Pagi sudah datang dan aku juga sudah siap untuk menyambut pagi ini dengan jalan pagi ditemani istri tercinta + tersayang. Namanya juga istri, ya pasti tercinta dan tersayang.
Kita mulai dengan ngobrol tentang apa saja sepanjang jalan sampai akhirnya kita mulai saling memotret memakai ponsel. Tustel memang tadinya sengaja kita tinggal biar fokus ke jalan pagi sambil ngobrol berduaan, tapi lama-lama semangat narsis ternyata tidak bisa hilang begitu saja.
Yang jadi model pertama adalah patung Ikan Sura dan Buaya sebagai background dari wajah istriku. Setelah itu, gantian istri yang memotretku di posisi yang mirip.
Saat melewati jembatan, kita tidak lupa mengabadikannya. Lengkap dengan koran khas Surabaya. Jawa Pos. Inilah koran yang membuat kita selalu ingat dengan Menteri BUMN saat ini. Dahlan Iskan.
Setelah lewat jembatan, maka yang perlu diabadikan adalah MonKasel, Monumen Kapal Selam Surabaya.
Melewati Delta Plaza, ada sebuah jembatan penyeberangan. Naiklah kita berdua dan ngobrol lagi di atas jembatan yang masih sepi. Tidak lupa kembali sang potographer beraksi mengambil gambar suasana di sepanjang jalan yang masih sepi.
Pengalaman yang bikin geli adalah ketika nonton film di Delta Plaza. Jam tayang yang cocok hanya film berjudul Perfect House. Tadinya kita pikir itu film import, ternyata film dalam negeri yang bergenre Psycho Thriller. Wah sudah nonton mbayar kok ya masih dibikin deg-degan segala ya.
Surabaya memang selalu indah dikenang karena lebih lima tahun aku bersliweran di kota ini. Minggu sebelumnya sempat juga ikut hadir di acara Blogger Nusantara. Kopdar Blogger terbesar yang dikemas dalam nuansa wong nDeso dan gendeng kabeh.
Malam menjelang dan akupun harus tidur, besok adalah perjalanan pagi-pagi banget ke Jakarta. Salam sehati.
Tampilkan postingan dengan label pagi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pagi. Tampilkan semua postingan
Minggu, November 13, 2011
Jumat, Agustus 07, 2009
Suatu Pagi bersama LiLo
Malem-malem, ketika aku pulang ke rumah, LiLo sedang asyik mengerjakan PRnya. Terlihat Lilo agak kesusahan mengerjakan PR-nya tetapi dia tetap tak mau minta aku untuk mengajarinya.
Ada dua alasan mengapa LiLo tak mau meminta aku mengajarinya.
Yang pertama, karena aku gak pakai kaca mata sedang tulisannya memakai pensil HB, sehingga aku pasti akan kesulitan untuk membacanya.
Yang kedua, tentu karena model mengajarku yang kurang menarik dibanding model mengajar istriku.
Sayangnya, malam ini hanya aku yang bisa diajak berdialog masalah PR ini, sehingga akhirnya Lilopun minta diajari. Yang terjadi kemudian bisa ditebak. Sebuah perdebatan yang sengit dan sama-sama tidak mau mengalah.
Akhirnya LiLopun ngambeg dan tertidurlah dia di kasur. Akupun menemaninya tidur di sampingnya, sampai akhirnya terbangun menjelang subuh.
Setelah semua kegiatan rutin terlaksana, maka LiLo langsung minta dicarikan arti warna-warna yang ada di peta.
"Pak carikan arti warna-warna yang ada di peta ya pak, terus dicetak langsung pakai printer", katanya.
"Wah, printernya habis tintanya, abis itu sudah dilepas dari komputer soalnya mau dipak untuk dibawa ke Yogya", jawabku.
"Ya udah tulis tangan saja", kata Lilo. Rupanya dia sudah lupa perdebatan tentang PR matematika semalem.
Selesai aku mencari arti warna, maka aku "paste" sekalian hasil pencarian itu di blog kemudian LiLo mencatat arti warna yang ada di blogku.
Selama LiLo mencatat, akupun memeriksa PR LiLo. beberapa hasil hitungannya yang salah kukoreksi dan kutunjukkan cara ngitung yang benar pada Lilo.
Selesai mengerjakan PR, kitapun asyik mencari baju yang harus dipakai liLo pada hari ini [tiap hari kok ganti-ganti baju ya?]. Pagi ini dia harus pakai seragam olah raga dan kemudian setelah itu ganti dengan baju pramuka.
Selesai mandi, maka acara memasak sarapan sudah menanti. Pakai mode menu putus asa, yaitu masak nasi goreng!:-). Kebetulan aku memang mantan peserta lomba masak nasi goreng yang beberapa kali telah menggondol sabuk kejuaraan masak nasi goreng [mode narsis : ON]
Gesekan di kakiku saat memasak menyadarkan aku bahwa Ayuko harus segera dikasih makan juga.
Tak terasa tahu-tahu sudah terang tanah dan LiLo bertanya padaku.
"Bapak enggak masuk kerja?"
"Kan bapak masih mau makan?"
"Udah siang lho pak. Bapak juga belum mandi"
"Semua ini demi Lilo kan? Gak papa sekali-sekali berangkat kesiangan", kataku.
Kulihat LiLo tersenyum manis dan kupeluk dia. Kamipun berpelukan di pagi yang cerah dan indah ini. Puji Tuhan untuk segala karunia yang telah kuterima.
Alhamdulillah.
Ada dua alasan mengapa LiLo tak mau meminta aku mengajarinya.
Yang pertama, karena aku gak pakai kaca mata sedang tulisannya memakai pensil HB, sehingga aku pasti akan kesulitan untuk membacanya.
Yang kedua, tentu karena model mengajarku yang kurang menarik dibanding model mengajar istriku.
Sayangnya, malam ini hanya aku yang bisa diajak berdialog masalah PR ini, sehingga akhirnya Lilopun minta diajari. Yang terjadi kemudian bisa ditebak. Sebuah perdebatan yang sengit dan sama-sama tidak mau mengalah.
Akhirnya LiLopun ngambeg dan tertidurlah dia di kasur. Akupun menemaninya tidur di sampingnya, sampai akhirnya terbangun menjelang subuh.
Setelah semua kegiatan rutin terlaksana, maka LiLo langsung minta dicarikan arti warna-warna yang ada di peta.
"Pak carikan arti warna-warna yang ada di peta ya pak, terus dicetak langsung pakai printer", katanya.
"Wah, printernya habis tintanya, abis itu sudah dilepas dari komputer soalnya mau dipak untuk dibawa ke Yogya", jawabku.
"Ya udah tulis tangan saja", kata Lilo. Rupanya dia sudah lupa perdebatan tentang PR matematika semalem.
Selesai aku mencari arti warna, maka aku "paste" sekalian hasil pencarian itu di blog kemudian LiLo mencatat arti warna yang ada di blogku.
Selama LiLo mencatat, akupun memeriksa PR LiLo. beberapa hasil hitungannya yang salah kukoreksi dan kutunjukkan cara ngitung yang benar pada Lilo.
Selesai mengerjakan PR, kitapun asyik mencari baju yang harus dipakai liLo pada hari ini [tiap hari kok ganti-ganti baju ya?]. Pagi ini dia harus pakai seragam olah raga dan kemudian setelah itu ganti dengan baju pramuka.
Selesai mandi, maka acara memasak sarapan sudah menanti. Pakai mode menu putus asa, yaitu masak nasi goreng!:-). Kebetulan aku memang mantan peserta lomba masak nasi goreng yang beberapa kali telah menggondol sabuk kejuaraan masak nasi goreng [mode narsis : ON]
Gesekan di kakiku saat memasak menyadarkan aku bahwa Ayuko harus segera dikasih makan juga.
Tak terasa tahu-tahu sudah terang tanah dan LiLo bertanya padaku.
"Bapak enggak masuk kerja?"
"Kan bapak masih mau makan?"
"Udah siang lho pak. Bapak juga belum mandi"
"Semua ini demi Lilo kan? Gak papa sekali-sekali berangkat kesiangan", kataku.
Kulihat LiLo tersenyum manis dan kupeluk dia. Kamipun berpelukan di pagi yang cerah dan indah ini. Puji Tuhan untuk segala karunia yang telah kuterima.
Alhamdulillah.
Sabtu, Juni 20, 2009
Lukisan Alam Pagi [lagi]
Pagi hari sehabis sholat subuh, aku ajak anakku yang nomor dua, Haslita Nisa untuk menelusuri jalan-jalan di Jababeka yang sangat segar dan menyehatkan.
Kulihat sebelum berangkat tadi, Luluk dan Lilo sedang asyik memperbaiki tampilan blognya LiLo. Pasti mereka gak minat untuk ikut sepedaan, jadi kutinggalkan mereka dengan keasyikannya.
Bener juga, belum lama menggoes sepeda, udara segar sudah langsung masuk ke paru-paru. Gelap dan dingin subuh membuat asupan udara pagi ini terasa mempunyai kekuatan berlipat-lipat untuk menyegarkan badan ini.
Langsung kukayuh sepeda menuju lokasi yang biasanya indah, yaitu sepasang tower di depan lapangan golf jababeka.
Beberapa adegan kuambil dengan menu utama adalah lukisan alam pagi, yang hari ini terasa lebih mistis lagi. Kayaknya aku terobsesi untuk selalu mengabadikan lukisan alam pagi ya.
Matahari yang masih sembunyi membuat kami akhirnya mengayuh sepeda lagi meninggalkan lokasi "Two Towers" itu.
Di tengah jalan, saat dikelilingi oleh gedung-gedung jababeka, kulihat matahari mulai muncul dengan sinarnya yang keemasan dan terlihat sangat besar.
Bulat kuning dan tidak menyilaukan, itulah beberapa menit yang bisa dinikmati di pagi hari ini.
Kuarahkan sepedaku menuju belakang rumahku. Kutahu di sana tidak ada lagi gedung-gedung yang mengurangi keindahan matahari pagi.
Kupuaskan mengambil gambar sang mentari yang baru bangun dari tidurnya. Hanya beberapa menit dan tahu-tahu sang mentari sudah menjadi garang. Panas dan menyilaukan.
Kamipun kembali menuju rumah. Sarapan sudah menanti di rumah dan keindahan sarapan berjamaah akan kami nikmati sebentar lagi.
Tunggu kami ya....
+++
Kulihat sebelum berangkat tadi, Luluk dan Lilo sedang asyik memperbaiki tampilan blognya LiLo. Pasti mereka gak minat untuk ikut sepedaan, jadi kutinggalkan mereka dengan keasyikannya.
Bener juga, belum lama menggoes sepeda, udara segar sudah langsung masuk ke paru-paru. Gelap dan dingin subuh membuat asupan udara pagi ini terasa mempunyai kekuatan berlipat-lipat untuk menyegarkan badan ini.
Langsung kukayuh sepeda menuju lokasi yang biasanya indah, yaitu sepasang tower di depan lapangan golf jababeka.
Beberapa adegan kuambil dengan menu utama adalah lukisan alam pagi, yang hari ini terasa lebih mistis lagi. Kayaknya aku terobsesi untuk selalu mengabadikan lukisan alam pagi ya.
Matahari yang masih sembunyi membuat kami akhirnya mengayuh sepeda lagi meninggalkan lokasi "Two Towers" itu.
Di tengah jalan, saat dikelilingi oleh gedung-gedung jababeka, kulihat matahari mulai muncul dengan sinarnya yang keemasan dan terlihat sangat besar.
Bulat kuning dan tidak menyilaukan, itulah beberapa menit yang bisa dinikmati di pagi hari ini.
Kuarahkan sepedaku menuju belakang rumahku. Kutahu di sana tidak ada lagi gedung-gedung yang mengurangi keindahan matahari pagi.
Kupuaskan mengambil gambar sang mentari yang baru bangun dari tidurnya. Hanya beberapa menit dan tahu-tahu sang mentari sudah menjadi garang. Panas dan menyilaukan.
Kamipun kembali menuju rumah. Sarapan sudah menanti di rumah dan keindahan sarapan berjamaah akan kami nikmati sebentar lagi.
Tunggu kami ya....
+++
Langganan:
Postingan (Atom)





