Sabtu, 25 Juli 2009, aku menghadiri acara pertemuan ortu murid di sekolah LiLo. Biasanya aku menghadiri acara seperti ini bersama dengan istriku, tetapi hari ini istriku sedang di Yogya, ngurusin anak mbarep dan anak nomor dua, jadi kuputuskan mengajak Lilo saja.
Sampai di sekolah LiLo, baru beberapa orang yang datang, tapi begitu aku tanda tangan di buku kehadiran ortu, kulihat rombongan ortu mulai bemrunculan dan ruangan kelaspun terlihat penuh.
Tiap kelas ada sekitar 30 orang, jadi kalau datang separo saja sduah ada 45 orang yang hadir. Itu kalau dianggap yang datang hanya ibunya atau bapaknya saja, padahal banyak juga yang datang lengkap, baik ibunya maupun ayahnya.
Total jendral ada sekitar 60 orang yang hadir dan 10% di antaranya adalah laki-laki.
Dengan sabar ibu guru dan pak guru memberi penjelasan tentang proses belajar mengajar di sekolah ini untuk tahun ini. Ada beberapa perubahan yangdilakukan oelh pihak sekolah. Misalnya, yang tadinya satu guru untuk satu kelas, maka mulai kelas IV ini, satu guru akan bertanggung jawab untuk satu mata pelajaran, jadi mirip jamanku SMP dulu.
Yang paling kontroversial buatku, tetapi tidak bagi orang tua lainnya, adalah masalah PR [pekerjaan rumah].
Biasanya kalau Lilo tidak mengerjakan PR, entah karena sakit, malas, lupa atau kesibukan lain, maka aku biasanya akan membiarkan LiLo pergi ke sekolah tanpa PRnya. Kalau LiLo dihukum, ya itu adalah suatu konsekuensi dari suatu perbuatan, jadi ya diterima saja.
Untuk tahun ini, maka nilai PR ini disetarakan dengan nilai UAS maupun ulangan harian, sehingga kalau tidak mengerjakan PR, maka ada kemungkinan nilainya akan turun. Biarpun pinter di sekolah, kalau PR tidak dikerjakan, maka nilainya bisa jatuh.
Taruhlah nilainya 9 [sembilan] semua, tapi kalau nilai PRnya 0, maka nilai akhir di raport bisa menjadi [9+9+9+0]/4 = 6,75an alias dibawah 7 [tujuh].
Kalau model begini, kayaknya PR itu nantinya akan dikerjakan oleh ortu siswa deh. Hampir tidak mungkin melihat ortu, terutama ibu-ibu, yang rela melihat nilai anaknya jatuh gara-gara nggak ngerjakan PR.
Pengetahuanku cukup minim untuk masalah PR ini, jadi aku lebih banyak bediskusi dengan teman ortu di sampingku. Nampaknya dia tidak terganggu dengan aturan ini, dmeikian juga ketika kukirim imil ke kawan ortu yang tdiak bisa hadir, ternyata tanggapannya kurang lebih sama.
Jadi hanya aku saja ya yang khawatir dengan peraturan masalah PR ini ya?
Yah kayaknya aku harus meningkatkan porsi baik sangkaku, sambil mencari pencerahan tentang masalah PR ini.
Seikapa tahu ada pembaca blog ini yang mau berbagi pencerahan tentang masalah PR untuk anak SD [ketika itu muncul juga SMS dari Yogya yang mengabarkan bahwa anakku yang di SMA juga setiap hari tidur malem gara-gara mengerjakan PR yang menumpuk].
Benarkah dunia pendidikan di Indonesia harus penuh dengan PR, lalu kapan ya aku bisa bercengkerama dengan anak-anak tanpa disibukkan urusan pekerjaan ataupun urusan sekolah?
Salam Semangat.
...
.