Akhirnya IBF 2009 ditutup secara resmi sesuai jadwal yang telah ditentukan. Minggu, Tanggal 8 Nopember 2009 berakhirlah hajatan para pecinta buku ini.
Selamat jalan IBF 2009 dan selamat datang IBF 2010 !
Pesta buku ini diakhiri dengan dominasi Mas Arswendo Atmowiloto di panggung utama. Sebagai dewan Juri, maka satu demi satu mas Wendo memanggil para pemenang lomba dan setelah acara itu selesai, maka berakhirlah pesta yang sangat ditunggu-tunggu oleh para penggemar buku Indonesia bagian Jakarta.
"Wah kowe wis dadi bos ya?" [wah kamu sudah jadi bos ya?], begitu kata mas Wendo ketika sempat mampir di stand no 90A.
"Alhamdulillah", kataku dalam hati sambil tersenyum.
Ini memang stand yang kecil kalau dibandingkan dengan stand Gunung Agung yang ada di depan stand no 90A ini.
Meski stand ini kecil, tetapi nilai sinergi dalam stand ini sungguh tak terkira besarnya. Bagaimana seorang anggota Kelompok Mastermind Cikarang 2 [KMMC2] bisa menggaet beberapa orang untuk ikut berpartisipasi dalam acara besar ini, adalah cerita seru yang ada dibalik stand no 90A.
Sewa Stand yang mahal jadi terasa murah karena dipikul bersama-sama. Mari kita lihat siapa saja yang terlibat dalam stand kecil ini.
Ada sekolah menulis kre@tif yang diasuh oleh mas Dodi. Disini ditawarkan ”CARA CEPAT MENULIS BUKU” dengan METODE 12 PAS. Para pengunjung stand ini secara otomatis mendapat sebuah buku tentang seluk beluk radio yang ternyata isinya sangat menarik. Syarat mendapat buku ini adalah mengisi formulir yang sudah disiapkan khusus oleh mas Dodi dan mbak Emma. Pasutri yang kompak dan mesra.
Ada juga pustaka lebah yang menawarkan bacaan untuk anak-anak yang sangat bermanfaat, terbukti dengan larisnya buku-buku yang dijual dan terpesonanya para pengunjung pameran bila melewati stand no 90A tersebut.
Lilo yang selama dua hari ikut menjaga pameran tidak bosan-bosannya bermain dengan mainan yang ada di stand Pustaka Lebah ini.
Kalau sedikit melihat ke rak paling atas, maka terlihat beberapa asesoris dari UbuD yang ikut menawarkan perhiasan khas Indonesia yang sangat berkelas. Harganya memang tidak murah, tapi jelas tidak mahal dan sebanding dengan kualitas yang diberikan [orang Yogya bilang "ono rego ono rupo", ada harga ada kualitas].
Masih penasaran dengan isi stand yang lain?
Di stand ini dijual juga beberapa botol minyak goreng HCO yang ternyata menarik minat para pengunjung untuk menjadi re-sellernya. Agak mengherankan memang, di ajang pameran buku ada yang jualan minyak goreng, tapi kalau memang ada pembelinya, maka tentu tidak salah berjualan disini. Toh panitia tidak keberatan dengan apa yang dijual di stand "gado-gado TDA" ini.
Ini memang stand yang paling berbeda dengan stand yang lainnya, meskipun sepintas lalu mirip dengan stand lain, tetapi apa yang dijual di stand dini benar-benar gado-gado alias campur aduk beberapa produk.
Memang produk utama dari stand ini adalah produk dari GNE, yaitu kalung yang mengandung energi biofir. Ini memang produk yang sejak tahun 2007 membuka stand khusus di ajang pameran buku ini. Meskipun tidak ada transaksi di ajang pameran ini, tetapi memang begitulah model jualan kalung ini.
Pengunjung disadarkan bahwa kalung ini sangat perlu untuk membantu tubuh dalam melakukan "maintenance" terhadap kondisi tubuh. Fungsi kalung yang memancarkan energi biofir ini membuat pemakainya mempunyai peredaran darah yang lancar. Secara otomatis kalau perearan darah lancar, maka nutrisi ke seluruh sel tubuh akan optimal dan kesehatapun menajdi prima.
Beberapa pengunjung terlihat antusias bertanya tentang bagaimana caranya membedakan produk kalung [asli] ini dengan kalung tiruannya.
Caranya tentu sangat mudah. Gunakan es batu untuk mengetest keaslian kalung ini. Bila es batu didekatkan ke kalung ini dan esnya terlihat mencair lebih cepat, maka bisa dipastikan kalung itu asli, tetapi kalau kalung sudah didekatkan dan tetesan es batu tidak berubah, maka bisa dipastikan kalung itu tidak asli.
Unggulan lain dari stand ini adalah penjualan buku-buku yang penuh motivasi, baik cerita tentang Bob Sadino [misalnya] maupun dari calon penulis best seller tahun 2010 yang menerbitkan buku "Pak Dhe ngeBloG"
Para pembeli buku "Pak Dhe ngeBloG" ini punya model yang aneh-aneh sebelum membeli buku ini.
"Lho mas Eko supporter Greenpeace ya? Aku beli bukunya deh"
"Mas aku juga anggota komunitas TDA, beli bukunya ya"
"Lho penjualan buku ini untuk membantu TK Nurul Azizi ya? Aku beli bukunya deh"
Masih banyak lagi kalimat-kalimat yang akhirnya membawa para pengunjung membeli buku itu.
"Foto dulu ya mas sambil aku pegang bukunya"
"Tolong tanda tangani bukunya ya mas...."
Kalau kalimat di atas adalah kalimat setelah mereka membeli buku itu.
Meski demikian ada juga yang bertanya ngalor ngidul tentang buku itu dan akhirnya ngeloyor begitu saja. Kok beli, megang bukunya saja tidak dilakukannya...hehehe....
Begitulah dinamika berjualan buku. Ada haru, bangga, sabar dan syukur terhadap semua hal yang terjadi ketika proses penjualan buku itu berlangsung.
Stand nomor 90A ini memang dikelola oleh seorang anggota komunitas TDA, sehingga tidak aneh ketika kemudian nuansa berbagi sangat kental di stand ini. Jaringan antar para pengisi stand ini langsung terbentuk. Rasanya semua seperti sudah menjadi kenalan lama, padahal sebagian besar pengisi stand ini baru kenal ketika hari pameran berlangsung.
Itulah energi positip [epos] yang selalu mengikuti kiprah anggota komunitas TDA dimanapun dia berada.
Secara umum pelaksanaan pameran ini terhitung sukses besar. Hampir semua acara yang ditampilkan di panggung utama juga terlihat selalu penuh pengunjung dan penuh dengan tanya jawab yang hidup.
Ada Darwis Tere, ada barisan Sang Pemimpi, ada juga bintang manis Sherina dan masih banyak lagi tokoh publik yang ikut memeriahkan acara di panggung utama.
Semua pengunjung mungkin sepakat untuk menyiapkan diri mengikuti acara tahun depan, Indonesia Book Fair yang ke 30 tahun 2010.
Selamat menunggu setahun lagi di tempat yang sama dengan nuansa acara yang berbeda. Puji syukur pada Tuhan yang telah memberi rahmatNya, sehingga acara pameran ini sukses sampai di akhir harinya.
+++
Tampilkan postingan dengan label ibf 2009. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ibf 2009. Tampilkan semua postingan
Senin, November 09, 2009
Minggu, November 08, 2009
Kehilangan LiLo di IBF 2009
"Tak mungkin Lilo hilang. Dia sudah tiga kali ikut acara IBF. Mulai tahun 2007, 2008 dan sekarang 2009", begitu pikirku.
"Tapi kok sudah 3 jam gak muncul-muncul ke stand ya? Biasanya setiap beberapa menit atau maksimal satu jam, dia sudah muncul lagi di stand kita dan kemudian pergi lagi".
Aku mulai gelisah tapi masih kutahan-tahan juga untuk berbaik sangka sajalah. Begitulah sore itu berlalu dengan pertanyaan yang menggantung, "Dimanakah LiLo, tidakkah dia lapar belum makan siang?"
Menjelang maghrib barulah semuanya menjadi jelas. Rupanya telah diumumkan melalui pengeras suara pameran bahwa ada anak hilang, namanya LiLo, pakai baju batik dan celana jeans.
Sayangnya standku dekat dengan panggung utama, sehingga suara dari para pemimpi [mas Andrea dkk] ataupun suara Tere lebih terdengar dibanding suara dari panitia.
Untung ada mas-mas yang berbaju kuning mampir ke standku dan ngobrol dengan para penjaga stand tentang anak hilang yang jualan kalung biofir. Untungnya juga aku selalu sampaikan pada para penjaga stand bahwa aku sedang mencari Lilo dan kalau dia datang mohon untuk ditahan, karena belum makan siang, sehingga semua penjaga stand tahu kalau Lilo belum muncul sejak Dhuhur tadi.
Teman-teman penjaga stand langsung mengabarkan padaku tentang posisi Lilo saat ini.
"Iya nih, aku sudah ketemu dengan bapaknya anak itu. Antar saja ke stand no 90A, dekat panggung utama", begitu kata-kata yang kutangkap dari mas-mas berbaju kuning itu.
Dalam hati aku heran juga, "Kalau sudah sejak Dhuhur tadi hilang dan tahu kalau anakku bapaknya jualan kalung biofir kok nggak dikabarkan saja ke pemilik stand ya?"
Dengan sedikit emosi aku langsung bilang ke bapak berbaju kuning itu, "Di mana anak saya pak, langsung saya jemput"
"Gak usah pak, biar diantar kemari saja", kata mas-mas berbaju kuning itu.
"Kenapa ya gak boleh njemput", pikirku dalam hati. "Kalau memang mau diantar kok nggak dari tadi ya?"
Akhirnya aku jadi makin tidak sabar. Ternyata benar LiLo tidak hilang tapi diamankan satpam di ruang panitia.
"Anak bapak sudah diantar satpam pak. Sekarang menuju ke pos sekretariat pameran buku", kata mas-mas yang berbaju kuning.
Tanpa menunggu waktu, aku langsung meluncur ke pameran indocomtech. Aku tak peduli lagi dengan satpam yang menjaga pintu antara pameran buku dan pameran komputer. Aku langsung nyelonong dan mereka rupanya membiarkan aku lewat [kalau anak-anak baru gak boleh lewat 'kali].
Maksudku memotong jalan satpam yang nganter Lilo sebelum sampai ruang pameran, tapi rupanya satpam sudah lebih dulu bergerak, sehingga aku terlambat.
Kutemukan LiLo sudah berdiri kaku di ruang panitia pameran buku. Langsung kulihat lengan tangannya dan kulihat cap dari panitia memang sudah luntur, sehingga Lilo dianggap mau masuk ke pameran tanpa bayar.
Kuajak Lilo keluar dan kucap lagi lengannya. Sampai di luar aku ketemu dengan mbak-mbak yang langsung menghampiri Lilo.
"Sudah ketemu anaknya ya pak? Anaknya tadi menangis di depan pintu masuk, terus saya ajak masuk", begitu kata mbak-mbak itu.
Aku langsung menumpahkan emosi pada mbak-mbak itu.
"Bagaimana mungkin Lilo tidak boleh masuk gara-gara gak punya cap di lengannya. Cap itu kan langsung hilang ketika anakku wudhu"
"Ooo...iya ya...", kata mbak Itu seperti baru sadar.
Mbak itupun kemudian langsung ngeloyor pergi meninggalkanku.
Nyesal juga aku ngomong begitu sama mbak-mbak yang telah berbaik hati memasukkan lilo ke ruang panitia pameran.
Semoga mbak-mbak itu dan mas-mas yang baju kuning dapat memahami perasaan seorang ayah yang "kesel" karena anaknya tidak makan siang gara-gara cap pameran di lengan tangannya luntur.
Sehabis maghrib baru emosiku mulai mereda. Banyak hal yang kusesali hari ini dan banyak hal yang kusyukuri hari ini.
Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang membuat skenario hari ini menjadi seperti ini. Kuhirup teh hangat bersama lilo di halaman parkir JCC dan kunikmati malam yang indah ini berduaan sama Lilo.
Semoga hari ini lebih baik dari hari kemarin.
Amin.
...
..
.
Selepas maghrib baru aku tahu kalau LiLo diberi makan kue dan diberi minuman di ruang panitia. Diperbolehkan juga nonton film yang dia suka. Makasih deh buat yang telah berbaik hati pada anakku.
Semoga Tuhan membalasnya.
Amin.
"Tapi kok sudah 3 jam gak muncul-muncul ke stand ya? Biasanya setiap beberapa menit atau maksimal satu jam, dia sudah muncul lagi di stand kita dan kemudian pergi lagi".
Aku mulai gelisah tapi masih kutahan-tahan juga untuk berbaik sangka sajalah. Begitulah sore itu berlalu dengan pertanyaan yang menggantung, "Dimanakah LiLo, tidakkah dia lapar belum makan siang?"
Menjelang maghrib barulah semuanya menjadi jelas. Rupanya telah diumumkan melalui pengeras suara pameran bahwa ada anak hilang, namanya LiLo, pakai baju batik dan celana jeans.
Sayangnya standku dekat dengan panggung utama, sehingga suara dari para pemimpi [mas Andrea dkk] ataupun suara Tere lebih terdengar dibanding suara dari panitia.
Untung ada mas-mas yang berbaju kuning mampir ke standku dan ngobrol dengan para penjaga stand tentang anak hilang yang jualan kalung biofir. Untungnya juga aku selalu sampaikan pada para penjaga stand bahwa aku sedang mencari Lilo dan kalau dia datang mohon untuk ditahan, karena belum makan siang, sehingga semua penjaga stand tahu kalau Lilo belum muncul sejak Dhuhur tadi.
Teman-teman penjaga stand langsung mengabarkan padaku tentang posisi Lilo saat ini.
"Iya nih, aku sudah ketemu dengan bapaknya anak itu. Antar saja ke stand no 90A, dekat panggung utama", begitu kata-kata yang kutangkap dari mas-mas berbaju kuning itu.
Dalam hati aku heran juga, "Kalau sudah sejak Dhuhur tadi hilang dan tahu kalau anakku bapaknya jualan kalung biofir kok nggak dikabarkan saja ke pemilik stand ya?"
Dengan sedikit emosi aku langsung bilang ke bapak berbaju kuning itu, "Di mana anak saya pak, langsung saya jemput"
"Gak usah pak, biar diantar kemari saja", kata mas-mas berbaju kuning itu.
"Kenapa ya gak boleh njemput", pikirku dalam hati. "Kalau memang mau diantar kok nggak dari tadi ya?"
Akhirnya aku jadi makin tidak sabar. Ternyata benar LiLo tidak hilang tapi diamankan satpam di ruang panitia.
"Anak bapak sudah diantar satpam pak. Sekarang menuju ke pos sekretariat pameran buku", kata mas-mas yang berbaju kuning.
Tanpa menunggu waktu, aku langsung meluncur ke pameran indocomtech. Aku tak peduli lagi dengan satpam yang menjaga pintu antara pameran buku dan pameran komputer. Aku langsung nyelonong dan mereka rupanya membiarkan aku lewat [kalau anak-anak baru gak boleh lewat 'kali].
Maksudku memotong jalan satpam yang nganter Lilo sebelum sampai ruang pameran, tapi rupanya satpam sudah lebih dulu bergerak, sehingga aku terlambat.
Kutemukan LiLo sudah berdiri kaku di ruang panitia pameran buku. Langsung kulihat lengan tangannya dan kulihat cap dari panitia memang sudah luntur, sehingga Lilo dianggap mau masuk ke pameran tanpa bayar.
Kuajak Lilo keluar dan kucap lagi lengannya. Sampai di luar aku ketemu dengan mbak-mbak yang langsung menghampiri Lilo.
"Sudah ketemu anaknya ya pak? Anaknya tadi menangis di depan pintu masuk, terus saya ajak masuk", begitu kata mbak-mbak itu.
Aku langsung menumpahkan emosi pada mbak-mbak itu.
"Bagaimana mungkin Lilo tidak boleh masuk gara-gara gak punya cap di lengannya. Cap itu kan langsung hilang ketika anakku wudhu"
"Ooo...iya ya...", kata mbak Itu seperti baru sadar.
Mbak itupun kemudian langsung ngeloyor pergi meninggalkanku.
Nyesal juga aku ngomong begitu sama mbak-mbak yang telah berbaik hati memasukkan lilo ke ruang panitia pameran.
Semoga mbak-mbak itu dan mas-mas yang baju kuning dapat memahami perasaan seorang ayah yang "kesel" karena anaknya tidak makan siang gara-gara cap pameran di lengan tangannya luntur.
Sehabis maghrib baru emosiku mulai mereda. Banyak hal yang kusesali hari ini dan banyak hal yang kusyukuri hari ini.
Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang membuat skenario hari ini menjadi seperti ini. Kuhirup teh hangat bersama lilo di halaman parkir JCC dan kunikmati malam yang indah ini berduaan sama Lilo.
Semoga hari ini lebih baik dari hari kemarin.
Amin.
...
..
.
Selepas maghrib baru aku tahu kalau LiLo diberi makan kue dan diberi minuman di ruang panitia. Diperbolehkan juga nonton film yang dia suka. Makasih deh buat yang telah berbaik hati pada anakku.
Semoga Tuhan membalasnya.
Amin.
Jumat, November 06, 2009
Anggota TDA ikut pameran di Indonesia Book Fair 2009
Ini hari ke dua ke acara IBF [Indonesia Book Fair] 2009. Rupanya terjadi penyumbatan lalu lintas di depan stand istriku. Aku jadi terhalang untuk masuk stand dan akhirnya menikmati kemacetan lalin di depan stand no 90A ini sampai akhirnya istriku melihatku dan memintaku untuk masuk saja ke dalam ruangan stand.
Penjaga stand yang ramah dan adanya pembagian buku gratis bagi mereka yang mengisi daftar hadir membuat stand istriku ini jadi meriah.
Buku gratis yang dibagikan berisi ilmu tentang bagaimana kita berbisnis dengan media audio atau radio. Dijelaskan secara singkat bedanya AM, FM, SW maupun radio satelit. Juga dijelaskan bedanya program TV dengan format Radio. Program TV sangat bervariasi tergantung jam tayangnya, sementara format sebuah radio biasanya membidik segmentasi yang lebih sempit.
Keikutsertaan istriku di komunitas TDA dengan menjadi anggota kelompok mastermind Cikarang 2 [KMMC2] cukup mewarnai kiprah berdirinya stand no 90A ini. Tahun-tahun lalu, istriku lebih mandiri dalam mengelola stand ini, sehingga ketika mendapat untung maka istriku sendiri yang merasakan keuntungannya itu. Di sisi lain, ketika mendapat kerugian, maka semua kerugian itupun ditanggung istriku sendiri.
Komunitas TDA telah mengajarkan anggotanya untuk saling berbagi, saling mendukung untuk menciptakan sinergi di antara anggotanya.
Pada pameran kali ini istriku bekerja sama dengan banyak orang, sehingga biaya stand bisa dipikul sama-sama dan menjadi terasa ringan di kantong. Demikian juga suasana jadi meriah karena yang dipamerkan tidak hanya kalung biofir saja tetapi bermacam ragam dagangan, mulai buku, kalung, madu sampai kursus menulis skenario film.
Bukuku "Pak Dhe ngeBloG" meskipun ditaruh di tempat yang tidak begitu strategis, tapi rupanya menarik para pengunjung stand untuk membelinya. Buku ini sebenarnya kuarahkan untuk pembaca remaja sampai dengan pria matang, tapi yang demen buku ini kayaknya mereka yang sudah di atas 30 tahun.
Mungkin di penerbitan lainnya nanti, aku akan membuat kuisioner yang terlampir bersama bukuku, sehingga aku tahu segmen pasar yang mana yang menyukai bukuku secara lebih pasti.
Buku ini juga terbit gara-gara aku ikut kelompok mastermind Cikarang 1 [KMMC1]. Setiap pertemuan yang diadakan oleh KMMC1, maka selalu saja kita diwajibkan untuk bercerita tentang mimpi-mimpi kita dan tugas teman-teman kelompok KMMC1 adalah membuat agar mimpi anggota KMMC1 terwujud.
Di KMMC1 tidak afdol kalau hanya satu orang yang sukses, tetapi dikatakan sukses kalau anggotanya sudah sukses semua.
Sebelum mengunjungi stand ini tadi, aku sempat beli Windows 7 seharga 1,47 juta /keping/1 lisensi dan aku juga beli satu CD Office 2007 home edition seharga 800 ribu untuk 3 lisensi.
Tidak seperti hari pertama yang terlihat masih berantakan, maka di hari kedua pameran ini suasana dan kondisi stand sudah enak dirasakan.
Banyak sekali acara-acara di panggung utama masing-masing pameran yang menarik untuk diikuti. Puncaknya tentu acara di hari Sabtu dan Minggu. Dijamin semua panggung akan dikerubuti oleh para pengunjung pameran. Baik pameran komputer [indocomtech] maupun pameran buku [Indonesia Book Fair] semuanya memunculkan acara yang sangat menarik.
Tentu hal ini diimbangi juga dengan kenaikan harga karcis untuk hari Sabtu dan Minggu. Bila di hari biasa harga karcisnya 5 ribu/orang, maka di hari Sabtu dan Minggu karcisnya 10 ribu/orang. Kalau aku sih gratis, karena mempunyai kartu tanda pengenal sebagai penjaga stand.
Ketika akan meninggalkan stand kulihat rombongan dari stasiun TV7 [atau Trans TV ya?] datang dan disambut oleh penjaga stand yan gtetap ramah, padahal mungkin belum mandi [hehehe....memang kalau mandi harus lapor?]
Akupun tidak jadi meninggalkan arena stand dan menguping apa yang mereka perbincangkan. Sayangnya pengunjung makin padet dan aku tidak bisa lagi mendengar suara mereka satu demi satu. Semua suara sudah saling bersahutan dan saling menimpa, sehingga aku malah gak bisa memilah lagi topik dari masing-masing kelompok yang ngobrol di depanku.
Semoga pameran ini bermanfaat buat siapa saja yang terlibat, baik teman-teman yang telah berbagi tempat maupun teman-teman yang telah membeli apa yang kita pamerkan.
Teirma kasih buat komunitas TDA Bekasi yang telah ikut mewarnai proses pengisian stand ini.
+++
Artikel terkait
Indonesia Book Fair 2009
Hari pertama IBF 2009
Piknik ke JCC tahun 2008
Penjaga stand yang ramah dan adanya pembagian buku gratis bagi mereka yang mengisi daftar hadir membuat stand istriku ini jadi meriah.
Buku gratis yang dibagikan berisi ilmu tentang bagaimana kita berbisnis dengan media audio atau radio. Dijelaskan secara singkat bedanya AM, FM, SW maupun radio satelit. Juga dijelaskan bedanya program TV dengan format Radio. Program TV sangat bervariasi tergantung jam tayangnya, sementara format sebuah radio biasanya membidik segmentasi yang lebih sempit.
Keikutsertaan istriku di komunitas TDA dengan menjadi anggota kelompok mastermind Cikarang 2 [KMMC2] cukup mewarnai kiprah berdirinya stand no 90A ini. Tahun-tahun lalu, istriku lebih mandiri dalam mengelola stand ini, sehingga ketika mendapat untung maka istriku sendiri yang merasakan keuntungannya itu. Di sisi lain, ketika mendapat kerugian, maka semua kerugian itupun ditanggung istriku sendiri.
Komunitas TDA telah mengajarkan anggotanya untuk saling berbagi, saling mendukung untuk menciptakan sinergi di antara anggotanya.
Pada pameran kali ini istriku bekerja sama dengan banyak orang, sehingga biaya stand bisa dipikul sama-sama dan menjadi terasa ringan di kantong. Demikian juga suasana jadi meriah karena yang dipamerkan tidak hanya kalung biofir saja tetapi bermacam ragam dagangan, mulai buku, kalung, madu sampai kursus menulis skenario film.
Mungkin di penerbitan lainnya nanti, aku akan membuat kuisioner yang terlampir bersama bukuku, sehingga aku tahu segmen pasar yang mana yang menyukai bukuku secara lebih pasti.
Buku ini juga terbit gara-gara aku ikut kelompok mastermind Cikarang 1 [KMMC1]. Setiap pertemuan yang diadakan oleh KMMC1, maka selalu saja kita diwajibkan untuk bercerita tentang mimpi-mimpi kita dan tugas teman-teman kelompok KMMC1 adalah membuat agar mimpi anggota KMMC1 terwujud.
Di KMMC1 tidak afdol kalau hanya satu orang yang sukses, tetapi dikatakan sukses kalau anggotanya sudah sukses semua.
Sebelum mengunjungi stand ini tadi, aku sempat beli Windows 7 seharga 1,47 juta /keping/1 lisensi dan aku juga beli satu CD Office 2007 home edition seharga 800 ribu untuk 3 lisensi.
Tidak seperti hari pertama yang terlihat masih berantakan, maka di hari kedua pameran ini suasana dan kondisi stand sudah enak dirasakan.
Banyak sekali acara-acara di panggung utama masing-masing pameran yang menarik untuk diikuti. Puncaknya tentu acara di hari Sabtu dan Minggu. Dijamin semua panggung akan dikerubuti oleh para pengunjung pameran. Baik pameran komputer [indocomtech] maupun pameran buku [Indonesia Book Fair] semuanya memunculkan acara yang sangat menarik.
Tentu hal ini diimbangi juga dengan kenaikan harga karcis untuk hari Sabtu dan Minggu. Bila di hari biasa harga karcisnya 5 ribu/orang, maka di hari Sabtu dan Minggu karcisnya 10 ribu/orang. Kalau aku sih gratis, karena mempunyai kartu tanda pengenal sebagai penjaga stand.
Ketika akan meninggalkan stand kulihat rombongan dari stasiun TV7 [atau Trans TV ya?] datang dan disambut oleh penjaga stand yan gtetap ramah, padahal mungkin belum mandi [hehehe....memang kalau mandi harus lapor?]
Akupun tidak jadi meninggalkan arena stand dan menguping apa yang mereka perbincangkan. Sayangnya pengunjung makin padet dan aku tidak bisa lagi mendengar suara mereka satu demi satu. Semua suara sudah saling bersahutan dan saling menimpa, sehingga aku malah gak bisa memilah lagi topik dari masing-masing kelompok yang ngobrol di depanku.
Semoga pameran ini bermanfaat buat siapa saja yang terlibat, baik teman-teman yang telah berbagi tempat maupun teman-teman yang telah membeli apa yang kita pamerkan.
Teirma kasih buat komunitas TDA Bekasi yang telah ikut mewarnai proses pengisian stand ini.
+++
Artikel terkait
Indonesia Book Fair 2009
Hari pertama IBF 2009
Piknik ke JCC tahun 2008
Rabu, November 04, 2009
Hari Pertama IBF ke 29 Th 2009
"Macet nih Semanggi, terus saja, nanti kita keluar sebelum Gedung MPR", kata temanku ketika melihat kemacetan menjelang Jembatan Semanggi.
Alhamdulillah, hari pertama ini tempat parkir masih menyisakan beberapa ruang kosong di dekat gedung JCC, jadi gak perlu jalan jauh dari tempat parkir ke lokasi pameran.
Penonton yang belum begitu banyak, membuat AC di tempat pameran buku bertajuk IBF 2009 ini masih terasa dingin. Sangat berbeda kondisinya dengan lokasi Indocomtech yang tembus dari pameran buku ini.
AC sudah nggak begitu terasa, kecuali di lorong=lorong yang menghubungan hall yang satu dengan hall yang lainnya.
Ketika kawan-kawan menuju pameran komputer Indocomtech, aku menuju ruang pameran buku di sisi kanan bangunan JCC.
Kulihat stand yang ada kurang lebih sama dengan tahun lalu. Hal ini terjadi karena memang data base panitia tersimpan rapi dan dipakai sebagai acuan untuk pelaksanaan acara setahun kemudian.
Katalog pameran buku yang dijual seharga 10 ribu membuat penonton tidak banyak yang membawa katalog, sehngga banyak yang tidak tahu acara apa saja yang akan berlangsung di panggung utama.
Meski begitu secara umum penonton yang datang kali ini mungkin adalah penonton yang datang tahun lalu, sehingga mereka sudah siap duduk-duduk di depan panggung, meskipun acaranya mngkin tidak mereka pahami dengan baik.
"Acara di panggung pasti menarik, jadi apapun acaranya, kita duduk saja di kursi yang jumlahnya terbatas ini", begitu mungkin jalan pikiran mereka.
Waktu yang begitu pendek [padahal setengah hari tuh] membuat aku tidak banyak mempunyai waktu untuk melihat secara detil stand yang ada di pameran ini.
Apalagi aku harus menemani istriku, yah sekedar memberi semangat agar semangatnya terus menyala-nyala. Kuperhatikan buku pak Dhe ngeBlog laku juga. Nggak tahu juga buku itu laku karena pengarangnya atau karena ada nilai sodakoh di buku itu.
Kelihatannya hari Sabtu dan Minggu baru aku bisa puas melihat semua stand yang ada. Apalagi di stand komputer, jubelan penonton dan antusias para SPG menawarkan dagangannya membuat aku kurang nyaman menikmatinya [aslinya karena gak bawa duit, jadi hanya memendam keinginan dalam hati akan barang-barang yang begitu menawan].
Melihat deretan camera SLR yang harganya dibawah 7 juta [termasuk kelengkapan lensa 18-55 mm] membuat rasanya ingin segera ganti camera [padahal baru saja ganti, hehehe...]
Begitulah manusia itu. Dikasih satu jurang emas, masih juga nyari jurang kedua. Dikasih lagi satu jurang emas, masih juga nyari jurang ketiga. Keinginan itu baru berhenti ketika mereka mendapat jurang seukuran 1 x 2 m alias liang lahat.
Kata Iwan Fals, "Keinginan adalah sumber penderitaan.."
Benarkah?
Jawaban jujur anda silahkan disampaikan.
Langganan:
Postingan (Atom)
