Tampilkan postingan dengan label ikan bakar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ikan bakar. Tampilkan semua postingan

Minggu, Maret 29, 2009

Resto Mang Engking [re-check]


Nikmat lezat Ikan Asam Manis Sami Kuring masih lekat di lidah, tapi aku harus sudah merasakan nikmat lezat ikan bakar Mang Engking. Wuih... jarak acara yang terlalu dekat nih, jadi aku harus merelakan kehilangan pesona rasa Sami Kuring [SK].

Tidak apalah, nikmat lezat Mang Engking [ME] masih mampu membuat lidahku menari-nari, sehingga aku tetap dapat berada di dunia kuliner yang selalu membuat "ngiler" dan terpaksa sesekali menelan air liur [sendiri].

INGAT menelan air liur orang lain bisa menimbulkan bahaya [kalau bukan muhrim lho].

Suasana rumah makan ME memang selalu menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjungnya. Kolam ikan yang penuh ikan berlarian kesana kemari dan gubug yang begitu teduh membuat penikmat kuliner rela membayar mahal untuk ini.



Perjalanan jauh dari Jakarta menuju kampus UI Depok juga membuat kita sepanjang jalan sudah menelan air liur duluan, sehingga ketika sampai di lokasi, maka yang dipikirkan hanyalah menyikat hidangan sampai habis.


Makanan istimewa memang udang, baik yang model direbus atau model belepotan dengan rasa pedas yang panas dan membuat belum mau berhenti sebelum piring udangnya kosong.


Kalau mau disetarakan, mungkin udang bakar madu ME ini setara dengan udang yang ada di resto Aloha Surabaya, namun nuansanya lebih kena di ME yang penuh dengan kedamaian, tanpa AC dan tanpa dinding yang dingin.

Jadi kalau demen udang bakar madu, tidak salah kalau test rasa di resto ME ini.

Menu lain yang tanpa malu-malu kulahap habis adalah Ikan Bakar. Bagaimana tidak, bumbunya yang sangat meresap membuat duri ikan yang keringpun habis kumakan.



Jangan tanya soal daging di kepalanya, kuoperasi sedikit demi sedikit, sehingga hanya tulang yang tidak bisa kemakan saja yang masih tinggal di meja.

Selesai satu ekor ikan lengkap dengan kepalanya masuk ke peraduannya [maksudku ke perutku], akupun mulai bergerilya ke piring yang lain. Saat kawanku meleng sedikit, maka kutarik piring ikan bakarnya dan tanpa tedeng aling-aling kuambil semua sisa ikan yang ada di piringnya.

Puas sudah makan siang sehabis Jumatan ini. Kamipun bergeser ke tempat cuci tangan dan siap-siap untuk kembali ke Jakarta. Perjalanan cukup jauh, takutnya sampai jakarta udah lapar lagi terus pingin ke resto ME lagi, abis dah waktu untuk pp Jakarta Depok.

Rabu, Oktober 29, 2008

Patin Bakar Bambu


Kalau perut terasa lapar, pingin makan ikan patin bakar [bambu] dan sedang berada dekat pintu tol Cimanggis, maka pilihan rumah makan yang paling "joss gandhos" [mak nyuss] sebaiknya dijatuhkan ke Pondok Ikan Bakar "Kalimantan".

Pondok Ikan Bakar ini memang berbeda dibanding Pondok Ikan Bakar lainnya. Kalau melihat menu makanannya, model restorannya, maka pasti kita langsung menduga bahwa Pondok ini pasti mengusung warna sunda.

Tentu itu adalah tebakan yang tidak salah, karena memang begitulah suasana yang diciptakan oleh pemilik pondok ikan ini. Khas sunda banget.

Cuma kalau kita memesan Ikan Patin Bakar Bambu, maka orang sundapun akan bingung dengan cita rasanya. Kok model cita rasanya tidak seperti yang disajikan di warung sunda lainnya ya....

Rasanya benar-benar pas. Tidak gosong, lembut, gurih dan [mungkin ini yang utama] rasanya segar banget.

Setelah selesai makan, maka saat ke toilet, baru terjawab mengapa ikannya seger banget. Rupanya ada beberapa kolam besar yang dangkal [dengan aerasi pancuran air] dan penuh dengan ikan patin yang ukurannya sekitar sekiloan.

Rumusku untuk mengetahui rumah makan itu jorok atau tidak adalah dengan melihat kamar mandinya. Bila toiletnya bersih, terawat rapi, maka bisa dipastikan rumah makan ini dikelola dengan manajemen yang baik dan tidak asal bisa menyajikan makanan yang terasa enak tapi tidak jelas kebersihannya.

Menu lainnya yang kucoba adalah karedok yang khas sunda banget. Wuihhh ini juga rasanya pas banget.

Minumannya, kupilih kelapa muda [campur jeruk] dengan gelas besar. Biasanya aku kesulitan untuk menghabiskan minuman seukuran gelas besar ini, tapi penyajian warnanya yang megundang selera membuat aku sanggup menghabiskan minuman gelas besar ini.

Minuman ini juga dilengkapi dengan tambahan gula cair, sehingga bagi yang tidak suka manis, tidak perlu menuang gula cair itu. Bagi yang suka manis, maka bisa minta lagi gula cairnya, jika dirasa masih kurang manis.

Ada lagi yang biasa tapi istimewa, yaitu pete [bakar, goreng maupun mentah]. Gak tahu juga, apa karena sudah terbius oleh rasa Patin Bakar Bambu, maka petenyapun jadi ikut terasa enak.

Perlu diketahui bahwa pete, jika dibandingkan dengan apel, maka selain kaya akan kalium pete memiliki karbohidrat dua kali lebih banyak, tiga kali lipat fosfor, protein empat kali lebih banyak, lima kali lipat Vitamin A dan zat besi, dan dua kali lipat jumlah vitamin dan mineral lainnya.

[sumber internet, CMIIW]

Last but not least, pasti yang membuat semua itu terasa lebih mantap adalah sambalnya yang bener-bener bikin kelimpungan. Biarpun tidak pedas [tomatnya cukup banyak], tapi kelihatannya sudah di"set-up" agar pas dengan Patinnya.

Silahkan test kalau pas dekat dengan pintu tol Cimanggis. Yang penting jangan berlebih-lebihan.

"Makan dan minumlah dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah (SWT) tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan". (al-A'raf: 31)

Dua JempOL untuk rasa dan suasana rumah makan [shoot by : septiawan]


Suasana yang teduh dan adem [teduh ya pasti adem donk]


Silahkan pilih yang sesuai kantong