"Bapak itu kalau sudah megang BB kayak patung tapi jari tangannya bergerak terus, sebel aku"
"Aku nggak suka kalau bapak memaksa sesuatu padaku"
"Aku ingin bapak selalu di dekat setiap hari, jangan jauh-jauh..."
Beberapa kalimat lainnya meluncur dari mulut anak-anak dan istriku saat berkumpul di ruang yang gelap gulita dalam rangka ikut berpartisipasi mensukseskan "EARTH HOUR" yang jatuh hari Sabtu, 26 Maret 2011 ini.
Tahun lalu Jakarta telah menghemat 80 MW saat pelaksanaan Earth Hour. Tahun sebelumnya lagi, dihemat sebanyak 50 MW. Tahun ini, alhamdulillah, meningkat lagi menjadi penghematan sebanyak 170 MW.
Di Yogya terlihat kurang adanya sosialisasi gerakan ini, sehingga ketika lampu rumah mati, maka lampu di rumah-rumah lain tetap saja hidup dan suara hingar bingar masih juga terdengar dimana-mana.
Mereka rupanya tidak menyimak acara apa saja yang sebaiknya dilakukan pada perayaan Earth Hour.
Suasana gelap gulita di ruang tamu lama-lama mulai terbiasa, sehingga ketika lampu kemudian dinyalakan, kita seperti sedang keluar dari gua dan lampu kecilpun terasa sangat menyilaukan.
Tidak terasa acara Earth Hour yang tadinya direncanakan selama 60 menit molor kemana-mana. Acara pertama kita masih saling merasa tiudak nyaman dengan situasi dan kondisi yang serba gelap.
Acara selanjutnya, saat semua sudah merasa siap ikut adalah cerita panjang lebar dari Ibunya anak-anak.
Yang diceritakan tentang acara tanggal 10 April, 17 April dan 23 April.
"Nanti tanggal 10 April bapak akan mengadakan acara blogshop di mie sehati. Ibu juga ngadain acara pelatihan membuat mie, jadi anak-anak harus bisa menggantikan peran ibu di acara bapak dan peran bapak di acara ibu"
"Tanggal 17 April, Ibu ke Surabaya untuk pelatihan Mie Ayam Sehati. Anak-anak harus pandai menjaga diri selama Ibu tidak ada di rumah"
"Tanggal 23 April gantian pak Dodi akan ke Yogya lagi untuk mengadakan pelatihan menulis buku metode 12 PAS. Nah, di hari itu juga ada pelatihan bisnis travel agent, jadi kita harus siap melaksanakan dua acara yang berbarengan itu. Apalagi nanti ada axcara reunian para penulis buku di hari itu juga"
Seperti biasa, Ibunya anak-anak kalau bercerita suka lamaaa banget. Tahu-tahu waktu 60 menit Earth Hour hanya tinggal 20 menit saja.
Di sisa waktu 20 menit itulah seluruh keluarga ini saling memberi masukan pada yang lain.
Ternyata acara saling memberi masukan ini seru juga. Paginya Lilo membuktikan kalau dia tidak susah kalau dibangunkan pagi-pagi.
"Lilo hebat, ternyata bapak salah memberi masukan tadi malam"
Semalam memang Lilo kurang bisa menerima ketika diberi masukan, sementara yang lain lebih banyak diam menerima dan menelaah masukan yang disampaikan.
"Orasng lain pasti lebih jelas memandang kita dibanding kita memandang diri sendiri"
Terima kaish buat pemrakarsa Earth Hour. Berkat acara ini, kami bisa saling memberi masukan untuk membentuk keluarga yang lebih baik lagi. Insya Allah. Amin.
Tampilkan postingan dengan label yogyakarta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label yogyakarta. Tampilkan semua postingan
Minggu, Maret 27, 2011
Minggu, Januari 30, 2011
Mas Sujud Kendang Sakit?
Dari status mas Jemek Supardi kubaca kalau mas Sujud sedang sakit. Kudoakan semoga mas Sujud segera sembuh dan bisa main kendang lagi seperti biasa.
Mas Sujud adalah pengendang jalnan terbaik yang pernah kukenal. Kesetiaannya pada dunia seni dan pada istrinya susah ditiru oleh seniman lainnya.
Lugu dan tanpa pamrih itulah mas Sujud. Hidupnya untuk seni dan hanya untuk seni yang digelutinya sejak masih kecil sampai sekarang umur beliau pasti sudah sekitar enam puluh tahunan.
Cepat sembuh dan terus berkarya ya mas.
+++
Foto ambil dari FB mas Sujud (kiriman mas Jemek)
Sabtu, Oktober 16, 2010
Lautan Manusia di Pawai Karnaval Jogya
Sesuai kesepakatan dalam rapat keluarga hari ini, maka acara malam ini adalah nonton pawai karnaval di Malioboro.
"Mau parkir di Sate Pak Amat atau di samping masjid Gedhe Kauman?"
"Di tempat yang paling memungkinkan dan paling dekat dengan lokasi saja pak"
"Jangan di sate pak Amat pak. Untuk menuju ke tempat parkir saja bisa kesulitan kita pak"
Akupun menyepakati mereka untuk parkir di rumah Mas Lukman yang terletak di sebelah utara masjid Gedhe Kauman.
Perjalanan menuju lokasi pawai ternyata memerlukan energi yang kuar biasa dan hanya Lilo yang akhirnya bisa menikmati pawai ini dengan tanpa kendala.
Dengan manisnya Lilo duduk di pundakku, sehingga bisa menyaksikan rangkaian acara yang ada di depan kerumuman manusia bak lautan manusia ini.
Sebagian besar foto ini memang hasil jepretan Lilo yang santai duduk di atas pundakku. Kaka-kaka Lilo yangmerasa tidak melihat apa-apa akhirnya ngacir duluan dan hilang begitu saja dari sisiku.
Rupanya mereka sudah pamit ke ibunya. Aku tentu saja jadi tidak tenteram dan segera meluncur ke rumah mas Lukman untuk menemui mereka. Syukur akhirnya semua bertemu kembali.
Memang acara malam ini luar biasa ramainya.
Di alun-alun LOR sendiri sudah ada acara Sirkus dan pernak pernik acara lainnya di sekeliling arena sirkus. Dengan demikian lengkaplah keramaian di seputaran malioboro dan bermuara akhir di alun-alun LOR (utara).
Beberapa jalan menuju lokasi acara karnaval ini, yang tadinya dua jalur dibuat menjadi satu jalur saja, sehngga bagi masyarakat yang terjebak di kemacetan ini tentu akan merasa makin terjebak. Ini memang malam yang penuh dengan kesabaran dan toleransi.
Jangan marah kalau ada yang minum teh manis dan karena didorong oleh orang lain terpaksa menjatuhkan tehnya di kaki kita. Itu salah satu ujian kesabaran di saat kita berada pada kondisi tidak siap, kondisi yang membuat kita jadi mudah marah.
Menjelang acara dimulai, aku sempat merekam kejadian di seputaran pojok beteng kulon yang terletak berdekatan dengan lapangan parkir stasiun Ngabean.
Beberapa polisi lalin tampak dengan ketat dan ramah memohon kepada mereka yang "ngeyel" ingin melewati jalan yang tadinya dua arah untuk mencari jalan lain saja.
Sebenarnya di beberapa titik di luar malioboro banyak layar raksasa yang dipasang untuk memuaskan para penonton karnaval yang tidak bisa sampai ke lokasi karnaval. Panitia telah menyiapkan 6 (enam) titik nobar untuk memecah konsentrasi penonton acara ini. Ini adalah upaya yang sangat bagus, meskipun mungkin hasilnya tidak seperti yang diharapkan. Lokasi di Ngabean terlihat sepi dair penonton.
Lautan manusia di lokasi karnaval memang menyurutkan niat untuk menonton lebh lama. Praktis hanya yang berdiri di depan saja yang bisa menikmati acara ini. Terlihat beberapa anak kecil sangat menikmati acara ini, karena mereka biasanya dipanggul oleh orang tuanya agar bisa menyaksikan acara ini dengan baik.
Memang ada banyak sebab kenapa mereka yang tidak bisa menonton para peserta karnaval, tapi tetap saja menikmati suasana macet total ini.
Sebab-sebab itu misalnya sebagai berikut :
Malampun makin menjelang dan saatnya menjumpai mbak Bantal dan Dik Guling.
"Mau parkir di Sate Pak Amat atau di samping masjid Gedhe Kauman?"
"Di tempat yang paling memungkinkan dan paling dekat dengan lokasi saja pak"
"Jangan di sate pak Amat pak. Untuk menuju ke tempat parkir saja bisa kesulitan kita pak"
Akupun menyepakati mereka untuk parkir di rumah Mas Lukman yang terletak di sebelah utara masjid Gedhe Kauman.
Perjalanan menuju lokasi pawai ternyata memerlukan energi yang kuar biasa dan hanya Lilo yang akhirnya bisa menikmati pawai ini dengan tanpa kendala.
Dengan manisnya Lilo duduk di pundakku, sehingga bisa menyaksikan rangkaian acara yang ada di depan kerumuman manusia bak lautan manusia ini.
Sebagian besar foto ini memang hasil jepretan Lilo yang santai duduk di atas pundakku. Kaka-kaka Lilo yangmerasa tidak melihat apa-apa akhirnya ngacir duluan dan hilang begitu saja dari sisiku.
Rupanya mereka sudah pamit ke ibunya. Aku tentu saja jadi tidak tenteram dan segera meluncur ke rumah mas Lukman untuk menemui mereka. Syukur akhirnya semua bertemu kembali.
Memang acara malam ini luar biasa ramainya.
Di alun-alun LOR sendiri sudah ada acara Sirkus dan pernak pernik acara lainnya di sekeliling arena sirkus. Dengan demikian lengkaplah keramaian di seputaran malioboro dan bermuara akhir di alun-alun LOR (utara).
Beberapa jalan menuju lokasi acara karnaval ini, yang tadinya dua jalur dibuat menjadi satu jalur saja, sehngga bagi masyarakat yang terjebak di kemacetan ini tentu akan merasa makin terjebak. Ini memang malam yang penuh dengan kesabaran dan toleransi.
Jangan marah kalau ada yang minum teh manis dan karena didorong oleh orang lain terpaksa menjatuhkan tehnya di kaki kita. Itu salah satu ujian kesabaran di saat kita berada pada kondisi tidak siap, kondisi yang membuat kita jadi mudah marah.
Menjelang acara dimulai, aku sempat merekam kejadian di seputaran pojok beteng kulon yang terletak berdekatan dengan lapangan parkir stasiun Ngabean.
Beberapa polisi lalin tampak dengan ketat dan ramah memohon kepada mereka yang "ngeyel" ingin melewati jalan yang tadinya dua arah untuk mencari jalan lain saja.
Sebenarnya di beberapa titik di luar malioboro banyak layar raksasa yang dipasang untuk memuaskan para penonton karnaval yang tidak bisa sampai ke lokasi karnaval. Panitia telah menyiapkan 6 (enam) titik nobar untuk memecah konsentrasi penonton acara ini. Ini adalah upaya yang sangat bagus, meskipun mungkin hasilnya tidak seperti yang diharapkan. Lokasi di Ngabean terlihat sepi dair penonton.
Lautan manusia di lokasi karnaval memang menyurutkan niat untuk menonton lebh lama. Praktis hanya yang berdiri di depan saja yang bisa menikmati acara ini. Terlihat beberapa anak kecil sangat menikmati acara ini, karena mereka biasanya dipanggul oleh orang tuanya agar bisa menyaksikan acara ini dengan baik.
Memang ada banyak sebab kenapa mereka yang tidak bisa menonton para peserta karnaval, tapi tetap saja menikmati suasana macet total ini.
Sebab-sebab itu misalnya sebagai berikut :
- Sedang dimabuk cinta, sehingga yang dipentingkan adalah kebersamaan dengan kekasih hati.
- Mempunyai sifat yang super ulet, sehingga tidak masalah kalau harus berjuang dengan sepenuh tenaga untuk merangsek ke depan.
- Penuual makanan, minuman atau penjual mercon. Makin ramai, makin macet, maka mereka makin menikmati larisnya dagangan mereka.
- Ingin memanfaatkan situasi tak terkendali ini dengan melakukan aksi negatip (misalnya mencopet). Seoga untuk yang ini aku salah menilai dan tidak ada yang kecopetan pada hari ini. Amin.
Malampun makin menjelang dan saatnya menjumpai mbak Bantal dan Dik Guling.
Selasa, November 04, 2008
Sate Samirono vs Sate MoroSeneng
Technorati Tags: sate,samirono,tempel,tongseng,lapar

Tadinya kita niatnya mau makan di mang engking, tapi entah apa sebabnya warung itu tutup.
Ya sudah kita meluncur ke Warung Sate Moro Seneng [pak karto] di Jalan Magelang Km 18 Tempel saja.
Pulang dari warung sate itu, kami serombongan tiba-tiba punya ide untuk membandingkan sate yang barusan kita makan dengan sate yang tadi malem kita makan, yaitu Warung SAte SAMIRONO.
Kitapun mencoba menentukan apakah yang kita lakukan ini "fair". Kita lihat asumsi atau aspek yang dipakai sebagai dasar untuk membandingkan.
1. Kita berangkat ke warung sate dalam kondisi perut yang nyaris mirip [lapar berat]
2. [tanpa sengaja] Menu yang kita pesan juga persis sama.
3. Kita tidak punya hubungan khusus dengan kedua warung itu [mau laris ataupun bangkrut, tidak akan mempengaruhi hidup dan kehidupan kita]
Inilah hasilnya :
1. Rasa satenya masih lebih empuk Sate Samirono.
2. TOngsengnya, ternyata lebih kental dan jhoss yang di Warunbg SAte Moro Seneng [Tempel]
Anda tidak setuju?
Coba sendiri saja, dua-duanya di atas rata-rata rasanya.
Salam.



Tadinya kita niatnya mau makan di mang engking, tapi entah apa sebabnya warung itu tutup.
Ya sudah kita meluncur ke Warung Sate Moro Seneng [pak karto] di Jalan Magelang Km 18 Tempel saja.
Pulang dari warung sate itu, kami serombongan tiba-tiba punya ide untuk membandingkan sate yang barusan kita makan dengan sate yang tadi malem kita makan, yaitu Warung SAte SAMIRONO.
Kitapun mencoba menentukan apakah yang kita lakukan ini "fair". Kita lihat asumsi atau aspek yang dipakai sebagai dasar untuk membandingkan.
1. Kita berangkat ke warung sate dalam kondisi perut yang nyaris mirip [lapar berat]
2. [tanpa sengaja] Menu yang kita pesan juga persis sama.
3. Kita tidak punya hubungan khusus dengan kedua warung itu [mau laris ataupun bangkrut, tidak akan mempengaruhi hidup dan kehidupan kita]
Inilah hasilnya :
1. Rasa satenya masih lebih empuk Sate Samirono.
2. TOngsengnya, ternyata lebih kental dan jhoss yang di Warunbg SAte Moro Seneng [Tempel]
Anda tidak setuju?
Coba sendiri saja, dua-duanya di atas rata-rata rasanya.
Salam.
Minggu, Oktober 05, 2008
Kehangatan Syawalan Waskita Yogya

Akhirnya syawalan Waskita terlaksana juga pada tanggal 3 Oktober 2008 di Mang Engking Castle Soragan.
Dari getok tular via SMS, ternyata yang datang lebih dari perkiraan [tahun lalu]. Pak Pius, kembali jadi host dan kembali datang "agak" terlambat. Hanafi, sebagai "co host" tampil nggak mengecewakan [datang duluan]
Pak Joni JA, bu Tyas yang tadinya kejebak macet di Jalan Yogya Magelang, akhirnya dapat juga nyampe dengan selamat.
Pak Didi, sampai malem nggak juga dateng, karena terjebak macet di Jalan Yogya Solo. Di depan pak Didi, yang lolos dari macet adalah pak Widi dan pak Lantip.
Herwidiakto yang tahun lalu "kepancal", kali ini bisa hadir lengkap. Karyono Prayudi, seperti biasa datang dengan istri tercinta [anak-anaknya gak pernah ikut, sudah pada gedhe 'kali].
Pak Yoga, hampir pulang karena tidak ada nama Waskita yang "reserved" di RM itu. Rupanya pelayan di situ belum hafal dengan Waskita.
Pak Kristadi datang "on time". Pak Margono, seperti biasa datang di awal waktu [in time].
Aku sendiri, karena cuma perlu waktu 3 menit untuk sampai RM, datang setelah pak Yoga, pak Bayu [sorangan wae pak?] dan pak Margono.
Tahun depan semoga dapat kumpul lagi di tempat yang lebih baik [he..he..he... pelayanan resto ini gak seperti di pusatnya yang lancar dan toiletnya penuh air].
Insya Allah. Amin.
Rabu, Oktober 01, 2008
Warung Enak di YoGyA

Ketika ngawani anak-anak ke toko buku di YoGyA, mataku tiba-tiba "nempel" pada buku kecil bernuansa warna ceria dengan judul "100 warung makan enak! di jogja". Ini buku yang [kayaknya] diiklankan oleh wak Radit beberapa minggu lalu.
Waktu itu aku minta softcopynya ke Wak radit, he..he..he... tentu saja langsung ditolak..!:-).
Mbaca buku kuliner ini, aku seperti dimanjakan dengan informasi yang begitu lengkap, meskipun tetap padat.
Airliurkupun kadang terpaksa kutelan, karena meskipun cara berceritanya "cekak aos" [to the point], tapi imajinasiku sudah sampai kemana-mana.
Kalaupun ada yang perlu ditambahkan, mungkin perlu dibuat rekap berdasar beberapa kriteria, misalnya :
1. Model lesehan : warung nomor x, y dan z
2. Khas mahasiswa : warung a, b dan c
3. Bisa pakai kartu kredit : warung xx, yy dan zz
4. Cocok untuk reuni [40-100 orang] : warung xx, yy, zz dan aa
5. Ultra manis : warung b, d dan f
6. Ultra pedas : warung y, z dan g
7. Bisa pesan dan antar : warung nomor x, y, b, xx, yy, zz dan aa
8. dst ....
Bisa juga dengan cara penambahan label di tiap halaman, misalnya pada halaman warung nomor x, pada baris paling bawah diberi keterangan sebagai berikut :
Label : L, M, C
artinya modelnya lesehan, khas mahasiswa dan bisa pakai kartu kredit
label : R, UM, PA
artinya cocok untuk reuni [40-100 orang], ultra manis dan bisa pesan antar
label : UP, PA, L, C
artinya cocok untuk lesehan, ultra pedas, bisa pakai kartu kredit dan bisa pesan antar
label : dll, dst ....
artinya ? tambahin sendiri saja
Dengan adanya rekap atau model labeling di setiap warung, maka pembaca akan lebih dimudahkan dalam menentukan warung mana yang akan dia kunjungi.
Bisa juga diberi keterangan tambahan, misalnya SATE pak AmAt di alun-alun utara tetap buka di hari libur besar [lebaran, tahun baru, dsb].
Waktu sahur di hari terakhir Ramadhan, aku mencoba warung nomor 36 Gudeg Ibukota. Menurutku penulis buku ini tidak bohong kalau bilang rasa cekernya istimewa khas Gudeg Ibukota.
Besok aku pingin nyoba ke Sate Pak Amat, yang katanya buka di hari lebaran. Ini adalah sate yang sangat sarat dengan nostalgia, baik rasa maupun tempatnya. Bila SGPC Bu Wiryo [legenda SGPC] mencoba rasa lama + nostalgia dibalut aroma musik sebagai tambahan menunya, maka Sate pak Amat yang lebih tua umurnya [?], tetep dengan penampilan yang "ajeg". Mungkin maksudnya agar para penggemar lamanya tidak terlalu kaget melihat perubahan penampilannya.
Begkitukah?
Silahkan coba sendiri 121 warung yang ada di buku "100 warung makan enak! di jogja". Jangan tanya alamat pada orang Yogya yang sudah lama keluar dari yogya, karena aku sendiri tidak faham betul dengan alamat yang disampaikan penulis, meskipun aku bisa nyari dengan mudah [misalnya alamat warung nomor 92 Boyong Kalegan, akan lebih enak kalau ditulis begini, "dari arah yogyakarta menuju kaliurang, setelah sampai pakem belok ke kiri menuju sungai Boyong"]
Peta yang terlampir bersama buku ini, sangat membantu mereka yang belum kenal betul dengan YoGyA. Akan lebih baik lagi kalau nomor warung yang ada dalam buku disesuaikan dengan nomor petunjuk yang ada dalam peta.
Salam Sedap "Kuliner Nusantara"

*coba update rasa Sate Pak Amat, ternyata masih mak nyuss.... [kalau aku sih tongsengnya yang bikin ngiler terus...]
Minggu, September 28, 2008
[film] Laskar Pelangi [lagi] di YoGyA
Aku harus antri tiket laskar pelangi kalau pingin nonton laskar pelangi di AMPLAS Yogyakarta. Berarti film ini mungkin akan memecahkan rekor seperti yang dibuat oleh AAC, atau jangan-jangan malah melebihinya.
Kita lihat saja perkembangnnya. Pasti beberapa media akan membahas Laskar Pelangi ini sebagai topik utamanya. Beberapa blogger juga akan mulai melirik Laskar Pelangi sebagai menu postingan bulan ini dan mungkin samapai beberapa bulan kemudian.
Tergantung kesuksesan film ini. Makin sukses filmnya, maka akan makin lama menjadi topik pembicaraan dimana-mana. Demam Laskar Pelangi akan kembali lagi menghiasi media kita. Atribut-atribut yang berbau Laskar Pelangi akan laris seiring dengan larisnya film ini.
Bagi yang belum mbaca novelnya, pasti sebagian besar akan juga mulai menyerbu ke toko buku untuk membelinya.
Adakah yang sudah nonton Film ini?
Adakah film ini memang sebagus novelnya atau bahkan malah lebih baik lagi?
Yuk berbagi cerita ......
Kita lihat saja perkembangnnya. Pasti beberapa media akan membahas Laskar Pelangi ini sebagai topik utamanya. Beberapa blogger juga akan mulai melirik Laskar Pelangi sebagai menu postingan bulan ini dan mungkin samapai beberapa bulan kemudian.
Tergantung kesuksesan film ini. Makin sukses filmnya, maka akan makin lama menjadi topik pembicaraan dimana-mana. Demam Laskar Pelangi akan kembali lagi menghiasi media kita. Atribut-atribut yang berbau Laskar Pelangi akan laris seiring dengan larisnya film ini.
Bagi yang belum mbaca novelnya, pasti sebagian besar akan juga mulai menyerbu ke toko buku untuk membelinya.
Adakah yang sudah nonton Film ini?
Adakah film ini memang sebagus novelnya atau bahkan malah lebih baik lagi?
Yuk berbagi cerita ......
Langganan:
Postingan (Atom)



