Tampilkan postingan dengan label gelanggang mahasiswa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label gelanggang mahasiswa. Tampilkan semua postingan

Senin, Juli 16, 2012

Hari Minggu yang panjang penuh pelajaran hati

Seperti hari Minggu yang lain, aku genjot sepeda menuju Gelanggang Mahasiswa. Bedanya aku tidak mengajak Lilo yang terlihat masih ngantuk dan tidak melalui rute biasanya. Aku memang sengaja memutar menuju ke kampus. Hari ini aku merencanakan untuk tidak ikut sepedaan bersama teman-teman S3 Gama yang selalu gowes setiap Minggu pagi. Jadi aku hanya akan menyalami mereka dan kemudian pulang ke rumah bertemu dengan anak istri yang kukangeni sejak kemarin.

Sebelum berangkat aku hidupkan dulu aplikasi Endomondo di gadgetku. Dengan demikian aku jadi punya catatan yang rapi tentang kegiatan olah ragaku setiap hari.



Sampai di Kampus kulihat dua temanku sudah datang dan asyik bercengkerama. Salah satunya memberikan kaos seragam S3 Gama untuk acara sepedaan yang akan datang.

"Pak Eko, untuk kaos Lilo masih belum jadi. Semoga dalam waktu dekat bisa jadi", begitu kata mas Djoko menyapaku.

Akupun mengangguk dan mengikuti obrolan mereka. Rupanya aku jadi obyek foto bagi mereka. Kebetulan aku memang memakai kaos kuning dan dekat dengan sepeda Roda Tiga berwarna kuning, sehingga menjadi obyek menarik mereka.

Sambil tertawa akupun mengeluarkan gadgetku dan meminta mas Djoko untuk mengambil poseku secara "sadar camera" dan bukan "candid camera".



Makin lama makin banyak yang datang dan akhirnya diputuskan rute sepedaan kali ini menuju ke Monumen Jogja Kembali (Monjali), sehingga akupun jadi ikut rombongan, Kebetulan arah ke Monjali sama dengan arah pulang ke rumah, sehingga sambil pulang sambil tetap ikut sepedaan.

Pulang sepedaan mencoba timbangan merk TANITA (?) yang dilengkapi alat untuk scanning kondisi fisik kita. Dengan memasukkan data fisik kita, maka dapat dilihat hasil analisa alat ini terhadap kondisi fisik kita.

Ternyata hasilnya tidak beda jauh dengan hasil pemeriksaan dokter bulan lalu ketika aku melakukan Medical Check Up. Hari inipun kulalui dengan penuh kegembiraan, sampai akhirnya peristiwa demi peristiwa mencoba kesabaranku.

Peristiwa pertama ketika aku berjalan menuju ke pintu masuk airport. Sebuah mobil melindas botol aqua dan semua isinya menyemprot ke pakaianku. Aku dan istriku tanpa sadar langsung mengucap "Astaghfirullah" karena kagetnya mendengar letusan botol aqua dan semprotannya yang cukup keras.

Sampai di ruang tunggu ketemu dengan seorang teman dan kita berdua ngobrol di Borobudur Lounge. Dapat juga beberapa kenalan baru di lounge itu, sehingga obrolan jadi meriah. Ruangan yang tadinya penuh sesak, lama-lama jadi sepi dan kuucapkan alhamdulillah, karena pesawatku delay.

Yang penting tetap bisa berangkat ke Jakarta. Aku memang mengejar pesawat hari Minggu sore dan menggeser jadwal pesawatku yang tadinya sudah kubeli dengan jadwal Senin pagi.Sampai di Jakarta sudah tidak sabar pingin segera merebahkan diri. Maklum hari ini sudah terlalu capek badan ini menerima semua cobaan fisik.

Mendadak ponsel berbunyi dan istriku di ujung telepon dengan panik memintaku menelpon seseorang yang kebingungan mencari sebuah alamat. Aku langsung ngobrol dengan nada gugup juga, maklum aku tahu rumah yang dituju tetapi tidak tahu nomor rumahnya, lingkungan sekitarnya dan alamat tepatnya.

Aku benar-benar tidak habis pikir, kenapa rumah sebesar itu di jalan besar kok sampai susah ditemukan. Alhamdulillah, semua akhirnya selesai dan akupun baru nyadar kalau aku sudah naik taksi. Rupanya sambil ngobrol aku jadi tidak memperhatikan jalan dan tahu-tahu sudah ikut arus masuk ke sebuah taxi. Ini adalah taxi yang kurang kusukai, tetapi karena sudah masuk ya sudah.

Dalam perjalanan kulihat argo taksi itu melaju dengan kencang, sepertinya lebih kencang dari taksi tarip atas, tapi semua sudah terlanjur kadi ya sudahlah. Anggap saja ini latihan sabar jilid ke sekian di hari Minggu ini. Makin lengkap cobaan di hari ini ketika aku tahu bahwa acara besok dibatalkan.

"Halah...! Kenapa harus menggeser jadwal keberangkatan kalau ternyata semua acara yang akan didatangi tdiak jadi dilaksanakan!"

Yuk tersenyum saja daripada stress. Salam sehati

+++

Kulihat di situs Endomondo sejarah perjalanan hari ini di Endomondo Cycling Workout: ("was out cycling 19.44 km in 1h:49m:28s using Endomondo"}

Sabtu, Juni 04, 2011

SMS : Setiap Minggu Sepedaan

Berbagai macam komunitas kuikuti dan akhirnya yang paling menarik adalah geakan gowes sepeda setiap minggu atau disebut SMS (Setiap Minggu Sepedaan).

Diawali dengan acara glenak glenik sepedaan alumni UGM, akhirnya yang paling rajin datang adalah alumni dari teknik sipil dengan S3GAMA-nya.

Provokator utama jelas mas MBR Mitrabani ditunjang oleh tenaga muda yang banyak kawannya, mas Robby mantan ketua Waterplant Community.



SMS minggu ini acaranya menarik banget karena akan finish di MieSehati. Seperti biasanya start dari Gelanggang Mahasiswa UGM. Kumpul jam 06.00 dan kemudian ngobrol ngalor ngidul sebelum akhirnya dianggap lengkap dan mulai ada yang memimpin para pesepeda Alumni UGM ini.

Hari Jumat, mas MBR mengajak untuk Gladi Resik Tour D'Sehati. "Sambil lihat sepeda Gazele punya pak Heilmy", katanya.

"Berapa orang yang akan kumpul di hari Jumat?"

"Berapapun yang kumpul tidak masalah, yang penting gowes sehat sepanjang jaman!"

Begitulah, Jumat pagi jam 06.50 aku sudah nongkrong di Gelanggang Mahasiswa UGM. Sebentar kemudian menyusul mas Yuli dan mas MBR. Mas Gareng menyusul kemudian sambil pamer celana sepeda barunya.

"Awas Tro, kalau poto celanaku diupload ke milis", kata mas Gareng yang celananya sempat dijepret sama mas MBR.



Pembicaraan jadi seru ketika sepeda Gazele ikut masuk pelataran Gelanggang Mahasiswa UGM. Sampai akhirnya acara nggowespun lupa dimulai. Semua orang asyik memperhatikan sepeda Gazele ini.
Mulai dari sadelnya, lampu depan maupun belakang dan asesori bawaan khas Gazele.



Setelah puas motret Gazele, akhirnya menuju rumah mas Edi Ciak dan dilanjutkan dengan sarapan di depan RS Panti Rapih. Mulailah camera BB beraksi dan fotoku sukses diulpoad ke grup BB.

"Inilah penggunaan kaos Kagama Divisi Virtual di acara SMS"

Setelah kekenyangan baru terasa panasnya duduk nongkrong di depan Panti Rapih. Lokasi ngobrolpun dipindah ke lapangan Pancasila.

Akhirnya panas matahari yang menyengat membuat lapangan Pancasilapun ditinggalkan.

Sampai ketemu hari Minggu di acara Sepeda Tour D'Sehati. Salam sehati.

Sabtu, Februari 02, 2008

Panser UGM 1978

Maret 1978, Kampus Sipil Pogung

Banyak nostalgia kawan-kawan CIVENG di awal tahun 1978, beberapa saya tulis disini (setelah diedit untuk memadatkan materi)

eshape :

Saat terdengar suara tembakan-tembakan dari arah gelanggang mahasiswa, kita maunya berhamburan keluar dari kelas dan bergabung dengan teman2 di gelanggang mahasiswa.

Namun dengan penuh “welas asih” pak dosen kita berkata:
“Yang demo biar demo, yang kuliah harus tetap kuliah”.

Pulang kuliah, kita mampir di gelanggan mahasiswa dan melihat bekas2 peluru yang ada di mana-mana.

Rezim itu memang menyisakan banyak kenangan, suka maupun duka, yan mengharu biru.

NWS :

Saat itu aku yang lagi kena flu berat (sampai suara serak), penasaran dan menyempatkan diri ke bundaran panti rapih, disana terlihat banyak panser.

Ketika situasinya mulai panas aku pulang naik colt kampus, sampai kost-kostan selang 1/2 jam kemudian terdengar berita bahwa teman2 yang demo termasuk yang nonton dan yang kebetulan lewat situ di obrak abrik pakai panser.

Sorenya aku periksa sakitku ke dokter di gunung ketur , kebetulan dokternya adalah kepala RST saat itu (dr Andu Sofyan, kolonel) , saya sempat nanya tentang korban yang meninggal tapi sama beliau dibantah katanya nggak ada yg meninggal. Aku sendiri sempat dituduh suaraku serak karena demo, padahal murni lagi kena flu.

Teman kost yang lain yang saya kira hilang , ternyata diciduk ramai ramai , lebih dari 2 truk dibawa ke wirogunan , sore/malam dilepas setelah mencicipi sedikit "pijat" ala militer.

MB :

Hari ke 1), tentara kelihatannya masih belum menunjukkan kebringasannya. Mereka membentuk barisan melingkar mengepung mahasiswa yang demo.
Eri Humayun membawa sepeda ontel berada diantara mahasiswa2, ditengah lingkaran pagar betis tentara, dan membentur2kan sepedanya ke panser.
Siang itu demo bubar dengan "tertib".....tentara belum ada perintah untuk ngamuk...

(Hari ke 2) Tentara (Batalyon 403 ?) dibantu Raiders (baret hijau, yang katanya didatangkan dari Srondol) mulai ngamuk...tembakan membabi buta...(dinding Gelanggang Mhs penuh bobeng2 bekas "hujaman" timah panas...mahasiswa morat marit, sebagian ditangkap, dan yg sembunyi dirumah2 dosen di bulaksumur pun dikejar dan ditangkap....... rumah dosen digeledah...suara tembakan sporadis terus terdengar.

Hari itu, Kampus UGM benar2 diserbu tentara....

Saya bisa lolos karena dpt persembunyian yang cukup aman...rumah Kol Leo Ngali jl Cikditiro....menunggu sampai situasi diluar benar2 "aman"

Waktu pulang, saya sempat melihat, mahasiswa yang tertangkap dibariskan, dijemur di halaman ex Korem Pamungkas jl jendral Sudirman. Nasib2 mereka kemudian, saya tidak tahu...yang jelas siangnya diangkut dengan truck keluar dari Korem yang sebelumnya dijadikan barak Raiders


M3 :

Terus terang waktu ada ontran-ontran 1978 itu, setelah terdengar ada tembakan, aku pulang dan ngumpet di indekosan, Blimbing-sari. Soale takut kena peluru nyasar, lagi pula waktu itu, karena berat diongkos, aku sudah diultimatum ortu buat nyelesaiin kuliah, sudah 7 tahun lebih gak lulus-lulus......... hehehe..
MZA7000 :

Peristiwa 30 th lalu itu rasanya baru kemarin, Ya Jamannya memang berbeda dengan Demo Trisakti, atau kasus kematian Munir.

Kami memang menolak Pak Harto jadi Presiden lagi karena pada th 1978 beliau sudah jadi Presiden 2 kali masa jabatan dan itupun sudah pakai Bonus Pejabat Presiden apa masih kurang?

Kita memang berbeda sikap dalam menafsirkan UUD 1945, dan setelah 20 tahun kemudian barulah diakui bahwa yang benar adalah sikap mahasiswa th 1978 dulu, bahwa pengertian dapat dipilih kembali itu adalah 2 (dua) kali masa jabatan.

Kami memang menolak Dwifungsi ABRI diterus2kan, karena sudah cukup waktunya dari tahun 1966 s/d 1978 kami ingin pemerintahan Sipil dan kalau Tentara mau masuk pemerintahan ya lepas baju militernya alias pensiun.

Tentang ada yang meninggal atau tidak, hanya Allah yang tahu wallahu a'lam bis sawab, peristiwa 27 juli saja bisa ghoib data2nya kok, dan ingat Peristiwa Tanjung Priok, pihak Militer nggak mengaku ada korban, beberapa tahun kemudian sesudah ditemukan makam dan pengadilan digelar barulah mengaku.

Rezim Suharto itu pada jamannya benar2 persis seperti FIR'AUN benar2 tangan besi dan sangat BENGIS, saya adalah satu dari ribuan saksi hidup peristiwa Maret 1978 di boulevard UGM, karena kebetulan yang memimpin demo pada saat itu, betapa ganasnya tentara yang konon diambilkan pasukan yang baru pulang dari Timor Timur, dengan BAYONET dan PELURU tajam mengobrak abrik UGM.

(komentar SS : Tentara alumni Timor Leste bila ditugaskan di lain tempat, mereka selalu terlihat lebih ganas karena mau bayar hutang .. he-he!:-)

Ada beberapa Tokoh mahasiswa yang ditangkap dan dibawa ke Semarang ada dari Fak Teknik, Ekonomi, Kedokteran, Psikologi dan Farmasi (faktanya memang ada karena ada Berita Acara Pemeriksaan Kejaksaannya) dan dari jumlah yang ditangkap maupun yang diperiksa sesudah jadi PERKARA memang terbanyak adalah Mahasiswa Teknik Sipil dan Arsitek.

Saya dan teman2 di Gerakan Anti Suharto 1977 - 1978 tidak pernah mengusulkan dan ikut terlibat dalam memilih pak Harto, SAMA SEKALI

Kami saat itu sudah berulang ulang memperingatkan tentang REZIM TOTALITER, sejak tahun 74 melalui MALARI, itu tentang penolakan terhadap kelompok Pengusaha Jepang dan China yang bekerjasama dengan Militer "MENGERUK" kekayaan rakyat.

Pak Harto memang sudah meninggal, secara orang per orang marilah kita saling memaafkan, dan ingat hanya ada 3 perkara yang ditinggalkan kalau seorang anak adam meninggal, tapi DOSA SEJARAH REZIM tidak bisa dihapus karena itu FAKTA dan dari sanalah SEJARAH ditulis untuk kepentingan anak cucu sekaligus sebagai peringatan kepada PENGUASA dan CALON PENGUASA yang kemudian sebagai PELAJARAN.

Bulan Maret 2008 besok adalah 30 th peristiwa TENTARA NYERBU KAMPUS UGM, beberapa orang akan memperingatinya bukan dengan semangat permusuhan, tapi sekedar untuk mengenang sejarah.

3 bulan yang lalu pada saat acara 50 th Perkawinan Prof Kunto Wibisono (PR III UGM pada jaman itu) di wisma Kagama bertemu beberapa mantan tokoh2 mahasiswa UGM 77-78, diantaranya ada pak Hendro Priyono (mhs S3 UGM dan Mantan Kepala BIN), Bondan Gunawan, Mensekneg Kabinet Gus Dur, Aritonang (sekarang di BPK waktu itu salah satu Ketua DEMA UGM yg ditahan) dan banyak yang lain termasuk Sutiarso Tatengkeng, hal2 tersebut diperbincangkan, apakah akan jadi realitas REUNI tsb.


MMM7271 :
Aku juga ikut-ikut demo waktu itu, cuma begitu tentara menyerbu dan menembak, jujur saja, nyaliku mengkeret, karena takut kena tembak, lalu aku lari pulang hehehehe..

DHY :

Saya tidak mengalami peristiwa Maret 1978 di Kampus UGM kita, karena waktu itu saya masih SMP, dan saya sangat menyesalkan peristiwa itu terjadi.
Yang penting sekarang bagaimana kita bisa ikut memikirkan bangsa ini keluar dari euphoria politik dan demokrasi seperti yang terjadi sekarang ini dan bergandengan tangan untuk mengejar ketinggalan sehingga kita bisa berdiri sejajar dengan bangsa 2 lain yang maju.

NWS :

Walaupun kurang berguna, nostalgia ini tetap perlu, karena nostalgia adalah bagian dari napak tilasnya para saksi "sejarah", mumpung saksi hidupnya masih ada........

Karena sejarah bisa diubah ...... oleh yang berkuasa menyiarkan sejarah.....


eshape :

Semoga apa yang ada di depan kita, dapat kita lalui dengan kondisi yang lebih baik.
Amin.