Senin, Februari 23, 2009

Firasat vs Persangkaan

Sebelum sholat subuh, biasanya aku buka pintu halaman belakang rumah sambil minum air putih di dapur. Namun kali ini aku juga membuka pintu samping, dekat car port.

Bener firasatku, pas duduk di tahiyat akhir kudengar suara mobil memecah keheningan subuh dan berhenti di depan rumah. Saat doa sesudah sholat, kudengar pintu pagar terbuka.

Sambil tetap berdoa, aku dan anak-anak pada berpandangan, maksud pandangan itu adalah "Ibu sudah pulang tuh dari Yogya".

Pas di ujung doa, terdengar salam dari istriku, dan dalam hitungan detik pintu kamar tempat kami sholat berjamaah sudah terbuka.

"Pak ada uang XX ribu untuk ngasih sopir?"

Begitulah firasatku hari ini kuturuti dan hasilnya semua sesuai firasat. Rasanya semua mengalir begitu saja, tapi aku yakin ada yang mengerakkan semua ini.

Minggu lalu aku menulis di PLURK
,"aku berada di depan kemacetan". Maksudku biarpun radio El Shinta menyiarkan kemacetan dimana-mana termasuk di jalur yang kulalui, tetapi tetap saja mobilku melaju dengan kencang tanpa hambatan dan sampai di kantor mendahului teman-teman kantor yang lain.

Begitu selesai menulis, aku langsung mendapat firasat,"wah aku telah menulis sebuah kesombongan nih,sebuah tulisan yang tidak menunjukkan empati terhadap mereka yang sedang kesusahan karena ditimpa kemacetan"

Muncul sebuah firasat buruk, bahwa aku pasti tidak lama lagi akan ditimpa kemacetan. Kembali firasat itu menujukkan buktinya, ketika sedang melaju kencang di jalan tol Jakarta Cikampek, tiba-tiba semua mobil di depanku berhenti, tak bergerak.

Perjalanan yang sangat lancar dari Cawang tiba-tiba langsung berganti suasana.

Akhirnya akupun sampai pada sumber kemacetan. Sebuah truk tiduran di jalur yang kulalui. Dia tiba-tiba muncul tepat di depanku.

Itulah saat ketika mobil yang ada di depanku membelok ke kanan dengan tiba-tiba.

Secara reflek kuraih cameraku dan kuarahkan ke mobil itu, karena aku tidak bisa lagi bergerak. Mau maju nabrak truk tidur, mau ke kiri juga susah motong jalan yang begitu padat.



Alhamdulillah, saat itu yang kupikirkan adalah kebaikan hati sopir yang ada di jalur samping kananku.

Eh bener, mobil bus di samping kananku kulihat menungguku memotong jalannya. Kuucapkan terima kasih pada yang menggerakkan sopir bus itu, semoga amal sopir bus itu diterima dan dibalas dengan balasan yang baik.

AMin.

Aku sekarang jadi bingung sendiri. Sebenarnya yang menimpaku ini karena firasat atau karena aku punya suatu persangkaan dan semua persangkaanku itu terjadi seperti yang kupersangkakan.

Aku harus merenung lagi mencari pencerahan untuk ini.

Kuingat juga, berkali-kali aku mendengar berita di radio tentang kecelakaan di jalan tol, dan beberapa kali juga kulihat sendiri mobil yang mengalami kecelakaan di jalan tol, tetapi aku selalu tidak bisa mengambil gambarnya.

Hari ini aku bisa mengambil gambar mobil yang sedang kecelakaan dan tidak mengganggu pemakai jalan yang lain [karena mobil itu tepat berada di depanku dan mobilku dalam kondisi tidak bisa bergerak].



Jadi ini firasat atau jawaban dari keinginan yang kuat dari dalam hati?

Bagaimana menurut anda?

6 komentar:

Senoaji mengatakan...

Bisa juga karena hati begitu menginginkannya, kayaknya sama seperti yang saya alami sob, cuman beda perkara, boleh percaya setiap kali saya makan diwarung yang sepi, sekejap hitungan menit warung itu akan dijubeli pembeli, dan saya tahu benar warung itu bukan favorit, bahkan tempat dan sajiannya boleh dibilang jauh dari harapan.. dan setiap kali itu terjadi selalu diawali dalam hati saya.."kok warungnya sepi kayaknya gini, bagaimana pemilik warungnya menafkahi keluarganya to dirinya sendiri.."

eshape waskita mengatakan...

@Senoaji

indahnya selalu berprasangka baik ya mas, aku juga jadi sering memahami mengapa kok selalu tinggal di kampung/kompleks yang penuh dengan orang baik,

insya Allah, karena aku selalu berprasangka baik bahwa tetanggaku pasti orang-orang baik semua

salam

chokichim mengatakan...

salam kenal pak....

jadi merenung nich, menyoal berprasangka baik sudah akoe lakukan belum ya..

kalo udah bisa,bagaimana cara mempertahankan untuk selalu bersikap prasangka baik?

matur suwun..monggo pinarak ing gubuk kulo...

eshape waskita mengatakan...

Oke mas aku langsung menuju TKP

Salam kenal kembali,
senang berkenalan sama jape methe...!:-)

bumiku mengatakan...

Jaman sekarang orang sudah nggak pernah mikirin Firasat lagi Pa'E, tapi lebih banyak Prasangka.
Si A begini, si B begitu seperti tayangan Infotainment, menyebar fitnah.

Firasat sudah menjadi barang rongsokan nggak ada nilai ekomonisnya. Kemudian dibuang bagai sampah.

Padahal firasat adalah RADARnya manusia, semakin dilatih semakin kuat sinyalnya, seperti In***sat
he...he..he...
Apa Firasat bisa disebut IHSAN pa'E?

eshape waskita mengatakan...

Bener tuh mas Bhrebumi

Kita perlu mendudukkan radar ini di porsi yang seharusnya ya..

Makasih komentarnya mas...

Salam