Senin, Januari 14, 2008

Asyiknya Naik Angkot

Awalnya hampir setahun lalu aku nabrak pembatas tol, saat aku pulang kerja dari Cawang ke Cikarang, sehingga mobil kukandangkan dan aku naik angkot ke kantor.

Seorang teman yang baik hati telah memperbaiki mobil itu di Yogyakarta, dan akhirnya lebaran tahun lalu, mobil itu kembali le Jakarta lagi dengan kondisi yang lebih baik.

Bemper dimodifikasi, diberi tambahan lampu dan seluruh body juga di”gebyur” cat baru.

Wah jadi seger deh itu mobil, saking enaknya istriku naik mobil itu, maka tertidurlah istriku di mobil itu. Kebetulan pas dia yang bawa mobil, maka terjadilah tabrakan lagi sehingga bemper kiri abis. Persis bemper kanan yang kupakai nabrak pembatas tol.

Nah, kembali mobil itu dikandangkan lagi. Jadi keenakan sih naik angkot, terus kelupaan naik mobi lagi. Padahal angkot (59) yang kunaiki sangat unik dan bagi yang nggak terbiasa bisa gelisah sepanjang jalan (kalau udah duduk gak bisa bergerak lagi dan aromanya sungguh sangat beragam)

Saat mbayar pajak mobil baru terasa, eh rupanya aku punya mobil yang harus kubayar pajaknya tapi jaraaaaaang banget kunaiki. Abis kalau ke kantor pagi banget, jadi masih ngantuk. Pulangnya juga capek, jadi ngantuk juga. Alhasil berangkat dan pulang sama-sama ngantuk.

Hari ini, Senin 14 Januari 2008, kumulai kerja dengan naik mobil ke kantor, pagi-pagi abis subuh. Eh, di pintu tol pondok gedhe ada mobil terkapar, jalan jadi macet banget deh (padahal berangkat sebelum jam 05.00 tuh...!:-).

Pulangnya naik angkot aja deh, udah ngantuk ini mata. Eh, ternyata di km 30 arah cikampek, ada truk yang terguling dan isinya tumpah ruah di jalan. Yah, kembali macet deh.

Alhamdulillah, meski macet sampai 5 km, aku tetep dapet berbuka puasa sebelum Isya.

(be khuznudzon !:-)

MBTI Result

Iseng-iseng ikut test MBTI di web, gara-gara provokasi dari bang Al (di milis kampoeng ugm).

Hasilnya gak cocok-cocok amat (ENFJ), dan kayaknya kalau hari berubah maka hasilnya juga akan berubah, tapi situsnya memang menarik untuk dicoba.
E : Extraverted
N : iNtuition
F : Feeling
J : Judging
Silahkan cek ke http://eshape.mypersonality.info/

Salam

ENFJ Career Matches
ENFJs are often happy with the following jobs which tend to match well with the Mentor/Visionary personality.
  1. Accountant/Auditor -----------> akuntan?
  2. Actor
  3. Administrative Assistant
  4. Administrator
  5. Artist
  6. Banker/Economist
  7. Careers Counselor
  8. Church Worker ---------------> pernah sih jadi ketua pemuda masjid
  9. Computer Specialist ----------> seneng komputer tapi bukan ahli
  10. Consultant
  11. Designer
  12. Diplomat
  13. Editor
  14. Engineer
  15. Events Coordinator
  16. Facilitator
  17. Homemaker
  18. Human Resources
  19. Librarian
  20. Musician --------------------> seneng musik tapi bukan musisi (kudu ngepek catetan!:-)
  21. Nurse
  22. Occupational Therapist
  23. Politician
  24. Project Manager
  25. Psychiatrist
  26. Psychologist/Counselor
  27. Sales Representative
  28. Scientist
  29. Senior Manager
  30. Social Worker
  31. Teacher/Professor
  32. Technical Specialist
  33. Trainer ------------------------> cocok
  34. Writer -------------------------> cita-citane...!:-)

Sabtu, Januari 12, 2008

Kematian Paman Gober

Tulisan tahun 1994 yang masih menarik untuk dibaca

Kematian Paman Gober
Oleh: Seno Gumira Ajidarma
Kematian paman gober ditunggu-tunggu semua bebek. Tidak ada lagi yang bisa dilakukan selain menunggu-nunggu saat itu. Setiap kali penduduk Kota Bebek membuka koran, yang mereka ingin ketahui hanya satu hal : apakah hari ini Paman Gober sudah mati.

Paman Gober memang terlalu kuat, terlalu licin, dan bertambah kaya setiap hari. Gudang-gudang uangnya berderet dan semuanya penuh. Setiap hari Paman Gober mandi uang disana, segera setelah menghitung jumlah terakhir kekayaannya, yang tak pernah berhenti bertambah.

Begitu kayanya Paman Gober, sehingga ia tak bisa hafal lagi pabrik apa saja yang dimilikinya. Bila terlihat pabrik di depan matanya, ia hampir selalu berkata, "oh, aku lupa, ternyata aku punya pabrik sepatu." Kejadian semacam ini terulang di muka pabrik sandal, pabrik rokok, pabrik kapal, pabrik arloji, maupun pabrik tahu-tempe. Boleh dibilang, hampir tidak ada pabrik yang tidak dimiliki Paman Gober. Ibarat kata, uang dicetak hanya untuk mengalir ke gudang uang Paman Gober.

Meskipun kaya raya, anggota klub milyarder no.1, Paman Gober adalah bebek yang sangat pelit. Bahkan kepada keluarganya, Donal bebek, ia tidak pernah mewmberi bantuan, meski Donal telah bekerja sangat keras malah Donal ini, beserta keponakan-keponakannya Kwak, Kwik, dan Kwek, hamper selalu diperas tenaganya, dicuri gagasannya, dan hasilnya tidak pernah dibagi.

Cendekiawan jenius Kota Bebek, Lang Ling Lung, yang dimuka rumahnya tertera papan nama Penemu, Bisa Ditunggu, pun hamper selalu diakalinya.

Sudah berkali-kali Gerombolan Siberat, tiga serangkai kelas kakap, menggarap gudang uang Paman Gober, namun keberuntungan selalu berada di pihak Paman Gober.

Paman Gober tak terkalahkan, bahkan oleh Mimi Hitam, tukang tenung yang suka terbang naik sapu.

Sudah beberapa kali Mimi Hitam berhasil merebut Keping Keberuntungan, jimat Paman Gober, namun keping uang logam kumuh itu selalu berhasil direbut kembali. Tidak bisa dipungkiri,

Paman Gober memang pekerja keras. Masa mudanya habis dilorong-lorong gua emas. Sebuah gunung emas yang ditemukannya menjadi modal penting yang telah melambungkannya sebagai taipan tak tersaingi dari Kota Bebek.

Suatu hal yang menjadi keprihatinan Nenek Bebek, sesepuh Kota Bebek yang mengasingkan ke sebuah pertanian jauh di luar kota, adalah kenyataan bahwa Paman Gober dicintai kanak-kanak sedunia.

Paman Gober menjadi legenda yang disukai. Paman Gober begitu rakus. Paman Gober begitu pelit. Tapi ia tidak dibenci. Setiap kali ada orang mengecam, menyaingi, pokoknya mengancam reputasi Paman Gober sebagai orang kaya, justru orang itu tidak mendapat simpati.

Paman Gober bisa menangis tersedu-sedu meski hanya kehilangan uang satu sen. Ia sama sekalli bukan tokoh teladan, tapi mengapa ia bisa begitu dicintai?

"Dunia sudah jungkir balik," ujar Nenek Bebek kepada Gus Angsa, yang meski suka makan banyak, sangat malas bekerja. Namun Gus Angsa sudah tertidur sembari bermimpi makan roti apel.

"Suatu hari dia pasti mati," ujar Kwik.

"Memang pasti, tapi kapan?" Kwak menyahut.

"Kwek!" Hanya itulah yang bisa dikatakan Kwek. Dasar bebek.

Begitulah, setiap hari, Lubas, anjing dirumah Donal, membawa Koran itu dari depan pintu ke ruang tengah.

"Belum mati juga!" Donal segera membuang lagi Koran itu dengan kesal. Karena memang tiada lagi berita yang bisa dibaca di Koran.

Banyak kabar, tapi bukan berita. Banyak kalimat, tapi bukan informasi. Banyak huruf, tapi bukan pengetahuan.

Koran-koran telah menjadi kertas, bukan media. Semua bebek memang menunggu kematian Pman Gober. Itulah kabar terbaik yang mereka harapkan terbaca.

Paman Gober sendiri sebenarnya sudah siap untuk mati. Maklumlah, sebagai generasi tua di Kota Bebek, umurnya cukup uzur.

Untuk kuburanya sendiri, ia telah membeli sebuah bukit, dan membangun mausoleum di tempat itu.

Jadi, bukannya Paman Gober tidak mau mati. Ia sudah siap untuk mati. "Mestinya, bebek seumur saya ini, biasanya ya sudah tahu diri, siap masuk ke liang kubur. Makanya, ketika saya diminta menjadi Ketua Perkumpulan Unggas Kaya, saya merasakan kegetiran dalam hati saya, sampai beberapa lama saya bisa bertahan? Apa tidak ada bebek lain yang mampu menjadi ketua?"

Kalimat semacam itu masuk ke dalam buku otobiografinya, Pergulatan Batin Gober Bebek, yang menjadi bacaan wajib bebek-bebek yang ingin sukses.

Hampir setiap bab dalam buku itu mengisahkan bagaimana Paman Gober memburu kekayaan. Mulai dari harta karun bajak laut, pulau emas, sampai sayuran yang membuat bebek-bebek giat bekerja, meski tidak diberi upah tambahan.

Bab terakhir diberi judul Sampai Kapan Saya Berkuasa?.

Memang, Paman Gober adalah ketua terlama Perkumpulan Unggas Kaya. Entah kenapa, ia selalu terpilih kembali, meski pemilihan selalu berlangsung seolah-olah demokratis.

Begitu seringnya ia terpilih, sampai-sampai seperti tidak ada calon yang lain lagi. "Terlalu, masak tidak ada bebek lain?"

Paman Gober selalu berbasa-basi. Namun, entah kenapa, kini bebek-bebek menjadi takut. Paman Gober, memang, terlalu berkuasa dan terlalu kaya. Setiap hari yang dilakukannya adalah mandi uang.

Ketika Donal Bebek bertanya dengan kritis, mengapa Paman Gober tidak pernah peduli kepada tetangga, bantuan keuangannya kepada Donal segera dihentikan. "Kamu bebek tidak tahu diri, sudah dibantu, masih meleter pula."

"Apakah saya tidak punya hak bicara?"

"Bisa, tapi jangan asal meleter, nanti kamu aku sembelih."

"Aduh, kejam sekali, menyembelih bebek hanya dilakukan manusia"

“Ah, siapa bilang bebek tidak kalah kejam dari manusia."

"Lho, manusia makan bebek, apakah bebek makan manusia?"

"Yang jelas manusia bisa makan manusia."

"Tapi Paman mau menyembelih sesame bebek, apakah sudah mau meniru sifat manusia?"

Paman Gober mempunyai banyak musuh, namun Paman Gober suka memelihara musuh-musuh yang tidak pernah bisa mengalahkannya itu, justru untuk menunjukkan kebesarannya.

Paman Gober sering muncul di televise. Kalau Paman Gober sudah bicara, kamera tidak berani putus, meskipun kalimat-kalimatnya membuat bebek tertidur.

Paman Gober selalu menganjurkan bebek bekerja keras, seperti dirinya, dan Paman Gober juga semakin sering menceritakan ulang jasa-jasanya kepada warga Kota Bebek.

"Coba, kalau aku tidak membangun jalan, air mancur, dan monument, apa jadinya Kota Bebek?"

Tidak ada yang berani melawan. Tidak ada yang berani bicara.

"Paman Gober," kata Donal suatu hari, kenapa Paman tidak mengundurkan diri saja, pergi ke pertanian seperti Nenek, menyepi, dan merenungkan arti hidup? Sudah waktunya Paman tidak terlibat lagi dengan urusan duniawi."

"Lho, aku mau saja Donal. Aku mau hidup jauh dari Kota Bebek ini. Memancing, main golf, makan sayur asem, dan membaca butir-butir falsafah hidup bangsa bebek. Tapi, apa mungkin aku menolak untuk dicalonkan? Apa mungkin aku menolak kehormatan yang segenap unggas? Terus terang, sebenarnya sih aku lebih suka mengurus peternakan."

Maka hari-hari pun berlalu tanpa penggantian pimpinan. Demokrasi berjalan, tapi tidak memikirkan pimpinan, karena memang hanya ada satu pemimpin.

Segenap pengurus bisa dipilih berganti-ganti, namun kedudukan Paman Gober tidak pernah dipertanyakan.

Para pelajar seperti Kwik, Kwek, dan Kwak menjadi bingung bila membandingkannya dengan sejarah kepemimpinan kota lain. Kota Bebek seolah-olah memiliki pemimpin abadi.

Generasi muda yang lahir setelah Paman Gober berkuasa bahkan sudah tidak mengerti lagi, apakah pemimpin itu memang bisa diganti. Mereka pikir keabadian Paman Gober sudah semestinya. Dan itulah celakanya kanak-kanak mencintai Paman Gober.

Riwayat hidup Paman Gober dibikin komik dan diterjemahkan dalam berbagai bahasa. Bebek terkaya yang sangat pelit dan rakus ini menjadi teladan baru.

Nenek Bebek tidak habis pikir, mengapa pendidikan, yang mestinya semakin canggih, membolehkan budi pekerti seperti itu. Generasi muda ingin meniru Paman Gober, menjadi bebek yang sekaya-kayanya, kalau bisa paling kaya di dunia.

"Paling kaya di dunia?" Kwak bertanya.

"Iya, paling kaya di dunia," jawab Nenek Bebek.

"Apakah itu hakikat hidup bebek?" "Bukan, itu hakikat hidup Paman Gober."


Sementara itu, nun di gudang uangnya yang sunyi, Paman Gober masih terus menghitung uangnya dari sen ke sen, tidak ditemani siapa-siapa. Matanya telah rabun. Bulunya sudah rontok. Sebetulnya ia sudah pikun, tapi ia bagai tak tergantikan. Semua bebek menunggu kematian Paman Gober. Tiada lagi yang bisa dilakukan selain menunggu-nunggu saat itu.


Setiap kali penduduk Kota Bebek membuka koran, yang ingin meraka ketahui hanya satu : apakah hari ini Paman Gober sudah mati.


Setiap pagi mereka berharap akan membaca berita Kematian Paman Gober, di halaman pertama.


Jumat, Januari 11, 2008

RODA SUHARTO

Ketika SD, mataku selalu berbinar-binar bila ada yang bercerita tentang kehebatan RPKAD. Peristiwa G30S PKI sungguh selalu memunculkan heroisme versi Suharto, dan aku sangat menikmatinya.

Sang Jenderal yang suka tersenyum itu membuat aku sangat terkagun-kagum. Kepiawaiannya dalam berdialog dengan masyarakat bawah (petani), membuat acara itu sangat kunikmati. Sangat menyentuh dan sangat merakyat. Sang pemimpin tertawa-tawa dan sang rakyat ikut tersenyum bangga, karena menjadi bagian sentral dari lakon klompencapir.


Hari ini, Suharto telah menghabiskan 100 juta untuk biaya perawatan 8 hari di RSPP. Jumlah yang lumayan besar (apalagi bagiku), tapi tetap akan ditanggung oleh keluarga Suharto, demi kesehatan dan kesembuhannya.


Begitulah dunia berputar, dulu hebat sekarang bisa jadi sudah tidak hebat lagi, atau tetap hebat tetapi di sisi lain dari sisi tempat dia dulu. Suharto yang dulu begitu disegani, sekarang terlihat terkulai lemah didorong-dorong oleh para perawat.


Tidak ada lagi kegagahan sang Jenderal yang selalu tersenyum.


Roda kehidupan memang begitu, kadang di atas dan kadang di bawah.


Jadi kalau saat ini kita sedang ada di”bawah”, maka percayalah suatu saat kita akan berada di”atas”.


Nah, kalau sampai bertahun-tahun kita kok tetap di “bawah”, mungkin rodanya sedang “macet”.


Berpikirlah positip, maka biarpun di bawah, kita akan merasa sudah di atas, dan selalu siap, siapa tahu besok kita ada di bawah.


Siapkan bekal sebelum sang Maha Kasih memanggil kita dalam kasihNya. Semoga kita termasuk mereka yang mendapat syafaat dari Muhammad SAW.Amin.


Data gambar :

Selasa, Januari 08, 2008

SATU ISTRI

Kiriman dari mbak Rini Abdullah (kawan kantor)


BAHAGIAKAN DIRI DENGAN SATU ISTRI

Penulis: Cahyadi Takariawan

Penerbit: Era Intermedia, 2007, xxxi + 278 halaman

Terbitnya buku ini tak kalah kontroversialnya dari poligami Aa Gym, beberapa waktu lalu, yang berakibat pesantren dan bisnisnya makin sepi. Konon, saking kontroversialnya, buku ini sempat ditarik dari peredaran karena membuat gerah aktivis dan petinggi Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Padahal, pengantar buku ini ditulis istri pertama presiden partai itu, Sri Rahayu Tifatul Sembiring.

Membuat gerah, lumrah saja, karena buku ini ditulis Ustad Cahyadi Takariawan, anggota Majelis Syuro PKS. Sementara itu, sudah jadi rahasia umum bahwa ikhwan partai ini lazim melaksanakan praktek poligami dengan tujuan perluasan dakwah Islam.

Di sinilah menarik dan beraninya buku ini. Meski gaya penulisannya populer dan santun, isinya memang benar-benar menelanjangi praktek poligami yang banyak menyengsarakan kaum istri dan anak. Lebih khusus lagi, kata penulis, berakibat buruk pada dakwah Islam. Artinya, Cahyadi mendekonstruksi pemahaman dan keyakinan sebagian besar koleganya di partai dan umat Islam tentang poligami.

Sedari awal Cahyadi menekankan, ia menulis buku ini bukan dalam rangka menolak hukum atau ajaran Islam tentang poligami. Yang ia tolak adalah praktek poligami itu sendiri. Sebab banyak fakta dan kasus poligami yang menghancurkan institusi keluarga, khususnya perempuan dan anak.

Cahyadi tetap mengakui, pada kasus-kasus tertentu, seperti menolong janda dan anak korban konflik, poligami tetaplah menjadi solusi. Tapi jarang sekali suami berpoligami karena alasan tersebut. Alasannya lebih karena perempuan yang akan dijadikan istri selanjutnya itu lebih muda, lebih menarik, lebih pintar, dan lebih segalanya dibandingkan dengan istri sebelumnya.

Seperti diketahui, biasanya para pelaku poligami membenarkan perbuatannya itu berdasarkan dua hal: Al-Quran surat An-Nisa ayat 3 dan mengikuti sunah Nabi. Padahal, bila merujuk pada kehidupan Nabi secara cermat, sesungguhnya Nabi melakukan monogami. Dalam kurun waktu kehidupan rumah tangganya, Nabi sangat monogami.

Kehidupan rumah tangga Nabi dengan Khadijah berlangsung 25 tahun. Sedangkan poligami yang dilakukan Nabi hanya berlangsung 10 tahun. Itu pun setelah Khadijah wafat dan kebanyakan pernikahannya itu lebih karena menolong janda-janda sahabat beliau yang wafat akibat perang membela Islam (halaman xviii).

Sementara itu, ayat Al-Quran yang menjadi acuan poligami itu pun titik tekannya pada sikap suami yang bisa berlaku adil. Sikap ini sulit sekali ditentukan ukurannya karena sangat melibatkan perasaan, tidak hanya kecukupan materi dan kepuasan seksual. Seperti diulas dengan baik oleh Bintu Syathi dalam bukunya, Istri-istri Nabi, kehidupan istri-istri Nabi saja tak sepenuhnya harmonis, malah cenderung saling cemburu.

Untuk lelaki setingkat Nabi saja, yang banyak diberi kelebihan oleh Allah, mengelola perasaan dan menghadapi istri-istrinya itu cukup merepotkan. Apalagi untuk lelaki biasa. Cahyadi pun menyimpulkan, karena kita bukan Nabi, istri kita pun bukan Aisyah, maka jangan coba-coba berpoligami (halaman 238).

Ada juga yang berargumen, poligami dilakukan untuk menghindari zina. Cahyadi mengkritik, kok bisa poligami disejajarkan dengan zina (selingkuh). Penyejajaran seperti ini adalah cara berpikir yang tak nyambung. Ia menyodorkan beberapa pilihan selain poligami. Misalnya, daripada suami berpoligami, lebih baik berpuasa untuk menjaga diri atau berkonsentrasi dan fokus pada istri atau onani dan masturbasi atau banyak pilihan perbuatan yang lebih baik dan positif (halaman 99).

Di tengah komunitas yang menjadikan poligami sebagai praktek yang lazim, banyak yang bertanya, kenapa Cahyadi tak berpoligami. Dengan memarodikan lagu Aa Gym, ia menjawab, ''Jagalah istri, jangan kau sakiti. Sayangi istri, amanah Ilahi. Bila diri kian bersih, satu istri terasa lebih. Bila bisa jaga diri, tidak perlu menikah lagi. Bila suami berpoligami, dakwah akan terbebani. Demarketing menjadi-jadi, dakwah bisa dibenci....' '

Tentu saja buku ini tak hanya layak dibaca para lelaki. Bagi perempuan pun, buku ini sangat bermanfaat, karena banyak kiat dan nasihat agar para istri tidak dimadu. Sayang sekali, sekarang buku ini sangat sulit didapat.



sumber gambar :

http://i136.photobucket.com/albums/q182/akuajadeh/P1000027.jpg