Minggu, Januari 27, 2008

Akhirnya ...... SUHARTO kembali padaNya

Minggu, 27 Januari 2008, sekitar jam 13.10, akhirnya Sang Jenderal yang suka tersenyum itu meninggal dunia, menghadap ke pengadilan yang sebenarnya.

Sudah tidak ada lagi yang mampu menahan kepergiannya, karena memang itulah sesuatu yang paling pasti di dunia ini. Kematian adalah suatu hal yang pasti kita alami dan tidak ada satu rumusan yang secanggih apapun yang mampu menghindarkan manusia dari kematian.


Sebagai sesama muslim, aku tentu mendoakannya. Bila ada amalnya yang baik, semoga Allah swt membalas amal baiknya, dan bila ada amal yang tidak baik, hanya Allah Maha Tahu, kita punya keterbatasan untuk mengetahuinya.


Sesungguhnya semua manusia ini, bila kedoknya dibuka oleh Allah swt, maka kita akan tampil dengan sangat menghinakan. Allah swt dengan kasihNya telah menutupi keburukan kita, sehingga kebaikan kita yang terlihat oleh orang di sekeliling kita.


Mari kita berkaca pada diri sendiri, sudah cukupkan bekal kita bila saatnya tiba nanti?


Fas tabiqul khairat !

Mari berlomba-lomba berbuat baik.


Insya Allah kita masuk golongan mereka yang dicintai Allah swt.
Amin.


gambar dari :


Laskar Pelangi

Saat cuaca di airport Adi Sucipto tidak mendukung adanya pendaratan pesawat, 26 Januari 2008, seseorang di sebelah saya cerita tentang kehidupannya yang dulu sangat menderita, sambil menunggu kepastian bisa pulang ke jakarta naik Adam Air.

Berpetualang di jakarta tanpa modal sepeserpun, numpang di rumah orang sebagai tukang cuci (merangkap satpam!:-), dan sekarang sudah berhasil hidup layak. Begitulah ceritanya.

Nah, habis itu dia nunjuk sebuah buku berjudul "Laskar Pelangi" dan bilang :

"Penderitaan yang saya temui waktu saya menderita tidak ada apa-apanya dibanding yang saya baca di buku ini pak, silahkan baca sendiri buku terlaris di tahun ini.
Luar biasa isinya!"

Apa bener begitu ya?

Jadi penasaran nich....

gambar dari http://news.indosiar.com/images/profil/novel-_laskar_pelangi.jpg

Kamis, Januari 24, 2008

AREMANIA

Kota Malang di tahun sekitar 1985 adalah kota yang sangat sejuk dan menyejukkan. Tahun itu aku tinggal di Bendungan Sigura-gura 1c, antara kampus Unibraw dan ITN, kost bersama beberapa teman.

Kalau siang kita suka renang di Gajayana, soalnya kalau pagi atau sore takut kedinginan. Soal lagu-lagu, kita aktif ndengerin RRI studio 2, yang karena letak geografis kota Malang, jarang menyiarkan (rellay) berita nusantara, jadi isinya lagu-lagu terus.

RRI di Malang juga model penyiarnya beda banget dengan RRI di kota lain, gaul abiz deh, gak beda jauh dengan radio amatir.

Nonton musik di Gajayana juga asyik, penontonnya sangat atraktif. Sampai-sampai pakaian Arthur Kaunang habis dijarah penonton (he..he..he…!:-)

Malem mingguan, biasanya dihabiskan di bioskop Kelud. Ini bioskop model layar tancap, tetapi penontonnya tidak perlu kehujanan kalau turun hujan. Kalau mau jajan, tinggal berdiri dan beli makanan di warung-warung yang ada di sekitar layar tancap. Tiketnya, kalau gak salah 25 rupiah (murah abiz!:-).

Makan pagi favorit adalah nasi kari ayam. Pada pagi hari yang kita makan adalah nasi dan kuahnya, sorenya kita cukup beli nasi, karena ayam lauk pagi hari belum kita makan. Untuk makan siang, lihat-lihat rejeki. Kalau ada rejeki ya makan, kalau enggak ya puasa makan siang.

Indahnya kota Malang, tak akan pernah terlupakan.

Bravo Aremania.

gambar :

Rabu, Januari 23, 2008

Kematian (itu Indah)


Kedatangan malaikat Maut, selalu saja diikuti dengan cerita-cerita yang baru jelas ketika kematian itu datang. Semua sikap, tingkah laku, perbuatan atau apa saja yang dilakukan sebelum meninggal, selalu saja baru jelas setelah Maut menjemputnya.

Tidak ada urutan yang jelas (bagi kita) tentang siapa yang meninggal duluan, siapa selanjutnya dan yang lebih tidak jelas lagi adalah kematian bersama alias Kiamat, meskipun tanda-tanda menuju kiamat sudah makin jelas saja.

Saat kakak dari seorang kawan meninggal, seluruh saudara dan tetangga menunjukkan sikap yang sangat mengharukan. Mereka mengenang segala kebaikan almarhumah dan Allah swt menunjukkan betapa mudahnya kematian menjemput, meskipun usia masih muda dan amal terlihat sangat baik.

Puluhan “pelayat” yang mengiringi almarhumah menuju ke pemakaman menunjukkan betapa dekatnya almarhumah dengan lingkungannya.

Ketika sampai di pemakaman, rupanya rombongan anak muda yang bertugas mengangkat keranda masih tertahan kemacetan jalan di Bandung, yang memang di hari Senin sore itu cukup padat.

Akhirnya, kami golongan kepala mendekati 5 dan 6 yang mengangkat keranda itu. Ini suatu hal yang sudah 20 tahun lebih tidak kulakukan. Sungguh ini adalah suatu kenangan yang membuat aku langsung bernostalgia, tentang kematian orang-orang dekatku selama ini.

Terakhir aku naik mobil ambulan adalah ketika membawa jenazah Eyang Aik di Medan, terakhir melepaskan sandal dan masuk ke kuburan adalah ketika ayah mertua meninggal di Yogya.

Sementara itu, aku sering tidak sempat mengikuti prosesi pemakaman beberapa keluarga dekat. Meskipun aku langsung beli tiket begitu mendengar berita kematian ibu mertua dan juga ayahku, tetap saja aku tidak sempat ikut menyaksikan prosesi itu. Demikian juga ketika adikku meninggal.

Semua itu memang sudah ada yang mengatur, dan kita hanya menjalani saja. Semoga semua amal baik mereka diterima Allah swt.
Amin

Sungguh kematian itu memang indah, bila kita punya bekal yang cukup.
Insya Allah, kita diberi kematian yang khusnul khotimah.
Amin.

Selasa, Januari 15, 2008

Cobaan Allah


Hari ini aku dapet kiriman imil yang mengingatkan aku akan perlunya selalu bersyukur pada Allah swt atas apa saja yang menimpa kita.


Selalu ada hikmah dibalik semua kejadian yang menimpa kita.


Ini kutipan dari imil itu.


Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (QS 2: Al Baqarah ayat 155)

(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa mushibah, mereka mengucapkan “Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun. (QS 2: Al Baqarah ayat 156)

Artinya: Sesungguhnya Kami adalah milik Allah dan kepada-Nya-lah Kami kembali. kalimat ini dinamakan kalimat istirjaa (pernyataan kembali kepada Allah). Disunatkan menyebutnya waktu ditimpa marabahaya baik besar maupun kecil.


Jadi begitulah yang telah terjadi dengan beberapa tabrakan yangmenimpa mobilku.


Semoga kita masuk golongan mereka yang dicintai ALlah swt.

Amin.