Tampilkan postingan dengan label yogya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label yogya. Tampilkan semua postingan

Selasa, September 06, 2011

Mudik gak sampai 12 jam, balik ke Jakartanya 25 jam

"Berangkat jam berapa mas dari Yogya?"
"Sekitar jam 23 atau jam 11 malam"
"Sampai di Jakarta?"
"Pas jam 00.00"
"Berarti cuma sejam ya?"
"Hahahaha...benar cuma sejam Yogya - Jakarta plus satu hari !"



Perjalanan mengikuti arus balik ke Jakarta setelah puas bermain di Yogyakarta memang luar biasa bagiku. Mendengar orang lain mudik dan kembali ke jakarta dengan kisah heroiknya selalu membuat aku terbayang betapa perkasanya mereka menyetir mobil lebih dari 24 jam.

Kini kisah heroik itu kualami sendiri. Badan jadi kucel karena belum mandi dan capek karena duduk diam selama hampir 25 jam dikurangi jalan-jalan atau sholat. Pantat jadi semakin panas dan tidak tahu lagi harus digeser kemana.

Alhamdulillah, selama perjalanan banyak dinasehati oleh teman-teman dengan nasehat cesplengnya masing-masing. Akupun larut dalam syukur padanya. Minimal telah sampai di Jakarta dengan selamat tak kurang suatu apa.

"Tetap berdzikir mas, biar perjalanan ini berkah. Doa orang yang sedang dalam perjalanan mudah dikabulkan Tuhan mas"

"Wah aku tadi pagi di tempat sampeyan istirahat mas. Muacetnya memang tidak terprediksi"

"Aku baru mau masuk ke tol Cikampek mas. Baru 21 jam kok, jadi masih perlu waktu tambahan untuk masuk Jakarta"

"Aku akhirnya sampai bekasi dari Yogya memakan waktu 30 jam persis"

"Aku sudah 36 jam dan belum sampai Jakarta mas"

Berbagai komentar itu benar-benar ces pleng. Masih banyak yang lebih heroik dibanding aku yang saat itu baru sekitar 8 jam perjalanan.



Macet dimulai setelah aku menempuh jarak ratusan kilometer dan menapakkan ban mobil di jalan layang Raja Polah. Yogya Raja Polah kutempuh sekitar 6-7 jam dan kemudian perlahan-lahan kita maju semeter demi semeter. Akhirnya tertempuh jarak 10 km dan memakan waktu sekitar 6-7 jam. Persis sama dengan waktu tempuh Yogya - Raja polah.

Sepanjang perjalanan tidak banyak kecelakaan terjadi, kalaupun terjadi biasanya hanya terpeleset dari motor atau menyerempet kendaraan lain. Namun ternyata macetnya tidak terkira. Dugaanku jalan yang ada sudah tidak sanggup lagi menerima jumlah kendaraan yang lewat.

Di beberapa tempat kulihat pak Polisi dengan cekatan menangani dan mengurai daerah macet agar cepat mencair, tapi di beberapa tempat kulihat juga mereka asyik ngobrol sementara di sekitar mereka kemacetan seperti tontonan berita di TV saja. Mereka asyik bergurau dengan sesama polisi dan kitapun dibuat menjadi jengkel tanpa bisa berbuat apa-apa.

Polisi juga manusia ! Harus ada empati untuk mereka dan aku perlu berjuang keras untuk merubah simpati menjadi empati. Andai aku jadi mereka mungkin malah lebih parah daripada mereka barangkali.

Beberapa kali aku juga mengelus dada karena banyaknya pemudik yang mendahului dari sisi kiri maupun kanan mobil dengan cara yang sembrono dan melupakan kaidah-kaidah K3 (safety). Bagasi yang menyembul keluar dari bodi sepeda motor, anak kecil yang didekap erat di antara orang tuanya dan ngebutnya mereka di celah jalan yang sempit sementara lawan mereka adalah bis atau angkot yang tak kenal kasihan.

Mending kalau mereka memanfaatkan bahu jalan, tapi kebanyakan mereka malah justru berada di kanan jalur cepat dan siap tancap gas begitu melihat celah untuk masuk.



Terbiasa menempuh jarak Yogya Jakarta selama sekitar 12 jam, sekarang sampai dua kali lipat ternyata asyik juga. Sepanjang jalan penuh obrolan segar untuk menghilangkan jenuh di jalan.

Saat para penumpang lain ikut capek dan ketiduran, akupun terus berpikir untuk mencari solusi mudik tahun depan. Yang kupikirkan adalah betapa borosnya aku dalam membakar BBM dan demikian juga berapa ton BBM yang dibakar kendaraan lain yang sedang terkena macet saat ini.

Sebagian dari BBM yang dibakar itu adalah subsidi pemerintah dan artinya subsidi BBM ini tidak terpakai dengan optimal.

Padahal hari lebaran sebenarnya dalam ajaran Islam tidak harus dirayakan seperti ini.Justru hari Raya Qurban yang dirayakan dengan penuh kemeriahan.

Semoga tahun depan dapat mudik asyik tanpa pemborosan BBM. Minimal untuk lingkungan keluargaku, syukur-syukur banyak yang sependapat denganku untuk tidak membuang BBM dengan memacetkan jalan.

Andai tahun depan transportasi masal makin banyak dan rel dua track sudah bisa dibangun, maka kemacetan jalan akan makin sedikit. Memang butuh biaya besar, tapi kalau subsidi BBM dikurangi mungkin bisa dipakai untuk membangun sarana dan prasarana transportasi yang lebih memadai.





Minggu, Januari 16, 2011

Gowes ke Joglo Abang


Sehabis subuh hujan gerimis membasahi kota Yogyakarta, akupun jadi ragu untuk sepedaan pagi ini. Apalagi badan masih terasa capek, sehabis jetlag Jakarta Yogya by Bus dan ikut acara Munas TDA Yogyakarta di Sogan Batik.

"Pak, hujan lho...jangan dipaksain nggowes", kata istriku

"Udah janji sama mas Tri je...", sahutku sambil menghidupkan komputer dan mulai menulis laporan kegiatan TDA Yogyakarta kemarin sore.

Istriku menemaniku menulis dan menjawab pesan yang masuk ke inbox. Sempat juga buka fisbuk istriku untuk menjawab beberapa pesan yang masuk dan approve permintaan pertemanan dari beberapa kawan istriku.

"Lho, ini kawan SMPku pak. Coba buka undangan pertemuan panitia SMP-ku pak..", aku akhirnya tidak jadi nulis di blog. Aku hanya sempat copas dari blog kompasiana dan kurubah disana sini saja.

Apalagi ketika ada pesan masuk dari mas Tri.

"Jadi sepedaan mas?"

"Jadi mas. Langsung berangkat, gak usah mandi dulu ya. Aku jemput mas Tri", jawabku via ceting ke mas Tri.

"Ya tak tunggu"

"Ups..aku lupa sepedaku masih di bengkel. Kemarin sore gembos dan akhirnya nginap di bengkel. Aku ambil sepada dulu dan mas Tri jemput aku saja. Arah gowes seperti kesepakatan kemarin saja, mlipir selokan mataram ke arah barat"

Sampai di bengkel aku dibuat geleng kepala. Aku hanya minta dipompa saja kok malah ditambal. Kan baru saja ganti ban dalam terus setealh itu sepeda tak parkir gak ada yang makai, lha kok kata bengkelnya sepedanya bocor di "dop" dan harus ditambal.

Beberapa minggu lalu sepedaku memang bocor halus dan aku tahu bahwa ban sepedaku kurang bagus karena saat sepedaan lalu bocor di "dop"-nya tapi karena toko sepeda tutup semua maka kubiarkan saja kempes setelah beberapa hari gak dipakai.

Minggu lalu kubelikan ban dalam dan langsung ganti ke bengkel itu. Eh kejadiannya bocor lagi "dop"nya. Benarkah kualitas ban dalam kita begitu parahnya? Baru sekali pakai, jarak kurang dari 1 km dan sudah bocor lagi "dop"-nya?

Agak susah berbaik sangak di masalah ini, jadi kuputuskan untuk dilupakan saja dan fokus pada acara sepedaan berjamaah dengan mas Tri.

Berduaan kami keluar masuk kampung dan akhirnya sampai di pinggir selokan mataram. Arah gowesan sudah jelas yaitu menuju arah barat dan menyusuri pinggir selokan mataram.


Satu jam bersepada akhirnya sampai di Joglo Abang, tempat mangkalnya para relawan Merapi sekaligus rumah lain dari mas Antok Suryaden. Setelah ditelpon gak diangkat, maka aku ambil gamnbar saja dengan mas Tri di Joglo Abang ini.

Badan mulai cape dan tenggorokan juga sudah perlu digelontor air, sehingga tujuan sudah mulai berubah.

"Kita cari warung yang buka mas"

"Yes, segelas teh hangat atau kopi panas sangat occok di udara yang dingin dan keringat yang mulai membasahi badan ini"

Setengah jam mencari-cari warung yang sudah buka akhirnya membawa kami ke warung nasi Gudeg Bu Yanti. Semuanya jadi tidak obyektif untuk ditulis.

"Apapun makanan dan minumannya, dalam kondisi seperti ini pasti adanya ya enak dan enak banget saja"



Benar saja, satu piring nasi standard dengan lauk standard, ayam, gudeg krecek dan telor habis dalam hitungan menit saja. Mungkin tidak sampai sepuluh menit semua hidaangan sudah tandas habis.

Aku jadi ingat petuah sesat tentang makan.

"Makanlah sebelum lapar dan jangan berhenti makan sebelum kenyaaaaaang betul...!:-)"

Tentu itu adalah parodi dari "Makan ketika lapar dan berhenti makan sebelum kenyang"

Seperti dugaanku, setelah makan maka semangat nggowes sudah mulai menurun. Selain karena kekenyangan, lalu lintas juga sudah mulai ramai, sehingga susah untuk santai lagi. Jalan-jalan kampung sudah berubah menjadi ajang balap, apalagi jalan raya, sudah tak ada lagi lahan untuk para pesepeda.

Untuk kota yang walikotanya demen sepeda saja suasana para pesepeda tidak nyaman, apalagi kalau kotanya dipimpin oleh walikota yang tidak demen sepeda, wah mau kayak apa tuh.


Perjalanan sempat terhenti ketika melewati rel kereta api. Akupun turun dan mendekati rel kereta api sambil bersiap untuk mengambil gamnbar kereta api yang akan lewat. Jadi ingat film unstoppable nih. Kereta tanpa masinis yang melaju kencang dan tak bisa dihentikan lagi karena kencangnya dan panjangny agerbong yang dibawa.


Para pengemudi sepeda motor yang tertahan oleh palang pintu kereta semua berhenti dengan tak teratur. Mereka memenuhi seluruh badan jalan, baik lajur milik mereka sendiri maupun lajur kanan yang seharusnya menjadi milik pengguna jalan dari arah berlawanan.

"Itu cewek yang disampingku tadi dengan santainya berhenti di paling kanan jalan dan sudah masuk ke bahu jalan penguna jalan dari arah depan..."


Akhirnya mas Tri memarkir sepedanya juga dan ikut menikmati suasana stasiun Bantulan. Jadi inget waktu kecil dulu suka main ke stasiun untuk menaruh paku besar di atas rel kereta api. Bila ada kereta api yang melewati paku itu, maka paku akan menjadi gepeng dan berubah bentuk menjadi pisau kecil yang sangat tajam dan runcing.

Pulang ke arah rumah sempat mampir sebentar di rumah Emha Ainun Najib. Rumahnya terlihat sepi dan tidak ada tanda kehidupan. Para centengnya juga tidak terlihat, jadi kita gowes lagi sepeda menuju warung Mie Sehati.

Hari ini badan capek tapi puasnya tidak terkira. Sepanjang perjalanan di samping selokan mataram kita tidak hanya teringat bacaan puisi tentang gemercik suara air yang mengalir, semilir angin sawah, tapi kit amengalaminya dan merasakan betapa wajah ini menjadi sangat nyaman.

Terima kasih mas Tri, telah memberi hari yang indah di pagi hari ini.

Salam sehati.

Pohon bambu di depan warung ini membuat suasana menjadi natural banget

Sabtu, Januari 31, 2009

Naik Pesawat

Enaknya tugas ke luar kota oleh perusahaan adalah dipilihkan pesawat yang bagus, yang relatif lebih safe dibanding armada angkut lainnya.


Masuk pesawat duluan, disambut kapten pilot yang ramah, dan duduk di tempat yang nyaman [artinya kaki bisa leluasa bergerak, tidak terhalang oleh kursi di depannya].



Apalagi kalau ditugaskan ke Yogya, wah tambah nyaman tuh. Bisa pulkam tanpa biaya dan tidak mengurangi cuti perorangan.

Sampai di atas pesawat, berbagai macam koran tergeletak di kursi depan. Ada tempo, kompas, dll. Hmmm pilih kompas aja ya. Berita di halaman depan sangat menarik, "SEKATEN".



Seperti biasa, kebiasaan orang kita, maka sampai di Jakarta para penumpang langsung berdiri, hand phone juga sudah mulai berdering, padahal pesawat belum benar-benar berhenti.

Hmmm tidak hanya penumpang armada lain, penumpang Garuda juga punya kebiasaan yang sama.



Turun dari pesawat, kita bisa memilih, lewat anak tangga berjalan atau jalan kaki lewat anak tangga biasa.



Kalau mau sehat, lebih baik turun lewat anak tangga biasa. Setelah sejam duduk tanpa kegiatan, sebaiknya memang cari kegiatan yang bisa melemaskan otot.

Sabtu yang mendung, tapi cerah di hatiku.

Gudeg Bu SLamet dan Sekaten Yogya



Pagi-pagi menembus dinginnya udara alun-alun utara, aku menuju ke warung gudeg Slamet. Tadinya sih mau ke Gudeg Juminten, tapi hari ini baru pingin yang tidak semanis Juminten.

Gudeg Bu Slamet memang lebih manis dari Gudeg mbarek, tapi tidak semanis juminten, jadi jika ada yang punya selera seperti itu, maka pilihlah Gudeg Slamet.

Biarpun sudah sepuh, sang penjual tetep awas meracik bumbu dan menghitung duit [pasti donk]




Mau tidak mau, dari malioboro menuju Wijilan pasti ketemu alun-alun utara, jadi terlihatlah alun-alun yang sudah tertutup ratusan kios.

Hmm .... sekaten sudah dimulai.



Jadi inget, tahun 70an, aku jualan pisang sale di sekaten. Yang jualan tidak hanya aku, tapi saudaraku, anaknya pak dhe dan juga tidak hanya satu pak dhe, tapi beberapa pak dhe.

Aku inget, waktu itu mampir ke stasiun pemancar sekaten dan ngisi blanko kiriman lagu.

"Buat mas Rus yang sedang jualan pisang sale, semoga laris", begitulah kira-kira isinya.

Ternyata, memang doanya manjur, pisang sale mas Rus kelarisan, tapi tidak terjadi di jualanku.

Pulangnya pada nggak mau mbawa dagangan yang nggak laku itu. Jadi saling melempar tanggung jawab, gantian mbawa dagangan yang tidak laku dan akhirnya sampai juga ke rumah.

He...he...he... kalau kita kompak waktu itu mungkin bisa pulang sambil bergantian mbawa dagangan dan dalam suasana yang riang gembira.

Dasar anak SD yang sok cari uang bergabung bersama anak SD yang lain, ya gak kepikiran bahwa dagangan itu bisa nggak laku.

Pernahkan anda jadi anak SD yang mencoba cari uang saku dengan melakukan apa saja?

Wawancara Calon Pegawai Waskita

 

Tahun lalu aku dapet tugas wawancara calon pegawai baru di Undip Semarang. Rasanya nyaman berada di kota LunPia itu. Nostalgia Semarang segera terpampang di halaman muka mataku.

Tahun 2009 ini, aku kebagian tugas wawancara di Yogya. Hmmm.... aroma nostalgia langsung tercium jauh sebelum aku menginjakkan kaki di Cengkareng.

Benar saja, begitu kakiku menginjakkan kaki di ruang sidang biru lantai 3 fakultas teknik sipil, maka semerbak nostalgia langsung memenuhi hidungku.

 

Mulai dari bos dosen sampai kepala bagian pengairan [Mr.GiYaT] alias yang punya kekuasaan mutlak di dapur, langsung menyalamiku. Aslinya aku pingin ketemuan dengan Master Milis Civeng Mr.Djoko Luknanto, tapi aku tahu beliau sedang super sibuk, jadi ya hanya nitip salam saja.

"Kayak pulang kampung ya dab..!", kata mr Rudi, sang pengrajin mobil pemilik Kupu-Kupu Malam Yogya, mengomentari keakrabanku dengan "aktifis" kantor jurusan teknik sipil ini.

Acara yang tadinya dijadwalkan dimulai jam 08.00 ini molor, padahal tidak ada hal-hal yang menjadi kendala. Malam ini aku baru nyadar kalau panitia di Yogya ini kan modelnya lain dengan Semarang, jadi penuh unggah-ungguh. Kalau belum diminta mulai, ya nunggu dulu perintah, takut "kuwalat" [halah....!]

Untung para calon pelamar mau memaafkan panitia [he..he..he.. dimaafkan enggak ya], sehingga acara tetap lancar meskipun terlambat dimulai. Akupun tampil memperkenalkan Waskita di hadapan mereka.

Presentasi yang kurang optimal [bagiku], karena aku baru menerima materi presentasi di saat dan di jam mulai presentasi itu. Biasanya aku buat sendiri presentasi itu, sehingga aku sangat menguasai jumlah slide yang ada di presentasi itu.

Aku heran juga, ternyata saat wawancara, banyak yang terkesan dengan presentasiku [alah ... ini paling mbujuki biar diterima ya...]

Ternyata ada kendala yang tidak kuperhitungkan saat aku mewawancarai para calon pegawai itu. Banyaknya ikatan kelompokisme membuat aku jadi terperangah. Wah aku harus profesional nih, masak gara-gara satu alumni terus semua tak luluskan.

Begitu ketemu sama anggota Waterplant Community, aku langsung berbaik sangka, mereka pasti orang yang penuh pengabdian, bercita-cita luhur dan punya visi serta misi hidup yang jelas. Wis langsung diterima saja.

Ada juga yang ternyata tetanggaan, terus ada yang sama-sama alumni delayota. Wah ... banyak banget ternyata yang punya hubungan kelompokisme denganku.

Untungnya mereka masuk range di atas batas bawah, bahkan ada yang "top" tenan, sehingga aku tetap dapat menjaga profesionalismeku. Jadi akupun dapat dengan lega meloloskan mereka ke jenjang berikutnya.

Di ajang inipun, seperti biasa, banyak titipan dari orang-orang tertentu agar dibantu diluluskan. Akupun seperti biasa, menyampaikan saat presentasi, bahwa kebanggaanku sebagai insan Waskita adalah diterima melalui serangkaian test yang sulit dan berliku-liku.

Jadi kalau ada yang nitip atau dititpkan, pasti kuterima dengan tangan terbuka asal tetap mengikuti rangkaian test yang dilakukan.

Selesai wawancara, ada yang membisikiku bahwa nama peserta XXX adalah titipan apk YYY [seorang bos besar]. Aku sampai kaget, lha bos sebesar itu kok masih mau nitip2 ya? Apalagi setelah dia menyebut nama XXX, lah si XXX itu nilainya bagus banget, penampilan mantap kok ya masih dititip-titipkan.

Ada juga titipan model lain, yaitu titipan pertanyaan. Nah, ini baru menarik.

"Tanyain suhu air menguap pada tekanan atmosfer mas. Banyak lulusan teknik mesin UGM yang nggak bisa njawab tuh", begitu titipannya. Eh ... bener, ketika kutanyakan nggak ada yang bisa njawab tuh.

Lucunya, aku sendiri sebenarnya juga nggak bisa njawab, begitu juga bank Al, yang kukenal pintar, ternyata katanya juga nggak bisa njawab.

Jadi masalahnya, apa pertanyaannya yang terlalu sulit ya?
Jangan-jangan malah anak SMP yang bisa njawab.

He..he..he... selamat datang para calon pegawai Waskita Karya


Jumatan di Masjid Teknik
[katanya tidak boleh disebut masjid tapi mushola, karena masjid hanya ada satu di kampus]

 
poster di masjid Teknik
[hmmm ... semangat perdamaian yang indah]

Senin, Desember 22, 2008

Jape Methe [Cahe Dewe]

Di Yogya sering kita dengar ucapan aneh yang begitu fasih diucapkan dan terasa begitu familiar bagi kalangan tertentu.

Salam "Jape Methe" atau panggilan akrab "dab" begitu sering terdengar. Apa sih artinya?

Coba perhatikan gambar di bawah ini.


ja ada di baris ke tiga kolom ke tiga kita baca sebagai ca baris ke satu kolom ke tiga
pe ada di baris ke tiga kolom pertama kita baca he sesuai baris ke satu kolom ke satu
sehingga jape dibaca cahe

Jadi kuncinya adalah, baris pertama dibaca sebagai baris ke tiga dan sebaliknya, sehingga baris ke dua dibaca sebagai baris ke empat [dan sebaliknya].

SO, dab terdiri dari dua huruf da dan ba atau dibaca sebagai ma dan sa, sehingga dab=mas.

Sahany = Bapak
Pisu = Hibu [ibu]
Gadhge = Tante
Lebeny = Ngesek
Dab Penyo = Mas Eko

Pernah ke Semarang?

Nah disana juga modelnya mirip. Bedanya huruf pertama dibaca huruf terakhir.

liset = pijet [pijat]
kahat = makan [mangan]

Selamat mencoba. Dijamin diketawain [kayak wong Barat ngomong jowo]

Selasa, November 04, 2008

Sate Samirono vs Sate MoroSeneng

Technorati Tags: ,,,,

sate moro seneng 02

Tadinya kita niatnya mau makan di mang engking, tapi entah apa sebabnya warung itu tutup.

Ya sudah kita meluncur ke Warung Sate Moro Seneng [pak karto] di Jalan Magelang Km 18 Tempel saja.

Pulang dari warung sate itu, kami serombongan tiba-tiba punya ide untuk membandingkan sate yang barusan kita makan dengan sate yang tadi malem kita makan, yaitu Warung SAte SAMIRONO.

Kitapun mencoba menentukan apakah yang kita lakukan ini "fair". Kita lihat asumsi atau aspek yang dipakai sebagai dasar untuk membandingkan.

1. Kita berangkat ke warung sate dalam kondisi perut yang nyaris mirip [lapar berat]

2. [tanpa sengaja] Menu yang kita pesan juga persis sama.

3. Kita tidak punya hubungan khusus dengan kedua warung itu [mau laris ataupun bangkrut, tidak akan mempengaruhi hidup dan kehidupan kita]

Inilah hasilnya :

1. Rasa satenya masih lebih empuk Sate Samirono.

2. TOngsengnya, ternyata lebih kental dan jhoss yang di Warunbg SAte Moro Seneng [Tempel]

Anda tidak setuju?

Coba sendiri saja, dua-duanya di atas rata-rata rasanya.

Salam.

sate moro seneng 01

sate moro seneng 04

samirono 01

samirono 02

Minggu, Oktober 05, 2008

Kehangatan Syawalan Waskita Yogya



Akhirnya syawalan Waskita terlaksana juga pada tanggal 3 Oktober 2008 di Mang Engking Castle Soragan.

Dari getok tular via SMS, ternyata yang datang lebih dari perkiraan [tahun lalu]. Pak Pius, kembali jadi host dan kembali datang "agak" terlambat. Hanafi, sebagai "co host" tampil nggak mengecewakan [datang duluan]

Pak Joni JA, bu Tyas yang tadinya kejebak macet di Jalan Yogya Magelang, akhirnya dapat juga nyampe dengan selamat.

Pak Didi, sampai malem nggak juga dateng, karena terjebak macet di Jalan Yogya Solo. Di depan pak Didi, yang lolos dari macet adalah pak Widi dan pak Lantip.

Herwidiakto yang tahun lalu "kepancal", kali ini bisa hadir lengkap. Karyono Prayudi, seperti biasa datang dengan istri tercinta [anak-anaknya gak pernah ikut, sudah pada gedhe 'kali].

Pak Yoga, hampir pulang karena tidak ada nama Waskita yang "reserved" di RM itu. Rupanya pelayan di situ belum hafal dengan Waskita.

Pak Kristadi datang "on time". Pak Margono, seperti biasa datang di awal waktu [in time].

Aku sendiri, karena cuma perlu waktu 3 menit untuk sampai RM, datang setelah pak Yoga, pak Bayu [sorangan wae pak?] dan pak Margono.

Tahun depan semoga dapat kumpul lagi di tempat yang lebih baik [he..he..he... pelayanan resto ini gak seperti di pusatnya yang lancar dan toiletnya penuh air].
Insya Allah. Amin.





Kamis, Oktober 02, 2008

ALun-Alun Lor [YoGyA]


Malem-malem, setelah menyantap sate Pak Amat [alun-alun utara], maka enaknya ya jalan-jalan ke seberang jalan, menikmati suasana malam yang "khas" alun-alun utara.

Kalau sate masih dirasa kurang memuaskan dahaga akan rasa nikmatnya warung-warung di YoGya, maka di pojok tenggara masih ada bakmi PeLe yang tidak kalah lezatnya.

Kalau males jalan, dari sate pak Amat [di sisi utara alun-alun utara] menuju ke ke pojok tenggara alun-alun utara [tempat mangkalnya bakmie PeLe], maka boleh juga lesehan di alun-alun utara. Tinggal nyari warung yang cocok.

Kalau aku sih enaknya minum wedang ronde yang hangat. Nggak panas banget, sehingga bisa langsung disruput.

Obrolan santai bisa bener-bener nyantai di suasana malem alun-alun utara. Apalagi kalau ketemu kawan ngobrol yang cocok dan pas, bisa lupa waktu [tahu-tahu udah subuh, he..he..he... nggak lah yauw...]

Kalau nggak ada temen ngobrol, ajak saja si penjual ronde untuk ngobrol apa saja, maka dia akan dengan gaya khas YoGyAnya menjawab pertanyaan kita [yang bisa dia jawab, tentunya...]

YoGyA, semakin malem, semakin sepi, dan semakin hangat suasana hati menikmati keindahan ciptaanNya.

Malam ini pas ada beberapa orang yang nyalain kembang api, sehingga langit di atas alun-alun utara beberapa kali memunculkan lukisan kembang api yang beraneka ragam.

Alhamdulillah, aku masih bisa mensyukuri nikmat Tuhan di malam ini. Semoga tahun depan aku masih bisa menikmatinya. Semoga aku masih diberi kesempatan untuk bertemu dengan bulan Ramadhan untuk lebih menyempurnakan ibadahku.

Semoga rencanaku ini sesuai dengan rencana Allah swt
Amin.

Rabu, Oktober 01, 2008

Warung Enak di YoGyA


Ketika ngawani anak-anak ke toko buku di YoGyA, mataku tiba-tiba "nempel" pada buku kecil bernuansa warna ceria dengan judul "100 warung makan enak! di jogja". Ini buku yang [kayaknya] diiklankan oleh wak Radit beberapa minggu lalu.

Waktu itu aku minta softcopynya ke Wak radit, he..he..he... tentu saja langsung ditolak..!:-).

Mbaca buku kuliner ini, aku seperti dimanjakan dengan informasi yang begitu lengkap, meskipun tetap padat.

Airliurkupun kadang terpaksa kutelan, karena meskipun cara berceritanya "cekak aos" [to the point], tapi imajinasiku sudah sampai kemana-mana.

Kalaupun ada yang perlu ditambahkan, mungkin perlu dibuat rekap berdasar beberapa kriteria, misalnya :

1. Model lesehan : warung nomor x, y dan z
2. Khas mahasiswa : warung a, b dan c
3. Bisa pakai kartu kredit : warung xx, yy dan zz
4. Cocok untuk reuni [40-100 orang] : warung xx, yy, zz dan aa
5. Ultra manis : warung b, d dan f
6. Ultra pedas : warung y, z dan g
7. Bisa pesan dan antar : warung nomor x, y, b, xx, yy, zz dan aa
8. dst ....

Bisa juga dengan cara penambahan label di tiap halaman, misalnya pada halaman warung nomor x, pada baris paling bawah diberi keterangan sebagai berikut :

Label : L, M, C
artinya modelnya lesehan, khas mahasiswa dan bisa pakai kartu kredit

label : R, UM, PA
artinya cocok untuk reuni [40-100 orang], ultra manis dan bisa pesan antar

label : UP, PA, L, C
artinya cocok untuk lesehan, ultra pedas, bisa pakai kartu kredit dan bisa pesan antar

label : dll, dst ....
artinya ? tambahin sendiri saja


Dengan adanya rekap atau model labeling di setiap warung, maka pembaca akan lebih dimudahkan dalam menentukan warung mana yang akan dia kunjungi.

Bisa juga diberi keterangan tambahan, misalnya SATE pak AmAt di alun-alun utara tetap buka di hari libur besar [lebaran, tahun baru, dsb].

Waktu sahur di hari terakhir Ramadhan, aku mencoba warung nomor 36 Gudeg Ibukota. Menurutku penulis buku ini tidak bohong kalau bilang rasa cekernya istimewa khas Gudeg Ibukota.

Besok aku pingin nyoba ke Sate Pak Amat, yang katanya buka di hari lebaran. Ini adalah sate yang sangat sarat dengan nostalgia, baik rasa maupun tempatnya. Bila SGPC Bu Wiryo [legenda SGPC] mencoba rasa lama + nostalgia dibalut aroma musik sebagai tambahan menunya, maka Sate pak Amat yang lebih tua umurnya [?], tetep dengan penampilan yang "ajeg". Mungkin maksudnya agar para penggemar lamanya tidak terlalu kaget melihat perubahan penampilannya.

Begkitukah?

Silahkan coba sendiri 121 warung yang ada di buku "100 warung makan enak! di jogja". Jangan tanya alamat pada orang Yogya yang sudah lama keluar dari yogya, karena aku sendiri tidak faham betul dengan alamat yang disampaikan penulis, meskipun aku bisa nyari dengan mudah [misalnya alamat warung nomor 92 Boyong Kalegan, akan lebih enak kalau ditulis begini, "dari arah yogyakarta menuju kaliurang, setelah sampai pakem belok ke kiri menuju sungai Boyong"]

Peta yang terlampir bersama buku ini, sangat membantu mereka yang belum kenal betul dengan YoGyA. Akan lebih baik lagi kalau nomor warung yang ada dalam buku disesuaikan dengan nomor petunjuk yang ada dalam peta.

Salam Sedap "Kuliner Nusantara"


*coba update rasa Sate Pak Amat, ternyata masih mak nyuss.... [kalau aku sih tongsengnya yang bikin ngiler terus...]

Minggu, September 28, 2008

[film] Laskar Pelangi [lagi] di YoGyA

Aku harus antri tiket laskar pelangi kalau pingin nonton laskar pelangi di AMPLAS Yogyakarta. Berarti film ini mungkin akan memecahkan rekor seperti yang dibuat oleh AAC, atau jangan-jangan malah melebihinya.

Kita lihat saja perkembangnnya. Pasti beberapa media akan membahas Laskar Pelangi ini sebagai topik utamanya. Beberapa blogger juga akan mulai melirik Laskar Pelangi sebagai menu postingan bulan ini dan mungkin samapai beberapa bulan kemudian.

Tergantung kesuksesan film ini. Makin sukses filmnya, maka akan makin lama menjadi topik pembicaraan dimana-mana. Demam Laskar Pelangi akan kembali lagi menghiasi media kita. Atribut-atribut yang berbau Laskar Pelangi akan laris seiring dengan larisnya film ini.

Bagi yang belum mbaca novelnya, pasti sebagian besar akan juga mulai menyerbu ke toko buku untuk membelinya.

Adakah yang sudah nonton Film ini?

Adakah film ini memang sebagus novelnya atau bahkan malah lebih baik lagi?

Yuk berbagi cerita ......

Selasa, September 23, 2008

MalioBorO



Pengamen itu mulai mendekati dan siap-siap untuk menyanyi, ketika aku dan rombongan keluargaku sedang menyantap Gudeg di Malioboro.

"Wah, harus cari cara untuk mengusir mereka nih", gerutuku sambil mulai menyantap nasi Gudeg yang baru saja terhidang.

Segera kupasang muka tergesa-gesa, dan mulai berakting,"Ini sudah jam 12 malem, kita sudah ditunggu lho"

"Kan masih bisa nunggu, kita baru makan nih", sahut anggota keluargaku [nggak paham dengan aksiku]

"Udahlah, besok kan masih bisa. Bungkus aja, kita segera berangkat", aku terus beakting.

"Emmm, ...", mulai ada rasa curiga dan paham akan kondisi.

"Oke? Bungkus?", aku mulai dapet angin.

"Iya deh, kita pulang aja yuk", nah umpan sudah termakan.

Para pengamen yang akan mulai menyanyipun, bergeser ke tikar yang lain, sementara aku dan keluargaku terus makan gudeg tanpa ada yang membungkusnya [sudah laper kok mbungkus, ya endak toh...]

Cara itu terbukti jitu, walaupun kita ulang berkali-kali, untuk mengusir pengamen yang kita kurang respek.

Beda dengan ketika makan burung dara goreng di depan Batik Terang Bulan. Wah, pengamen di situ "keren" banget deh.

Kawanku sampai pinjem gitar mereka dan ikut nyanyi bersama mereka. Mulai lagu Koes Plus sampai Afgan, mereka mampu menyanyikannya dengan sangat baik dan kompak.

Istimewanya lesehan di depan Terang Bulan adalah Burung Dara Goreng, tapi ayamnya juga tidak kalah lezatnya [wuihh... sampai hampir netes airliur menulis menu ini]

Selain di depan Terang Bulan, banyak sih lesehan lainnya, tapi rasanya aku kok tetep milih warung lesehan ini untuk menjadi pilihan utama.

Dasarnya :
1. Harganya murah meriah [gak seperti warung lain yang mencekik leher, eh menguras kantong dink...]
2. Pengamennya yang oke banget
3. Pelayanannya yang kayak fast food [tidak sok laris terus sok dilambat-lambatin]
4. Dekat dengan rumahku [wah ini gak relevan banget deh...]

Malioboro, My Love My City eh My Street, My Warung and so on [sok un]
He..he..he... sekedar ngasih contoh bahasa Inggris yang "pas-pasan"

Don't in laughing yes?
[Jangan di ketawain ya?]





foto by MBR PasTuGa

Minggu, Agustus 17, 2008

Teater Dinasti (Tikungan Iblis)


Teater Dinasti bangkit lagi dan akan mementaskan "Tikungan Iblis" tanggal 23 Agustus 2008 di Yogyakarta.

Wah asyik banget tuh. Kalau saja aku di Yogya, pasti pingin nonton deh. Sayang Yogya begitu jauh dan di tanggal itu aku punya acara "outbond" dengan karyawan baru Waskita.

Nggak tahunya istriku sudah ngantongin tiket. He..he..he.. kayaknya dia kangen betul dengan mas Fajar, Jujuk, Nevi dll yang dulu pernah begitu akrab dengannya.

Semoga acaranya sukses. Amin.

Selamat buat mas Fajar, Jujuk, Jemek, Nevi, dll.

Senin, Agustus 04, 2008

YoGyA (koe)

Mbaca-mbaca imil pak Mitrabani, ada foto-foto tentang Yogyakarta.

Jadi pingin pulang ke yogya melihat foto-foto itu. Kangen banget...!

Apalagi adik yang sedang ngawani ibu di Yogya masuk RS. Kasihan deh ibu jadi berkurang temennya. Semoga LiLis, adikku segera sembuh dan dapat ikut kembali bercanda ria dengan ibuku.

Amin.







Jumat, September 07, 2007

Kisah GadisKu

GADIS 1

Aku kenal dengan gadis ini ketika ada lomba rally sepeda di Masjid Muhajirin Perumnas ConCat dan dia jadi salah satu panitia. Anak yang lugu, cantik dan cerdas. Aku tentu terkesan, apalagi ternyata dia juga terkesan denganku.

Makin lama berkenalan aku makin banyak mendapat kesan yang menarik dari pribadinya. Aku tiba-tiba menjadi orang yang terasa penting di depannya, dan akupun selalu tampil sebaik mungkin di depannya.

Sayang dia terlalu muda dan orang tuanya kurang mendukung hubungan ini. Akhirnya hubungan ini harus kandas, dan lari pagiku kembali sendiri. Kenangan lari pagi bersama gadis ini tak akan pernah bisa kulupakan.


GADIS 2

Ini gadis yang selalu sebangku denganku ketika SMA. Anak tercerdas di SMA dan aku harus merelakan mahkota juara jatuh pada dia. Padahal saat aku iseng-iseng menjumlahkan semua nilai dan kubandingkan dengan jumlah nilainya, ternyata jumlah nilaiku yang lebih besar. Jadi seharusnya aku yang jadi juara donk.

Banyak suka duka bergaul dengan cewek ini, baik di rumahnya maupun di sekolah. Yang seru kalau pas berantem. Kami gak pernah ketahuan kalau sedang berantem. Hari-hari tetap kita lalui seperti hari-hari yang lain, bedanya tak ada ucapan yang terlontar dari mulut kami berdua, tapi kegiatan meminjamkan penggaris, alat tulis dll tetap berlangsung, sehingga teman-teman gak ada yang pernah curiga.

Saat kami hampir ketahuan berantem, saat itu perang dingin baru saja kita sepakati berakhir, jadi kembali nggak ketahuan donk.

Gadis ini memang luar biasa, sudah cantik, kaya, baik hati pandai bergaul lagi. Dia pernah juga juara lomba pakaian daerah (kebaya) saat klas II. Wah, dia benar-benar tampil berbeda saat itu. Soalnya hari-harinya adalah hari-hari tomboy, sehingga kami jadi pangling ketika dia pakai kebaya.

Wouw keren abiz deh...

Persahabatan ini putus ketika dia kuliah di IPB dan aku di UGM. Sekali aku pernah main ke kostnya di Bogor dan abis itu sudahlah. Pernyataan cintaku kepadanya juga ditolaknya dengan halus dan aku memang harus menerimanya, karena memang bukan dia jodohku.


GADIS 3

Ini Gadis hitam manis dari Sunda. Kami berbeda kelas dan berselisih kelas. Dia kelas I dan aku kelas II. Bodinya yang seksi membuat dia sering jadi incaran kawan-kawan.

Akhirnya kawan akrabku yang berhasil mendekatinya. Yang bikin sakit hati, temenku ini suka menceritakan kejadian-kejadian yang mewarnai hubungannya dengan Gadis ini kepadaku. Dari hal yang biasa sampai ke hal yang rahasia. Aku sampai nggakkuat mendengarnya, tetapi aku harus menguatkan diri. Aku nggak mau temanku tahu kalau aku juga naksir gadis ini.

Kami sering bersepedaan bersama. Ngobrol-ngobrol berdua, baik hari biasa maupun malem minggu, tetapi aku nggak nyangka kalau ternyata dia telah jatuh ke tangan temen akrabku. Padahal temen akrabku itu gak pernah apel ke rumahnya.

Aku pusing memikirkan hal ini dan jadilah dia cintaku yang tak pernah kesampaian.


GADIS 4

Dia adalah Gadis yang begitu takut ketemu denganku, sehinga banyak yang heran dan akupun jadi penasaran. Rasanya tidak ada yang perlu ditakuti dari sosokku, kenapa ada yang begitu takut padaku?

Rasa penasaran ini akhirnya berbuah menjadi kisah cinta yang tak berujung. Hanya ada awal tetapi tidak ada akhir.

Banyak hal yang membatasi hubungan ini. Mulai hobi yang nggak bisa akur, sampai ke hal-hal yang kecil-kecil yang nggak bisa diakurin. Akhirnya kami berpisah secara tidak jelas, karena kadang-kadang masih nyambung lagi tetapi dalam kondisi yang tidak jelas dan akhirnya secara perlahan-lahan memang harus berakhir tanpa kejelasan.


GADIS 5

Yang ini gadis yang demen ama Queen, diperebutkan banyak cowok dan jadi kembang sekolah. Banyak pria yang mabuk cinta sama dia, dan mau tidak mau diapun dikenal sebagai gadis yang kayak piala bergilir.

Aku tadinya tidak menaruh kesan apa-apa pada dia, maklum usia kami berbeda 10 tahunan, jadi ya gak ada greng sama sekali deh. Sampai akhirnya aku jadi sering nemanin nonton film ama dia, soalnya dia memang hobi nonton dan akupun hobi nonton.

Makin sering pergi berdua membuat aku makin kenal sama dia, dan entah kenapa tiba-tiba aku melihat dia jadi dewasa. Mungkin seorang gadis di usia 16-17 tahun memang terlihat sangat menarik, sehingga akupun kepincut sama dia.

Perbedaan usia membuat aku menjaga jarak dengan dia saat tampil di depan orang lain. Kami hanya terlihat sebagai sepasang kekasih ketika tidak ada yang melihat. Semua obrolan bisa lepas saat tidak ada orang lain di sekitar kami, dan pembicaraan kembali jadi kaku ketika ada orang lain di sekitar kita.

Hari demi hari kulalui bersamanya, baik dalam suka maupun duka. Saat aku kesulitan mencari uang untuk bayar KKN, dengan penuh kepercayaan dia memberiku pinjaman uang, sehingga aku bisa melunasi biaya KKN.

Saat itu kupikir nggak ditagih, tetapi ternyata dia tagih juga. Untung pinjaman dari BANK untuk mahasiswaku cair, sehingga aku bisa membayar pinjaman itu.

Hubunganku yang makin akrab akhirnya membuatku memutuskan untuk melamarnya. Diapun menerimaku dengan baik. Sayang, bapakku masih memintaku untuk berpikir dulu sebelum kawin. Akhirnya rencana perkawinan itu terkatung-katung dan putus dengan sendirinya.

Yang bikin sakit hati, ternyata dia pacaran lagi sama mantan pacarnya. Aku nggak tahu apakah itu trik dia untuk nyakitin hatiku atau memang dia masih cinta sama mantan pacarnya, yang jelas aku tidak bisa protes. Toh aku sudah melamar dan diterima, tetapi tidak ada tindak lanjutnya.

Aku harus ikhlas menerima semua ini, dan akhirnya aku memang bisa ikhlas. Apalagi hubungan kami tetap baik dan akhirnya malah dia menjadi gadis yang jauh lebih baik dibanding sebelum berkenalan denganku.

Rasanya masa hura-huranya telah berakhir dan dia telah menemukan jalannya. Kabar pernikahannya kuterima dengan hati yang ikhlas dan aku rasanya bagai terlepas dari beban yang sangat berat.

Gadis yang akan kunikahi dantelah kulamar tapi kusia-siakan akhirnya telah menemukan jodohnya. Terima kasih Tuhan, memang Allah maha segala maha.

Segala puji bagi Allah swt.