Sabtu, Februari 21, 2009

Dan Orang-orang Gendeng itupun berkumpulah….

Apa kata mas Pepih ketika menyambut kedatangan para tamunya?

”Kita santai saja ya, acara ini dari kita ke kita aja kok”

Kenyataannya?

Suasana terasa beku dan tidak juga mencair. Ajakan makan siangpun tidak langsung ditanggapi oleh para peserta Kopdar, padahal diyakini semua peserta Kopdar dalam kondisi lapar berat.

Musik pembuka yang ditampilkan juga terasa kurang menggigit, padahal kualitasnya oke punya. Kurang ”pe-dhe”nya sang penyanyi yang membuat penonton ragu untuk bertepuk tangan.

Ajakan tepuk tanganku juga kurang berhasil menarik minta peserta lain untuk bertepuk tangan. Beda banget kalau pas aku yang jadi host acara [mode narsis : ON]

”Ice break” sebenarnya mutlak perlu dilakukan, dan siang ini, ”Ice break” itu tidak dilakukan dengan baik oleh pemandu acara.

Sambutan-sambutan dari para pejabat, lumayan dapat mendongkrak peningkatan kecairan penonton, tapi masih belum homogen. Baru mencair di beberapa kelompok saja.

Ini memang penyakit sebuah pertemuan dengan model ”semi” reuni. Para penonton sibuk berbincang dengan kawan barunya atau kawan lamanya dan yang di panggung sudah tidak lagi menjadi tujuan utama.

Bintang penolong akhirnya datang ketika Sang Mantan Petinggi TNI [Chappy Hakim] unjuk gigi. Beberapa nomor lagu melengkapi cerita kocaknya. Makin meriah ketika suara Louis Armstrong juga ikut meramaikan suasana.

Bapak satu ini memang luar biasa kreatifitasnya.

Mulai saat ini para peserta sudah dibaptis sebagai kumpulan orang ”gendeng” dan ”baiat” itupun berlangsung dalam suasana yang benar-benar sudah cair.

Ketika presenter sesi pertama mulai serius, dan kemudian sang presenter bertanya,”Para blogger ini dibayar enggak?”

Maka reflekskupun mulai bekerja. Jawaban seharusnya adalah ”Tidak dibayar!”, tapi karena ini kumpulan orang gendeng maka jawabanku adalah ”BELUM!”

Lumayan, suasana kembali cair dan makin cair ketika audience makin yakin bahwa mereka bebas berkata apa saja.

Pada saat membahas peran menteri bila mau mengisi komentar di blog para audience, sebenarnya aku ingin bilang bahwa komentar pak KK yang diblogku sudah tak print dan tak bingkai, tapi kulihat suasana sudah cair, jadi cukuplah komentar itu kutulis di sini saja.

Tegang itu dihindari, tapi terlalu cair juga akan menghilangkan fokus yang sudah terbentuk.

Di sesi pertama ini bintangnya memang Sang Mantan Petinggi TNI dan Sang Petinggi [pak KK]. Sang mantan begitu lancar mengalirkan kesegaran ke audience dan pak KK begitu pas menempatkan diri sebagai blogger bukan sebagai menteri.

Saat “break” kusempatkan untuk ngobrol tentang FoKK [Friend of KK] yang sudah diikuti oleh banyak orang. Pak KK hanya memastikan bahwa dia masih belum mau ikut FisbuK [he..he..he... sampai kapan ya beliau tahan tidak ndaftar FB, aku kok nggak yakin imannya sekuat itu--> mode ngacir : ON]

Setelah itu, maka pak KK jadi milik publik. Mereka yang sebenarnya sangat terpelajar dan mungkin biasanya pada JAIM, saat itu sudah kehilangan keJAIMannya. Merekapun berebut berfoto dengan pak KK [termasuk aku, he..he..he... meski masih sok jaim sedikit]

Puncak acara memang di sesi terakhir. Panji dan Sang Kambing Jantan mengocok perut peserta dengan humor mereka. Bukan sekedar lawakan [slapstick?], tapi adalah humor yang mengalir begitu saja.

Jadi inget sama mas Arwah Setiawan dan Mas Wendo [Arswendo] yang sama-sama sepakat bahwa humor itu serius.

Acara di Bentara Budaya ini juga mengingatkan aku dengan mas Wendo, karena tahun 80an aku pernah ditawarin untuk mengelola Bentara Budaya yang di Yogyakarta. He..he..he.. kalau aku waktu itu jadi mengelola Bentara Budaya yang di Yogya, mungkin aku malah nggak bisa ikut acara kopdar ini, karena aku pasti malah jauh dari dunia blogger.

[he..he..he.. jadi cerita nostalgia denga bumbu semi narsis sedikit]

Secara keseluruhan materi acara ini tidak istimewa. Yang membuat ajang kopdar ini terasa istimewa, adalah beberapa hal sebagai berikut :

1. Pertama kali bertemunya para blogger maya KOMPASIANA secara riil.
2. Peserta yang dibatasi, sehingga hampir semua peserta bisa saling mengenal secara pribadi.
3. Sebagian besar peserta berusia produktif dan mapan di bidang masing-masing, sehingga apa yang disampaikan seseorang memang pencerminan dari kekhususannya [kita sampai terlongong ketika mendengar cerita tentang bidang kedokteran yang begitu menakjubkan].
4. Hadirnya manajemen KOMPAS sebagai ujud komitment mereka terhadap KOMPASIANA
5. Terdaftarnya seorang menteri aktif yang mau menempatkan dirinya sebagai blogger
6. Adanya hadiah voucher menginap di Villa Bora-bora 2 Pool Kalicaa Villa Tanjung Lesung untukku [lho ... kok jadi lari kesini nih?...]

Dengan demikian acara ini akhirnya menjadi istimewa, dan seperti kata pak Cik Gu Wijaya, dua jempol buat mas Pepih !!!

Kita tunggu undangan dan vouchernya yang lain.



Saat menerima Voucher dari mas Pepih


Sangat menggiurkan


Latihan narsis


Sang Bintang Sesi 2


Sang wartawan

4 komentar:

Catatan Dari Hati mengatakan...

Wah...ulasan yang menarik dan kritis Pak Eko.
Thanks ya pak atas tumpangannya tadi ke Bentara Budaya

wijayalabs mengatakan...

Saya salut sama pak eko yang kreatif. Saya pun besyukur bisa bertemu dengan orang hebat seperti pak Eko. Terima kasih telah berkunjung kerumah maya saya. Semoga silahturahmi ini terus terjalin sampai anak cucu. Jangan lupa ide mas Aris, kita bikin komunitas bekasi dan Cikarang. Salam

eshape waskita mengatakan...

@ATG

pak Amril selama saya masih bisa nganter, maka saya pasti akan dengan senang hati mengantar pak Amril kemanapun saya mampu antar.

Salam kompak selalu pak.

eshape waskita mengatakan...

@Wijaya

pujian itu sebenarnya akan terlempar balik ke pemberinya, artinya kalau pak Wijaya bilang aku ini kreatif, sebenarnya pak Wijayalah yang kreatif.

Sudah kreatif penuh humor lagi, mantab deh pak.

Seandainya waktu aku sekolah dapet guru kayak pak Wijaya ini kayak apa ya besarku nanti
He..he..he... nggak boleh berandai-andai ya pak.

Salam Bekasi