Tampilkan postingan dengan label 17an. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 17an. Tampilkan semua postingan

Rabu, September 17, 2008

17 Ramadhan 1429 H

Angka 17 biasanya dianggap angka keramat, padahal semua angka sebenarnya sama saja. Angka hanya membedakan jumlah atau sebagai penanda waktu saja.

Malam ini, di Masjid Mekar Indah, kultumnya diganti KULIBAS [kuliah lima belas menit] atau bahkan mungkin KUTIGAM [kuliah tiga puluh menit]. Yang diceritakan, seperti biasa, adalah tema yang menyangkut Al Quran.

Aku terkantuk-kantuk duduk di barisan paling depan, sampai kemudian pak Ustadz cerita tentang pahala orang belum mahir membaca Al Quran, sehingga mbaca aliflammim saja gak selesai-selesai. Ternyata di titik ini pak Ustadz berhasil membangunkan aku dari kantuk.

Selanjutnya, ceramah ustadz ini mengalir deras tanpa etrbendung lagi. Joke-joke segar mewarnai semua ceramahnya.

Betapa terpujinya, orang di jaman nabi, yang setiap sholat selalu membaca surat Al Ikhlas. Bedanya, saat ini banyak orang yang mencontoh perbuatan itu tanpa tahu makna dibalik bacaan Al Ikhlas itu.

Kebanyakan orang membaca Al Ikhlas karena pendeknya bukan karena materi yang terkandung dalam surat itu.

Cintailah AL Quran, dan insya Allah, dalam setiap langkah kita, Allah swt akan selalu mencintai kita.
Amin.


Jumat, Agustus 22, 2008

Proklamasi 17 08 05

Beberapa orang tidak merasa aneh dengan pidato proklamasi dari presiden pertama Indonesia, tapi beberapa yang lain ada yang merasa kejanggalan dari proklamasi itu.

Saat Sukarno membacakan naskah proklamasi itu, tidak banyak yang bisa mendengarkannya dan tidak akan ada yang mendengarnya kalau saja tidak ada orang kreatif yang beberapa tahun kemudian meminta SUkarno untuk merekam ulang pidato proklamasinya.



Yusuf, yang punya ide itu, langsung didamprat SUkarno."Proklamasi itu hanya sekali!", jawab Sukarno tegas.

Namun rupanya Yusuf tidak putus asa. Pencipta slogan "Sekali di udara Tetap di udara!" itu tidak kenal menyerah membujuk Sukarno, sehingga akhirnya di tahun 1951 SUkarnoi merekam kembali pidato proklamasinya.

Akibatnya, tidak terlihat adanya emosi yang seharusnya muncul seperti saat Sukarno membacakannya di tahun 1945. Backsoundnya juga terdengar sepi, soalnya belum ada mixing waktu itu untuk nambahi backsound.

Benarkah cerita di atas?

Aku ndengerin siaran Radio Delta FM, tangal 22 Agustus 2008, jam 17.00 ns.d 18.00. Yang diwawancarai anaknya pak Yusuf. Acara yang cukup menarik untuk disimak.

CMIIW



Salam

Senin, Agustus 18, 2008

MERDEKA 63x



Akhirnya hari H tiba sudah. Dimulai dengan upacara pagi hari dan diakhiri dengan malam syukuran sampai "midnight". 

Tahun lalu aku merangkap jadi MC, penyanyi dan seksi perlengkapan. Untuk tahun ini cukup MC saja, nggak nyanyi dan hanya menyediakan peralatan kabel listrik saja.

Biar nggak capek latihan BAND, maka tahun ini kita cukup nyewa organ tunggal saja. Namun malah penyanyinya pada malu-malu. Hanya pak RT yang sangat "pedhe" menyumbangkan lagu. Emang pak RT kita ini punya bakat penyanyi, jadi ya enak saja kita mendengarnya.

Selama memperingati HUT RI, biasanya aku selalu kebagian jadi MC. Di kampung Yogya dulu, kadang dapet tugas untuk mimpin renungan. Di MEdan, gak pernah ngapa-ngapain. Nonton pentas aja dan nonton lomba di kantor maupun di kampung. Kebetulan kantor dan kampungnya deket banget.

DI Surabaya, selain MC pernah juga di"dapuk" jadi pemimpin doa. Wah ini agak nyleneh. Aku bukan type orang yang mudah berdoa di depan orang-orang. Lebih enak doa sendiri, pakai bahasa ibu, bukan bahasa arab.

Kalau ngeliat semangat rakyat Indonesia merayakan pesta thunan ini kadang rasanya trenyuh banget. DI saat rakyat masih sangat nasionalis, masih suka bergotong royong untuk memakmurkan kampung masing-masing, ternyata para pemimpinnya malah pada mikirin diri sendiri.

Partai yang kupilih juga belum menunjukkan tindakan yang signifikan. Apa mungkin karena belum ada personil dari partaiku yang jadi presiden ya?

Kalaupun jadi presiden, apa ada presiden Indonesia yang mampu merubah mentalitas para pemimpin negeri ini ?

Jadi inget teman-teman ESQ yang begitu semangat mencanangkan Indonesia Emas 2020. Artinya pemilu tahun 2009 harus menjadi tonggak awal perubahan menuju Indonesia Emas itu.

Aku harus menjatuhkan pilihan dan tidak golput, agar aspirasiku tersalurkan. Semoga partai yang kupilih mampu lebih berkarya di pemerintahan tahun depan. 

Semoga juga semua partai yang ikut bertarung mulai berpikir tentang Indonesia Emas 2020, dan mereka mulai mau menjauhkan diri dari budaya korupsi yang sudah begitu menggurita di negara ini.

Insya Allah, kita hanya bisa berdoa dan semoga Tuhan mengabulkan doa kita semua.
Amin.

Minggu, Agustus 17, 2008

17 Agustus 2008


Pagi ini kuucapkan salam MERDEKA buat Indonesia. Buatku sendiri kuucapkan selamat menjadi ajudan pembina upacara.

Waktu SD dulu, aku sering jadi protokol upacara bendera di sekolah. SMP ngga kebagian apa-apa, demikian juga SMA dan PT.

Baru ketika kerja di Waskita, dapat tugas sebagai pemimpin upacara. Setelah itu, di proyek gak pernah upacara lagi. Banyak malesnya (kurang nasionaliskah diriku?).

Hari ini, aku kembali menjadi petugas upacara bendera di kantor dan kebagian jadi ajudan Pembina Upacara. Kebetulan yang jadi pembina adalah direktur Waskita yang dijuluki "Kepala Genk". Peserta upacara adalah gabungan dari seluruh BUMN Karya.

Semoga acaranya lancar dan fotonya bisa kupajang di blog ini. Sekarang sudah mandi dan siap-siap sholat subuh.

Yang penting selalu semangat, selalu tersenyum terhadap apapun yang kita terima.

foto dari milis civeng@yahoogroups.com
didapat sepulang dari acara upacara, kiriman dari mr NWS

Jumat, Agustus 15, 2008

Panen Kaos


17an, selalu identik dengan lomba dan syukuran. Kalau syukuran identik dengan makan malam dilanjutkan tirakatan, maka lomba-lomba 17an selalu identik dengan kaos tim "baru".


Sampai hari ini aku sudah ngumpulin berapa kaos baru ya? Coba tak hitung lagi :

  1. Tenis meja
  2. Tenis lapangan
  3. Futsal (eh...., yang ini beli sendiri)
  4. Voli, hari -I
  5. Voli hari -II
  6. Voli semifinal

Nah udah setengah lusin tuh. Hari ini bakalan dapet kaos lagi untuk babak final, jadi total jendral ada 7 kaos baru. Kalau ditambah kaos dari sponsor telkomsel, total jendral 8 kaos baru.

Hari Kamis rencananya mimpin kunjungan keproyek. Tahun lalu, peserta dan "guide"-nya dapet kaos, jadi tercapailah angka 9 kaos di bulan ini.

Dari semua kaos itu, yang bersejarah adalah kaos di babak semifinal. Kita ambil set pertama, kita lepas set kedua (dengan menurunkan tim cadangan) dan kita abil lagi di set ke-3 (pakai the winning team).

Fotografernya juga pinter ngambil gambarnya. Terlihat aku sedang berperan sebagai pengatur permainan. He..he..he... ngatur sih gampang, main yang susah...!:-)

Merdeka !

Dirgahayu Indonesia 63....!




merayakan kemenangan


(sok) mengarahkan tim

paling tinggi pasti direktur operasi


lagi-lagi (sok) mengarahkan tim

Rabu, Agustus 13, 2008

17an Direktur

Selasa sore, aku ikut meramaikan lomba bola voli. Lapangan masih sepi, dan lawan tanding belum pada datang, tapi dua direktur Waskita sudah muncul di lapangan. Mr Dani dan Mr DiDi T, direktur Keuangan dan yang satunya direktur Operasi (pasti lulusan CIveng ini!:-).

Wah hebat juga semangat pak Direktur (baru) ini. Jangan-jangan semangat 45 telah merasuki jiwa para pimpinan kita. Wah, bagus itu..!

Saat permainan berlangsung, maka terlihat keakraban dari direktur dengan non direktur. Sudah tidak ada "gap" lagi antara direktur dengan satpam. "Tos-tos"an antara direktur dilakukan secara spontan karena bola masuk danpoint bertambah.

Kalau staf tidak ada yang jatuh bangun, maka direkturnya ada yang sampai terpaksa duduk di lapangan.

Pura-pura jatuh nggak ya? nggak deh, pasti jatuh beneran tuh.

Kalau kita berpendapat pura-pura jatuh berarti masih beranggapan setengah kosong, belum setengah isi. Pelajaran dari warung makan dari dulu adalah masakan telor setengah matang bukan telor setengah mentah (meskipun ujudnya sama).

Pelajaran hari ini,"semangat telah megalahkan umur!".

Hasilnya direktur yang tua-tua menang melawan tim yang muda-muda dan kompak. Mereka masih terlalu tangguh untuk dibandingkan dengan pevoli amatiran (he..he..he... agak narsis sedikit nih...!:-)







Senin, Agustus 11, 2008

Belut Bakar

Sehabis acara lomba di depan rumah, maka tertinggalah beberapa belut di rumahku (tepatnya berhasil disembunyikan oleh LiLo dan kawan-kawannya untuk mainan mereka). Belut itu sudah pada kelelahan, karena dipakai dalam lomba belut, sehinga sudah tidak gesit lagi.

Ketika anak-anak melihat belut dan melihat lauk di meja yang belum terhidang, maka timbulah pikiran untuk masak belut.

Kuarahkan sedikit tentang bumbu yang perlu untuk masak belut. Mereka bilang mau dibakar saja, biar rasanya nggak seperti belut goreng yang biasa dibawa ibunya dari Yogya, jadi bumbunya sederhana saja, bawang merah-putih dan garam, kalau mau boleh ditambah kecap (cap Bango).

Acara yang paling sulit adalah membunuh belut itu. Kembali aku ngasih sedikit arahan untuk membunuh belut dengan tidak menyiksanya. Akhirnya merekapun sukses membunuh semua belut yang masih ada di ember.

Giliran proses masak, maka semua terlibat dalam menyiapkan peralatan untuk membuat sang belut mateng. LiLo berbuat semampu dia untuk ikut mensukseskan acara bakar belut itu. Sayangnya, setelah acara mbakar belut selesai, LiLo diajak main oleh kawannya, sehingga sholat Asar udah menjelang maghrib dan diapun tidak kebagian daging belut bakar.

Rupanya kakak-kakaknya sudah nggak tahan melihat sang belut bakar yang sudah siap hidang, dan habislah belut itu dimakan mereka berdua.

Kunasehati LiLO, yang matanya berurai air mata, kalau dia ikhlas menerim akondisi ini, maka Tuhan akan mengganti LiLo dengan makanan yang jauh lebih lezat dibanding belut bakar.

Terbuktilah, malem itu aku masak menu aneh yang luar biasa lezatnya, meskipun gizinya masih patut dipertanyakan.

Awalnya kita masak sarden tapi tanpa garam, sehingga rasanya hambar. Kemudian kita beli mie instan 2 bungkus dan kita campur sarden itu dengan mie instan tersebut.

Pertama, margarine satu sendok dipanaskan di “wajan” penggorengan, masukkan sarden yang telah ditambah air. Biarkan mendidih dan masukkan mie instan bersama dengan bumbunya. Tambahkan telur yang sudah diberi campuran sedikit garam dan kecap (cap Bango). Selesailah sudah...!

Setelah sore makan belut bakar, maka malemnya Luluk Lita dapat merasakan sarden + mie instan. Mama mia lezatos..!

Yang penting LiLo sudah ngga ngambek lagi, karena dapat bagian paling banyak ...!:-)







Minggu, Agustus 10, 2008

17an di tanggal 10

Seperti tahun yang sudah sudah, jalan di depan rumahku kembali menjadi ajang lomba anak-anak dan orang tua. Tumpleg bleg, semua warga cluster Montana memenuhi jalan di depan rumahku, terutama anak-anak mereka.

Ibunya anak-anak sedang ke Yogya, sehingga aku jadi “single parent” deh hari ini. Warga cluster Montana yang hanya beberapa KK itu ketika berkumpul ternyata ramai juga.

Lombanya masih konvensional (makan kerupuk, kelereng, pindah bola plastik, dll), kecuali lomba memindahkan bola ping pong dengan cara ditempelkan di pipa PVC. Bola itu akan nempel di pipa selama kita sanggup menghisapnya, bila hisapan berhenti untuk mengambil nafas, maka sang bola ping pong pasti jatuh dengan sendirinya. Untuk lomba ini, anakku LiLo jasi juara I di kelasnya.

Untuk lomba belut yang dinanti-nantikan, ternyata anakku =LiLo= kalah di final, sedangkan mbakyunya yang pernah juara di tahun-tahun lalu, sudah malu ikut lomba. Inilah risiko anak-anak yang punya bapak aktif menjadi panitia lomba. Yang diurusin justru anak orang lain, anak sendiri malah “kapiran”, nggak keurus.

Di kantor, di kampung, dimanapun, kalau sudah urusan anak-anak, biasanya aku kebagian jatah untuk mengelolanya. Akibatnya, anak-anakku pada protes, karena merasa nggak dieprhatiin. Anak orang lain pada bergembira ria bersama ortunya, sedangkan anakku hanya bisa bersama ibunya. Hari ini malah benar-benar terbengkalai, karena gak ada ibunya dan gak ada pembantu di rumah. Wis dijamin kapal pecah tanpa nakhoda sedang berlayar di rumahku.

Abis lomba, bapak-bapak masih ngumpul di teras depan. Ngobrol ngalor ngidul dan ditutup dengan test karaoke pakai PSR 1500. Itung-itung persiapan malam riang gembira menyambut 63 tahun RI.

Dirgahayu RI 63.



Lomba Pindah Belut


Ini sih eksyen......!:-)


Mbantuin adik yang lomba makan kerupuk

Canda tawa tanpa kenal kasta

Kecil-kecil udah latihan tari perut nich ...???

Pindah bola boleh kok dibantu ama mamanya ....

Suasana di depan rumah, tiap tahun selalu meriah ...

Lomba pindah bola ping pong bapak-bapak

semi final

Final

JUARA ....!

gak bisa makan sendiri, ya dibantu ama LiLo

Rabu, Agustus 06, 2008

Pesta Tahunan Indonesia

logohut63risdhw.jpg


Tema HUT RI ke-63:

"Dengan Semangat Proklamasi 17 Agustus 1945, Kita Lanjutkan Pembangunan Ekonomi Menuju Peningkatan Kesejahteraan Rakyat, serta Kita Perkuat Ketahanan Nasional Menghadapi Tantangan Global".

Begitu tema pesta tahunan kali ini.

Bagiku, bulan Agustus adalah bulan untuk bersenang-senang, sejenak mengurangi beban pekerjaan dan meingkatkan rasa sosial di antara kita.

Segala macam Olah Raga dipertandingkan dan hampir semuanya kuikuti. Hasil pertandingan, aku selalu MENANG....NGGUNG MALU alaias kalah.

Bagiku kemenangan musuhku adalah amalku untuk membahagiakan mereka yang mungkin jarang menang dalam event olah raga resmi.

Penggembira, itulah yang lebih tepat untuk menggambarkan kontribusiku dalam lomba-lomba yang diadakan di kantor.

Di Kampung sendiri, biasanya aku ikut memeriahkan acara lomba anak-anak. Maksudnya biar anakku tidak takut ikut lomba, soalnya bapak ibunya pada aktif jadi panitia. Hasilnya lumayan. Kadang anakku juara kadang tidak. Yang penting tidak ada KKN untuk memenangkan lomba itu.

Selamat datang bulan Agustus, selamat datang semangat kebersamaan. Mari berbagi keceriaan di bulan penuh semangat ini.

Bulan depan sudah menanti bulan suci, bulan pembakaran dosa kita.

Semoga kita diberi kesempatan menikmati bulan suci Ramadhan.

Amin.

Senin, Juli 28, 2008

17 Agustus (01)


17-an kali ini belum terasa kemeriahannya. Semua masih adem ayem saja kelihatannya. Itu makanya aku terkejut ketika dikabari ada kerja bakti di komplek, pada hari Minggu 27 Juli 2008.

Saat itu aku sedang di ruang pelatihan ESQ sama LiLo, jadi nggak mungkin ninggalin LiLo, soalnya (mumpung diperbolehkan) aku ingin mendampingi LiLo dan ikut ndengerin mbak instruktur yang terlihat sangat menguasai materinya.

Akhirnya menjelang siang aku baru bisa meninggalkan LiLo dan kulihat temen-teman (tetangga) yang ikut kerja bakti "ngecat gerbang" sedang "break". Kuparkir motorku di rumah dan akupun bergabung bersama mereka.

Lumayan kebagian pisang goreng dan minuman yang enak tenan (nggak ikut kerja kok ikut makan ya? Gak malu tuh...!:-).

Alhamdulillah, akhirnya aku diberi kerjaan ngecat pos ronda. Meskipun porsi kerjaku sangat sedikit, tetapi lumayan sebagai pengganti pisang goreng yang udah memenuhi perutku.

Yang penting, pas malem 17-an harus siap jadi MC lagi.

Oke, no problem. I'm ready to be a MC at Independence Celebration Day. Insya Allah. Amin.