"Pak... rapikan tulisan di blogku ya..", kata LiLo [anak bontotku yang masih SD], sehabis asyik kutak kutik komputer sendirian.
"Upload dulu aja, nanti tak rapiin deh", kataku yang sedang asyik mengerjakan hal lain.
"Tombol yang mana pak?", tanya LiLo. Rupanya LiLo sudah lupa cara upload blog. He..he..he.. kelamaan nggak nulis blog sih.
"Lihat tuh yang paling kiri bawah, warna merah jambu, ada tombol bertuliskan terbitkan entri..", jawabku dari jauh.
"Publish post ya pak?"
"Ya..."
Setelah luang waktu akupun merapikan tulisan LiLo agar enak dibaca.
Model tulisan LiLo spontan banget, terus ditulis tanpa ada alinea, terussssss ditulis.
He..he...he....silahkan lihat di sini
dan disini juga
Rasanya anak-anak memang selalu mampu menyampaikan pendapatnya dengan lebih jernih dan kita kadang-kadang merasa under estimate dengan kemampuan anak-anak menghadapi masalah di sekelilingnya.
Aku baru tahu kalau kawan-kawan LiLo kalau sekolah selalu diberi uang saku sampai di atas 20 ribu rupiah.
Sementara itu LiLo hanya menerima uang saku sebesar 1.000 rupiah, itupun dia masukkan ke kotak infaq.
LiLo baru dapet uang saku 2.000 kalau dia nggak bawa makanan dari rumah, jadi 1.000 untuk jajan dan 1.000 lainnya untuk infak.
Bila membawa makanan dari rumah, maka LiLo cukup diberi uang saku 1.000 rupiah.
[sekarang LiLo gak pernah bawa makanan dari rumah lagi, karena kita sudah pesan catering makanan untuk LiLo]
Malam sebelumnya, ketika LiLo mendandani hape N73nya, maka paginya dia nulis juga tentang peristiwa itu.
Katanya bapak ibu telah beramal, demikian juga anak-anak sudah membantu bapak ibu beramal, jadi satu keluarga sudah beramal.
Kalau anak-anak tidak mau menerima hadiah dari orang tuanya, maka anak-anak tidak membantu orang tuanya beramal, jadi gagal deh amalan ortunya.
Begitulah jalan pikiran LiLo dan guyonanku pada anak-anak pada pagi hari ketika kita jalan-jalan bersama.
Indahnya kebersamaan bersama keluarga ini.
Semoga begitu terus aja ya. Semoga Tuhan memberi kami petunjuk selalu. Amin.
Selasa, Mei 05, 2009
Senin, Mei 04, 2009
Pasar Festival Kota Jababeka, mulai dirapikan
Setelah berminggu-minggu dilanda kemacetan di pasar kaget taman golf Jababeka, akhirnya pasar itupun ditutup.
Tentu ada yang terkejut dan ada yang bersyukur menyikapi hal tersebut. Terkejut karena mulai bulan Mei 2009, tempat para penjual kaki lima itu mulai menerapkan bayaran resmi.
Yang bersyukur tentu para pengunjung yang ingin melihat sebuah pasar rakyat yang tertata rapih dan tetap dengan harga murah meriah.
Untuk penjual makanan, diharuskan membayar 50 ribu untuk pendaftaran tempat dan 20 ribu untuk sewa tempat per hari [minggu]. Semuanya itu harus dibayar dimuka, sebesar 130 ribu, yaitu 50 ribu ditambah 4 x 20 ribu.
Sedangkan para penjual mainan anak-anak, cukup membayar 90 ribu, terdiri dari 50 ribu pendaftaran dan 4 x 10 ribu sewa tempat.
Bila sudah membayar, maka pedagang kaki lima ini mendapat ID Card untuk membuktikan bahwa mereka punya hak untuk berjualan di Pasar ini.
Kalau dulunya tempat parkir tidak ada yang ngatur, sekarang sudah mulai diatur. Ada tulisan besar di pingir jalan,"Dilarang parkir di badan jalan!".
Parkir motor yang dulunya gratis, mulai ditertibkan dan harus membayar pada penjaga parkirnya.
Lokasi parkirnya sangat luas dan masih terlihat kosong, sehingga para penggemar sepak bola masih terlihat leluasa memainkan permainan bola mereka.
Masalah mulai muncul ketika hari makin menjelang siang. Ternyata petugas parkir kuwalahan mengatur para pengunjung, sehingga parkirpun menjadi tak terkontrol. Para pengunjung dengan seenaknya memarkir kendaraannya di tempat yang dianggapnya strategis, sehingga pejalan kakipun terganggu dengan model parkir yang seenak udelnya ini.
Bahkan suasana makin tidak terkontrol ketika mobil-mobil juga mulai masuk ke lokasi. Sulit membayangkan perasaan sang sopir ketika memutuskan untuk masuk lokasi pasar yang begitu ramai dengan membawa mobil, berbaur dengan sepeda motor, pejalan kaki dan delman.
Tidakkah sang sopir khawatir mobilnya akan tergores atau dia akan tidak nyaman menjalankan mobilnya karena kerumunan orang yang begitu padat?
Tidak tahulah apa yang ada di benak mereka, yang jelas mereka sudah membuat lalu lintas manusia di kawasan pasar rakyat ini menjadi tersendat. Asap knalpot yang "FULL CO" itupun masuk ke paru-paru para pejalan kaki yang terjebak di kemacetan ini.
Niatan untuk berolah raga dan belanja jadi tidak tercapai. Kesehatan tidak didapat belanja belum tentu jadi nyaman.
Bila sedikit mau berkorban, maka hanya pejalan kaki saja yang boleh masuk di kawasan pasar rakyat ini.
Semua kendaraan bermotor harus punya ijin khusus untuk masuk lokasi. Misalnya untuk membawa logistik para pedagang kaki lima.
Kendaraan pedagang ini perlu diberi jam masuk dan jam keluar, jadi kalau sudah masuk maka pada jam-jam yang ditentukan tidak boleh keluar lagi. Kendaraan itu baru boleh keular setelah jam yang ditentukan dilewati.
Ruangan parkir yang masih luas sangat memungkinkan untuk mengatur parkir sepeda motor. Sedangkan parkir mobil memang masih belum terselesaikan, karena tidak ada cukup ruang parkir mobil di dalam kawasan ini.
Satu-satunya jalan terpaksa parkir di luar kawasan. Bila perlu dibuat jembatan penyeberangan selebar 1.5 meter untuk bisa menyeberang ke seberang jalan, sehingga parkir mobil bisa di kedua sisi jalan.
Pengaturan pedagang sudah berhasil baik. Penataan cukup memadai, tinggal penyempurnaan pengaturan parkir dan pelarangan kendaraan bermotor masuk ke lokasi saja, maka pasar ini akan makin dicintai oleh para pengunjung.
Semoga....
Tentu ada yang terkejut dan ada yang bersyukur menyikapi hal tersebut. Terkejut karena mulai bulan Mei 2009, tempat para penjual kaki lima itu mulai menerapkan bayaran resmi.
Yang bersyukur tentu para pengunjung yang ingin melihat sebuah pasar rakyat yang tertata rapih dan tetap dengan harga murah meriah.
Untuk penjual makanan, diharuskan membayar 50 ribu untuk pendaftaran tempat dan 20 ribu untuk sewa tempat per hari [minggu]. Semuanya itu harus dibayar dimuka, sebesar 130 ribu, yaitu 50 ribu ditambah 4 x 20 ribu.
Sedangkan para penjual mainan anak-anak, cukup membayar 90 ribu, terdiri dari 50 ribu pendaftaran dan 4 x 10 ribu sewa tempat.
Bila sudah membayar, maka pedagang kaki lima ini mendapat ID Card untuk membuktikan bahwa mereka punya hak untuk berjualan di Pasar ini.
Kalau dulunya tempat parkir tidak ada yang ngatur, sekarang sudah mulai diatur. Ada tulisan besar di pingir jalan,"Dilarang parkir di badan jalan!".
Parkir motor yang dulunya gratis, mulai ditertibkan dan harus membayar pada penjaga parkirnya.
Lokasi parkirnya sangat luas dan masih terlihat kosong, sehingga para penggemar sepak bola masih terlihat leluasa memainkan permainan bola mereka.
Masalah mulai muncul ketika hari makin menjelang siang. Ternyata petugas parkir kuwalahan mengatur para pengunjung, sehingga parkirpun menjadi tak terkontrol. Para pengunjung dengan seenaknya memarkir kendaraannya di tempat yang dianggapnya strategis, sehingga pejalan kakipun terganggu dengan model parkir yang seenak udelnya ini.
Bahkan suasana makin tidak terkontrol ketika mobil-mobil juga mulai masuk ke lokasi. Sulit membayangkan perasaan sang sopir ketika memutuskan untuk masuk lokasi pasar yang begitu ramai dengan membawa mobil, berbaur dengan sepeda motor, pejalan kaki dan delman.
Tidakkah sang sopir khawatir mobilnya akan tergores atau dia akan tidak nyaman menjalankan mobilnya karena kerumunan orang yang begitu padat?
Tidak tahulah apa yang ada di benak mereka, yang jelas mereka sudah membuat lalu lintas manusia di kawasan pasar rakyat ini menjadi tersendat. Asap knalpot yang "FULL CO" itupun masuk ke paru-paru para pejalan kaki yang terjebak di kemacetan ini.
Niatan untuk berolah raga dan belanja jadi tidak tercapai. Kesehatan tidak didapat belanja belum tentu jadi nyaman.
Bila sedikit mau berkorban, maka hanya pejalan kaki saja yang boleh masuk di kawasan pasar rakyat ini.
Semua kendaraan bermotor harus punya ijin khusus untuk masuk lokasi. Misalnya untuk membawa logistik para pedagang kaki lima.
Kendaraan pedagang ini perlu diberi jam masuk dan jam keluar, jadi kalau sudah masuk maka pada jam-jam yang ditentukan tidak boleh keluar lagi. Kendaraan itu baru boleh keular setelah jam yang ditentukan dilewati.
Ruangan parkir yang masih luas sangat memungkinkan untuk mengatur parkir sepeda motor. Sedangkan parkir mobil memang masih belum terselesaikan, karena tidak ada cukup ruang parkir mobil di dalam kawasan ini.
Satu-satunya jalan terpaksa parkir di luar kawasan. Bila perlu dibuat jembatan penyeberangan selebar 1.5 meter untuk bisa menyeberang ke seberang jalan, sehingga parkir mobil bisa di kedua sisi jalan.
Pengaturan pedagang sudah berhasil baik. Penataan cukup memadai, tinggal penyempurnaan pengaturan parkir dan pelarangan kendaraan bermotor masuk ke lokasi saja, maka pasar ini akan makin dicintai oleh para pengunjung.
Semoga....
diskusi dulu sebelum beli minyak wangi untuk hari Jumat
............
Sabtu, Mei 02, 2009
Wimax, teknologi 4G
Luar biasa presentasi pak Onno. Inilah akibat bila tiada akar maka rotanpun jadi, sehingga pak Onno harus mau tampil untuk mempresentasikan teknologi wimax 4G.
Apa sebutan teknologi ini?
Offline telkom !
Begitu katanya.
Para penonton dibuat terkagum-kagum dengan demo yang disampaikan oleh mas Onno. Baik terpesona dengan materinya yang menarik maupun oleh model presentasinya yang begitu hidup [sampai berkeliaran di meja-meja audience].
Kecepatan yang begitu kencang, menurutku sih sudah lipat 10 x dari kecepatan speedy yang biasa kupakai.
Inilah teknologi masa depan yang diharapkan segera dilelangkan dan dimenangkan oleh Putra Indonesia.
Begitu tantangan yang disampaikan oleh pak KK yang hari ini tampil habis-habisan untuk memuaskan seluruh audience.
Hampir semua komunitas yang hadir disebutnya dengan fasih. Mulai dari FPK, Kompasiana, NetSigns, dll lengkap semuanya disebut.
Memang ada satu yang belum disebut, yaitu gabungan dari seluruh komunitas itu, tak lain dan tak bukan adalah FoKK [friends of KK].
Anggota FoKK adalah lintas komunitas dan lintas golongan, sehingga semua yang punya account di fisbuk akan bisa menjadi teman dari pak KK.
Presentasi I ini berlangsung dengan sukses dan kit atunggu presentasi kedua, yang pasti tidak kalah menariknya.
Salam
[to be continued]
acara ini terus langsung masuk blog kompasiana dan didokumentasikan oleh mas Nu [fotografer CiMarT]
Apa sebutan teknologi ini?
Offline telkom !
Begitu katanya.
gaya mas Onno di panggung
Para penonton dibuat terkagum-kagum dengan demo yang disampaikan oleh mas Onno. Baik terpesona dengan materinya yang menarik maupun oleh model presentasinya yang begitu hidup [sampai berkeliaran di meja-meja audience].
Kecepatan yang begitu kencang, menurutku sih sudah lipat 10 x dari kecepatan speedy yang biasa kupakai.
Inilah teknologi masa depan yang diharapkan segera dilelangkan dan dimenangkan oleh Putra Indonesia.
Begitu tantangan yang disampaikan oleh pak KK yang hari ini tampil habis-habisan untuk memuaskan seluruh audience.
Hampir semua komunitas yang hadir disebutnya dengan fasih. Mulai dari FPK, Kompasiana, NetSigns, dll lengkap semuanya disebut.
Memang ada satu yang belum disebut, yaitu gabungan dari seluruh komunitas itu, tak lain dan tak bukan adalah FoKK [friends of KK].
Anggota FoKK adalah lintas komunitas dan lintas golongan, sehingga semua yang punya account di fisbuk akan bisa menjadi teman dari pak KK.
Presentasi I ini berlangsung dengan sukses dan kit atunggu presentasi kedua, yang pasti tidak kalah menariknya.
Salam
[to be continued]
acara ini terus langsung masuk blog kompasiana dan didokumentasikan oleh mas Nu [fotografer CiMarT]
langsung diupload ama mas ATG
...........
Laporan Pandangan Mata Puspitek [1]
Akhirnya saat yang ditunggu itu tibalah. Pak Masud sudah nongkrong di ruang tamu ketika aku keluar dari kamar dan kamipun berangkat menuju acara bertemunya para blogger [kompasiana] dan penulis milis kompas [FPK].
Di jalan, kami menepi untuk mengambil pak ATG yang sudah nunggu di pinggir jalan.
Perjalanan selanjutnya menuju ke Resto Samikuring
Ada acara TDA Bekasi di sana. Pembicaranya adalah salah satu anggota CiMaRt yang sangat piawai kalau cerita tentang property.
Setelah sekedar haha hehe, maka kamipun meluncur ke Bekasi. Ada mas ArisHu yang sudah menunggu di rumah. Mobilku kutaruh di rumah pak Aris dan kami ganti mobil. Pak Aris bertindak selaku driver termahal menuju ke Jati Bening untuk menjemput Om Jay, Cik Gu kompasiana yang sudah tercemar namanya [maaf pak Jay, salah ketik, yang benar terkenal bukan tercemar]
Perjalanan ke Puspitek dipandu beberapa telepon dari teman-teman dan alhamdulillah hanya tersesat beberapa kali saja [he..he..he...]. Jalannya jelek banget nih ke Puspitek.
Kelompok blogger kompasianapun akhirnya bisa berkumpul di guest house puspitek. Ada test teleconferfence disana dan aku bersama pak Wijaya [maksudnya Om Jay] mencoba melakukan komunikasi dengan pak Onno W Purbo dan pak Sahar. Sayang suaranya belum sempurna. Semoga nanti siang sudah sempurna.
Setelah lengkap rombongan, maka mobil kami beriringan menuju ruang pertemuan puspitek. Langsung melakukan hunting tempat yang paling strategis yaitu tempat yang dekat dengan titik api alias colokan listrik.
Di acara ini penyanyi band cimart menjadi andalan kelompok kompasiana, yaitu pak APRIL [alias ATG].
Saingan dekat pak April hanyalah pak KK yang membawakan lagu-lagu jadul.
Suasana benar-benar larut dalam kemeriahan yang sangat nyaman, karena tidak ada batas antara boss dan bawahan, pejabat maupun non pejabat.
Pak KK begitu mobil untuk menyalami dan larut dalam kelompok-kelompok kecil yang ada dalam ruangan itu, sehingga suasana benar-benar menyatu.
Jam 13.00 saat kita akan melakukan acara pertemuan pertama dengan pembicara pak Onno, ajdi break dulu
[to be continued]
Di jalan, kami menepi untuk mengambil pak ATG yang sudah nunggu di pinggir jalan.
Perjalanan selanjutnya menuju ke Resto Samikuring
Ada acara TDA Bekasi di sana. Pembicaranya adalah salah satu anggota CiMaRt yang sangat piawai kalau cerita tentang property.
Setelah sekedar haha hehe, maka kamipun meluncur ke Bekasi. Ada mas ArisHu yang sudah menunggu di rumah. Mobilku kutaruh di rumah pak Aris dan kami ganti mobil. Pak Aris bertindak selaku driver termahal menuju ke Jati Bening untuk menjemput Om Jay, Cik Gu kompasiana yang sudah tercemar namanya [maaf pak Jay, salah ketik, yang benar terkenal bukan tercemar]
Perjalanan ke Puspitek dipandu beberapa telepon dari teman-teman dan alhamdulillah hanya tersesat beberapa kali saja [he..he..he...]. Jalannya jelek banget nih ke Puspitek.
Kelompok blogger kompasianapun akhirnya bisa berkumpul di guest house puspitek. Ada test teleconferfence disana dan aku bersama pak Wijaya [maksudnya Om Jay] mencoba melakukan komunikasi dengan pak Onno W Purbo dan pak Sahar. Sayang suaranya belum sempurna. Semoga nanti siang sudah sempurna.
Setelah lengkap rombongan, maka mobil kami beriringan menuju ruang pertemuan puspitek. Langsung melakukan hunting tempat yang paling strategis yaitu tempat yang dekat dengan titik api alias colokan listrik.
Di acara ini penyanyi band cimart menjadi andalan kelompok kompasiana, yaitu pak APRIL [alias ATG].
Saingan dekat pak April hanyalah pak KK yang membawakan lagu-lagu jadul.
Suasana benar-benar larut dalam kemeriahan yang sangat nyaman, karena tidak ada batas antara boss dan bawahan, pejabat maupun non pejabat.
Pak KK begitu mobil untuk menyalami dan larut dalam kelompok-kelompok kecil yang ada dalam ruangan itu, sehingga suasana benar-benar menyatu.
Jam 13.00 saat kita akan melakukan acara pertemuan pertama dengan pembicara pak Onno, ajdi break dulu
[to be continued]
....
internet pakai wimax luar biasa kencengnya bisa 10 kali lipat kecepatan speedy
[luar biasa]
...
Jumat, Mei 01, 2009
Sharing "Cara Mendapatkan Property Gratis"
Malam itu setelah acara kantor selesai aku langsung tancap gas ke Resto Samikuring untuk acara berbagi sehat bersama dengan kawan-kawan dari istri.
Di Samikuring, ketemuan sama pak Bisri yang sengaja datang jauh-jauh dari Surabaya untuk menjelaskan manfaat kalung Biofir terhadap jasamani kita.
Pulang acara bertemu dengan pak Ato yang besok pagi akan tampil di Sami Kuring untuk membahas cara mendapatkan "Property Gratis".
Pak Ato ini kalau sudah ngobrol pasti susah dihentikan. Terus mengalir bagaikan air sungai yang ingin cepet-cepat sampai ke muaranya. Sebelum muara itu ketemu, maka siap-siaplah selalu untuk menerima apapun yang terjadi pada diri kita.
Kamipun bicara serba sedikit tentang perlunya dibentuk TDA rayon Cikarang, sehingga kita bisa saling menguntungkan, karena pasti kita selalu dapat harga bersaing dari teman-teman yang tergabung dalam komunitras TDA ini. Disinilah akan timbul sinergi yang menguntungkan kedua belah pihak.
Acara ini diadakan pada tanggal 2 Mei 2009, jadi aku terpaksa tidak bisa ikut karena sudah janjian dengan pak KK serta temannya yang ditugaskan khusus untuk menemaniku dalam diskusi penentuan kapan diadakan benchmarking dari Waskita ke kantor menristek.
Semoga kegiatan rutin TDA Bekasi dengan judul "Cara MEndapatkan Properti tanpa Modal" ini laris manis. Amin.
....
Langganan:
Postingan (Atom)


















