Tampilkan postingan dengan label quantum lkhlas. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label quantum lkhlas. Tampilkan semua postingan

Sabtu, Agustus 09, 2008

Pancaran Energi Positif (02)

Setelah membaca buku Quantum Ikhlas, lihat film The Secret, kemudian menghadiri presentasi “Setengah Isi Setengah Kosong”, maka aku jadi bernostalgia. Ternyata semu ajalan hidupku menjadi seperti ini adalah buah dari pancaran energi yang bersumber dari suara hatiku.

Kuingat ketika aku harus pindah rumah di Ajun Peukan Bada Aceh, karena tidak ada kesepakatan harga kontrak dengan pemilik rumah, maka tetangga depan rumahku dengan penuh antusias bersedia untuk menghubungi pemilik rumah agar harga sewa rumahnya diturunkan. Tentu maksudnya agar aku tetap berdekatan dengannya. Padahal selama tetanggaan dengan dia, lebih banyak materi yang kuterima dari dia dibanding materi yang kuberikan padanya.

Di Medan, aku sewa sebuah rumah, kemudian kawan-kawan yang mau tinggal di rumah itu membayar sewa kamar padaku. He..he..he… jadi inget ketika tiap hari harus masak mie instan, dengan segala macam metode.

Kalau dijumlah, sewa kamar yang kudapat dibanding yang kubayarkan, maka aku “tekor” banyak. Soalnya mereka membayar sesuai harga kamar kost sederhana, sementara aku membayar sewa rumah lengkap.

Saat itu, aku lkhlas menerima kondisi itu, disamping aku sanggup membayar kekurangannya, aku juga jadi punya temen ngobrol kalau nonton TiVi malem-malem. Yang tak terduga, yang punya rumah ternyata sering ngirimin aku makanan, mungkin menjaga agar aku tidak keriting karena kebanyakan makan mie instan.

Selama tinggal di rumah Jl Elang Medan itu, begitu banyak materi yang kudapat dari pemilik rumah maupun dari temannya orang yang mbayar sewa kamar padaku. Alhasil, total biaya yang kukeluarkan jadi optimal dan aku sanggup mengirim “ucapan terima kasih” pada orang tuaku di Yogya. Memang kata orang-orang, seberapapun “ucapan terima kasih” yang kita berikan pada orang tua kita, maka itu tetap tidak akan cukup untuk membalas kasih sayang mereka, yang bak matahari.

Di Surabaya, aku tinggal di kampung yang begitu damai (bagiku). Meskipun kemudian aku tahu, bahwa ada beberapa “kelompokisme” di kampung, namun ternyata aku tidak terpengaruh dengan kelompokisme itu.

Mereka memang pada membuat kelompok yang saling tidak setuju, namun semua kelompok itu mengakui aku sebagai salah satu anggotanya, dan sebenarnya mereka punya tujuan yang sama, yaitu bagaimana memakmurkan RT-nya (lingkungannya) agar memebri nilai tambah bagi penghuni kampung.

Mis komunikasi yang membuat mereka pecah menjadi beberapa kelompok.

Seiring dengan perjalanan waktu, maka kelompok-kelompok itu mulai makin mencair, dan meskipun tidak benar-benar mencair, tetapi keguyuban RT di Pondok Candra itu memberi ketenteraman hati pada para penghuninya.

Di Jakarta ini, setali tiga uang.  Model cluster yang membuat kita saling tidak tahu kegiatan antar tetangga, tidak menyurutkan semangat bertetangga. Mereka adalah tetangga yang baik dan menyenangkan. Peringatan 17an tahun 2008 ini akan menjadi saksi betapa kompaknya Custer Montana yang kutempati sampai saat ini.

Benang merah dari semua kejadian itu adalah energi positif yang selalu kupancarkan secara sengaja maupun tida sengaja. Memang energi itu otomatis akan memancarkan suara hati kita. Jadi tinggal kita “tune” suara hati kita dengan musik asmaul husna, maka lingkungan kita akan baik dengan sendirinya. Tidak perlu berdakwah, cukup perkuat “broadcast” suara hati dan alam semesta ini akan diatur oleh Yang Maha Kuasa untuk menerima pancaran suara hati kita.

Pecahkan belenggu yang mengotori suara hati kita, dan pelihara “GOD SPOT” aga terus memancarkan suara hati yang berlafaz asmaul husna, 99 nama Allah yang indah. Insya Allah, hidup menjadi lebih bermakna. Amin.

Pancaran Energi Positif (01)

Karena pindah lantai, maka aku segera survey lokasi tempat kerjaku yang baru. Kulihat menjanya jauh lebih bagus dari meja yang ada di ruanganku dulu, lemarinya juga lebih bagus. Kekurangannya cuma meja komputer yang kurang ergonomis. Ini adalah kekurangan yang umum terjadi dimana-mana.

Dulu aku selalu bermasalah dengan kekurangan seperti ini, karena aku harus menjadi contoh sebagai pengguna meja komputer yang ergonomis. Namun setelah membaca buku Quantum Ikhlas, The Secret, dan sekarang ini Setengah Kosong Setengah Isi, maka pola pikirku kayaknya mulai terpengaruh.

Mari kita merasa nersyukur telah memiliki sesuatu dan terus berusaha melengkapi kekurangan yang ada dengan berusaha sebaik kemampuan kita. Jangan lupa kita selalu memakai rumus “3 IR”, Dzikir, Pikir dan Kikir (aku lebih suka menyebutnya hemat atau optimal, cuma rumusnya akan berubah menjadi “2 IR 1 AT” donk!:-).

Meja komputerku yang besar dan ergonomis, dulu kubeli bukan dengan biaya kantor, kulipat dan kubawa pulang saja, karena tidak akan muat di tempat kerja yang baru. Itu memang meja yang ergonomis (banget) dan mahal, jadi akan baik kalau ditaruh di rumah saja (he…he…he…. Sudah cukup tugasnya sebagai percontohan meja ergonomis)

Petunjuk pemasangan meja itu, seperti biasa selalu kulekatkan di salah satu bagian meja yang tersembunyi, jadi kalau sewaktu-waktu dilipat, maka ketika dipasang lagi tidak perlu panggil tukang.

Kutelepon anakku yang paling besar dan kuberi tugas untuk memasang meja itu, kemudian kuteleon juga anak nomor duaku untuk membantu kakanya merangkai meja itu. Aku percaya, meskipun mereka belum pernah merangkai meja, tapi kemampuan mereka cukup memadai untuk memasang meja itu. Kreativitas anak “mbarepku”, sejauh ini kulihat berjalan dengan baik.

Meskipun ibunya menyangsikan kemampuan anak-anaknya, tapi buku Quantum Ikhlas mengajarkan bahwa kalau kita pecaya akan sesuatu, maka energi positif itu secara tidak sadar akan memancar dari diriku ke lingkunganku, sehingga aku tidak perlu ngomong, tapi anakku akan menerim apancaran enrgi positif dariku.

Buku Quantum Ikhlas memang luar biasa isinya. Sekarang aku jadi bisa mengerti, mengapa lingkungan rumahku (RT/RW), lingkungan kerjaku selalu penuh dengan orang-orang yang baik dan saling mengasihi. Sejak kecil, aku tinggal di Yogya, kemudian saat besar aku kerja dan pindah ke Aceh, Medan, Surabaya dan Jakarta. Di semua tempat itu aku selalu memperoleh lingkungan yang luar biasa baiknya. Bahkan orang yang tidak suka berteman denga orang lain, mereka pada berteman denganku.

Sampai di rumah, kulihat meja komputerku berserakan dan belum terbangun sedikitpun. Ini tantangan buatku. Aku harus mampu membuktikan bahwa energi positif yang kupancarkan mampu diserap oleh anak-anakku.

Kutunjukkan pada mereka dimana letak kertas petunjuk merangkai meja yang tersembunyi dengan aman di potongan meja itu. Satu persatu meja itu mulai dirangkai oleh anak mbarepku, dibantu adiknya (yang terlihat kurang bergairah, karena dia punya PR yang belum terselesaikan dan menunggu aku untuk menemaninya mengerjakan PR itu).

Setelah berkutat dengan berbagai masalah, ada kasus lampu mati (kelebihan beban), kemudian tidak samanya gambar dengan barang yang ada, maka akhirnya meja itu berhasil kita selesaikan dengan baik.

Alhamdulillah, dengan senyum yang ikhlas ternyata semua bisa terselesaikan. Buku Quantum Ikhlas kembali menambah warna hidup keluargaku.

Senin, Juli 21, 2008

Kiai DzarKhoNi

Waktu diadakan pertemuan antara Serikat Pekerja dengan jajaran Direksi, aku (sebagai SekJend) menyampaikan satu saran di akhir pertemuan.

Intinya, untuk meningkatkan kinerja perusahaan agar dapat lebih bersaing pada kondisi bisnis eksternal yang begitu “kacau balau” di medio tahun 2008 ini, maka yang diperlukan adalah KETELADANAN (dalam “Malcolm Baldrige Criteria for Performance Excelent” masuk kategori 1 “Kepemimpinan”).

Pengalaman menunjukkan bahwa perusahaan besar yang sukses, biasanya dipimpin oleh para pemimpin senior yang selalu menunjukkan komitmennya terhadap apa yang dia ucapkan. Mereka tidak hanya sekedar “ngomong” tapi ikut terlibat dan memberi contoh bagaimana komitmen itu dijalankan.

Di hadapan Direksi, aku berdoa semoga kami -Karyawan atau pekerja- dapat menunjukkan contoh bahwa karyawan bisa menjadi pekerja yang baik dan demikian juga, semoga, Senior Manager dapat menunjukkan contoh yang baik sebagai pemimpin senior korporat.

Semua peserta rapat sepakat dengan moto Ki Hadjar Dewantoro,”Ing ngarso sun tulodo, ing madya mbangun karso, tut wuri handayani”.

Setelah selesai rapat, aku jadi bertanya-tanya pada diriku sendiri.

Segampang itukah resep untuk maju dengan karya bermutu? Jangan-jangan aku ini hanya penganut mahzab Kiai Dzarkhoni (iso ujar gak iso nglakoni), yang hanya pinter ngomong tapi nggak pandai melaksanakannya (No Action Talk Only alias NATO!:-).

Sehabis acara itu, siangnya aku duduk semeja dengan Direktur SDM, dalam acara “Knowledge Sharing”.

Pak Direktur SDM memberi wejangan tentang perlunya perubahan (menuju kebaikan), yaitu dengan ilmunya A’a Gym (yang saat ini aktif mengisi diskusi sehabis subuh di Radio Delta FM) ;
a. Mulai dari diri sendiri
b. Mulai dari yang kecil-kecil dan
c. Mulai saat ini

Ini juga rumus yang sangat sederhana untuk berubah menuju kebaikan.

Jadi sebegitu sederhanakah untuk berubah menjadi yang terbaik? Apakah hanya rumus-rumus sederhana itu saja yang perlu kita perhatikan dan kita nanti akan langsung menjadi yang terbaik?

Buku The Secret (Rhonda Byrne) atau Quantum Iklhas (Erbe Sentanu) mengajarkan kita bahwa untuk menjadi sukses, berhasil, bahagia, atau apapun yang kita inginkan, kuncinya hanya niat dan menyelaraskan kehidupan kita dengan niat itu. Selesai !

Semesta alam yang akan mewujudkan keinginan itu, seperti jin lampu aladin yang selalu siap menerima perintah dan melaksanakan perintah itu.

Jadi kalau malu disebut sebagai penganut mahzab Kiai Dzarkhoni, maka aku harus tidak malu untuk mengajak diriku sendiri dan semua yang mau kuajak untuk menyelaraskan suara hati dengan tindakan nyata.

Insya Allah berhasil. Amin.

Sabtu, Juli 12, 2008

KuCiWa
















Kalau kita punya harapan terlalu tinggi dan kemudian kenyataan jauh dari harapan itu, apa yang terjadi? Ya, kekecewaan akan datang menghampiri.

Bagaimana rumusnya agar kekecewaan itu tidak datang menghampiri, meskipun realisasi jauh dari kenyataan?

1. Jangan terlalu tinggi dalam berharap, yang wajar=wajar saja. Pandai-pandailah mengukur panjang badan sendiri.
2. Kalau harapan sudah terlanjur tinggi dan kemudian kenyataan memang jauh dibawah harapan, maka yakinlah ini adalah kondisi yang terbaik untuk kita.
3. Kalau kita gagal meyakinkan diri kita bahwa kondisi sekarang ini adalah kondisi yang terbaik untuk kita, maka bukalah buku-buku motivasi yang bercerita tentang mengatasi kegagalan.
4. Kalau gak punya uang untuk beli buku motivasi itu, bekerjalah lebih keras dari biasanya, sehingga mampu untuk beli buku itu.
5. Kalau sudah berusaha dengan keras tapi masih gagal juga, maka berusahalah lagi dengan lebih keras (never give up).
6. Kalau masih gagal juga, maka bacalah dulu buku motivasi tentang kegagalan.


Salam

eshape
nb.
baca Quantum Ikhlas, agar lebih puas lagi



Source

Minggu, Juni 01, 2008

Blue Energy


Akhir-akhir ini di kantor makin ramai orang membicarakan tentang "blue energy", apalagi kawan-kawan UGM yang jelas-jelas menganggap "blue energy" adalah suatu bentuk penipuan.

JK, wapres, seperti biasa selalu punya pendapat yang "kontroversial". Kalau gak salah dia bilang, penemuan yang tidak masuk akal dari pak Joko jangan dihakimi dulu. Banyak penemuan di dunia ini yang didahului dengan ketidak-masukan akal dulu. Dalam hal ini dia mengambil contoh teknologi telepon.

Rasanya UGM tidak akan gegabah untuk mengeluarkan "statement" seperti itu, kalau tidak melalui proses pemikiran yang jernih. Sayangnya, banyak orang pinter di dunia ini yang begitu mudah percaya akan jalan pintas. Sehingga ada saja yang tertipu oleh hal sederhana yang tidak masuk akal tapi dibawakan dengan sangat ilmiah.

Membaca blognya mas Pri tentang blue energy dan teori konspirasi, kita jadi makin luas berpikir. Ternyata hal-hal yang mirip dengan kasus mas Joko pernah terjadi juga.

Akhir-akhir ini ada berita yang makin membuat orang senang ngobrol, yaitu tentang orang kaya mendadak. Jauh lebih kaya dari orang terkaya di dunia, dan dia adalah orang Indonesia. Gak tahu juga apakah hari ini dia sudah ditangkap atau masih "berkicau" dengan cerita gosipnya.

Jaman edan ini kalau tidak ngedan tidak keduman (tidak ikut gila tidak akan kebagian), tapi yang paling baik adalah selalu ingat dan waspada.

Kalau kita tidak bisa melihat Tuhan, yakinlah bahwa Tuhan pasti bisa melihat kita.

Source :
http://69.90.174.247/photos/display_pic_with_logo/10014/10014,1178563845,1.jpg

Kamis, Mei 29, 2008

Keras dan Lunak

















Tulisan ini kubaca di presentasi dari Andrie Wongso. Aku lupa siapa yang ngirim file presentasi ini ke komputerku, tapi yang penting kalimat di atas banyak benarnya.

Selama ini, banyak orang bilang aku terlalu keras terhadap diri sendiri, misalnya bangun pagi sebelum subuh dan ke kantor setelah subuhan.

Ngapain pagi-pagi ke kantor? Mau bantu-bantu ngepel?

Setelah kurenungkan, ternyata kehidupanku menjadi lebih nyaman  Beberapa nikmat yang kudapat dari kekerasan terhadap diri sendiri seperti di atas adalah, antara lain :

  1. Bisa ngobrol dari hati ke hati dengan istri dan anak-anak dalam suasana yang segar, secara rutin.
  2. Bisa baca berita hari ini dengan lebih nyaman (tidak dikejar-kejar jam berangkat atau nunggu koran yang nggak datang-datang)
  3. Membaca surat elektronik dari korporat secara otomatis, karena browserku tak set agar yang terbuka pertama adalah http://surat/disposisi/, dalam suasana yang masih fresh, sehingga kegiatan hari ini lebih terencana.
  4. dll
Apa yang terjadi ketika aku mencoba lunak dengan diriku sendiri. Aku bangun kesiangan dan sesukaku sendiri kemudian pergi ke kantor tidak sesegera mungkin, Akibatnya sampai di kantor dalam kondisi capek (macet di jalan), keringat “gembrobyos” bercucuran, terlambat ngantor (alamat potong gaji), gak sempat baca koran, disposisi surat belum dibaca sudah ditanyain realisasinya, dan masih banyak lagi hal-hal yang membuat hidup jadi kayak neraka.

Selamat mengendalikan diri sendiri, karena musuh terbesar kita memang adalah mengendalikan diri sendiri. Bekerjalah sesuai tanggung jawab kita kepada Allah, diri sendiri, orang lain dan lingkungan kita (alam semesta).

Salam

Rabu, April 09, 2008

Membagi Waktu



Menjelang sore, ketika kawan-kawan pada terlihat kelelahan, aku kirim imil ke kompie mereka. Isinya tentang cerita seorang motivator di salah satu TV Swasta kita.

Kata sang motivator itu, hidup ini dibagi menjadi 3,yaitu :

1. 8 jam untuk istirahat
2. 8 jam untuk bekerja dan
3. 8 jam untuk bermain

Pada kenyataannya, yang terjadi adalah sebagai berikut :

1. Istirahat nggak sampai 8 jam
2. Bekerja nggak sampai 8 jam
3. Bermain juga nggak nyampe 8 jam

Lho….???
Kok bisa?

Nasihatnya :

1. Gunakan waktu bekerjamu untuk bekerja dengan baik, sambil merasa seperti sedang bermain, sehingga bekerja menjadi lebih fun, lebih produktip dan gak terasa capek.
2. Gunakan waktu bermainmu dengan sungguh-sungguh, sehingga tidak perlu mencari waktu bermain lagi di luar waktu itu
3. Gunakan tidurmu dengan penuh kualitas, jangan ngorok saat kerja

Salam

eshape

Senin, Maret 03, 2008

MuluT dan HaTi

DOA

Dari 100 doa yang kita panjatkan, sebenarnya 95 diantaranya sudah dikabulkan saat itu juga. Sayangnya, kita biasanya hanya mengingat doa yang belum terkabul dibanding mensyukuri doa yang sudah terkabul.


Kalau dirunut lagi, ternyata 95 doa kita yang sudah terkabul, ternyata sebagian besar malah tidak cocok dengan doa yang kita ucapkan. Yang terjadi , malah kebalikan dari doa yang kita panjatkan. Maunya pingin kaya malah miskin, mau sehat malah tambah sakit, dan banyak lagi hal-hal yang bertentangan dengan doa kita, yang justru telah terkabul.

Ada apa ini?

Ini sebenarnya membuktikan, bahwa antara apa yang ada di hati kita sering tidak sesuai dengan apa yang ada di ujung lidah kita. Ucapan doa kita biasanya meluncur begitu saja, tanpa melalui hati. Rutinitas doa membuat kita tidak dapat lagi memaknai apa yang sebenarnya telah kita ucapkan. Doa hanya menjadi hapalan dan bukan perwujudan dari suara hati.

Saat mulut kita berkata ingin kaya, hati kita justru ragu-ragu bahwa kita bisa kaya dengan usaha yang dilakukan dan doa yang dipanjatkan.

Saat penyakit menggerogoti kesehatan kita, maka ketakutan akan kedahsyatan sang penyakit, membuat kita tidak yakin saat berdoa untuk minta kesembuhan pada Allah.

Allah sendiri hanya mengabulkan doa yang sesuai dengan kata hati. Bila ucapan doa, sesuai dengan kata hati, maka doa akan mudah terjawab. Sedangkan doa di mulut yang tidak sesuai dengan kata hati, maka kata hatilah yang dikabulkan oleh Allah swt.

Kalau ingin doa terjawab sesuai keinginan, maka selalulah berpikir positip. Energi berpikir positif ini akan membuat kata hati kita selalu dipenuhi oleh kata-kata yang penuh kedamaian, kejernihan, kebahagiaan, kepercayaan, kehangatan cinta dan ketenteraman.

Bila Allah hanya mengabulkan doa yang sesuai dengan kata hati, maka secara matematis, yang akan kita terima dari Allah nanti adalah cerminan dari kata hati kita (yang sudah kita latih sehingga dipenuhi dengan kebahagiaan dunia dan akhirat).

Latihan untuk mendapatkan hasil doa yang positif, antara lain adalah dengan :

  • Latihan bersyukur, setiap hari, setiap jam dan akhirnya setiap tarikan nafas
  • Menjauhkan diri dari umpatan, keluhan atau apapun yang dapat menimbulkan energi negatip di hati
  • Selalu melakukan evaluasi antara kata yang terucap dengan suara hati yang positip

Selamat berlatih…