Tampilkan postingan dengan label senyum berbagi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label senyum berbagi. Tampilkan semua postingan

Selasa, Mei 05, 2009

LiLo ngeBLOG

"Pak... rapikan tulisan di blogku ya..", kata LiLo [anak bontotku yang masih SD], sehabis asyik kutak kutik komputer sendirian.

"Upload dulu aja, nanti tak rapiin deh", kataku yang sedang asyik mengerjakan hal lain.

"Tombol yang mana pak?", tanya LiLo. Rupanya LiLo sudah lupa cara upload blog. He..he..he.. kelamaan nggak nulis blog sih.

"Lihat tuh yang paling kiri bawah, warna merah jambu, ada tombol bertuliskan terbitkan entri..", jawabku dari jauh.

"Publish post ya pak?"

"Ya..."

Setelah luang waktu akupun merapikan tulisan LiLo agar enak dibaca.

Model tulisan LiLo spontan banget, terus ditulis tanpa ada alinea, terussssss ditulis.

He..he...he....silahkan lihat di sini

dan disini juga

Rasanya anak-anak memang selalu mampu menyampaikan pendapatnya dengan lebih jernih dan kita kadang-kadang merasa under estimate dengan kemampuan anak-anak menghadapi masalah di sekelilingnya.

Aku baru tahu kalau kawan-kawan LiLo kalau sekolah selalu diberi uang saku sampai di atas 20 ribu rupiah.

Sementara itu LiLo hanya menerima uang saku sebesar 1.000 rupiah, itupun dia masukkan ke kotak infaq.

LiLo baru dapet uang saku 2.000 kalau dia nggak bawa makanan dari rumah, jadi 1.000 untuk jajan dan 1.000 lainnya untuk infak.

Bila membawa makanan dari rumah, maka LiLo cukup diberi uang saku 1.000 rupiah.

[sekarang LiLo gak pernah bawa makanan dari rumah lagi, karena kita sudah pesan catering makanan untuk LiLo]

Malam sebelumnya, ketika LiLo mendandani hape N73nya, maka paginya dia nulis juga tentang peristiwa itu.

Katanya bapak ibu telah beramal, demikian juga anak-anak sudah membantu bapak ibu beramal, jadi satu keluarga sudah beramal.

Kalau anak-anak tidak mau menerima hadiah dari orang tuanya, maka anak-anak tidak membantu orang tuanya beramal, jadi gagal deh amalan ortunya.

Begitulah jalan pikiran LiLo dan guyonanku pada anak-anak pada pagi hari ketika kita jalan-jalan bersama.

Indahnya kebersamaan bersama keluarga ini.

Semoga begitu terus aja ya. Semoga Tuhan memberi kami petunjuk selalu. Amin.

Kamis, Februari 12, 2009

Menteri Indonesia Go BloG, Bravo !!!

Pada pesta Blogger 2008, saat menunggu pintu masuk dibuka, aku ngobrol dengan seorang blogger dari negeri JIRAN.

“Luar biasa Indonesia. Saat para blogger kami ditangkap pemerintah, disini malah para blogger mengadakan pesta dengan sokongan dari 3 menteri”, ucapnya berapi-api.

Aku menanggapinya dengan senyum, karena di sisi lain ada kawan sesama blogger Indonesia yang merasa nggak nyaman dengan “support” dari beberapa menteri ini.

“Kapan blogger Indonesia mau dewasa. Untuk acara seperti ini, yang mestinya bebas dari para birokrat, malah penuh nuansa birokrasi?”, ujar kawan blogger Indonesia ini bersungut-sungut.

Aku juga menanggapinya dengan senyum. Ya begitulah, kata pak Amril, apapun kejadiannya, resep menghadapinya sebaiknya dengan senyum saja.

Rumus senyumnya?
Betul !

Rumusnya : 2-2-7, tarik bibir 2 cm ke kanan, 2 cm ke kiri dan pertahankan selama 7 detik.

Kurasa, komentar dua blogger yang bertentangan itu ada juga sisi benarnya. Bagaimana tidak bangga punya 3 menteri yang tertarik untuk menyokong kegiatan para blogger, dan bagaimana tidak bosen melihat acara yang nggak mulai-mulai gara-gara acara terlalu protokoler?

Hari ini, akhirnya aku melihat bahwa komentar dari blogger negeri Jiran itu benar adanya.

Sebuah imil dari seorang kawan [bukan blogger tapi seorang pejabat tinggi BUMN yang super lucu] mampir ke kotak suratku, lengkap dengan alamat blog seorang menteri.

Langsung saja aku menuju ke TKP [blognya pak Menteri].

Ternyata kawan-kawan sudah lebih dahulu ada disana. Ada pak Aris, ada pak ATG dll, sudah lebih dahulu memberi komentar.

Sungguh nyaman membaca blog pak Menteri ini. Bahasa tulisnya seenak bahasa pidatonya. Lancar dan belum mau berhenti sebelum selesai di paragraf akhir.

Aku jadi inget ketika diudang beliau dalam suatu acara di Gedung BPPT. Itulah kali pertama aku mendengar ceramah seorang menteri, karena biasanya saat seorang menteri bicara di panggung, kami biasanya juga berbicara di kelompok kami [nggak sopan ya..?].

Penguasaan materi ceramah dan model orasi yang nyaman, membuat aku merasa terganggu kalau ada yang mengajakku bicara.

Kayaknya pak Menteri ini terkena guna-guna dari mas Enda, sehingga ikut Go Blog, seperti yang selalu dikampanyekan oleh mas Enda.

Seandainya semua pejabat tinggi punya blog, wah enak bener tuh. Suara rakyat akan langsung masuk ke blog sang pejabat. Kalau komunikasi sudah transparan dan didasari semangat berbaik sangka, maka kemakmuran Indonesia tinggal menunggu waktu saja [tidak akan perlu waktu yang lama].

Tekad beberapa teman-teman di ESQ tentang Indonesia Emas 2020 mungkin akan tercapai sebelum tahun itu. Bahasa Indonesia juga sudah menjadi bahasa nomor 1 dunia dan bukan hanya menjadi bahasa nomor 3 dunia.

Memang mungkin ini hanya mimpiku saja, tapi kalau anda setuju, maka bukan tidak mungkin ini akan menjadi tekad seluruh bangsa Indonesia.

Indonesia, mari kita Maju Dengan Karya Bermutu !

Rabu, Desember 10, 2008

Pesta Daging Kurban

Idul Adha seperti hari ini, di Indonesia dan negara mayoritas muslim lainnya banyak orang (nggak kaya nggak miskin) yang berpesta daging kurban, entah sapi, kambing, domba bahkan unta. Memang hari raya ini dimaksudkan agar setiap orang bisa saling berbagi satu sama lain. Orang-orang bersuka cita dengan daging korbannya masing-masing. Banyak suguhan masakan yang disajikan, di Indonesia ada tongseng, gulai, sate, dll. Aku sendiri merasa senang karena sudah kenyang mencicipi masakan kambing buatan ibu. Siang tadi kami memasak tongseng dan sate kambing, meskipun sedikit rasanya tetap puas.


Sedikit cerita tentang hari raya idul Adha tahun ini. Sepertinya imbas krisis global ikut terasa dampaknya. Aku banyak menemukan di sekitar, banyak tetangga yang ikut berkurban tapi hewan kurbannya tampak kurus dan mengenaskan. Beberapa orang nekat malah mencoba berkurban anak kambing, tega banget deh. Kalau aku sih nggak tega untuk menyembelihnya, hidup hewan itu udah susah ditambah susah lagi, kasihan banget. Harusnya kalo emang uang sedang mepet, iuran aja untuk beli hewan kurban yang layak. Jangan nekat untuk mengorbankan hewan yang kondisinya mengenaskan seperti itu. Dunia ini memang tambah gila dan ada-ada saja. Tapi ada satu yang nggak berubah, yaitu acara masak-memasak yang tetep seru.


Acara masak memasak kadang sampai membuat terlena. Beberapa orang yang masak gila-gilaan seperti mau disantap semuanya. Gizi yang didapatkan dari daging kurban yang telah diolah seharusnya bisa dikontrol. Kalo nggak dikontrol bisa-bisa kelebihan gizi alias jadi gemuk. Untuk daging jenis kambing memang banyak yang bermasalah dengannya. Orang yang kena darah tinggi (hipertensi) pantang makan daging ini, jadi harus hati-hati. Tetanggaku ada yang mati muda karena menyepelekan penyakit darah tingginya dan menyantap daging kambing. Pokoknya bolehlah berpesta, asalkan bisa mengontrol nafsu makan. Disaat semuanya tersedia, memang orang jadi lupa diri. Untung tadi tidak semua daging kurban kami olah, sebagian disimpan untuk dimasak lain waktu. Perut aku saja saat ini sedikit-sedikit mulai membuncit.


Inget juga untuk terus berbagi, kadang-kadang distribusi daging kurban tidak merata. Masih ada saja orang yang harus berjuang berdesak-desakan untuk bisa mendapatkan daging yang harusnya banyak tersedia ini. Tadi saja di TV aku lihat betapa ricuhnya pembagian kupon daging kurban, hanya beberapa menit setelah sholat Eid. Bila ada tetangga yang masih belum kebagian, sisakan daging kurban untuk mereka. Jangan sampai menyimpan daging terlalu banyak, kalau tidak sempat diolah semua bisa jadi busuk. Ini bukan saat untuk rakus, tapi saat untuk saling berbagi kebahagiaan. Perut memang tidak ada habisnya untuk diganjal, sedikit terisi ingin diisi lagi dan lagi.


Yang jelas aku ingin mengucapkan Selamat Idul Adha buat semuanya saja. Jadikan momen hari raya ini saat untuk memperbaiki diri dan mempererat silaturahmi. Buat diri kamu semua bermanfaat bagi orang lain, masyarakat dan dunia. Selamat menyantap masakan daging kurban masing-masing juga. Bila punya resep masakan yang bisa dibagi, bolehlah aku ingin tahu. Sebenernya aku juga pengen bagi-bagi resep makanan, tapi udah lupa cara masak nih. Oh ya, buat temen-temen yang jauh di luar negeri sana, bagaimana suasana Idul Adha di tempat tinggal km? Sama nggak dengan yang di Indonesia? Take care all.


ITISRAMA.COM

[ditulis oleh ponakanku]