Sabtu, Oktober 16, 2010

Lautan Manusia di Pawai Karnaval Jogya

Sesuai kesepakatan dalam rapat keluarga hari ini, maka acara malam ini adalah nonton pawai karnaval di Malioboro.

"Mau parkir di Sate Pak Amat atau di samping masjid Gedhe Kauman?"

"Di tempat yang paling memungkinkan dan paling dekat dengan lokasi saja pak"

"Jangan di sate pak Amat pak. Untuk menuju ke tempat parkir saja bisa kesulitan kita pak"

Akupun menyepakati mereka untuk parkir di rumah Mas Lukman yang terletak di sebelah utara masjid Gedhe Kauman.



Perjalanan menuju lokasi pawai ternyata memerlukan energi yang kuar biasa dan hanya Lilo yang akhirnya bisa menikmati pawai ini dengan tanpa kendala.

Dengan manisnya Lilo duduk di pundakku, sehingga bisa menyaksikan rangkaian acara yang ada di depan kerumuman manusia bak lautan manusia ini.

Sebagian besar foto ini memang hasil jepretan Lilo yang santai duduk di atas pundakku. Kaka-kaka Lilo yangmerasa tidak melihat apa-apa akhirnya ngacir duluan dan hilang begitu saja dari sisiku.

Rupanya mereka sudah pamit ke ibunya. Aku tentu saja jadi tidak tenteram dan segera meluncur ke rumah mas Lukman untuk menemui mereka. Syukur akhirnya semua bertemu kembali.

Memang acara malam ini luar biasa ramainya.


Di alun-alun LOR sendiri sudah ada acara Sirkus dan pernak pernik acara lainnya di sekeliling arena sirkus. Dengan demikian lengkaplah keramaian di seputaran malioboro dan bermuara akhir di alun-alun LOR (utara).


Beberapa jalan menuju lokasi acara karnaval ini, yang tadinya dua jalur dibuat menjadi satu jalur saja, sehngga bagi masyarakat yang terjebak di kemacetan ini tentu akan merasa makin terjebak. Ini memang malam yang penuh dengan kesabaran dan toleransi.

Jangan marah kalau ada yang minum teh manis dan karena didorong oleh orang lain terpaksa menjatuhkan tehnya di kaki kita. Itu salah satu ujian kesabaran di saat kita berada pada kondisi tidak siap, kondisi yang membuat kita jadi mudah marah.


Menjelang acara dimulai, aku sempat merekam kejadian di seputaran pojok beteng kulon yang terletak berdekatan dengan lapangan parkir stasiun Ngabean.


Beberapa polisi lalin tampak dengan ketat dan ramah memohon kepada mereka yang "ngeyel" ingin melewati jalan yang tadinya dua arah untuk mencari jalan lain saja.

Sebenarnya di beberapa titik di luar malioboro banyak layar raksasa yang dipasang untuk memuaskan para penonton karnaval yang tidak bisa sampai ke lokasi karnaval. Panitia telah menyiapkan 6 (enam) titik nobar untuk memecah konsentrasi penonton acara ini. Ini adalah upaya yang sangat bagus, meskipun mungkin hasilnya tidak seperti yang diharapkan. Lokasi di Ngabean terlihat sepi dair penonton.


Lautan manusia di lokasi karnaval memang menyurutkan niat untuk menonton lebh lama. Praktis hanya yang berdiri di depan saja yang bisa menikmati acara ini. Terlihat beberapa anak kecil sangat menikmati acara ini, karena mereka biasanya dipanggul oleh orang tuanya agar bisa menyaksikan acara ini dengan baik.


Memang ada banyak sebab kenapa mereka yang tidak bisa menonton para peserta karnaval, tapi tetap saja menikmati suasana macet total ini.

Sebab-sebab itu misalnya sebagai berikut :
  1. Sedang dimabuk cinta, sehingga yang dipentingkan adalah kebersamaan dengan kekasih hati.
  2. Mempunyai sifat yang super ulet, sehingga tidak masalah kalau harus berjuang dengan sepenuh tenaga untuk merangsek ke depan.
  3. Penuual makanan, minuman atau penjual mercon. Makin ramai, makin macet, maka mereka makin menikmati larisnya dagangan mereka.
  4. Ingin memanfaatkan situasi tak terkendali ini dengan melakukan aksi negatip (misalnya mencopet). Seoga untuk yang ini aku salah menilai dan tidak ada yang kecopetan pada hari ini. Amin.
Untuk acara semacam ini, kalau memang ingin menikmati pawai karnaval dengan santai ya lebih baik ikut nobar di beberapa tempat yang disediakan layar tancap raksasa. Suasana lebih santai. Bisa sambil minum wedang ronde dan bergurau dengan kelompok masing-masing.


Malampun makin menjelang dan saatnya menjumpai mbak Bantal dan Dik Guling.

1 komentar:

Wijaya Kusumah mengatakan...

wah coba pak eko ngajak saya, pasti saya mau ikut, hehhehe

salam
Omjay