Semua teman-teman TDA Bekasi langsung bersorak sorai begitu terlihat tampilan cover buku pak Dhe ngeBlog muncul di dua layar raksasa yang berada di background panggung dan di samping panggung.
Sang pembawa acarapun mulai berkicau tentang buku ini.
"Inilah potret anda, teman-teman anda dan potret siapa saja yang kadang tegar menghadapi hidup dan kehidupan ini, namun kadang begitu rapuh menerima cobaan yang datang"
Tepuk tangan mengikuti ucapan sang pembawa acara, siapa lagi yang bertepuk tangan kalau bukan aku sendiri.
Sang pembawa acarapun melanjutkan ucapannya.
"....dan inilah Komentar singkat khas Nukman Luthfie tentang buku ini TOP MARKOTOP!"
Kembali aku bertepuk tangan sendirian dan pembawa acara terus melanjutkan komentarnya tentang buku pak Dhe NgeBlog.
"... Amril Taufik Gobel [finalis blogger internasional, anggota TDA] memberi komentarnya..."
"Buku Pakde Eko ini tak sekedar menyajikan catatan tentang hikmah kehidupan namun juga menyiratkan sebuah upaya humanis memaknai setiap desir interaksi antar pribadi serta komunitas yang kerap bersentuhan langsung dengan eksistensi Pakde Eko.
Dituturkan dengan gaya bahasa yang lancar mengalir, sederhana, jernih dan jenaka.
Buku ini layak menjadi pilihan pilihan bacaan yang memikat bagi pencerahan hati dan usaha melapangkan jiwa dengan berbagi.
Selamat Pakde Eko"
Kali ini semua teman-teman TDA Bekasi sudah selesai menyantap makan siangnya, sehingga yang bertepuk tangan tidak hanya aku sendiri.
"Orangnya mana...orangnya mana?"
"Pak Dhe mana...pak De mana..?"
Dengan penuh percaya diri akupun berdiri dan berbalik dan menghadap ke arah penonton yang tumpleg bleg di belakang deretan kursi belakang. Itulah lantai kosong yang disulap sebagai tempat makan siang di acara #pestawirausaha 2010 dalam rangka milad IV Tangan Di Atas, sebuah komunitas wira usaha terbesar saat ini di Indonesia (versi majalah SWA).
Buku Pak Dhe ngeBlog ini memang fenomenal bagi beberapa temanku. Banyak kisah lucu dan menarik tentang buku ini. Bagaimana sebuah buku mau dijual sedangkan bukunya saja belum ada, bahkan judulnya saja belum ada.
Buku inipun belum juga sempat dilaunching malah sudah dijual di kampus ITB dalam rangka blogshop Kompasiana.
Hasil penjualan Buku ini juga pernah dipakai sebagai salah satu modal untuk berdirinya komunitas BeBlog dan pernah juga dipakai sebagai bonus bagi mereka yang menyumbangkan uang untuk membantu teman-teman yang terkena musibah gempa ataupun tanah longsor saat pertemuan reuni akbar Sipil UGM.
Saat ini buku pak Dhe ngeBlog ini hanya dijual di gerai Mie Ayam SEHATI. Ke depannya buku ini akan dicetak oleh penerbit besar yang peduli dengan pendidikan Indonesia dan bukan oleh penerbit yang melulu mencari keuntungan materiil. Tunggu saja penerbit mana yang paling baik tawarannya.
Bila tidak ada penerbit yang menarik hatiku, maka mungkin kita perlu mendirikan penerbit yang dikelola oleh TDA dan menerbitkan buku-buku bermutu bukan buku-buku yang membodohkan pembacanya.
Meski warga TDA wajib punya mimpi, tapi bukan buku mimpi yang kita terbitkan tapi buku tentang semangat kebersamaan menebar rahmahlah yang akan kita terbitkan.
Salam
Para Pendukung Pak Dhe NgeBLOG di Pesta Wira Usaha 2010. Inilah kelompok narsis dari TDA Bekasi.
+++
Tidak lupa bernarsis ria bersama istri tercinta, satu-satunya dan selamanya.
+++
Tampilkan postingan dengan label pak Dhe. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pak Dhe. Tampilkan semua postingan
Minggu, April 11, 2010
Sabtu, Juli 25, 2009
Aku Terjebak
Sore itu Andra main ke rumah Bu Lik dan sempat nguping pembicaraan Bu Lik dengan Tomi. Meski bisik-bisik di kamar, tapi tekanan emosi yang tinggi telah membuat suara Bu Lik terdengar sampai ke luar kamar.
"Kamu harus balik lagi ke Bandung Tom. Udah terlanjur di sana, jadi gak bisa balik lagi ke sini"
"....."
"Pokonya, besok pagi kamu berangkat ke Bandung, nanti biar sama mas Andra. Dia juga mau ke Bandung besok", wah Bu Lik sudah memulai kalimatnya dengan kata pokoknya, pasti urusan yang gawat, begitu pikir Andra.
".....", Tomi tak terdengar lagi jawabannya
Pintu kamar Tomi terbuka dan Bu Lik terlihat keluar dari kamar. Senyumnya langsung mengembang begitu melihat Andra yang sudah memegang cangkir kosong.
"Eeeee.... mau buat minum sendiri ya?", sapa Bu Lik
"Iya donk Bu Lik, masak selalu dibuatin Bu Lik terus. Enak sih, tapi kapan dewasanya aku kalau semua dibuatin terus ama Bu Lik?"
Andra dan Bu Lik langsung tertawa bersama. Banyak kenangan di antara mereka, sehingga hanya keakraban yang selalu tercipta saat mereka bertemu.
Andra ingat benar ketika Bu Lik mengantarnya masuk ke TK. Dengan penuh kasih sayang Bu Lik menjaganya. Apalagi ternyata ada anak lain yang diantar oleh OmNya. Jadilah Bu Lik dan Si Om rajin mengantar ponakan masing-masing, sampai akhirnya mereka pacaran dan sekarang sudah mempunyai anak sebesar Tomi.
Esoknya, pagi-pagi ANdra sudah siap menemani Tomi meluncur ke Bandung. Perjalanan yang kurang "fresh", karena Tomi terlihat murung dan seperti menghindari percakapan dengan Andra.
"Tom, inget nggak sama Ayuko?", tiba-tiba ANdra ingat akan Ayuko yang mungkin bisa membuat Tomi keluar dari kemurungannya. Jadi dicobanya bicara dengan topik Ayuko.
"Inget mas. Gimana sekarang dia mas? Udah balik ke Jepang lagi ya?"
"Bulan lalu dia nulis di blogku. DIa titip salam tuh ma kamu. Hehehe...dia masih inget tuh waktu masuk sungai ama kamu. Hahaha...lucu banget deh"
Andra tambah semangat cerita tentang AYuko, karena Tomi terlihat mulai keluar dari "sarang"nya.
AKhirnya pembicaraan mulai mengalir lancar, sampai kemudian Andrapun mendapat curahan hati Tomi.
"Bener mas. Aku gak betah di Bandung, tapi Papa dan Mama maunya aku bertahan dulu setahun dua trahun. Mana aku tahan mas, setahun itu kan lama, apalagi sampai dua tahun. Huh...."
"Lho dulu yang pingin ke Bandung bukannya kamu Tom? Kamu pingin sekolah di ITB dan pingin pindah ke SMA di Bandung agar sudah merasakan aroma ITB sebelum masuk ITB. Gitu kan, kalau gak salah?"
"Iya sih. Tapi ternyata Bandung gak ramah banget. Nyebelin semua"
"Apanya sih yang nyebelin?", Andra jadi ikut penasaran juga. Bandung yang jadi magnet semua orang kok dianggap nyebelin oleh Tomi, pasti ada yang tidak beres disini.
"Banyak mas. Orangnya, bahasanya, suasananya, semuanya deh... Gak ada yang bikin seneng"
Andra jadi inget pak Dhe. APa ya yang biasa disampaikan pak Dhe kalau ada suasana seperti ini?
"Oke Tom, kita bahas satu demi satu yuk..."
"....."
"Orang Bandung setahuku baik-baik, minimal kulitnya kuning bersih", Andra mencoba melucu
"Iya, tapi cuek semua ama aku. Gak ada yang bisa bikin seneng, semua nyebelin. Kalau udah ngomong bahasa Sunda, aku udah kayak patung bernyawa deh... sebeeel banget"
"Kamu kan dulu lahir di Bandung, Bu Lik juga besar di Bandung, masak kamu gak bisa bahasa SUnda?"
"Papa sih kalau ngomong sama Mama selalu saja bahasa Indonesia, kadang bahasa Jawa, aku jadi tidak tahu semua bahasa kecuali bahasa Indonesia", sungut Tomi membuat Andra jadi tersenyum.
"Oke Tom, aku mau cerita aja deh. Ini cerita yang kudapat dari pak Dhe tentang pekerjaan kawannya"
"..."
"Suatu hari kawan pak Dhe ini, sebut saja namanya Ridwan, ditempatkan di bagian pengetesan, padahal dia sama sekali tidak suka pekerjaan itu. Dia sudah terlatih di bagian produksi, sehingga dia malas untuk pindah tugas ke bagian lain"
"Pekerjaannya jadi terbengkalai, dia jadi suka mbolos dan selalu melampiaskan kekesalannya pada siapapun, sampai akhirnya dia ketemu pak Dhe"
"Nah, saran pak Dhe pada Ridwan adalah meminta Ridwan untuk segera keluar dari pabrik. Tentu Ridwan menolak saran itu, karena dia masih perlu gaji untuk menghidupi anak-istrinya"
"...."
"Kata pak Dhe, kalau tidak mau keluar, sebaiknya Ridwan mulai belajar menyukai pekerjaan barunya. Lupakan hal-hal yang bisa membuat jengkel pada pekerjaan barunya dan selalu berupaya untuk menemukan hal-hal sekecil apapun yang membuatnya bisa mencintai pekerjaan barunya"
"......"
"Ridwan akhirnya sadar, bahwa kalau diteruskan, maka bukan tidak mungkin dia akan dipecat dari pekerjaannya, jadi mulai saat itu diapun rajin mencari hal-hal yang dapat membuatnya senang di pekerjaan barunya. Pekerja-pekerja di unit kerjanya yang tadinya jengkel dengan ulah Ridwan, mulai menerima Ridwan dan mulai saling akrab dan akhirnya terbentuklah tim yang solid di unit kerja Ridwan"
"......"
"Yang lebih menakjubkan lagi, Ridwan ini akhirnya keluar dari pabrik dan mendirikan usaha kecil yang kemudian menjadi mitra binaan dari pabrik tempatnya bekerja. Pengetahuannya di berbagai bidang tugas di pekerjaan lamanya telah membuatnya menjadi yakin bahwa diapun mampu mengkoordinasikan sebuah pabrik mini"
"Mas, itu cerita pak Ridwan yang rumahnya di dekat kue roti itu ya?'
"Bener Tom, kamu pernah denger juga cerita itu?"
"Aku pernah dengar selintas saja. Aku kenal orangnya, tapi dia mungkin tidak kenal aku. Anaknya kan sebangku sama aku"
"Lho bukannya anaknya pak Ridwan itu cewek?"
"Itulah yang bikin aku be te. Masak di sekolah itu aku satu-satunya yang duduk ama lawan jenis. Sebel banget deh..."
"Hahahaha.....", berderai tawa Andra mendengar perkataan Tomi.
Tak terasa, akhirnya sampai juga mereka di Bandung.
Andra hanya berdoa, semoga ceritanya mampu membangkitkan semangat Tomi, karena tidak ada gunanya menimbun energi negatip. Hanya energi positip yahng akan membuat Tomi terlepas dari jebakannya sendiri.
Bila merasa terjebak, maka cobalah untuk keluar dari jebakan, bila tidak bisa keluar, maka nikmatilah jebakan itu, jangan-jangan yang dianggap jebakan adalah salah satu jalan kesuksesan kita.
Semoga....!
+++
artikel lain :
Act Naturally
Dosaku ternyata banyak
"Kamu harus balik lagi ke Bandung Tom. Udah terlanjur di sana, jadi gak bisa balik lagi ke sini"
"....."
"Pokonya, besok pagi kamu berangkat ke Bandung, nanti biar sama mas Andra. Dia juga mau ke Bandung besok", wah Bu Lik sudah memulai kalimatnya dengan kata pokoknya, pasti urusan yang gawat, begitu pikir Andra.
".....", Tomi tak terdengar lagi jawabannya
Pintu kamar Tomi terbuka dan Bu Lik terlihat keluar dari kamar. Senyumnya langsung mengembang begitu melihat Andra yang sudah memegang cangkir kosong.
"Eeeee.... mau buat minum sendiri ya?", sapa Bu Lik
"Iya donk Bu Lik, masak selalu dibuatin Bu Lik terus. Enak sih, tapi kapan dewasanya aku kalau semua dibuatin terus ama Bu Lik?"
Andra dan Bu Lik langsung tertawa bersama. Banyak kenangan di antara mereka, sehingga hanya keakraban yang selalu tercipta saat mereka bertemu.
Andra ingat benar ketika Bu Lik mengantarnya masuk ke TK. Dengan penuh kasih sayang Bu Lik menjaganya. Apalagi ternyata ada anak lain yang diantar oleh OmNya. Jadilah Bu Lik dan Si Om rajin mengantar ponakan masing-masing, sampai akhirnya mereka pacaran dan sekarang sudah mempunyai anak sebesar Tomi.
Esoknya, pagi-pagi ANdra sudah siap menemani Tomi meluncur ke Bandung. Perjalanan yang kurang "fresh", karena Tomi terlihat murung dan seperti menghindari percakapan dengan Andra.
"Tom, inget nggak sama Ayuko?", tiba-tiba ANdra ingat akan Ayuko yang mungkin bisa membuat Tomi keluar dari kemurungannya. Jadi dicobanya bicara dengan topik Ayuko.
"Inget mas. Gimana sekarang dia mas? Udah balik ke Jepang lagi ya?"
"Bulan lalu dia nulis di blogku. DIa titip salam tuh ma kamu. Hehehe...dia masih inget tuh waktu masuk sungai ama kamu. Hahaha...lucu banget deh"
Andra tambah semangat cerita tentang AYuko, karena Tomi terlihat mulai keluar dari "sarang"nya.
AKhirnya pembicaraan mulai mengalir lancar, sampai kemudian Andrapun mendapat curahan hati Tomi.
"Bener mas. Aku gak betah di Bandung, tapi Papa dan Mama maunya aku bertahan dulu setahun dua trahun. Mana aku tahan mas, setahun itu kan lama, apalagi sampai dua tahun. Huh...."
"Lho dulu yang pingin ke Bandung bukannya kamu Tom? Kamu pingin sekolah di ITB dan pingin pindah ke SMA di Bandung agar sudah merasakan aroma ITB sebelum masuk ITB. Gitu kan, kalau gak salah?"
"Iya sih. Tapi ternyata Bandung gak ramah banget. Nyebelin semua"
"Apanya sih yang nyebelin?", Andra jadi ikut penasaran juga. Bandung yang jadi magnet semua orang kok dianggap nyebelin oleh Tomi, pasti ada yang tidak beres disini.
"Banyak mas. Orangnya, bahasanya, suasananya, semuanya deh... Gak ada yang bikin seneng"
Andra jadi inget pak Dhe. APa ya yang biasa disampaikan pak Dhe kalau ada suasana seperti ini?
"Oke Tom, kita bahas satu demi satu yuk..."
"....."
"Orang Bandung setahuku baik-baik, minimal kulitnya kuning bersih", Andra mencoba melucu
"Iya, tapi cuek semua ama aku. Gak ada yang bisa bikin seneng, semua nyebelin. Kalau udah ngomong bahasa Sunda, aku udah kayak patung bernyawa deh... sebeeel banget"
"Kamu kan dulu lahir di Bandung, Bu Lik juga besar di Bandung, masak kamu gak bisa bahasa SUnda?"
"Papa sih kalau ngomong sama Mama selalu saja bahasa Indonesia, kadang bahasa Jawa, aku jadi tidak tahu semua bahasa kecuali bahasa Indonesia", sungut Tomi membuat Andra jadi tersenyum.
"Oke Tom, aku mau cerita aja deh. Ini cerita yang kudapat dari pak Dhe tentang pekerjaan kawannya"
"..."
"Suatu hari kawan pak Dhe ini, sebut saja namanya Ridwan, ditempatkan di bagian pengetesan, padahal dia sama sekali tidak suka pekerjaan itu. Dia sudah terlatih di bagian produksi, sehingga dia malas untuk pindah tugas ke bagian lain"
"Pekerjaannya jadi terbengkalai, dia jadi suka mbolos dan selalu melampiaskan kekesalannya pada siapapun, sampai akhirnya dia ketemu pak Dhe"
"Nah, saran pak Dhe pada Ridwan adalah meminta Ridwan untuk segera keluar dari pabrik. Tentu Ridwan menolak saran itu, karena dia masih perlu gaji untuk menghidupi anak-istrinya"
"...."
"Kata pak Dhe, kalau tidak mau keluar, sebaiknya Ridwan mulai belajar menyukai pekerjaan barunya. Lupakan hal-hal yang bisa membuat jengkel pada pekerjaan barunya dan selalu berupaya untuk menemukan hal-hal sekecil apapun yang membuatnya bisa mencintai pekerjaan barunya"
"......"
"Ridwan akhirnya sadar, bahwa kalau diteruskan, maka bukan tidak mungkin dia akan dipecat dari pekerjaannya, jadi mulai saat itu diapun rajin mencari hal-hal yang dapat membuatnya senang di pekerjaan barunya. Pekerja-pekerja di unit kerjanya yang tadinya jengkel dengan ulah Ridwan, mulai menerima Ridwan dan mulai saling akrab dan akhirnya terbentuklah tim yang solid di unit kerja Ridwan"
"......"
"Yang lebih menakjubkan lagi, Ridwan ini akhirnya keluar dari pabrik dan mendirikan usaha kecil yang kemudian menjadi mitra binaan dari pabrik tempatnya bekerja. Pengetahuannya di berbagai bidang tugas di pekerjaan lamanya telah membuatnya menjadi yakin bahwa diapun mampu mengkoordinasikan sebuah pabrik mini"
"Mas, itu cerita pak Ridwan yang rumahnya di dekat kue roti itu ya?'
"Bener Tom, kamu pernah denger juga cerita itu?"
"Aku pernah dengar selintas saja. Aku kenal orangnya, tapi dia mungkin tidak kenal aku. Anaknya kan sebangku sama aku"
"Lho bukannya anaknya pak Ridwan itu cewek?"
"Itulah yang bikin aku be te. Masak di sekolah itu aku satu-satunya yang duduk ama lawan jenis. Sebel banget deh..."
"Hahahaha.....", berderai tawa Andra mendengar perkataan Tomi.
Tak terasa, akhirnya sampai juga mereka di Bandung.
Andra hanya berdoa, semoga ceritanya mampu membangkitkan semangat Tomi, karena tidak ada gunanya menimbun energi negatip. Hanya energi positip yahng akan membuat Tomi terlepas dari jebakannya sendiri.
Bila merasa terjebak, maka cobalah untuk keluar dari jebakan, bila tidak bisa keluar, maka nikmatilah jebakan itu, jangan-jangan yang dianggap jebakan adalah salah satu jalan kesuksesan kita.
Semoga....!
+++
artikel lain :
Act Naturally
Dosaku ternyata banyak
Sabtu, Juni 20, 2009
Caraku Menulis Blog [5]
Ide Menulis Masih Macet Juga
Ini cerita pak Dhe ketika ikut pelatihan blog. Tanpa ada angin tanpa ada hujan tahu-tahu pak Dhe harus ikut pelatihan blog bersama Ajiz, ponakan tersayangnya.
Keinginan yang kuat dari Ajiz untuk belajar ngeblog membuat pak Dhe harus menemaninya, karena orang tua Ajiz masih berhalangan untuk menemani dan peserta pelatihan blog tidak boleh ditemani oleh orang tuanya, artinya pak Dhe harus mendaftar juga sebagai peserta pelatihan blog.
Sampailah acara pelatihan pada acara tanya jawab, dan inilah salah satu rangakaian pertanyaan yang membuat peserta pelatihan tergelak-gelak mendengarnya.
"Saran mas Ismail sudah dilaksanakan, tapi kenapa masih juga gak bisa menulis blog mas?", kata Aini, salah satu peserta pelatihan blog.
Mas Ismail, sang instruktur, dengan tenang menjawab pertanyaan Aini.
"Coba apa saja yang telah dilaksanakan mbak ...Eee... Aini ya?", Ismail menyebut nama Aini setelah melihat name tag di dada Aini.
"5W satu H. What, Where, Why, When, Who dan How. Semua sudah tak coba uraikan tapi tetep macet juga mas", jawab Aini lugu. Peserta lain sudah mulai senyum-senyum, mungkin merasa senasib.
"Terus apa lagi yang mbak lakukan?"
"Aku juga sudah mencoba memotret obyek-obyek yang kuanggap bisa membuat aku punya ide menulis. Setiap obyek foto yang kubuat sudah kuberi nama sesuai kejadiannya, agar memudahkan aku mengingat kapan foto itu diambil dan dalam rangka apa....", Aini berhenti sebentar dan memperhatikan raut muka teman-teman sepelatihan yang melihat dirinya dengan penuh senyum.
"Terus ...."
"Kemudian kupandangi foto itu satu demi satu di komputerku, tapi ide menulis tidak juga muncul. Aku malah kepikiran yang lain-lain..."
"Ooo... kepikiran apa itu mbak?"
"Ya misalnya saat melihat foto anjingku, aku malah kepikiran kucing tetangga yang kemarin terlindas mobil gara-gara dikejar sama anjingku"
"Kemudian apa lagi..."
"Ya itu tadi mas, sudah sejam duduk di depan komputer, tidak ada satupun yang kuketik di blogku", peserta pelatihan mulai mengganti senyumnya dengan ketawa tergelak-gelak
"Jadi selain melihat foto, apalagi yang mbak Aini kerjakan?", Ismail sambil menahan senyum terus mencoba berinteraksi pada Aini. Ini memang tugas pokok seorang instruktur, melakukan komunikasi dua arah yang intens, sehingga semua peserta, tanpa kecuali, merasa dihargai.
"Kebanykan ya melihat foto itu mas. Malah jadi cekikikan sendiri, karena jadi inget kejadian yang lain"
"Apa itu misalnya..?"
"Misalnya waktu lihat foto ayamku, malah jadi inget ketika makan ayam goreng tulang lunak. Waktu itu kita rebutan sampai nasinya tumpah kemana-mana", Aini menjawab pertanyaan Ismail dengan senyum simpulnya.
Meledaklah kelas itu mendengar gaya Aini menjawab pertanyaan Ismail. Lugas dan lugu.
Setelah kelas mereda, maka Ismail kembali ke depan kelas dan bertanya pada para peserta pelatihan.
"Ada yang bisa bantu mbak Aini menulis blog. Silahkan tunjuk jari dan sampaikan idenya untuk mbak Aini"
Para peserta pelatihan yang masih tertawa geli saling bersahutan menyampaikan saran tapi tidak didengarkan oleh Ismail, karena Ismail ingin ada ynag mengacungkan jari tangan.
Akhirnya Ajizlah yang mengacungkan tangan.
"Wow... blogger cilik mau ngasih ide? Tepuk tangan semua untuk adik cilik ini", Ismail kelihatan senang karena yang mengacungkan jari justru adalah seorang anak-anak.
"Tepuk tangan sekali lagi buat mas ...AJIZ!"
"Oke mas, apa idenya?"
Dengan mata beningnya, Ajiz menjawab,"Mbak Aini cukup menulis apa yang diceritakan pada pak Ismail tadi dalam blognya"
Pak Dhe tersenyum simpul di samping Ajiz. Luar biasa anak kecil ini. Suatu ide yang biasa-biasa saja, tapi jadi bermakna karena disampaikan dalam forum yang pesertanya sebagian besar orang yang sudah dewasa.
Ajiz telah menunjukkan dirinya sebagai seorang anak kecil dengan hati yang bening dan semangat yang tak kenal padam. Selalu menyala biarpun hari sudah sore.
Pelatihan blog hari ini membuat pak Dhe kembali bersyukur telah diberi hari yang hebat oleh Sang Maha Kasih.
=======
Artikel terkait.
Caraku menulis Blog [1] : Menulis dan teruslah menulis
Caraku menulis Blog [2] : Saat Kehabisan Ide
Blog Anak Klas 3 SD
Tips belajar ngeblog
Dandani Blogmu Sebelum Datang Tamumu
Caraku menulis blog [4]
Ini cerita pak Dhe ketika ikut pelatihan blog. Tanpa ada angin tanpa ada hujan tahu-tahu pak Dhe harus ikut pelatihan blog bersama Ajiz, ponakan tersayangnya.
Keinginan yang kuat dari Ajiz untuk belajar ngeblog membuat pak Dhe harus menemaninya, karena orang tua Ajiz masih berhalangan untuk menemani dan peserta pelatihan blog tidak boleh ditemani oleh orang tuanya, artinya pak Dhe harus mendaftar juga sebagai peserta pelatihan blog.
Sampailah acara pelatihan pada acara tanya jawab, dan inilah salah satu rangakaian pertanyaan yang membuat peserta pelatihan tergelak-gelak mendengarnya.
"Saran mas Ismail sudah dilaksanakan, tapi kenapa masih juga gak bisa menulis blog mas?", kata Aini, salah satu peserta pelatihan blog.
Mas Ismail, sang instruktur, dengan tenang menjawab pertanyaan Aini.
"Coba apa saja yang telah dilaksanakan mbak ...Eee... Aini ya?", Ismail menyebut nama Aini setelah melihat name tag di dada Aini.
"5W satu H. What, Where, Why, When, Who dan How. Semua sudah tak coba uraikan tapi tetep macet juga mas", jawab Aini lugu. Peserta lain sudah mulai senyum-senyum, mungkin merasa senasib.
"Terus apa lagi yang mbak lakukan?"
"Aku juga sudah mencoba memotret obyek-obyek yang kuanggap bisa membuat aku punya ide menulis. Setiap obyek foto yang kubuat sudah kuberi nama sesuai kejadiannya, agar memudahkan aku mengingat kapan foto itu diambil dan dalam rangka apa....", Aini berhenti sebentar dan memperhatikan raut muka teman-teman sepelatihan yang melihat dirinya dengan penuh senyum.
"Terus ...."
"Kemudian kupandangi foto itu satu demi satu di komputerku, tapi ide menulis tidak juga muncul. Aku malah kepikiran yang lain-lain..."
"Ooo... kepikiran apa itu mbak?"
"Ya misalnya saat melihat foto anjingku, aku malah kepikiran kucing tetangga yang kemarin terlindas mobil gara-gara dikejar sama anjingku"
"Kemudian apa lagi..."
"Ya itu tadi mas, sudah sejam duduk di depan komputer, tidak ada satupun yang kuketik di blogku", peserta pelatihan mulai mengganti senyumnya dengan ketawa tergelak-gelak
"Jadi selain melihat foto, apalagi yang mbak Aini kerjakan?", Ismail sambil menahan senyum terus mencoba berinteraksi pada Aini. Ini memang tugas pokok seorang instruktur, melakukan komunikasi dua arah yang intens, sehingga semua peserta, tanpa kecuali, merasa dihargai.
"Kebanykan ya melihat foto itu mas. Malah jadi cekikikan sendiri, karena jadi inget kejadian yang lain"
"Apa itu misalnya..?"
"Misalnya waktu lihat foto ayamku, malah jadi inget ketika makan ayam goreng tulang lunak. Waktu itu kita rebutan sampai nasinya tumpah kemana-mana", Aini menjawab pertanyaan Ismail dengan senyum simpulnya.
Meledaklah kelas itu mendengar gaya Aini menjawab pertanyaan Ismail. Lugas dan lugu.
Setelah kelas mereda, maka Ismail kembali ke depan kelas dan bertanya pada para peserta pelatihan.
"Ada yang bisa bantu mbak Aini menulis blog. Silahkan tunjuk jari dan sampaikan idenya untuk mbak Aini"
Para peserta pelatihan yang masih tertawa geli saling bersahutan menyampaikan saran tapi tidak didengarkan oleh Ismail, karena Ismail ingin ada ynag mengacungkan jari tangan.
Akhirnya Ajizlah yang mengacungkan tangan.
"Wow... blogger cilik mau ngasih ide? Tepuk tangan semua untuk adik cilik ini", Ismail kelihatan senang karena yang mengacungkan jari justru adalah seorang anak-anak.
"Tepuk tangan sekali lagi buat mas ...AJIZ!"
"Oke mas, apa idenya?"
Dengan mata beningnya, Ajiz menjawab,"Mbak Aini cukup menulis apa yang diceritakan pada pak Ismail tadi dalam blognya"
Pak Dhe tersenyum simpul di samping Ajiz. Luar biasa anak kecil ini. Suatu ide yang biasa-biasa saja, tapi jadi bermakna karena disampaikan dalam forum yang pesertanya sebagian besar orang yang sudah dewasa.
Ajiz telah menunjukkan dirinya sebagai seorang anak kecil dengan hati yang bening dan semangat yang tak kenal padam. Selalu menyala biarpun hari sudah sore.
Pelatihan blog hari ini membuat pak Dhe kembali bersyukur telah diberi hari yang hebat oleh Sang Maha Kasih.
=======
Artikel terkait.
Caraku menulis Blog [1] : Menulis dan teruslah menulis
Caraku menulis Blog [2] : Saat Kehabisan Ide
Blog Anak Klas 3 SD
Tips belajar ngeblog
Dandani Blogmu Sebelum Datang Tamumu
Caraku menulis blog [4]
Rabu, Januari 28, 2009
Rokok Gak HARAM [?]

"Pak Dhe, sebenarnya merokok itu haram nggak sih?", pertanyaan Udin langsung menuju sasaran. Pak Dhe yang sedang mengeluarkan sebungkus rokok jadi tersenyum.
"Iya pak Dhe, fatwa MUI bahwa merokok itu haram telah merugikan warung mbok Sastro. Sekarang orang pada mikir kalau mau beli rokok disitu", timpal Khalid.
"Tahu nggak pak Dhe, pak Kiai Sudrun yang tinggal di depan warung mbok Sastro sekarang jadi galak banget gara-gara keluarnya fatwa haram merokok itu", kata Udin mendukung pernyataan Khalid.
"Kemarin seorang anak kecil ditempeleng tuh ama pak Kiai, gara-gara dia beli rokok di warung dan langsung disulut di depan pak Kiai", kata Udin melanjutkan.
"Memang kalian dengar fatwa MUI itu darimana?". Pak Dhe sambil tetap tersenyum mulai ganti bertanya.
"Iya pak Dhe, semua orang sudah tahu itu. Gak perlu tahu darimana berita itu berasal.Berita itu sudah menjadi milik publik pak Dhe", jawab Udin.
"Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengharamkan rokok bagi anak, ibu hamil dan di tempat umum. Apa benar begitu?", kata pak Dhe.
"Iya 'kali pak Dhe. Aku juga cuma dengar-dengar kok", jawab Khalid.
"Nah, apa salahnya dengan fatwa itu? Kalau memang ada salahnya, mari kita luruskan", kata pak Dhe sambil membolak-balik kotak rokoknya.
"Merokok dan tidak merokok adalah hak individu seseorang. Begitu juga hak tubuh terhadap kesehatan. Seorang anak yang merokok jelas tidak jelas manfaatnya", kata pak Dhe melucu, tapi Udin dan Khalid tidak menangkap kelucuan itu.
Mereka terlalu serius mendengar jawaban pak Dhe. Apalagi ketika pak Dhe mulai bercerita tentang manfaat dan mudharat rokok, maka merekapun manggut-manggut.
"Saat ini rokok telah banyak mendatangkan pendapatan bagi negara, demikian juga memberikan kontribusi ketidak sehatan pada para perokok, baik pasif maupun aktif."
"Banyak orang menggantungkan hidupnya pada rokok dan begitu juga banyak orang yang menyerahkan nyawanya untuk rokok"
"Pak Dhe dulu perokok juga, tapi sekarang aku cukup memegang bungkus rokok saja sudah puas. Jadi mari kita puaskan diri dengan hal-hal yang tidak merugikan diri sendiri maupun -apalagi- orang lain. Mari kita dukung segala usaha untuk memperbaiki kualitas hidup kita maupun kualitas lingkungan kita"
"Tapi sebenarnya merokok itu gak haram kan pak Dhe?" tiba-tiba Edi nimbrung.
"He..he...he... kamu masih merokok ya Ed? Memang di Al Quran tidak ada ayat yang menunjukkan secara jelas bahwa merokok itu haram. Jadi kalau kamu memakai dasar itu sebagai pembenaranmu untuk merokok, ya silahkan saja. Kalau kamu hanya sampai tingkat makruh, ya yakinilah kalau itu adalah pendapat yang benar"
"Seorang ulama yang memutuskan bahwa merokok itu makruh tentu harus dihargai. Ilmunya yang tinggi tentu sudah dipakainya untuk dasar mengeluarkan fartwa merokok itu makruh atau haram. Jadi kita ikut aliran yang menurut kita paling benar saja, kecuali kalau kalian memang berniat jadi ulama, sehingga punya cukup ilmu untuk menentukan makruh atau haram"
"Jadi silahkan tentukan sendiri merokok itu boleh, makruh atau haram. Aku mau wudhu dulu", pak Dhepun ngeloyor meninggalkan diskusi itu.
"Jadi Rokok gak haram pak Dhe?", Edi masih mengejar pak Dhe dengan pertanyaannya.
"It's up to you", kata pak Dhe sambil tersenyum.
"Kalau pendapat pak Dhe sendiri?", penasaran, Udinpun ikut mengejar pak Dhe dengan pertanyaannya.
"Aku sudah tidak merokok karena melihat manfaat dan mudharat merokok itu terhadap diriku dan lingkunganku. jadi aku tidak sepakat kalau ada orang yang menganjurkan merokok agar pajak negara makin tinggi", pak Dhe menjawab sambil terus menuju tempat wudhu.
"Ihh... kali ini pak Dhe muter-muter ya njawabnya. Menurutku pak Dhe pasti menganggap merokok itu haram dan mengharap para pekerja yang bekerja di pabrik rokok untuk cari pekerjaan lain.Iya kan pak Dhe?" Udin terus mengejar pak Dhe yang sudah sampai ke tempat wudhu.
"Sudah adzan tuh, ayuk wudhu", ajak pak Dhe, sambil mengambil air wudhu
Siang itu, sehabis sholat Dhuhur, di depan mushola, para pecinta rokok terus berdebat dengan mereka yang anti rokok.
Sementara itu pak Dhe memasang stiker "No Smoking" di kaca mushola.

sumber gambar disini dan disini
Langganan:
Postingan (Atom)