Selasa, Desember 15, 2009

Mbah Uti Sakit

Tengah malam aku meluncur ke condong catur dan kulihat Lilis, Rama, Sinta,  Lia dan Totok sedang mengelilingi mbah Uti yang terlihat sulit bernafas.

Hanya Lilis yang mampu menerjemahkan ucapan yang keluar dari mulut mbah Uti.

Biasanya mbah Uti sangat senang kalau bertemu denganku. Beberapa jam lalu sempat minta Lilis untuk nelpon aku dan minta dicium. Aku yang saat itu masih di Jakarta hanya bisa terdiam, karena tidak tahu harus berbuat apa. Kebetulan pesawat juga mengalami delay, sehingga sedikit terlambat masuk ke Yogya.

Kali ini mbah Uti sudah tidak lagi mengenaliku. Meskipun aku sudah menciumi tangan dan pipinya, rasanya tidak ada lagi kehangatan yang kurasakan seperti ciuman-ciumanku sebelumnya.

Tangan dan wajah mbah Uti terasa dingin dan berbeda. Aku akhirnya hanya bisa meminta Quran pada Sinta. Semua sudah ada yang ngatur dan akupun tenggelam dalam bacaan surah Yasin.

Semoga yang terbaik yang terjadi pada mbah Uti. Semoga Allah swt masih memperpenjang usia mbah Uti, bila hal itu memang lebih baik bagi mbah Uti, agar mbah Uti makin banyak amalnya sebelum menghadap padaNya.

Namun bila Allah swt berkehendak sebaliknya, kamipun ikhlas melepas mbah Uti menghadap pada Allah swt. Semoga semua amalan mbah Uti dicatat sebagai amalan yang baik. Amin.

Hanya Allah yang tahu mana yang terbaik buat mbah Uti dan semoga itulah yang terjadi pada mbah Uti. Apapun keputusan Allah, itulah keputusan terbaik. Insya Allah kami siap menerima apapun keputusan Allah swt.

Saat ini hati kami sedih, kami hanya bisa melihat mbah Uti dari layar monitor yang tempatnya terpisah jauh dari kamar mbah Uti di ruang ICU.

Setiap saat kami perhatkan layar kaca itu dan terlihat perawat yang selalu sibuk memeriksa kondisi mbah Uti, memastikan semua selang yang menempel di tubuh mbah Uti dalam posisi yang seharusnya. Mbah Uti terlihat diam tak bergerak, kadang terlihat sedikit bergerak seperti "risih" dengan selang-selang yang ada di tubuhnya, tapi sebentar kemudian terlihat tenang kembali.





Sejak kemarin memang mbah Uti sudah harus memakai alat bantu pernafasan agar bernafasnya lebih mudah dan semoga alat bantu nafas ini mampu mempercepat proses kesembuhannya.

Hikmah yang didapat dari sakit mbah Uti ini adalah berkumpulnya seluruh keluarga yang tadinya sulit untuk bertemu.

Kitapun jadi makin yakin akan kebesaran Allah swt. Tiada cobaan yang diberikan olehNya melainkan kami mampu menerimanya.

"Ya Allah berikanlah kami beban yang kami mampu menerimanya. Berikanlah kami petunjukMu. Hanya kepadaMu kami menyembah dan hanya kepadaMu kami mohon pertolongan.




Di ruang tunggu ICU nomor 6 inilah Rama mengawasi mbah Uti. Terima kasih buat pak Rudi Purnomo Kupu-kupu malam yang telah menemani kami di ruang tungu ini. Terima kasih juga buat Pak Adi Wibowo yang tidak jadi datang karena sudah lewat tengah malam.

Minggu, Desember 13, 2009

Tanjung lesung aku datang [akhirnya]

Aku termenung lama sebelum akhirnya memutuskan untuk tetap berangkat ke Tanjung lesung. Ada dua cewek cantik dan menyenangkan yang harus kutinggal.

Jadi akhirnya kuputuskan, sehari setelah aku tiba dari Medan aku akan berangkat ke Tanjung lesung. Semoga rasa capek dari acara pelatihan para pekerja Waskita yang mendekati MPP sudah hilang saat berangkat ke Tanjung lesung.

Risikonya keberangkatanku ke Yogya untuk wawancara calon pegawai bari Waskita harus malam hari. Takutnya kalau ada delay pesawat, bisa berangkat paginya. Ups...jangan sampai ya.

Rencana itu kemudian ternyata buyar adanya. Tidak ada kamar kosong kalau hari Sabtu dan Minggu, sehingga begitu turun dari pesawat langsung siap-siap untuk pergi lagi ke Tanjung lesung. Bisa dibayangkan betapa capeknya diriku ini.

Selama di Medan, aku selalu bangun sebelum subuh, dalam hal ini  LC bisa dijadikan sebagai kambing hitam, karena aku memang bangun jauh sebelum subuh untuk nonton Liga Champions.

Sehabis subuh acara sudah mulai bergulir sampai ke menjelang tengah malam. Begitu terus setiap hari, sehingga badan rasanya hancur lebur. Meski begitu tiap subuh masih juga semangat lagi sampai tengah malam. Begitu masuk kamar barulah mulai terasa capeknya.

Alhamdulillah semua berlangsung sukses. Mari kita nikmati fot-fotonya saja ya. Belum bisa menulis panjang lebar. Masih harus segera berangkat ke Yogya.



Begitu sampai lokasi sudah tengah malam dan ngobrol berdua sama Lilo



Pagi-pagi jalan-jalan ke pantai.



Bertiga saja di pantai yang sunyi dan bersih.



Pantainya jernih banget airnya. Sampai seolah-olah gak ada airnya.



Balik lagi ke hotel dan langsung nyebur ke kolam renang yang ada di halaman belakang.



Melihat itu, semuanya langsung ikut nyebur juga.




Ngajarin Lilo berenang.



Akhirnya harus pulang juga. Sudah siang dan panassss banget.

Jumat, Desember 04, 2009

Khatib Jumatan di JCC



"Saya pulang dulu pak Eko", kata pak Kiming padaku.

"Lho baru jam berapa nih pak?"

"Lebih afdol Jumatan di masjid pak Eko"

"Ooo...iya ya", aku juga belum tahu sholat Jumatan dimana. Biasanya sih Jumatan di JCC memakai ruang Kasuari.

Saat khatib mulai khutbahnya, aku masih setengah melamun antara ingin sholat Jumat di Masjid atau tetap di ruang Kasuari saja. Sampai akhirnya khotbah itu menyinggung masalah dua hal yang selalu disepelekan oleh semua manusia di muka bumi ini.

Dua hal yang disepelekan oleh manusia adalah masalah KESEHATAN dan WAKTU.

Hampir semua orang suka lupa diri ketika sehat demikian juga sering lupa diri ketika waktu begitu banyak tersedia di depannya.

Kesehatan baru terasa mahal ketika kita sedang sakit. Semua yang ada di sekeliling kita tiba-tiba berubah menjadi sangat berbeda. Makanan kesukaan bisa menjadi makanan yang paling tidak bisa dimakan.

Lagu yang biasanya enak didengar bisa menjadi lagu yang paling dibenci dan bahkan kadang jadi paling tidak mau mendengar suara apapun saat sakit.

"Demi masa, sesungguhnya manusia itu berada dalam kerugian..."

Begitulah manusia itu, sering membuang waktu dengan percuma. Banyak hal yang bisa dikerjakan saat waktu luang tiba-tiba menjadi tidak bisa dikerjakan lagi karena sempitnya waktu.

Khatib ini dengan pelan-pelan menyampaikan khotbah singkatnya, sehingga terlihat tidak banyak jamaah yang berada di sekitarku yang terlihat mengantuk. Ada sih satu dua yang terlihat khusyu' banget sampai kepalanya hampir menyentuh lantai, tapi tidak banyak yang seperti itu.

Di akhir khotbahnya, Khatib menyinggung soal istilah Yatim dan Piatu. Yang sering didengar adalah Yatim itu bila kehilangan Ayah dan Piatu bila kehilangan ibu. Menurut khatib, Yatim adalah kehilangan bapak maupun ibu sedang piatu berarti kehilangan kaum kerabat.

Benarkah begitu? Hanya ahli bahasa yang tahu.

Selesai sholat Jumat akupun mengucapkan syukur. Sungguh sholat Jumat yang enak dan indah. Tempatnya dekat dan isi khotbahnya sangat padat berisi.

Tidak sia-sia Pameran Konstruksi Indonesia ini bekerja sama dengan pengurus JCC mengadakan acara Jumatan di Ruang Kasuari.

Terima kasih.




+++
Artikel [tidak] terkait
Bekasi Peduli Aids

Rabu, Desember 02, 2009

KeiNdAhAn BeRbaGi CiNtA: Ditinggal ISTRI

KeiNdAhAn BeRbaGi CiNtA: Ditinggal ISTRI

Nyupir di Hari Aids

Seperti biasa, kalau ditinggal istri, maka semua urusan rumah tangga jadi terlihat "gothang", terlihat ada proses yang hilang. Yang jelas ada satu kehangatan yang hilang di rumah ini. Yang muncul kemudian adalah beberapa masalah.

Pertama tentu masalah makan dan minum beserta pernak-perniknya. Meja makan jadi terlihat semrawut.



Nah yang kedua, pasti tempat cuci piring dan perkakas dapur lainnya jadi terlihat penuh sesak.



Untung di rumah ada Lilo. yang hari ini senang sekali karena majalah NG for Kids-nya sudah datang.



Berkat Lilo, maka akhirnya semua jadi bersih kembali.



Di Hari Aids ini kita ucapkan salut buat Bekasi Peduli Aids dan berdua dengan LiLo kita menikmati hari Aids ini dengan Nyupir [nyuci piring].