Selasa, April 01, 2008

Naruto di Angkot



Selasa lalu aku naik angkot sambil nenteng laptop, yang kumasukkan dalam tas, sehingga tidak ada yang mengira kalau aku bawa laptop.

Di dalam angkot aku ketemu dengan seseorang yang ketak-ketik pakai laptop. Wallpapernya bergambar Naruto (full face) dan dia njalanin excel dengan tangan yang sangat trampil. Aku kagum sama ke”pedhe”-an mas ini.

Selasa ini, aku kembali naik angkot dan ketemu lagi sama mas yang penggemar Naruto itu. Kali ini dia lebih spektakular, karena disamping tetep kerja dengan excel, dia juga nyetel film Naruto dengan volume yang cukup kenceng.

Tadinya kukira cuma nyetel lagu Naruto saja, tetapi kok ada dialognya ya.

“RAZENGGAN!”

Wah, mas ini bener-bener “PeDhe” deh. Ternyata setelah kulirik, ada Media Player 11 yang dijalanin dia disamping layar excelnya. Luar biasa.

Begitulah rupanya Tuhan menciptakan kita. Biarpun mungkin ujudnya sama, tetapi sebenarnya tidak ada makhluk di dunia ini yang sama persis. Perbedaan itulah yang harus ikhlas kita terima sebagai suatu keindahan dari Tuhan.

Kalau kita tidak ikhlas menerima perbedaan, maka akan banyak kekecewaan yang menghampiri kita. Begitu katanya (kata siapa ya…?!”-). He..he..he...

Salam


eshape

10 komentar:

Andri mengatakan...

intinya apa pak?

oramg nyetel naruto kenceng2 itu mengganggu yang lain? :D

regards,
Andri

Andhy mengatakan...

Kok berani bener ya make laptop di angkot.

Gak takut disamber orang gitu?

regards,

Andhy...

BA mengatakan...

... Artinya ekonomi Indonesia sudah membaik seperti kata para pejabat.

Penumpang angkot saja sudah bisa beli laptop. :D

salam, -bank al-...

MI mengatakan...

woo.....bank al ojo underestimate ma angkoters....

ntar mas eshape komplen lho....

lha banyak to (iya po?), yg angkoters,tapi di garasinya tersimpan kijang??? ...

BA mengatakan...

Nek misale di garasi angkoter tersimpan kijang, kesimpulane
transportasi di Indonesia membaik, sehingga wong sing duwe kijang wae
numpak angkot.

Berarti ekonomi Indonesia membaik.... kesimpulane podho. :)

salam,

-bank al-

AP mengatakan...

Kesimpulannya, program pemerintah (DKI Jakarta) untuk 'membujuk' pengguna kendaraan pribadi agar pindah ke kendaraan umum, sudah mulai berhasil :)


Regards, ...

eshape waskita mengatakan...

Angkoters ini memang sangat beragam.

Tadi sore aku pulang bersama seorang musikus, yang dulu malang melintang di Australia, sekarang jadi dosen di jakarta (kebetulan tetangga nee...!:-)

Ada lagi yang dibilang mas Is, angkoters tapi di rumahnya ada beberapa mobil parkir.

Ada juga yang untuk ngeluarin 4.500 saja masih terasa berat, ada yang ngelug kenapa ongkos ke cikarang lebih mahal dibanding ke karawang ya?

Macem2 deh, penuh warna, termasuk wangi "parfum" yang juga sangat beragam.

Pagi hari parfum ini bisa terlihat jelas bedanya, tetapi kalau sore bedanya cuma dua macem saja, bau kecut dan bau sangat kecut.

Salam

MI mengatakan...

aku juga punya cerita menarik ttg angkot.

kalo dari tempatku (cileungsi) mau ke UKI (cawang), naik angkot 56 ato omprengan plat hitam.

ada enak - nggak enaknya masing2.

kalo angkot 56, kadang dapet yang AC dan lebih manusiawi (nggak diumpek2 kayak sarden)

tapi yo kadang pake ngetem...

kalo omprengan plat hitam, langsung wuss...meluncur ke UKI nggak pake ngetem.

tapi.....bayangken sajo,mobil carry diisi 12 + 1 sopir....

ada 1 kesamaan.

begitu masuk tol cibubur, tanpa dikomando sopir, para penumpang langsung saweran buat bayar.

jadi kayak arisan, soale ada saja yg inisiatif ngumpulin duit,termasuk ngitungin kembalian (tarif 3500).

dan penumpang juga jujur tuh, nggak ada yang nggabru...
sopir tinggal terima bersih aja....

memang, angkot itu kadang menggelikan...

YANTI mengatakan...

Dear Pak Eko,
Short break tadi, iseng saya buka milist dan medapatkan pesan pak Eko ini. Ketika balik ke kelas untuk presentasi, saya diberi jatah 15 menit untuk komat-kamit di depan kelas :p Kebetulan kelas yg saya ikuti adalah Culture & Ethics in International Organizations. Jadi yg dibahas pun mengenai perbedaan kultur dan keuniversalan ethics.

Karena kehabisan ide di menit2 akhir, akhirnya saya pinjem kata2 pak Eko ini sebagai closing: Saya bilang, Eko Eshape said that bla..bla..bla..(Begitulah rupanya Tuhan menciptakan kita. dst..).

Begitu kelar presentasi, semua teman2 ngasih selamat karena professor saya yg pendiem itu kok tumben2nya ngasih komentar "Excellent!" dalam sejarah presentasi beberapa minggu ini :D

Tapi yg jadi kebingungan saya adalah, ketika salah seorang teman
bertanya: "Yanti, I've never heard about Eko. Is he an Asian philosopher?" Ha..ha..ha.. tadinya saya tak menyangka kalau ada juga yg akan menanyakan ini. Soalnya yg selalu kami sebuat2 selama ini selalu Kant, Aristotle, Gandhi, Tutu, etc.. kok ini Eko Eshape ;) Lah wong, di sini plagiarism itu sangat ditentang keras. So, waktu akan menyatakan 'pesan moral' itu, yah saya kan harus konsisten dan jujur bahwa itu memang kata2 yg saya buat.

Anyway, ini sesuatu yg mungkin sepele buat pak Eko. Tapi, hari ini saya mendapatkan hal manis dari itu :) Nuwun.

Salam,

Yanti

eshape waskita mengatakan...

Komentar mbak Yanti ini sungguh membuat aku surprise.

Aku nulis di blog sebenarnya kutujukan semua buat anak-anakku, karena mereka sangat menyukai tulisanku, dan ada keterbatasan waktu untuk bertemu dengan mereka secara langsung.

Aku selalu mencoba menceritakan kehidupan keseharianku dan mencoba menutupnya dengan hikmah yang bisa diambil dari peristiwa itu.

Ternyata ada yang mendapat manfaat dari tulisanku tentu aku sangat tersanjung.

Segala puji hanya bagi Allah swt yang telah mengatur semua peristiwa ini.

Semoga kita selalu diberi pencerahan olehNya.

Amin.