Apa yang terjadi ketika seorang presenter sedang presentasi tentang rencananya yang spektakuler dan audience sangat tertarik dengan cerita sang presenter?
Entah darimana, tiba-tiba muncul energi yang tak terbatas yang membuat presentasi dari sang presenter menjadi semakin lancar, ide-ide baru yang tidak ada dalam presentasinya tiba-tiba juga mulai bermunculan.
dan…..
Sukseslah presentasi sang presenter di hari itu….
Dalam kasus lain
Apa yang telah terjadi pada sebuah tim sepak bola yang harus menang untuk maju ke babak selanjutnya, tapi malah kecolongan 3 gol di babak pertama?
Kemudian di babak ke dua, tiba-tiba terlihat semangat juang yang tak kenal lelah dari tim yang kecolongan 3 gol, dan ternyata di menit-menit akhir, tiba-tiba bisa menceploskan 4 gol ke gawang lawan?
Semua itu adalah bukti adanya pancaran energi positif [Epos] yang direspon positif oleh lingkungannya.
Pancaran Epos yang mendapat sambutan sinyal Epos yang lain akan saling menguatkan. Ada aksi maka akan ada reaksi.
Paparan sang presenter yang dipenuhi Epos akan membuat lingkungannya ter”stimulasi” untuk memancarkan Epos mereka.
Arahan pelatih di kamar ganti saat jeda turun minum telah menimbulkan Epos di semua punggawa di seluruh lini, mulai pertahanan sampai ujung tombak, hasilnya mereka main dengan energi yang seperti tak ada habisnya.
Tak kenal menyerah dan tidak kecolongan gol lagi, bahkan mampu mencuri 4 gol dalam masa injury time.
Semua yang tidak mungkin bisa menjadi sangat mungkin saat Epos berperan aktif.
Namun bila hal sebaliknya yang terjadi, maka silahkan dibayangkan sendiri apa yang tejadi di dua kasus di atas.
Akankah sang presenter makin bersemangat menyampaikan presentasinya kalau tanggapan audience memancarkan energi negatip [EneG] ?
Akankah para pemain terus berjuang sampai titik darah penghabisan kalau sang pelatih justru memancarkan Energi negatif dengan memarahi semua pemainnya tanpa memberikan solusi?
Pasti hujan gol akan makin lebat di babak ke dua.
Begitulah, pentingnya memancarkan Epos di lingkungan yang penuh dengan Epos.
Selalulah kita mencari lingkungan yang dipenuhi Epos agar Epos kita mendapat penguatan dari lingkungan kita. Bergaulah dengan orang yang berilmu [baik], maka setidaknya ada ilmu [baik] yang pernah kita dengar dan rasakan.
Jauhi lingkungan yang penuh dengan EneG. Terlalu banyak usaha yang harus dilakukan untuk mengubah Eneg menjadi Epos, maka akan lebih menguntungkan kalau kita mencari lingkungan yang penuh dengan Epos.
Kecuali anda terjebak dalam lingkungan EneG, maka yakinkan diri anda, bahwa :
1. Semua orang pada dasarnya suka dengan Epos
2. Di antara sekumpulan Eneg, maka pasti ada satu dua titik Epos di lingkungan itu [ini sesuai dengan kalimat "di kumpulan Eneg pasti ada setitik Epos dan di kumpulan Epos pasti ada setitik Eneg"]
Nah, dengan keyakinan itu, maka pancarkan Eposmu semampu yang kau bisa.
Semoga sukses.
Amin
Senin, Mei 11, 2009
Minggu, Mei 10, 2009
Selingkuh ternyata [enggak] enak tuh...
Hati yang berdebar-debar saat memandang lawan jenis adalah saat awal dimulainya serial kisah selingkuh seseorang. Start point ini bisa berlanjut dengan cerita yang lebih mengharu biru atau bisa juga berhenti begitu saja.
Bagi seorang laki-laki, kesempatan untuk meneruskan kisah ini biasanya lebih besar dibanding kalau menimpa seorang wanita.
Bagi wanita, yang menarik adalah sikap dan kharisma seorang lelaki, sedangkan bagi laki-laki yang menarik baginya adalah wajah dan kesempatan yang ada.
Tak dipungkiri lagi yang namanya Harta, Tahta dan Wanita adalah sisi lemah lelaki yang mudah dipakai sebagai sasaran tembak lawan [politik]nya.
Ada seorang lelaki yang begitu tegar menghadapi godaan wanita, tetapi begitu ada godaan harta ataupun kedudukan, maka mulailah hatinya bergetar kendor.
Ada cerita tentang sesorang yang begitu alim dan begitu tahan menghadapi godaan wanita maupun kedudukan, suatu ketika dia perlu duit sebesar 1 Milyard.
Saat itu dia harus melaporkan suatu kejadian yang sepele, tetapi jika dilaporkan maka rentetan yang terjadi akan panjang, karena yang dia laporkan mempunyai hubungan dengan orang gedhe yang tidak ingin muncul laporan itu.
Datanglah sang mediator menawarkan uang sebesar 100 juta agar jangan melaporkan kasus hamil di luar nikah yang sedang dia tangani. Sebuah harga yang pantas hanya untuk tidak melaporkan kisah itu, karena memang hanya kisah yang biasa-biasa saja.
Dengan tegas ditolaknya tawaran itu, sehingga tawaran dinaikkan menjadi 200, 400 dan aklhirnya 600 juta.
Si Alim tetap dengan pendapatnya. Senyum halusnya tidak bisa lepas dari bibirnya ketika dia menolak semua permintaan itu.
Sampai akhirnya tawaran sampai ke angka 900 juta dan si Alim tiba-tiba beridiri tegak dengan mata yang membara dan mengusir tamunya. Ditutupnya semua pintu rumahnya dan pergilah dia ke kamarnya. Menangis dia tersedu-sedu karena tawaran itu sudah dekat dengan kebutuhannya.
Disini si Alim lolos dari lubang neraka, tapi seberapa banyak orang seperti si Alim ini. Jangan-jangan hanya ada dalam dongeng saja.
Di kisah lain, ada seorang laki-laki yang sudah dekat ke masalah zina. Selingkuh kecil sudah dijalani, tinggal memastikan selingkuh besar dan masuklah dia dalam lingkaran perselingkuhan yang tak akan mudah lepas lagi.
Saat itulah bayangan anak-anaknya [yang kebetulan cewek] muncul di hadapannya. Tidakkah selingkuhannya sepantaran dengan anaknya?
Tegakah dia jika anaknya diselingkuhi oleh temannya?
Benarkah yang dia lakukan ini sesuai dengan ajaran agamanya?
Kesadaran ini akan membuatnya lepas dari masalah selingkuh, namun jika dua hal tersebut tidak tertayang dalam pikirannya, maka perselingkuhan itu akan langsung terjadi tanpa perlu menunggu waktu lagi.
Yang sering menjadi lucu, kadang-kadang istri selingkuhan ini malah lebih jelek dibanding istri resminya. Kitapun jadi bingung melihat sesorang yang sudah punya rumput hijau malah memilih rumput alang-alang.
"... hanya alang-alang pagar rumah kita
tanpa anyelir tanpa melati
hanya bunga bakung tumbuh di halaman
namun semua itu milik kita
sendiri ..."
Indah bener lantunan lagu Rumah Kita itu. Bayangkan lagu itu adalah perwujudan dari kondisi kita saat ini, istri kita saat ini dan harta kita saat ini.
Semoga kita jauh dari godaan harta, tahta dan wanita.
Amin
Bagi seorang laki-laki, kesempatan untuk meneruskan kisah ini biasanya lebih besar dibanding kalau menimpa seorang wanita.
Bagi wanita, yang menarik adalah sikap dan kharisma seorang lelaki, sedangkan bagi laki-laki yang menarik baginya adalah wajah dan kesempatan yang ada.
Tak dipungkiri lagi yang namanya Harta, Tahta dan Wanita adalah sisi lemah lelaki yang mudah dipakai sebagai sasaran tembak lawan [politik]nya.
Ada seorang lelaki yang begitu tegar menghadapi godaan wanita, tetapi begitu ada godaan harta ataupun kedudukan, maka mulailah hatinya bergetar kendor.
Ada cerita tentang sesorang yang begitu alim dan begitu tahan menghadapi godaan wanita maupun kedudukan, suatu ketika dia perlu duit sebesar 1 Milyard.
Saat itu dia harus melaporkan suatu kejadian yang sepele, tetapi jika dilaporkan maka rentetan yang terjadi akan panjang, karena yang dia laporkan mempunyai hubungan dengan orang gedhe yang tidak ingin muncul laporan itu.
Datanglah sang mediator menawarkan uang sebesar 100 juta agar jangan melaporkan kasus hamil di luar nikah yang sedang dia tangani. Sebuah harga yang pantas hanya untuk tidak melaporkan kisah itu, karena memang hanya kisah yang biasa-biasa saja.
Dengan tegas ditolaknya tawaran itu, sehingga tawaran dinaikkan menjadi 200, 400 dan aklhirnya 600 juta.
Si Alim tetap dengan pendapatnya. Senyum halusnya tidak bisa lepas dari bibirnya ketika dia menolak semua permintaan itu.
Sampai akhirnya tawaran sampai ke angka 900 juta dan si Alim tiba-tiba beridiri tegak dengan mata yang membara dan mengusir tamunya. Ditutupnya semua pintu rumahnya dan pergilah dia ke kamarnya. Menangis dia tersedu-sedu karena tawaran itu sudah dekat dengan kebutuhannya.
Disini si Alim lolos dari lubang neraka, tapi seberapa banyak orang seperti si Alim ini. Jangan-jangan hanya ada dalam dongeng saja.
Di kisah lain, ada seorang laki-laki yang sudah dekat ke masalah zina. Selingkuh kecil sudah dijalani, tinggal memastikan selingkuh besar dan masuklah dia dalam lingkaran perselingkuhan yang tak akan mudah lepas lagi.
Saat itulah bayangan anak-anaknya [yang kebetulan cewek] muncul di hadapannya. Tidakkah selingkuhannya sepantaran dengan anaknya?
Tegakah dia jika anaknya diselingkuhi oleh temannya?
Benarkah yang dia lakukan ini sesuai dengan ajaran agamanya?
Kesadaran ini akan membuatnya lepas dari masalah selingkuh, namun jika dua hal tersebut tidak tertayang dalam pikirannya, maka perselingkuhan itu akan langsung terjadi tanpa perlu menunggu waktu lagi.
Yang sering menjadi lucu, kadang-kadang istri selingkuhan ini malah lebih jelek dibanding istri resminya. Kitapun jadi bingung melihat sesorang yang sudah punya rumput hijau malah memilih rumput alang-alang.
"... hanya alang-alang pagar rumah kita
tanpa anyelir tanpa melati
hanya bunga bakung tumbuh di halaman
namun semua itu milik kita
sendiri ..."
Indah bener lantunan lagu Rumah Kita itu. Bayangkan lagu itu adalah perwujudan dari kondisi kita saat ini, istri kita saat ini dan harta kita saat ini.
Semoga kita jauh dari godaan harta, tahta dan wanita.
Amin
Rejeki ada dimana saja
Sepanjang perjalanan dari Jakarta, Pekanbaru, Surabaya, Semarang, Yogya dan kembali lagi ke Jakarta, banyak hal yang bisa kupotret.
Ada cerita orang yang dulunya hanya punya jabatan sebagai seorang OB [office boy] ternyata sekarang sudah menjelma menjadi seorang pengusaha yang mapan.
Ada juga yang dulunya terlihat kokoh, mentereng dan begitu hebat, sekarang menjadi lemah lunglai dan kekurangan daya.
Ada juga yang tetap begitu-begitu saja. Dari dulu sampai sekarang ada yang begitu setia berjualan tuak, legen disamping berjualan botol-botol bensin.
Semua manusia ini memang diberi kesempatan dan hanya yang mau mengambil kesempatan yang akan mendapatkan manfaat dari sebuah kesempatan.
Kesempatan sebenarnya datang berkali-kali, tidak hanya sekali saja, tetapi setiap kesempatan selalu punya nilai yang berbeda..
Ketepatan mengambil kesempatan itulah yang membedakan hasil dari pengambilan kesempatan itu.
Terlalu cepat mengambil kesempatan bisa jadi malah menghasilkan suatu keputusan yang terburu-buru, hasilnya juga akan tidak optimal.
Ada pengemudi taksi yang nongkrong seharian di stasiun tugu dan tidak mendapat penumpang satu orangpun, itulah salah satu warna warni kehidupan. Apakah dia akan terus bertahan sebagai sopir taksi atau dia akan mencari kesempatan lain, akan sangat tergantung dengan naluri bisnisnya.
Yang paling menarik dalam perjalanan ini adalah rombongan seniman yang sudah kehilangan lahan panggungnya.
Bayangkan saja, sekali main mereka harus membayar biaya sewa genset, BBM, lampu [pln], dll, sedangkan pendapatan dari karcis sangat minim.
Ambil rata-rata ada 15 orang yang menonton pertunjukkan dan masing-masing membayar karcis 5 ribu rupiah, maka terkumpulah 75 ribu rupiah per hari, dipotong biaya pelaksanaan pentas, sisanya dibagi 10 orang, maka berapa upah yang didapat oleh masing-masing orang?
Bisa jadi minus yang mereka dapat.
Itulah yang membuat mereka banting setir dan mulai ngamen di pinggir jalan di simpang empat atau di lampu merah.
Seniman lampu merah ini, bisa jadi akan mendapat uang lebih, tetapi risiko melanggar legislasi penggunaan jalan raya bisa jadi akan membuat mereka bertambah menderita.
Disinilah diperlukan analisa SWOT sederhana. Kita pahami apa saja kekuatan kita, kelemahan kita, peluang yang ada dan ancaman yang akan menimpa bisnis kita.
Setelah semua dibahas, maka keputusan akan lebih mudah diambil.
Setelah itu, jangan lupa untuk menyerahkan hasilnya pada Dia yang ada di atas. Dia yang Maha Tahu dan Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Semoga sukses melihat kesempatan yang ada.
AMin.


Ada cerita orang yang dulunya hanya punya jabatan sebagai seorang OB [office boy] ternyata sekarang sudah menjelma menjadi seorang pengusaha yang mapan.
Ada juga yang dulunya terlihat kokoh, mentereng dan begitu hebat, sekarang menjadi lemah lunglai dan kekurangan daya.
Ada juga yang tetap begitu-begitu saja. Dari dulu sampai sekarang ada yang begitu setia berjualan tuak, legen disamping berjualan botol-botol bensin.
Semua manusia ini memang diberi kesempatan dan hanya yang mau mengambil kesempatan yang akan mendapatkan manfaat dari sebuah kesempatan.
Kesempatan sebenarnya datang berkali-kali, tidak hanya sekali saja, tetapi setiap kesempatan selalu punya nilai yang berbeda..
Ketepatan mengambil kesempatan itulah yang membedakan hasil dari pengambilan kesempatan itu.
Terlalu cepat mengambil kesempatan bisa jadi malah menghasilkan suatu keputusan yang terburu-buru, hasilnya juga akan tidak optimal.
Ada pengemudi taksi yang nongkrong seharian di stasiun tugu dan tidak mendapat penumpang satu orangpun, itulah salah satu warna warni kehidupan. Apakah dia akan terus bertahan sebagai sopir taksi atau dia akan mencari kesempatan lain, akan sangat tergantung dengan naluri bisnisnya.
Yang paling menarik dalam perjalanan ini adalah rombongan seniman yang sudah kehilangan lahan panggungnya.
Bayangkan saja, sekali main mereka harus membayar biaya sewa genset, BBM, lampu [pln], dll, sedangkan pendapatan dari karcis sangat minim.
Ambil rata-rata ada 15 orang yang menonton pertunjukkan dan masing-masing membayar karcis 5 ribu rupiah, maka terkumpulah 75 ribu rupiah per hari, dipotong biaya pelaksanaan pentas, sisanya dibagi 10 orang, maka berapa upah yang didapat oleh masing-masing orang?
Bisa jadi minus yang mereka dapat.
Itulah yang membuat mereka banting setir dan mulai ngamen di pinggir jalan di simpang empat atau di lampu merah.
Seniman lampu merah ini, bisa jadi akan mendapat uang lebih, tetapi risiko melanggar legislasi penggunaan jalan raya bisa jadi akan membuat mereka bertambah menderita.
Disinilah diperlukan analisa SWOT sederhana. Kita pahami apa saja kekuatan kita, kelemahan kita, peluang yang ada dan ancaman yang akan menimpa bisnis kita.
Setelah semua dibahas, maka keputusan akan lebih mudah diambil.
Setelah itu, jangan lupa untuk menyerahkan hasilnya pada Dia yang ada di atas. Dia yang Maha Tahu dan Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Semoga sukses melihat kesempatan yang ada.
AMin.
saatnya menarik karcis pertunjukkan
istirahat dulu menunggu lampu menjadi merah kembali
....
....
Sabtu, Mei 09, 2009
Mencari Bahagia
Perjalanan yang lumayan melelahkan akhirnya selesai juga di hari Sabtu sore ini. Dimulai dari naik angkot mandala ke Pekan Baru Riau pada hari Senin dan diakhiri dengan Angkot Garuda dari Yogya ke Jakarta pada Sabtu sore ini.
Aku langsung meluncur ke Cimart untuk mengecek isue yang beredar bahwa ada kutu di beras yang dijual cimart.
Disana kulihat dua orang pegawai di toko CiMArt sedang melakukan "Quality Control" terhadap beras yang diisukan mengandung kutu. Menurut laporan mereka, tidak ada kutu yang ditemukan, tetapi mereka tetap waspada karena begitu ada kutu beneran, maka pelanggan akan berpikir dua kali sebelum beli beras di Cimart.
Setelah puas bercengkerama sambil beli beberapa kebutuhan rumah, akupun meluncur ke PET CORNER untuk beli makanan kucing persia. Sun Diet !
Andai di CimaRt ada makanan kucing pasti kubeli disana, sayangnya belum ada peminat yang lain, jadi belum menjadi prioritas toko CimArt.
Sampai di rumah, kuajak anak-anakku untuk masak, karena ibunya sedang pergi ke Surabaya untuk melakukan terapi berbagi sehat energi kalung biofir.
Seperti biasa, suasana selalu heboh kalau kami masak bersama. Alhamdulillah, hasilnya cukup memuaskan. Tinggal satu piring yang tersisa di panci. He..he..he.. tadi kebanyakan sih memasukkan material yang dimasak.
Inilah masak makan malam yang murah meriah.
Uang memang bisa berbuat banyak tetapi kebahagiaan tetap tidak dapat dibeli dengan uang, kebahagiaan hanya dapat kita cari di diri kita sendiri. Jadi lebih mudah mencari kebahagiaan dibanding mencari uang.
Benarkah itu?
Hanya hati anda yang bisa menjawabnya.
Aku langsung meluncur ke Cimart untuk mengecek isue yang beredar bahwa ada kutu di beras yang dijual cimart.
Disana kulihat dua orang pegawai di toko CiMArt sedang melakukan "Quality Control" terhadap beras yang diisukan mengandung kutu. Menurut laporan mereka, tidak ada kutu yang ditemukan, tetapi mereka tetap waspada karena begitu ada kutu beneran, maka pelanggan akan berpikir dua kali sebelum beli beras di Cimart.
Setelah puas bercengkerama sambil beli beberapa kebutuhan rumah, akupun meluncur ke PET CORNER untuk beli makanan kucing persia. Sun Diet !
Andai di CimaRt ada makanan kucing pasti kubeli disana, sayangnya belum ada peminat yang lain, jadi belum menjadi prioritas toko CimArt.
Sampai di rumah, kuajak anak-anakku untuk masak, karena ibunya sedang pergi ke Surabaya untuk melakukan terapi berbagi sehat energi kalung biofir.
Seperti biasa, suasana selalu heboh kalau kami masak bersama. Alhamdulillah, hasilnya cukup memuaskan. Tinggal satu piring yang tersisa di panci. He..he..he.. tadi kebanyakan sih memasukkan material yang dimasak.
Inilah masak makan malam yang murah meriah.
Uang memang bisa berbuat banyak tetapi kebahagiaan tetap tidak dapat dibeli dengan uang, kebahagiaan hanya dapat kita cari di diri kita sendiri. Jadi lebih mudah mencari kebahagiaan dibanding mencari uang.
Benarkah itu?
Hanya hati anda yang bisa menjawabnya.
Dagelan Mataram --> The Next Generation
Awalnya aku dapat balasan pesan dari mas Indro Warkop di Fisbuk dan kukabarkan pesan ini pada teman-teman di Yogya. Rupanya teman-teman di Yogya mneyikapi berita ini dengan diskusi tentang format acara apa yang saat ini menarik untuk ditampilkan di layar kaca.
Tahun 80an, mereka memang malang melintang di panggung maupun di layar kaca. Dua dunia yang sangat berbeda itu, mereka geluti secara bersamaan. Ini jelas sebuah tantangan yang menarik.
Laiknya jago main tenis disuruh main badminton, maka meskipun terlihat sama-sama pegang raket, tetapi teori bermainnya sama sekali berbeda, bahkan bertolak belakang.
Pada permainan badminton, pergelangan tangan amat sangat berperan, hal ini menjadi tabu untuk permainan tenis. Sekarang Silahkan dicoba main tenis lapangan dengan cara main badminton. Dijamin permainan akan macet atau tangan menjadi cedera.
Begitu jugalah dengan cara berakting di panggung dengan cara berakting di layar kaca. Meskipun sama-sama bernama "akting", tapi teorinya sangat berbeda.
Teori akting di panggung, jika dipakai di layar kaca akan terlihat menjadi gerakan yang over akting. Seolah-olah sang aktor adalah pemain yang baru belajar akting. Sebaliknya teori main di layar kaca, jika dipakai di panggung akan membuat pesan yang disampaikan tidak sampai ke audience.
Diskusi-diskusi itu akhirnya mendapat wadah ketika akhirnya aku meluncur ke Yogya untuk kangen-kangenan dengan mereka, teman-temanku bermain akting di tetaer stemka.
Meskipun aku banyak berperan di teater kampus, tapi harus kuakui tetaer STEMKA adalah tempat sekolahku belajar teater, disamping belajar juga di teater 10 Paksi Delayota.
Ada 5 orang yang hadir di acara reuni itu.
Yang paling sepuh adalah HASMI alias Haryo Suraminata, sang pencipta komik GUNDALA Puter Petir. Kemudian yang paling muda adalah Yudistira Ramadhan, blogger muda yang menjadi blogger tamu di blogku.
Dua orang lagi adalah Tri SUdarsono dan Constantinus Teguh D, anggota dari grup 3 T yang pernah mendapat pulpen emas karena menampilkan humor segar dengan bahasa Indonesia yang tetap terjaga.
Pulpen mereka itu sekarang ada dimana aku tak tahu, kalau pulpenku sih sudah kujual sejak tak pernah kupakai dan butuh duit segar.
Sang pelayan sampai bingung melayani kita. Bagaimana tidak, begitu duduk mereka langsung nyerocos nggak bisa dihentikan. Tak ada terlintas di kepala mereka untuk pesan makan minum dulu baru kemudian mulai membuka pembicaraan.
Ketika akhirnya ada jeda, maka kupastikan mereka pesan minuman dulu dan kemudian kuminta pelayan untuk datang lagi beberapa menit setelah pembicaraan awal ini selesai.
Ternyata ceritanya seru banget. Ada cerita tentang hape hilang dan pencurinya nelpon ke alamat yang ada di hape untuk mengisi pulsa di nomor tertentu.
Ada juga cerita tentang mas Wendo [Arswendo Atomowiloto] yang masih terus semangat untuk menciptakan tayangan yang bermutu di layar kaca meskipun tantangan untuk itu amat sangat besar.
Lihat saja tayangan yang laris manis di layar kaca, sebagian besar adalah tayangan yang tidak jelas arahnya mau kemana. Rupanya kawan-kawanku ini pada terusik dengan tayangan layar kaca saat ini yang didominasi oleh tayangan yang jauh dari bermutu.
Jiwa mereka terbangkit dan ada keinginan untuk muncul lagi di dunia panggung maupun di layar kaca.
"Mampukah kita ini menarik penonton lagi seperti tahun 80-an dulu?", begitu pertanyaan yang muncul dan jawaban pertanyaan itupun membuat mereka berpikir keras.
Diskusipun berkembang terus dengan membahas bermacam-macam format. Kemampuan mereka rupanya masih tajam untuk membuat analisa tayangan, mulai dari setting studionya, angle camera sampai ke materi acaranya.
Seolah-olah sudah pasti tayang di layar kaca, maka merekapun sudah membayangkan kalau acara yang mereka buat nantinya harus tayang setiap hari [Senin-Jumat]. Tim kreatif yang bagaimana yang harus dibentuk dan dimana home base yang harus mereka ambil untuk kelancaran proyek ini.
Rama, sang blogger tamuku, asyik mendengarkan diskusi kami tanpa sedikitpun memberikan pendapatnya, mungkin sungkan mungkin juga dia sedang menikmati diskusi seniornya. Maklum yang sedang berdiskusi ini adalah kawan-kawan dari bapaknya Rama [yang sudah almarhum], sehingga dia sungkan untuk ikut menyumbangkan buah pikirannya.
Diskusi terus berlangsung dalam suasana yang sangat njawani dan "nyetemka" [model diskusi ini susah dijelaskan, hanya orang teater stemka yang bisa merasakan model diskusi ini].
Mas Hasmi, mas Teguh dan mas Tri, masih ada hari lain untuk bertemu lagi. Kalau Tuhan berkehendak, maka keinginan untuk main di panggung maupun di layar kaca pasti akan kesampaian.
Insya Allah Tuhan tidak tidur.
Semoga ini menjadi doa yang baik dan percik asa munculnya tayangan bermutu di layar kaca.
Amin
Tahun 80an, mereka memang malang melintang di panggung maupun di layar kaca. Dua dunia yang sangat berbeda itu, mereka geluti secara bersamaan. Ini jelas sebuah tantangan yang menarik.
Laiknya jago main tenis disuruh main badminton, maka meskipun terlihat sama-sama pegang raket, tetapi teori bermainnya sama sekali berbeda, bahkan bertolak belakang.
Pada permainan badminton, pergelangan tangan amat sangat berperan, hal ini menjadi tabu untuk permainan tenis. Sekarang Silahkan dicoba main tenis lapangan dengan cara main badminton. Dijamin permainan akan macet atau tangan menjadi cedera.
Begitu jugalah dengan cara berakting di panggung dengan cara berakting di layar kaca. Meskipun sama-sama bernama "akting", tapi teorinya sangat berbeda.
Teori akting di panggung, jika dipakai di layar kaca akan terlihat menjadi gerakan yang over akting. Seolah-olah sang aktor adalah pemain yang baru belajar akting. Sebaliknya teori main di layar kaca, jika dipakai di panggung akan membuat pesan yang disampaikan tidak sampai ke audience.
Diskusi-diskusi itu akhirnya mendapat wadah ketika akhirnya aku meluncur ke Yogya untuk kangen-kangenan dengan mereka, teman-temanku bermain akting di tetaer stemka.
Meskipun aku banyak berperan di teater kampus, tapi harus kuakui tetaer STEMKA adalah tempat sekolahku belajar teater, disamping belajar juga di teater 10 Paksi Delayota.
Ada 5 orang yang hadir di acara reuni itu.
Yang paling sepuh adalah HASMI alias Haryo Suraminata, sang pencipta komik GUNDALA Puter Petir. Kemudian yang paling muda adalah Yudistira Ramadhan, blogger muda yang menjadi blogger tamu di blogku.
Dua orang lagi adalah Tri SUdarsono dan Constantinus Teguh D, anggota dari grup 3 T yang pernah mendapat pulpen emas karena menampilkan humor segar dengan bahasa Indonesia yang tetap terjaga.
Pulpen mereka itu sekarang ada dimana aku tak tahu, kalau pulpenku sih sudah kujual sejak tak pernah kupakai dan butuh duit segar.
Sang pelayan sampai bingung melayani kita. Bagaimana tidak, begitu duduk mereka langsung nyerocos nggak bisa dihentikan. Tak ada terlintas di kepala mereka untuk pesan makan minum dulu baru kemudian mulai membuka pembicaraan.
Ketika akhirnya ada jeda, maka kupastikan mereka pesan minuman dulu dan kemudian kuminta pelayan untuk datang lagi beberapa menit setelah pembicaraan awal ini selesai.
Ternyata ceritanya seru banget. Ada cerita tentang hape hilang dan pencurinya nelpon ke alamat yang ada di hape untuk mengisi pulsa di nomor tertentu.
Ada juga cerita tentang mas Wendo [Arswendo Atomowiloto] yang masih terus semangat untuk menciptakan tayangan yang bermutu di layar kaca meskipun tantangan untuk itu amat sangat besar.
Lihat saja tayangan yang laris manis di layar kaca, sebagian besar adalah tayangan yang tidak jelas arahnya mau kemana. Rupanya kawan-kawanku ini pada terusik dengan tayangan layar kaca saat ini yang didominasi oleh tayangan yang jauh dari bermutu.
Jiwa mereka terbangkit dan ada keinginan untuk muncul lagi di dunia panggung maupun di layar kaca.
"Mampukah kita ini menarik penonton lagi seperti tahun 80-an dulu?", begitu pertanyaan yang muncul dan jawaban pertanyaan itupun membuat mereka berpikir keras.
narsisnya gak ilang2 [Hasmi and Me]
Format acara yang seperti apa sih yang saat ini bisa menarik pemirsa untuk duduk di depan layar kaca untuk melihat penampilan mereka?Diskusipun berkembang terus dengan membahas bermacam-macam format. Kemampuan mereka rupanya masih tajam untuk membuat analisa tayangan, mulai dari setting studionya, angle camera sampai ke materi acaranya.
Seolah-olah sudah pasti tayang di layar kaca, maka merekapun sudah membayangkan kalau acara yang mereka buat nantinya harus tayang setiap hari [Senin-Jumat]. Tim kreatif yang bagaimana yang harus dibentuk dan dimana home base yang harus mereka ambil untuk kelancaran proyek ini.
asyik membahas yang masih di angan-angan [Teguh dan Hasmi]
Kebetulan hari itu adalah hari ultah mas Indro Warkop, jadi di sela-sela acara kusempatkan untuk mengucapkan slamat ulang tahun kepada mas Indro Warkop.kirim ucapan selamat ultah buat mas Indro [pakai whiteberry tuh]
Nggak tahu juga apa sebabnya, tetapi komentar ultah dari kawan-kawan Yogya itu muncul dua kali di dinding mas Indro [wah yang salah ini servernya fisbuk atau BB-ku yang ngadat ya?]Rama, sang blogger tamuku, asyik mendengarkan diskusi kami tanpa sedikitpun memberikan pendapatnya, mungkin sungkan mungkin juga dia sedang menikmati diskusi seniornya. Maklum yang sedang berdiskusi ini adalah kawan-kawan dari bapaknya Rama [yang sudah almarhum], sehingga dia sungkan untuk ikut menyumbangkan buah pikirannya.
Diskusi terus berlangsung dalam suasana yang sangat njawani dan "nyetemka" [model diskusi ini susah dijelaskan, hanya orang teater stemka yang bisa merasakan model diskusi ini].
4 Masgetir [?]
Ketika akhirnya ada jeda diskusi, maka baru kita sadari bahwa smeua tamu sudah meninggalkan rumah makan ini. Pintu gerbang rumah makan juga sudah terlihat ditutup, kamipun akhirnya meninggalkan rumah makan ini dengan hati yang berkecamuk, karena masih ada yang beklum dituntaskan di malam ini.Mas Hasmi, mas Teguh dan mas Tri, masih ada hari lain untuk bertemu lagi. Kalau Tuhan berkehendak, maka keinginan untuk main di panggung maupun di layar kaca pasti akan kesampaian.
Insya Allah Tuhan tidak tidur.
Semoga ini menjadi doa yang baik dan percik asa munculnya tayangan bermutu di layar kaca.
Amin
dari kanan Teguh, Hasmi, TrIS [eshape] dan Tri
...
Langganan:
Postingan (Atom)




