Rabu, November 19, 2008

Safety Morning Meêting [di dunia kontruksi]

Bagaimana sih cara melakukan safety morning meeting [SMM] di dunia jasa konstruksi?

Begitulah pertanyaan yang sering diajukan padaku. Sebuah pertanyaan yang kadang disampaikan untuk mendapat pencerahan tapi kadang juga disampaikan dengan nada sinis, karena sang penanya yakin pasti tidak ada jawaban yang bisa dilaksankan di lapangan.

Tuntutan pekerjaan yang begitu ketat sering membuat pekerja lapangan terpaksa bekerja lembur, akibatnya esok harinya mereka tidak melaksanakan safety morning meeting [SMM].

Alasan lain kenapa SMM ini sulit dilaksanakan adalah kebosanan mereka untuk bercerita tentang safety setiap bertemu dengan pekerja. Yang ada dalam benak mereka adalah apa yang harus dilaksanakan dalam minggu ini sebagai jawaban atas target yang dibebankan pada mereka dan bukan bercerita tentang safety yang terasa seperti bercerita tentang mimpi.

Jadi, bagaimana caranya melaksanakan SMM di dunia jasa konstruksi?

Biasanya, setiap sore atau sehabis bekerja, para mandor membuat hitungan tentang hasil kerjanya pada hari ini dan target pekerjaan esok harinya. Hasil evaluasi ini kadang disampaikan pada pelaksananya, kadang hanya menjadi catatan pribadinya, namun ada juga mandor yang tidak melaksanakan hal ini karena yakin sudah dilakukan oleh pelaksana yang mengawasi pekerjaannya.

Dan inilah tips melaksanakan SMM di pagi harinya.

1. Kumpulkan mandor dan anak buahnya, sampaikan satu pertanyaan untuk memastikan bahwa yang akan dikerjakan masih sesuai dengan target pekerjaan, yaitu "hari ini mau kerja apa?". Jawaban mandor [yang didengar juga oleh pekerja mandor ybs] bisa beragam, misalnya "cor beton, gali saluran, pasang batu bata, dll"

2. Pertanyaan kedua, tanyakan target pekerjaan hari ini. "cor berapa kubik?" atau "gali saluran berapa meter?", disesuaikan dengan pekerjaan yang akan dikerjakan oleh sang mandor.

3. Pertanyaan ketiga, pastikan sumber daya yang akan dipakai sudah sesuai dengan peruntukan sumber daya tersebut, sesuai kuantitasnya dan sesuai juga kualitasnya. Ada lima hal yang bisa ditanyakan, yaitu 5 M [man, money, method, machine dan material].

Contoh pertanyaan :
"Apakah jumlah orang dan kualitas orang yang akan bekerja sesuai dengan target yang ingin dicapai oelh mandor?"
"Apakah mandor sudah dibayar atau sudah membayar pekerjanya?"
"Metode apa yang akan dipakai untuk melaksanakan pekerjaan hari ini?" [untuk pekerjaan rutin yang sudah sering dilakukan, kadang pertanyaan ini tidak perlu diajukan]
"Kalau mau ngecor, apakah vibratornya sudah disiapkan, sudah sesuaikah jenis vibrator dengan metgode pengecoran yang dilakukan, sudah memadaikan jumlah vibrator dengan target yang akan dicapai?"
"Kalau mau ngecor, apakah sudah pesan ready mix atau kalau mau buat beton sendiri apakah sudah ada material pembuat campuran beton"

Lima pertanyaan sederhana di atas akan berkembang sesuai dengan kondisi lapangan. Arahkan agar kondisi berbahaya yang ada di lapangan disampaikan pada saat terjadi dialog antara pelaksana dan pekerja/mandor ini.

Nah, selesai pertemuan, maka akan didapat hal-hal sebagai berikut :
1. Jumlah pekerja yang masuk hari ini
2. Jenis pekerjaan yang dilaksanakan hari ini
3. Peralatan yang diperlukan hari ini.
4. Metode kerja yang masih memerlukan pengembangan [bila ada]
5. Material yangdiperlukan hari ini [kuantitas maupun kualitasnya]

Sedangkan hal-hal lain yang didapat sebagai akibat sampingan adalah :
1. Suasana keterbukaan dan persahabatan antara pelaksana, mandor dan pekerja.
2. Pekerja memahami kondisi berbahaya yang ada dan tindakan berbahaya yang tidak boleh dilakukan di lokasi pekerjaan.
3. Bila disempatkan berdoa sebelum bekerja, maka akan timbul rasa aman di hati para pelaksana, mandor maupun pekerja.

Nah, biasanya para penanya pada "manggut-manggut" menerima pencerahan ini. Yang tadinya cuma mimpi rupanya sangat gampang dilaksanakan, karena memang mereka secara tidak sadar telah melaksanakannya namun dengan format kegiatan yang lain.

Cara ini hanya salah satu cara dari sekian cara, jadi silahkan nambahi dengan cara yang lain.

Salam.

2 komentar:

Anung mengatakan...

Safety Meeting [beberapa menyebutnya: safety talk] kok ditanya pekerjaan, target dan sumberdaya [5M]?
Nggak salah tuh, Mas Eko?

eshape waskita mengatakan...

Nah ceritanya begini,

ketika ditanya tentang pekerjaan, maka dia sebenarnya menjalankan ISO 9001

kemudian ketika membahas masalah sumber daya, maka K3 mengajarkan kita untuk memakai sumber daya sesuai peruntukannya dan harus dijamin aman [safe] dipakai

ketika mbahas metode kerja, maka pasti akan sampai pada unsafe condition dan unsafe act [lha rak podho karo safety talk]

akhirnya sebelum selesai acara dipastikan polusi yang timbul [terhadap air, udara dan tanh] masih dibawah ambang batas

beguitu lengkapnya

soalnya kita njalanin K3LM, jadi ya musti lengkap mulai dari ISO 9001, 14001 sampai OHSAS 18001

So....
Cara ini hanya salah satu cara dari sekian cara, jadi silahkan nambahi dengan cara yang lain.

salam