Tampilkan postingan dengan label syukur. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label syukur. Tampilkan semua postingan

Minggu, Februari 06, 2011

Impianku

Banyak sekali impianku, beberapa di antaranya tercapai denga mudah dan beberapa di antaranya tercapai setelah melalui perjuangan yang sangat sulit. Beberapa lainnya masih terlihat ditahan oleh Allah, tentu dengan maksud agar aku siap menerimanya sebelum impian itu diberikan padaku.

Kadang ketika impian itu tercapai, aku baru menyadari mengapa impian itu tercapai saat itu, bukannya saat lalu atau beberapa tahun lampau.

Senyum selalu kusunggingkan di bibirku. Aku tahu dan sangat menyadari kalau impian itu kuterima beberapa tahun lampau, aku pasti tidak kuat menerimanya.

Dari semua impianku, yang paling patut kusyukuri tentu saja, sampai detik ini dan sampai akhir hayatku, insya Allah, aku tetap berpegang teguh pada tali Allah swt. Banyak artikel yang menyatakan bahwa makin pandai seseorang makin jauh dari Tuhan, dan makin rendah IQ seseorang makin dekat dia dengan Tuhannya. Amerika adalah pengecualian tentang pendapat ini. Di Amerika, yang IQ-nya di atas rata-rata, justru keimanan pada Tuhan lebih tinggi dibanding negara lainnya.

Aku tidak tahu keabsyahan pendapat ini, karena aku tidak peduli tentang tionggi rendah IQ. Yang kuperlukan hanya bagaimana aku bisa meningkatkan iman dan taqwa padaNya, agar saat menghadap padaNya aku sudah punya bekal yang cukup.

Sudah banyak contoh terpaparkan di depanku, bahwa yang muda belum tentu yang terakhir menghadap padaNya. Mas Adjie adalah bukti paling dekat di saat ini. Muda ganteng dan (terlihat) sehat, tapi meninggal saat dirawat secara intensif sehabis olah raga malam.


Kusyukuri aku punya keluarga yang sangat sayang padaku dan yang sangat kusayangi. Aku pernah menulis status di FBku, " Yeni Istriku dan Anis kekasihku". Akibatnya banyak teman-temanku yang langsung menegurku.

Seperti biasa aku dengan santai menjawab, bahwa Yeni memang istriku tetapi Anak dan Istri (Anis) adalah kekasihku.

Kamis, Agustus 12, 2010

Selamat Datang Sakit

Pagi-pagi sepulang dari masjid, aku dicegat oleh kawanku yang kelihatan sedang meringis kesakitan sambil menelpon seseorang. Kutebak segera yang ditelepon adalah istrinya dan ternyata benar. Setelah selesai menelpon, pandangan temanku langsung beralih padaku dan suaranya lirih kudengar di telingaku.

"Tolong antar saya ke rumah sakit pak", begitu katanya.




Selamat datang sakit. Begitulah yang kuucapkan dalam hatiku. Perasaan ikhlas menerima sakit adalah awal yang baik untuk membuat rasa sakit menjadi rasa syukur.

"Alhamdulillah. Allah masih sayang padaku dan saat ini Dia sedang menegurku dengan nikmat sakit ini. Aku harus berhenti melangkah dulu dan memastikan langkahku sudah benar atau aku harus memperbaiki langkah-langkah kakiku yang mungkin ada salah disana-sini"

Itulah kalimat bijak bagi orang yang sedang sakit. Sebuah kalimat yang mudah dituliskan, tetapi saat kita sendiri yang sakit, mungkin kalimat itu tak pernah terlintas di pikiran kita. Di saat seperti itu, maka itulah gunanya seorang teman sejati.

Kejadian seperti temanku ini bisa menimpa siapa saja. Bisa juga menimpa diriku sendiri. Semua itu tidak ada yang tahu dengan pasti. Hanya Tuhan yang tahu tentang semua kejadian yang akan terjadi di muka bumi ini.



Aku jadi ingat nasehat ayah dari seorang temanku terhadap sekumpulan anak-anaknya. Kusebut sekumpulan karena anak-anaknya jumlahnya lebih dari delapan, jadi terlihat seperti sekumpulan orang muda (anak-anak) dengan satu bapak yang tentu lebih tua.

Sang Ayah ini bercerita tentang buah kelapa yang mana yang jatuh duluan.

Ternyata ada buah kelapa yang masih sangat muda sudah jatuh duluan. Ada juga yang masih muda tetapi karena dimakan hewan, maka dia jatuh duluan. Begitu juga hidup kita ini. Kita tidak pernah bisa menebak siapa duluan yang akan sakit dan siapa yang tetap sehat sampai meninggalnya.

Kalau sudah begini aku jadi ingat ibuku lagi. Kasih sayangnya yang begitu besar ternyata masih juga belum bisa kubalas dengan sebaik-baiknya. Selama ini yang telah kulakukan lebih banyak untuk diriku sendiri dan bukan untuk ibuku. Sedangkan kasih ibuku begitu tulus dan murni. Kasih ibu hanya ingin agar anaknya bisa menjadi lebih baik dari dirinya, lebih segalanya dibanding dirinya, meskipun untuk itu dia harus melakukan suatu hal yang sering tidak masuk akal kita.

Begitulah indahnya kasih sayang seorang ibu.



Setelah selesai mengawani temanku menemui dokter jaga di unit gawat darurat, dan akhirnya aku harus meninggalkan dia di salah satu ruangan kamar RS Mitra no 709, maka akupun menuliskan cerita ini di komputer.

Semoga kita tahu bahwa tuidak ada sesuatu yang abadi. Tidak ada seseorang yang selalu sehat sepanjang hidupnya, bahkan Nabi Besar Muhammad Rasullullah sempat mendapat nikmat sakit tua sebelum ajal menjemputnya.

Jagalah kesehatan dengan baik agar kita tidak terlalu sering sakit. Ingatlah Tuhan Maha Oke, dia pasti akan mengabulkan semua doa kita yang kita lakukan dengan penuh ikhlas padaNya.

Rabu, Februari 10, 2010

Ketika Aku Sakit

Badan terasa panas dan otak seperti mau pecah saja. Setiap menjawab imil, maka kepalapun jadi berdenyut-denyut. Sudah begitu selera makan sudah tidak ada lagi, padahal tadi pagi masih doyan makan dan cukup lahap menyantap sarapan.

Ini saatnya ke dokter kayaknya. Namun muncul suatu kesadaran agar jangan mudah tergantung pada dokter. Asal istirahat cukup kayaknya sakit ini akan hilang sendiri.

Yang membuat aku terharu adalah perhatian LiLo padaku. Dilayaninya aku dengan penuh kasih dengan wajah polosnya yang penuh senyum.

Meski tidak selera makan, tetapi akhirnya aku memakan juga kue yang disodorkan Lilo.

"Ini minumnya ya pak. Anget kok"

Lilo ini paling tidak suka minuman hangat, tetapi demi bapaknya dia mau juga menyediakan minuman hangat untukku.

Perhatian Lilo ini mungkin akhirnya yang membuat aku jadi lebih nyaman dan akhirnya semua yang disediakan Lilo kuhabiskan tanpa terasa.

Malam-malam, LiLo juga naik ke punggungku. Kaki-kaki kecilnya memijat punggungku membuat badan jadi tambah nyaman dan akhirnya akupun bisa terlelap dalam tidur yang indah.

Alhamdulillah. Terima kasih Tuhan telah mengirimkan LiLo padaku.

Pagi ini, meski badan masih lemas, tapi sudah tidak panas lagi.


Semoga hari ini lebih baik dari hari kemarin. Amin.

+++

updated :
komentar dari seorang temanku :
"Mungkin mas Eshape hanya kurang istirahat saja, jangan terlalu aktif mas, hehehe…..!
Semoga sembuh total deh…biar bisa beraktivitas seperti biasa."

Jumat, Desember 25, 2009

Terima kasih buat semua teman-temanku

Alhamdulillah, akhirnya acara prosesi pemakaman ibuku selesai tuntas dengan penuh khidmat dan penuh rasa yang tidak bisa diceritakan dengan tulisan yang seperti apapun. Biarlah semua kebahagiaan itu kusimpan dalam hati.




Ini memang pengalaman pertamaku menjadi imam sholat jenazah. Selama ini aku selalu hanya kebagian menjadi makmum saja atau bahkan tidak sempat melakukan sholat jenazah, seperti ketika adikku dan bapakku meninggal dunia beberapa tahun lampau.

Pak Sukidi, yang ditugaskan menjadi imam oleh pengurus RT sempat terdiam mendengar permintaanku untuk menjadi imam sholat jenazah di masjid Menur.

"Pak, saya yang akan menjadi imam sholat ini dan mohon bapak bersedia memimpin doa setelah selesai sholat Jenazah", demikian pintaku pada pak Sukidi, imam masjid An Nur.

Akhirnya pak Sukidi mengangguk ragu, karena mungkin dia tidak punya pilihan jawaban. Aku baru menyadari keraguan pak Sukidi setelah akhirnya pak Sukidi mendekatiku dan membisikkan sebuah pertanyaan padaku ketika acara pemebrangkatan jenazah akan dmulai, "ini nak Eko ya?"

Aku mengangguk sambil menatap hormat pada pak Sukidi dan beliaupun menepuk-nepuk pundakku, "bener-bener...memang harus begitu, sebaiknya anak tertua yang menjadi imam untuk sholat janazah ini"

Rupanya waktu telah membuat para pinisepuh di kampungku melupakan bentuk mukaku, sehingga banyak yang pangling dengan perwujudanku sekarang.

Mungkin karena aku dulu punya berat 47 dan sekarang beratku 74, jadi hampir semua pangling dengan aku, sementara aku tidak pangling dengan semua orang yang datang pada hari itu.




Saat pemberangkatan jenazah, aku seharusnya berjalan paling depan, tetapi begitu banyak saudara jauh yang datang dan teman-teman dekat yang jauh tempatnya yang menyempatkan datang membuat langkahku tertahan di sepanjang jalan.

Saat akhirnya aku sampai di pemakaman, semua sudah menungguku. Akupun masuk ke liang lahat dan menerima mbah Uti bersama adikku Totok dan seorang tukang gali kuburan.

Perasaanku jadi kemana-mana, aku jadi tidak konsentrasi. Aku ingat beberapa tahun lalu, almarhum bapakku yang dikenal sebagai petugas mayat jika ada prosesi pemakaman selalu duluan masuk ke liang lahat menerima jenazah yang akan dimakamkan.

Di makam ini, aku pernah mengawani bapak untuk menerima jenazah. Kami berdua turun ke liang lahat dan merapikan jenazah sebelum ditimbun dengan tanah.

Prosesi itupun berjalan dengan lambat, karena aku yang berada di sisi utara malah tidak bergerak sedikitpun untuk membantu membuka ikatan kain pocong dan menempelkan pipi mbah Uti ke tanah. Untung Totok cukup cekatan dan melakukan tugas yang seharusnya menjadi tugasku itu.




Alhamdulillah, akhirnya semua telah ditunjukkan jalannya olah Allah swt. Ini adalah sebuah peristiwa besar bagi keluarga kami, dan menjadi makin besar karena sejak dari sholat jenazah di Masjid An Nur, suasana sudah sangat khidmat, dihadiri oleh banyak pelayat dan dihadiri oleh saudara maupun teman dari berbagai pelosok.

"Kita semu apasti mati, jadi marilah peristiwa ini kita jadikan suatu pelajaran agar kita selalu siap menghadapi kematian, karena sesungguhnya yang peling dekat dengan kita adalah kematian itu sendiri, sementara yang paling jauh adalah masa lalu"

"Lupakan masa lalu dan siapkan bekal untuk menghadap padaNya, entah kapan, karena semua makhluk bernyawa pasti akan mati, tanpa kecuali"

Sore menjelang dan malampun akhirnya menjelang. Aku sempat jalan-jalan ke masjid Muhajirin, masjid yang tadinya kuharapkan dipakai sebagai tempat ibuku disholatkan. Tempatnya lebih luas dan banyak kenanganku disini, namun aku percaya bahwa Tuhan telah memilih An Nur sebagai tempat ibuku disholatkan karena pasti ada hikmah di sana.



+++

Saat prosesi ini, hapeku terus menerima pesan masuk, baik melalui BBM, imil maupun SMS. Sudah seratus lebih kubalas namun pesan itu terus berada di angka 500an, jadi akhirnya kutulis pesan buat mereka yang tidak sempat kubalas pesannya.

Semoga pesan dibawah ini sampai pada mereka.

+++

Keluarga kami sangat berterima kasih atas bantuan moral maupun materiil yang telah kami terima selama proses pemakaman ibunda kami tercinta.

Pada keluarga besar TDA (dimanapun anda berada), teman-teman Waskita, Cimart, Blogger Bekasi, Blogger Cikarang, Kompasiana, Politikana, Kampung (ndeso) UGM, Civeng, Stemka, dan semua komunitas maupun pribadi yang telah sangat membantu kami, sungguh hanya Allah yang bisa membalasnya.

Mohon maaf ratusan ucapan yang masuk ke alat komunikasi kami tidak bisa kami jawab semua.

Semoga semua niat baik kita mendapat balasan yang setimpal dari Allah swt.
Amin.

Hari-hari ini baru terbukti betapa dahsyatnya kekuatan jalinan pertemanan itu.

Saudara-saudara yg tadinya tak punya waktu bertemu, telah dipertemukan dalam prosesi pemakaman ini.

Ini lebih dahsyat dibanding pertemuan saat Lebaran. Semuanya berkumpul di rumah sempit kami yang hari itu menjadi terasa begitu luas karena dipenuhi saudara dan teman-teman kami.

Terima kasih Tuhan. Segala puji hanya padaMu. Alhamdulillah.

+++

Selasa, Oktober 27, 2009

Bapak [tidak] Jahat

"Kenapa pulang malam?", protes LiLo padaku.

"Jalan macet nak, jadi gak bisa cepat pulang", jawabku sambil mencoba tetap tersenyum, meskipun badan rasanya capek dihajar kemacetan di depan pertamina Cikarang.

"Kenapa tidak naik sepeda saja ke kantor, jadi tidak kena macet", Lilo terus mengejar.

"Wah bapak tidak kuat kalau harus naik sepeda dari Cikarang ke Cawang"

"Kawan-kawanku bapaknya naik sepeda ke kantor. Ikut B2W saja biar sehat !"

"Yah...mereka kantornya kan di sekitar Cikarang, jadi bisa cepat pulang biar naik sepeda. Kalau bapak naik sepeda ke Cawang, jam 12 malem baru nyampai di rumah nak..."

Lilo terdiam mendengar semua penjelasanku. Aku lihat dia masih belum mau terima penjelasanku, tapi dia sudah males ngomong, jadi kulihat dia diam dalam kemarahan yang tertahan.

Kupeluk erat Lilo dan kurasakan tidak ada pelukan balasan dari Lilo.

"Ya Allah, jangan jadikan Lilo sebagai anak yang tidak bsia menerima keadaan ini. Mudahkan hati Lilo menerim akenyataan ini. Aku bukan bapak yang jahat dan semoga Lilo mengetahuinya"

Perlahan-lahan kurasakan pelukan balasan dari Lilo. Aku tidak tahu apakah ini balasan doaku atau kesadaran Lilo memang sudah sampai pada taraf memahami perasaan bapaknya yang sangat mencintainya.

"Percayalah nak, bapak selalu ingin cepat pulang dan bermain dengan Lilo"

Alhamdulillah, akhirnya larut malam datang dan membawa angin syukur di keluargaku.

Jumat, Oktober 16, 2009

Mencari Hikmah Gempa Sumbar [2]

Seorang bapak bercerita tentang sebuah rumah Bimbel yang hancur, rata dengan tanah. Dengan pandangan menerawang dia mulai bercerita.

"Biasanya istri yang selalu mengantar anak saya ke sini pak, tetapi entah kenapa hari itu saya yang diminta oleh istri untuk jauh-jauh meluncur ke Padang"

"Seharusnya saya aman-aman saja di tempat kerja yang jauh dari Padang, tetapi hari itu istri saya meminta saya untuk ke Padang dan mengurusi anak yang ikut Bimbel di sini"

"Biasanya saya menolak permintaan seperti ini, karena jarak yang terlalu jauh dan soal anak-anak ke Bimbel adalah urusan ibu-ibu"

"Begitulah akhirnya urusan jemput menjemput anak itu menjadi urusan saya"

"Hanya Tuhan yang tahu, ketika ternyata guru untuk kelas anak saya tidak masuk, sehingga kelas tidak ada pelajaran dan anak saya keluar dari bangunan itu"

Selamatlah anak kawan saya dari musibah gempa itu. Meskipun untuk itu dia harus berjuang melewati kemacetan jalan, sehingga akhirnya harus meninggalkan mobilnya dan berjalan kaki selama 1 jam untuk menghindari kemungkinan Tsunami.

"Setelah dua puluh menit dari peristiwa Gempa, maka saya hanya punya waktu 10 menit lagi untuk menjauhi pantai. Lalu lintas sudah sangat padat dan saya tidak bisa lagi mengharapkan mobil yang saya tumpangi untuk keluar dari kemacetan ini"

"Alhamdulillah, bukan istri saya yang mejemput anak saya. Dia sedang hamil tua dan sangat mungkin keguguran kalau dia harus melakukan perjalanan seperti yang saya lakukan"

"Saya bersama anak saya terys mencari jalur tegak lurus pantai, keluar masuk gang dan dalam suasana yang begitu menakutkan. Saya hanya punya waktu 10 menit lagi, sehingga saya harus bergegas"

"Alhamdulillah, akhirnya saya sampai di rumah yang saya anggap aman dan ternyata saya sudah berjalan 1 jam"

Begitulah kuasa Allah mengatur umatNya.

Subhanallah.

+++

[bersambung]

cerita sebelumnya

Sabtu, Juli 25, 2009

Aku Terjebak

Sore itu Andra main ke rumah Bu Lik dan sempat nguping pembicaraan Bu Lik dengan Tomi. Meski bisik-bisik di kamar, tapi tekanan emosi yang tinggi telah membuat suara Bu Lik terdengar sampai ke luar kamar.

"Kamu harus balik lagi ke Bandung Tom. Udah terlanjur di sana, jadi gak bisa balik lagi ke sini"

"....."

"Pokonya, besok pagi kamu berangkat ke Bandung, nanti biar sama mas Andra. Dia juga mau ke Bandung besok", wah Bu Lik sudah memulai kalimatnya dengan kata pokoknya, pasti urusan yang gawat, begitu pikir Andra.

".....", Tomi tak terdengar lagi jawabannya

Pintu kamar Tomi terbuka dan Bu Lik terlihat keluar dari kamar. Senyumnya langsung mengembang begitu melihat Andra yang sudah memegang cangkir kosong.

"Eeeee.... mau buat minum sendiri ya?", sapa Bu Lik

"Iya donk Bu Lik, masak selalu dibuatin Bu Lik terus. Enak sih, tapi kapan dewasanya aku kalau semua dibuatin terus ama Bu Lik?"

Andra dan Bu Lik langsung tertawa bersama. Banyak kenangan di antara mereka, sehingga hanya keakraban yang selalu tercipta saat mereka bertemu.

Andra ingat benar ketika Bu Lik mengantarnya masuk ke TK. Dengan penuh kasih sayang Bu Lik menjaganya. Apalagi ternyata ada anak lain yang diantar oleh OmNya. Jadilah Bu Lik dan Si Om rajin mengantar ponakan masing-masing, sampai akhirnya mereka pacaran dan sekarang sudah mempunyai anak sebesar Tomi.

Esoknya, pagi-pagi ANdra sudah siap menemani Tomi meluncur ke Bandung. Perjalanan yang kurang "fresh", karena Tomi terlihat murung dan seperti menghindari percakapan dengan Andra.

"Tom, inget nggak sama Ayuko?", tiba-tiba ANdra ingat akan Ayuko yang mungkin bisa membuat Tomi keluar dari kemurungannya. Jadi dicobanya bicara dengan topik Ayuko.

"Inget mas. Gimana sekarang dia mas? Udah balik ke Jepang lagi ya?"

"Bulan lalu dia nulis di blogku. DIa titip salam tuh ma kamu. Hehehe...dia masih inget tuh waktu masuk sungai ama kamu. Hahaha...lucu banget deh"

Andra tambah semangat cerita tentang AYuko, karena Tomi terlihat mulai keluar dari "sarang"nya.

AKhirnya pembicaraan mulai mengalir lancar, sampai kemudian Andrapun mendapat curahan hati Tomi.

"Bener mas. Aku gak betah di Bandung, tapi Papa dan Mama maunya aku bertahan dulu setahun dua trahun. Mana aku tahan mas, setahun itu kan lama, apalagi sampai dua tahun. Huh...."

"Lho dulu yang pingin ke Bandung bukannya kamu Tom? Kamu pingin sekolah di ITB dan pingin pindah ke SMA di Bandung agar sudah merasakan aroma ITB sebelum masuk ITB. Gitu kan, kalau gak salah?"

"Iya sih. Tapi ternyata Bandung gak ramah banget. Nyebelin semua"

"Apanya sih yang nyebelin?", Andra jadi ikut penasaran juga. Bandung yang jadi magnet semua orang kok dianggap nyebelin oleh Tomi, pasti ada yang tidak beres disini.

"Banyak mas. Orangnya, bahasanya, suasananya, semuanya deh... Gak ada yang bikin seneng"

Andra jadi inget pak Dhe. APa ya yang biasa disampaikan pak Dhe kalau ada suasana seperti ini?

"Oke Tom, kita bahas satu demi satu yuk..."

"....."

"Orang Bandung setahuku baik-baik, minimal kulitnya kuning bersih", Andra mencoba melucu

"Iya, tapi cuek semua ama aku. Gak ada yang bisa bikin seneng, semua nyebelin. Kalau udah ngomong bahasa Sunda, aku udah kayak patung bernyawa deh... sebeeel banget"

"Kamu kan dulu lahir di Bandung, Bu Lik juga besar di Bandung, masak kamu gak bisa bahasa SUnda?"

"Papa sih kalau ngomong sama Mama selalu saja bahasa Indonesia, kadang bahasa Jawa, aku jadi tidak tahu semua bahasa kecuali bahasa Indonesia", sungut Tomi membuat Andra jadi tersenyum.

"Oke Tom, aku mau cerita aja deh. Ini cerita yang kudapat dari pak Dhe tentang pekerjaan kawannya"

"..."

"Suatu hari kawan pak Dhe ini, sebut saja namanya Ridwan, ditempatkan di bagian pengetesan, padahal dia sama sekali tidak suka pekerjaan itu. Dia sudah terlatih di bagian produksi, sehingga dia malas untuk pindah tugas ke bagian lain"

"Pekerjaannya jadi terbengkalai, dia jadi suka mbolos dan selalu melampiaskan kekesalannya pada siapapun, sampai akhirnya dia ketemu pak Dhe"

"Nah, saran pak Dhe pada Ridwan adalah meminta Ridwan untuk segera keluar dari pabrik. Tentu Ridwan menolak saran itu, karena dia masih perlu gaji untuk menghidupi anak-istrinya"

"...."

"Kata pak Dhe, kalau tidak mau keluar, sebaiknya Ridwan mulai belajar menyukai pekerjaan barunya. Lupakan hal-hal yang bisa membuat jengkel pada pekerjaan barunya dan selalu berupaya untuk menemukan hal-hal sekecil apapun yang membuatnya bisa mencintai pekerjaan barunya"

"......"

"Ridwan akhirnya sadar, bahwa kalau diteruskan, maka bukan tidak mungkin dia akan dipecat dari pekerjaannya, jadi mulai saat itu diapun rajin mencari hal-hal yang dapat membuatnya senang di pekerjaan barunya. Pekerja-pekerja di unit kerjanya yang tadinya jengkel dengan ulah Ridwan, mulai menerima Ridwan dan mulai saling akrab dan akhirnya terbentuklah tim yang solid di unit kerja Ridwan"

"......"

"Yang lebih menakjubkan lagi, Ridwan ini akhirnya keluar dari pabrik dan mendirikan usaha kecil yang kemudian menjadi mitra binaan dari pabrik tempatnya bekerja. Pengetahuannya di berbagai bidang tugas di pekerjaan lamanya telah membuatnya menjadi yakin bahwa diapun mampu mengkoordinasikan sebuah pabrik mini"

"Mas, itu cerita pak Ridwan yang rumahnya di dekat kue roti itu ya?'

"Bener Tom, kamu pernah denger juga cerita itu?"

"Aku pernah dengar selintas saja. Aku kenal orangnya, tapi dia mungkin tidak kenal aku. Anaknya kan sebangku sama aku"

"Lho bukannya anaknya pak Ridwan itu cewek?"

"Itulah yang bikin aku be te. Masak di sekolah itu aku satu-satunya yang duduk ama lawan jenis. Sebel banget deh..."

"Hahahaha.....", berderai tawa Andra mendengar perkataan Tomi.

Tak terasa, akhirnya sampai juga mereka di Bandung.

Andra hanya berdoa, semoga ceritanya mampu membangkitkan semangat Tomi, karena tidak ada gunanya menimbun energi negatip. Hanya energi positip yahng akan membuat Tomi terlepas dari jebakannya sendiri.

Bila merasa terjebak, maka cobalah untuk keluar dari jebakan, bila tidak bisa keluar, maka nikmatilah jebakan itu, jangan-jangan yang dianggap jebakan adalah salah satu jalan kesuksesan kita.

Semoga....!

+++

artikel lain :
Act Naturally
Dosaku ternyata banyak

Minggu, Mei 10, 2009

Rejeki ada dimana saja

Sepanjang perjalanan dari Jakarta, Pekanbaru, Surabaya, Semarang, Yogya dan kembali lagi ke Jakarta, banyak hal yang bisa kupotret.

Ada cerita orang yang dulunya hanya punya jabatan sebagai seorang OB [office boy] ternyata sekarang sudah menjelma menjadi seorang pengusaha yang mapan.

Ada juga yang dulunya terlihat kokoh, mentereng dan begitu hebat, sekarang menjadi lemah lunglai dan kekurangan daya.

Ada juga yang tetap begitu-begitu saja. Dari dulu sampai sekarang ada yang begitu setia berjualan tuak, legen disamping berjualan botol-botol bensin.

Semua manusia ini memang diberi kesempatan dan hanya yang mau mengambil kesempatan yang akan mendapatkan manfaat dari sebuah kesempatan.

Kesempatan sebenarnya datang berkali-kali, tidak hanya sekali saja, tetapi setiap kesempatan selalu punya nilai yang berbeda..

Ketepatan mengambil kesempatan itulah yang membedakan hasil dari pengambilan kesempatan itu.

Terlalu cepat mengambil kesempatan bisa jadi malah menghasilkan suatu keputusan yang terburu-buru, hasilnya juga akan tidak optimal.

Ada pengemudi taksi yang nongkrong seharian di stasiun tugu dan tidak mendapat penumpang satu orangpun, itulah salah satu warna warni kehidupan. Apakah dia akan terus bertahan sebagai sopir taksi atau dia akan mencari kesempatan lain, akan sangat tergantung dengan naluri bisnisnya.

Yang paling menarik dalam perjalanan ini adalah rombongan seniman yang sudah kehilangan lahan panggungnya.

Bayangkan saja, sekali main mereka harus membayar biaya sewa genset, BBM, lampu [pln], dll, sedangkan pendapatan dari karcis sangat minim.

Ambil rata-rata ada 15 orang yang menonton pertunjukkan dan masing-masing membayar karcis 5 ribu rupiah, maka terkumpulah 75 ribu rupiah per hari, dipotong biaya pelaksanaan pentas, sisanya dibagi 10 orang, maka berapa upah yang didapat oleh masing-masing orang?

Bisa jadi minus yang mereka dapat.

Itulah yang membuat mereka banting setir dan mulai ngamen di pinggir jalan di simpang empat atau di lampu merah.

Seniman lampu merah ini, bisa jadi akan mendapat uang lebih, tetapi risiko melanggar legislasi penggunaan jalan raya bisa jadi akan membuat mereka bertambah menderita.

Disinilah diperlukan analisa SWOT sederhana. Kita pahami apa saja kekuatan kita, kelemahan kita, peluang yang ada dan ancaman yang akan menimpa bisnis kita.

Setelah semua dibahas, maka keputusan akan lebih mudah diambil.

Setelah itu, jangan lupa untuk menyerahkan hasilnya pada Dia yang ada di atas. Dia yang Maha Tahu dan Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Semoga sukses melihat kesempatan yang ada.
AMin.


menunggu lampu merah agar bisa joget-joget







saatnya menarik karcis pertunjukkan



istirahat dulu menunggu lampu menjadi merah kembali




....

Minggu, April 26, 2009

Lukisan Alam Pagi

Pagi-pagi sepedaan sama anakku nomor dua, Haslita Nisa atau yang suka dipanggil LitHa, arah tujuan pertama adalah beli kue pukis kesayangan.

Banyak orang jualan pukis di Cikarang, tapi paling enak tetap yang ada di pasar Roxy depan ALfa Mart. Selama ini adonannya selalu mampu membuat kami ketagihan, kecuali saat dia berhalangan berjualan dan digantikan adiknya, rasanya sedikit berubah [atau sugesti aja ya?]

Sambil merasakan segarnya udara Jababeka, kami ngobrol ngalor ngidul dan akhirnya berhenti di dekat lapangan golf, karena melihat matahari pagi yang indah dan kabut di atas sawah yang membuat suasana serasa di kintamani.

Inilah lukisan alam pagi yang indah, "sungguh agung Pelukisnya", demikian kata Koes Plus.

Karena gak bawa tustel, maka kukeluarkan hape untuk mengabadikan lukisan alam pagi itu.

Lithapun tak mau ketinggalan, langsung mengeluarkan hapenya. Kamipun saling berlomba mengambil lukisan alam pagi yang begitu indah.

Begitu indahnya suasana pagi itu, sehingga hasil foto yang indah ini masih belumisa menggambarkan keindahan yang asli di pagi itu.

Belum lagi kabut dan hawa segar yang menerpa wajah kita, semu aitu pasti tidak tergambarkan di foto yang kita ambil ini.

".....
Kicau burung bernyanyi
menyambut pagi nan cerah

senyum merebak
dan hatipun bernyanyi

indahnya alam pagi ini
membawa damai di hati

terima kasih Tuhan
......"

 
matahari di antara dua tower


 
lomba foto 

 
jadi deh foto matahari LiTha 

 
tidah seindah warna aslinya [memang]
...

Rabu, November 12, 2008

Kesedihan Pak Dhe [1]

Pak Dhe begitu sedih mendengar berita pemecatan dirinya, sampai-sampai dia nggak bisa berkata-kata lagi. Krisis keuangan yang berkepanjangan telah membuat pabrik terpaksa mengurangi pekerjanya dan seorang satpam terpaksa dicoret dari daftar pekerja.

Pak Dhe dipilih karena telah cukup lama bekerja di pabrik dan manajemen memandang yang muda yang lebih diperlukan untuk menjaga pabrik. Lebih awas, lebih cekatan dan lebih murah gajinya.

Pihak manajemen tidak pernah berfikir kalau pak Dhe baru saja ditimpa berita yang membuat pak Dhe gemetaran. Istrinya baru saja dipecat juga dari pabrik yang lain dan anaknya baru saja mengajukan angka rupiah yang harus dipenuhinya pada minggu ini.

Semua itu masih ditambah pemilik kontrakan yang juga datang untuk menagih uang sewa yang telah beberapa bulan tidak dibayarnya.

Semakin lengkap penderitaan itu, ketika sepeda motor satu-satunya ditabrak angkot dan anaknya masuk rumah sakit. Sebegitu tegakah Tuhan telah memberikan cobaan yang begitu berat dan beruntun padanya.

Pak Dhe yang biasanya selalu bersemangat di situasi apapun pulang ke rumah dengan loyo. Hilang sudah keceriaan di wajahnya. Nasehat-nasehat yang biasa diberikan pada sahabat-sahabatnya yang tertimpa kesedihan tidak dapat diucapkannya untuk dirinya sendiri.

Dulu dia paling sering membacakan ayat-ayat Tuhan di depan sahabat-sahabatnya yang sedang menerima cobaan Allah.

"Dan Sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, ke¬kurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar." (QS 2: 155)

Diapun berdoa, agar diamini oleh sahabatnya.

"Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang yang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya… "(QS 2: 286)

Sekarang ketika cobaan itu datang menimpanya. Ternyata pak Dhe hanya sendirian menerimanya. Tidak ada sahabat yang membacakan ayat itu padanya.

Sebelum sampai ke rumah, pak Dhe mampir ke masjid. Tugasnya sebagai anggota Badan Kemakmuran Masjid membawa langkahnya masuk ke masjid.

Seperti kebiasaan yang selalu dijalaninya, maka langkah kakinyapun langsung menuju tempat wudhu dan air wudhuun membasahi wajah pak Dhe.

Tiba-tiba pak Dhe seperti tersadar. Ada suatu rasa di lubuk hatinya yang tiba-tiba menyeruak dari hatinya yang paling dalam. Rasa yang dari tadi ingin keluar tapi tertutup oleh kesedihan yang tidak terkira.

Perlahan, senyum pak Dhe muncul kembali. Dipandanginya masjid kesayangannya itu. Inilah rumah Allah, dimana pak Dhe mengabdikan dirinya secara utuh sebagai penjaganya.

Semangat hidup pak Dhe kembali muncul. Iapun jadi ingat semua kisah-kisah yang ada dalam Al Quran. Senyum pak Dhe makin mengembang ketika bertemu dengan salah satu jamaah di masjid itu.

Ditepuknya pundak jamaah itu dan selepas sholat untuk "menghormati masjid", mereka berdua asyik bercengkerama sambil menanti waktu sholat wajib tiba.

Wajah pak Dhe makin merekah ketika menjelang sholat tiba, dilihatnya anak istrinya mendatangi masjid untuk ikut sholat jamaah. Mereka datang dengan penuh senyum, seolah tak ada kesedihan di keluarga pak Dhe.

Anak istri pak Dhe memang telah terbiasa dengan kesulitan hidup dan nasehat-nasehat pak Dhe yang tak pernah putus membuat mereka selalu tegar menghadapi hidup ini.

"Pak, motornya sudah diperbaiki sama Miun, katanya gak usah bayar gak apa-apa. Mereka maklum kok", kata istrinya.

Pak Dhe tersenyum sambil manggut-manggut.
"Alhamdulillah"

"Santi juga sudah keluar dari rumah sakit. Dokternya si Jupri, anaknya bang Tohir, jadi gak usah bayar juga. Nanti akan pulang dari rumah sakit bareng sama dia"

"Alhamdulillah. Rupanya Jupri jadi pindah ke rumah sakit itu ya"

"Iya bang. Malah tadi Wak Ute juga datang. Dia mau ngembalikan hutang yang sudah terlalu lama dia pinjam, katanya."

"Wak Ute?"

"Iya bang, memang sudah lama banget. Sekarang dia udah jadi orang kaya beneran dan dia sudah lamaaa banget nyari-nyari kita, tapi gak pernah ketemu. Dia seneng dapat menemukan kita untuk membayar hutangnya, terutama membayar hutang budi sama kita. Berkat pinjaman dari bapak dulu yang membuat Wak Ute jadi kaya"

Mata pak Dhe mulai berkaca-kaca. Belum habis doanya, dan Tuhan sudah mengirimkan malaikatnya untuk memberikan kedamaian pada keluarganya.

"Kang Asep juga datang bareng Wak Ute. Ternyata rumah yang kita tinggali itu rumah Wak Ute bang, jadi kata Wak Ute, pakai saja terus rumah itu. Soal sewa nggak usah dipikirin lagi"

"Alhamdulillah", tanpa terasa pak Dhe bersujud. Bersyukur atas segala nikmat yang datang tanpa disangka-sangka dan dari arah yang tidak dia duga sama sekali.

Gunung kesedihan yang mulai dilepas saat air wudhu membasahi wajahnya telah hilang sirna. Tidak ada bekasnya sedikitpun.

Meski masih ada gunung-gunung kecil dan bukit-bukit terjal yang membentang di hadapannya, pak Dhe sudah tidak sedih lagi. Keyakinan akan kasih Allah membuat pak Dhe naik kelas. Ujian yang dihadapinya, kali ini, telah dilaluinya dengan baik.

Ke depan masih ada ujian yang lebih berat, tapi pak Dhe sekeluarga yakin, bersama Allah, semua ujian ataupun cobaan akan dapat dilalui dengan baik.

Benarlah semua isi Al Quran, tidak ada keragu-raguan di dalamnya. Semua mengajarkan bagaimana menghadapi hidup ini dengan senyum, sabar dan ikhlas.

"Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal.
Al Qur'an itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman"
[12:111]

Ali menutup buku bacaannya. Kisah pak Dhe di buku yang dibacanya telah memberi dia ilham atas kesedihan yang menimpanya. Rusaknya PS di rumah sangat tidak sebanding dengan kesedihan yang menimpa pak Dhe.

"Sungguh beruntung aku telah membaca kisah pak Dhe di buku ini. Alhamdulillah".

Jumat, Oktober 24, 2008

Tahu2 Selesai...

Setelah melewati malam yang penuh dengan acara mati lampu, ternyata paginya masih diberi kesempatan untuk mati lampu lagi.

Kerjaan masih numpuk dan lampju gak bisa diajak kompromi. Yowis, ikhlas saja. Tarik bibir ke kanan dan ke kiri masing2 2 cm dan tahan selama 7 detik, maka kumulailah hari yang penuh cobaan ini.

Pas pusing mikir ROA, ROE, ROI eh ... banyak kawan yang membantu memecahkan masalah ini. Aslinya sih sudah tahu, tapi gak PeDhe aja, jadi perlu teman untuk memperkuat keyakinan yang ada.

Abis itu, ketika pusing mikir SAP [Setan Aja Puzink], eh ada kawan yang pada ngirim tulisan tentang SAP.

Mas Nukman, rupanya hari itu punya 3 tugas dan satu demi satu diselesaikannya. Ternyata akupun mengikuti jejak mas Nukman, tahu-tahu ketiga-tiganya sudah selesai dikerjakan.

Hasilnya?

Ya masih draft, tapi sudah lumayan untuk dijadikan bahan diskusi. Sekarang ini, sudah bener-bener "clear".

Hari Jumat, Jam 0.31 PAS.

“Dan ingatlah tatkala Rabbmu mengumandangkan : “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku) maka sesungguhnya adzab-Ku sangat pedih” [Ibrahim : 7]

Alhamdulillah, segala puji hanya bagi Allah swt.
Semoga aku dimasukkan sebagai hambaNya yang pandai beresyukur.
Amin.

Selasa, Oktober 14, 2008

Kuncinya : IKHLAS

Selasa sore ada undangan main FUTSAL. In adalah undangan pertama pasca lebaran, setelah libur FUTSAL selama bulan puasa. Sayangnya sepatuku dipinjamkan istriku dan sekarang sepatu itu ada di Yogya [wah jauh banget ngambilnya]. Ya sudah kita lupakan saja. Kucoba untuk mengikhlaskan kejadian ini.

Pulang kantor, ternyata pikiran masih dibebani dengan masalah sepatu FUTSAL. Ada keinginan untuk beli sepatu baru atau tidak ikut FUTSAL saja [sayang dong], sampai akhirnya aku sampai di rumah dan kulihat ada paket dari Yogya.

"Jangan-jangan ini sepatuku ya? Ah... pasti ini sepatuku", begitu keyakinanku. Akupun meminta anak-anakku untuk membuka paket itu. Isinya ternyata tas istriku yang ketinggalan di Yogya ketika mudik kemarin, dan .... he..he..he...., benar!. Ada sepasang sepatu FUTSAL[ku] di dalamnya.

Enak banget ya, begitu punya keinginan langsung dikabulkan.

Minggu lalu ketika istriku mau pergi ke Beijing dan meminjam cameraku, aku dengan ikhlas memberikannya, karena memang hanya itu camera kita dan istriku lebih perlu untuk memakainya, meskipun aku juga merasa perlu untuk mengabadikan pesta pernikahan anaknya tante Reni di MEdan.

Ternyata pulang dari Medan aku juga "nemu" camera Canon IXUS 860 IS yang sudah lama kudiam-idamkan. Harganya memang lebih murah dari Nikon yang dipakai istriku dan bodinya juga lebih tebal, tapi bukankah ini suatu kenikmatan yang begitu indah?

Saat ingin punya camera lagi, tahu-tahu camera yang diinginkan sudah ada di tangan. Bukankah itu sama saja dengan terkabulnya sebuah doa yang sudah lama ada dalam alam bawah sadarku. Alhamdulillah.

Benar kata pak ustadz, saat kita mengharapkan terbukanya pintu rejeki kita, maka sebenarnya pintu-pintu rejeki lain telah terbuka lebar. Hanya saja kita sering tidak menyadarinya, dan tetap nunggu di suatu pintu rejeki yang masih tutup dan tidak buka-buka [kadang sambil ngedumel, kok nggak buka-buka sih pintunya....]

Kita lupa bahwa yang baik bagi kita, belum tentu baik [menurut] Allah swt, sedangkan yang buruk bagi kita, bisa jadi baik [menurut] Allah swt. Doa kita tidak dikabulkan bukan karena Allah tidak cinta kita, kadang-kadang karena cinta ALlah, maka doa kita tidak dikabulkanNya.

Allah swt hanya mengabulkan doa yang baik untuk hambaNya yang baik.

Pelajaran hari ini :
  1. Syukuri semua nikmat Allah swt, karena itulah yang terbaik untuk kita.
  2. Kenikmatan adalah cobaan dari Allah dalam bentuk yang lain selain kesengsaraan, dan kalau kita tidak pandai mensyukurinya, maka gagallah kita menghadapi cobaan itu [bisa-bisa muncul ujub kita sebagai orang yang disayang Allah, orang yang selalu dikabulkan doanya, dst...]
  3. Berbaik sangkalah pada Allah swt, semoga persangkaan yang baik itu membuat hidup kita menjadi lebih baik [insya Allah. amin]
  4. Banyak orang sukses ketika dicoba dengan kesengasaraan dan kesulitan, tapi berapa banyak orang yang berhasil melewati ujian yang berujud kenikmatan?. Semoga kita termasuk di dalamnya. Amin.

Salam

Selasa, Oktober 07, 2008

MaMiN [after] LeBaRaN

Ada yang hilang setelah lebaran tiba. Biasanya adalah pembantu yang belum pulang, penjual yang belum lengkap, toko-toko yang sebagian masih tutup.

Sayangnya yang hilang sekarang ini agak bikin susah, yaitu Aqua Galon.

Udah muter-muter ke seluruh pelosok, semu aAlfa Mart maupun Indomaret sudah ditanyain, tetep juga yang namanya Aqua Galon nggak ada yang njual.

"Sedang libur lebaran pak Aquanya", kata mereka.

"Weleh.. pegawainya boleh libur, lha masak aku juga libur minum air?"

Hari ke 7, pasca Lebaran, kayaknya harus nyuci mobil sendiri dan beli Aqua dari Jakarta [wuihhh kasihan banget penduduk Cikarang ini].

He..he..he... baru satu nikmat dihilangkan oleh Tuhan saja udah kelimpungan, apalagi kalau ditambah mati lampu [lagi], sumur kering, PAM mati [juga], halah .... sudah kayak apa susahnya.

Malam bagaikan tinggal di gua, baunya kayak manusia purba [yang nggak pernah mandi]. Wiss wiss wisss semoga Allah mengampuni semua kesalahanku [lha kok enak tenan], semoga Allah selalu membimbingku [nah ini doa yang agak sopan dibanding minta ampun tapi tetep aja berbuat dosa].

Semoga aku dijadikan Imam yang baik untujk keluargaku.
Amin. Amin. Amin.

Minggu, Oktober 05, 2008

DomPeT LiLo

Selama "sungkeman" di Yogya, maka LiLo selalu berseri-seri wajahnya. Bagaimana tidak, "lha wong" dia tiba-tiba jadi banyak duit.

Saat duitnya berjumlah 135.000, maka dia bilang padaku,"Pak, sebaiknya kita beli dompet ya.."

"Iya deh, dompetmu ketinggalan di Jakarta ya?"

"Beli dompet yang bagus saja pak"

"Ya oke, pakai uangmu kan?", kataku

"Boleh. Beli dimana pak?", tanya LiLo

"Sebaiknya beli yang bagus sekalian. Kalau gak salah harganya 150 ribu. Jadi nanti kamu pinjem duit dulu 15 ribu dari Ibu, biar bisa beli dompet itu. Oke?"

Mendengar tawaranku, Lita, kakak LiLo, langsung ketawa,
"Lah rak habis duitnya. Gak ada lagi isi dompetnya dunk..!"

LiLo juga jadi ketawa. Terus duitnya dititipin ke dompetku.

Ketika LiLo ditagih utangnya [soalnya tadi beli buku di Gramedia dan LiLo gak bawa uang], maka jawaban LiLo sungguh memelas,"Jangan mbak, aku kan belum pernah pegang uang sebesar ini...!"

Kamipun ketawa bersama. Duh senengnya LiLo hari ini, habis dapet ikan banyak [saat mancing] sekarang pegang duit "limpul" [lima puluh ribuan]..

LiLopun bersyukur atas kemurahan Allah swt.
Alhamdulillah.

Jumat, September 19, 2008

PuAsA ngInterNeT


Setelah menjalani beberapa hari ibadah di bulan puasa, akhirnya diberi cobaan yang cukup menantang. Bagi orang lain sih ini bukan cobaan, bahkan mungkin suatu hal yang tidak perlu dianggap cobaan apalagi ujian.

Tidak menyentuh ineternet selama 3 hari, hayo  ...!:-)

Bisa enggak?

He..he..he... ada pemantapan Examiner Malcolm Baldridge di CiMaCan dan aku mengikutinya dengann HaPe yang hampir mati dan charger yang ketinggalan di kantor.

Pilihannya :
1. Tetep nginetrnet dengan risiko mati HaPe [karena batere drop], sehingga tidak bisa kontak anak istri, atau
2. Puasa internet, puasa nelpon, dan hanya nelpon istri diwaktu subuh [buat memastikan pada bangun sahur]

Pilihan pertama sangat menarik, soalnya baru ada tantangan dari pagerank. Blogku yang di blogspot pageranknya cuma 3/10, sedangkan di wordpress pageranknya 4/10, padahal lebih banyak pengunjung di blogspot dibanding di wordpress.

Risikonya, gak bisa telpon anak istri. Nah....!?!

Akhirnya kubulatkan tekad untuk memilih anak istri dibanding internet.

Akan tetapi, cobaanya ternyata tidak hanya itu. Aku juga punya tekad untuk sebanyak-banyaknya sholat jamaah tarwikh, minimal lebih banyak dibanding tahun lalu [padahal tahun lalu sudah lupa berapa kali terpaksa jamaah tarwikh di rumah]

Targetku, bulan ini maksimal 3 kali aku jamaah tarwikh di rumah, dan sudah 1 kali aku jamaah tarwikh di rumah [kalau gak salah karena anak-anak sendirian di rumah tanpa ortu, jadi habis buka bersama langsung meluncur pulang]

Lha kalau 3 hari di CiMaCaN tanpa tarwikh berjamaah berarti targetku nggak kecapai donk. Kulihat di Villa Renata ini [tempat pelatihan/pemantaban] gak ada mesjid, sehingga penghuni villa ini gak tahu pada tarwikh dimana.

Alhamdulillah, mungkin karena aku sudah mendahulukan keluarga dibanding internet, maka Tuhan memberi rakhmat dengan adanya penyelenggaraan acara tarwikh bersama, lengkap dengan ruangan yang luas dan imam yang favorit [ini istilah dari teman-teman, karena kecepatan imam dalam memimpin sholat]

Segala puji hanya bagi Allah swt.
Semoga nikmatnya tidak putus-putus sampai kapanpun.
Amin.

Selasa, September 16, 2008

DELTA FM

Seperti biasa, pagi-pagi menuju Jakarta selalu ditemani tig ateman setia, mas Farhan di Delta FM, Kemal di GEN FM dan mbak EL SHinta.

Pagi ini lagu-lagunya Delta fM pas banget dengan suasana hatiku. Ada soundtrack Flash Dance, mengingatkan aku pada Alex, Jeniffer BEals, yang mirip banget sama mantan pacarku dulu. Kami bertemu dan berpisah, insya ALlah, karena Tuhan memang menentukan begitu.

Aku senang dia sekarang sudah hidup bahagia, dengan laki-laki yang mirip denganku [blogger juga], tapi insya Allah lebih baik dari aku [kekurangan dia hanya bukan pemain teater saja].

Akupun sudah hidup bahagia dengan keluargaku yang sekarang. Jadi benarlah, bahwa cinta tidak harus memiliki, tetapi yang kita miliki yangharus kita cintai.

Saat kau mengharap pintu harapanmu terbuka dan dia masih tertutup terus, maka sebenarnya kau sudah punya pintu yang terbuka dan masih banyak lagi pintu yang terbuka untukmu.

Jadi syukurilah nikmat yang telah kau terima dan jangan berharap pada keinginan lain yang belum tentu cocok denganmu, karena nikmat yang kau terimapun sudah susah kau hitung banyaknya dan besarnya.

Begitu banyak nikmat yang kau terima dan nikmat apa lagi yang akan kau dustakan?

Mas Farhan, juga cerita tentang pembagian zakat di Pasuruan yang berakibat meninggalnya beberapa penerima zakat. Mereka meninggal hanya karena uang 20 ribu.

Ini pelajaran bahwa niat yang baik saja tidak cukup. Niat itu harus diikuti dengan perencanaan yang baik dan pelaksanaan yang baik.

Gak terasa tahu-tahu sudah sampai kantor.

Pelajaran hari ini :
1. Mantan pacar adalah masa lalu, keluarga adalah masa kini
2. Kenangan sepahit apapun akan menjadi manis ketika sudah berlalu
3. Niat yang baik belum cukup, harus diikuti cara yang baik
4. Diatas segalanya adalah selalu pandai mensyukuri nikmat Allah.

Terima kasih Delta [http://ww2.deltafm.net/], the bright side of Indonesia

Sabtu, September 13, 2008

KantorKu


Minggu ke dua bulan Puasa, LiLo tidak ikut acara buka bersama di kantorku. Kata istriku, LiLo sebenarnya sudah mandi, tapi ketika mau berangkat dia tertidur.

Sudah dibangunkan, ditanya dan LiLo menjawab mau ikut, tetapi ketika ditinggal meleng sebentar, LiLo tertidur lagi. Padahal aku tahu, sebenarnya LiLo sangat ingin ikut ke kantorku.

Beberapa hal yang disukai LiLo di kantorku adalah, antara lain :
  1. Bisa berlarian kemana-mana dalam ruangan yang suejuk.
  2. Naik turun lift untuk melihat masing-masing lantai, tanpa takut dimarahi orang [nggak bisa dilakukan di kantor orang lain 'kali]
  3. Kalau masuk ruanganku harus pakai password [mengetikkan kombinasi angka di depan pintu ruangan] atau dengan menunjukkan kartu pengenal di depan camera yang ada di sisi luar pintu ruangan.
  4. Ruanganku selalu bersih dan penuh dengan orang-orang yang ramah.
Memang begitulah kantorku, sangat nyaman untuk LiLo dan juga sangat nyaman untukku. Cuma kalau aku nggak pernah berlari-larian di kantorku dan nggak pernah juga naik turun lift untuk sekedar melihat-lihat ruangan lain.

Memang diantara teman-teman kantor, aku yang termasuk suka naik turun lantai untuk melakukan koordinasi dengan masing-masing unit bisnis yang ada di kantor.

Maklum kerjaanku banyak melibatkan unit bisnis, karena produk merekalah yang kukaji dan kudistribusikan ke seluruh unit bisnis/kerja.

Aku sering dianggep pinter karena telah memberikan ilmu-ilmu yang berguna buat unit usaha/kerja, padahal ilmu yang kuberikan adalah ilmu dari mereka juga.

Alhamdulillah segala puji bagi Tuhan yang telah memberikan nikmat begitu banyak padaku.

Lalu nikmat apalagi yang kamu dustakan?

Semoga nikmat Tuhan selalu dapat kusyukuri. Amin.

Kamis, Agustus 14, 2008

Kehangatan Istri


Apa sih enaknya naik angkot 59? Bukankah lebih enak naik mobil sendiri? Berangkat bisa sesukanya, tidak perlu ngetem dan perjalanan lebih tertentu waktunya.

Naik angkot itu, yang pertama ditinjau dari aspek K3, sangat tidak manusiawi. Sudah duduknyua empet-empetan, gak ada ruang gerak sedikitpun, masih ditambah "aroma" yang berwarna warni (terutama aroma ketika pulang kerja), belum lagi kalau ada insiden. Dalam kondisi normal saja, mau keluar susahnya bukan main. Apalagi kalau kondisi berebutan, gak kebayang deh...

Yang kedua, kalau pas dapet sopir yang "letoy" bin "gokil", wah rasanya gak nyampe-nyampe ke cawang deh. Udah gitu badan ini seperti masuk mixer, dikocok-kocok sampai mual-mual.

Kalau dapet sopir yang baik sih, enak. Dia pandai memilih jalur yang tidak padat. Minimal memilih lajur yang paling tidak padat dibanding lajur yang padat.

Saat masuk tol, normalnya ambil lajur kanan. Kalau kurang ajar baru ambil lajur kiri di bahu jalan (ini cepat tapi bikin deg-degan). Kalau sempat dihentikan patroli, maka kecepatan yang diinginkan tetapi kelambatan yang didapat.

Masuk Bekasi barat, paling aman ambil lajur paling kiri (bukan bahu jalan). Jadi aman dari polisi dan begitu antri di pembayaran tol, sudah ada di jalur yang paling lancar.

Untuk menghilangkan aroma tubuh orang lain yang biasanya sangat "wangi" sehabis bekerja, maka jalan satu-satunya ya mencoba tidur nyenyak sepanjang perjalanan. Bila memungkinkan setel musik pakai headphone, atau pakai ilmu yoga (tarik nafas, tahan 4 hitungan, keluarkan lagi, dst).

Lalu dimana kelebihan angkot 59 dibanding naik mobil sendiri. Jawabnya, bisa banyak. Soalnya larinya bisa sangat subyektif.

Bagiku, dengan naik angkot 59, maka aku bisa pulang bareng istriku (kalau istriku pas ke kota). Minimal bisa antar jemput, dari rumah ke terminal 59.

Saat diantar ke terminal 59 atau dijemput di seputaran plaza JB, maka itu adalah saat aku bisa merasakan kehangatan cinta seorang istri pada suaminya. Suatu hal yang kadang langka.

Tadi malem, aku dijemput ama istri dan LiLo di depan arena pentas lumba-lumba. Dibelikan kerak telor lagi. Wah nikmat benar punya istri yang begitu setia. Ini mungkin yang disebut baiti janati, rumahku sorgaku.

Semoga keluargaku menjadi keluarga yang sakinah, mawadah wa rohmah.
Amin.

Rabu, Agustus 13, 2008

Kehangatan AIRBUS A59

Bulan September biasanya dikenal sebagai bulan yang paling kering, orang jawa bilang "sat-sating sumber", saat sumber air sedang di puncak kekeringan. Namun di bulan Agustus ini, malah turun hujan yang sangat merata di Jakarta. ALhasil aku harus pakai mantol untuk meluncur menuju terminal angkot 59.

Tadinya sih aku nggak mau makai mantol, toh cum ahujan rintik-rintik, tapi istriku memaksa untu memakai, minimal celananya saja. Demi menghormati keinginan istri yang begitu kuat, aku akhirnya memakai celana plastik dan memakai topi pet. Tidak lupa jaket, soalnya lumayan dingin juga.

Sampai di terminal angkot 59, penumpang sudah penuh, tinggal menyisakan dua tempat duduk. Melihatku, para penumpang pada megernyitkan kening."Wah dapet orang yang pantatnya gedhe nih, udah penuh jadi tambah penuh"

Untungnya cewek di belakangku, terlihat slim and beauty, jadi dia duluan masuk untuk mengisi tempat duduk paling kanan yang sudah terlihat penuh sesak dengan 8 orang penumpang. Aku sendiri kebagian tempat duduk paling tengah. Asal masuk saja, yang penting tidak jatuh dan angkot 59 pun berjalan.

Untung aku tadi nurut sama istri, kulihat celana plastikku kotor disana sini kena lumpur. Coba aku nggak pakai, pasti celana kerjaku yang kena. Untung juga aku pakai jaket, ternyata di jalan hujan jadi makin deras dan jaketku jadi basah, memang nggak sampai basah kuyup, tapi lumayan basah.

Untung lagi suasana di 59 sangat hangat, alias berjubel, jadi jaket basah ini di perjalanan udah kering sendiri.

Begitu masuk, aku langsung ngeluarin uang 6 rebu dan kutarik semua ongkos penumpang. Setelah lengkap, maka saatnya untuk menyerahkan uang ke sopir dan kitapun dapat tertidur dengan pules.

Jam 06.00 berangkat dan jam 08.00 sampai di Cawang. Pulesnyapun jadi kelamaan. Dua kali lipat hari-hari biasa. Kayak hari Senin saja hari ini. Macet dimana-mana. Hari Senin kemarin, malah aku lancar saja ke kantor, gak sampai 1 jam udah nyampe.

Jam 08.00 biasanya kantor udah rame, tapi hari ini masih sepi, alamat memang semua jalan menuju Jakarta pada macet semua nih.

Terima kasih pada angkot 59 yang penuh kehangatan dan rejeki hujan merata yang menyadarkan kita bahwa pemanasan global perlu lebih diperhatikan lagi. Go Green !

Sabtu, Agustus 02, 2008

Indahnya Berbagi (nasi)


Futsal sudah jadi mode di kantor. Pada demam main futsal, sampai-sampai diumumin di lift. Wah, pasti rame banget di hari latihan rabu depan.

Abis subuhan di masjid ama LiLo, aku nyoba latihan main bola di halaman belakang rumah. Itung-itung pemanasan, setelah sepuluh tahun nggak main bola lagi. Eh, ternyata belum 3 menit udah ngos-ngosan, padahal udah ngajak Lita untuk nemenin.

Alhasil ketika Lita sudah siap, akunya yang nggak siap. Udah capek.

Namun ketika Luluk ikut-ikutan main bola, aku jadi tertarik dan kembali ke halaman belakang untuk main bola bertiga.

Jadi meriah donk hari libur ini. Apalagi ketika LiLo ikut nggabung. Wah, biar nggak bisa nendang bola, tapi semangat "jatuhnya" luar biasa. Puncaknya ketika LiLo dijadiin sasaran tembak.

Langsung aja dia pasang muka ngamuk. Acara balas dendampun berlangsung, dan aku lumayan kena tendangan bola kerasnya.

Acara main bola selesai ketika Lita kesakitan gara-gara LiLo ngelempar bola pas kena di kepalanya.

Selesai main bola kita makan-makan. Walah, ternyata lupa tadi baru" nyupir" (nyuci piring) dan mbersihin tempat masak nasi dan belum sempat ngisi beras di tempat itu.

Terpaksa beli nasi uduk dan dimakan  rame-rame. He..he..he.. dimana ada masalah, pasti ada jalan keluar. Yang ini enak banget deh jalan keluarnya.

Asyiiiiiiiiiik ......... makan satu piring berempat.

Kuncinya, ikhlas dan selalu tersenyum menghadapi segala masalah. Seberat apapun masalah itu, pasti ada jalan keluar, dan kondisi yang kita terima saat ini pasti adalah yang terbaik yang diberikan oleh Tuhan saat ini.

Insya Allah, aku selalu dapat menjadi hambaNya yang pandai bersyukur.
Amin.