Minggu, Mei 10, 2009

Selingkuh ternyata [enggak] enak tuh...

Hati yang berdebar-debar saat memandang lawan jenis adalah saat awal dimulainya serial kisah selingkuh seseorang. Start point ini bisa berlanjut dengan cerita yang lebih mengharu biru atau bisa juga berhenti begitu saja.

Bagi seorang laki-laki, kesempatan untuk meneruskan kisah ini biasanya lebih besar dibanding kalau menimpa seorang wanita.

Bagi wanita, yang menarik adalah sikap dan kharisma seorang lelaki, sedangkan bagi laki-laki yang menarik baginya adalah wajah dan kesempatan yang ada.

Tak dipungkiri lagi yang namanya Harta, Tahta dan Wanita adalah sisi lemah lelaki yang mudah dipakai sebagai sasaran tembak lawan [politik]nya.

Ada seorang lelaki yang begitu tegar menghadapi godaan wanita, tetapi begitu ada godaan harta ataupun kedudukan, maka mulailah hatinya bergetar kendor.

Ada cerita tentang sesorang yang begitu alim dan begitu tahan menghadapi godaan wanita maupun kedudukan, suatu ketika dia perlu duit sebesar 1 Milyard.

Saat itu dia harus melaporkan suatu kejadian yang sepele, tetapi jika dilaporkan maka rentetan yang terjadi akan panjang, karena yang dia laporkan mempunyai hubungan dengan orang gedhe yang tidak ingin muncul laporan itu.

Datanglah sang mediator menawarkan uang sebesar 100 juta agar jangan melaporkan kasus hamil di luar nikah yang sedang dia tangani. Sebuah harga yang pantas hanya untuk tidak melaporkan kisah itu, karena memang hanya kisah yang biasa-biasa saja.

Dengan tegas ditolaknya tawaran itu, sehingga tawaran dinaikkan menjadi 200, 400 dan aklhirnya 600 juta.

Si Alim tetap dengan pendapatnya. Senyum halusnya tidak bisa lepas dari bibirnya ketika dia menolak semua permintaan itu.

Sampai akhirnya tawaran sampai ke angka 900 juta dan si Alim tiba-tiba beridiri tegak dengan mata yang membara dan mengusir tamunya. Ditutupnya semua pintu rumahnya dan pergilah dia ke kamarnya. Menangis dia tersedu-sedu karena tawaran itu sudah dekat dengan kebutuhannya.

Disini si Alim lolos dari lubang neraka, tapi seberapa banyak orang seperti si Alim ini. Jangan-jangan hanya ada dalam dongeng saja.

Di kisah lain, ada seorang laki-laki yang sudah dekat ke masalah zina. Selingkuh kecil sudah dijalani, tinggal memastikan selingkuh besar dan masuklah dia dalam lingkaran perselingkuhan yang tak akan mudah lepas lagi.

Saat itulah bayangan anak-anaknya [yang kebetulan cewek] muncul di hadapannya. Tidakkah selingkuhannya sepantaran dengan anaknya?

Tegakah dia jika anaknya diselingkuhi oleh temannya?

Benarkah yang dia lakukan ini sesuai dengan ajaran agamanya?

Kesadaran ini akan membuatnya lepas dari masalah selingkuh, namun jika dua hal tersebut tidak tertayang dalam pikirannya, maka perselingkuhan itu akan langsung terjadi tanpa perlu menunggu waktu lagi.

Yang sering menjadi lucu, kadang-kadang istri selingkuhan ini malah lebih jelek dibanding istri resminya. Kitapun jadi bingung melihat sesorang yang sudah punya rumput hijau malah memilih rumput alang-alang.

"... hanya alang-alang pagar rumah kita
tanpa anyelir tanpa melati
hanya bunga bakung tumbuh di halaman
namun semua itu milik kita
sendiri ..."

Indah bener lantunan lagu Rumah Kita itu. Bayangkan lagu itu adalah perwujudan dari kondisi kita saat ini, istri kita saat ini dan harta kita saat ini.

Semoga kita jauh dari godaan harta, tahta dan wanita.
Amin

6 komentar:

rco mengatakan...

Yaah, ini renungan yang menyegarkan keimanan kita semua.

Semoga kita semua bisa menghindar dari tiga godaan itu.

eshape waskita mengatakan...

@RCO

insya Allah
kita bisa menghindarinya
AMin

Salam

coffeeoriental mengatakan...

Kalo selingkuh, lupain dulu semuanya :D

CeciLL mengatakan...

Saat kita masih benar, kita bisa mengatakan "salah" atas perbuatan orang lain..... lalu ada masanya kita menempati posisi orang yang pernah kita "salahkan".... lalu apa pembelaan kita....[renungkan]... Setelah masa itu kita akan sampai pada masa... dimana segala sesuatu tidak bisa lagi dinilai "benar" atau "salah" karena kita yang berada di "luar lingkaran" tak pernah tahu apa yang sebenarnya terjadi dan dirasakan. Selanjutnya hanyalah... menjalani hidup dengan penuh syukur, karena segala yang berada di jalur hidup kita tak ada yang serba kebetulan, katakan sanggup saat kau rasa sanggup, dan jangan malu untuk menjatuhkan diri bila memang sudah tak sanggup... semuanya layak menjadi warna bagi satu detik kehidupan manusia.

eshape mengatakan...

@coffeeoriental

he..he..he...
jangan sampai terlanjur lupa terus keterusan

mending inget terus aja dah...
[meski mungkin bagi sebagian orang terasa suliiiiiiiiiiiiit...!:-)]

salam

CiMarT mengatakan...

@CeciLL

wah ....
dalem banget komentarnya mbak CeCiLL ini

makasih ya Neng cantik

salam