Jumat, Desember 25, 2009

Terima kasih buat semua teman-temanku

Alhamdulillah, akhirnya acara prosesi pemakaman ibuku selesai tuntas dengan penuh khidmat dan penuh rasa yang tidak bisa diceritakan dengan tulisan yang seperti apapun. Biarlah semua kebahagiaan itu kusimpan dalam hati.




Ini memang pengalaman pertamaku menjadi imam sholat jenazah. Selama ini aku selalu hanya kebagian menjadi makmum saja atau bahkan tidak sempat melakukan sholat jenazah, seperti ketika adikku dan bapakku meninggal dunia beberapa tahun lampau.

Pak Sukidi, yang ditugaskan menjadi imam oleh pengurus RT sempat terdiam mendengar permintaanku untuk menjadi imam sholat jenazah di masjid Menur.

"Pak, saya yang akan menjadi imam sholat ini dan mohon bapak bersedia memimpin doa setelah selesai sholat Jenazah", demikian pintaku pada pak Sukidi, imam masjid An Nur.

Akhirnya pak Sukidi mengangguk ragu, karena mungkin dia tidak punya pilihan jawaban. Aku baru menyadari keraguan pak Sukidi setelah akhirnya pak Sukidi mendekatiku dan membisikkan sebuah pertanyaan padaku ketika acara pemebrangkatan jenazah akan dmulai, "ini nak Eko ya?"

Aku mengangguk sambil menatap hormat pada pak Sukidi dan beliaupun menepuk-nepuk pundakku, "bener-bener...memang harus begitu, sebaiknya anak tertua yang menjadi imam untuk sholat janazah ini"

Rupanya waktu telah membuat para pinisepuh di kampungku melupakan bentuk mukaku, sehingga banyak yang pangling dengan perwujudanku sekarang.

Mungkin karena aku dulu punya berat 47 dan sekarang beratku 74, jadi hampir semua pangling dengan aku, sementara aku tidak pangling dengan semua orang yang datang pada hari itu.




Saat pemberangkatan jenazah, aku seharusnya berjalan paling depan, tetapi begitu banyak saudara jauh yang datang dan teman-teman dekat yang jauh tempatnya yang menyempatkan datang membuat langkahku tertahan di sepanjang jalan.

Saat akhirnya aku sampai di pemakaman, semua sudah menungguku. Akupun masuk ke liang lahat dan menerima mbah Uti bersama adikku Totok dan seorang tukang gali kuburan.

Perasaanku jadi kemana-mana, aku jadi tidak konsentrasi. Aku ingat beberapa tahun lalu, almarhum bapakku yang dikenal sebagai petugas mayat jika ada prosesi pemakaman selalu duluan masuk ke liang lahat menerima jenazah yang akan dimakamkan.

Di makam ini, aku pernah mengawani bapak untuk menerima jenazah. Kami berdua turun ke liang lahat dan merapikan jenazah sebelum ditimbun dengan tanah.

Prosesi itupun berjalan dengan lambat, karena aku yang berada di sisi utara malah tidak bergerak sedikitpun untuk membantu membuka ikatan kain pocong dan menempelkan pipi mbah Uti ke tanah. Untung Totok cukup cekatan dan melakukan tugas yang seharusnya menjadi tugasku itu.




Alhamdulillah, akhirnya semua telah ditunjukkan jalannya olah Allah swt. Ini adalah sebuah peristiwa besar bagi keluarga kami, dan menjadi makin besar karena sejak dari sholat jenazah di Masjid An Nur, suasana sudah sangat khidmat, dihadiri oleh banyak pelayat dan dihadiri oleh saudara maupun teman dari berbagai pelosok.

"Kita semu apasti mati, jadi marilah peristiwa ini kita jadikan suatu pelajaran agar kita selalu siap menghadapi kematian, karena sesungguhnya yang peling dekat dengan kita adalah kematian itu sendiri, sementara yang paling jauh adalah masa lalu"

"Lupakan masa lalu dan siapkan bekal untuk menghadap padaNya, entah kapan, karena semua makhluk bernyawa pasti akan mati, tanpa kecuali"

Sore menjelang dan malampun akhirnya menjelang. Aku sempat jalan-jalan ke masjid Muhajirin, masjid yang tadinya kuharapkan dipakai sebagai tempat ibuku disholatkan. Tempatnya lebih luas dan banyak kenanganku disini, namun aku percaya bahwa Tuhan telah memilih An Nur sebagai tempat ibuku disholatkan karena pasti ada hikmah di sana.



+++

Saat prosesi ini, hapeku terus menerima pesan masuk, baik melalui BBM, imil maupun SMS. Sudah seratus lebih kubalas namun pesan itu terus berada di angka 500an, jadi akhirnya kutulis pesan buat mereka yang tidak sempat kubalas pesannya.

Semoga pesan dibawah ini sampai pada mereka.

+++

Keluarga kami sangat berterima kasih atas bantuan moral maupun materiil yang telah kami terima selama proses pemakaman ibunda kami tercinta.

Pada keluarga besar TDA (dimanapun anda berada), teman-teman Waskita, Cimart, Blogger Bekasi, Blogger Cikarang, Kompasiana, Politikana, Kampung (ndeso) UGM, Civeng, Stemka, dan semua komunitas maupun pribadi yang telah sangat membantu kami, sungguh hanya Allah yang bisa membalasnya.

Mohon maaf ratusan ucapan yang masuk ke alat komunikasi kami tidak bisa kami jawab semua.

Semoga semua niat baik kita mendapat balasan yang setimpal dari Allah swt.
Amin.

Hari-hari ini baru terbukti betapa dahsyatnya kekuatan jalinan pertemanan itu.

Saudara-saudara yg tadinya tak punya waktu bertemu, telah dipertemukan dalam prosesi pemakaman ini.

Ini lebih dahsyat dibanding pertemuan saat Lebaran. Semuanya berkumpul di rumah sempit kami yang hari itu menjadi terasa begitu luas karena dipenuhi saudara dan teman-teman kami.

Terima kasih Tuhan. Segala puji hanya padaMu. Alhamdulillah.

+++

Tidak ada komentar: