Tampilkan postingan dengan label presiden. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label presiden. Tampilkan semua postingan

Selasa, November 11, 2008

Guru Bangsa

Waktu aku kecil, aku begitu mendewakan Suharto. Tahun 1966 sampai tahun 70an, rasanya sosok Suharto adalah sosok yang begitu "adem", sangat mengayomi dan sangat berjiwa kebapakan.

Tahun-tahun ketika Suharto rajin berdialog dengan para petani adalah tahun yang membuat aku terpana dengan beliau. Seorang presiden yang mampu berdialog dengan rakyatnya dalam suasana yang segar dan hangat. Presiden mana yang bisa seperti itu?

Sudah begitu, rasa kedaerahan juga membuat aku makin angkat topi buat beliau. Sampai akhirnya, aku mulai ragu-ragu dengan sikap beliau yang mendua dan terlihat sangat diktator.

Dia begitu sayang sama anak-anaknya sampai melupakan kewajibannya sebagai kepala negara, dan mulai menghasilkan keputusan-keputusan yang mendukung bisnis anak-anaknya. Hutang negara yang makin besar tiak menjadi perhatiannya, dmeikian juga korupsi yang akhirnya sudah melebur dalam budaya pemerintahan.

Aku tercenung ketika negara terkaya sumber dayanya ini makin terpuruk, bahkan mendapat predikat sebagai negara dengan tingkat korupsi yang sangat memprihatinkan.

Kehebatan beliau di mataku makin turun dan akhirnya seperti timbul tenggelam. Ajakannya untuk mencintai produk Indonesia [eh ini ajakan Suharto atau Bimbo ya?] masih relevan sampai saat ini [bahkan sangat diperlukan pada krisis global moneter saat ini], tapi tindakannya yang makin jauh dari jiwa demokrasi membuat kehebatannya kembali tenggelam.

Ketika akhirnya beliau terguling, aku malah bersyukur. Bahkan aku justru tertarik dengan sosok Wiranto yang kala itu terlihat begitu PeDhe untuk menjalankan hak dan kewajibannya sebagai tentara nasional Indoensia.

Saat ini ingatan pada Suharto kembali terusik. Partai yang tidak kucoblos tetapi selalu kuhargai telah "menobatkan" Suharto sebagai pahlawan dan guru bangsa.

Nilai plus Suharto bagi Indonesia memang banyak, tapi [mungkin] sebanyak itulah "dosa" dia untuk Indonesia. Kebaikan setahun saja hilang oleh hujan sehari, apalagi kalau hujannya lebih dari sehari.

[pas nulis ini pas ada iklan Guru Bangsa di TiPi].

Menurut anda, benarkah Suharto itu Guru Bangsa?

Senin, Oktober 06, 2008

DEMAM pemilu


Tidak hanya di Indonesia, di negara paman SAM juga sedang demam pemilu.

Mau buat mini election dan dapet duit 5.000?

Coba ikuti saja petunjuk ini [dijamin belum tentu dapet duitnya, tapi dapet sensasinya].

1. Punya PLURK
2. Masuk ke http://www.plurk.com/vote dan buat [misalnya] http://www.plurk.com/vote/eshape
3. Ikuti petunjuknya untuk masang di imil, IM atau di blog
4. Sudah

Gitu aja?

Iya tuh ...

Jumat, Agustus 22, 2008

Proklamasi 17 08 05

Beberapa orang tidak merasa aneh dengan pidato proklamasi dari presiden pertama Indonesia, tapi beberapa yang lain ada yang merasa kejanggalan dari proklamasi itu.

Saat Sukarno membacakan naskah proklamasi itu, tidak banyak yang bisa mendengarkannya dan tidak akan ada yang mendengarnya kalau saja tidak ada orang kreatif yang beberapa tahun kemudian meminta SUkarno untuk merekam ulang pidato proklamasinya.



Yusuf, yang punya ide itu, langsung didamprat SUkarno."Proklamasi itu hanya sekali!", jawab Sukarno tegas.

Namun rupanya Yusuf tidak putus asa. Pencipta slogan "Sekali di udara Tetap di udara!" itu tidak kenal menyerah membujuk Sukarno, sehingga akhirnya di tahun 1951 SUkarnoi merekam kembali pidato proklamasinya.

Akibatnya, tidak terlihat adanya emosi yang seharusnya muncul seperti saat Sukarno membacakannya di tahun 1945. Backsoundnya juga terdengar sepi, soalnya belum ada mixing waktu itu untuk nambahi backsound.

Benarkah cerita di atas?

Aku ndengerin siaran Radio Delta FM, tangal 22 Agustus 2008, jam 17.00 ns.d 18.00. Yang diwawancarai anaknya pak Yusuf. Acara yang cukup menarik untuk disimak.

CMIIW



Salam