Hari ini acaranya adalah ngumpulke balung pisah lagi. Kebetulan lokasinya dekat dengan Cawang, jadi aku bisa lebih pagi menuju lokasi arisan trah Jakarta ini. Gerimis yang mulai turun juga membuatku menyegerakan berangkat ke lokasi arisan. Maklum namanya Jakarta kalau sudah hujan, pasti banjir dan macet.
Alhamdulillah, meski sempat beberapa kali menemui hujan lebat, tapi sekitar jam 10.30 sudah sampai ke lokasi.
"Bu alamat blok BB5 nomor 4 mana ya?", kataku ketika aku gagal menemukan rumah dengan alamat BB5 nomor 4. Yang ada adalah BB5 nomor 1 dan kemudian nomor 3. Jadi aku berhenti pas di depan BB5 nomor 4 dan bertanya pada seorang ibu-ibu yang ada di seberang rumah itu.
"Ya di depan bapak itu nomor 4".
"Hahaha.... bener rupanya feelingku", kataku dalam hati sambil mengangguk pada ibu yang kutanya.
Mas Sukamto yang baru saja memarkirkan mobilnya membantuku memarkir mobilku. Wajahnya sudah familiar, tapi ternyata setelah ngobrol baru ketahuan bahwa kita belum pernah bertemu.
Mas Sukamto ini alumni Undip dan pernah bekerja sama dengan salah satu proyek Waskita, tapi belum pernah bertemu denganku.
Kamipun ngobrol ngalor ngidul sambil menunggu datangnya saudara yang lain. Ternyata mereka baru berangkat ketika aku sudah sampai lokasi.
Jalan ke arah Blok BB5 Jatiasih Bogor ini saat aku lewat tadi sudah macet yang dari arah Jati asih menuju Cikunir dan ternyata setelah aku lewat jalan menjadi macet dari kedua arah.
Jam setengah dua, barulah seluruh keluarga ngumpul dan arisanpun dimulai.
Yang membuat suasana makin akrab adalah penuhnya rumah itu didatangi dari berbagai penjuru Jakarta. Lantai atas untuk yang "no smoking" dan lantai bawah untuk kaum ahli hisap (rokok).
Aku sebenarnya sudah kenyang makan kue dan minuman (sampai berbotol-botol), tapi ketika ada ajakan untuk pindah makan siang ke Resto Saung Apung, ternyata perutku masih sanggup mengikutinya.
Acarapun berlanjut ke Saung Apung. Resto yang asri, bersih dan ramai pengunjung. Anak-anak langsung mancing, sementara para orang tua langsung menyantap hidangan yang sudah terhidang di meja.
Di hadapanku terhidang teh manis panas dan ayam bakar "brutu", Wah pas banget nih. Langsung saja kusikat habis dan langsung cuci tangan. Hehehe.. pingin ngobrol soalnya.
Pas adzan Asar, akhirnya acara selesai dan ditutup dengan foto bersama, meskipun tidak semua bisa ikut. Rudi membawa camera pocket Fuji. Ini adalah camera yang mirip punya mas Bagus. Di kelas mirrorless, camera merk Fuji mungkin termasuk jajaran camera klas premium, mengungguli Nex dari Sony atau OMD dari Olympus.
Aku sendiri mengabadikan acara ini dengan camera ponsel dan terakhir memakai Sony NEX-6.
Semoga pertemuan yang akan datang bisa lebih meriah lagi. Kebetulan aku yang jadi host. Tinggal cari tempat yang sejuk dan bikin anak-anak merasa nyaman. Terpikir kalau acaranya di Taman Bunga Mekar Sari mungkin meriah ya?
Nantilah survey dulu sama anak istri. Hari ini ngumpulke balung pisah lagi dan rasanya sore ini menjadi sore yang indah penuh kenangan. Alhamdulillah.
Tampilkan postingan dengan label jakarta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label jakarta. Tampilkan semua postingan
Sabtu, Februari 02, 2013
Selasa, September 06, 2011
Mudik gak sampai 12 jam, balik ke Jakartanya 25 jam
"Berangkat jam berapa mas dari Yogya?"
"Sekitar jam 23 atau jam 11 malam"
"Sampai di Jakarta?"
"Pas jam 00.00"
"Berarti cuma sejam ya?"
"Hahahaha...benar cuma sejam Yogya - Jakarta plus satu hari !"
Perjalanan mengikuti arus balik ke Jakarta setelah puas bermain di Yogyakarta memang luar biasa bagiku. Mendengar orang lain mudik dan kembali ke jakarta dengan kisah heroiknya selalu membuat aku terbayang betapa perkasanya mereka menyetir mobil lebih dari 24 jam.
Kini kisah heroik itu kualami sendiri. Badan jadi kucel karena belum mandi dan capek karena duduk diam selama hampir 25 jam dikurangi jalan-jalan atau sholat. Pantat jadi semakin panas dan tidak tahu lagi harus digeser kemana.
Alhamdulillah, selama perjalanan banyak dinasehati oleh teman-teman dengan nasehat cesplengnya masing-masing. Akupun larut dalam syukur padanya. Minimal telah sampai di Jakarta dengan selamat tak kurang suatu apa.
"Tetap berdzikir mas, biar perjalanan ini berkah. Doa orang yang sedang dalam perjalanan mudah dikabulkan Tuhan mas"
"Wah aku tadi pagi di tempat sampeyan istirahat mas. Muacetnya memang tidak terprediksi"
"Aku baru mau masuk ke tol Cikampek mas. Baru 21 jam kok, jadi masih perlu waktu tambahan untuk masuk Jakarta"
"Aku akhirnya sampai bekasi dari Yogya memakan waktu 30 jam persis"
"Aku sudah 36 jam dan belum sampai Jakarta mas"
Berbagai komentar itu benar-benar ces pleng. Masih banyak yang lebih heroik dibanding aku yang saat itu baru sekitar 8 jam perjalanan.
Macet dimulai setelah aku menempuh jarak ratusan kilometer dan menapakkan ban mobil di jalan layang Raja Polah. Yogya Raja Polah kutempuh sekitar 6-7 jam dan kemudian perlahan-lahan kita maju semeter demi semeter. Akhirnya tertempuh jarak 10 km dan memakan waktu sekitar 6-7 jam. Persis sama dengan waktu tempuh Yogya - Raja polah.
Sepanjang perjalanan tidak banyak kecelakaan terjadi, kalaupun terjadi biasanya hanya terpeleset dari motor atau menyerempet kendaraan lain. Namun ternyata macetnya tidak terkira. Dugaanku jalan yang ada sudah tidak sanggup lagi menerima jumlah kendaraan yang lewat.
Di beberapa tempat kulihat pak Polisi dengan cekatan menangani dan mengurai daerah macet agar cepat mencair, tapi di beberapa tempat kulihat juga mereka asyik ngobrol sementara di sekitar mereka kemacetan seperti tontonan berita di TV saja. Mereka asyik bergurau dengan sesama polisi dan kitapun dibuat menjadi jengkel tanpa bisa berbuat apa-apa.
Polisi juga manusia ! Harus ada empati untuk mereka dan aku perlu berjuang keras untuk merubah simpati menjadi empati. Andai aku jadi mereka mungkin malah lebih parah daripada mereka barangkali.
Beberapa kali aku juga mengelus dada karena banyaknya pemudik yang mendahului dari sisi kiri maupun kanan mobil dengan cara yang sembrono dan melupakan kaidah-kaidah K3 (safety). Bagasi yang menyembul keluar dari bodi sepeda motor, anak kecil yang didekap erat di antara orang tuanya dan ngebutnya mereka di celah jalan yang sempit sementara lawan mereka adalah bis atau angkot yang tak kenal kasihan.
Mending kalau mereka memanfaatkan bahu jalan, tapi kebanyakan mereka malah justru berada di kanan jalur cepat dan siap tancap gas begitu melihat celah untuk masuk.
Terbiasa menempuh jarak Yogya Jakarta selama sekitar 12 jam, sekarang sampai dua kali lipat ternyata asyik juga. Sepanjang jalan penuh obrolan segar untuk menghilangkan jenuh di jalan.
Saat para penumpang lain ikut capek dan ketiduran, akupun terus berpikir untuk mencari solusi mudik tahun depan. Yang kupikirkan adalah betapa borosnya aku dalam membakar BBM dan demikian juga berapa ton BBM yang dibakar kendaraan lain yang sedang terkena macet saat ini.
Sebagian dari BBM yang dibakar itu adalah subsidi pemerintah dan artinya subsidi BBM ini tidak terpakai dengan optimal.
Padahal hari lebaran sebenarnya dalam ajaran Islam tidak harus dirayakan seperti ini.Justru hari Raya Qurban yang dirayakan dengan penuh kemeriahan.
Semoga tahun depan dapat mudik asyik tanpa pemborosan BBM. Minimal untuk lingkungan keluargaku, syukur-syukur banyak yang sependapat denganku untuk tidak membuang BBM dengan memacetkan jalan.
Andai tahun depan transportasi masal makin banyak dan rel dua track sudah bisa dibangun, maka kemacetan jalan akan makin sedikit. Memang butuh biaya besar, tapi kalau subsidi BBM dikurangi mungkin bisa dipakai untuk membangun sarana dan prasarana transportasi yang lebih memadai.
"Sekitar jam 23 atau jam 11 malam"
"Sampai di Jakarta?"
"Pas jam 00.00"
"Berarti cuma sejam ya?"
"Hahahaha...benar cuma sejam Yogya - Jakarta plus satu hari !"
Perjalanan mengikuti arus balik ke Jakarta setelah puas bermain di Yogyakarta memang luar biasa bagiku. Mendengar orang lain mudik dan kembali ke jakarta dengan kisah heroiknya selalu membuat aku terbayang betapa perkasanya mereka menyetir mobil lebih dari 24 jam.
Kini kisah heroik itu kualami sendiri. Badan jadi kucel karena belum mandi dan capek karena duduk diam selama hampir 25 jam dikurangi jalan-jalan atau sholat. Pantat jadi semakin panas dan tidak tahu lagi harus digeser kemana.
Alhamdulillah, selama perjalanan banyak dinasehati oleh teman-teman dengan nasehat cesplengnya masing-masing. Akupun larut dalam syukur padanya. Minimal telah sampai di Jakarta dengan selamat tak kurang suatu apa.
"Tetap berdzikir mas, biar perjalanan ini berkah. Doa orang yang sedang dalam perjalanan mudah dikabulkan Tuhan mas"
"Wah aku tadi pagi di tempat sampeyan istirahat mas. Muacetnya memang tidak terprediksi"
"Aku baru mau masuk ke tol Cikampek mas. Baru 21 jam kok, jadi masih perlu waktu tambahan untuk masuk Jakarta"
"Aku akhirnya sampai bekasi dari Yogya memakan waktu 30 jam persis"
"Aku sudah 36 jam dan belum sampai Jakarta mas"
Berbagai komentar itu benar-benar ces pleng. Masih banyak yang lebih heroik dibanding aku yang saat itu baru sekitar 8 jam perjalanan.
Macet dimulai setelah aku menempuh jarak ratusan kilometer dan menapakkan ban mobil di jalan layang Raja Polah. Yogya Raja Polah kutempuh sekitar 6-7 jam dan kemudian perlahan-lahan kita maju semeter demi semeter. Akhirnya tertempuh jarak 10 km dan memakan waktu sekitar 6-7 jam. Persis sama dengan waktu tempuh Yogya - Raja polah.
Sepanjang perjalanan tidak banyak kecelakaan terjadi, kalaupun terjadi biasanya hanya terpeleset dari motor atau menyerempet kendaraan lain. Namun ternyata macetnya tidak terkira. Dugaanku jalan yang ada sudah tidak sanggup lagi menerima jumlah kendaraan yang lewat.
Di beberapa tempat kulihat pak Polisi dengan cekatan menangani dan mengurai daerah macet agar cepat mencair, tapi di beberapa tempat kulihat juga mereka asyik ngobrol sementara di sekitar mereka kemacetan seperti tontonan berita di TV saja. Mereka asyik bergurau dengan sesama polisi dan kitapun dibuat menjadi jengkel tanpa bisa berbuat apa-apa.
Polisi juga manusia ! Harus ada empati untuk mereka dan aku perlu berjuang keras untuk merubah simpati menjadi empati. Andai aku jadi mereka mungkin malah lebih parah daripada mereka barangkali.
Beberapa kali aku juga mengelus dada karena banyaknya pemudik yang mendahului dari sisi kiri maupun kanan mobil dengan cara yang sembrono dan melupakan kaidah-kaidah K3 (safety). Bagasi yang menyembul keluar dari bodi sepeda motor, anak kecil yang didekap erat di antara orang tuanya dan ngebutnya mereka di celah jalan yang sempit sementara lawan mereka adalah bis atau angkot yang tak kenal kasihan.
Mending kalau mereka memanfaatkan bahu jalan, tapi kebanyakan mereka malah justru berada di kanan jalur cepat dan siap tancap gas begitu melihat celah untuk masuk.
Terbiasa menempuh jarak Yogya Jakarta selama sekitar 12 jam, sekarang sampai dua kali lipat ternyata asyik juga. Sepanjang jalan penuh obrolan segar untuk menghilangkan jenuh di jalan.
Saat para penumpang lain ikut capek dan ketiduran, akupun terus berpikir untuk mencari solusi mudik tahun depan. Yang kupikirkan adalah betapa borosnya aku dalam membakar BBM dan demikian juga berapa ton BBM yang dibakar kendaraan lain yang sedang terkena macet saat ini.
Sebagian dari BBM yang dibakar itu adalah subsidi pemerintah dan artinya subsidi BBM ini tidak terpakai dengan optimal.
Padahal hari lebaran sebenarnya dalam ajaran Islam tidak harus dirayakan seperti ini.Justru hari Raya Qurban yang dirayakan dengan penuh kemeriahan.
Semoga tahun depan dapat mudik asyik tanpa pemborosan BBM. Minimal untuk lingkungan keluargaku, syukur-syukur banyak yang sependapat denganku untuk tidak membuang BBM dengan memacetkan jalan.
Andai tahun depan transportasi masal makin banyak dan rel dua track sudah bisa dibangun, maka kemacetan jalan akan makin sedikit. Memang butuh biaya besar, tapi kalau subsidi BBM dikurangi mungkin bisa dipakai untuk membangun sarana dan prasarana transportasi yang lebih memadai.
Sabtu, Oktober 11, 2008
Kehangatan [perjalanan] Jakarta-Medan

Kejadian setengah tahun lalu kok terjadi lagi ya. Mirip banget deh.
Saat itu, aku pergi ke Padang dan tidak bisa segera pulang, karena masih dibutuhkan teman-teman di Padang, sehingga anak-anak jadi tanpa ortu, karena istriku juga harus "terbang" ke MALAKA.
Saat ini, aku diharapkan tinggal di MEdan dan Aceh sampai hari Selasa minggu depan, tapi aku akan balik hari Minggu saja, karena istriku akan terbang ke BEIJING. Begitulah, anak-anak kembali tanpa ortu di rumah.
Perjalanan ke Medan penuh dengan cobaan kesabaran hati [tertampung di http://www.plurk.com/eshape/]. Dimulai dari sistem manual dari Sriwijaya, sehingga aku tidak bisa mendaftar [check in] meskipun sudah antri paling depan.
Setelah di"ping-pong" petugas Sriwijaya, maka akhirnya aku duduk sendirian di depan tiket, sampai loketnya buka. begitu loket buka, ternyata harus antri di loket lain [HALAH..... bener-bener latihan sabar].
Bosen gonta ganti posisi duduk/berdiri, maka nyoba nge"PLURK" pakai Nokia N73 [ribet banget saking kecilnya layar dan mouse].
Begitu tiket udah oke, langsung masuk John Executive LOUNGE. Halah...... Mandiri Card gak berlaku disini [yang berlaku Mandiri Syariah]. Untung masih ada card yang lain.
Berkali-kali aku nanayain pesawat yang ke Medan, dan mbaknya sampai bosen, karena nggak punya jawaban yang pasti. Akhirnya kuhabiskan waktu dengan ngePLURK dan kenalan sama sesama penumpang [baik yang mau ke solo, palembang, surabaya, dll].
Ketika semua teman-teman baruku mulai "BOARDING", maka akhirnya akupun nekat keluar dari LOUNGE.
ALhamdulilah, firasatku ini benar. Sampai di ruang tunggu, suasana sudah sepiiiiiii banget. Ternyata penumpang tujuan Medan sudah pada naik pesawat. Wuihhhh, hampir saja terulang nasib di lounge BNI. Teladh masuk pesawat dan musti nungguin di depan pintu pesawat yang sudah ditutup [siap untuk take off].
Sampai di pesawat, ternyata para penumpang masih di luar. Mereka antri panjang sekali di pintu depan pesawat. Kulihat di pintu pesawat sisi belakang, nggak ada yang antri, yowis akupun naik dari belakang.
Seperti biasa, aku selalu milih duduk di dekat pintu darurat bagian gang. Dapetlah nomor 11C [nomor favorit].
Seperti biasa, pramugari pasti akan mendekati deretan pintu darurat untuk menjelaskan prosedur membuka pintu darurat.
Entah karena iseng atau nggak "dunk", maka penumpang paling kiri langsung menarik pintu darurat sehingga terbukalah pintu darurat.
Alhamdulillah, mbak pramugari yang cantik dan putiiiih banget kulitnya, meskipun terlihat jengkel, tapi tetap tersenyum manis dan mohon pintu yang satunya jangan dibuka, karena sudah delay, jangan sampai nanti malah tambah delay lagi, hanya untuk urusan nutup pintu darurat.
Sampai di hotel sudah jam 23.30. Langsung pesan kamar yang bisa internetan, dan dapetlah kamar nomor 622. Ternyata resepsionisnya nggak "dunk" atau katrok, di kamar 622 ini gak ada fasilitas internetannya.
Kok Tiara tidak seindah dulu ya?
Emang Hotel baik di Medan sekarang apa sih?
Dulu Tiara ini paling top deh, tahun 2001 saat aku meninggalkan Medan, hotel Tiara masih yang terbaik tuh. Gak tahu sekarang kok katrok banget.
Ya udah, pasang hape aja ke laptop. Rencananya mau internetan pakai hape aja, namun persoalan ternyata masih belum selesai. Nggak ada aplikasi PC Suite di laptopku [yang barusan masuk RS karena harddisknya ancur].
Dasar nasib baik, ternyata aku bawa USB SanDisk yang berisi PCSuite. Hasilnya, blog inipun jadilah.
Pelajaran hari ini :
- Cobaan terhadap kesabaran selalu ada dimana saja. Jadikanlah sholat dan sabar sebagai penolongmu [inget itu pak eshape!!!]
- Selalulah tersenyum pada setiap orang yang kau jumpai, niscaya mereka bisa menjadi obat kejenuhan perasaan. Jangan lupa rumus senyum 2-2-7 [tarik bibir 2 cm ke kanan, 2 cm ke kiri dan pertahanakan selama 7 detik]
- Bila mampu menahan sabar dan mampu bersyukur pada semua yang kita terima, maka pertolongan Tuhan akan datang dari tempat yang tidak kita duga.
Alhamdulillah.
Selesai.
Sabtu, Februari 02, 2008
Banjir Jakarta 1 Peb 2008
Pulang dari Cikeas, kubuka kotak surat elektronik, dan kuterima beberapa gambar yang akan selalu mengingatkan kita agar lebih tertib menjaga lingkungan.


Semoga masalah kelestarian lingkungan, terus menjadi fokus perhatian kita.
gambar-gambar ini kiriman mas MB (sumber tidak jelas, mungkin motret dewe, soale ahli foto memfoto) dan dari DL (diambil dari Washington post).
Semoga masalah kelestarian lingkungan, terus menjadi fokus perhatian kita.
Insya Allah.
Amin.
Amin.
gambar-gambar ini kiriman mas MB (sumber tidak jelas, mungkin motret dewe, soale ahli foto memfoto) dan dari DL (diambil dari Washington post).
Langganan:
Postingan (Atom)





