Tampilkan postingan dengan label gaza. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label gaza. Tampilkan semua postingan

Minggu, Januari 25, 2009

GERTAKAN OBAMA ke HAMAS

"Sikap Obama sudah jelas pak Dhe. Jadi kita tidak perlu nunggu-nunggu lagi. Mari kita jadi relawan ke Gaza", Andre mengingatkan sikapnya sejak dulu terhadap Obama.

"Bener pak Dhe, nampaknya sudah saatnya kita bersatu padu untuk menolong saudara kita yang ada di Palestina", Khalid menambahkan.

"Bumi Allah sudah bergetar dan kita sudah sepakat, kita berangkat ke Gaza minggu depan", tambah Khalid mantap.

Rombongan anak muda mushola Al Makmur ini begitu berapi-api menyampaikan laporan hasil rapat mereka dengan pimpinan pabrik. Tidak seperti minggu lalu yang datang dengan perbedaan pendapat, sekarang mereka nampaknya sudah satu suara untuk pergi ke Gaza.

Pak Dhe, seperti biasa, selalu memasang senyumnya sebelum mulai menyampaikan tanggapannya.

"Terus kalian sudah sepakat, sudah menentukan harinya?", kata pak Dhe tenang.

"Benar pak Dhe. Tinggal menunggu arahan dari pak Dhe kalau ada. Kalau pak Dhe sudah nggak ada arahan lagi, kita segera pergi untuk mengurus segala sesuatunya" jawab Udin mantap.

"Masalah surat ijin atau cuti selama kalian tidak masuk kerja gimana? Udah beres juga ya?", pak Dhe melanjutkan tanggapannya.

Kali ini, tidak ada yang menjawab pertanyaan pak Dhe. Semuanya terdiam.

"Lho, giliran ditanya cuti kok diem?"


Mereka masih tetep diam, hanya saling berpandangan, sampai akhirnya Udin yang bicara meski terpatah-patah.

"Itu yang sekarang jadi masalah pak Dhe. Minggu lalu, kita sudah dapet ijin dari kepala pabrik, tapi kelihatannya pemilik pabrik ini telah menegur kepala pabrik, sehingga ijin dari kepala pabrikpun jadi tersendat"

"Hmmm...."

"Sebaiknya bagaimana pak Dhe?", akhirnya Khalid ikut bicara lagi.

"Bicara soal hati, siapa sih yang tidak ingin pergi ke Gaza? Bicara soal kerjaan, siapa sih pemilik pabrik yang rela karyawan-karyawan unggulannya meninggalkan pekerjaannya dan menurunkan kinerja pabriknya?" pak Dhepun mulai ceramahnya.

"Bagi yang benar-benar tidak bisa mematikan perasaan hatinya dan ingin tetap pergi ke Gaza, mari kita hargai. Risikonya memang perlu dipertimbangkan masak-masak, karena kita sudah menandatangani perjanjian dengan pemilik pabrik untuk bekerja di sini sesuai peraturan pabrik dan bukan sesuai peraturan kita.", pak Dhe melanjutkan ceramahnya.

"Risiko terbesar adalah tidak bekerja lagi disini", pak Dhe berhenti sebentar melihat reaksi para pemuda yang ada di depannya.

“ Tiada seekor binatang melata pun dimuka bumi ini, melainkan telah dijamin oleh Allah rezekinya… demikian yang ada di surat Hud ayat 6. Jadi tidak perlu khawatir terhadap rejeki Allah" pak Dhe berhenti lagi. Menunggu reaksi dari pendengarnya.

"Kalau memutuskan untuk tidak berangkat, gimana pak Dhe?", Udin mulai mengutarakan apa yang mengganjal di hatinya.

"Tidak masalah. Udin kan merasa bertanggung jawab terhadap grup produksi, sehingga melihat kalau ditinggal mungkin kinerja bagian produksi akan sedikit menurun. Bekerja adalah ibadah, jangan lupa itu. Jadi tindakan Udin adalah ibadah juga".

"Mengapa sih Obama begitu gampangnya menyalahkan HAMAS. Sebenarnya yang diserang Israel itu Palestina atau HAMAS sih pak Dhe?", Khalid rupanya lebih tertarik membahas situasi di Gaza.

[Tempo 24 Jan 09]

"Masalah yang tadi sudah klop ya? Gak ngganjal lagi kan?", kata pak Dhe sebelum menjawab pertanyaan Khalid.

"Iya Pak Dhe", hampir serempak mereka menjawab pertanyaan pak Dhe.

"Sejarah panjang Israel, Palestina dan Amerika ini memang saling terkait dan saling memunculkan klaim-klaim yang berbeda, sehingga pasti kitapun jadi bingung menganalisanya."

"Israel berani bertindak macam-macam karena ada BACK UP yang luar biasa setianya yaitu Amerika. Sementara itu, di Amerika sana, untuk jadi presiden Amerika, perlu doa restu dari AIPAC [komite urusan publik israel amerika] yang isinya adalah orang Israel semua. Jadi wajar kalau presiden Amerika selalu pro Israel. Tidak ada kata reserve untuk yang itu"

"Mari kita berdoa saja untuk keselamatan kita, keluarga kita, saudara-saudara kita yang di Manokwari, atau dimanapun mereka berada, juga saudara-saudara kita yang ada di Gaza"

Kompas Minggu 25 Jan 09

"Kita berdoa, semoga lagu Song for Gaza dari Michael Heart laris manis, jadi top dan bisa menyentuh semua pendengarnya, sehingga aroma perang tidak perlu kita dengar dan rasakan lagi"

"Insya Allah. Amin"

"Semoga FATAH dan HAMAS bisa bersatu. Demikian juga para pemimpin di Arab, semoga mereka disadarkan akan pentingnya persatuan di tanah Arab".

Jumat, Januari 02, 2009

Tempat "NYAMAN" di Gaza

Benarkah tidak ada tempat yang nyaman di Jalur Gaza?

Ternyata banyak sekali tempat yang nyaman bagi para pejuang [muslim] Palestina. Mereka tinggal pilih tempat yang paling bermanfaat buat yang mereka perjuangkan, karena dimanapun mereka memilih semuanya dijamin nyaman.

Memang nyaman tidak identik dengan aman, sehingga dimanapun mereka memilih maka risiko meningal di jalan Allah tetap sangat besar, dan itulah yang dirindukan oleh para pejuang [muslim] Palestina.

Mereka tahu, maut sudah menanti di depan mereka, tetapi demi menegakkan "kebenaran", maka mereka telah siap menyambut datangnya sang maut, karena kematian berarti mereka akan segera bertemu dengan TuhanNya. Merekapun ingat janji Allah yang tertulis di kitab suci AL Quran.

"Sesungguhnya Allah telah membeli orang-orang mukmin, diri, dan harta mereka dengan memberikan jannah untuk mereka. Mereka berperang di jalan Allah, lalu mereka membunuh atau terbunuh. Itu telah menjadi janji yang benar dari Allah dalam Taurat, Injil dan Al-Qur’an" (Q.S At Taubah:111)

Akan jadi masalah kalau mereka dijemput oleh sang maut dalam kondisi tidak beriman pada Allah swt. Bisa jadi mereka mati konyol atau mati tanpa makna.

Keberingasan tentara Israel memang luar biasa, sampai-sampai bantuan makanan yang masih terapung-apung di perairan internasionalpun mereka "libas". Kitapun jadi bertanya,"dimana lagi mereka menaruh rasa peri kemanusiaan???"

Fitrah kita sebagai manusia adalah makhluk yang lembut dan santun, tapi hati mereka [Israel] yang hitam sudah terbelengu [iblis] dan terus menghitam, sehingga tidak ada tempat lagi untuk kelembutan dan kasih sayang.

Namun bagi para pejuang [muslim] Palestina, hal itu sudah mereka ketahui, sesuai dengan firman Allah swt dalam Al Quran:

"Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik. .. (QS. Al Maidah 82).

Jadi pilihan mereka, memang hanya melawan dan melawan. Bantuan dari sesama Muslim mereka butuhkan, tetapi bantuan Allah yang benar-benar mereka harapkan, karena mereka yakin akan janji Allah.

"...Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, Karena Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. Dan Bunuhlah mereka di mana saja kamu jumpai mereka, dan usirlah mereka dari tempat mereka Telah mengusir kamu.. "(QS. Al Baqarah [02]: 190-191).

Semangat jihad yang luar biasa itulah yang membuat mereka tak pernah kenal rasa takut. Batupun mereka jadikan senjata, meskipun mereka tahu lemparan batu itu tak ada artinya dibanding "salakan" senapan mesin Israel.

Dari sisi yang lain, kitapun jadi tahu seberapa "beda" presiden Amerika yang baru [Obama] dibandingkan presiden lama mereka [Bush]. Apakah janji "perubahan" yang ditiupkan oleh Obama hanya sekedar janji?

Peristiwa di akhir Desember 2008 dan awal januari 2009 inilah yang akan menunjukkan secara jelas dan gamblang pandangan politik Obama terhadap Timur Tengah, khususnya sifat plin-plannya terhadap kejadian yang terjadi di Jalur Gaza.

Kitapun jadi tahu, negara-negara lain yang tetap mendukung Israel, meskipun kebrutalan Israel makin meningkat frekuensinya.

Saat ini seolah-olah Israel ingin menunjukkan kekuatanya di dunia. Mereka ingin bilang,"meskipun luas negara Israel tidak seluas Amerika, tetapi dukungan terhadap Israel tidak hanya dari negara Amerika saja"

Israel juga ingin menunjukkan bahwa krisis ekonomi global tidak berpengaruh terhadap mereka. Israel punya dana tak tebatas untuk menghancurkan Palestina. Disaat masyarakat dunia dihantui pengangguran masal, Israel menjawabnya dengan membuat proyek penghancuran Palestina.

Dan kita di Indonesia hanya bisa merasakan dada yang terus menyesak, setiap melihat ataupun mendengar kekejaman Israel di tanah Palestina melalui radio ataupun TiVi. Begitu pongahnya Israel dan begitu tak berdayanya umat Islam, bahkan para petinggi di tanah ARabpun tidak punya satu suara bulat terhadap perjuangan kaum Palestina.

Kita memang hanya bisa berdoa, agar mereka, para pejuang [muslim] Palestina, tetap teguh berpegang pada tali Allah, karena hanya itulah satu-satunya penolong mereka. Bantuan makanan ataupun obat-obatan tentu sangat perlu tapi bantuan Allah adalah bantuan terbaik buat mereka.

Bantuan tenaga [tak terlatih] melawan tentara Israel di Jalur Gaza semoga tidak jadi isu, karena sebenarnya bantuan itu sama artinya dengan menambah beban mereka maupun beban petugas perdamaian.

Semoga para pejuang [muslim] Palestina tetap menjaga imannya, selalu menjadikan sholat dan sabar sebagai penolongnya dan semoga pertolongan Allah segera datang.

Insya Alah. Amin.

“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman diantara kamu dan mengerjakan amal-amal saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi. Sebagaimana Dia menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa. Dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya dan benar-benar akan menukar keadaan mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan apapun dengan-Ku. Dan barang siapa yang tetap kafir setelah janji itu, maka merekalah orang-orang yang fasik" (Q.S An-Nur:55)