrib.
Malam terus berjalan dan ruangan pameran makin lama makin dingin, tapi khusus ruang pameran dalam, tempat istriku buka stand, tetep saja panas. Bisa jadi karena pengunjung di ruangan lain makin berkurang atau AC di runag pameran dalam kurang berfungsi dengan baik, atau jangan-jangan kedua-dua yang terjadi. AC -nya kurang baik dan pengunjung di ruang pameran dalam ini tetep saja rame.
Malam ini sebenarnya pengulangan kejadian tahun lalu. Bedanya, malam ini kita lengkap sekeluarga "piknik" di pameran dari pagi sampai malam dan barang bawaannya juga lebih banyak dibanding tahun lalu.
Blog inipun dibuat tidak hanya olehku sendiri dalam satu waktu tertentu, tetapi ditulis sedikit demi sedikit dari pagi sampai malam dan ada kontribusi anak keduaku dalam tulisan ini.
Di arena pameran inipun kami bisa foto bareng [he..he..he.. termasuk kesempatan langka nih] .
Seperti biasa, LiLo selalu hilang begitu sudah masuk ke lokasi pameran. Sementara kakak-kakaknya pada ngglendot sama bapaknya, keliling ke masing-masing stand.
Sampai di stand demo anti virus, penjaganya begitu bersemangat menjajakan buku tentang dokter virus.
"Silahkan serahkan flash disk yang bervirus, dan dokter virus kita akan melenyapkan semua virus yang ada di flash disk itu dengan cepat"
Aku senyum mendengarnya, dan kemudian nyeletuk,"Iya ilang sak flash-disknya"
Penjaga stand yang di sebelahku tersenyum kecut mendengar celetukanku. Mungkin dia pingin marah, tapi gak bisa karena statusku adalah calon pembeli atau tamu, yang berarti raja bagi dia.
Saat ada yang menyerahkan flash disk model unik, sang dokter bingung. Mau dimasukkan ke card reader kok gak cocok, jadi dikembalikannya ke yang punya. Tentu saja yang punya langsung protes, terus langsung dicolokkan ke port usb dan pak dokter viruspun tersenyum [kecut].
Saat siang kusempatkan untuk nulis di komputer. Ibunya LiLo yang duduk di depanku protes karena LiLonya entah berada dimana.
"Pak LiLo dicari donk. Nanti kalau sudah ketemu jangan dilepas ya...", pintanya.
"LiLo? Jangan dilepas?!", kataku
"Imposible!", kata kakaknya.
Hhahahhahaa... =D
Sehabis makan siang, kita asyik nonton game dance. Luar biasa anak-anak muda itu dalam berdansa mengikuti musik dan menjejakkan kakinya sesuai petunjuk yang ada di monitor. Biasanya yang sering dilihat adalah yang mempunyai 5 [lima] injakan, satu di tengah dan empat lainnya di sekitarnya. Untuk yang dilihat siang ini modelnya dobel, sehingga ada sepuluh injakan yang harus diinjak sesuai petunjuk komputer.
Penonton yang begitu berjubel membuat tontonan jadi kurang jelas dilihat. Akhirnya kucoba untuk duduk saja, dengan harapan semangat kekeluargaan para penonton muncul dan tidak ada yang dengan "pe-dhe"nya berdiri di depanku.
Alhamdulillah, sesuai ilmu Quantum Ikhlas, maka para penonton di depanku pada minggir, sementara itu para penonton lain pada duduk di sebelahku. Jadilah aku sebagai penonton VIP dengan ruang kosong di depanku, sehingga orang yang tidak mau nonton tapi mau lewat tidak terhalangi oleh berjubelnya penonton.
Sore mejelang maghrib, perutpun mulai keroncongan. Anak tertuaku begitu ngiler melihat uap yang mengepul di atas "rombongan" bakpau, maka sore itupun kita asyik nongkrong di depan mobil pintar makan bak pau.
Sementara itu, LiLo datang pergi dengan gaya khasnya. Setiap ingin beli sesuatu, kalau ditolak bapaknya, maka ibunya yang dijadikan "second change", demikian juga sebaliknya bila ditolak ibunya. Sungguh dia sangat menikmati hari ini bersama mainan barunya. Arena pameran yang luas ini sudah lengkap dijelajahinya dan setiap melihat komputer yang nganggur langsung saja dia duduk dan "sok" berlagak tanpa dosa untuk njalanin komputer itu.
Jadi inget ketika LiLo tak "lepas" di time zone. Ternyata tanpa koinpun dia bisa ikut main. Caranya sok akrab dengan yang sedang main di Time Zone dan ada saja kesempatan dia untuk ikut main tanpa pakai koin.
Saat nulis di bagian ini, LiLo sedang asyik ngobrol sama penjaga stand unicef yang berada di depanku. Penjaganya ya pasti sok akrab juga dengan LiLo, jadilah mereka kayak sudah lama berkenalan. Obrolan itu baru terhenti ketika LiLo kuajak jamaah maghrib.
Malam terus berjalan dan ruangan pameran makin lama makin dingin, tapi khusus ruang pameran dalam, tempat istriku buka stand, tetep saja panas. Bisa jadi karena pengunjung di ruangan lain makin berkurang atau AC di runag pameran dalam kurang berfungsi dengan baik, atau jangan-jangan kedua-dua yang terjadi. AC -nya kurang baik dan pengunjung di ruang pameran dalam ini tetep saja rame.
Malam ini sebenarnya pengulangan kejadian tahun lalu. Bedanya, malam ini kita lengkap sekeluarga "piknik" di pameran dari pagi sampai malam dan barang bawaannya juga lebih banyak dibanding tahun lalu.
Blog inipun dibuat tidak hanya olehku sendiri dalam satu waktu tertentu, tetapi ditulis sedikit demi sedikit dari pagi sampai malam dan ada kontribusi anak keduaku dalam tulisan ini.
Di arena pameran inipun kami bisa foto bareng [he..he..he.. termasuk kesempatan langka nih] .
Sabtu, November 15, 2008
Buku [jendela dunia], perlunya IQRA
Sejak tinggal di Jakarta, berturut-turut istriku ikut memeriahkan pameran buku 2007 dan 2008. Indonesia Book Fair yang tahun lalu sangat meriah, tahun ini ternyata jauh lebih meriah dibanding tahun lalu.
Buku memang adalah jendela dunia, dan rasanya "mongkok" [bangga banget] melihat antusias yang begitu besar dari para penikmat Indonesia Book Fair [IBF] 2008 ini. Apalagi ada buku yang sedang naik daun Blind Power karya Eko Ramaditya Adikara [blogger tunanetra , wartawan dan pakar IT]. Silahkan klik sendiri di http://www.ramaditya.com/
Entah siapa yang mengajak, apakah anak mengajak orang tua atau orang tua mengajak anaknya, tapi yang jelas arena IBF 2008 penuh sesak dengan kunjungan mereka.
Yang paling fantastis adalah ruang sholat dan tempat wudhunya. Sepanjang pengetahuanku, belum pernah orang mau wudhu saja sampai antri beberapa baris dan beberapa meter, sampai mereka keluar dari tempat wudhu.
Sejak tahun lalu sampai sekarang tempat wudhu di JCC memang sangat memprihatinkan. Lantainya selalu tergenang air, sehingga ada rasa tidak suci ketika selesai wudhu dan mengarungi lantai yang penuh genangan air [kotor] itu.
Mushola yang sangat kecil memang jadi tidak memadai untuk acara sebesar ini. Untuk acara rutin yang kecil-kecilan, memang mushola ini sudah memadai, tapi untuk acara ini mungkin perlu dipikirkan untuk merapikan ruang wudhunya, sehingga lebih membuat nyaman mereka yang akan menjalankan ibadah pada Tuhannya.
Di luar masalah itu, ada sedikit masalah dengan ramainya pengunjung dan acara talk show yang [mestinya] berbobot tapi jadi terasa kuran bobotnya karena audience tidak bisa konsentrasi dengan apa yang disampaikan dalam talk show.
Memasuki ruang pameran, rasanya aku memang kayak sedang surfing di internet. Bagaimana tidak, disitu langsung ketemu dengan nama Eko Ramaditya Adikara. Kemudian ketemu juga dengan Jonru Ginting, ketemu Greenpeace dll. Sementara itu aku harus mengurut dada, ternyata temanku di dunia nyata [non maya] hanya satu yang kujumpai nonton pameran itu.
Satu musuh kebanyakan, seribu sahabat masih terasa kurang, lalu kalau hanya satu sahabat yang kutemui, apa artinya itu?
Jangan-jangan musuhku juga lebih banyak di dunia nyata ini, padahal satu musuh saja, bagiku sudah kebanyakan.
"Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat." (Ali 'Imran: 105)
Pameran ini juga mengingatkan kita bahwa ayat pertama Al Quran adalah perintah membaca. Jadi kata membaca [iqra] adalah "magic word" untuk melangkah ke jenjang yang lebih tinggi.
Tidak akan sempurna tulisan seseorang bila dia kurang membaca. Seperti juga tidak akan ada penceramah yang piawai sebelum dia juga rajin mendengarkan ceramah orang lain. Ada khotib yang selalu menyediakan salah satu hari Jumat dalam sebulan untuk tidak menjadi khotib dan dia kemudian mencoba menjadi pendengar yang baik.
Jadi jangan lupa setelah pandai membaca, perlu juga pandai mendengar. Ingat mendengarkan orang yang membaca Al Quran adalah suatu perbuatan yang sangat baik dan besar pahalnya [CMIIW], karena cukup dengan mendengar ayat Al Quran saja sudah tergetar iman kita.
"(yaitu) orang-orang yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, orang-orang yang sabar terhadap apa yang menimpa mereka, orang-orang yang mendirikan sembahyang dan orang-orang yang menafkahkan sebagian dari apa yang telah Kami rezkikan kepada mereka"
(22:35)
"maha suci Allah yg telah menurunkan AL-QUR’AN kepada hambanya agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam. Yang kepunyaannyalah kerajaan langit dan bumi, dan dia tidak mempunyai anak, dan tiada sekutu baginya dalam kekuasaan (NYA) dan dia telah menciptakan segala sesuatu dan dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya" (al-furqan 1-2 )
Buku memang adalah jendela dunia, dan rasanya "mongkok" [bangga banget] melihat antusias yang begitu besar dari para penikmat Indonesia Book Fair [IBF] 2008 ini. Apalagi ada buku yang sedang naik daun Blind Power karya Eko Ramaditya Adikara [blogger tunanetra , wartawan dan pakar IT]. Silahkan klik sendiri di http://www.ramaditya.com/
Entah siapa yang mengajak, apakah anak mengajak orang tua atau orang tua mengajak anaknya, tapi yang jelas arena IBF 2008 penuh sesak dengan kunjungan mereka.
Yang paling fantastis adalah ruang sholat dan tempat wudhunya. Sepanjang pengetahuanku, belum pernah orang mau wudhu saja sampai antri beberapa baris dan beberapa meter, sampai mereka keluar dari tempat wudhu.
Sejak tahun lalu sampai sekarang tempat wudhu di JCC memang sangat memprihatinkan. Lantainya selalu tergenang air, sehingga ada rasa tidak suci ketika selesai wudhu dan mengarungi lantai yang penuh genangan air [kotor] itu.
Mushola yang sangat kecil memang jadi tidak memadai untuk acara sebesar ini. Untuk acara rutin yang kecil-kecilan, memang mushola ini sudah memadai, tapi untuk acara ini mungkin perlu dipikirkan untuk merapikan ruang wudhunya, sehingga lebih membuat nyaman mereka yang akan menjalankan ibadah pada Tuhannya.
Di luar masalah itu, ada sedikit masalah dengan ramainya pengunjung dan acara talk show yang [mestinya] berbobot tapi jadi terasa kuran bobotnya karena audience tidak bisa konsentrasi dengan apa yang disampaikan dalam talk show.
Memasuki ruang pameran, rasanya aku memang kayak sedang surfing di internet. Bagaimana tidak, disitu langsung ketemu dengan nama Eko Ramaditya Adikara. Kemudian ketemu juga dengan Jonru Ginting, ketemu Greenpeace dll. Sementara itu aku harus mengurut dada, ternyata temanku di dunia nyata [non maya] hanya satu yang kujumpai nonton pameran itu.
Satu musuh kebanyakan, seribu sahabat masih terasa kurang, lalu kalau hanya satu sahabat yang kutemui, apa artinya itu?
Jangan-jangan musuhku juga lebih banyak di dunia nyata ini, padahal satu musuh saja, bagiku sudah kebanyakan.
"Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat." (Ali 'Imran: 105)
Pameran ini juga mengingatkan kita bahwa ayat pertama Al Quran adalah perintah membaca. Jadi kata membaca [iqra] adalah "magic word" untuk melangkah ke jenjang yang lebih tinggi.
Tidak akan sempurna tulisan seseorang bila dia kurang membaca. Seperti juga tidak akan ada penceramah yang piawai sebelum dia juga rajin mendengarkan ceramah orang lain. Ada khotib yang selalu menyediakan salah satu hari Jumat dalam sebulan untuk tidak menjadi khotib dan dia kemudian mencoba menjadi pendengar yang baik.
Jadi jangan lupa setelah pandai membaca, perlu juga pandai mendengar. Ingat mendengarkan orang yang membaca Al Quran adalah suatu perbuatan yang sangat baik dan besar pahalnya [CMIIW], karena cukup dengan mendengar ayat Al Quran saja sudah tergetar iman kita.
"(yaitu) orang-orang yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, orang-orang yang sabar terhadap apa yang menimpa mereka, orang-orang yang mendirikan sembahyang dan orang-orang yang menafkahkan sebagian dari apa yang telah Kami rezkikan kepada mereka"
(22:35)
"maha suci Allah yg telah menurunkan AL-QUR’AN kepada hambanya agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam. Yang kepunyaannyalah kerajaan langit dan bumi, dan dia tidak mempunyai anak, dan tiada sekutu baginya dalam kekuasaan (NYA) dan dia telah menciptakan segala sesuatu dan dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya" (al-furqan 1-2 )
Langganan:
Postingan (Atom)
