Tampilkan postingan dengan label sekolah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sekolah. Tampilkan semua postingan

Minggu, Juli 26, 2009

PR LiLo

Sabtu, 25 Juli 2009, aku menghadiri acara pertemuan ortu murid di sekolah LiLo. Biasanya aku menghadiri acara seperti ini bersama dengan istriku, tetapi hari ini istriku sedang di Yogya, ngurusin anak mbarep dan anak nomor dua, jadi kuputuskan mengajak Lilo saja.

Sampai di sekolah LiLo, baru beberapa orang yang datang, tapi begitu aku tanda tangan di buku kehadiran ortu, kulihat rombongan ortu mulai bemrunculan dan ruangan kelaspun terlihat penuh.

Tiap kelas ada sekitar 30 orang, jadi kalau datang separo saja sduah ada 45 orang yang hadir. Itu kalau dianggap yang datang hanya ibunya atau bapaknya saja, padahal banyak juga yang datang lengkap, baik ibunya maupun ayahnya.



Total jendral ada sekitar 60 orang yang hadir dan 10% di antaranya adalah laki-laki.



Dengan sabar ibu guru dan pak guru memberi penjelasan tentang proses belajar mengajar di sekolah ini untuk tahun ini. Ada beberapa perubahan yangdilakukan oelh pihak sekolah. Misalnya, yang tadinya satu guru untuk satu kelas, maka mulai kelas IV ini, satu guru akan bertanggung jawab untuk satu mata pelajaran, jadi mirip jamanku SMP dulu.



Yang paling kontroversial buatku, tetapi tidak bagi orang tua lainnya, adalah masalah PR [pekerjaan rumah].

Biasanya kalau Lilo tidak mengerjakan PR, entah karena sakit, malas, lupa atau kesibukan lain, maka aku biasanya akan membiarkan LiLo pergi ke sekolah tanpa PRnya. Kalau LiLo dihukum, ya itu adalah suatu konsekuensi dari suatu perbuatan, jadi ya diterima saja.

Untuk tahun ini, maka nilai PR ini disetarakan dengan nilai UAS maupun ulangan harian, sehingga kalau tidak mengerjakan PR, maka ada kemungkinan nilainya akan turun. Biarpun pinter di sekolah, kalau PR tidak dikerjakan, maka nilainya bisa jatuh.

Taruhlah nilainya 9 [sembilan] semua, tapi kalau nilai PRnya 0, maka nilai akhir di raport bisa menjadi [9+9+9+0]/4 = 6,75an alias dibawah 7 [tujuh].



Kalau model begini, kayaknya PR itu nantinya akan dikerjakan oleh ortu siswa deh. Hampir tidak mungkin melihat ortu, terutama ibu-ibu, yang rela melihat nilai anaknya jatuh gara-gara nggak ngerjakan PR.

Pengetahuanku cukup minim untuk masalah PR ini, jadi aku lebih banyak bediskusi dengan teman ortu di sampingku. Nampaknya dia tidak terganggu dengan aturan ini, dmeikian juga ketika kukirim imil ke kawan ortu yang tdiak bisa hadir, ternyata tanggapannya kurang lebih sama.

Jadi hanya aku saja ya yang khawatir dengan peraturan masalah PR ini ya?



Yah kayaknya aku harus meningkatkan porsi baik sangkaku, sambil mencari pencerahan tentang masalah PR ini.

Seikapa tahu ada pembaca blog ini yang mau berbagi pencerahan tentang masalah PR untuk anak SD [ketika itu muncul juga SMS dari Yogya yang mengabarkan bahwa anakku yang di SMA juga setiap hari tidur malem gara-gara mengerjakan PR yang menumpuk].

Benarkah dunia pendidikan di Indonesia harus penuh dengan PR, lalu kapan ya aku bisa bercengkerama dengan anak-anak tanpa disibukkan urusan pekerjaan ataupun urusan sekolah?

Salam Semangat.
...
.

Senin, Juni 01, 2009

Sekolah Buat Anak Dhuafa

Minggu lalu, dalam acara master Mind Cikarang, ada salah satu kawan yang cerita tentang susahnya mendirikan TK dan akhirnya memilih mendirikan BimBel.

Ada diskusi menarik soal perlunya anak kecil belajar menulis. Pada usia balita, sebaiknya anak-anak itu dibiarkan bermain dan jangan pernah dibebani untuk menjadi seorang anak yang pintar menulis.

Anak-anak akan berkembang lebih optimal jika dibiarkan berkreasi dengan otak kanannya. Jadi isilah hari-hari sang anak dengan kegiatan yang menumbuhkan semangat hidupnya dan perkembangan otaknya.

Sayangnya tuntutan masyarakat dan tuntutan pendidikan tingkat SD adalah anak yang lulus TK dengan kemampuan baca tulis yang memadai, bukan NOL kosong.

Inilah yang kemudian menjadi dilema bagi pihak sekolah TK. Meluluskan anak dengan kemampuan baca tulis yang rendah akan menurunkan citra sekolah, kalau memaksa anak-anak untuk pandai baca tulis juga kurang bijaksana.

Untungnya, ada saja ide untuk membuat anak-anak betah bermain tetapi sebenarnya mereka sedang belajar baca tulis.

Itu yang kemudian menjadi salah satu ide di TK Nurul Azizi, "Belajar Sambil Bermain dan Bermain sambil belajar". Sebuah ide umum yang pasti juga diterapkan di sekolah-sekolah lain, agar anak-anak tetap gembira bersekolah dan mempunyai kemampuan baca tulis yang memadai.

Aku salut dengan guru-guru TK yan begitu ramah dan sabar dalam melayani para anak-anak itu. Tidak mudah melatih kesabaran melayani anak-anak. Mengurusi anak sendiri saja banyak yang kesusahan, apalagi mengurusi anak orang lain.

Yang lebih mengherankan lagi, ada saja sekolah yang mampu menggratiskan anak didiknya, sementara sekolah yang dikelola istriku masih kesusahan dalam mengatur cash flownya.

Salut buat sekolah gratis buat anak Dhuafa yang bisa dilihat di http://www.rumahbelajarbintangkecil.com/

Semoga kita dapat mengikuti langkah besar sekolah itu.
Insya Allah
Amin.


catatan :
tulisan ini dipersembahkan pada blog Sekolah Gratis buat Anak Dhuafa, semoga terus berjalan dengan lancar dan sukses selalu.
Amin

'''''
'''
'