Tampilkan postingan dengan label reuni. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label reuni. Tampilkan semua postingan

Kamis, Januari 13, 2011

Reuni Mini Civeng 2011

Setelah sekitar setahun tidak bertemu, maka diputuskan untuk ketemuan lagi di Dapur Sunda. Inilah resto yang paling dekat dengan Cawang, sehingga aku akan mudah untuk mengatur waktu kedatangan dan pemesanan makanannya.

Berduaan sama mas Noor, kutungguin teman-teman yang berdatangan satu demi satu. Sayangnya banyak teman yang pada detik terakhir membatalkan kehadirannya. Ada Ibu Dosen yang kehilangan mahasiswanya dan juga kehilangan moment reuni mini ini.



"Tiwas ke kampus, tenryata acaranya dibatalkan, Wis dua-duanya jadi gak bisa datang"

Ada lagi yang tidak bisa datang karena sedang berpuasa (semoga puasanya diterima Allah swt. Amin).

Ada lagi yang meluncur ke KL dan jamnya nanggung banget, sehingga tetap tidak bisa datang. Alhamdulillah, meski begitu beberapa teman yang sudah mengalokasikan harinya untuk ketemuan pada hari ini tetap dapat memenuhi janjinya dan ngobrol ngalor ngidul melepaskan penat di hati.



Ada Bambang Kusmanto, Bambang Bintoro, Subandono, Noor Utomo, Supardjono dan Sigit Sekretaris Alumni CIveng 78.



Pulang dari acara sudah menunggu berita yang lebih dahsyat. Acara reuni yang direncanakan pada tanggal 29 Januari 2011 tenryata tidak bisa kuikuti. Pastinya tidak bisa diikuti juga oleh Kopral Jono dan Raden Mas Noor Utomo.



Aku langsung kontak mas Faisol, tuan rumah acara reuni di Bandung.

"Wah gak ada loe gak rame Ko..."

"Jadi gimana baiknya? Mau diajukan atau diundurkan?"

Lewat komunikasi ponsel, mas Puguh mempersilahkan panitia untuk memilih hari.

"Mau maju atau mundur silahkan, yang penting banyak yang datang..."

Jadi pilihan saat ini mengerucut pada dua pilihan, tanggal 22 Januari 2011 atau 19 Pebnruari 2011.

Yuk kita tentukan segera agar pasti jadwal mana yang harus digeser.

Salam sehati.

Kamis, Januari 14, 2010

Civeng 78 Reunian di Kota Wisata

"Mas tolong peta lokasinya ya..."

"Wah jangan percaya Gugel Meps mas, masih jadul tuh, lebih baik nanya sama satpam saja"

Begitulah awal mulanya tersesat di Kota Wisata Cibubur. Peta tidak ada, tanya satpam juga tidak juga ketemu dan ketika ketemu Satpam jawabannya cukup membingungkan minimal tidak menambah jelas.

Meski begitu berbekal alamat yang ada akhirnya nyampai juga di lokasi pertemuan. Rasanya bebas merdeka ketika akhirnya bisa parkir di depan rumah mas Wawan. Sambutan bak kedatangan saudara jauhpun langsung diterima begitu menginjakkan kaki ke rumah Mewah [bukan mempet sawah seperti rumahku] tempat reuni Civeng 78 diadakan.

Rupanya hampir semua teman yang datang di reuni ini mempunyai nasib yang kurang lebih sama dengan diriku. Hehehe....beginilah potret tinggal di Kota Wisata Cibubur. Sulit dicari dan kayaknya memang sulit juga mencari penjual krupuk atau siomay disini.

Semakin siang para peserta reuni semakin banyak yang datang dan akhirnya mentok di angka 18, di bawah target yang dicanangkan yaitu 20 orang. MEski begitu ada beberap ateman yang membawa pasangannya, sehingga jumlah hadirin sudah lebih dari 20 orang.

Reuni yang lalu di resto mas Himawan ada 14 orang yang hadir dan sekarang di rumah Mas Wawan ada sedikit peningkatan.

Akupun jadi sadar kalau aku ternyata sudah tua., Jadi iri juga lihat mas Bela yang terus saja awet muda, gara-gara aktif di dunia periklanan dan jauh dari dunia teknik sipil.



Paling ngakak ketika mendengar cerita mas Djatmiko sola kalkulator yang dipakai berempat. Cerita yang sangat segar ini  membuat semua hadirin terpingkal-pingkal. Ternyata hitungan yang begitu rumit bisa diselesaikan tanpa kalkulator, demikian juga model trial dan error yang dikerjakan cukup satu kali trial saja dan selesai, karena ya itu tadi...TANPA KALKULATOR !:-)



Ada juga arisan kijing yang kalau jadi dilaksanakan maka para peserta akan berebut untuk menjadi peserta yang terakhir "PUTUS". Pemrakarsanya adalah mas Himawan yang selalu konsens untuk mencari acara atau apa saja yang membuat link antar alumni Civeng terutama angkatan 78 bisa lebih kompak dan lebih bermanfaat.



Dari sekian peserta, maka peserta yang patut diduga berumur 35 tahun adalah mas Erning. Hampir semua peserta terperanjat melihat penampilan mas Erning yang begitu nampak muda dan "cool", padahal mas Erning sendiri merasa hidupnya biasa-biasa saja. Atau mungkin karena itulah maka mas Erning jadi bisa menikmati hidup dan bisa terlihat awet muda.



Mas Erning juga terlihat ocok bersanding dengan mbak Nunung. Keduanya terlihat ceria penuh kebahagiaan.




Ketika acara akan ditutup, mas Sigit [sekjend Civeng 78] mengingatkan kita untuk membacakan surat pembelaan [pledoi] dari mas Hari Sabun. Jadilah acara disisipi dengan acara baca imil mas Hari Sabun.



Acara reuni Civeng ini kebetulan bertepatan dnegan acara ulang tahun perkawinan Mas Wawan yang ke 25, bertepatan juga dengan ultah istriku yang ke 41 dan ultah mas Bela yang ke 51.



Untuk ini mas Faisol yang berpredikat kutu loncat, suka pindah-pindah porfesi dan pekerjaan didaulat untuk memimpin doa bersama. Awalnya sih yang ditunjuk adalah mas Nur Utama, Kiai dari Kudus, tetapi beliau lebih prefer untuk menjadi makmum dan menyerahkan tampuk pimpinan doa ke mas Faisol.



Begitulah acara inipun diakhiri dengan doa bersama.



Setelah doa bersama, acara dilanjutkan dengan narsis bersama.



Bagi yang masih belum puas dengan foto-foto yang ada, bisa mengunjungi facebook untuk melihat koleksi CIveng 78. Silahkan klik disini atau disini. Kalau masih belum puas dengan berita reuni 78, bisa lihat juga berita reuni akbar Civeng disini.

Civeng 78 juga membuat grup milis dengan alamat civeng78@googlegroups.com. Silahkan lihat-lihat disini. Mau gabung? Kirim saja imil kosong ke sini civeng78+subscribe@googlegroups.com

Sampai ketemu di reuni tahun depan. Rencananya sih di Bandung di rumah mas Faisol.

Sabtu, Mei 09, 2009

Dagelan Mataram --> The Next Generation

Awalnya aku dapat balasan pesan dari mas Indro Warkop di Fisbuk dan kukabarkan pesan ini pada teman-teman di Yogya. Rupanya teman-teman di Yogya mneyikapi berita ini dengan diskusi tentang format acara apa yang saat ini menarik untuk ditampilkan di layar kaca.

Tahun 80an, mereka memang malang melintang di panggung maupun di layar kaca. Dua dunia yang sangat berbeda itu, mereka geluti secara bersamaan. Ini jelas sebuah tantangan yang menarik.

Laiknya jago main tenis disuruh main badminton, maka meskipun terlihat sama-sama pegang raket, tetapi teori bermainnya sama sekali berbeda, bahkan bertolak belakang.

Pada permainan badminton, pergelangan tangan amat sangat berperan, hal ini menjadi tabu untuk permainan tenis. Sekarang Silahkan dicoba main tenis lapangan dengan cara main badminton. Dijamin permainan akan macet atau tangan menjadi cedera.

Begitu jugalah dengan cara berakting di panggung dengan cara berakting di layar kaca. Meskipun sama-sama bernama "akting", tapi teorinya sangat berbeda.

Teori akting di panggung, jika dipakai di layar kaca akan terlihat menjadi gerakan yang over akting. Seolah-olah sang aktor adalah pemain yang baru belajar akting. Sebaliknya teori main di layar kaca, jika dipakai di panggung akan membuat pesan yang disampaikan tidak sampai ke audience.

Diskusi-diskusi itu akhirnya mendapat wadah ketika akhirnya aku meluncur ke Yogya untuk kangen-kangenan dengan mereka, teman-temanku bermain akting di tetaer stemka.

Meskipun aku banyak berperan di teater kampus, tapi harus kuakui tetaer STEMKA adalah tempat sekolahku belajar teater, disamping belajar juga di teater 10 Paksi Delayota.

Ada 5 orang yang hadir di acara reuni itu.

Yang paling sepuh adalah HASMI alias Haryo Suraminata, sang pencipta komik GUNDALA Puter Petir. Kemudian yang paling muda adalah Yudistira Ramadhan, blogger muda yang menjadi blogger tamu di blogku.

Dua orang lagi adalah Tri SUdarsono dan Constantinus Teguh D, anggota dari grup 3 T yang pernah mendapat pulpen emas karena menampilkan humor segar dengan bahasa Indonesia yang tetap terjaga.

Pulpen mereka itu sekarang ada dimana aku tak tahu, kalau pulpenku sih sudah kujual sejak tak pernah kupakai dan butuh duit segar.

Sang pelayan sampai bingung melayani kita. Bagaimana tidak, begitu duduk mereka langsung nyerocos nggak bisa dihentikan. Tak ada terlintas di kepala mereka untuk pesan makan minum dulu baru kemudian mulai membuka pembicaraan.

Ketika akhirnya ada jeda, maka kupastikan mereka pesan minuman dulu dan kemudian kuminta pelayan untuk datang lagi beberapa menit setelah pembicaraan awal ini selesai.

Ternyata ceritanya seru banget. Ada cerita tentang hape hilang dan pencurinya nelpon ke alamat yang ada di hape untuk mengisi pulsa di nomor tertentu.

Ada juga cerita tentang mas Wendo [Arswendo Atomowiloto] yang masih terus semangat untuk menciptakan tayangan yang bermutu di layar kaca meskipun tantangan untuk itu amat sangat besar.

Lihat saja tayangan yang laris manis di layar kaca, sebagian besar adalah tayangan yang tidak jelas arahnya mau kemana. Rupanya kawan-kawanku ini pada terusik dengan tayangan layar kaca saat ini yang didominasi oleh tayangan yang jauh dari bermutu.

Jiwa mereka terbangkit dan ada keinginan untuk muncul lagi di dunia panggung maupun di layar kaca.

"Mampukah kita ini menarik penonton lagi seperti tahun 80-an dulu?", begitu pertanyaan yang muncul dan jawaban pertanyaan itupun membuat mereka berpikir keras.
narsisnya gak ilang2 [Hasmi and Me]
Format acara yang seperti apa sih yang saat ini bisa menarik pemirsa untuk duduk di depan layar kaca untuk melihat penampilan mereka?

Diskusipun berkembang terus dengan membahas bermacam-macam format. Kemampuan mereka rupanya masih tajam untuk membuat analisa tayangan, mulai dari setting studionya, angle camera sampai ke materi acaranya.

Seolah-olah sudah pasti tayang di layar kaca, maka merekapun sudah membayangkan kalau acara yang mereka buat nantinya harus tayang setiap hari [Senin-Jumat]. Tim kreatif yang bagaimana yang harus dibentuk dan dimana home base yang harus mereka ambil untuk kelancaran proyek ini.
asyik membahas yang masih di angan-angan [Teguh dan Hasmi]
Kebetulan hari itu adalah hari ultah mas Indro Warkop, jadi di sela-sela acara kusempatkan untuk mengucapkan slamat ulang tahun kepada mas Indro Warkop.
kirim ucapan selamat ultah buat mas Indro [pakai whiteberry tuh]
Nggak tahu juga apa sebabnya, tetapi komentar ultah dari kawan-kawan Yogya itu muncul dua kali di dinding mas Indro [wah yang salah ini servernya fisbuk atau BB-ku yang ngadat ya?]

Rama, sang blogger tamuku, asyik mendengarkan diskusi kami tanpa sedikitpun memberikan pendapatnya, mungkin sungkan mungkin juga dia sedang menikmati diskusi seniornya. Maklum yang sedang berdiskusi ini adalah kawan-kawan dari bapaknya Rama [yang sudah almarhum], sehingga dia sungkan untuk ikut menyumbangkan buah pikirannya.

Diskusi terus berlangsung dalam suasana yang sangat njawani dan "nyetemka" [model diskusi ini susah dijelaskan, hanya orang teater stemka yang bisa merasakan model diskusi ini].
4 Masgetir [?]
Ketika akhirnya ada jeda diskusi, maka baru kita sadari bahwa smeua tamu sudah meninggalkan rumah makan ini. Pintu gerbang rumah makan juga sudah terlihat ditutup, kamipun akhirnya meninggalkan rumah makan ini dengan hati yang berkecamuk, karena masih ada yang beklum dituntaskan di malam ini.

Mas Hasmi, mas Teguh dan mas Tri, masih ada hari lain untuk bertemu lagi. Kalau Tuhan berkehendak, maka keinginan untuk main di panggung maupun di layar kaca pasti akan kesampaian.

Insya Allah Tuhan tidak tidur.
Semoga ini menjadi doa yang baik dan percik asa munculnya tayangan bermutu di layar kaca.
Amin
dari kanan Teguh, Hasmi, TrIS [eshape] dan Tri
...

Sabtu, April 11, 2009

Reuni Sipil 78

Tahun 2001 mas Himawan sudag ngajak reunian di Tokonya, tapi keburu aku pindah ke Surabaya, maka acara itu akhirnya gagal. Meski begitu, mas Sigit dan pak Noor Utomo tidak bosen-bosennya untuk ngajak angkatan 78 untuk kumpul-kumpul, berapapun yang hadir.

Seringkali mas Noor cerita tentang mas Gunawan yang sudah jadi boss besar dan pingin ketemuan sama rekan-rekan seangkatan. Tidak kalah semangatnya adalah mas Subandono [bukan ayahnya Alisa Subandono ya..]

Pada akhirnya pertemuan itupun terjadilah di Warung Prima, Taman Galaxy Bekasi dan mas Subandono membagi-bagikan buku karangannya, lengkap dengan tanda tangannya.

Pulang dari reunian aku masih harus ikut reunian lagi di Bekasi. Ini reunian spesial, karena waktunya tidak ditentukan. Semuanya tergantung pada waktuku dan waktu istriku.

Ini benar-benar hari reuni, dan mungkin tahun reuni bagiku.

Saat membuka acara ini, maka yang kuucapkan adalah ajakan kesepakatan tentang pengurus angkatan 78 ini. Kutunjuk mas Sigit sebagai Sekjend dan mas Himawan sebagai Bendahara.

"Tidak usah pakai ketua, yang penting sekretarisnya joss, pasti angkatan 78 akan terurus dengan baik", begitu kataku.



Dalam perjalanan acara selanjutnya, kelihatannya para peserta sudah mendudukkan aku sebagai ketua angkatan 1978. Akupun tidak mau memperlambat acara dengan diskusi tentang kepengurusan ini, jadi semua kuterima dan kuputuskan bahwa angkatan 78 perlu dana untuk memudahkan komunikasi.

Eh, pada mbayar iuran lebih dari yang seharusnya dibayar. Yo wis terima saja deh. Toh yang ngurus mas Himawan [ha..ha...ha...].

Sampai di rumah langsung sudah ada laporan mas Himawan tentang penggunaan dana. Tengkyu mas Himawan atas kerja cepatnya.

Tahun ini bener-bener akan jadi tahun reuni buatku. Setelah ngurusi reuni angkatan 78 ini, maka pada tanggal 18 Juli 2009 aku kembali mengundang semua alumni Sipil UGM untuk berkumpul lagi dalam acara forum bisnis dan gathering. Setelah itu, kayaknya delayota Jakarta juga ingin mengadakan reunian, karena tidak sempat kumpul2 Reuni Akbar di Yogya kemarin.

Aku siapkan diri dulu deh untuk ngurus semua ini. Jangan sampai reuni sukses tapi kerjaan kantor terbengkalai.

Semoga sukses semua yang kukerjakan, baik untuk teman-teman, untuk perusahaan maupun untuk diriku sendiri [tentunya] . Amin