Kamis, Juni 25, 2026
Mulai Menulis Lagi
Beberapa hari ini saya membuka kembali blog-blog lama saya. Ada yang di WordPress, ada yang di Blogspot. Tulisan-tulisan lama itu seperti album foto yang tidak sengaja ditemukan di pojok lemari. Saat dibuka, muncul banyak kenangan yang sudah lama tersimpan.
Ada cerita tentang keluarga, tentang anak-anak yang masih kecil, tentang gowes ke berbagai tempat, tentang Jakarta yang hujan, tentang Jogja yang selalu membuat rindu, dan tentang banyak hal lain yang pernah saya anggap penting untuk ditulis.
Yang lucu, saya baru sadar sudah lama sekali tidak menulis.
Awalnya saya mencoba mengingat kapan terakhir kali membuat tulisan di blog. Saya mengira masih beberapa tahun yang lalu. Ternyata setelah melihat arsip blog, saya malah bingung sendiri. Bulan dan tahunnya jelas tertulis, tetapi ingatan saya kalah cepat dibanding arsip digital. Rupanya usia memang membuat kita semakin sering berkata, "rasanya baru kemarin", padahal sudah bertahun-tahun berlalu.
Dulu menulis adalah bagian dari keseharian. Apa yang dilihat, dipikirkan, atau dialami sering berubah menjadi tulisan. Tidak harus hebat, tidak harus panjang, yang penting ditulis. Bahkan beberapa tulisan sempat dikumpulkan menjadi sebuah buku sederhana ketika saya aktif mengikuti kegiatan Tangan Di Atas (TDA).
Lalu waktu berjalan. Kesibukan datang dan pergi. Media sosial bermunculan. Kebiasaan menulis perlahan berkurang. Sampai akhirnya blog lebih sering saya kunjungi sebagai pembaca daripada sebagai penulis.
Sekarang, sebagai seorang "lansia muda", saya merasa ingin mulai menulis lagi.
Bukan untuk mengejar jumlah pembaca. Bukan pula untuk menjadi terkenal. Saya hanya ingin kembali mencatat perjalanan hidup yang masih terus berlangsung. Tentang langkah kaki menuju masjid sebelum Subuh. Tentang gowes bersama teman-teman KaRMaPIT. Tentang keluarga yang selalu menjadi sumber kebahagiaan. Tentang hal-hal sederhana yang sering luput dari perhatian.
Siapa tahu suatu hari nanti tulisan-tulisan ini dibaca kembali oleh anak-anak dan cucu-cucu saya. Atau mungkin oleh saya sendiri, ketika ingatan mulai semakin senang bermain petak umpet.
Karena pada akhirnya, menulis bukan hanya soal menyampaikan cerita kepada orang lain. Menulis juga cara kita bercakap-cakap dengan diri sendiri, menyimpan jejak perjalanan, dan mensyukuri nikmat yang telah diberikan Allah kepada kita.
Jadi, bismillah.
Mari mulai menulis lagi.
Salam sehati.
Rabu, Juni 03, 2020
Tunda Ibadah Haji
Masa pendemi ini ditenggarai dengan banyaknya acara yang ditunda, setelah ada tunda mudik, sekarang ada lagi tunda ibadah haji, tahun depan akan banyak acara tunda yang semoga terlaksana dengan lebih baik. Dengan ditundanya ibadah haji tahun ini, maka tahun depan jamaah ibadah haji yang tahun ini ditunda bisa lebih banyak belajar untuk membaca Quran dengan lebih lancar, dengan semua bekal yang lebih berkah dibanding tahun ini.
Berbaik sangka memang rumus semua kegiatan yang ditunda, apapun namanya, saat ini semua kegiatan yang ditunda kita pastikan akan dilaksanakan tahun depan dengan persiapam yang lebih bagus dan lebih berkah,
Tahun depan, saat sudah makin "dekat" kebiasaan kita dengan aura covid19, maka semua yang terasa asing di jaman ini akan terasa menjadi suatu keharusan yang tidak lagi perlu untuk dibahas. Kebiasaan cuci tangan, jaga jarak, pakai masker dan semuanya yang hari ini terasa asing, akan makin kita lakukan tanpa harus bertanya kesana-kemari. Semuanya sudah menjadi kebiasaan baru, tidak harus diatur lagi, sudah menjadi budaya yang begitu saja kita lakukan.
Awalmya memang kita harus membiasakan diri untuk akrab dengan protokol kesehatan dalam rangka melawan covid19, setelah terbiasa dengan protokol kesehatan yang kita jalani selaa ini, maka semua jadi mengalir begitu saja. Sudah menjadi kebiasaan sehari-hari kita, sudah menjadi budaya haru di era NEW normal.
Hari ini bertepatan dengan hari sepeda dunia, aku makin yakin akan ketetapan Tuhan Allah swt, bahwa semua ini memang sudah diatur menjadi sebagaimana kejadian saat ini. Aku yang tadinya pusing memikirkan cara untuk ke Jogja mencari vaksinasi untuk berangkat ke tanah suci, sekarang jadi plong dengan adanya ketetapan resmi dari Menteri Agama RI tentang ditundanya ibadah haji tahun 2020.
Alhamdulillah
Berbaik sangka memang rumus semua kegiatan yang ditunda, apapun namanya, saat ini semua kegiatan yang ditunda kita pastikan akan dilaksanakan tahun depan dengan persiapam yang lebih bagus dan lebih berkah,
Tahun depan, saat sudah makin "dekat" kebiasaan kita dengan aura covid19, maka semua yang terasa asing di jaman ini akan terasa menjadi suatu keharusan yang tidak lagi perlu untuk dibahas. Kebiasaan cuci tangan, jaga jarak, pakai masker dan semuanya yang hari ini terasa asing, akan makin kita lakukan tanpa harus bertanya kesana-kemari. Semuanya sudah menjadi kebiasaan baru, tidak harus diatur lagi, sudah menjadi budaya yang begitu saja kita lakukan.
Awalmya memang kita harus membiasakan diri untuk akrab dengan protokol kesehatan dalam rangka melawan covid19, setelah terbiasa dengan protokol kesehatan yang kita jalani selaa ini, maka semua jadi mengalir begitu saja. Sudah menjadi kebiasaan sehari-hari kita, sudah menjadi budaya haru di era NEW normal.
Hari ini bertepatan dengan hari sepeda dunia, aku makin yakin akan ketetapan Tuhan Allah swt, bahwa semua ini memang sudah diatur menjadi sebagaimana kejadian saat ini. Aku yang tadinya pusing memikirkan cara untuk ke Jogja mencari vaksinasi untuk berangkat ke tanah suci, sekarang jadi plong dengan adanya ketetapan resmi dari Menteri Agama RI tentang ditundanya ibadah haji tahun 2020.
Alhamdulillah
Selasa, Mei 07, 2019
Ramadhan 1440H
Tak terasa bulan puasa sudah datang dan acara lari mewarnai hari-hariku di bulan Ramadhan 1440H ini. Sama seperti kegiatan lariku (baca mlaku) di hari-hari biasa sebelum masuk bulan puasa, kuawali kegiatanku dengan jalan sebelum sahur dan setelah sahur. Tidak jauh jaraknya, sekedar setengah jam dan hanya seputaran kampung.
Ramadhan ini, aku ikut dua kegiatan virtual, semuanya bertema Ramadhan 1440H, bedanya yang satu dibuat di aplikasi under android dan under iOS sedang yang satunya harus setoRUN memakai aplikasi masing-masing (Strava, Endomondo dll).
Sahur pertama Ramadhan 1440H kujalani bersama anak istri, minus anak nomor dua yang tinggal di lain kota. Saat berbuka puasa, barulah kujalani bersama anak nomor dua, menikmati menu berbuka puasa yangh sama modelnya. Memang kebetulan selera kita berdua pas sedang sama, jadi ketika beli lauk, pilihannya sama, IGA BAKAR !
Yang berbeda cara melahapnya, aku mencoba membiasakan sehabis sholat tarawikh, sedangjkan anak nomor dua, begitu maghrib langsung menyantap menu IGA BAKAr dengan lahap. Akhirnya akupun sepulang dari masjid ikut menyantap habis IGA bakarku. Saat sholat tarwikh baru terasa tidak nyamannya aku dalam mengikuti imam.
Perut yang kenyang dan AC yang sejuk semilir di masjid, membuatku harus penuh konsntrasi menjaga leher kepalaku yang mulai terserang kantuk, leherku jadi tak setegar ketika waktu masih puasa.
Memang nasihat untuk makan dan minum secukupnya tidak kupatuhi saat aku berbuka puasa. Semua hidangan hanya sekejap saja sudah berpindah ke mulut, sehingga "khusyu" menikmati alunan imam sholat yang kebetulan cukup panjang bacaannya. Setidaknya lebih panjang dari bacaan surat wajibku saat sholat sendirian.
Berbeda dengan sholat tarwikh pertamaku di Jogja, saat itu aku tidak kekenyangan dan badan terasa tegar menghadapi imam yang membaca surat Ar-Rahman dengan merdu mendayu. Surat yanhg tidak terlalu panjang itu dibaca imam dengan tajwid dan mahroj yang nikmat didengar, sehingga sampai selesai tidak terasa panjang, padahal durasinya cukup panjang.
Aku jadi ingat teori relitifitas dari Einstein, semenit di atas penggorengan yang panas dan semenit bersama kekasih hati (pacar) akan terasa jauh perbedaannya, padahal dua-duanya mempunyai durasi yang sama, SEMENIT !
Ramadhan ini, aku ikut dua kegiatan virtual, semuanya bertema Ramadhan 1440H, bedanya yang satu dibuat di aplikasi under android dan under iOS sedang yang satunya harus setoRUN memakai aplikasi masing-masing (Strava, Endomondo dll).
Sahur pertama Ramadhan 1440H kujalani bersama anak istri, minus anak nomor dua yang tinggal di lain kota. Saat berbuka puasa, barulah kujalani bersama anak nomor dua, menikmati menu berbuka puasa yangh sama modelnya. Memang kebetulan selera kita berdua pas sedang sama, jadi ketika beli lauk, pilihannya sama, IGA BAKAR !
Yang berbeda cara melahapnya, aku mencoba membiasakan sehabis sholat tarawikh, sedangjkan anak nomor dua, begitu maghrib langsung menyantap menu IGA BAKAr dengan lahap. Akhirnya akupun sepulang dari masjid ikut menyantap habis IGA bakarku. Saat sholat tarwikh baru terasa tidak nyamannya aku dalam mengikuti imam.
Perut yang kenyang dan AC yang sejuk semilir di masjid, membuatku harus penuh konsntrasi menjaga leher kepalaku yang mulai terserang kantuk, leherku jadi tak setegar ketika waktu masih puasa.
Memang nasihat untuk makan dan minum secukupnya tidak kupatuhi saat aku berbuka puasa. Semua hidangan hanya sekejap saja sudah berpindah ke mulut, sehingga "khusyu" menikmati alunan imam sholat yang kebetulan cukup panjang bacaannya. Setidaknya lebih panjang dari bacaan surat wajibku saat sholat sendirian.
Berbeda dengan sholat tarwikh pertamaku di Jogja, saat itu aku tidak kekenyangan dan badan terasa tegar menghadapi imam yang membaca surat Ar-Rahman dengan merdu mendayu. Surat yanhg tidak terlalu panjang itu dibaca imam dengan tajwid dan mahroj yang nikmat didengar, sehingga sampai selesai tidak terasa panjang, padahal durasinya cukup panjang.
Aku jadi ingat teori relitifitas dari Einstein, semenit di atas penggorengan yang panas dan semenit bersama kekasih hati (pacar) akan terasa jauh perbedaannya, padahal dua-duanya mempunyai durasi yang sama, SEMENIT !
Kamis, September 13, 2018
Seputar angka 12
Hari ini aku kembali menulis di blog ini, sebuah peristiwa yang besar bagiku baru saja berlalu, itulah tanggal 12 September 2018, tanggal ketika Mas Lilo meninggalkan kota Jogja untuk menjadi seorang lelaki yang lebih dewasa. Tanggal ini memang sudah kunantikan, tetapi ketika peristiwa yang kunanti ini datang, aku terhenyak juga. Aku jadi berpikir, ternyata aku terkena sesuatu setiap tanggal 12, aku terobsesi dengan hal-hal seputar angka 12.
Padahal sebenarnya tidak banyak peristiwa di seputar angja 12 ini, hanya satu saja, yaitu tanggal 12 bulan 12, tanggal pernikahanku dengan ibunya Lilo, bu Yeni Rumiyaningtyas !
12 Desember 1991 adalah tanggal pernikahanku dengan mantan pacarku, seorang gadis yang pernah membuat dadaku berdesir ketika aku menemuinya di pintu rumahnya, jalanTluki Perumnas Condongcatur, beberapa puluh tahun lalu.
Peristiwa itu masih terbayang dengan jelas dalam ingatanku, seperti baru saja terjadi kemarikn sore, sama dengan peristiwaku dengan Lilo yang kayaknya baru kemarin padahal saat ini Lilo sudah lulus SMA dan merasa perlu untuk menjauh dari rutinitas hidup yang membuatnya merasa ingin menjauh dulu sebentar.
"Paling setahun atau lebih sedikit aku pergi pak", katanya padaku beberapa hari lalu.
Aku hanya mengangguk saja mengiyakan dan merestui prinsipnya yang begitu keras untuk menikmati hidup setahun dengan dan dalam cara pandangnya. Bebas dari keterikatan aturan dunia, sesuatu yang harus dijalaninya selama ini. 6 tahun di SD, 3 tahun SMP dan 3 tahun SMA sudah cukup membuatnya untuk ingin segera lepas dari aturan sekolah.
Kuliah bisa ditempuh setelah dia selesai menikmati kebebasanya. Kuliah juga bukan sesuatu yang wajib dia ikuti, aku hanya mengingatkan pada Lilo, bahwa aturan Manusia, bisa tidak dipatuhi dalam beberapa kasus, tapi aturan Tuhan tidak bisa tidak ditaati, terutana sholat 5 waktu.
Itu saja yang kutuntut pada Lilo, selebihnya biarlah menjadi haknya untuk memilih. Aku hanya berdoa untuk kebaikan Lilo dan ibunya, juga untuk kakak-kakaknya. Semoga Allah swt tetap menjaga Lilo agar selalu berpegang pada tali Allah dimanapun dia berada.
Aamiin YRA.
Kenangan terakhirku dengan Lilo sebelum 12 September 2018 adalah duduk berduaan di ruang tamu dan saling menasehati dalam keheningan malam. Aku berterima kasih pada nasehat Lilo dan ketika dia beranjak menuju kamarnya kuucapkan terima kasihku pada Lilo,"terima kasih ya Lo (atas nasehatnya)"
Akupun larut dalam kenangan pada Lilo :-)
Tahun naga ketika Lilo lahir, 17 Juni 2000 di Gleneagles Medan.
Lilo yang penuh kelucuan dan keceriaan :-)
Tahun 2003 ketika Lilo masih di Surabaya
Tahun 2013, Lilo yang sudah makin gedhe di Gembira Loka Jogja :-)
Saat lebaran di rumah mbak Emmy/Mas Herwan bersepeda dengan saudara-saudara. Setelah ini baru aku mulai menyuadari bnahwa Lilo lebih suka basket, jalan kaki, lari dibanding bersepeda. SMA berangkat sekolah naik sepeda sudah tidak asyik lagi untuk Lilo.
Lilo lebih suka dengan hobi memotret, mengikuti jejak mbak Haslita Nisa daripada bersepeda.
Cerianya Lilo di Wisuda mbak Lita :-)
Padahal sebenarnya tidak banyak peristiwa di seputar angja 12 ini, hanya satu saja, yaitu tanggal 12 bulan 12, tanggal pernikahanku dengan ibunya Lilo, bu Yeni Rumiyaningtyas !
12 Desember 1991 adalah tanggal pernikahanku dengan mantan pacarku, seorang gadis yang pernah membuat dadaku berdesir ketika aku menemuinya di pintu rumahnya, jalanTluki Perumnas Condongcatur, beberapa puluh tahun lalu.
Peristiwa itu masih terbayang dengan jelas dalam ingatanku, seperti baru saja terjadi kemarikn sore, sama dengan peristiwaku dengan Lilo yang kayaknya baru kemarin padahal saat ini Lilo sudah lulus SMA dan merasa perlu untuk menjauh dari rutinitas hidup yang membuatnya merasa ingin menjauh dulu sebentar.
"Paling setahun atau lebih sedikit aku pergi pak", katanya padaku beberapa hari lalu.
Aku hanya mengangguk saja mengiyakan dan merestui prinsipnya yang begitu keras untuk menikmati hidup setahun dengan dan dalam cara pandangnya. Bebas dari keterikatan aturan dunia, sesuatu yang harus dijalaninya selama ini. 6 tahun di SD, 3 tahun SMP dan 3 tahun SMA sudah cukup membuatnya untuk ingin segera lepas dari aturan sekolah.
Kuliah bisa ditempuh setelah dia selesai menikmati kebebasanya. Kuliah juga bukan sesuatu yang wajib dia ikuti, aku hanya mengingatkan pada Lilo, bahwa aturan Manusia, bisa tidak dipatuhi dalam beberapa kasus, tapi aturan Tuhan tidak bisa tidak ditaati, terutana sholat 5 waktu.
Itu saja yang kutuntut pada Lilo, selebihnya biarlah menjadi haknya untuk memilih. Aku hanya berdoa untuk kebaikan Lilo dan ibunya, juga untuk kakak-kakaknya. Semoga Allah swt tetap menjaga Lilo agar selalu berpegang pada tali Allah dimanapun dia berada.
Aamiin YRA.
Kenangan terakhirku dengan Lilo sebelum 12 September 2018 adalah duduk berduaan di ruang tamu dan saling menasehati dalam keheningan malam. Aku berterima kasih pada nasehat Lilo dan ketika dia beranjak menuju kamarnya kuucapkan terima kasihku pada Lilo,"terima kasih ya Lo (atas nasehatnya)"
Akupun larut dalam kenangan pada Lilo :-)
Tahun naga ketika Lilo lahir, 17 Juni 2000 di Gleneagles Medan.
Lilo yang penuh kelucuan dan keceriaan :-)
Tahun 2003 ketika Lilo masih di Surabaya
Tahun 2013, Lilo yang sudah makin gedhe di Gembira Loka Jogja :-)
Saat lebaran di rumah mbak Emmy/Mas Herwan bersepeda dengan saudara-saudara. Setelah ini baru aku mulai menyuadari bnahwa Lilo lebih suka basket, jalan kaki, lari dibanding bersepeda. SMA berangkat sekolah naik sepeda sudah tidak asyik lagi untuk Lilo.
Lilo lebih suka dengan hobi memotret, mengikuti jejak mbak Haslita Nisa daripada bersepeda.
Cerianya Lilo di Wisuda mbak Lita :-)
Senin, April 04, 2016
Nasehat Gutawa
Pagi ini aku sengaja tidak berolah raga, kata orang "jangan berolah raga berlebihan, semua kegiatan lakukanlah secukupnya saja". Begitulah aku bangun pagi, seperti biasanya, langsung mandi terus ke masjid, lanjut menulis di blog ini. Topiknya adalah "Nasehat Gutawa" yang kuterima via email kemarin. Singkat dan padat isinya, penulisnya Ketua Pensiunan Waskita yang masih terus aktif berkegiatan, padahal usianya jelas tidak muda lagi, jauh lebih tua dari aku :-)
Inilah nasehatnya :
Inilah nasehatnya :
UPAYA
PREVENTIF
MEMPERTAHANKAN
KESEHATAN LAHIR & BATIN
(hasil
renungan dari perjalanan hidup)
1.
Yang
masuk kedalam tubuh
a. Melalui
mulut ke lambung : makanan, minuman, obat-obatan, air/cairan, dll. Waspadai
kandungan zat pengawet, zat pewarna, pemanis buatan, penyedap/ penguat rasa (MSG), juga makanan/minuman
kadaluwarsa, makanan/ minuman dalam proses pembusukan, dan kandungan zat-zat
yang tidak diperlukan tubuh.
Waspadai juga dalam mengonsumsi makanan/minuman
tertentu yang dalam jumlah tertentu bisa menimbulkan gangguan terhadap
kesehatan tubuh.
b. Melalui
hidung/mulut ke paru-paru : udara (bersih/kotor), asap rokok, obat-obatan, gas,
bau-bauan, dll.
c. Melalui
kulit : sinar matahari, udara (polusi/panas/dingin), air/cairan, debu, obat-obatan,
gas, kuman/racun dari serangga/binatang, dll.
d. Melalui
telinga : suara, bunyi, dll.
e. Melalui
mata : sinar, udara/gas, air/cairan, obat-obatan, dll.
2.
Aktivitas
fisik
a. Bekerja
b. Kegiatan
selingan/rekreasi
c. Olah
raga
d. Kegiatan
lain yang menggunakan energi
3.
Istirahat
a. Tidur
b. Beristirahat
dari kegiatan yang menggunakan energi banyak (tiduran, duduk santai, dll)
c. Relaksasi/meditasi
4.
Menyeimbangkan
kondisi kejiwaan
a. Memperbesar
rasa syukur : berterima kasih kepada Allah SWT dan juga kepada orang lain atas
apa yang sudah diterima, dan memanfaatkan apa yang dimiliki untuk kebaikan
dirinya dan atau orang lain.
b. Menjalani
ritual agama : mengerjakan sholat atau berdoa dengan sepenuh hati, dengan
perasaan ikhlas.
c. Ber-zikir
: selalu mengingat Allah SWT dan melakukannya dengan sepenuh hati dan perasaan
ikhlas.
d. Bersedekah
: membantu atau memberikan sebagian yang dimiliki kepada orang lain yang
membutuhkan, demi kebaikan. Sedekah bisa berujud ilmu/ pengetahuan, tenaga,
harta benda, atau doa, atau sekedar menyapa atau melempar senyum dengan baik, yang
dilakukan dengan hati yang bersih.
e. Berserah
diri kepada Allah SWT : merasa diri sangat kecil dihadapan Allah SWT, pasrah/
menerima terhadap apa yang diberikan oleh Allah SWT, baik yang dirasa mengenakkan
atau tidak mengenakkan, tidak mengeluh atau bersedih secara berkepanjangan. Menjalani
apa yang diberikan Allah SWT dalam hidup ini dengan sabar dan ikhlas. Menyikapi
musibah yang diterima dengan prasangka baik kepada Allah SWT, dan berusaha serta
berdoa untuk mengatasinya, dengan selalu memohon pertolongan-Nya.
f. Menghindarkan
diri dari pemikiran maupun perbuatan tidak baik. Mudah memaafkan dan mudah
meminta maaf. Berpikirlah positif, selalu optimis dalam berupaya, dan
mengerjakannya dengan sepenuh hati.
g. Menghargai
dan menghormati orang tua (bapak, ibu, mertua, nenek, kakek), saudara dan orang-orang
yang lebih tua atau yang dituakan, guru, dan orang-orang yang telah berjasa
(berperan positif) kepada kita dan kepada siapa saja yang ada dalam tanggung
jawab kita.
h. Mengerjakan
kegiatan sebagai “penyeimbang” dari aktivitas fisik dalam porsi yang sesuai (bermain/mendengarkan
musik, melukis, membaca, berolah raga, berwisata, berkebun/memelihara tanaman, dll).
i. Memelihara
dan memperluas silaturahim (bertemu saudara/famili, sahabat, teman, orang lain)
untuk menjaga/menambah persaudaraan/persahabatan.
Nesehat ini sudah lama beliau tulis dan semoga bermanfaat untuk kita semua. Aamiin.
Jakarta
- 2011
Sabtu, April 02, 2016
Berwisata ke Jepang
Tahun lalu anak sulungku, Luluk Tresnaningtyas, ke Jepang untuk mendalami budaya Jepang, maklum anakku kuliahnya di Sastra Jepang. Awalnya aku ingin anak sulungku pulang menengok keluarga Jogja, tapi perkembangan terakhir justru adiknya yang tertarik ke Jepang. Jadilah keluargaku berwisata ke Jepang, inilah liburan di musim tidak libur.
Awalnya acara dirancang dengan mengikuti acara tour, sehingga biaya jadi murah dan bisa mengikuti banyak kegiatan di Jepang. Kesulitan muncul ketika waktu yang disediakan sudah ada jadwalnya dan banyak aturan yang mungkin tidak bisa diikuti dengan benar.
Anakku sendiri jadi tidak bebas gabung acara dengan rombongan tour, karena menjadi peserta tempelan dalam tour. Tempat yang dituju juga ternyata terlalu banyak, jadi akibatnya kondisi badan bisa "drop" dan tidak bisa menikmati satu tujuan wisata dengan detil.
Ketika mencoba mencari tiket sendiri melalui tiket.com, ternyata pergerakan tiket sangat kencang. Baru milih waktu pulang dan pergi disesuaikan dengan tujuan wisata, ternyata ketika sudah mau booking tiket, sudah tidak ada, sudah dibeli orang lain. Beda sekali dengan perjalanan wisata di Indonesia, banyak sekali alternatifnya.
Akhirnya diputuskan untuk minta tolong pada Lovina Tour untuk membantu masalah pemesanan tiketnya dan alternatif maskapai penerbangan yang dipilih. Paling enak ketika memilih maskapai Garuda, sangat mudah dan jelas, tapi giliran membayar, ternyata biayanya terlalu mahal buatku.
Begitulah, akhirnya dipilih maskapai yang paling murah, meskipun harus transit dulu ke Thailand. Perjalanan menjadi jauh dan panjang, semoga tetap sehat pada hari keberangkatan sampai ke Indonesia kembali.
Awalnya Haslita mencoba membuat estimasi biaya Jepang untuk 3 orang (istriku, Haslita dan Lilo)
Transport PP : 50juta
Hotel @3000yen/mlm : 6,3juta / ¥54000
Jajan dan jalan2 : 27juta / ¥229.000 (sehari seorang jajan ¥10k)
Wifi router : 550ribu / ¥700
Transport ke Jogja-Jkt PP : 2.5jt
Total : 86,3juta
Setelah biaya itu dicoba dirinci berdasar pengeluaran hari per hari, ternyata banyak pengeluaran yang harus ditambahkan. Pengeluaran yang kecil tapi fatal adalah memilih tempat yang cocok buat beberapa kucing kecil di rumah. Kita sangat yakin bahwa asisten rumah tangga tidak akan sanggup selama seminggu mengurusi 5 (lima) ekor kucing yang cantik manis dengan penuh kelembutan dan kasih sayang.
Belum lagi masalah tas ataupun perlengkapan yang harus dibeli dulu sebelum berangkat ke Jepang. Pada intinya berwisata ke Jepang tidak seperti berwisata di Indonesia. Tulisan yang akrab dengan orang jepang adalah tulisan yang akrab dengan mbak Luluk, tapi tidak dengan Haslita dan Lilo. Bahasa Inggris memang akan menolong, tapi pasti akan jadi masalah kalau kita tersesat dan berada di lingkungan yang sangat asing kebiasaannya.
Untungnya istriku pernah ke Jepang, anakku sudah rajin baca tempat wisata Jepang melalui internet, jadi aku seharusnya tidak perlu khawatir. Insya Allah semuanya akan baik-baik saja. Aamiin.
Awalnya acara dirancang dengan mengikuti acara tour, sehingga biaya jadi murah dan bisa mengikuti banyak kegiatan di Jepang. Kesulitan muncul ketika waktu yang disediakan sudah ada jadwalnya dan banyak aturan yang mungkin tidak bisa diikuti dengan benar.
Anakku sendiri jadi tidak bebas gabung acara dengan rombongan tour, karena menjadi peserta tempelan dalam tour. Tempat yang dituju juga ternyata terlalu banyak, jadi akibatnya kondisi badan bisa "drop" dan tidak bisa menikmati satu tujuan wisata dengan detil.
Ketika mencoba mencari tiket sendiri melalui tiket.com, ternyata pergerakan tiket sangat kencang. Baru milih waktu pulang dan pergi disesuaikan dengan tujuan wisata, ternyata ketika sudah mau booking tiket, sudah tidak ada, sudah dibeli orang lain. Beda sekali dengan perjalanan wisata di Indonesia, banyak sekali alternatifnya.
Akhirnya diputuskan untuk minta tolong pada Lovina Tour untuk membantu masalah pemesanan tiketnya dan alternatif maskapai penerbangan yang dipilih. Paling enak ketika memilih maskapai Garuda, sangat mudah dan jelas, tapi giliran membayar, ternyata biayanya terlalu mahal buatku.
Begitulah, akhirnya dipilih maskapai yang paling murah, meskipun harus transit dulu ke Thailand. Perjalanan menjadi jauh dan panjang, semoga tetap sehat pada hari keberangkatan sampai ke Indonesia kembali.
Awalnya Haslita mencoba membuat estimasi biaya Jepang untuk 3 orang (istriku, Haslita dan Lilo)
Transport PP : 50juta
Hotel @3000yen/mlm : 6,3juta / ¥54000
Jajan dan jalan2 : 27juta / ¥229.000 (sehari seorang jajan ¥10k)
Wifi router : 550ribu / ¥700
Transport ke Jogja-Jkt PP : 2.5jt
Total : 86,3juta
Setelah biaya itu dicoba dirinci berdasar pengeluaran hari per hari, ternyata banyak pengeluaran yang harus ditambahkan. Pengeluaran yang kecil tapi fatal adalah memilih tempat yang cocok buat beberapa kucing kecil di rumah. Kita sangat yakin bahwa asisten rumah tangga tidak akan sanggup selama seminggu mengurusi 5 (lima) ekor kucing yang cantik manis dengan penuh kelembutan dan kasih sayang.
Belum lagi masalah tas ataupun perlengkapan yang harus dibeli dulu sebelum berangkat ke Jepang. Pada intinya berwisata ke Jepang tidak seperti berwisata di Indonesia. Tulisan yang akrab dengan orang jepang adalah tulisan yang akrab dengan mbak Luluk, tapi tidak dengan Haslita dan Lilo. Bahasa Inggris memang akan menolong, tapi pasti akan jadi masalah kalau kita tersesat dan berada di lingkungan yang sangat asing kebiasaannya.
Untungnya istriku pernah ke Jepang, anakku sudah rajin baca tempat wisata Jepang melalui internet, jadi aku seharusnya tidak perlu khawatir. Insya Allah semuanya akan baik-baik saja. Aamiin.
Selasa, November 05, 2013
Lilo yang baik hati
Dalam suatu diskusi dengan Lilo dan Luluk, aku baru ngeh, ternyata Lilo adalah anak yang baik hati. Jadi kutulislah artikel "Lilo yang baik hati" ini.
Ceritanya suatu hari aku ngobrol dengan Lilo soal sepeda. Kebetulan mbak Luluk ada di ruang kita diskusi dan ikut mendengarkan sambil terheran-heran mendengar cerita Lilo tentang sepeda termahal yang kita punyai.
"Jadi dimana sekarang sepeda itu mas?", kataku heran, setelah menyadari bahwa ada sepeda yang tidak ada lagi di rumahku.
"Di rumah temanku", jawab Lilo kalem
"Hmmm... kenapa?"
"Biar kalau aku pas ingin sepedaan dan aku ngajak dia, maka dia tidak perlu repot nyari sepeda"
"Maksudnya saat mas Lilo ingin sepedaan, tinggal ngajak dia dan dia tidak perlu nyari sepeda lagi?"
"Iya, kan dia tidak punya sepeda"
"Tahukah Lilo kalau sepeda itu adalah sepeda termahal yang kita punyai"
"Tapi sepeda itu gak ada yang pakai lagi tuh..."
"Ya gimana mau pakai, kan sepedanya di rumah temanmu?"
"Sepeda itu juga sudah rusak kok, sudah ada bunyi-bunyiannya..."
"Ya kalau rusak mari kita perbaiki. Kalau ditaruh di rumah temanmu, apa gak sepeda itu malah makin rusak?"
Diskusi itupun berakhir dengan tanpa keputusan. Rumah kita yang tempat parkirnya sudah penuh dengan sepeda dan sepeda motor memang kurang memadai kalau mau ditambah satu sepeda lagi.
Di rumah satunya, ada juga sepeda lipat yang kulihat sudah makin tidak terurus. Sepeda Lita dan Luluk juga sudah lama tidak kulihat lagi. Setahuku sepeda itu dulu diperbaiki oleh Omnya tapi terlalu banyak yang harus diperbaiki, akhirnya malah jadi tidak jelas kabarnya.
Mungkin Lilo memotret kondisi parkir sepeda di rumah yang tidak memadai lagi dan punya inisiatif untuk meminjamkan sepedanya ke temannya. Aku sendiri setiap bersepeda hanya fokus pada sepeda Specialized yang jadi tungganganku, sehingga sepeda lainnya tidak kuperhatikan lagi.
Semua itu membuat Lilo berinisiatif untuk membersihkan lokasi parkir sepeda di rumah agar tidak menyesakkan pandangan mata yang melihatnya. Lilo yang baik hati memang anak yang cerdas dan suka berbagi dengan siapa saja.
Ceritanya suatu hari aku ngobrol dengan Lilo soal sepeda. Kebetulan mbak Luluk ada di ruang kita diskusi dan ikut mendengarkan sambil terheran-heran mendengar cerita Lilo tentang sepeda termahal yang kita punyai.
"Jadi dimana sekarang sepeda itu mas?", kataku heran, setelah menyadari bahwa ada sepeda yang tidak ada lagi di rumahku.
"Di rumah temanku", jawab Lilo kalem
"Hmmm... kenapa?"
"Biar kalau aku pas ingin sepedaan dan aku ngajak dia, maka dia tidak perlu repot nyari sepeda"
"Maksudnya saat mas Lilo ingin sepedaan, tinggal ngajak dia dan dia tidak perlu nyari sepeda lagi?"
"Iya, kan dia tidak punya sepeda"
"Tahukah Lilo kalau sepeda itu adalah sepeda termahal yang kita punyai"
"Tapi sepeda itu gak ada yang pakai lagi tuh..."
"Ya gimana mau pakai, kan sepedanya di rumah temanmu?"
"Sepeda itu juga sudah rusak kok, sudah ada bunyi-bunyiannya..."
"Ya kalau rusak mari kita perbaiki. Kalau ditaruh di rumah temanmu, apa gak sepeda itu malah makin rusak?"
Diskusi itupun berakhir dengan tanpa keputusan. Rumah kita yang tempat parkirnya sudah penuh dengan sepeda dan sepeda motor memang kurang memadai kalau mau ditambah satu sepeda lagi.
Di rumah satunya, ada juga sepeda lipat yang kulihat sudah makin tidak terurus. Sepeda Lita dan Luluk juga sudah lama tidak kulihat lagi. Setahuku sepeda itu dulu diperbaiki oleh Omnya tapi terlalu banyak yang harus diperbaiki, akhirnya malah jadi tidak jelas kabarnya.
Mungkin Lilo memotret kondisi parkir sepeda di rumah yang tidak memadai lagi dan punya inisiatif untuk meminjamkan sepedanya ke temannya. Aku sendiri setiap bersepeda hanya fokus pada sepeda Specialized yang jadi tungganganku, sehingga sepeda lainnya tidak kuperhatikan lagi.
Semua itu membuat Lilo berinisiatif untuk membersihkan lokasi parkir sepeda di rumah agar tidak menyesakkan pandangan mata yang melihatnya. Lilo yang baik hati memang anak yang cerdas dan suka berbagi dengan siapa saja.
Kamis, Agustus 15, 2013
Mudik Pacitan
Tahun 2013 akhirnya aku mudik Pacitan. Kota kecil yang asri dan makin asri sejak SBY naik jadi penguasa Republik ini. Tidak ada rencana untuk mudik ke kota Pacitan, karena ketatnya jadwal sehabis sholat Iedul Fitri 1434 H. Entah kenapa tiba-tiba semua orang menjadi "selow" dan bisa berangkat ke Pacitan, minus Samdani, suami adikku Nunung.
Dengan satu buah kijang Innova rombongan beranggota 14 orang ini terasa kurang. Akan cukup kalau sebagian memakai kendaraan bermotor roda dua. Jarak yang hanya sekitar 100 km tentu tidak terlalu jauh. Namun setelah dipikir-pikir, akhirnya kita pinjam kendaraan mbak Lilik/mas yoes untuk membawa kita ke Pacitan. Kendaraanku diisi 6 orang dan sisanya masuk ke minibus mbak Lilik yang dikendarai oleh Totok.
Aku tidak bis amembayangkan betapa riuhnya suasana minibus dengan penghuni dominan anak-anak itu. Bahkan di beberapa ruas jalan, Lilo ikut bergabung dengan minibus dan membuat suasana menjadi makin seru. Di mobil yang kutumpangi berkebalikan, isinya penumpang pendiam, alias hobi tidur. Jadi tidak banyak pembicaraan yang ada di sepanjang perjalanan.
Arus balik terasa kental sepanjang perjalanan. Mobil berderet-deret menuju ke arah Jogja dari Pacitan. Kulihat plat nomor mereka kebanyakan berlabel "B", "D" atau "F". Rupanya banyak pemudik dari Jakarta, Bandung dan Bogor yang main ke arah Pacitan. Perjalanan yang sangat nyaman, karena sepanjang perjalanan tidak ada macet sama sekali. Hanya satu dua kendaraan yang mengarah ke Pacitan.
Jalan berkelok menuju Pacitan juga sudah diganti jalan yang lebih pendek, meskipun lebih curam tanjakan dan turunannya, tetapi relaif lebih nyaman dari pada jalan yang dulu sering kulewati. Begitu masuk ke kota Pacitan, langsung berhadapan dengan alun-alun, sedangkan jalan yang dulu begitu masuk Pacitan langsung berhadapan dengan pantai.
Kita sama-sama turun di masjid Agung Pacitan dan menunaikan sholat Asar di masjid asri ini. Kabarnya bulan Agustus 2013 ini akan diresmikan oleh Presiden SBY, entah benar atau tidak, yang jelas masjid itu meskipun tidak sangat besar tapi sangat asri dan terlihat begitu terawat.
Tentu kita segera mejeng di depan masjid, sampai-sampai saudara yang di rumah Pacitan heran. Mereka bertanya-tanya, "kok sudah sesore ini masih juga belum masuk Pacitan ya?"
Ketika kita jawab sedang sholat di masjid, mereka sama sekali tidak curiga bahwa masjid itu hanya beberapa ratus meter dari rumah mereka. Anggapan mereka, kita masih jauh di Punung atau Praci dan terjebak macet, sehigga harus sholat dulu di jalan.
Mereka tidak tahu kalau kita ini sebagian besar masuk golongan orang yang rajin berfoto ria di depan obyek yang menarik. Bahkan malam harinya kita kembali ke masjid lagi hanya untuk mengambil foto masjid di kala malam hari.
Sambutan yang luar biasa membuat anak-anak sangat terkesan.
"Nak, menurut kamu, perjalanan ke Pacitan ini biasa, sangat berkesan atau sangat tidak berkesan?"
"Berkesan pak, aku senang sekali"
"Bagus ya pantainya? Masjidnya?"
"Iya, tapi bukan itu yang membuat aku terkesan"
"Apa yang menbuat terkesan?"
"Saudara kita baik-baik semua ya pak?"
Alhamdulillah, aku senang sekali mendengar kesan anakku ini. Pagi hari, memang kit asempat keliling kampung dan mengunjungi sanak saudara yang ada di Pucang Sewu Pacitan. Beberapa rumah kita kunjungi dan tahu-tahu sudah sampai ke rumah kita lagi.
"Lho, kok sudah sampai rumah lagi pak?"
"Iya nak. Tadi kita memang ke arah sana, tapi muter-muter dan ujungnya ya balik ke rumah lagi"
Seperti biasa, kalau ke rumah saudara pasti pulangnya diberi bingkisan warna warni. Belum termasuk kue-kue yang langsung diserang habis oleh anak-anak.
Biasanya istirku suka komplain kalau lihat anak-anak yang begitu rakus memakan hidangan di meja, tapi kali ini dia hanya tersenyum melihat rombongan anak-anak menghabiskan kue di toples.Tuan rumah juga kulihat tersebyum senang melihat anak-anak bergantian menghabiskan isi toples mereka.
"Tahun depan kita mudik Pacitan lagi ya pak?"
Aku tidak mengangguk dan tidak menolak, aku hanya mengamini doa anakku. Semoga tahun depan diberi kesempatan untuk main lagi ke Pacitan. Main ke pantainya, jajan di pinggir pantai dan melihat Lilo menjemur pakaian di pinggi pantai tanpa takut pakaiannya hilang.
Dengan satu buah kijang Innova rombongan beranggota 14 orang ini terasa kurang. Akan cukup kalau sebagian memakai kendaraan bermotor roda dua. Jarak yang hanya sekitar 100 km tentu tidak terlalu jauh. Namun setelah dipikir-pikir, akhirnya kita pinjam kendaraan mbak Lilik/mas yoes untuk membawa kita ke Pacitan. Kendaraanku diisi 6 orang dan sisanya masuk ke minibus mbak Lilik yang dikendarai oleh Totok.
Aku tidak bis amembayangkan betapa riuhnya suasana minibus dengan penghuni dominan anak-anak itu. Bahkan di beberapa ruas jalan, Lilo ikut bergabung dengan minibus dan membuat suasana menjadi makin seru. Di mobil yang kutumpangi berkebalikan, isinya penumpang pendiam, alias hobi tidur. Jadi tidak banyak pembicaraan yang ada di sepanjang perjalanan.
Arus balik terasa kental sepanjang perjalanan. Mobil berderet-deret menuju ke arah Jogja dari Pacitan. Kulihat plat nomor mereka kebanyakan berlabel "B", "D" atau "F". Rupanya banyak pemudik dari Jakarta, Bandung dan Bogor yang main ke arah Pacitan. Perjalanan yang sangat nyaman, karena sepanjang perjalanan tidak ada macet sama sekali. Hanya satu dua kendaraan yang mengarah ke Pacitan.
Jalan berkelok menuju Pacitan juga sudah diganti jalan yang lebih pendek, meskipun lebih curam tanjakan dan turunannya, tetapi relaif lebih nyaman dari pada jalan yang dulu sering kulewati. Begitu masuk ke kota Pacitan, langsung berhadapan dengan alun-alun, sedangkan jalan yang dulu begitu masuk Pacitan langsung berhadapan dengan pantai.
Kita sama-sama turun di masjid Agung Pacitan dan menunaikan sholat Asar di masjid asri ini. Kabarnya bulan Agustus 2013 ini akan diresmikan oleh Presiden SBY, entah benar atau tidak, yang jelas masjid itu meskipun tidak sangat besar tapi sangat asri dan terlihat begitu terawat.
Tentu kita segera mejeng di depan masjid, sampai-sampai saudara yang di rumah Pacitan heran. Mereka bertanya-tanya, "kok sudah sesore ini masih juga belum masuk Pacitan ya?"
Ketika kita jawab sedang sholat di masjid, mereka sama sekali tidak curiga bahwa masjid itu hanya beberapa ratus meter dari rumah mereka. Anggapan mereka, kita masih jauh di Punung atau Praci dan terjebak macet, sehigga harus sholat dulu di jalan.
Mereka tidak tahu kalau kita ini sebagian besar masuk golongan orang yang rajin berfoto ria di depan obyek yang menarik. Bahkan malam harinya kita kembali ke masjid lagi hanya untuk mengambil foto masjid di kala malam hari.
Sambutan yang luar biasa membuat anak-anak sangat terkesan.
"Nak, menurut kamu, perjalanan ke Pacitan ini biasa, sangat berkesan atau sangat tidak berkesan?"
"Berkesan pak, aku senang sekali"
"Bagus ya pantainya? Masjidnya?"
"Iya, tapi bukan itu yang membuat aku terkesan"
"Apa yang menbuat terkesan?"
"Saudara kita baik-baik semua ya pak?"
Alhamdulillah, aku senang sekali mendengar kesan anakku ini. Pagi hari, memang kit asempat keliling kampung dan mengunjungi sanak saudara yang ada di Pucang Sewu Pacitan. Beberapa rumah kita kunjungi dan tahu-tahu sudah sampai ke rumah kita lagi.
"Lho, kok sudah sampai rumah lagi pak?"
"Iya nak. Tadi kita memang ke arah sana, tapi muter-muter dan ujungnya ya balik ke rumah lagi"
Seperti biasa, kalau ke rumah saudara pasti pulangnya diberi bingkisan warna warni. Belum termasuk kue-kue yang langsung diserang habis oleh anak-anak.
Biasanya istirku suka komplain kalau lihat anak-anak yang begitu rakus memakan hidangan di meja, tapi kali ini dia hanya tersenyum melihat rombongan anak-anak menghabiskan kue di toples.Tuan rumah juga kulihat tersebyum senang melihat anak-anak bergantian menghabiskan isi toples mereka.
"Tahun depan kita mudik Pacitan lagi ya pak?"
Aku tidak mengangguk dan tidak menolak, aku hanya mengamini doa anakku. Semoga tahun depan diberi kesempatan untuk main lagi ke Pacitan. Main ke pantainya, jajan di pinggir pantai dan melihat Lilo menjemur pakaian di pinggi pantai tanpa takut pakaiannya hilang.
Kamis, Juni 27, 2013
Akhirnya BB Z10 hilang
Menjelang kopdar dengan teman-teman BeBlog (Blogger Bekasi) kusiapkan semua perangkat untuk mendokumentasikan acara tersebut. Cuma karena badan terasa capek banget, akhirnya kuurungkan niatku membawa tas bodypack.
Akhirnya aku meluncur ke lokasi hanya berbekal iPhone dan BB Z10. Dalam mobil kulihat BB dalam posisi "sekarat" artinya baterenya sudah hampir habis, jadi kucolokkan charger mobil ke tempat colokan batere di BB.
Kuperhatikan di layar monitor BB ada tulisan yang kira-kira maksudnya adalah kabel charger tidak kompatibel dengan BB Z10. Aku penasaran juga, soalnya kabel ini biasa dipakai untuk mengisi batere BB seri lama (Bold maupun Curve).
"Wah BB Z10 ini kok manja banget ya? Maunya minta charger asli. Halah !:-)", akupun mengeluh dalam hati. Pak Rudy yang duduk di sampingku hanya melihat senyumku, tapi tidak melihat keluhan dalam hatiku.
Sampai di lokasi kopdar, aku beli penutup sadel sepeda, karena Rabu pagi adalah acara rutin sepedaan di Jakarta dan sepedaku tidak ada penutup sadelnya.
Sehabis sholat maghrib, aku ke konter BB dan beli charger BB yang dulu hilang di kereta api.
Kini aku membawa tas berisi penutup sadel dan satu tas lagi berisi kabel charger BB baru. Kuletakkan semua tas di meja dan kuambil iPhone yang sedang diisi baterenya. Kuganti charger iPhone dengan charger BB Z10 dan gantian BB yang sekarang diisi baterenya.
Kulepas jaket dan kututupi BB dengan jaket itu, sehingga di atas meja sekarang ada BB yang sedang diisi baterenya, jaket "SPW" yang menutupi BB itu dan dua tas plastik di dekat ponsel BB yang sedang diisi baterenya.
Kamipun ngobrol ngalor ngidul membahas acara pre event AB2013. Sesekali aku lihat posisi BB yang sedang diisi baterenya. Posisi charger BB ada di bawah dan posisi BB ada di atas meja.
Pas jam 19.55 aku lihat lagi posisi BB dan kulihat kabel charger sudah tergeletak di tanah.
Aku langsung berdiri dan melihat posisi BB Z10 di bawah jaket yang ternyata sudah raib. Aku seperti tidak percaya, tapi ini nyata. BB Z10 tidak ada lagi di atas meja, yang ada tinggal kabel chargernya saja.
Mungkin aku masih bisa beli ponsel lagi, tapi ribetnya itu yang membuat aku kepikiran. Aku harus ganti semua password yang ada di BB itu. Akupun langsung buka protect.blackberry.com dan ternyata BBku sudah dimatikan.
Dari situs protect.blackberry.com terlihat posisi akhir BB sebelum dimatikan. Sayangnya sampai sekarang BB itu dalam kondisi mati, sehingga posisi terakhir tetap tidak bergerak.
Seharusnya saat BB nanti dihidupkan, maka akan keluar pesan ataupun suara yang tidak bisa dimatikan oleh pemegangnya. Namun bila BB tetap dimatikan, maka situs protect.blackberry.com akan kurang kesaktiannya.
Yang jelas, aku mendapat pelajaran banyak dari kejadian ini. Semoga ini menjadikan aku lebih hati-hati dalam meletakkan barang berharga.
Alhamdulillah, semoga ini adalah bukti cinta Allah padaku. Inilah teguran Allah bukan hukuman. Insya Allah, Amin.
Akhirnya aku meluncur ke lokasi hanya berbekal iPhone dan BB Z10. Dalam mobil kulihat BB dalam posisi "sekarat" artinya baterenya sudah hampir habis, jadi kucolokkan charger mobil ke tempat colokan batere di BB.
Kuperhatikan di layar monitor BB ada tulisan yang kira-kira maksudnya adalah kabel charger tidak kompatibel dengan BB Z10. Aku penasaran juga, soalnya kabel ini biasa dipakai untuk mengisi batere BB seri lama (Bold maupun Curve).
"Wah BB Z10 ini kok manja banget ya? Maunya minta charger asli. Halah !:-)", akupun mengeluh dalam hati. Pak Rudy yang duduk di sampingku hanya melihat senyumku, tapi tidak melihat keluhan dalam hatiku.
Sampai di lokasi kopdar, aku beli penutup sadel sepeda, karena Rabu pagi adalah acara rutin sepedaan di Jakarta dan sepedaku tidak ada penutup sadelnya.
Sehabis sholat maghrib, aku ke konter BB dan beli charger BB yang dulu hilang di kereta api.
Kini aku membawa tas berisi penutup sadel dan satu tas lagi berisi kabel charger BB baru. Kuletakkan semua tas di meja dan kuambil iPhone yang sedang diisi baterenya. Kuganti charger iPhone dengan charger BB Z10 dan gantian BB yang sekarang diisi baterenya.
Kulepas jaket dan kututupi BB dengan jaket itu, sehingga di atas meja sekarang ada BB yang sedang diisi baterenya, jaket "SPW" yang menutupi BB itu dan dua tas plastik di dekat ponsel BB yang sedang diisi baterenya.
Kamipun ngobrol ngalor ngidul membahas acara pre event AB2013. Sesekali aku lihat posisi BB yang sedang diisi baterenya. Posisi charger BB ada di bawah dan posisi BB ada di atas meja.
Pas jam 19.55 aku lihat lagi posisi BB dan kulihat kabel charger sudah tergeletak di tanah.
Aku langsung berdiri dan melihat posisi BB Z10 di bawah jaket yang ternyata sudah raib. Aku seperti tidak percaya, tapi ini nyata. BB Z10 tidak ada lagi di atas meja, yang ada tinggal kabel chargernya saja.
Mungkin aku masih bisa beli ponsel lagi, tapi ribetnya itu yang membuat aku kepikiran. Aku harus ganti semua password yang ada di BB itu. Akupun langsung buka protect.blackberry.com dan ternyata BBku sudah dimatikan.
Dari situs protect.blackberry.com terlihat posisi akhir BB sebelum dimatikan. Sayangnya sampai sekarang BB itu dalam kondisi mati, sehingga posisi terakhir tetap tidak bergerak.
Seharusnya saat BB nanti dihidupkan, maka akan keluar pesan ataupun suara yang tidak bisa dimatikan oleh pemegangnya. Namun bila BB tetap dimatikan, maka situs protect.blackberry.com akan kurang kesaktiannya.
Yang jelas, aku mendapat pelajaran banyak dari kejadian ini. Semoga ini menjadikan aku lebih hati-hati dalam meletakkan barang berharga.
Alhamdulillah, semoga ini adalah bukti cinta Allah padaku. Inilah teguran Allah bukan hukuman. Insya Allah, Amin.
Kamis, April 11, 2013
Siapa itu Fahira Idris
Seperti biasa, seusai sholat berjamaah, kami sering berkumpul untuk ngobrol bersama. Anak tertua biasanya yang tidak tahan dan duluan meninggalkan ajang diskusi. Dia mencari tempat yang lebih ber"angin", karena memang mushola kita tanpa AC dan tanpa kipas angin. Khusus hari ini aku sudah memngantisipasinya dan memasang kipas angin di mushola kita. Hari ini aku ingin menjelaskan tentang "Siapa itu Fahira Idris".
"Siapa dia pak?"
"Dia adalah ketua olah raga menembak"
".................."
"Dia juga pemberi dendeng balado terenak di dunia..."
".................. "
"Dia juga dinobatkan sebagai pemilik akun Twitter terinspiratif sejagad, sedunia !"
"Bukan Indonesia?"
"Dia mengalahkan pemilik akun terkenal lainnya di dunia...."
"Hebat ya dia pak?"
"Dia bahkan punya sopir lebih dari satu"
"Kok bapak bisa kenal dia?"
Hari ini aku sukses mengenalkan sosok Fahira Idris pada anak-anakku. Sosok cewek yang tidak kenal takut demi membela yang dia anggap benar. Tak gentar berdiskusi dengan FPI dan tidak canggung memberi kritik pada film bagus yang dia anggap tidak mendidik.
Semua yang kubaca di Wikipedia kusampaikan pada anakku. Mungkin tidak seluruh data yang di wikipedia itu benar dan valid, tapi aku ingin menunjukkan bahwa seorang cewek juga bisa berperan penting dalam memperbaiki generasi bangsa Indonesia yang terus dihadang berbagai macam ancaman.
Saat ini Fahira Idris sedang giat melakukan kampanye Anti Miras, terutama untuk mereka yang menjual Miras dan Minol pada remaja berusia di bawah 21 tahun.
"Kenapa Uni tidak melakukan gerakan menutup pabrik Miras atau melarang mereka yang berumur di atas 21 tahun? Kenapa hanya yang di bawah 21 tahun saja yang disasar?"
Pertanyaan itu sering muncul dan dijawab dengan kalem oleh Uni Fahira Idris.
"Gerakan anti miras ini adalah gerakan moral untuk mengajari remaja umur di bawah 21 tahun untuk sadar akan bahaya Miras dan bukan gerakan revolusioner untuk menutup pabrik Miras"
"Untuk yang berumur lebih dari 21 tahun kita anggap sudah dewasa, jadi biar mereka menentukan akan rajin minum Miras atau rajin membantu gerakan Anti Miras kita"
Mungkin ceritaku tentang Uni Fahira Idris tidak bisa menggambarkan sosok Fahira Idris yang sebenarnya. Keterbatasanku dan minimnya waktu berdiskusi membuat aku hanya bisa menyaranlan mereka untuk membuka wikipedia saja untuk mengetahui "siapa itu Fahira Idris".
+++
Cuplikan dari Wikipedia :
"Siapa dia pak?"
"Dia adalah ketua olah raga menembak"
".................."
"Dia juga pemberi dendeng balado terenak di dunia..."
".................. "
"Dia juga dinobatkan sebagai pemilik akun Twitter terinspiratif sejagad, sedunia !"
"Bukan Indonesia?"
"Dia mengalahkan pemilik akun terkenal lainnya di dunia...."
"Hebat ya dia pak?"
"Dia bahkan punya sopir lebih dari satu"
"Kok bapak bisa kenal dia?"
Hari ini aku sukses mengenalkan sosok Fahira Idris pada anak-anakku. Sosok cewek yang tidak kenal takut demi membela yang dia anggap benar. Tak gentar berdiskusi dengan FPI dan tidak canggung memberi kritik pada film bagus yang dia anggap tidak mendidik.
Semua yang kubaca di Wikipedia kusampaikan pada anakku. Mungkin tidak seluruh data yang di wikipedia itu benar dan valid, tapi aku ingin menunjukkan bahwa seorang cewek juga bisa berperan penting dalam memperbaiki generasi bangsa Indonesia yang terus dihadang berbagai macam ancaman.
Saat ini Fahira Idris sedang giat melakukan kampanye Anti Miras, terutama untuk mereka yang menjual Miras dan Minol pada remaja berusia di bawah 21 tahun.
"Kenapa Uni tidak melakukan gerakan menutup pabrik Miras atau melarang mereka yang berumur di atas 21 tahun? Kenapa hanya yang di bawah 21 tahun saja yang disasar?"
Pertanyaan itu sering muncul dan dijawab dengan kalem oleh Uni Fahira Idris.
"Gerakan anti miras ini adalah gerakan moral untuk mengajari remaja umur di bawah 21 tahun untuk sadar akan bahaya Miras dan bukan gerakan revolusioner untuk menutup pabrik Miras"
"Untuk yang berumur lebih dari 21 tahun kita anggap sudah dewasa, jadi biar mereka menentukan akan rajin minum Miras atau rajin membantu gerakan Anti Miras kita"
Mungkin ceritaku tentang Uni Fahira Idris tidak bisa menggambarkan sosok Fahira Idris yang sebenarnya. Keterbatasanku dan minimnya waktu berdiskusi membuat aku hanya bisa menyaranlan mereka untuk membuka wikipedia saja untuk mengetahui "siapa itu Fahira Idris".
+++
Cuplikan dari Wikipedia :
Fahira Fahmi Idris (lahir di Jakarta, 20 Maret 1968; umur 45 tahun) adalah seorang pengusaha muda dan aktivis Indonesia. Ia dikenal sebagai pengusaha parsel dan bunga, walaupun ada beberapa perusahaan lain yang dipimpinnya. Perusahaan parsel yang dijalankannya dimulai dari skala kecil waktu masih jadi mahasiswa di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia bersama teman-temannya. Sekarang perusahaan itu telah berkembang dan berskala nasional bahkan sudah mulai merambah pasar mancanegara.
Bakat enterpreneur memang sudah ada didiri Fahira sejak masa remaja dan berlanjut sampai ia jadi mahasiswa. Sekarang ia memimpin beberapa perusahaan diantaranya Nabila Parcel Bunga Internasional, Aries Shooting Club, PT. Aries Mandiri Indonesia dan lain-lain.[1]
Fahira juga dikenal sebagai seorang dermawan dan punya kepedulian sosial yang tinggi. Ia tak segan-segan terjun langsung ke wilayah bencana, seperti di Jawa Barat ketika terjadinya bencana gunung Galunggung meletus saat ia masih remaja pada tahun 1982. Begitupun pada saat gempa di Jogjakarta tahun 2006 serta di Sumatera Barat saat terjadinya bencana gempa bumi yang meluluhlantakkan wilayah pesisir Padang Pariaman dan kotaPadang pada tahun 2009. Belakangan, bersama teman-teman twitter-nya, ia mendirikan Posko Bantu Banjir di Rumah Damai Indonesia pada saat Jakarta terkena musibah banjir bandang di bulan Januari 2013
The Most Inspiring Twitter
Disamping kepedulian sosialnya yang tinggi Fahira juga dikenal pemberani. Ia dinobatkan sebagai Twitter terinspiratif sejagad. Dalam polling yang bertajuk The Most Inspiring Tweeter tahun 2010, Fahira Idris (@fahiraidris) dinyatakan sebagai juara. Ia memperoleh 71 persen suara, unggul dari Diana Adams (@adamsconsulting), penulis dan wirausahawan asal Atlanta, AS yang mendapatkan 11 persen suara, juga unggul dari Aaron Lee, seorang ahli pemasaran Internet asal Malaysia. Pesaing Fahira berasal dari berbagai negara sepertiAmerika Serikat, Inggris, India, Filipina, Malaysia dan lain-lain.[2]
Penghargaan dan apresiasi terhadap Fahira dalam situs jejaring sosial itu dikarenakan keberaniannya mengkritik FPI, ia bahkan mendatangi markas FPI, berdialog dan menyampaikan kritikan masyarakat terhadap FPI.[3] Pada tahun 2005 ia juga dinobatkan sebagai The Most Favourite Inspiring Woman oleh salah satu media. Di bulan Januari 2013, Fahira terpilih lagi sebagai salah satu dari 8 Wanita Inspiratif & Informatif di Tweeter versi Fimela.com.[4]
[sunting]Keluarga
Fahira menikah dengan seorang pria bernama Aldwin Rahadian, SH., dan pernikahan mereka telah dikaruniai dua orang anak yang bernama Nabila Zahra dan Nazira Auliya. Fahira merupakan putri sulung dari Fahmi Idris yang berdarah Minangkabau, seorang konglomerat dan politisi senior Partai Golkar yang pernah menjabat Menteri Tenaga Kerja pada pemerintahan Presiden Habibie dan mantan Menteri Perindustrian pada pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Ibu dari Fahira, adalah Hj. Kartini Hasan Basri, putri dari KH. Hasan Basri, mantan Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI).
[sunting]Pendidikan
- 1974 - SD Argentina, Jakarta
- 1977 - SD Besuki, Jakarta
- 1980 - SMP Al-Azhar, Jakarta
- 1983 - SMA Al-Azhar, Jakarta
- 1986 - Fakultas Matematika, Universitas Padjadjaran, Bandung
- 1987 - Fakultas Ekonomi, Universitas Indonesia, Jakarta
- 1994 - The London School of Flowers, Inggris
- 2008 - Magister Hukum Bisnis, Universitas Padjadjaran, Bandung
[sunting]Organisasi
Ditengah kesibukannya sebagai seorang pengusaha, Fahira juga aktif diberbagai organisasi sosial, diantaranya di Persatuan Menembak dan Berburu Indonesia (Perbakin). Di organisasi yang didominasi pria itu, Fahira menjabat sebagai Ketua Harian Perbakin Pengda DKI Jakarta. Di organisasi Saudagar Muda Minang Fahira menjabat sebagai ketua umum DPP.[5]
Aktivitas Fahira Fahmi Idris di beberapa organisasi:
- Ketua Asosiasi Pengusaha Parcel Indonesia (APPI)
- Ketua Harian Perbakin DKI Jakarta
- Ketua Umum DPP Saudagar Muda Minang
- Pendiri & Ketua Umum GEMA DAMAI
- Ketua Bidang Pembinaan & Pendidikan DPP IKAPPI (Ikatan Pedagang Pasar Indonesia)
- Ketua Yayasan Selamatkan Anak Bangsa
- Koordinator Posko Bantu Banjir Jakarta
- Ketua Gerakan Anti Miras untuk anak/remaja dibawah usia 21 tahun
Sabtu, Maret 16, 2013
Ketika Lilo Lita Sakit
Saat berlibur berdua dengan istri di Pulau Belitung (Belitong), ternyata Haslita Nisa, anak nomor duaku, sedang kesakitan dan bingung mau kemana. Maklum biasanya kalau sakit selalu diantar ayah bundanya ke dokter dan tinggal nunggu panggilan dokter saja.
Kali ini ayah bundanya jauh di seberang lautan dan seluruh Indonesia sedang merayakan hari Raya Nyepi, sehingga hampir semua rumah sakit hany amenyediakan dokter umum dengan jam jaga yang terbatas.
"Mbak Lita telepon dulu ke Rumah Sakit dan janjian jam berapa mau ke sana. Kalau tidak pasti tidak ada dokter yang khusus merawat mbak Lita. Bisa di dekat Rumah, ada Ludira Husada atau di JIH Condong catur yang pelayanannya bagus"
Begitu kudengar arahan istriku untuk menenangkan mbak Lita, tapi aku bisa membayangkan perasaan mbak Lita saat itu. Di saat dia harus konsentrasi ujian di sekolah, ternyata ada Allah swt yang memberi nikmat sakit.
Mungkin Allah ingin menunjukkan bahwa badan manusia itu terbatas kemampuannya. Selama ini memang mbak Lita adalah anak teraktif di rumahku. Hampir selalu pulang malam dengan seabrek kegiatannya dan itu tidak hanya di hari biasa, hari liburpun tetap bukan tanggal merah bagi mbak Lita.
Dalam seminggu kadang hanya bisa berjumpa di saat sholat Subuh berjamaah saja. Selain waktu itu, lebih sering hanya melihat bayangannya saja.
Alhamdulillah, meski harus pontang panting, akhirnya mbak Lita ditangani dokter dengan baik dan benar, sehingga sudah bisa tersenyum lagi.
Aku sebenarnya sempat panik juga melihat kondisi ini, tapi aku akhirnya berbaik sangka pada Allah swt. Pasti sudah menjadi waktu terbaik untuk memberi hadiah mbak Lita sakit saat orang tuanya tidak ada di rumah. Bila nanti menjumpai kondisi yang mirip, maka anak-anak sudah siap menjalaninya. Allah swt pasti Maha Tahu dan Maha Adil.
Aku akhirnya bisa tersenyum ketika kawan sekolah mbak Lita, aktris teater SMAN 7, ikut memberi tahu kalau mbak Lita sedang sakit.
Tadi malam, ternyata latihan ikhlasku belum lulus. Mendadak mas Lilo gantian sakit dan harus menginap di RS JIH Jogja. Tadinya Lilo mau diperiksakan Sabtu pagi ini, tetapi aku berkeras untuk membawa Lilo ke RS JIH malam kemarin.
Alhamdulillah, Lilo langsung diinfus dan hari ini sudah bisa tidur nyenyak.
Sehabis subuh rupanya cerita belum berakhir. Mbak Lita demamnya kambuh dan sangat ingin bertemu ibunya yang ada di RS JIH menemani Lilo. Akhirnya ibunya yang harus pontang panting lagi.
Mbak Lita sedang menjalani ujian di sekolah dan rasanya kalau kondisinya seperti ini dia jadi tidak pedhe untuk ikut ulangan/ujian. Alhasil, terpaksa ke dokter lagi untuk minta surat ijin tidak masuk sekolah. Artinya ada ulangan yang nanti harus diikuti mbak Lita di luar jadwal regular.
Hari ini memang hari yang penuh nuansa. Semoga semuanya berakhir baik. Mbak Lita dan Lilo segera sembuh, bisa bermain lagi dan bisa ikut ulangan dengan tenang. Ketika Lilo Lita sakit, maka dunia rasanya berhenti berputar sejenak !:-)
Semoga Allah swt mengabulkan doa ini. Amin.
Kali ini ayah bundanya jauh di seberang lautan dan seluruh Indonesia sedang merayakan hari Raya Nyepi, sehingga hampir semua rumah sakit hany amenyediakan dokter umum dengan jam jaga yang terbatas.
"Mbak Lita telepon dulu ke Rumah Sakit dan janjian jam berapa mau ke sana. Kalau tidak pasti tidak ada dokter yang khusus merawat mbak Lita. Bisa di dekat Rumah, ada Ludira Husada atau di JIH Condong catur yang pelayanannya bagus"
Begitu kudengar arahan istriku untuk menenangkan mbak Lita, tapi aku bisa membayangkan perasaan mbak Lita saat itu. Di saat dia harus konsentrasi ujian di sekolah, ternyata ada Allah swt yang memberi nikmat sakit.
Mungkin Allah ingin menunjukkan bahwa badan manusia itu terbatas kemampuannya. Selama ini memang mbak Lita adalah anak teraktif di rumahku. Hampir selalu pulang malam dengan seabrek kegiatannya dan itu tidak hanya di hari biasa, hari liburpun tetap bukan tanggal merah bagi mbak Lita.
Dalam seminggu kadang hanya bisa berjumpa di saat sholat Subuh berjamaah saja. Selain waktu itu, lebih sering hanya melihat bayangannya saja.
Alhamdulillah, meski harus pontang panting, akhirnya mbak Lita ditangani dokter dengan baik dan benar, sehingga sudah bisa tersenyum lagi.
Aku sebenarnya sempat panik juga melihat kondisi ini, tapi aku akhirnya berbaik sangka pada Allah swt. Pasti sudah menjadi waktu terbaik untuk memberi hadiah mbak Lita sakit saat orang tuanya tidak ada di rumah. Bila nanti menjumpai kondisi yang mirip, maka anak-anak sudah siap menjalaninya. Allah swt pasti Maha Tahu dan Maha Adil.
Aku akhirnya bisa tersenyum ketika kawan sekolah mbak Lita, aktris teater SMAN 7, ikut memberi tahu kalau mbak Lita sedang sakit.
Tadi malam, ternyata latihan ikhlasku belum lulus. Mendadak mas Lilo gantian sakit dan harus menginap di RS JIH Jogja. Tadinya Lilo mau diperiksakan Sabtu pagi ini, tetapi aku berkeras untuk membawa Lilo ke RS JIH malam kemarin.
Alhamdulillah, Lilo langsung diinfus dan hari ini sudah bisa tidur nyenyak.
Sehabis subuh rupanya cerita belum berakhir. Mbak Lita demamnya kambuh dan sangat ingin bertemu ibunya yang ada di RS JIH menemani Lilo. Akhirnya ibunya yang harus pontang panting lagi.
Mbak Lita sedang menjalani ujian di sekolah dan rasanya kalau kondisinya seperti ini dia jadi tidak pedhe untuk ikut ulangan/ujian. Alhasil, terpaksa ke dokter lagi untuk minta surat ijin tidak masuk sekolah. Artinya ada ulangan yang nanti harus diikuti mbak Lita di luar jadwal regular.
Hari ini memang hari yang penuh nuansa. Semoga semuanya berakhir baik. Mbak Lita dan Lilo segera sembuh, bisa bermain lagi dan bisa ikut ulangan dengan tenang. Ketika Lilo Lita sakit, maka dunia rasanya berhenti berputar sejenak !:-)
Semoga Allah swt mengabulkan doa ini. Amin.
Sabtu, Februari 02, 2013
Ngumpulke balung pisah lagi
Hari ini acaranya adalah ngumpulke balung pisah lagi. Kebetulan lokasinya dekat dengan Cawang, jadi aku bisa lebih pagi menuju lokasi arisan trah Jakarta ini. Gerimis yang mulai turun juga membuatku menyegerakan berangkat ke lokasi arisan. Maklum namanya Jakarta kalau sudah hujan, pasti banjir dan macet.
Alhamdulillah, meski sempat beberapa kali menemui hujan lebat, tapi sekitar jam 10.30 sudah sampai ke lokasi.
"Bu alamat blok BB5 nomor 4 mana ya?", kataku ketika aku gagal menemukan rumah dengan alamat BB5 nomor 4. Yang ada adalah BB5 nomor 1 dan kemudian nomor 3. Jadi aku berhenti pas di depan BB5 nomor 4 dan bertanya pada seorang ibu-ibu yang ada di seberang rumah itu.
"Ya di depan bapak itu nomor 4".
"Hahaha.... bener rupanya feelingku", kataku dalam hati sambil mengangguk pada ibu yang kutanya.
Mas Sukamto yang baru saja memarkirkan mobilnya membantuku memarkir mobilku. Wajahnya sudah familiar, tapi ternyata setelah ngobrol baru ketahuan bahwa kita belum pernah bertemu.
Mas Sukamto ini alumni Undip dan pernah bekerja sama dengan salah satu proyek Waskita, tapi belum pernah bertemu denganku.
Kamipun ngobrol ngalor ngidul sambil menunggu datangnya saudara yang lain. Ternyata mereka baru berangkat ketika aku sudah sampai lokasi.
Jalan ke arah Blok BB5 Jatiasih Bogor ini saat aku lewat tadi sudah macet yang dari arah Jati asih menuju Cikunir dan ternyata setelah aku lewat jalan menjadi macet dari kedua arah.
Jam setengah dua, barulah seluruh keluarga ngumpul dan arisanpun dimulai.
Yang membuat suasana makin akrab adalah penuhnya rumah itu didatangi dari berbagai penjuru Jakarta. Lantai atas untuk yang "no smoking" dan lantai bawah untuk kaum ahli hisap (rokok).
Aku sebenarnya sudah kenyang makan kue dan minuman (sampai berbotol-botol), tapi ketika ada ajakan untuk pindah makan siang ke Resto Saung Apung, ternyata perutku masih sanggup mengikutinya.
Acarapun berlanjut ke Saung Apung. Resto yang asri, bersih dan ramai pengunjung. Anak-anak langsung mancing, sementara para orang tua langsung menyantap hidangan yang sudah terhidang di meja.
Di hadapanku terhidang teh manis panas dan ayam bakar "brutu", Wah pas banget nih. Langsung saja kusikat habis dan langsung cuci tangan. Hehehe.. pingin ngobrol soalnya.
Pas adzan Asar, akhirnya acara selesai dan ditutup dengan foto bersama, meskipun tidak semua bisa ikut. Rudi membawa camera pocket Fuji. Ini adalah camera yang mirip punya mas Bagus. Di kelas mirrorless, camera merk Fuji mungkin termasuk jajaran camera klas premium, mengungguli Nex dari Sony atau OMD dari Olympus.
Aku sendiri mengabadikan acara ini dengan camera ponsel dan terakhir memakai Sony NEX-6.
Semoga pertemuan yang akan datang bisa lebih meriah lagi. Kebetulan aku yang jadi host. Tinggal cari tempat yang sejuk dan bikin anak-anak merasa nyaman. Terpikir kalau acaranya di Taman Bunga Mekar Sari mungkin meriah ya?
Nantilah survey dulu sama anak istri. Hari ini ngumpulke balung pisah lagi dan rasanya sore ini menjadi sore yang indah penuh kenangan. Alhamdulillah.
Alhamdulillah, meski sempat beberapa kali menemui hujan lebat, tapi sekitar jam 10.30 sudah sampai ke lokasi.
"Bu alamat blok BB5 nomor 4 mana ya?", kataku ketika aku gagal menemukan rumah dengan alamat BB5 nomor 4. Yang ada adalah BB5 nomor 1 dan kemudian nomor 3. Jadi aku berhenti pas di depan BB5 nomor 4 dan bertanya pada seorang ibu-ibu yang ada di seberang rumah itu.
"Ya di depan bapak itu nomor 4".
"Hahaha.... bener rupanya feelingku", kataku dalam hati sambil mengangguk pada ibu yang kutanya.
Mas Sukamto yang baru saja memarkirkan mobilnya membantuku memarkir mobilku. Wajahnya sudah familiar, tapi ternyata setelah ngobrol baru ketahuan bahwa kita belum pernah bertemu.
Mas Sukamto ini alumni Undip dan pernah bekerja sama dengan salah satu proyek Waskita, tapi belum pernah bertemu denganku.
Kamipun ngobrol ngalor ngidul sambil menunggu datangnya saudara yang lain. Ternyata mereka baru berangkat ketika aku sudah sampai lokasi.
Jalan ke arah Blok BB5 Jatiasih Bogor ini saat aku lewat tadi sudah macet yang dari arah Jati asih menuju Cikunir dan ternyata setelah aku lewat jalan menjadi macet dari kedua arah.
Jam setengah dua, barulah seluruh keluarga ngumpul dan arisanpun dimulai.
Yang membuat suasana makin akrab adalah penuhnya rumah itu didatangi dari berbagai penjuru Jakarta. Lantai atas untuk yang "no smoking" dan lantai bawah untuk kaum ahli hisap (rokok).
Aku sebenarnya sudah kenyang makan kue dan minuman (sampai berbotol-botol), tapi ketika ada ajakan untuk pindah makan siang ke Resto Saung Apung, ternyata perutku masih sanggup mengikutinya.
Acarapun berlanjut ke Saung Apung. Resto yang asri, bersih dan ramai pengunjung. Anak-anak langsung mancing, sementara para orang tua langsung menyantap hidangan yang sudah terhidang di meja.
Di hadapanku terhidang teh manis panas dan ayam bakar "brutu", Wah pas banget nih. Langsung saja kusikat habis dan langsung cuci tangan. Hehehe.. pingin ngobrol soalnya.
Pas adzan Asar, akhirnya acara selesai dan ditutup dengan foto bersama, meskipun tidak semua bisa ikut. Rudi membawa camera pocket Fuji. Ini adalah camera yang mirip punya mas Bagus. Di kelas mirrorless, camera merk Fuji mungkin termasuk jajaran camera klas premium, mengungguli Nex dari Sony atau OMD dari Olympus.
Aku sendiri mengabadikan acara ini dengan camera ponsel dan terakhir memakai Sony NEX-6.
Semoga pertemuan yang akan datang bisa lebih meriah lagi. Kebetulan aku yang jadi host. Tinggal cari tempat yang sejuk dan bikin anak-anak merasa nyaman. Terpikir kalau acaranya di Taman Bunga Mekar Sari mungkin meriah ya?
Nantilah survey dulu sama anak istri. Hari ini ngumpulke balung pisah lagi dan rasanya sore ini menjadi sore yang indah penuh kenangan. Alhamdulillah.
Senin, Januari 07, 2013
Gowes Pagi
Seperti biasa, setiap minggu aku selalu gowes pagi bersama teman-teman alumni UGM. Kita kumpul di Gelanggang Mahasiswa dan kemudian setelah asyik ngobrol ngalor ngidul kita segera menentukan lokasi untuk wisata kuliner.
Setelah ketemu wisata kuliner (wiskul) yang paling cocok, maka kita tentukan rute mana yang akan diambil menuju lokasi wiskul tersebut. Biasanya penentuan rute inilah yang memakan waktu paling lama. Selalu terjadi perbedaan pendapat saat menentukan rute perjalanan menuju lokasi wiskul.
Akhirnya beberapa waktu lalu disepakati untuk membuat rute yang sering kit alewati, nanti tinggal memilih rute nomor berapa yang akan diambil. Ada sekitar 16 rute yang dibuat oleh pak +Joko Sumiyanto dengan harapan sudah memenuhi keinginan semua peserta gowes. Ternyata beberapa orang masih merasa ada rute baru yang perlu ditambahkan, sehingga 16 rute tersebut ditambahi dengan rute nomor 16a, 13a, 13b dan sebagainya.
Setelah lama berjalan akhirnya rute itupun dilupakan dan kembalilah pada kebiasaan untuk saling beradu argumen saat menentukan rute sepeda. Rupanya disinilah letak salah satu keasyikan bersepeda dalam sebuah komunitas.
"Saya ndak suka komunitas mas, lebih enak sepedaan sendirian, tidak bergantung pada orang lain", kata seorang peserta sepedaan dalam rangka Dies UGM beberapa minggu lalu.
"Kok gitu pak?", tanyaku menyelidik.
"Kalau ikut komunitas sepeda itu memang guyub, tapi kadang kita harus melawan hati nurani demi memenuhi keinginan komunitas"
"..... misalnya ...?"
"Ada saja mas keinginan komunitas yang kadang kita keberatan memenuhinya tetapi karena kita tergabung dalam komunitas tersebut, maka akhirnya kita penuhi juga apa yang sedang trend di komunitas itu"
Benar juga kata bapak itu. Saat sepedaan sendirian, kita santai saja naik sepeda sesuai keinginan kita, tetapi begitu masuk dalam komunitas, maka ada saja yang kita tambahkan pada sepeda kita. Bisa berupa spion, spedometer, sadel. lampu dan lain-lain.
Kadang yang lebih ekstrem, kita jadi ganti sepeda, karena teman-teman kita sering mengejek sepeda kita atau teman-teman kita mempunyai sepeda idaman kita dan kit amalas membelinya karena harganay yang mahal. Saat masuk dalam komunitas, sepeda yang mahal jadi terasa murah.
Kuperhatikan beberapa sepeda kawan-kawanku memang mulai berubah merk-nya. Ada yang beli merk yang sedang ngetrend, atau yang sedikit lebih baik dari merk sepedanya sekarang. Beberapa kawan sudah mulai memiliki sepeda lebih dari satu buah. Sebagian lagi mulai memakai sepeda built-up, bukan rakitan dalam negeri lagi.
Aku sendiri ikut terpengaruh membeli ban sepeda untuk sepeda gunungku. Padahal sebelum kenal komunitas ini aku baik-baik saja memakai sepeda gunung (MTB). Rupanya aku sudah terperangkap dalam komunitas ini, tapi karena aku menikmatinya, maka rasanya ini bukan perangkap tapi adalah istanaku.
Setiap hari Minggu selalu ada rasa rindu untuk bertemu dan tertawa bersama dengan komunitas sepeda UGM. Gowes pagi menjadi rutinitas yang membiusku. Canda tawa menjadi hiasan dunia yang selalu membuatku ingin datang lagi. Acara doa bersama sebelum bersepeda juga membrikan rasa aman dan nyaman di hati.
Indahnya gowes pagi bersama teman-teman. Gowes pagi memang banyak manfaatnya.
Setelah ketemu wisata kuliner (wiskul) yang paling cocok, maka kita tentukan rute mana yang akan diambil menuju lokasi wiskul tersebut. Biasanya penentuan rute inilah yang memakan waktu paling lama. Selalu terjadi perbedaan pendapat saat menentukan rute perjalanan menuju lokasi wiskul.
Akhirnya beberapa waktu lalu disepakati untuk membuat rute yang sering kit alewati, nanti tinggal memilih rute nomor berapa yang akan diambil. Ada sekitar 16 rute yang dibuat oleh pak +Joko Sumiyanto dengan harapan sudah memenuhi keinginan semua peserta gowes. Ternyata beberapa orang masih merasa ada rute baru yang perlu ditambahkan, sehingga 16 rute tersebut ditambahi dengan rute nomor 16a, 13a, 13b dan sebagainya.
Setelah lama berjalan akhirnya rute itupun dilupakan dan kembalilah pada kebiasaan untuk saling beradu argumen saat menentukan rute sepeda. Rupanya disinilah letak salah satu keasyikan bersepeda dalam sebuah komunitas.
"Saya ndak suka komunitas mas, lebih enak sepedaan sendirian, tidak bergantung pada orang lain", kata seorang peserta sepedaan dalam rangka Dies UGM beberapa minggu lalu.
"Kok gitu pak?", tanyaku menyelidik.
"Kalau ikut komunitas sepeda itu memang guyub, tapi kadang kita harus melawan hati nurani demi memenuhi keinginan komunitas"
"..... misalnya ...?"
"Ada saja mas keinginan komunitas yang kadang kita keberatan memenuhinya tetapi karena kita tergabung dalam komunitas tersebut, maka akhirnya kita penuhi juga apa yang sedang trend di komunitas itu"
Benar juga kata bapak itu. Saat sepedaan sendirian, kita santai saja naik sepeda sesuai keinginan kita, tetapi begitu masuk dalam komunitas, maka ada saja yang kita tambahkan pada sepeda kita. Bisa berupa spion, spedometer, sadel. lampu dan lain-lain.
Kadang yang lebih ekstrem, kita jadi ganti sepeda, karena teman-teman kita sering mengejek sepeda kita atau teman-teman kita mempunyai sepeda idaman kita dan kit amalas membelinya karena harganay yang mahal. Saat masuk dalam komunitas, sepeda yang mahal jadi terasa murah.
![]() |
| +Djoko Luknanto yang aktif berbagi kisah lucu |
Kuperhatikan beberapa sepeda kawan-kawanku memang mulai berubah merk-nya. Ada yang beli merk yang sedang ngetrend, atau yang sedikit lebih baik dari merk sepedanya sekarang. Beberapa kawan sudah mulai memiliki sepeda lebih dari satu buah. Sebagian lagi mulai memakai sepeda built-up, bukan rakitan dalam negeri lagi.
Aku sendiri ikut terpengaruh membeli ban sepeda untuk sepeda gunungku. Padahal sebelum kenal komunitas ini aku baik-baik saja memakai sepeda gunung (MTB). Rupanya aku sudah terperangkap dalam komunitas ini, tapi karena aku menikmatinya, maka rasanya ini bukan perangkap tapi adalah istanaku.
Setiap hari Minggu selalu ada rasa rindu untuk bertemu dan tertawa bersama dengan komunitas sepeda UGM. Gowes pagi menjadi rutinitas yang membiusku. Canda tawa menjadi hiasan dunia yang selalu membuatku ingin datang lagi. Acara doa bersama sebelum bersepeda juga membrikan rasa aman dan nyaman di hati.
Indahnya gowes pagi bersama teman-teman. Gowes pagi memang banyak manfaatnya.
Langganan:
Postingan (Atom)





























