Menjelang tidur malam, Lilo mendekatiku dan dengan wajah serius mulai mengajakku bicara.
"Pak, bisa bantu?", katanya
"Bantu apa?", jawabku
"Aku ada PR yang harus selesai malam ini, besok harus dikumpul"
Waduh, kalau ada todongan seperti ini aku pasti langsung resah dan gelisah. Mau dimarahi nanti malah tambah stress, kalau tidak dimarahi ya bisa jadi akan terulang terus. Akhirnya setelah berpikir sejenak, aku mulai duduk kembali dan tidak jadi tidur, tapi berubah menjadi tiduran.
"Kenapa baru sekarang dibahas?", tetap saja nada protes yang keluar dari mulutku, padahal sudah ditahan agar tetap tersenyum.
"Aku sudah lama membahas dengan ibu pak, tapi ya hari ini baru bisa dibahas", Lilo tidak kalah gertak menjawab protesku dengan protesnya dia.
"Ya oke, jadi PR tentang apa?"
"Aku harus wawancara dengan beberapa pengusaha atau wiraswastawan dan mencatat hasil wawancara itu dalam sebuah laporan"
"Lho sudah malam begini siapa yang mau kita ajak wawancara?", aku makin geleng-geleng kepala saja mendengar apa yang harus dilakukan Lilo.
"Ya kita wawancarai saja para angggota TDA Jogja, kan tidak harus bertemu muka, yang penting isinya betul"
Wah bener juga Lilo ini, tapi males juga malem-malem nelpon kawan untuk diajak wawancara. Akhirnya terjadi diskusi panjang sebelum ditemukan solusi yang disepakati bersama.
Yang dipilih sebagai nara sumber pertama adalah ibunya yang ditulis Lilo sebagai pemilik warung Mie Sehati.Wirausahawan yang kedua adalah ibunya lagi dengan judul penjual lotek.
Giliran yang ketiga Lilo mulai bingung, siapa lagi, tapi otaknya bekerja cepat dan menunjuk ibunya lagi untuk menjadi penjual Es Buah.
Nah yang ke empat akhirnya dia putus asa dan menatap wajahku. Akupun langsung siap menjawab pertanyaannya, karena dari tadi aku memang menawarkan diri untuk diwawancarai sebagai penjual Kacang Mete.
"Berapa modal bapak jualan kacang mete?"
"Dua puluh lima juta saja"
"Sudah berapa lama jualan kacang mete?"
"Setiap tahun di bulan puasa"
"Berapa harga jual kacang mete?"
"Seratus empat puluh lima ribu per kilo gram"
"Keuntungnya?"
"xxxxx..... rupiah"
Dengan sigap Lilo mencatat semua jawabanku dan akhirnya dengan mata berbinar-binar Lilo menutup catatan hasil diskusinya. Diapun tidur dengan nyenyak karena laporannya sudah selesai dikerjakannya.
Kupandangi wajah Lilo ketika tidur dan aku mengucap terima kasih pada Tuhan yang telah mengkaruniaku seorang anak ganteng yang lucu dan penuh semangat seperti Lilo. Hidupnya selalu penuh dengan kegembiraan, seolah-olah hidup hanya untuk bersenang-senang saja.
Terima kasih juga buat para guru di sekolah Lilo yang sudah mengajarkan alur berjualan, meskipun akan lebih baik kalau Lilo berdiskusi dengan penjual yang bukan orang tuanya. Jadi ingat ketika Lilo berjualan di Cikarang beberapa tahun lalu. Dia masih sangat kecil dan sudah berjualan dengan sukses. barangnya terjual habis tapi tanpa mengantongi untung, mungkin karena perintahnya latihan berjualan bukan latihan mencari untung. Akibatnya ya proses berjualan lancar tapi proses mencari untung tidak menjadi tujuan jualan.
Alhamdulillah, Lilo terus belajar berjualan dan akhirnya mendapat untung juga.
Semoga semua anakku sukses menjadi wirausahawan/wati, agar Indonesia mempunyai wirausahawan yang jumlahnya banyak dan berkualitas. Amin.
Tampilkan postingan dengan label tda. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tda. Tampilkan semua postingan
Kamis, Agustus 09, 2012
Minggu, Februari 20, 2011
Kopdar Bandung : bukan hura hura
"Jendral yang baik adalah prajurit yang baik"
"Wah kita ini jendral semua nih"
"Hahahaha... ya oke, mari sekali-kali kita juga bisa berperan sebagai prajurit yang baik"
Begitulah kalau memimpin permainan yang pesertanya semua jendral di bidangnya masing-masing. Permainan sederhana bisa menjadi rumit kalau pesertanya merasa kedudukannya paling tinggi. Diperlukan sedikit helaan nafas dan senyum yang selalu terpasang agar suasana tetap riuh terkendali.
"Aku hanya menawarkan permainan yang akan membuat kebersamaan kita menjadi makin bermakna. Berpulang kepada teman-teman, apakah mau bermain atau kita kembali ke ruangan dalam dan cerita ngalor ngidul saja"
"Oke. Siap! Mari kita bermain!"
Permainanpun dimulai dan gelak tawa makin meriah ketika para peserta permainan mulai masuk ke dalam permainan "team building" ini. Seperti permainan yang khas diadakan saat outbound, maka Emosi peserta diaduk-aduk agar proses penyelesaian permainan menimbulkan kesan yang mendalam bagi para peserta permainan.
Itulah salah satu acara dalam rangka kopdar para alumni UGM yang diadakan di rumah mantan Ketua Kagama Riau dan sekaligus juga mantan Kagama Pusat.
Kopdar yang biasanya diisi dengan kegiatan hura-hura, kangen-kangenan dan kegiatan lain yang lebih ditekankan pada acara non formil, kali ini dicoba disisipi dengan kegiatan yang lebih bermakna.
Sharing alumni dilakukan begitu para peserta kopdar sudah kekenyangan dan mulai mengantuk.
"Agar setelah selesai acara ini kita bisa membawa sesuatu yang bermakna, mari kita mulai dengan sharing tentang kampus kita"
"......"
"Apa yang bisa kita lakukan untuk almamater agar ada pemasukan rutin ke almamater?"
"......"
"Kalau kita pakai kartu BNI Kagama ini, maka akan ada 0.3% terhadap transaksi yang dilakukan oleh kita melalui kartu ini yang secara otomatis masuk ke rekening UGM"
"Wah kok kecil amat mas?"
"Yes! Memang kecil, tapi kalau kit amelihat jumlah alumni, maka kita akan bicara angka dalam digit milyard rupiah"
"........"
Pembicaraan tentang kartu kredit BNI Kagama ini akhirnya menyerempet pada plus minus memakai kartu kredit dan juga kelebihan dan kekurangan masing-masing kartu kredit yang dimilki oleh para peserta kopdar.
Beberapa trik dan tips tentang kartu kredit yang kusampaikan diamini oleh beberapa peserta, sehingga suasana makin cair dan semua peserta kopdar sepakat untuk memiliki kartu kredit BNI Kagama dan membuang kartu kredit lama mereka, atau menambah koleksi kartu kredit mereka.
Sharing selanjutnya adalah bagaimana setiap kopdar harus ditindaklanjuti dengan langkah yang nyata.
"Kopdar yang lalu mas Wawan telah menunjukkan betapa perlunya sinergi di antara peserta kopdar. Silahkan mas Wawan sampaikan"
"Ya mas Eko, beberapa proyek yang kujalani telah memakai jasa dari para peserta kopdar ini, tapi aku tidak mau pertemanan ini rusak gara-gara kita masih amatiran. Jadi aku tetap mengedepankan profesionalis di antara kita. Aku pakai jasa dari teman-teman kalau memang itu membuat kita sama-sama untung"
"Wah ini prinsip ISO 9001", kataku dalam hati.
"Di luar peserta kopdar inipun kalau dia masih alumni kita ya kita dahulukan"
"Lho KKN dong mas"
"Tidak seratrus persen benar, karena aku tetap profesional. Kalau dia tidak punya kompetensi yang kubutuhkan, maka ya tidak akan kupakai jasanya, meskipun dia kawan baik kita semua"
"......"
"Kawan hanya dalam arti pemberian kesempatan pertama untuk bernegosiasi, tapi tidak harus dipakai jasanya. Kita harus tetap profesional agar sama-sama untung"
Kalau sudah mulai cerita tentang dunia bisnis, maka pertanyaan yang muncul pasti akan berkisar pada komunitas TDA (tangan di atas), sebuah komunitas wirausaha Indonesia terbaik versi majalah SWA.
Kalau sudah bicara TDA, maka pasti juga akan sampai pada bahasan tentang kelompok mastermind, sebuah kelompok kecil yang ada di komunitas TDA.
"Tidak dianggap anggota TDA jika belum mempunyai kelompok mastermind!"
Di akhir acara sharing, maka tanpa dapat ditahan lagi muncul sebuah pertanyaan yang terpaksa kujawab dengan cukup panjang lebar.
"Konsep mie sehati itu gimana mas Eko?"
"Ini adalah bisnis kuliner yang berkonsep hijau, jadi mie yang dibuat sendiri pada hari itu, dijual pada hari itu dan tidak memakai pengawet maupun penyedap"
"Kalau gak laku dimakan sendiri donk"
"Kita punya cara untuk mengatasi hal itu. Kita giling mie per setengah kilo atau setara 9 mangkok, bila sudah habis kita giling lagi, demikian seterusnya, sehingga mie selalu siap saji dan tidak basi"
"Mienya warnanya Hijau?"
"Benar. Mienya berwarna hijau. Pewarnanya berasal dari juice sawi yang kita saring dan dipakai sebagai air adukan mie ini"
Segala pertanyaan tentang mie kusambut dengan jawaban antusias, sehingga semua puas dan koppdar ini terasa menjadi lain dari kopdar yang biasa kita lakukan. Tidak hanya sekedar hura-hura tapi ada nilai yang membuat kita ingin datang lagi di kopdar selanjutnya.
Waktu jua akhirnya yang membuat acara kopdar ini harus ditutup. Dalam kopdar ini beberapa peserta memintaku untuk menanda tangani buku yang kuterbitkan.
"Harus difoto dan ada tulisan namaku di buku itu"
Jadilah acaranya seperti penulis dan fans-nya.
"Wah kita ini jendral semua nih"
"Hahahaha... ya oke, mari sekali-kali kita juga bisa berperan sebagai prajurit yang baik"
Begitulah kalau memimpin permainan yang pesertanya semua jendral di bidangnya masing-masing. Permainan sederhana bisa menjadi rumit kalau pesertanya merasa kedudukannya paling tinggi. Diperlukan sedikit helaan nafas dan senyum yang selalu terpasang agar suasana tetap riuh terkendali.
"Aku hanya menawarkan permainan yang akan membuat kebersamaan kita menjadi makin bermakna. Berpulang kepada teman-teman, apakah mau bermain atau kita kembali ke ruangan dalam dan cerita ngalor ngidul saja"
"Oke. Siap! Mari kita bermain!"
Permainanpun dimulai dan gelak tawa makin meriah ketika para peserta permainan mulai masuk ke dalam permainan "team building" ini. Seperti permainan yang khas diadakan saat outbound, maka Emosi peserta diaduk-aduk agar proses penyelesaian permainan menimbulkan kesan yang mendalam bagi para peserta permainan.
Itulah salah satu acara dalam rangka kopdar para alumni UGM yang diadakan di rumah mantan Ketua Kagama Riau dan sekaligus juga mantan Kagama Pusat.
Kopdar yang biasanya diisi dengan kegiatan hura-hura, kangen-kangenan dan kegiatan lain yang lebih ditekankan pada acara non formil, kali ini dicoba disisipi dengan kegiatan yang lebih bermakna.
Sharing alumni dilakukan begitu para peserta kopdar sudah kekenyangan dan mulai mengantuk.
"Agar setelah selesai acara ini kita bisa membawa sesuatu yang bermakna, mari kita mulai dengan sharing tentang kampus kita"
"......"
"Apa yang bisa kita lakukan untuk almamater agar ada pemasukan rutin ke almamater?"
"......"
"Kalau kita pakai kartu BNI Kagama ini, maka akan ada 0.3% terhadap transaksi yang dilakukan oleh kita melalui kartu ini yang secara otomatis masuk ke rekening UGM"
"Wah kok kecil amat mas?"
"Yes! Memang kecil, tapi kalau kit amelihat jumlah alumni, maka kita akan bicara angka dalam digit milyard rupiah"
"........"
Pembicaraan tentang kartu kredit BNI Kagama ini akhirnya menyerempet pada plus minus memakai kartu kredit dan juga kelebihan dan kekurangan masing-masing kartu kredit yang dimilki oleh para peserta kopdar.
Beberapa trik dan tips tentang kartu kredit yang kusampaikan diamini oleh beberapa peserta, sehingga suasana makin cair dan semua peserta kopdar sepakat untuk memiliki kartu kredit BNI Kagama dan membuang kartu kredit lama mereka, atau menambah koleksi kartu kredit mereka.
Sharing selanjutnya adalah bagaimana setiap kopdar harus ditindaklanjuti dengan langkah yang nyata.
"Kopdar yang lalu mas Wawan telah menunjukkan betapa perlunya sinergi di antara peserta kopdar. Silahkan mas Wawan sampaikan"
"Ya mas Eko, beberapa proyek yang kujalani telah memakai jasa dari para peserta kopdar ini, tapi aku tidak mau pertemanan ini rusak gara-gara kita masih amatiran. Jadi aku tetap mengedepankan profesionalis di antara kita. Aku pakai jasa dari teman-teman kalau memang itu membuat kita sama-sama untung"
"Wah ini prinsip ISO 9001", kataku dalam hati.
"Di luar peserta kopdar inipun kalau dia masih alumni kita ya kita dahulukan"
"Lho KKN dong mas"
"Tidak seratrus persen benar, karena aku tetap profesional. Kalau dia tidak punya kompetensi yang kubutuhkan, maka ya tidak akan kupakai jasanya, meskipun dia kawan baik kita semua"
"......"
"Kawan hanya dalam arti pemberian kesempatan pertama untuk bernegosiasi, tapi tidak harus dipakai jasanya. Kita harus tetap profesional agar sama-sama untung"
Kalau sudah mulai cerita tentang dunia bisnis, maka pertanyaan yang muncul pasti akan berkisar pada komunitas TDA (tangan di atas), sebuah komunitas wirausaha Indonesia terbaik versi majalah SWA.
Kalau sudah bicara TDA, maka pasti juga akan sampai pada bahasan tentang kelompok mastermind, sebuah kelompok kecil yang ada di komunitas TDA.
"Tidak dianggap anggota TDA jika belum mempunyai kelompok mastermind!"
Di akhir acara sharing, maka tanpa dapat ditahan lagi muncul sebuah pertanyaan yang terpaksa kujawab dengan cukup panjang lebar.
"Konsep mie sehati itu gimana mas Eko?"
"Ini adalah bisnis kuliner yang berkonsep hijau, jadi mie yang dibuat sendiri pada hari itu, dijual pada hari itu dan tidak memakai pengawet maupun penyedap"
"Kalau gak laku dimakan sendiri donk"
"Kita punya cara untuk mengatasi hal itu. Kita giling mie per setengah kilo atau setara 9 mangkok, bila sudah habis kita giling lagi, demikian seterusnya, sehingga mie selalu siap saji dan tidak basi"
"Mienya warnanya Hijau?"
"Benar. Mienya berwarna hijau. Pewarnanya berasal dari juice sawi yang kita saring dan dipakai sebagai air adukan mie ini"
Segala pertanyaan tentang mie kusambut dengan jawaban antusias, sehingga semua puas dan koppdar ini terasa menjadi lain dari kopdar yang biasa kita lakukan. Tidak hanya sekedar hura-hura tapi ada nilai yang membuat kita ingin datang lagi di kopdar selanjutnya.
Waktu jua akhirnya yang membuat acara kopdar ini harus ditutup. Dalam kopdar ini beberapa peserta memintaku untuk menanda tangani buku yang kuterbitkan.
"Harus difoto dan ada tulisan namaku di buku itu"
Jadilah acaranya seperti penulis dan fans-nya.
Terima kasih kawan-kawan terbaikku, sampai jumpa di kopdar yang akan datang.
Rabu, Oktober 27, 2010
Hari Blogger Nasional
Begitu banyak yang ingin kutulis dan akhirnya yang kutulis justru yang tidak kurencanakan. Siapa mengira Mbah Marijan akan meninggal dalam peristiwa meletusnya Merapi? Bahkan berita selamatnya mbah Marijan lebih seru dibanding berita yang lain.
Ketika akhirnya mbah Marijan dinyatakan meninggal dan foto mbah Marijan saat diotopsi menyebar kemana-mana, barulah orang mulai ngeh dan saat itupun bertubi-tubi ponselku menerima pesan seputar Bencana di Indonesia, baik di bagian Timur, Tengah maupun Barat.
Akupun kembali terusik menulis tentang Pesta Blogger 2010 yang akan segera berlangsung. Saat hati masih ragu untuk mendatangi acara pesta blogger, saat itu pula banyak ajakan untuk mengikuti pesta blogger demi keberlangsungan beberapa komunitas yang kuikuti.
Seharusnya aku memang ada acara di Jogya, tetapi justru istriku yang mau datang ke Cikarang untuk menyelesaikan beberapa urusan. Akibatnya aku mungkin tetap "stay" di Jakarta menemani istriku, bahkan mungkin bisa mengajak istriku untuk ikutan PB 2010.
Tapi, layakkah kita berpesta di saat ada saudara kita sedang didera bermacam-macam penderitaan?
Berita menyejukkan datang dari salah satu anggota panitia PB 2010, mas ATG. Menurut mas ATG, ada acara khusus di event Pesta Blogger 2010 yang akan membahas masalah kepedulian PB 2010 terhadap masalah bencana nasional yang sedang sangat hangat ini.
Baru saja aku terima berita di inbox ponsel dari teman-teman Tangan Di Atas (TDA).
Ketika akhirnya mbah Marijan dinyatakan meninggal dan foto mbah Marijan saat diotopsi menyebar kemana-mana, barulah orang mulai ngeh dan saat itupun bertubi-tubi ponselku menerima pesan seputar Bencana di Indonesia, baik di bagian Timur, Tengah maupun Barat.
Akupun kembali terusik menulis tentang Pesta Blogger 2010 yang akan segera berlangsung. Saat hati masih ragu untuk mendatangi acara pesta blogger, saat itu pula banyak ajakan untuk mengikuti pesta blogger demi keberlangsungan beberapa komunitas yang kuikuti.
Seharusnya aku memang ada acara di Jogya, tetapi justru istriku yang mau datang ke Cikarang untuk menyelesaikan beberapa urusan. Akibatnya aku mungkin tetap "stay" di Jakarta menemani istriku, bahkan mungkin bisa mengajak istriku untuk ikutan PB 2010.
Tapi, layakkah kita berpesta di saat ada saudara kita sedang didera bermacam-macam penderitaan?
Berita menyejukkan datang dari salah satu anggota panitia PB 2010, mas ATG. Menurut mas ATG, ada acara khusus di event Pesta Blogger 2010 yang akan membahas masalah kepedulian PB 2010 terhadap masalah bencana nasional yang sedang sangat hangat ini.
Baru saja aku terima berita di inbox ponsel dari teman-teman Tangan Di Atas (TDA).
Kawan-kawan,
Info siang ini kebutuhan makan di Pengungsian Hargobinangun Merapi saja 2.000 orang lebih, belum di lokasi lain,
Kedai Digital Corp sejak pukul 12 siang td mengumpulkan dana melalui Twitter, BBM dan Fesbuk, sampai saat ini sdh terkumpul dana 19.750.000.. Bagi yg ingin bergabung monggo transfer ke BCA 4563000000 a/n Saptuari Sugiharto.
Luar biasa teman-teman TDA ini.Mereka tidak hanya ngomong doang tapi langsung menuju sasaran dan langsung membawa pertolongan pada yang memerlukan. Salut buat teman-teman TDA.
Beberapa jam kemudian kulihat di FB Saptuari ada tulisan ini :
Sampai pukul 18:50 bantuan DANA UNTUK MERAPI melalui Posko Kedai Digital Corp sejumlah: Rp. 40.680.000.. Malam ini kami mulai belanja!
+++
Hendaknya semangat untuk membantu tidak hanya terfokus di Jogyakarta saja.
Mungkin di Papua dan di Mentawai kondisinya jauh lebih parah dan bantuan juga lebih sulit sampai.
Di Hari Blogger Nasional ini mari kita ingatkan diri kita masing-masing, "sudah sejauh mana kita bermanfaat bagi lingkungan kita?"
Minggu, September 05, 2010
Hari yang panjang
"Hape ibu dicopet orang pak!", kata istriku di ujung telepon.
"Ibu kenapa gak ati-ati sih?", kataku dalam hati
"Gimana ceritanya?", ucapku yang terlontar lewat telepon
"Pasarnya rame banget dan ibu didesak-desak olah banyak orang. Didorong-dorong dan tahu-tahu dompet ibu sudah hilang"
"Tahu pasar ramai kok dimasukin. Kok nggak nyari tempat yang nggak rame sih? Dari tadi pagi aku kan sudah bilang nggak mau ke pasar Jatinegara, barang yang dijual murah tapi copetnya bikin ngeri", kataku masih dalam hati
"Ibu kok gak ati-ati sih", akhirnya terlontar juga ucapan yang ada di dalam hatiku tadi
"Dompetnya sudah kupegangi, tapi tetap juga tahu-tahu hilang tanpa terasa"
"Ya sudah kirim SMS saja apa yang hilang nanti kita urus. Segera lapor kantor polisi dan aku akan telepon ke Mandiri untuk blokir kartu ATM itu"
"Aku gak apal nomor hape bapak"
"Halah...lha tadi kok bisa kirim SMS ke aku"
"Itu nomor Litha. Aku kirim SMS ke Litha dan Litha yang kirim SMS ke Bapak"
"Lho? Aku kok nggak ada data nomor Litha yang ini?", kataku dalam hati
"Kalau begitu ibu kirim lagi SMS ke Litha dan tulsi apa saja yang hilang yang bis asegera kita blokir", kataku via telepon sambil tetap bertanya-tanya "kok aku nggak punya nomor Litha ya?"
Akupun kemudian telepon ke Bank Mandiri 14000 dan setelah lama menunggu antrian, akhirnya bisa juga bicara dengan operator Bank Mandiri.
Wow, ternyata lapor kehilangan kartu ATM Mandiri ini benar-benar "njlimet" karena pihak Bank memberi pertanyaan yang sangat teliti. Mbak Lila, sang operator dari bank Mandiri, begitu telaten bertanya segala macam pertanyaan standard yang aku kadang-kadang kebingungan menjawabnya.
Kapan transaksi terakhir, berapa saldonya, dimana buka tabungan pertama kali, dan pertanyaan semacam itu yang membuat aku harus memeras otak dulu untuk mengingatnya.
Akhirnya sukses juga melakukan blokir ATM Mandiri. Tinggal melakukan blokir untuk kartu-kartu yang lain.
Jadilah hari ini penuh dengan acara lapor ke kepolisian, telepoon ke Bank, Gerai Provider Fren dan segala tetek bengeknya masuk foto copy laporan ke Polisi.
Yang bikin suasana jadi meriah adalah hilangnya nomor ponsel Kak Bimo yang hari ini harus mengisi acara di Islamic Centre bekasi.
Sebuah tajuk acara "Ceria Bersama Anak-anak" digelar oleh Komunitas Tangan Di Atas (TDA) Bekasi dengan mendatangkan Pendongeng Sejuta Anak, Kak Bimo dan yang menarik adalah tidak ada yang tahu nomor ponsel kak Bimo, sementara itu kak Bimo juga tidak melihat statusku di FB kalau nomor ponsel istriku tidak bisa dihubungi karena dicopet orang.
Alhasil, perlu bantuan dari anak-anakku yang di Jogja untuk main ke rumah kak Bimo untuk menanyakan nomor Kak Bimo.
Fuih...!
Akhirnya, dapat juga SMS dari anak-anakku berisi nomor ponsel kak Bimo. Alhamdulillah. Terima kasih pada kedua anakku yang mau berjalan kaki di tengah panasnya cuaca menuju rumah Kak Bimo.
Puji syukur kupanjatkan ke pada Allah swt. Acara "Ceria bersama Anak-anak" sukses luar biasa berkat penampilan para pengisi acaranya yang memang pilihan.
Penampilan kak Bimo juga layak diacungi jempol. Hampir semua anak-anak tersihir oleh ucapan dan gerak-gerik kak Bimo yang sangat atraktif. Bahkan orang tua yang ikut hadir di acara itupun ikut terkekeh-kekeh melihat aksi kak Bimo di Panggung.
Selesai acara Lilo haerus pulang lagi ke Jogja, bersama kak Bimo dan istriku. Malam semakin larut ketika akhirnya aku tinggal sendirian lagi di Jakarta.
Tanggal 7 September 2010 insya Allah bisa mudik dan berkumpul bersama handai taulan di Jogja. Ada mudik Waskita, mudik Sipil, temu Cimart, Munas Katgama (versi internet) dan kopdar TDA Jogja menungguku. Belum lagi acara pertemuan dua keluarga besar kami (keluarga istriku dan keluargaku) di rumah Cungkuk.
Semoga aku bisa mengikuti semua acara itu dengan baik. Amin.
"Ibu kenapa gak ati-ati sih?", kataku dalam hati
"Gimana ceritanya?", ucapku yang terlontar lewat telepon
"Pasarnya rame banget dan ibu didesak-desak olah banyak orang. Didorong-dorong dan tahu-tahu dompet ibu sudah hilang"
"Tahu pasar ramai kok dimasukin. Kok nggak nyari tempat yang nggak rame sih? Dari tadi pagi aku kan sudah bilang nggak mau ke pasar Jatinegara, barang yang dijual murah tapi copetnya bikin ngeri", kataku masih dalam hati
"Ibu kok gak ati-ati sih", akhirnya terlontar juga ucapan yang ada di dalam hatiku tadi
"Dompetnya sudah kupegangi, tapi tetap juga tahu-tahu hilang tanpa terasa"
"Ya sudah kirim SMS saja apa yang hilang nanti kita urus. Segera lapor kantor polisi dan aku akan telepon ke Mandiri untuk blokir kartu ATM itu"
"Aku gak apal nomor hape bapak"
"Halah...lha tadi kok bisa kirim SMS ke aku"
"Itu nomor Litha. Aku kirim SMS ke Litha dan Litha yang kirim SMS ke Bapak"
"Lho? Aku kok nggak ada data nomor Litha yang ini?", kataku dalam hati
"Kalau begitu ibu kirim lagi SMS ke Litha dan tulsi apa saja yang hilang yang bis asegera kita blokir", kataku via telepon sambil tetap bertanya-tanya "kok aku nggak punya nomor Litha ya?"
Akupun kemudian telepon ke Bank Mandiri 14000 dan setelah lama menunggu antrian, akhirnya bisa juga bicara dengan operator Bank Mandiri.
Wow, ternyata lapor kehilangan kartu ATM Mandiri ini benar-benar "njlimet" karena pihak Bank memberi pertanyaan yang sangat teliti. Mbak Lila, sang operator dari bank Mandiri, begitu telaten bertanya segala macam pertanyaan standard yang aku kadang-kadang kebingungan menjawabnya.
Kapan transaksi terakhir, berapa saldonya, dimana buka tabungan pertama kali, dan pertanyaan semacam itu yang membuat aku harus memeras otak dulu untuk mengingatnya.
Akhirnya sukses juga melakukan blokir ATM Mandiri. Tinggal melakukan blokir untuk kartu-kartu yang lain.
Jadilah hari ini penuh dengan acara lapor ke kepolisian, telepoon ke Bank, Gerai Provider Fren dan segala tetek bengeknya masuk foto copy laporan ke Polisi.
Yang bikin suasana jadi meriah adalah hilangnya nomor ponsel Kak Bimo yang hari ini harus mengisi acara di Islamic Centre bekasi.
Sebuah tajuk acara "Ceria Bersama Anak-anak" digelar oleh Komunitas Tangan Di Atas (TDA) Bekasi dengan mendatangkan Pendongeng Sejuta Anak, Kak Bimo dan yang menarik adalah tidak ada yang tahu nomor ponsel kak Bimo, sementara itu kak Bimo juga tidak melihat statusku di FB kalau nomor ponsel istriku tidak bisa dihubungi karena dicopet orang.
Alhasil, perlu bantuan dari anak-anakku yang di Jogja untuk main ke rumah kak Bimo untuk menanyakan nomor Kak Bimo.
Fuih...!
Akhirnya, dapat juga SMS dari anak-anakku berisi nomor ponsel kak Bimo. Alhamdulillah. Terima kasih pada kedua anakku yang mau berjalan kaki di tengah panasnya cuaca menuju rumah Kak Bimo.
Puji syukur kupanjatkan ke pada Allah swt. Acara "Ceria bersama Anak-anak" sukses luar biasa berkat penampilan para pengisi acaranya yang memang pilihan.
Penampilan kak Bimo juga layak diacungi jempol. Hampir semua anak-anak tersihir oleh ucapan dan gerak-gerik kak Bimo yang sangat atraktif. Bahkan orang tua yang ikut hadir di acara itupun ikut terkekeh-kekeh melihat aksi kak Bimo di Panggung.
Selesai acara Lilo haerus pulang lagi ke Jogja, bersama kak Bimo dan istriku. Malam semakin larut ketika akhirnya aku tinggal sendirian lagi di Jakarta.
Tanggal 7 September 2010 insya Allah bisa mudik dan berkumpul bersama handai taulan di Jogja. Ada mudik Waskita, mudik Sipil, temu Cimart, Munas Katgama (versi internet) dan kopdar TDA Jogja menungguku. Belum lagi acara pertemuan dua keluarga besar kami (keluarga istriku dan keluargaku) di rumah Cungkuk.
Semoga aku bisa mengikuti semua acara itu dengan baik. Amin.
Minggu, April 11, 2010
Pak Dhe ngeBLOG (lagi)
Semua teman-teman TDA Bekasi langsung bersorak sorai begitu terlihat tampilan cover buku pak Dhe ngeBlog muncul di dua layar raksasa yang berada di background panggung dan di samping panggung.
Sang pembawa acarapun mulai berkicau tentang buku ini.
"Inilah potret anda, teman-teman anda dan potret siapa saja yang kadang tegar menghadapi hidup dan kehidupan ini, namun kadang begitu rapuh menerima cobaan yang datang"
Tepuk tangan mengikuti ucapan sang pembawa acara, siapa lagi yang bertepuk tangan kalau bukan aku sendiri.
Sang pembawa acarapun melanjutkan ucapannya.
"....dan inilah Komentar singkat khas Nukman Luthfie tentang buku ini TOP MARKOTOP!"
Kembali aku bertepuk tangan sendirian dan pembawa acara terus melanjutkan komentarnya tentang buku pak Dhe NgeBlog.
"... Amril Taufik Gobel [finalis blogger internasional, anggota TDA] memberi komentarnya..."
"Buku Pakde Eko ini tak sekedar menyajikan catatan tentang hikmah kehidupan namun juga menyiratkan sebuah upaya humanis memaknai setiap desir interaksi antar pribadi serta komunitas yang kerap bersentuhan langsung dengan eksistensi Pakde Eko.
Dituturkan dengan gaya bahasa yang lancar mengalir, sederhana, jernih dan jenaka.
Buku ini layak menjadi pilihan pilihan bacaan yang memikat bagi pencerahan hati dan usaha melapangkan jiwa dengan berbagi.
Selamat Pakde Eko"
Kali ini semua teman-teman TDA Bekasi sudah selesai menyantap makan siangnya, sehingga yang bertepuk tangan tidak hanya aku sendiri.
"Orangnya mana...orangnya mana?"
"Pak Dhe mana...pak De mana..?"
Dengan penuh percaya diri akupun berdiri dan berbalik dan menghadap ke arah penonton yang tumpleg bleg di belakang deretan kursi belakang. Itulah lantai kosong yang disulap sebagai tempat makan siang di acara #pestawirausaha 2010 dalam rangka milad IV Tangan Di Atas, sebuah komunitas wira usaha terbesar saat ini di Indonesia (versi majalah SWA).
Buku Pak Dhe ngeBlog ini memang fenomenal bagi beberapa temanku. Banyak kisah lucu dan menarik tentang buku ini. Bagaimana sebuah buku mau dijual sedangkan bukunya saja belum ada, bahkan judulnya saja belum ada.
Buku inipun belum juga sempat dilaunching malah sudah dijual di kampus ITB dalam rangka blogshop Kompasiana.
Hasil penjualan Buku ini juga pernah dipakai sebagai salah satu modal untuk berdirinya komunitas BeBlog dan pernah juga dipakai sebagai bonus bagi mereka yang menyumbangkan uang untuk membantu teman-teman yang terkena musibah gempa ataupun tanah longsor saat pertemuan reuni akbar Sipil UGM.
Saat ini buku pak Dhe ngeBlog ini hanya dijual di gerai Mie Ayam SEHATI. Ke depannya buku ini akan dicetak oleh penerbit besar yang peduli dengan pendidikan Indonesia dan bukan oleh penerbit yang melulu mencari keuntungan materiil. Tunggu saja penerbit mana yang paling baik tawarannya.
Bila tidak ada penerbit yang menarik hatiku, maka mungkin kita perlu mendirikan penerbit yang dikelola oleh TDA dan menerbitkan buku-buku bermutu bukan buku-buku yang membodohkan pembacanya.
Meski warga TDA wajib punya mimpi, tapi bukan buku mimpi yang kita terbitkan tapi buku tentang semangat kebersamaan menebar rahmahlah yang akan kita terbitkan.
Salam
Para Pendukung Pak Dhe NgeBLOG di Pesta Wira Usaha 2010. Inilah kelompok narsis dari TDA Bekasi.
+++
Tidak lupa bernarsis ria bersama istri tercinta, satu-satunya dan selamanya.
+++
Sang pembawa acarapun mulai berkicau tentang buku ini.
"Inilah potret anda, teman-teman anda dan potret siapa saja yang kadang tegar menghadapi hidup dan kehidupan ini, namun kadang begitu rapuh menerima cobaan yang datang"
Tepuk tangan mengikuti ucapan sang pembawa acara, siapa lagi yang bertepuk tangan kalau bukan aku sendiri.
Sang pembawa acarapun melanjutkan ucapannya.
"....dan inilah Komentar singkat khas Nukman Luthfie tentang buku ini TOP MARKOTOP!"
Kembali aku bertepuk tangan sendirian dan pembawa acara terus melanjutkan komentarnya tentang buku pak Dhe NgeBlog.
"... Amril Taufik Gobel [finalis blogger internasional, anggota TDA] memberi komentarnya..."
"Buku Pakde Eko ini tak sekedar menyajikan catatan tentang hikmah kehidupan namun juga menyiratkan sebuah upaya humanis memaknai setiap desir interaksi antar pribadi serta komunitas yang kerap bersentuhan langsung dengan eksistensi Pakde Eko.
Dituturkan dengan gaya bahasa yang lancar mengalir, sederhana, jernih dan jenaka.
Buku ini layak menjadi pilihan pilihan bacaan yang memikat bagi pencerahan hati dan usaha melapangkan jiwa dengan berbagi.
Selamat Pakde Eko"
Kali ini semua teman-teman TDA Bekasi sudah selesai menyantap makan siangnya, sehingga yang bertepuk tangan tidak hanya aku sendiri.
"Orangnya mana...orangnya mana?"
"Pak Dhe mana...pak De mana..?"
Dengan penuh percaya diri akupun berdiri dan berbalik dan menghadap ke arah penonton yang tumpleg bleg di belakang deretan kursi belakang. Itulah lantai kosong yang disulap sebagai tempat makan siang di acara #pestawirausaha 2010 dalam rangka milad IV Tangan Di Atas, sebuah komunitas wira usaha terbesar saat ini di Indonesia (versi majalah SWA).
Buku Pak Dhe ngeBlog ini memang fenomenal bagi beberapa temanku. Banyak kisah lucu dan menarik tentang buku ini. Bagaimana sebuah buku mau dijual sedangkan bukunya saja belum ada, bahkan judulnya saja belum ada.
Buku inipun belum juga sempat dilaunching malah sudah dijual di kampus ITB dalam rangka blogshop Kompasiana.
Hasil penjualan Buku ini juga pernah dipakai sebagai salah satu modal untuk berdirinya komunitas BeBlog dan pernah juga dipakai sebagai bonus bagi mereka yang menyumbangkan uang untuk membantu teman-teman yang terkena musibah gempa ataupun tanah longsor saat pertemuan reuni akbar Sipil UGM.
Saat ini buku pak Dhe ngeBlog ini hanya dijual di gerai Mie Ayam SEHATI. Ke depannya buku ini akan dicetak oleh penerbit besar yang peduli dengan pendidikan Indonesia dan bukan oleh penerbit yang melulu mencari keuntungan materiil. Tunggu saja penerbit mana yang paling baik tawarannya.
Bila tidak ada penerbit yang menarik hatiku, maka mungkin kita perlu mendirikan penerbit yang dikelola oleh TDA dan menerbitkan buku-buku bermutu bukan buku-buku yang membodohkan pembacanya.
Meski warga TDA wajib punya mimpi, tapi bukan buku mimpi yang kita terbitkan tapi buku tentang semangat kebersamaan menebar rahmahlah yang akan kita terbitkan.
Salam
Para Pendukung Pak Dhe NgeBLOG di Pesta Wira Usaha 2010. Inilah kelompok narsis dari TDA Bekasi.
+++
Tidak lupa bernarsis ria bersama istri tercinta, satu-satunya dan selamanya.
+++
Sabtu, April 03, 2010
LiLo tebar Virus TDA
"Gimana rasanya ikut demo mas LiLo?", sapa mas Hekso pada Lilo yang baru saja datang di acara arisan keluarga ibunya Lilo.
Acara arisan ini memang bertepatan harinya dengan acara Tebar [pesona] virus TDA di Bunderan HI yang diadakan dalam rangka Milad IV TDA berupa rangkaian acara Pesta Wirausaha 2010.
Lilo dan aku datang pagi-pagi ke lokasi acara tebar virus TDA dan disana sudah kulihat mas Didin dan Mas Oni serta beberapa teman TDA yang belum kukenal secara akrab. Beberapa saat kemudian teman-teman TDA lainnya mulai berdatangan dan riuh rendah suara mereka saling bersahutan dengan pokok bahasan yang berbeda-beda.
Agak lain dari biasanya, teman-teman TDA Bekasi tidak banyak yang nongol di acara ini. Pak Dewanto sedang tidak enak badan, mas Andhika malah kontak-kontakan via SMS membahas pakaian batik buat istriku. Pak Ato dan mas Irfan yang biasanya aktif dalam berbagai macam kegiatan TDA juga tidak kelihatan batang hidungnya.
Akupun akhirnya ikut larut dalam pembicaraan mereka. Ikut tertawa geli karena biasanya kita saling sapa di BBM tapi begitu ketemu malah saling tidak kenal. Begitulah dunia maya, terasa begitu akrab tapi begitu masuk dunia offline malah saling kagok.
Blackberry sering disebut sebagai gadget yang mampu mendekatkan orang yang saling tidak mengenal bagai saudara dekat, tapi dibalik itu kadang membuat teman dekat ataupun keluarga di rumah jadi terlupakan.
Pernah terlihat dalam suatu meja makan di suatu resto di sebuah mall, sebuah keluarga sedang asyik makan dengan tangan kanan dan main ponsel di tangan kirinya. Bapak, ibu dan anaknya saling berkomunikasi dengan orang yang jauh dan saling melupakan orang yang begitu dekat dengan dirinya.
Lilo akhirnya nyari kegiatan sendiri karena bapaknya malah asyik dengan teman-teman TDA-nya. Akupun akhirnya menyadari kalau LiLo bosen menyadari acara yang diikutinya tidak sesuai dengan harapannya.
Akupun meninggalkan kerumunan teman-teman TDA dan mengikuti Lilo berjalan-jalan. Lihat-lihat sepeda patroli polisi, nyari-nyari kaos ukuran "S" buat dia sampai akhirnya malah naik MOGE-nya pak polisi.
Dasar Lilo, tidak pernah bisa diam. Jalan terus kemana-mana, sampai akhirnya berhenti juga di toilet, karena ada yang perlu dibuang dari tubuhnya. Di toilet itu berkumpulah para gladiatris dan panitia dari EO yang bertanggung jawab terhadap kelancaran acara pagi ini.
"Om gak boleh ngerokok", kata para gladiatris yang sexy-sexy itu.
"Mana? Emang ada tandanya?", si Om rupanya penasaran tetap mau merokok, sampai akhirnya dia melihat tanda dilarang merokok.
Para gadis itupun saling cekikikan melihat kekecewaan si Om.
"Makanya tadi aku sudah merokok sebelum ke sini", kata salah satu dari gladiatris yang berpakain super seksi karena modelnya yang super ketat.
Wah rupanya mereka, para gladiatris itu, suka merokok dalam kesehariannya. Untung istriku tidak seperti mereka. Meskipun merokok masih diperdebatkan halal dan haramnya, tetapi aku termasuk golongan mereka yang lebih suka melihat orang yang tidak merokok, cewek maupun cowok.
Aku lebih suka dianggap "ndeso" bin "katrok" daripada harus merokok untuk diterima dalam suatu komunitas.
Hari makin siang dan tanda-tanda acara dimulai belum juga kelihatan. Kaos sudah dibagikan dan briefing sudah dilakukan tetapi pasukan belum juga bergerak. Acara menunggu inipun dimanfaatkan untuk saling bernarsis ria denagn segala macam bentuk dan model.
Saat Lilo di puncak kegelisahannya diadakan lagi briefing final.
"Kita akan mulai tepat jam 09.15 saat lalu lintas sudah lebih ramai", begitu kata koordinator acara.
Rupanya pasukan ini bergerak menunggu ramainya lalu lintas. Itu sebabnya dari tadi kok nggak juga bergerak ke bundaran HI.
Pak Iim, presiden TDA, akhirnya memimpin doa untuk kesuksesan acara ini. Para TDAers sudah terlihat tidak sabar ingin segera menuju ke tengah bunderan HI.
"Gladiator bertugas sesuai posisi yang sudah ditentukan, demikian juga para gladiatris. Selebaran kan dibagikan oleh tim khsuus, teman-teman dari TDA situasional saja. Biar tidak terkesan jadi crowded, biarkan petugas pembagi selebaran saja yang membagikan selebaran ini", begitu arahan koordinator acara dan para TDAers terlihat manggut-manggut tanda memahami aturan yang disampaikan.
"Teman-teman TDA silahkan membuat setengah lingkaran agar terlihat kompak dan tidak terlihat seperti gerombolan liar", lanjut sang koordinator dan disambut dengan senyum para TDAers. Mereka senyum sambil manggut-manggut, meskipun aku tidak tahu pasti apakah mereka itu memahami dan mau melaksanakan atau sekedar manggut-manggut saja untuk menyenangkan sang koordinator.
Begitulah, akhirnya sebelum jam yang ditentukan para TDAers sudah melangkah menuju bunderan HI. Mau sepi mau ramai sudah tidak menjadi pemikiran para TDAers, mereka hanya ingin segera menuju ke bunderan dan saling bernarsis ria disana.
Pengarahan dari koordinator rupanya sudah mereka lupakan. Apalagi ada pelawak terkenal di lokasi tebar virus TDA ini. Meski malu-malu, terlihat banyak teman-teman TDA yang mengajak host acara "Assalamu'alaikum ustadz" ini untuk berfoto bersama.
Baru beberapa saat berada di bunderan HI sudah mulai terdengar keluhan dari para gladiatris.
"Aduh panas sekali di sini", begitu kata mereka.
Kulihat Lilo juga kepanasan dan wajahnya tidak mencerminkan suatu keceriaan yang sedari tadi sudah muncul. Aku sendiri merasakan udara di pagi ini sangat panas. Matahari begitu perkasa bersinar di atas sana. Panasnya terasa membakar kulitku yang baru saja terbakar mengelupas gara-gara matahari Bogor saat out bound minggu lalu.
Pada kondisi seperti ini, maka yang paling baik adalah menganggap panas matahari sebagai pembakar semangat kita, sehingga dapat mengurangi ketersiksaan kulit kita.
Bener juga, saat aku menganggap matahari panas ini kuanggap sebagai pembakar semangat, maka panasnya jadi terasa berkurang. Apalagi ketika angin bertiup dan membawa butiran air mancur ke tubuhku. Basahlah badan ini dan terasa kesejukan yang nikmat di siang yang seharusnya panas ini.
Lilo yang tadinya sudah pingin pulang untuk nonton TV dan ikut acara arisan keluarga jadi lupa waktu dan pingin terus berada di tengah bundaran HI sambil mandi air mancur.
Saat siang makin panas, maka akhirnya aku harus meninggalkan lokasi tebar virus ini dan menuju ke Cikarang untuk mengikuti acara arisan keluarga.
Sakses buat acara #pestawirausaha 2010 dalam rangka Milad IV TDA [tangan di atas]
+++
Acara arisan ini memang bertepatan harinya dengan acara Tebar [pesona] virus TDA di Bunderan HI yang diadakan dalam rangka Milad IV TDA berupa rangkaian acara Pesta Wirausaha 2010.
Lilo dan aku datang pagi-pagi ke lokasi acara tebar virus TDA dan disana sudah kulihat mas Didin dan Mas Oni serta beberapa teman TDA yang belum kukenal secara akrab. Beberapa saat kemudian teman-teman TDA lainnya mulai berdatangan dan riuh rendah suara mereka saling bersahutan dengan pokok bahasan yang berbeda-beda.
Agak lain dari biasanya, teman-teman TDA Bekasi tidak banyak yang nongol di acara ini. Pak Dewanto sedang tidak enak badan, mas Andhika malah kontak-kontakan via SMS membahas pakaian batik buat istriku. Pak Ato dan mas Irfan yang biasanya aktif dalam berbagai macam kegiatan TDA juga tidak kelihatan batang hidungnya.
Akupun akhirnya ikut larut dalam pembicaraan mereka. Ikut tertawa geli karena biasanya kita saling sapa di BBM tapi begitu ketemu malah saling tidak kenal. Begitulah dunia maya, terasa begitu akrab tapi begitu masuk dunia offline malah saling kagok.
Blackberry sering disebut sebagai gadget yang mampu mendekatkan orang yang saling tidak mengenal bagai saudara dekat, tapi dibalik itu kadang membuat teman dekat ataupun keluarga di rumah jadi terlupakan.
Pernah terlihat dalam suatu meja makan di suatu resto di sebuah mall, sebuah keluarga sedang asyik makan dengan tangan kanan dan main ponsel di tangan kirinya. Bapak, ibu dan anaknya saling berkomunikasi dengan orang yang jauh dan saling melupakan orang yang begitu dekat dengan dirinya.
Lilo akhirnya nyari kegiatan sendiri karena bapaknya malah asyik dengan teman-teman TDA-nya. Akupun akhirnya menyadari kalau LiLo bosen menyadari acara yang diikutinya tidak sesuai dengan harapannya.
Akupun meninggalkan kerumunan teman-teman TDA dan mengikuti Lilo berjalan-jalan. Lihat-lihat sepeda patroli polisi, nyari-nyari kaos ukuran "S" buat dia sampai akhirnya malah naik MOGE-nya pak polisi.
Dasar Lilo, tidak pernah bisa diam. Jalan terus kemana-mana, sampai akhirnya berhenti juga di toilet, karena ada yang perlu dibuang dari tubuhnya. Di toilet itu berkumpulah para gladiatris dan panitia dari EO yang bertanggung jawab terhadap kelancaran acara pagi ini.
"Om gak boleh ngerokok", kata para gladiatris yang sexy-sexy itu.
"Mana? Emang ada tandanya?", si Om rupanya penasaran tetap mau merokok, sampai akhirnya dia melihat tanda dilarang merokok.
Para gadis itupun saling cekikikan melihat kekecewaan si Om.
"Makanya tadi aku sudah merokok sebelum ke sini", kata salah satu dari gladiatris yang berpakain super seksi karena modelnya yang super ketat.
Wah rupanya mereka, para gladiatris itu, suka merokok dalam kesehariannya. Untung istriku tidak seperti mereka. Meskipun merokok masih diperdebatkan halal dan haramnya, tetapi aku termasuk golongan mereka yang lebih suka melihat orang yang tidak merokok, cewek maupun cowok.
Aku lebih suka dianggap "ndeso" bin "katrok" daripada harus merokok untuk diterima dalam suatu komunitas.
Hari makin siang dan tanda-tanda acara dimulai belum juga kelihatan. Kaos sudah dibagikan dan briefing sudah dilakukan tetapi pasukan belum juga bergerak. Acara menunggu inipun dimanfaatkan untuk saling bernarsis ria denagn segala macam bentuk dan model.
Saat Lilo di puncak kegelisahannya diadakan lagi briefing final.
"Kita akan mulai tepat jam 09.15 saat lalu lintas sudah lebih ramai", begitu kata koordinator acara.
Rupanya pasukan ini bergerak menunggu ramainya lalu lintas. Itu sebabnya dari tadi kok nggak juga bergerak ke bundaran HI.
Pak Iim, presiden TDA, akhirnya memimpin doa untuk kesuksesan acara ini. Para TDAers sudah terlihat tidak sabar ingin segera menuju ke tengah bunderan HI.
"Gladiator bertugas sesuai posisi yang sudah ditentukan, demikian juga para gladiatris. Selebaran kan dibagikan oleh tim khsuus, teman-teman dari TDA situasional saja. Biar tidak terkesan jadi crowded, biarkan petugas pembagi selebaran saja yang membagikan selebaran ini", begitu arahan koordinator acara dan para TDAers terlihat manggut-manggut tanda memahami aturan yang disampaikan.
"Teman-teman TDA silahkan membuat setengah lingkaran agar terlihat kompak dan tidak terlihat seperti gerombolan liar", lanjut sang koordinator dan disambut dengan senyum para TDAers. Mereka senyum sambil manggut-manggut, meskipun aku tidak tahu pasti apakah mereka itu memahami dan mau melaksanakan atau sekedar manggut-manggut saja untuk menyenangkan sang koordinator.
Begitulah, akhirnya sebelum jam yang ditentukan para TDAers sudah melangkah menuju bunderan HI. Mau sepi mau ramai sudah tidak menjadi pemikiran para TDAers, mereka hanya ingin segera menuju ke bunderan dan saling bernarsis ria disana.
Pengarahan dari koordinator rupanya sudah mereka lupakan. Apalagi ada pelawak terkenal di lokasi tebar virus TDA ini. Meski malu-malu, terlihat banyak teman-teman TDA yang mengajak host acara "Assalamu'alaikum ustadz" ini untuk berfoto bersama.
Baru beberapa saat berada di bunderan HI sudah mulai terdengar keluhan dari para gladiatris.
"Aduh panas sekali di sini", begitu kata mereka.
Kulihat Lilo juga kepanasan dan wajahnya tidak mencerminkan suatu keceriaan yang sedari tadi sudah muncul. Aku sendiri merasakan udara di pagi ini sangat panas. Matahari begitu perkasa bersinar di atas sana. Panasnya terasa membakar kulitku yang baru saja terbakar mengelupas gara-gara matahari Bogor saat out bound minggu lalu.
Pada kondisi seperti ini, maka yang paling baik adalah menganggap panas matahari sebagai pembakar semangat kita, sehingga dapat mengurangi ketersiksaan kulit kita.
Bener juga, saat aku menganggap matahari panas ini kuanggap sebagai pembakar semangat, maka panasnya jadi terasa berkurang. Apalagi ketika angin bertiup dan membawa butiran air mancur ke tubuhku. Basahlah badan ini dan terasa kesejukan yang nikmat di siang yang seharusnya panas ini.
Lilo yang tadinya sudah pingin pulang untuk nonton TV dan ikut acara arisan keluarga jadi lupa waktu dan pingin terus berada di tengah bundaran HI sambil mandi air mancur.
Saat siang makin panas, maka akhirnya aku harus meninggalkan lokasi tebar virus ini dan menuju ke Cikarang untuk mengikuti acara arisan keluarga.
Sakses buat acara #pestawirausaha 2010 dalam rangka Milad IV TDA [tangan di atas]
+++
Kamis, Maret 18, 2010
Belajar Bisnis dari Kecil
"Bu kemarin kawan-kawanku ikut menghabiskan mie yang kubawa ke sekolah", begitu kata Lilo di suatu pagi sebelum berangkat ke sekolah.
"Hmm....."
"Hari ini bawa mie yang banyak ya, biar semua kebagian. Enak deh kata kawan-kawanku"
"Mau nggak kamu jualan mie di sekolah?"
"Maksudnya?"
"Kamu tanya sama kawan-kawanmu, siapa yang mau beli mie dan bisa dimakan sendiri satu porsi. Setiap ada kawanmu yang beli maka kamu dapat seribu"
"Kalau yang beli lima orang?"
"Ya kamu dapat 5 ribu"
"Ibu dapat 25 ribu aku lima ribu? Wah nggak adil donk. Harusnya aku tidak hanya 5 ribu"
Istriku sampai "kemekelen" menjelaskan pada Lilo. Kalau sampai Lilo mendapat separuh dari harga penjualan, maka bukannya untung yang didapat oleh penjual mie SEHATI ini tapi kerugian yang didapat.
"Kalau uangnya untuk kamu semua, terus besok untuk beli tepung, minyak dan lain-lain pakai uang apaan donk?"
Akhirnya Lilo paham juga dan tak terasa sudah beberapa hari ini Lilo berjualan Mie SEHATI di sekolahnya. Sukses selalu ya mas LiLo.
Tim MMC2 penggagas Mie Ayam SEHATI minus pak Syam Mie Perto dan mas Lukman bernarsis ria di depan warung Mie SEHATI.
"Hmm....."
"Hari ini bawa mie yang banyak ya, biar semua kebagian. Enak deh kata kawan-kawanku"
"Mau nggak kamu jualan mie di sekolah?"
"Maksudnya?"
"Kamu tanya sama kawan-kawanmu, siapa yang mau beli mie dan bisa dimakan sendiri satu porsi. Setiap ada kawanmu yang beli maka kamu dapat seribu"
"Kalau yang beli lima orang?"
"Ya kamu dapat 5 ribu"
"Ibu dapat 25 ribu aku lima ribu? Wah nggak adil donk. Harusnya aku tidak hanya 5 ribu"
Istriku sampai "kemekelen" menjelaskan pada Lilo. Kalau sampai Lilo mendapat separuh dari harga penjualan, maka bukannya untung yang didapat oleh penjual mie SEHATI ini tapi kerugian yang didapat.
"Kalau uangnya untuk kamu semua, terus besok untuk beli tepung, minyak dan lain-lain pakai uang apaan donk?"
Akhirnya Lilo paham juga dan tak terasa sudah beberapa hari ini Lilo berjualan Mie SEHATI di sekolahnya. Sukses selalu ya mas LiLo.
Tim MMC2 penggagas Mie Ayam SEHATI minus pak Syam Mie Perto dan mas Lukman bernarsis ria di depan warung Mie SEHATI.
+++
ditulis oleh : eshape
Minggu, Oktober 04, 2009
Peduli Gempa 2009 di Cikarang [TDA dan Cimart]
Awalnya hanya acra HBH [halal bi halal] seperti biasanya, namun sikon yang berubah begitu cepat membuat acara ini berubah juga. Tadinya hanya sepedaan dari Montana [rumahku] menuju ke KTB [Kupat Tahu bandung] tempat halal bi halal MMB [mastermind bekasi]. Yah seperti acara sepedaan bulan Mei dulu
Mengingat toko Cimart baru buka gerai di ruko Anggrek, maka lokasi start kupindahkan ke toko Cimart saja, jadi bisa lebih nyaman nunggu teman-teman yang ingin sepedaan.
Pak Atopun langsung mengumumkan bahwa siapa saja yang makan di KTB akan mendapat diskon gila-gilaan alias segila-gilanya. Terakhir tenryata malah tidak ada diskon sama sekali, karen amuncukl ide yang lebih gila lagi.
Semua yang makan di KTB gak perlu mbayar ke pak Ato, tapi langsung bayar ke kotak amal yang akan disediakan di meja kasir dan semua hasil penjualan itu akan disumbangkan ke posko Peduli Gempa yang akan dibuka di Toko Cimart.
Ini memang ide dari pak Afrizal [dirut Cimart] dan pak Wawan [dirut NetCom], serta para Cimarter lainnya. Toko Cimart mulai hari Sabtu sudah didandani dengan spanduk POSKO Peduli Gempa Sumbar.
Gayungpun bersambut, mas Hendra bahkan merelakan semua kerupuk kemplangnya dihibahkan ke posko peduli Gempa Cimart.
Inilah kerja sama yang saling menguntungkan antara para anggota komunitas TDA [tangan diatas] dengan para Cimarter yang sedang "on fire".
Pagi-pagi, para Cimarter dan sekaligus anggota TDA sudah meramaikan suasana toko Cimart. Seragam kaos kuningpun dikenakan oelh para anggota TDA [kulihat di dalam kaos kuning itu ada kaos TDA Bekasi, hehehe...kulit luar Cimart, tapi hatinya TDA, gitu 'kali maknanya].
Para pejalan kaki di depan toko Cimart terlihat tertarik dengan berkumpulnya para bapak-bapak di depan toko ini. Mereka akhirnya paham bahwa hari ini adalah hari peduli gempa di toko Cimart, sehingga bapak-bapak yang biasanya langsung olah raga di pasar festival, hari ini pada ngumpul di depan toko Cikmart, yang biasanya masih sunyi sepi.
Setelah toko mulai ramai oleh para Cimarter, maka pak Afrizal memboyong para Cimarter untuk jalan ke arah pasar Festival. Yang datang pakai sepeda langsung nggenjot sepedanya, sedang yang datang pakai sepeda motor cukup berjalan kaki saja ke pasar festival.
Suasana pasar yang hiruk pikuk dengan pengunjung ini makin ramai oleh kedatangan dua tim pencari dana untuk korban gempa Sumbar.
Satu kelompok memakai seragam jas biru-biru, sedangkan satunya memakai kaos kuning-kuning. Yang membedakan mereka adalah warna seragamnya [hehehe...yang ini sudah jelas] dan umur mereka. Yang satu kelompok sudah bapak-bapak [meski ngakunya masih under 30 tahun] dan satunya muda mudi yang ganteng dan cantik-cantik [namanya saja muda mudi, ya cantik dan ganteng kan?].
Selesai muterin pasar Festival, maka rombongan menuju ke KTB [Kupat Tahu bandung] pak Ato. Berendeng beberapa sepeda mengarah ke KTB, sementara yang lainnya memakai sepeda motor atau mobil.
Ide untuk beli sepeda langsung muncul lagi, karena kebetulan ada juragan sepeda yang ikut sepedaan di acara ini. Kita tunggu saja berita kredit sepeda ini [setelah bulan lalu sukses menagdakan kredit note book].
Lilo, yang kalau bersepeda model Rosi "The Doctor" langsung menggebrak, sehingga akhirnya tabrakan dengan pengendara sepeda yang lain.
Setelah Lilo minta maaf pada pengendara sepeda yang lain, maka perjalanan dilanjutkan dan Lilo kembali meliuk-liuk dengan sepeda tanpa remnya itu.
Kalau sudah begitu aku sering mengurut dada, "nyontoh siapa ya Lilo ini? apa nyontoh aku waktu aku kecil dulu ya?"
Sampai di KTB suasana sudah ramai. Spontanitas yang tak terkoordinir ini membuat para peserta sepedaan punya rute sendiri-sendiri. Ada yang sampai bunderan Golf Jababeka langsung pulang, ada juga yang tetap ikut rute yang sebelumnya sudah disepakati.
"Aku tadi ke rumah mas Eko dan sepi, maka aku langsung ngejar sesuai rute, tapi nggak ketututan juga mas. Pada ngebut ya?", kata salah satu pengendara sepeda yang mengikuti rute asli.
"Hehehe...bapak nggak baca imil terakhir ya?"
Rupanya banyak peserta yang sudah tidak buka imil di hari menjelang hari H, sehingga perkembangan rute dan acara tidak tersosialisasikan ke peserta.
Akibatnya yang datang ke KTB juga bergiliran, tidak seperti acara sepedaan yang dulu, para peserta pada numpuk jadi satu kloter.
Jam 09.30 akupun balik ke toko Cimart untuk mengecek hasil pemngumpulan dana ini. Tenryata kotak sudah diambil oleh pak Afrizal untuk dihitung dan digabungkan dengan yang ada di pasar festival.
Yang kutahu, sampai sekitar jam 10.00 kondisi perolehan sumbangan adalah sebagai berikut :
- Kotak amal yang ada di Cimart ditambah yang kemudian diboyong ke KTB hasilnya adalah 1.053 + 525 atau 1.578
- Kotak amal yang dikelilingkan di Pasar Fatival adalah 535
Total sekitar 2.113 ribu rupiah atau 2.1 juta.
Lumayan sebagai hasil spontanitas tanpa koordinasi. Tinggal nanti perlu dikooridinasikan lagi agar dapat memperolah bantuan dana yang lebih besar. Kita semua tahu, gempa ini lebih dahsyat dibanding gempa di Yogya.
Jadi tepatlah kalau tim PU DIY saat ini ikut terbang ke Sumbar untuk memberikan masukan dan tindakan nyata terhadap penanganan gempa di Sumbar. Kita tahu bahwa DIY termasuk yang dianggap sukses menangani kejadian pasca gempa.
Sukses dan salut buat tim relawan dari DIY [PU maupun UGM] yang telah meluncurkan timnya ke Sumbar. Semoga menjadi amalan yang baik buat mereka. Amin. Posko Waskita Sumbar siap membantu tim ini dalam menangani semua kegiatan pasca gempa. Semoga muncul sinergi di antara kedua tim ini.
Semoga juga semua amalan para donatur itu diterima Allah swt.
Amin
+++
artikel [tidak] terkait
Posko Waskita di Sumbar
Mengingat toko Cimart baru buka gerai di ruko Anggrek, maka lokasi start kupindahkan ke toko Cimart saja, jadi bisa lebih nyaman nunggu teman-teman yang ingin sepedaan.
Pak Atopun langsung mengumumkan bahwa siapa saja yang makan di KTB akan mendapat diskon gila-gilaan alias segila-gilanya. Terakhir tenryata malah tidak ada diskon sama sekali, karen amuncukl ide yang lebih gila lagi.
Semua yang makan di KTB gak perlu mbayar ke pak Ato, tapi langsung bayar ke kotak amal yang akan disediakan di meja kasir dan semua hasil penjualan itu akan disumbangkan ke posko Peduli Gempa yang akan dibuka di Toko Cimart.
Ini memang ide dari pak Afrizal [dirut Cimart] dan pak Wawan [dirut NetCom], serta para Cimarter lainnya. Toko Cimart mulai hari Sabtu sudah didandani dengan spanduk POSKO Peduli Gempa Sumbar.
Gayungpun bersambut, mas Hendra bahkan merelakan semua kerupuk kemplangnya dihibahkan ke posko peduli Gempa Cimart.
Inilah kerja sama yang saling menguntungkan antara para anggota komunitas TDA [tangan diatas] dengan para Cimarter yang sedang "on fire".
Pagi-pagi, para Cimarter dan sekaligus anggota TDA sudah meramaikan suasana toko Cimart. Seragam kaos kuningpun dikenakan oelh para anggota TDA [kulihat di dalam kaos kuning itu ada kaos TDA Bekasi, hehehe...kulit luar Cimart, tapi hatinya TDA, gitu 'kali maknanya].
Para pejalan kaki di depan toko Cimart terlihat tertarik dengan berkumpulnya para bapak-bapak di depan toko ini. Mereka akhirnya paham bahwa hari ini adalah hari peduli gempa di toko Cimart, sehingga bapak-bapak yang biasanya langsung olah raga di pasar festival, hari ini pada ngumpul di depan toko Cikmart, yang biasanya masih sunyi sepi.
Setelah toko mulai ramai oleh para Cimarter, maka pak Afrizal memboyong para Cimarter untuk jalan ke arah pasar Festival. Yang datang pakai sepeda langsung nggenjot sepedanya, sedang yang datang pakai sepeda motor cukup berjalan kaki saja ke pasar festival.
Suasana pasar yang hiruk pikuk dengan pengunjung ini makin ramai oleh kedatangan dua tim pencari dana untuk korban gempa Sumbar.
Satu kelompok memakai seragam jas biru-biru, sedangkan satunya memakai kaos kuning-kuning. Yang membedakan mereka adalah warna seragamnya [hehehe...yang ini sudah jelas] dan umur mereka. Yang satu kelompok sudah bapak-bapak [meski ngakunya masih under 30 tahun] dan satunya muda mudi yang ganteng dan cantik-cantik [namanya saja muda mudi, ya cantik dan ganteng kan?].
Selesai muterin pasar Festival, maka rombongan menuju ke KTB [Kupat Tahu bandung] pak Ato. Berendeng beberapa sepeda mengarah ke KTB, sementara yang lainnya memakai sepeda motor atau mobil.
Ide untuk beli sepeda langsung muncul lagi, karena kebetulan ada juragan sepeda yang ikut sepedaan di acara ini. Kita tunggu saja berita kredit sepeda ini [setelah bulan lalu sukses menagdakan kredit note book].
Lilo, yang kalau bersepeda model Rosi "The Doctor" langsung menggebrak, sehingga akhirnya tabrakan dengan pengendara sepeda yang lain.
Setelah Lilo minta maaf pada pengendara sepeda yang lain, maka perjalanan dilanjutkan dan Lilo kembali meliuk-liuk dengan sepeda tanpa remnya itu.
Kalau sudah begitu aku sering mengurut dada, "nyontoh siapa ya Lilo ini? apa nyontoh aku waktu aku kecil dulu ya?"
Sampai di KTB suasana sudah ramai. Spontanitas yang tak terkoordinir ini membuat para peserta sepedaan punya rute sendiri-sendiri. Ada yang sampai bunderan Golf Jababeka langsung pulang, ada juga yang tetap ikut rute yang sebelumnya sudah disepakati.
"Aku tadi ke rumah mas Eko dan sepi, maka aku langsung ngejar sesuai rute, tapi nggak ketututan juga mas. Pada ngebut ya?", kata salah satu pengendara sepeda yang mengikuti rute asli.
"Hehehe...bapak nggak baca imil terakhir ya?"
Rupanya banyak peserta yang sudah tidak buka imil di hari menjelang hari H, sehingga perkembangan rute dan acara tidak tersosialisasikan ke peserta.
Akibatnya yang datang ke KTB juga bergiliran, tidak seperti acara sepedaan yang dulu, para peserta pada numpuk jadi satu kloter.
Jam 09.30 akupun balik ke toko Cimart untuk mengecek hasil pemngumpulan dana ini. Tenryata kotak sudah diambil oleh pak Afrizal untuk dihitung dan digabungkan dengan yang ada di pasar festival.
Yang kutahu, sampai sekitar jam 10.00 kondisi perolehan sumbangan adalah sebagai berikut :
- Kotak amal yang ada di Cimart ditambah yang kemudian diboyong ke KTB hasilnya adalah 1.053 + 525 atau 1.578
- Kotak amal yang dikelilingkan di Pasar Fatival adalah 535
Total sekitar 2.113 ribu rupiah atau 2.1 juta.
Lumayan sebagai hasil spontanitas tanpa koordinasi. Tinggal nanti perlu dikooridinasikan lagi agar dapat memperolah bantuan dana yang lebih besar. Kita semua tahu, gempa ini lebih dahsyat dibanding gempa di Yogya.
Jadi tepatlah kalau tim PU DIY saat ini ikut terbang ke Sumbar untuk memberikan masukan dan tindakan nyata terhadap penanganan gempa di Sumbar. Kita tahu bahwa DIY termasuk yang dianggap sukses menangani kejadian pasca gempa.
Sukses dan salut buat tim relawan dari DIY [PU maupun UGM] yang telah meluncurkan timnya ke Sumbar. Semoga menjadi amalan yang baik buat mereka. Amin. Posko Waskita Sumbar siap membantu tim ini dalam menangani semua kegiatan pasca gempa. Semoga muncul sinergi di antara kedua tim ini.
Semoga juga semua amalan para donatur itu diterima Allah swt.
Amin
+++
artikel [tidak] terkait
Posko Waskita di Sumbar
Senin, Agustus 17, 2009
Demo Mie jadi ajang rekreasi keluarga TDA Bekasi
Acara demo membuat mie PERTO, akhirnya berubah menjadi rekreasi keluarga. Bagaimana tidak, hampir semua peserta membawa buntut masing-masing. Ada yang lengkap sampai ke anak dan istri ada juga yang hanya membawa anak atau istri doank.

Suasana tentu saja jadi penuh guyub dan rukun. Kuperhatikan satu demi satu mereka yang datang terlambat. Mereka dengan perlahan-lahan mendekati arena demo dan mulai menikmati pentas tunggal pak Syam Perto.
Hampir tidak ada yang menggubris kedatangan para peserta yang terlambat, karena mereka sudah terbius oleh kedigdayaan sang suhu Syam Perto.

Mereka yang terlambat itu akhirnya mulai ikut tersenyum-senyum mendengarkan uraian yang selalu dibumbui oleh kekocakan sang suhu dan akhirnya merekapun ikut bersuara menimpali ucapan sang suhu.

Acara yang tadinya digagas oleh kelompok mastermind Cikarang 2 ini akhirnya memang menjadi arena untuk umum, artinya untuk semua warga TDA Bekasi. Bahkan ada juga warga di luar Bekasi yang ndaftar tetapi pada jamnya banyak yang tidak bisa datang.
Namun meskipun banyak yang tidak datang, tetapi ternyata yang datang malah lebih banyak dari yang tidak mendaftar. 20 bungkus bumbu dan daftar material+peralatan sudah ludes disimpan para peserta yang datang duluan, padahal peserta masih terus berdatangan.
Akhirnya dari daftar absen kulihat hanya 22 orang yang terdaftar dan mendaftar, selebihnya ada yang datang untuk belajar membuat mie tanpa peduli masalah daftar mendaftar. Salut buat MMC2 deh...!:-) Ini semua pasti gara-gara acara TDA Bekasi 2 Agustus 2009 yang mempertemukan orang gila beneran dengan orang yang beneran gila.
Pemikiran jangka panjangnya adalah bagaimana acara semacam ini diadakan secara rutin dan dengan peralatan yang sudah "ready" alias peralatan bersama.
Saat ini peralatan masih diadakan oleh beberapa orang, termasuk pak Syam meninggalkan beberapa peralatannya, agar kalau ada acara lagi dia tidak perlu membawa lagi dari rumah.
Ini sentilan atau ajakan tersembunyi dari pak Syam atau bukan aku tidak tahu, tetapi sebaiknya kita sikapi dengan mulai berpikir untuk pelatihan yang akan datang mungkin ada sekedar infaq untuk membeli peralatan baru yang bisa dipakai bersama.
Saat dialksanakan di rumah pak Ketua MMC2, pak Iman, maka semua peralatan dan bahan diadakan sendiri oleh pak Iman, sehingga yang datang benar-benar dipuaskan. Datang, duduk, dapat ilmu dan dapat kenyang [banget].
Menjelang siang aku pergi keluar sebentar karena anakku harus segera pulang ke Yogya dan ketika aku balik lagi ternyata peserta pelatihan sudah nambah lagi.
Tentu suasana menjadi makin ramai karena biang ribut sudah muncul. Siapa lagi kalau bukan pak Ato. Lelaki atau pria kecil yang selalu aktif bergerak tanpa bisa berhenti bergerak, sehingga paling susah dipotret.
Suasana pelatihanpun berubah menjadi suasana keakraban antar warga TDA BEkasi. Ada Poksa, MMB dan juga tuan rumah MMC. Belum lagi yang tidak kukenal dan langsung akrab saja [Sok Kenal Sok Dekat].

Pulang-pulang aku membawa banyak bingkisan dari kawan-kawan yang baru saja kukenal. Ada tetangga di kompleks Montana [aku di Puspita VII dan dia Puspita VIII], adajuga tetangga di Yogya [bersebelahan kampung].
Begitulah nafas TDA, saling memberi dan saling menerima sebagai suatu keluarga besar yang penuh rahmah.
Insya Allah. Amin.
++
Apa yang menarik dari bisnis waralaba Mie Perto ini?
Syarat yang sangat mudah, yaitu :
1. Beli bumbu pada pak Syam [5 ribu untuk 18 bungkus]
2. Bayar zakat 2,5% untuk disalurkan ke mereka yang membutuhkan [bukan ke pak Syam]
3. Ikuti dua syarat di atas dengan baik
4. Makin banyak berderma makin banyak rejekinya.
5. Tambahi sendiri kalau kurang, kalau dianggap cukup ya sudah, titik !
+++

.
...
.
Suasana tentu saja jadi penuh guyub dan rukun. Kuperhatikan satu demi satu mereka yang datang terlambat. Mereka dengan perlahan-lahan mendekati arena demo dan mulai menikmati pentas tunggal pak Syam Perto.
Hampir tidak ada yang menggubris kedatangan para peserta yang terlambat, karena mereka sudah terbius oleh kedigdayaan sang suhu Syam Perto.
Mereka yang terlambat itu akhirnya mulai ikut tersenyum-senyum mendengarkan uraian yang selalu dibumbui oleh kekocakan sang suhu dan akhirnya merekapun ikut bersuara menimpali ucapan sang suhu.
Acara yang tadinya digagas oleh kelompok mastermind Cikarang 2 ini akhirnya memang menjadi arena untuk umum, artinya untuk semua warga TDA Bekasi. Bahkan ada juga warga di luar Bekasi yang ndaftar tetapi pada jamnya banyak yang tidak bisa datang.
Namun meskipun banyak yang tidak datang, tetapi ternyata yang datang malah lebih banyak dari yang tidak mendaftar. 20 bungkus bumbu dan daftar material+peralatan sudah ludes disimpan para peserta yang datang duluan, padahal peserta masih terus berdatangan.
Akhirnya dari daftar absen kulihat hanya 22 orang yang terdaftar dan mendaftar, selebihnya ada yang datang untuk belajar membuat mie tanpa peduli masalah daftar mendaftar. Salut buat MMC2 deh...!:-) Ini semua pasti gara-gara acara TDA Bekasi 2 Agustus 2009 yang mempertemukan orang gila beneran dengan orang yang beneran gila.
Pemikiran jangka panjangnya adalah bagaimana acara semacam ini diadakan secara rutin dan dengan peralatan yang sudah "ready" alias peralatan bersama.
Saat ini peralatan masih diadakan oleh beberapa orang, termasuk pak Syam meninggalkan beberapa peralatannya, agar kalau ada acara lagi dia tidak perlu membawa lagi dari rumah.
Ini sentilan atau ajakan tersembunyi dari pak Syam atau bukan aku tidak tahu, tetapi sebaiknya kita sikapi dengan mulai berpikir untuk pelatihan yang akan datang mungkin ada sekedar infaq untuk membeli peralatan baru yang bisa dipakai bersama.
Saat dialksanakan di rumah pak Ketua MMC2, pak Iman, maka semua peralatan dan bahan diadakan sendiri oleh pak Iman, sehingga yang datang benar-benar dipuaskan. Datang, duduk, dapat ilmu dan dapat kenyang [banget].
Menjelang siang aku pergi keluar sebentar karena anakku harus segera pulang ke Yogya dan ketika aku balik lagi ternyata peserta pelatihan sudah nambah lagi.
Tentu suasana menjadi makin ramai karena biang ribut sudah muncul. Siapa lagi kalau bukan pak Ato. Lelaki atau pria kecil yang selalu aktif bergerak tanpa bisa berhenti bergerak, sehingga paling susah dipotret.
Suasana pelatihanpun berubah menjadi suasana keakraban antar warga TDA BEkasi. Ada Poksa, MMB dan juga tuan rumah MMC. Belum lagi yang tidak kukenal dan langsung akrab saja [Sok Kenal Sok Dekat].
Pulang-pulang aku membawa banyak bingkisan dari kawan-kawan yang baru saja kukenal. Ada tetangga di kompleks Montana [aku di Puspita VII dan dia Puspita VIII], adajuga tetangga di Yogya [bersebelahan kampung].
Begitulah nafas TDA, saling memberi dan saling menerima sebagai suatu keluarga besar yang penuh rahmah.
Insya Allah. Amin.
++
Apa yang menarik dari bisnis waralaba Mie Perto ini?
Syarat yang sangat mudah, yaitu :
1. Beli bumbu pada pak Syam [5 ribu untuk 18 bungkus]
2. Bayar zakat 2,5% untuk disalurkan ke mereka yang membutuhkan [bukan ke pak Syam]
3. Ikuti dua syarat di atas dengan baik
4. Makin banyak berderma makin banyak rejekinya.
5. Tambahi sendiri kalau kurang, kalau dianggap cukup ya sudah, titik !
+++
kalau dijumlah sekitar 30 orang lebih yang hadir di acara ini
....
...
.
Jumat, Juli 31, 2009
Logo dan MARS TDA
Dari dulu aku suka logo ini, tahu-tahu sekarang aku sudah ikut ubyang-ubyung dengan teman-teman, saudara baru dari TDA.
Terima kasih telah menerima aku bergabung di komunitas TDA.
Salam
MARS TDA
Komunitas TDA
Kumpulan pengusahaDemi majunya negara
Demi Indonesia
Hidup adalah penuh perjuangan
Hidup adalah penuh pengorbanan
Namun semua bukanlah halangan
Mari jadikan sebagai tantangan
Reff.
TDA ... Tangan Di Atas
Lebih mulia dari tangan di bawah
TDA ... Take Double Action
Lebih baik dari sribu bahasa
Silahturahim adalah perekatnya
Bersyukur dan berdoa menjadi penjaganya
Positif dan terbuka itulah sikapnya
Bersama TDA, bersama menebar rahmat
Semoga makin banyak orang ikut TDA. Jaya Indonesiaku. Amin
Minggu, Mei 24, 2009
MMC1 yang mencenggangkan
"Saya datang karena dipaksa oleh suami. Saya tadi juga sudah memaksa untuk pulang saja, tapi akhirnya saya tetap disini sampai jam ini dan alhamdulillah, saya tadi tidak jadi pulang"
Begitu ungkapan jujur dan mengharukan dari seorang istri yang diajak ikut Master Mind Cikarang 1 [MMC1].
Setelah mengucapkan kata pembuka itu, meluncurlah ide-ide segar yang tadinya mungkin hanya akan ada dalam pikiran sang istri tersebut.
Kitapun jadi semangat memberi masukan untuk ide-ide yang dilempar ke forum ini.
Ini memang MM yang baru sekali kuikuti dan rasanya kita harus banyak menahan diri, karena begitu banyak yang ingin kita sampaikan untuk teman-teman kita, tetapi kita tidak ingin terlalu dominan dan tidak ingin terlalu banyak menghabiskan waktu bicara teman-teman kita.
Beberapa teman yang terlihat kurang aktif terpaksa kita komporin agar ikut bersuara, sehingga semua peserta diskusi ini bisa merasakan enaknya berpendapat dan enaknya menerima pendapat orang lain.
Dengan banyak berpendapat, maka para peserta MM bisa merasakan dirinya "eksis" dan "dibutuhkan" oleh peserta yang lain. Akibatnya, dia akan termotivasi untuk selalu datang di pertemuan selanjutnya dan termotivasi untuk mengeluarkan ide segar ataupun masukan yang dapat mencerahkan masalah temannya.
Peserta lain bercerita tentang perjalanan karirnya yang mentok ketika dia berada di bagian produksi. Gajinya sudah tertinggi dan tidak akan mungkin lebih tinggi lagi, karena jabatan di atasnya adalah jabatan tertinggi di perusahaan yang hanya dimiliki oleh pemilik perusahaan.
Akhirnya dia memilih utnuk pindah ke divisi pemasaran dengan risiko gaji terjun bebas dan harus belajar lagi dari awal.
Ternyata pengalaman di bagian produksi yang sering mendapat komplain pelanggan banyak memberi manfaat bagi karirnya di bagian pemasaran. Kefasihannya memahami barang jualan yang dulu diproduksinya membuat dia mampu memberi penjelasan yang lengkap tentang produk yang dijualnya.
Karirnyapun kembali menanjak, meskipun akhirnya kembali "mentok", karena sudah tidak ada lagi peningkatan jabatan maupun peningkatan gaji.
Keputusan terakhir harus "resign" dan dua pilihanpun muncul.
Mendirikan perusahaan sendiri dengan tetap bekerja sama dengan perusahaan tempatnya dulu dibesarkan atau muncul dengan "bendera" sendiri, artinya siap bertarung di pasar melawan mantan induknya dulu.
Ternyata yang diambil adalah pilihan terakhir, bertarung bebas di pasar melawan mantan pimpinannya dulu.
Namun pada kenyataannya bukan pertempuran yang dialaminya tetapi pertemanan seperti laiknya mitra saja. Mereka saling melengkapi dan saling mendukung.
Sungguh ini adalah pertemuan perdana [bagiku] yang sangat banyak memberi inspirasi.
Rasanya kita yang baru saja berkenalan ini menjadi begitu dekat, seperti punya saudara baru yang begitu antusias mendukung kita. Bahagia itu jadi terasa dekat di hati ini.
Segala permasalahan yang muncul langsung ditanggapi dengan masukan yang jernih. mencerahkan dan tidak ada kesan menghakimi.
Terungkap pula bahwa Social Networking [SN] sangat perlu untuk menunjang bisnis kita.
Seperti "joke" menristek kalau cerita tentang social networking, sesungguhnya SN itu kalau diperas jadinya adalah "GAUL".
Mau makai Multiply, Fisbuk, Friendster, PLURK atau apapun tetap diperlukan "aroma" gaul di dalamnya. Tidak lucu kalau kita buka FB, tetapi kita sama sekali tidak gaul [abiz].
Apa gunanya punya blog kalau tidak pernah kita isi atau kita isi dengan asal-asalan saja?
Semua SN memang memerlukan "aroma" gaul, sehingga bisa bermanfaat bagi dirinya sendiri maupun bagi lingkungan networkingnya.
Saat kita membahas BakMi SeMar [nama ini sangat menjual kayaknya, bisa jadi bakmisemar.com], ide sepedaan minggu lalupun muncul. Begitu juga saat membahas bengkel motor yang ingin meningkatkan pemasarannya.
Berbagai ide memang muncul, salah satunya persis dengan yang diadakan oleh Cimart minggu lalu, bersepedaan dengan start dari rumah salah satu anggota dan finish di bisnis kuliner [atau bengkel] di salah satu anggota.
Bagaimana kalau di lingkungannya belum ada jaringan, siapa yang akan ikut sepedaan itu?
Jelas kita harus punya jaringan di sekitar kita, bisa jaringan RT/RW atau komunitas keluarga kita sendiri yang mungkin ada di sekitar kita.
Kegiatan juga tidak harus bersepeda, jalan kaki juga boleh, bahkan tidak kemana-manapun boleh. Sekedar kumpul-kumpul di lokasi yang akan kita tingkatkan pemasarannya sudah cukup, karena itu sudah memberi efek "ramai" di lokasi bisnis kita.
Ada juga ide "gokil" untuk menjual sabun dengan cara mixing
Semua ide "tumpleg bleg" di komunitas ini. Semua saling menguatkan dan langsung merasuk dalam hati masing-masing penerima ide.
Di sesi terakhir, aku bertugas sebagai presenter dengan topik, bagaimana caraku menulis blog. Ini memang kata lain dari tips ngeblog, karena kalau ambil judul "tips ngeblog", itu sudah bertebaran gak karu-karuan banyaknya di internet, jadi judulnya harus diubah sedikit.
Seperti biasa, aku tidak hanya berbagi ilmu ngeblog tapi berbagi ilmu jadi presenter dan sedikit cerita tentang perlunya memanfaatkan kedua otak kita [kanan dan kiri]. Jangan terlalu memaksa otak kiri saja untuk bekerja tetapi perlu juga otak kanan disuruh bekerja.
Joke yang bertebaran adalah betapa mahalnya harga otak orang Indonesia karena sampai matipun belum pernah digunakan !:-).
Tantangan di akhir presentasi adalah "kewajiban" semua peserta untuk menulis satu tulisan yang diposting di blognya sendiri dan di blog komunitas. Artinya, mereka harus mebuat blog mereka sendiri dan harus ada blog komunitas yang bisa dipakai sebagai tempat mereka untuk mengirim posting.
Salut buat pemrakarsa MMC 1 ini, semoga makin ke depan makin terlihat ujud nyata dari pertemuan MMC 1 ini.
Insya Allah
Amin.
| Langgani Master Mind Cikarang 1 |
| Kunjungi grup ini |
Master Mind Cikarang 1 |
| Kunjungi grup ini |
'''''
'''
'
Langganan:
Postingan (Atom)










