Saat berlibur berdua dengan istri di Pulau Belitung (Belitong), ternyata Haslita Nisa, anak nomor duaku, sedang kesakitan dan bingung mau kemana. Maklum biasanya kalau sakit selalu diantar ayah bundanya ke dokter dan tinggal nunggu panggilan dokter saja.
Kali ini ayah bundanya jauh di seberang lautan dan seluruh Indonesia sedang merayakan hari Raya Nyepi, sehingga hampir semua rumah sakit hany amenyediakan dokter umum dengan jam jaga yang terbatas.
"Mbak Lita telepon dulu ke Rumah Sakit dan janjian jam berapa mau ke sana. Kalau tidak pasti tidak ada dokter yang khusus merawat mbak Lita. Bisa di dekat Rumah, ada Ludira Husada atau di JIH Condong catur yang pelayanannya bagus"
Begitu kudengar arahan istriku untuk menenangkan mbak Lita, tapi aku bisa membayangkan perasaan mbak Lita saat itu. Di saat dia harus konsentrasi ujian di sekolah, ternyata ada Allah swt yang memberi nikmat sakit.
Mungkin Allah ingin menunjukkan bahwa badan manusia itu terbatas kemampuannya. Selama ini memang mbak Lita adalah anak teraktif di rumahku. Hampir selalu pulang malam dengan seabrek kegiatannya dan itu tidak hanya di hari biasa, hari liburpun tetap bukan tanggal merah bagi mbak Lita.
Dalam seminggu kadang hanya bisa berjumpa di saat sholat Subuh berjamaah saja. Selain waktu itu, lebih sering hanya melihat bayangannya saja.
Alhamdulillah, meski harus pontang panting, akhirnya mbak Lita ditangani dokter dengan baik dan benar, sehingga sudah bisa tersenyum lagi.
Aku sebenarnya sempat panik juga melihat kondisi ini, tapi aku akhirnya berbaik sangka pada Allah swt. Pasti sudah menjadi waktu terbaik untuk memberi hadiah mbak Lita sakit saat orang tuanya tidak ada di rumah. Bila nanti menjumpai kondisi yang mirip, maka anak-anak sudah siap menjalaninya. Allah swt pasti Maha Tahu dan Maha Adil.
Aku akhirnya bisa tersenyum ketika kawan sekolah mbak Lita, aktris teater SMAN 7, ikut memberi tahu kalau mbak Lita sedang sakit.
Tadi malam, ternyata latihan ikhlasku belum lulus. Mendadak mas Lilo gantian sakit dan harus menginap di RS JIH Jogja. Tadinya Lilo mau diperiksakan Sabtu pagi ini, tetapi aku berkeras untuk membawa Lilo ke RS JIH malam kemarin.
Alhamdulillah, Lilo langsung diinfus dan hari ini sudah bisa tidur nyenyak.
Sehabis subuh rupanya cerita belum berakhir. Mbak Lita demamnya kambuh dan sangat ingin bertemu ibunya yang ada di RS JIH menemani Lilo. Akhirnya ibunya yang harus pontang panting lagi.
Mbak Lita sedang menjalani ujian di sekolah dan rasanya kalau kondisinya seperti ini dia jadi tidak pedhe untuk ikut ulangan/ujian. Alhasil, terpaksa ke dokter lagi untuk minta surat ijin tidak masuk sekolah. Artinya ada ulangan yang nanti harus diikuti mbak Lita di luar jadwal regular.
Hari ini memang hari yang penuh nuansa. Semoga semuanya berakhir baik. Mbak Lita dan Lilo segera sembuh, bisa bermain lagi dan bisa ikut ulangan dengan tenang. Ketika Lilo Lita sakit, maka dunia rasanya berhenti berputar sejenak !:-)
Semoga Allah swt mengabulkan doa ini. Amin.
Tampilkan postingan dengan label sakit. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sakit. Tampilkan semua postingan
Sabtu, Maret 16, 2013
Rabu, Desember 15, 2010
BANDEL
Sejak seminggu ini aku mengalami kondisi yang tidak mengenakkan. Kepalaku bagian belakang berdenyut-denyut dan rasanya sangat sakit, tapi selalu saja kubiarkan dan tidak segera pergi ke dokter. Apalagi masukan dari teman-teman sangat menggoda.
"Jangan manja dengan tubuhmu, Dia bisa mereparasi sendiri!"
Jadilah aku keliling ke berbagai pelosok kota Yogyakarta, bersenda gurau dengan para korban erupsi Merapi dan denyutan di kepala belakang ini tiba-tib atidak terasa lagi. Denyutan itu baru terasa kembali begitu tanganku kulambaikan kepada para korban erupsi Merapi itu.
Banyak hal yang kudapat dari kunjungan ke para korban erupsi merapi itu. Yang pertama tentu dapat salak lengkap dengan debu vulkaniknya dan ternyata tetap manis rasanya.
Yang kedua adalah rasa haru yang tak terbendung lagi melihat wajah-wajah cerah mereka ketika tanganku menyalami tangan mereka. Senyum adik-adik, senyum nenek-nenenk yang begitu tulus membuatku rasanya ingin melelehkan air mata di depan mereka.
"Lho pak Agus kok sudah sampai disini. Anakku baru saja ngasih tahu kalau pak Agus mau kesini dan cucuku sudah kusuruh menunggu di simpang empat agar pak Agus tidak tersesat jalan"
"Lho memangnya cucunya nenek kenal sama pak Agus?"
Tertawa berderai mengiringi kejadian lucu ini. Bagaimana bisa mengetahui mobil mana yang dinaiki pak Agus, pemanduku di Jogya, kalau cucu nenek itu tidak kenal dengan mobil pak Agus?
Setelah capek berkeliling, seharusnya aku pulang saja dan istirahat, tetapi ternyata nafsu kebandelan masih tertanam erat di otak, sehingga aku malah melihat sepasang alat gali yang sedang bekerja menggali lahar dingin yang ada di kali Gendol.
Begitu melihat cara kerja alat gali itu, aku langsung pingin ketemu dengan penanggung jawab alat itu. Dari sisi teknis memang tidak ada masalah dengan metode kerja yang dilakukan, tapi dari sisi K3 (safety), maka ada beberapa hal yang hatrus kudiskusikan. Akibatnya aku jadi tidak segera istirahat, tapi malah mencari teman diskusi.
Dalam kondisi yang masih labil ini, aku malah dapat tugas untuk mengawal Mario Teguh sebagai eMCe. Tentu aku keberatan, karena aku memang kurang respek terhadap Mario Teguh, tapi aku tidak punya alasan untuk keberatan, jadi kuterima saja pekerjaan itu.
Alhamdulillah, ternyata openampilan Mario Teguh sangat berbeda saat pertunjukan langsung dibanding yang di layar kaca. Akupun jadi naik adrenalin karena hal ini. Termotivasi oleh segala tingkah polah Mario Teguh akupun kembali lupa bahwa aku sedang sakit.
Akibatnya begitu acara Mario Teguh selesai, sakit itu sudah tak tertahankan lagi. Dengan terpaksa akupun menghadap dokter dan dengan tegas dokter menyuruhku untuk berbaring di ranjang dan selang oksigen langsung masuk ke mulutku. Tekanan darahku terukur berada pada angka 180/110.
Selesai minum obat kepalaku terasa sudah baikan, tetapi begitu selesai menulis artikel ini aku kembali merasakan kepalaku berdenyut lagi di bagian belakang. Dengan sisa-sisa kebandelan yang ada kuselesaikan tulsian ini dengan menambah beberapa gambar dulu.
Salam Sehati.
"Jangan manja dengan tubuhmu, Dia bisa mereparasi sendiri!"
Jadilah aku keliling ke berbagai pelosok kota Yogyakarta, bersenda gurau dengan para korban erupsi Merapi dan denyutan di kepala belakang ini tiba-tib atidak terasa lagi. Denyutan itu baru terasa kembali begitu tanganku kulambaikan kepada para korban erupsi Merapi itu.
Banyak hal yang kudapat dari kunjungan ke para korban erupsi merapi itu. Yang pertama tentu dapat salak lengkap dengan debu vulkaniknya dan ternyata tetap manis rasanya.
Yang kedua adalah rasa haru yang tak terbendung lagi melihat wajah-wajah cerah mereka ketika tanganku menyalami tangan mereka. Senyum adik-adik, senyum nenek-nenenk yang begitu tulus membuatku rasanya ingin melelehkan air mata di depan mereka.
"Lho pak Agus kok sudah sampai disini. Anakku baru saja ngasih tahu kalau pak Agus mau kesini dan cucuku sudah kusuruh menunggu di simpang empat agar pak Agus tidak tersesat jalan"
"Lho memangnya cucunya nenek kenal sama pak Agus?"
Tertawa berderai mengiringi kejadian lucu ini. Bagaimana bisa mengetahui mobil mana yang dinaiki pak Agus, pemanduku di Jogya, kalau cucu nenek itu tidak kenal dengan mobil pak Agus?
Setelah capek berkeliling, seharusnya aku pulang saja dan istirahat, tetapi ternyata nafsu kebandelan masih tertanam erat di otak, sehingga aku malah melihat sepasang alat gali yang sedang bekerja menggali lahar dingin yang ada di kali Gendol.
Begitu melihat cara kerja alat gali itu, aku langsung pingin ketemu dengan penanggung jawab alat itu. Dari sisi teknis memang tidak ada masalah dengan metode kerja yang dilakukan, tapi dari sisi K3 (safety), maka ada beberapa hal yang hatrus kudiskusikan. Akibatnya aku jadi tidak segera istirahat, tapi malah mencari teman diskusi.
Dalam kondisi yang masih labil ini, aku malah dapat tugas untuk mengawal Mario Teguh sebagai eMCe. Tentu aku keberatan, karena aku memang kurang respek terhadap Mario Teguh, tapi aku tidak punya alasan untuk keberatan, jadi kuterima saja pekerjaan itu.
Alhamdulillah, ternyata openampilan Mario Teguh sangat berbeda saat pertunjukan langsung dibanding yang di layar kaca. Akupun jadi naik adrenalin karena hal ini. Termotivasi oleh segala tingkah polah Mario Teguh akupun kembali lupa bahwa aku sedang sakit.
Akibatnya begitu acara Mario Teguh selesai, sakit itu sudah tak tertahankan lagi. Dengan terpaksa akupun menghadap dokter dan dengan tegas dokter menyuruhku untuk berbaring di ranjang dan selang oksigen langsung masuk ke mulutku. Tekanan darahku terukur berada pada angka 180/110.
Selesai minum obat kepalaku terasa sudah baikan, tetapi begitu selesai menulis artikel ini aku kembali merasakan kepalaku berdenyut lagi di bagian belakang. Dengan sisa-sisa kebandelan yang ada kuselesaikan tulsian ini dengan menambah beberapa gambar dulu.
Salam Sehati.
Kamis, Agustus 12, 2010
Selamat Datang Sakit
Pagi-pagi sepulang dari masjid, aku dicegat oleh kawanku yang kelihatan sedang meringis kesakitan sambil menelpon seseorang. Kutebak segera yang ditelepon adalah istrinya dan ternyata benar. Setelah selesai menelpon, pandangan temanku langsung beralih padaku dan suaranya lirih kudengar di telingaku.
"Tolong antar saya ke rumah sakit pak", begitu katanya.
Selamat datang sakit. Begitulah yang kuucapkan dalam hatiku. Perasaan ikhlas menerima sakit adalah awal yang baik untuk membuat rasa sakit menjadi rasa syukur.
"Alhamdulillah. Allah masih sayang padaku dan saat ini Dia sedang menegurku dengan nikmat sakit ini. Aku harus berhenti melangkah dulu dan memastikan langkahku sudah benar atau aku harus memperbaiki langkah-langkah kakiku yang mungkin ada salah disana-sini"
Itulah kalimat bijak bagi orang yang sedang sakit. Sebuah kalimat yang mudah dituliskan, tetapi saat kita sendiri yang sakit, mungkin kalimat itu tak pernah terlintas di pikiran kita. Di saat seperti itu, maka itulah gunanya seorang teman sejati.
Kejadian seperti temanku ini bisa menimpa siapa saja. Bisa juga menimpa diriku sendiri. Semua itu tidak ada yang tahu dengan pasti. Hanya Tuhan yang tahu tentang semua kejadian yang akan terjadi di muka bumi ini.
Aku jadi ingat nasehat ayah dari seorang temanku terhadap sekumpulan anak-anaknya. Kusebut sekumpulan karena anak-anaknya jumlahnya lebih dari delapan, jadi terlihat seperti sekumpulan orang muda (anak-anak) dengan satu bapak yang tentu lebih tua.
Sang Ayah ini bercerita tentang buah kelapa yang mana yang jatuh duluan.
Ternyata ada buah kelapa yang masih sangat muda sudah jatuh duluan. Ada juga yang masih muda tetapi karena dimakan hewan, maka dia jatuh duluan. Begitu juga hidup kita ini. Kita tidak pernah bisa menebak siapa duluan yang akan sakit dan siapa yang tetap sehat sampai meninggalnya.
Kalau sudah begini aku jadi ingat ibuku lagi. Kasih sayangnya yang begitu besar ternyata masih juga belum bisa kubalas dengan sebaik-baiknya. Selama ini yang telah kulakukan lebih banyak untuk diriku sendiri dan bukan untuk ibuku. Sedangkan kasih ibuku begitu tulus dan murni. Kasih ibu hanya ingin agar anaknya bisa menjadi lebih baik dari dirinya, lebih segalanya dibanding dirinya, meskipun untuk itu dia harus melakukan suatu hal yang sering tidak masuk akal kita.
Begitulah indahnya kasih sayang seorang ibu.
Setelah selesai mengawani temanku menemui dokter jaga di unit gawat darurat, dan akhirnya aku harus meninggalkan dia di salah satu ruangan kamar RS Mitra no 709, maka akupun menuliskan cerita ini di komputer.
Semoga kita tahu bahwa tuidak ada sesuatu yang abadi. Tidak ada seseorang yang selalu sehat sepanjang hidupnya, bahkan Nabi Besar Muhammad Rasullullah sempat mendapat nikmat sakit tua sebelum ajal menjemputnya.
Jagalah kesehatan dengan baik agar kita tidak terlalu sering sakit. Ingatlah Tuhan Maha Oke, dia pasti akan mengabulkan semua doa kita yang kita lakukan dengan penuh ikhlas padaNya.
"Tolong antar saya ke rumah sakit pak", begitu katanya.
Selamat datang sakit. Begitulah yang kuucapkan dalam hatiku. Perasaan ikhlas menerima sakit adalah awal yang baik untuk membuat rasa sakit menjadi rasa syukur.
"Alhamdulillah. Allah masih sayang padaku dan saat ini Dia sedang menegurku dengan nikmat sakit ini. Aku harus berhenti melangkah dulu dan memastikan langkahku sudah benar atau aku harus memperbaiki langkah-langkah kakiku yang mungkin ada salah disana-sini"
Itulah kalimat bijak bagi orang yang sedang sakit. Sebuah kalimat yang mudah dituliskan, tetapi saat kita sendiri yang sakit, mungkin kalimat itu tak pernah terlintas di pikiran kita. Di saat seperti itu, maka itulah gunanya seorang teman sejati.
Kejadian seperti temanku ini bisa menimpa siapa saja. Bisa juga menimpa diriku sendiri. Semua itu tidak ada yang tahu dengan pasti. Hanya Tuhan yang tahu tentang semua kejadian yang akan terjadi di muka bumi ini.
Aku jadi ingat nasehat ayah dari seorang temanku terhadap sekumpulan anak-anaknya. Kusebut sekumpulan karena anak-anaknya jumlahnya lebih dari delapan, jadi terlihat seperti sekumpulan orang muda (anak-anak) dengan satu bapak yang tentu lebih tua.
Sang Ayah ini bercerita tentang buah kelapa yang mana yang jatuh duluan.
Ternyata ada buah kelapa yang masih sangat muda sudah jatuh duluan. Ada juga yang masih muda tetapi karena dimakan hewan, maka dia jatuh duluan. Begitu juga hidup kita ini. Kita tidak pernah bisa menebak siapa duluan yang akan sakit dan siapa yang tetap sehat sampai meninggalnya.
Kalau sudah begini aku jadi ingat ibuku lagi. Kasih sayangnya yang begitu besar ternyata masih juga belum bisa kubalas dengan sebaik-baiknya. Selama ini yang telah kulakukan lebih banyak untuk diriku sendiri dan bukan untuk ibuku. Sedangkan kasih ibuku begitu tulus dan murni. Kasih ibu hanya ingin agar anaknya bisa menjadi lebih baik dari dirinya, lebih segalanya dibanding dirinya, meskipun untuk itu dia harus melakukan suatu hal yang sering tidak masuk akal kita.
Begitulah indahnya kasih sayang seorang ibu.
Setelah selesai mengawani temanku menemui dokter jaga di unit gawat darurat, dan akhirnya aku harus meninggalkan dia di salah satu ruangan kamar RS Mitra no 709, maka akupun menuliskan cerita ini di komputer.
Semoga kita tahu bahwa tuidak ada sesuatu yang abadi. Tidak ada seseorang yang selalu sehat sepanjang hidupnya, bahkan Nabi Besar Muhammad Rasullullah sempat mendapat nikmat sakit tua sebelum ajal menjemputnya.
Jagalah kesehatan dengan baik agar kita tidak terlalu sering sakit. Ingatlah Tuhan Maha Oke, dia pasti akan mengabulkan semua doa kita yang kita lakukan dengan penuh ikhlas padaNya.
Rabu, Februari 10, 2010
Ketika Aku Sakit
Badan terasa panas dan otak seperti mau pecah saja. Setiap menjawab imil, maka kepalapun jadi berdenyut-denyut. Sudah begitu selera makan sudah tidak ada lagi, padahal tadi pagi masih doyan makan dan cukup lahap menyantap sarapan.
Ini saatnya ke dokter kayaknya. Namun muncul suatu kesadaran agar jangan mudah tergantung pada dokter. Asal istirahat cukup kayaknya sakit ini akan hilang sendiri.
Yang membuat aku terharu adalah perhatian LiLo padaku. Dilayaninya aku dengan penuh kasih dengan wajah polosnya yang penuh senyum.
Meski tidak selera makan, tetapi akhirnya aku memakan juga kue yang disodorkan Lilo.
"Ini minumnya ya pak. Anget kok"
Lilo ini paling tidak suka minuman hangat, tetapi demi bapaknya dia mau juga menyediakan minuman hangat untukku.
Perhatian Lilo ini mungkin akhirnya yang membuat aku jadi lebih nyaman dan akhirnya semua yang disediakan Lilo kuhabiskan tanpa terasa.
Malam-malam, LiLo juga naik ke punggungku. Kaki-kaki kecilnya memijat punggungku membuat badan jadi tambah nyaman dan akhirnya akupun bisa terlelap dalam tidur yang indah.
Alhamdulillah. Terima kasih Tuhan telah mengirimkan LiLo padaku.
Pagi ini, meski badan masih lemas, tapi sudah tidak panas lagi.
Semoga hari ini lebih baik dari hari kemarin. Amin.
updated :
komentar dari seorang temanku :
"Mungkin mas Eshape hanya kurang istirahat saja, jangan terlalu aktif mas, hehehe…..!
Semoga sembuh total deh…biar bisa beraktivitas seperti biasa."
Ini saatnya ke dokter kayaknya. Namun muncul suatu kesadaran agar jangan mudah tergantung pada dokter. Asal istirahat cukup kayaknya sakit ini akan hilang sendiri.
Yang membuat aku terharu adalah perhatian LiLo padaku. Dilayaninya aku dengan penuh kasih dengan wajah polosnya yang penuh senyum.
Meski tidak selera makan, tetapi akhirnya aku memakan juga kue yang disodorkan Lilo.
"Ini minumnya ya pak. Anget kok"
Lilo ini paling tidak suka minuman hangat, tetapi demi bapaknya dia mau juga menyediakan minuman hangat untukku.
Perhatian Lilo ini mungkin akhirnya yang membuat aku jadi lebih nyaman dan akhirnya semua yang disediakan Lilo kuhabiskan tanpa terasa.
Malam-malam, LiLo juga naik ke punggungku. Kaki-kaki kecilnya memijat punggungku membuat badan jadi tambah nyaman dan akhirnya akupun bisa terlelap dalam tidur yang indah.
Alhamdulillah. Terima kasih Tuhan telah mengirimkan LiLo padaku.
Pagi ini, meski badan masih lemas, tapi sudah tidak panas lagi.
Semoga hari ini lebih baik dari hari kemarin. Amin.
+++
updated :
komentar dari seorang temanku :
"Mungkin mas Eshape hanya kurang istirahat saja, jangan terlalu aktif mas, hehehe…..!
Semoga sembuh total deh…biar bisa beraktivitas seperti biasa."
Jumat, Januari 08, 2010
Sakit ini memang NIKMAT !
Akhirnya badanku tumbang juga di hari Rabu ini. Semua terjadi setelah selesai rapat Serikat Pekerja, pas jam 14.00 wib. Akupun menyerah pada kekuatan tubuhku. Tidak ada selera makan dan kerjaan numpuk membuat kondisi tubuh terus memburuk.
Di rumah baru kurasakan nikmatnya sakit ini. Aku jadi tidak leluasa lagi bergerak kesana-kemari. Ah indahnya saat masih bisa bergerak kesana-kemari.
Tergolek di kamar sendirian, akupun jadi ingat nikmatnya main bola di halaman belakang. Subhanallah, begitu banyak nikmat yang telah kuterima dan baru kurasakan nikmat itu ketika badan ini menderita sakit.
Istriku dengan setia menyiapkan minuman dan makanan kesukaanku dan semua hanya kucicipi saja karena mulutku masih belum mau menerima makanan dan minuman itu. Dengan sabar istriku menyiapkan makanan dan minuman yang lain, sehingga akhirnya ada juga sedikit minuman dan makanan yang memasuki tubuhku.
Melawan rasa mual ini memang perlu perjuangan tersendiri, tapi kalau tidak kulawan, maka tubuhku akan kekurangan tenaga untuk mengalahkan penyakit yang ada di tubuhku, jadi dengan berbagai macam cara akhirnya sukses juga memasukkan makanan minuman ke tubuhku.
Ada beberapa sendok bubur bayi dan segelas jus alpukat yang bisa memasuki tubuhku dan kurasa itu sudah cukup untuk menjadi bantuan amunisi melawan penyakit yang ada di tubuhku. Perlahan tubuhku yang panas mulai kembali normal dan akhirnya meski masih mual, tapi aku sudah bisa menulis di blog lagi.
Akupun jadi ingat lima perkara sebelum datangnya lima perkara, ingat sehat sebelum sakit, kaya sebelum miskin, muda sebelum tua, lapang sebelum sempit, dan hidup sebelum mati.
Mumpung masih sehat, kaya, muda, lapang dan hidup, mari semua itu kita gunakan untuk mencari bekal sebelum saatnya tiba, menghadap padaNya.
Kalau sekarang kita sudah tidak muda, tidak kaya, tidak lapang dan tidak sehat, maka apalagi yang akan kita cari di dunia ini.
Semoga aku ikhlas menerima sakit ini. Insya Allah, masalah ikhlas memang masalah yang masih sangat perlu diperjuangkan. Masih banyak ilmu ikhlas yang belum kumiliki.
Yuk belajar ikhlas yuk...!
+++
Inilah saat muda, sehat, kaya dan lapang.
Di rumah baru kurasakan nikmatnya sakit ini. Aku jadi tidak leluasa lagi bergerak kesana-kemari. Ah indahnya saat masih bisa bergerak kesana-kemari.
Tergolek di kamar sendirian, akupun jadi ingat nikmatnya main bola di halaman belakang. Subhanallah, begitu banyak nikmat yang telah kuterima dan baru kurasakan nikmat itu ketika badan ini menderita sakit.
Istriku dengan setia menyiapkan minuman dan makanan kesukaanku dan semua hanya kucicipi saja karena mulutku masih belum mau menerima makanan dan minuman itu. Dengan sabar istriku menyiapkan makanan dan minuman yang lain, sehingga akhirnya ada juga sedikit minuman dan makanan yang memasuki tubuhku.
Melawan rasa mual ini memang perlu perjuangan tersendiri, tapi kalau tidak kulawan, maka tubuhku akan kekurangan tenaga untuk mengalahkan penyakit yang ada di tubuhku, jadi dengan berbagai macam cara akhirnya sukses juga memasukkan makanan minuman ke tubuhku.
Ada beberapa sendok bubur bayi dan segelas jus alpukat yang bisa memasuki tubuhku dan kurasa itu sudah cukup untuk menjadi bantuan amunisi melawan penyakit yang ada di tubuhku. Perlahan tubuhku yang panas mulai kembali normal dan akhirnya meski masih mual, tapi aku sudah bisa menulis di blog lagi.
Akupun jadi ingat lima perkara sebelum datangnya lima perkara, ingat sehat sebelum sakit, kaya sebelum miskin, muda sebelum tua, lapang sebelum sempit, dan hidup sebelum mati.
Mumpung masih sehat, kaya, muda, lapang dan hidup, mari semua itu kita gunakan untuk mencari bekal sebelum saatnya tiba, menghadap padaNya.
Kalau sekarang kita sudah tidak muda, tidak kaya, tidak lapang dan tidak sehat, maka apalagi yang akan kita cari di dunia ini.
Semoga aku ikhlas menerima sakit ini. Insya Allah, masalah ikhlas memang masalah yang masih sangat perlu diperjuangkan. Masih banyak ilmu ikhlas yang belum kumiliki.
Yuk belajar ikhlas yuk...!
+++
Inilah saat muda, sehat, kaya dan lapang.
Selasa, Desember 15, 2009
Mbah Uti Sakit
Tengah malam aku meluncur ke condong catur dan kulihat Lilis, Rama, Sinta, Lia dan Totok sedang mengelilingi mbah Uti yang terlihat sulit bernafas.
Hanya Lilis yang mampu menerjemahkan ucapan yang keluar dari mulut mbah Uti.
Biasanya mbah Uti sangat senang kalau bertemu denganku. Beberapa jam lalu sempat minta Lilis untuk nelpon aku dan minta dicium. Aku yang saat itu masih di Jakarta hanya bisa terdiam, karena tidak tahu harus berbuat apa. Kebetulan pesawat juga mengalami delay, sehingga sedikit terlambat masuk ke Yogya.
Kali ini mbah Uti sudah tidak lagi mengenaliku. Meskipun aku sudah menciumi tangan dan pipinya, rasanya tidak ada lagi kehangatan yang kurasakan seperti ciuman-ciumanku sebelumnya.
Tangan dan wajah mbah Uti terasa dingin dan berbeda. Aku akhirnya hanya bisa meminta Quran pada Sinta. Semua sudah ada yang ngatur dan akupun tenggelam dalam bacaan surah Yasin.
Semoga yang terbaik yang terjadi pada mbah Uti. Semoga Allah swt masih memperpenjang usia mbah Uti, bila hal itu memang lebih baik bagi mbah Uti, agar mbah Uti makin banyak amalnya sebelum menghadap padaNya.
Namun bila Allah swt berkehendak sebaliknya, kamipun ikhlas melepas mbah Uti menghadap pada Allah swt. Semoga semua amalan mbah Uti dicatat sebagai amalan yang baik. Amin.
Hanya Allah yang tahu mana yang terbaik buat mbah Uti dan semoga itulah yang terjadi pada mbah Uti. Apapun keputusan Allah, itulah keputusan terbaik. Insya Allah kami siap menerima apapun keputusan Allah swt.
Saat ini hati kami sedih, kami hanya bisa melihat mbah Uti dari layar monitor yang tempatnya terpisah jauh dari kamar mbah Uti di ruang ICU.
Setiap saat kami perhatkan layar kaca itu dan terlihat perawat yang selalu sibuk memeriksa kondisi mbah Uti, memastikan semua selang yang menempel di tubuh mbah Uti dalam posisi yang seharusnya. Mbah Uti terlihat diam tak bergerak, kadang terlihat sedikit bergerak seperti "risih" dengan selang-selang yang ada di tubuhnya, tapi sebentar kemudian terlihat tenang kembali.
Sejak kemarin memang mbah Uti sudah harus memakai alat bantu pernafasan agar bernafasnya lebih mudah dan semoga alat bantu nafas ini mampu mempercepat proses kesembuhannya.
Hikmah yang didapat dari sakit mbah Uti ini adalah berkumpulnya seluruh keluarga yang tadinya sulit untuk bertemu.
Kitapun jadi makin yakin akan kebesaran Allah swt. Tiada cobaan yang diberikan olehNya melainkan kami mampu menerimanya.
"Ya Allah berikanlah kami beban yang kami mampu menerimanya. Berikanlah kami petunjukMu. Hanya kepadaMu kami menyembah dan hanya kepadaMu kami mohon pertolongan.
Di ruang tunggu ICU nomor 6 inilah Rama mengawasi mbah Uti. Terima kasih buat pak Rudi Purnomo Kupu-kupu malam yang telah menemani kami di ruang tungu ini. Terima kasih juga buat Pak Adi Wibowo yang tidak jadi datang karena sudah lewat tengah malam.
Hanya Lilis yang mampu menerjemahkan ucapan yang keluar dari mulut mbah Uti.
Biasanya mbah Uti sangat senang kalau bertemu denganku. Beberapa jam lalu sempat minta Lilis untuk nelpon aku dan minta dicium. Aku yang saat itu masih di Jakarta hanya bisa terdiam, karena tidak tahu harus berbuat apa. Kebetulan pesawat juga mengalami delay, sehingga sedikit terlambat masuk ke Yogya.
Kali ini mbah Uti sudah tidak lagi mengenaliku. Meskipun aku sudah menciumi tangan dan pipinya, rasanya tidak ada lagi kehangatan yang kurasakan seperti ciuman-ciumanku sebelumnya.
Tangan dan wajah mbah Uti terasa dingin dan berbeda. Aku akhirnya hanya bisa meminta Quran pada Sinta. Semua sudah ada yang ngatur dan akupun tenggelam dalam bacaan surah Yasin.
Semoga yang terbaik yang terjadi pada mbah Uti. Semoga Allah swt masih memperpenjang usia mbah Uti, bila hal itu memang lebih baik bagi mbah Uti, agar mbah Uti makin banyak amalnya sebelum menghadap padaNya.
Namun bila Allah swt berkehendak sebaliknya, kamipun ikhlas melepas mbah Uti menghadap pada Allah swt. Semoga semua amalan mbah Uti dicatat sebagai amalan yang baik. Amin.
Hanya Allah yang tahu mana yang terbaik buat mbah Uti dan semoga itulah yang terjadi pada mbah Uti. Apapun keputusan Allah, itulah keputusan terbaik. Insya Allah kami siap menerima apapun keputusan Allah swt.
Saat ini hati kami sedih, kami hanya bisa melihat mbah Uti dari layar monitor yang tempatnya terpisah jauh dari kamar mbah Uti di ruang ICU.
Setiap saat kami perhatkan layar kaca itu dan terlihat perawat yang selalu sibuk memeriksa kondisi mbah Uti, memastikan semua selang yang menempel di tubuh mbah Uti dalam posisi yang seharusnya. Mbah Uti terlihat diam tak bergerak, kadang terlihat sedikit bergerak seperti "risih" dengan selang-selang yang ada di tubuhnya, tapi sebentar kemudian terlihat tenang kembali.
Sejak kemarin memang mbah Uti sudah harus memakai alat bantu pernafasan agar bernafasnya lebih mudah dan semoga alat bantu nafas ini mampu mempercepat proses kesembuhannya.
Hikmah yang didapat dari sakit mbah Uti ini adalah berkumpulnya seluruh keluarga yang tadinya sulit untuk bertemu.
Kitapun jadi makin yakin akan kebesaran Allah swt. Tiada cobaan yang diberikan olehNya melainkan kami mampu menerimanya.
"Ya Allah berikanlah kami beban yang kami mampu menerimanya. Berikanlah kami petunjukMu. Hanya kepadaMu kami menyembah dan hanya kepadaMu kami mohon pertolongan.
Di ruang tunggu ICU nomor 6 inilah Rama mengawasi mbah Uti. Terima kasih buat pak Rudi Purnomo Kupu-kupu malam yang telah menemani kami di ruang tungu ini. Terima kasih juga buat Pak Adi Wibowo yang tidak jadi datang karena sudah lewat tengah malam.
Selasa, Agustus 25, 2009
Pijet Pucat
Tadinya kubayangkan pijet itu seperti yang sering dilakukan oleh istriku. Lama, "liyer-liyer" [saking enaknya] dan tertidur tanpa sadar, tahu-tahu sudah dua jam nggeletak.
Jadi begitu mas Bambang [sang pijetER] duduk di depanku dan berkomat-kamit seperti sedang merapal ajian serat jiwa, aku senyam senyum saja. Begitu juga ketika tangan kecil mas Bambang menampar telapak kakiku, aku masih bisa senyum-senyum.
"Keras juga tamparan bapak ini", begitu pikirku.
Aku baru terjingkat ketika jari kelingking mas Bambang mampir di ujung jari kelingking kakiku. Seperti ada bara panas nempel di tempat mas Bambang menyentuhku.
mulai mengawali pijatan
Mas Bambang in Action
wuih sakitnya....
Mulailah babak pijet yang ke tiga. Tangan mas Bambang kembali menari-nari menotok-notok bagian belakang badanku, mulai dari belakang perut sampai ke pundak.
Alhamdulillah, setelah semua selesai baru terasa manfaatnya. Badan jadi segar dan terasa lebih fit dibanding sebelum pijet.
Pingin Pijet Pucat?
Jadi begitu mas Bambang [sang pijetER] duduk di depanku dan berkomat-kamit seperti sedang merapal ajian serat jiwa, aku senyam senyum saja. Begitu juga ketika tangan kecil mas Bambang menampar telapak kakiku, aku masih bisa senyum-senyum.
"Keras juga tamparan bapak ini", begitu pikirku.
Aku baru terjingkat ketika jari kelingking mas Bambang mampir di ujung jari kelingking kakiku. Seperti ada bara panas nempel di tempat mas Bambang menyentuhku.
mulai mengawali pijatan"Kok tangannya jadi kayak api ya", pikirku.
Tangan mas Bambang memang sudah berubah menjadi tangan yang seperti mengandung api. Panas dan menyakitkan.
Aku tiba-tiba tersadar, ini kayaknya yang sering dibilang kawan-kawanku; pijat refleksi !
Aku tak kuasa lagi untuk tersenyum, perhatianku sudah terfokuskan pada rabaan ataupun totokan jari tangan mas Bambang. Begitu cepat tangannya bergerak kesana-kemari. Kadang menamparku dan kadang menotok titik jalan darahku.
Apapun yang dilakukan mas Bambang tidak ada nikmatnya sama sekali, yang ada hanya dua rasa saja, sakit dan sangat sakit !
Mas Bambang in ActionAku baru bernafas lega ketika akhirnya mas Bambang mengakhiri pijatannya. Senyumnya yang tanpa dosa benar-benar melukaiku. Sedemikian sakit badanku dan dia hanya membalasnya dengan senyum tanpa dosa.
wuih sakitnya....Kupaksakan untuk tersenyum dan mas Bambang ikut tersenyum, sampai akhirnya aku harus tersenyum kecut. Itu gara-gara suara kawanku.
"Pak, jangan senyum dulu lho, tadi itu baru kaki kiri lho! Ati-ati sebentar lagi yang kanan", begitu kata kawanku
Aku langsung protes ke mas Bambang.
"Apa harus dua kaki pak?", tanyaku [mode megharap : ON]
"Apa bapak mau jalan hanya dengan satu kaki saja? Ayo pak, gantian kaki yang kiri"
Dengan perasaan enggan, akupun menyodorkan kaki kananku pada mas Bambang dan terjadilah pembantaian seri kedua. Aku sudah seperti kuda luka yang diikat dan sedang disiksa oleh majikannya.
Suara nafasku sudah nggak teratur, kata-kata yang keluar dari mulutku juga sudah mulai meracau [ini kata orang saja, soalnya aku dalam keadaan setengah sadar]
Ternyata pijatan di kaki kedua ini luar biasa sakitnya, melebihi kaki yang tadi. Akupun makin tidak terkontrol, gerakanku seperti sudah bukan gerakanku lagi. Biasanya kan orangnya suka "jaim abiz", eh hari ini sudah nggak ingat kanan-kiri lagi. Menyepak kesana-kemari bagai kuda liar dan ajaibnya tetep nempel dengan tangan mas Bambang.
Setelah dua kaki ini dikerjain mas Bambang barulah aku merasa seperti lepas dari mulut buaya. Lega banget rasanya. Meski badan masih terasa sakit, terasa ngilu disana-sini, tetapi aku merasa sudah terbebas dari penderitaan berkepanjangan di siang yang panas terik ini.
Akupun mencoba tersenyum dan menyenderkan badan ke tembok, tempat aku membentur-benturkan kepala saat aku merasa kakiku kesakitan tadi.
Kamipun mulai bersenda gurau lagi sampai mas Bambang kembali menyuruhku untuk duduk besila. Ya ampun, ternyata acara pijat memijat ini belum selesai juga.
Mulailah babak pijet yang ke tiga. Tangan mas Bambang kembali menari-nari menotok-notok bagian belakang badanku, mulai dari belakang perut sampai ke pundak.
Akhirnya tarian tangan ini berakhir di kepalaku dan aku hanya bisa meringis pasrah.
Alhamdulillah, setelah semua selesai baru terasa manfaatnya. Badan jadi segar dan terasa lebih fit dibanding sebelum pijet. ...
.
Pingin Pijet Pucat?
Silahkan hubungi nomor di bawah ini
08174740899 & 087883288807 [Mas Bambang]
.
08174740899 & 087883288807 [Mas Bambang]
.
Jumat, Agustus 22, 2008
(akibat) Main FUTSAL
Hari Kamis, aku nemenin pegawai baru yang keliling kota Jakarta,melihat-lihat proyek Waskita yang menjadi land mark Jakarta. Disepanjang perjalanan aku banyak tidurnya (minimal tidur ayam), badan rasanya meriang.
Begitu mampir di proyek Casablanca, aku langsung masuk ke klinikproyek. Maunya sih periksa kondisi tubuh yang agak gak enak ini, tetapi aku dianggap atau dikira sedang nggodain paramedisnya, jadi aku nggak dikasih obat apa-apa, hanya dikasih sangobion saja.
Ketika mampir lagi di Proyek GOR Boker, aku kembali langsung keklinik, dan seperti kasus di klinik Casablanca, maka kembali aku tidak dilayani dengan serius. Mereka pada ketawa-ketawa melihat aku diperiksa oleh paramedis. Baru setelah aku minta dicek suhu badanku, merekayakin bahwa aku memang sedang sakit.
Malam sebelumnya aku memang terlalu bersemangat main FUTSAL, sehingga biarpun keringat sudah membasahi sekujur tubuh, masih saja kuteruskan mainnya. Akibatnya, sampai di rumah langsung menggigil. Mandinya kayak bebek (tapi pakai anduk nih..!:-). Byar byur dan langsung pakai bajuhangat.
Jumat pagi ini badan rasanya masih belum fit betul, sehingg aku terpaksa harus membatalkan acara outbond. Meskipun berat hati, itu harus kulakukan. Aku juga harus nyiapkan perjalanan ke samarinda hari Minggu. Jadi hari ini lebih baik aku ke dokter lagi ya?
Soalnya aku nggak terlalu yakin dengan pemeriksaan paramedis kemarin sih.
Semoga hari ini lebih baik dari kemarin.Amin.
Salam
Salam
Selasa, Desember 25, 2007
ManTenaN (lagi)
Ada yang bilang, arti mantenan adalah “ngenteni mati” (menunggu datangnya kematian). Jadi begitu kita selesai menjadi pengantin (berarti kita sudah dewasa), kita harus lebih siap untuk bertemu Tuhan, artinya kita harus lebih fokus dalam mencari bekal, arti yang lain lagi, akan makin banyak rintangan untuk mencari bekal, jadi jadikanlah “mati” sebagai pengingat akan fokus hidup dan kehidupanmu.
Di dunia ini, kita diajarkan untuk mengingat 3 tujuan kita, yaitu jangka pendek, menengah dan jangka panjang.
Jangka pendek, kita harus mulai hari ini, saat ini juga, berbuat yang baik-baik, karena ada sepasang malaikat yang menyertai kita yang akan selalu mencatat apapun yang kita perbuat secara rinci tanpa pernah salah mencatat.
Jangka menengah, kita ajak orang lain berbuat baik. Mulai dari keluarga terdekat atau lingkungan terdekat kita, dan kita pesankan agar mereka juga melakukan hal yang sama dengan yang telah kita lakukan padanya, sehingga efek gerakan ini akan memunculkan terwujudnya Indonesia Emas 2020.
Jangka panjang, tentu kita ingin bertemu dengan Allah swt dalam kondisi bekal yang cukup. Padahal kita tahu, bekal kita sampai saat ini masih sangat minim, bahkan kalau melihat perjalanan hidup kita, kayaknya bekal kita tidak juga cukup memadai untuk menghadap Allah swt di hari kita dipanggil menghadap.
Perlu usaha yang lebih fokus dan kemauan yang sangat keras untuk mulai terus memikirkan tujuan jangka panjang kita. Jadikan tujuan jangka panjang kita sebagai tujuan yang paling utama, semoga tujuan yang lain akan mudah kita capai. (Amin)
Pulang dari Yogya, ternyata dapet kabar kalau Ayah Mertua meninggal dunia. Ini memang kuasa Allah, Dia tidak mau melihat kita menyaksikan kepergian ayah mertua, Dia ingin memberi pelajaran, bahwa maut bisa datang kapan-kapan.
Maut tidak mengenal usia, tidak mengenal waktu, tidak mengenal tempat dan tidak pernah beruluk salam. Dia hanya memberi pertanda bagi mereka yang mau membaca tanda-tandanya.
Jadilah kami “go show” hari itu juga. Rudi bersama istri, Tety, Dafin dan Fitri yang kami ajak dari Yogya ke Jakarta kemarin serta aku dan istri tercintaku. Lion Air, jam 11.30, menerbangkan kami ke Yogya.
Alhamdulillah, masih sempat melakukan sholat jenazah. Tadinya mau jadi imam, sehingga nanya kawan cara sholat jenazah yang benar agar tidak “mubadzir”.
Takbir I, baca fatihah, takbir II, sholawat Nabi, takbir III, doa untuk orang yang meninggal, takbir IV, doa dan salam.
Ternyata imamnya sudah ada, jadinya cukup berdiri di baris depan, jadi makmum. Jam 15.00 acara dimulai, sekitar jam 16.00 acara selesai dan aku langsung ke RS PKU Condong Catur. Rupanya sepeninggalku dari Yogya kemarin, ibu jadi sakit dan terpaksa harus dilarikan ke RS.
Banyak sekali yang menengok ibu sore itu, mulai dari kawan ibu, kawanku maupun saudara-saudara lain yang kebetulan tadi ikut melayat ke rumah ayah mertua.
Ibu selalu ceria saat bersama kita, apalagi ketika dipijat oleh temenku (pijat gratis ‘kali!:-), dan semoga sampai nanti terus ceria, agar penyakitnya segera pergi dan ibu kembali ke rumah untuk kumpul anak cucu lagi.
Ini benar-benar liburan desember yang penuh acara tak terduga, ketemu orang tak terduga dan jalan-jalan lewat jalan yang tak pernah kuduga untuk kulewati. Pasti nanti akan jadi manis kala dia udah jadi nostalgia, kalau sekarang sih yang terasa ya capeknya doank.
Allah telah menunjukkan kekuasanNya, dan kita sebagai hambanya hanya bisa menerima dan mencari hikmah dari semua kejadian ini. Insya Allah, kami sanggup mencarinya.
Amin.
Langganan:
Postingan (Atom)







